
Malam hari tiba..
Seperti apa yang diucapkan oleh Evita. rapat kecil setelah makan malam akhirnya dimulai.
Intari, Amelya, Sebastian dan Raja berada didalam kamar Evita. tentu saja rapat ini tak akan dilewatkan oleh Za. Ia duduk disamping Istrinya.
Beda dengan Yoongi dan Echan yang memilih untuk tidak ikut campur. Lagian mereka hanya akan menunggu tugas dari Kakak Pertama mereka.
“Terimakasih kalian sudah berkumpul disini”Evita membuka suasana yang sempat sunyi. Ia menatap kearah sahabat dan seketaris yang duduk disofa khusus.
Sofa itu memang khusus dikamar Za. Yeah kamar suaminya benar-benar multifungsi sepertinya. Ruang tamu kecil ada, dapur kecil ada, kamar mandi dan toiletnya ada, lalu kamar ganti dan pakaian juga ada. oke singgirkan hal itu dulu, karena semua itu membuat Evita pusing memikirkannya.
“Kali ini Aku mengumpulkan kalian untuk menyiapkan....”
“Apa yang akan kau lakukan Evita, kembali mengangkat senjata untuk membunuh musuhmu?”Za memotong ucapan Evita.
Semua menatap kearah pasutri yang sedang berdebat kecil. Semua ingin keluar tetapi,tidak ada izin dari Boss utama ini. Jadi mereka memilih untuk tetap diam tak ikut campur.
“Za, lebih cepat lebih baik bukan?”tanya Evita menatap Suaminya.
Za yang ditatap menatap tajam, “Iya itu memang benar. Tapi kau dalam keadaan yang tak memungkinkan Evita, Aku tak mau kau kenapa-napa. Lalu anak kita juga”
Evita menghela nafas. “Aku tahu, maka aku ingin ini dipercepat Za. Aku tak ingin kehilangan orang lain lagi, jadi biarkan Aku membunuh Vintorian ini. Jika ia sudah tiada, Aku bisa hidup tenang karena tujuanku sudah tercapai”ucap Evita.
Ia melanjutkan ucapannya didalam benak, “Lalu ada yang harus ku bereskan setelah urusan Vintorian ini”
Za menatap wajah Istrinya itu. begitu serius tanpa ada candaan sama sekali. Ia menghela nafas dengan tenang setelah melihat wajah serius istrinya.
“Baiklah, lakukan apa keinginanmu itu..tapi jangan sampai kau terluka Evita, jika itu terjadi..Akan ku kekang dirimu”ucap Za dengan pandangan yang membuat Evita terteguh.
Za melangkah pergi meninggalkan kamar yang dijadikan ruang rapat. Hal ini membuat semua orang menatap kearah Evita yang bengong ditempat.
“Ini yang ku takutkan Za...aku harus cepat menyelesaikan ini. Jika tidak, aku tak tahu bisa tidak diriku menahannya”benak Evita.
“Evita, aku tahu kau ingin cepat menyelesaikannya, tapi pikirkan lah dengan matang, agar kita tak akan menyesal diakhir nanti”ucap Intari yang menatap kearah Evita.
Evita tersenyum mendengarnya. Ia mengangguk, “Sebelum kerapat. Ada yang ingin ku sampaikan. Orang tua Intari dan Amelya menitipkan pesan bahagia, mereka mengatakan maaf dan mengatakan untuk kalian ucapan dukungan. Pemberi semangat yang menyertai kalian”
“Satu lagi, mereka mengatakan bahagialah dan buatlah rumah tangga seindah yang kalian impikan”ucap Evita yang membuat Intari dan Amelya menatap kearah mereka.
“Evita jangan bercanda, Orang tua Kami sudah tiada. Kau tahu itu bukan”ucap Amelya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
“Aku serius, saat aku koma..orang tua kalian datang menghampiriku. Mereka bahagia melihat kalian bahagia, dan mengatakan untuk teruslah bahagia”ucap Evita yang berhasil membuat raut wajah Sahabatnya berubah.
Intari dan Amelya memetakkan air mata dengan perasaan campur aduk. Selama ini tak ada mimpi orang tua yang datang ditidur mereka. hanya rasa rindu yang begitu dalam untuk orang tua.
