
Para pelayan langsung melakukan apa yang diperintahkan, dua pelayan yang lain menahan bahu Evita karena agar tidak mudah jatuh saat pemandian. Dan yang lain melakukan tugas mereka.
Kalung Evita tidak dilepas karena dua kalung itu pemberian orang tuanya dan satunya pemberian orang yang tidak diingatnya. Anting, gelang, dan gelang pinggang yang menjadi tanda keperawanannya dilepas, karena semua itu milik keluarga Alex. Dari kecil gelang pinggang sudah diberikan kepada masing-masing keturunan keluarga Alex.
Sampai mereka besar gelang itu akan tetap harus berada dipingang mereka, dan saat menikah nanti sang suamilah yang melepaskan ikatan itu untuk menandakan bahwa sang suami telah mengambil keperawananya.
Karena Evita melepas marga dan ingin keluar dari silsilah keluarga Alex, maka gelang tersebut tidak berlaku lagi. Evita dimandikan dengan siraman secara bergantian.
Inul dan Nabila hanya bisa meneteskan air mata, mereka tidak bisa membantu, karena mereka juga harus menjaga nama baik orang tua mereka, sedangkan keluarga besar Zhan hanya terdiam membisu. Mereka ingin melanggar tapi tidak mampu,tidak ada izin untuk ikut campur dalam hal ini. Za yang sudah ingin menolong Evita harus ditahan oleh Yoongi dan Echan.
“kak apa yang kau lakukan?” ucap Echan
“aku akan menolongnya, ia tidak salah”
“kakak dimana sikapmu?”yoongi angkat bicara membuat Za terdiam, ia melupakan bahwa ini juga keputusannya. Ini juga keinginannya untuk melepas Evita.
Mereka melihat pemandian yang berlangsung ini, semua orang terdiam sampai gayung terakhir selesai.
Wajah Evita yang pucat menjadi makin pucat, tidak ada darah diwajahnya yang mengalir karena air dingin yang membenamkan darahnya. Bibirnya bergemetar dan tangannya juga ikut gemetar. Setelah air terakhir disiramkan, para pelayan membantunya berdiri setelah itu, jubah terakhir yang berwarna ungu muda sebagai jubah tanda ke keluargaan Alex dipasang ke Evita dan kemudian dilepas untuk