Mereka tahu orang tua mereka pasti sedih jika mereka menangis, maka mereka membuat diri ini bahagia agar yang sudah tiada tak merasa khawatir.
Mendengar ucapan dari Evita. membuat perasaan rindu itu terpenuhi. Mereka dalam diam merasa bahagia karena orang tua mereka juga merindukan dan begitu bahagia disana.
“Oke sudah hentikan kesedihan kalian..karena jika hal itu terjadi orang tua kalian akan memarahiku yang membuat kalian bersedih begini”Evita tersenyum menatap sahabatnya.
Intari dan Amelya bergegas bangun dari duduk mereka. dan melangkah memeluk Evita bersama-sama. Bagi Intari dan Amelya, Evita adalah tempat perlindungan yang luar biasa. Baik mental dan perasaan mereka. begitu juga untuk Evita yang membalas pelukkan sahabatnya.
Sebastian dan Raja tersenyum melihat Boss mereka yang tampak begitu bahagia. Apa lagi mereka tahu banyak yang telah terjadi dengan ketiganya. Mulai dari retaknya persahabatan sampai kebahagiaan dalam hubungan cinta. Sebastian dan Raja berharap tak ada lagi kesedihan dalam keluarga Boss mereka ini.
“Hei sudah hentikan, kapan rapatnya dimulai”Evita melepaskan pelukkan kedua Sahabatnya. Ia mengusap air mata yang mengalir diwajahnya. Meski hanya beberapa kali mengalir.
Intari dan Amelya juga melakukan hal yang sama, mereka kembali duduk disofa.
__ADS_1
“Oke...pertama, Aku akan mempercepatnya. Mavin Vintorian ada dikota A. ia tak akan kemana-mana. Karena tujuannya sama, menungguku”
“Aku tak tahu alasan itu semua apa, tapi tujuanku tetap sama. Membunuh Mavin Vintorian. Karena dirinya semua tentangku berubah”
Evita menatap kearah semua orang yang ada didepannya. Ia memberikan pandangan yang kini tak menunjukkan dirinya iba kepada seseorang.
Orang tua nya tiada karena kesalahan seseorang. Evita tak terima hal tersebut. Kematian orang tuanya, seakan-akan mainan untuk mereka. ia tak akan membiarkan orang yang punya rencana membunuh orang tuanya masih bernafas dengan tenang. Kematian harus dibayar kematian bukan?
Hal itulah yang dipikirkan oleh Evita. ia menatap kearah Seketarisnya, “Sebastian, siapkan semuanya”
Sebastian yang memandang Evita mengangguk, ia tak akan bisa membantah kali ini. Karena benar apa yang diucapkan oleh Nyonya-nya. Semua harus cepat diselesaikan, dan hidup dengan bahagia tanpa ada masalah yang datang.
“Oke, untuk Intari dan Amelya serta Raja. Aku tak bisa memberian tugas kepada kalian. Apa lagi Intari dan Amelya, kalian punya keluarga. Jadi aku tak akan memaksa kalian untuk ikut”
“Lalu Raja, Kau bukan Seketarisku, melainkan seketaris Intari, jadi turuti apa keinginan Bossmu. Lalu Raja, jika masalahku selesai. aku akan menyelesaikan sesuatu denganmu juga”senyum manis tampak diwajah Evita.
Raja menelan ludah dengan begitu sulit. Entah kenapa ada perasaan tak enak dibenaknya.
“Apa yang akan diselesaikan Evita?”tanya Intari menatap Evita. “Tak ada Intari, sudah..Istirahatlah dan Sebastian siapkan semuanya. Setelah siap, kita akan langsung berangkat”ucap Evita.
Semua mengangguk dan melangkah pergi meninggalkan kamar dimana ada Evita yang memejamkan matanya.
Lelah, tentu. Capek, jelas. Dan ingin menyerah, tentu saja ia ingin menyerah. Namun semua itu akan sia-sia untuk dirinya sendiri. sudah 4 tahun berjuang mencari kasus kematian orang tua. Dan sekarang semua pelaku ada didepan mata. Ia tak boleh menyia-nyiakan semuanya.
Seperti janjinya, ia akan membunuh mereka semua ditangannya. Meski suatu saat nanti ia dicap sebagai pembunuh. Ia tak akan memperdulikan itu semua. Karena orang tak tahu jalan hidupnya seperti apa bukan?.
“Cepatlah waktu berjalan”guman Evita.
-
Brak!!!!
Emosi diwajahnya benar-benar memerah. Ia menatap kearah cermin yang ada didepannya.
“Wanita itu benar-benar kembali, ia benar-benar sulit ku singgirkan”ucap Renjeli. Ia adalah Bibi kedua menantu dari keluarga Zhan.
“Aku sudah mengendalikan Za, sekarang ia datang dengan tenang dan merubah segala yang ada, Sial!!!”
Bibi Kedua melangkah kejendela kamarnya. Ia menatap malam yang kelam dipandangannya.
Berjuang keras untuk bisa masuk kedalam keluarga Zhan. Menjual diri diclub malam dan mengorbankan keperawaan demi bisa bersama keluarga Zhan.
Setelah hamil yang didapati adalah kemarahan dari pemilik benih. Tubuh harus melayang kedinding dan berakhir dengan gugurnya kandungan. Lalu tubuh yang tak akan bisa mengandung kembali.
Diangkat menjadi menantu keluarga Zhan, melupakan tentang apa yang terjadi. Dan berharap bisa hidup bahagia. Tapi yang didapati hanya semua kesenangan sesaat.
Apa lagi harus mengasuh seorang keponakkan yang dibenci olehnya sendiri. dan sekarang keponakkan itu membenci dirinya.
“Bagaimana pun, Aku harus mendapatkan kembali apa yang sudah ku berikan dikeluarga ini”benak Bibi kedua.
Ia melangkah mendekati kasur empuk dengan pikiran yang berjalan, karena ia akan menginggirkan orang yang menghalanginya.
Krek!
Empat mata saling memandang. Wajah kebencian saling terlihat. Namun dua orang yang bertemu ini hanya menganggap apa yang ada didalam kamar sebagai debu yang tak terlihat.
“Apa kau merasa gila sekarang, Nona Renjeli”ucap Zhan Anggara,suami Bibi Kedua. Putra kedua dari keluarga Zhan.
Bibi Kedua yang mendengar ucapan suaminya mendengus. Ia melangkah menaiki kasurnya.
__ADS_1
“Yeah seperitnya kau masih memiliki banyak rencana, dan ku harap Istri keponakkanku bisa mengatasimu”lanjut Anggara melepaskan baju yang melekat ditubuhnya.
Tubuh yang kekar itu memiliki bekas cambuk dibelakangnya. Kenapa bisa, karena seperti Za. Anggara menanggung 10 cambukkan akibat perbuatannya.
Meski bekas cambuk dipungung, tak ada yang bisa menolak keindahan tubuh yang terbentuk dengan baik itu. apa lagi Renjeli. Istri dari Anggara sendiri.
Sayangnya rasa tergoda itu hanya sementara,karena rasa benci sudah memenuhi hati. Jadi tak ada lagi yang namanya cinta.
“Kita lihat saja, siapa yang bernafas diakhir”ucap Renjeli menyelimuti dirinya.
Anggara menatap Istrinya yang berada diranjang mereka. meski sudah menikah, meski saling membenci. Keduanya saling membagi kamar. Tujuannya agar hubungan mereka membaik. Tapi seperti diawal. Keduanya hanya menganggap sebagai butiran debu yang tak terlihat.
Anggara berbaring disamping Renjeli. Ia kemudian memilih untuk tidur dengan tenang dan berharap besok cepat datang agar ia bisa kekantor tanpa harus melihat Istrinya ini.
Pernah terpikir untuk saling membunuh. Tapi sia-sia. Jika Anggara tiada. Renjeli akan hidup seorang diri, karena satu kemungkinan ia akan sulit bertahan dikediaman Zhan. Lalu jika Renjeli Tiada. Maka Anggara harus melepas marga dan hidup tanpa orang tua.
Jujur ingin melakukannya. Tapi Anggara menyayangi keluarganya, apa lagi Ia hanya punya Ayah dan Kakak serta Adik. Ia tak sanggup berpisah. Jadi ia memutuskan untuk bertahan.sama halnya dengan Renjeli,Sebagai gadis terlantar. Ia tak sanggup kehilangan kemegahan dari keluarga Zhan.
Jadi pasangan ini saling menguntungkan dan saling mengerogoti untuk menghabisi. Entah siapakah yang akan bernafas diakhir seperti ucapan Renjeli.
-
Mavin Vintorin menatap kearah Liyana dan Vino. Hari ini mereka akan makan malam bersama.
Jangan berpikir jika Liyana sudah menerima Mavin Vintorin. Liyana melakukan makan malam ini, hanya untuk menemukan Putranya kepada Ayah Kandungnya.
Beda dengan Mavin Vintorin yang merasa ini kesempatan untuk menarik Liyana dan hidup bersamanya. Jadi ia tak akan menghilangkan kesempatan yang sudah didapat olehnya.
“Mari”ucap Mavin Vintorin membuka pintu mobil mewahnya. Liyana mengangguk dan melangkah masuk. Ia mendudukkan Vino dipangkuannya.
Mavin Vintorin menyusul masuk, dan menyalakan mesin mobil. Lalu mereka berangkat menuju kerestorant vip yang sudah dipesan oleh Mavin Vintorin.
Tiba ditempat tujuan, Mavin Vintorin dan Liyana yang mengendong Vino melangkah masuk kedalam restorant yang begitu terkenal.
“Silahkan Tuan”ucap Waiter yang membukakan pintu ruang khusus. Makanan sudah terhidang dimeja mereka.
Mavin dan Liyana duduk berlawanan. Vino duduk disamping Ibunya. Mereka saling menikmati makanan sambil bercerita santai. Apa lagi Vino menikmati suasana makannya kali ini.
“Vino, habisi Ayamnya ya”ucap Mavin Vintorin memberikan paha ayam untuk Putranya.Vino mengangguk dan menyantap paha ayam tersebut.
Mavin Vintorin, mengajak Liyana untuk makan malam bersama Vino. Mavin Vintorin mengira Liyana menolak. Namun malah sebaliknya.
Dan diruang VIP ini, Mavin Vintorin merasa bahagia. Putra yang sudah besar hasil dari ketidak sengajaan itu sedang asik melahap paha ayam. Lalu wanita yang mengandung dan menjaga Putranya ada didepan dengan diam menikmati makam malam ini.
Hati kecil Mavin Vintorin bersorak riya. Ingin rasanya mengajak Liyana menikah dengannya. Tapi ia tahu bahwa tak semudah itu. apa lagi dihatinya masih ada nama seseorang yang bersemayang. Ia harus memulai dengan perlahan.
Saat itu ia ingin bertemu dengan Evita, namun Ia merasa jika bertemu. Sama saja ia menganggu rumah tangga Evita. ia tak ingin itu terjadi. Jadi ia memutuskan untuk menyelesaikan masalahnya sendiri dan memulai cinta barunya kepada Liyana.
Entah itu cinta atau hanya perasaan sesaat yang muncul didalam hatinya. Tapi Mavin Vintorin tetap ingin hidup berkeluarga dengan Liyana.
“Paman Mavin, setelah ini kita akan kemana?”tanya Vino dengan lancarnya. Mendengar kata Paman, Mavin Vintorin merasa tertusuk. Tapi ia tak ingin marah, karena pada dasarnya. Vino dari dalam perut tak tahu ayahnya. Jadi tak akan bisa memanggil Ayah kepadanya.
“Kau ingin kemana?..oh ya ada taman bermain didekat sini”ucap Mavin Vintorin yang menatap kearah Liyana, “Apa kau mengijinkanku mengajaknya kesana, tentu bersama denganmu”ucap Mavin bertanya kepada Liyana, ibu dari Anaknya.
Liyana hanya mengangguk, tak mengatakan sepatah katapun. Ia memilih untuk menghabisi makanannya. Vino bersorak senang ketika diizinkan untuk berjalan-jalan.
“Oke, sekarang habisi makananmu itu”ucap Mavin Vintorin yang membuat Vino mengangguk.
“Aku akan menepati janjiku Liyana, dan akan menikahimu lalu hidup bahagia. Pertama-tama, Aku harus yakinkan diriku, lalu mencintaimu dan membuatmu jatuh cinta kepadaku. Setelahnya Aku yakin, Vino akan menerimaku sebagai ayah kandungnya. Yeah aku memang ayah kandungnya”benak Mavin Vintorin melanjutkan makan malamnya.
__ADS_1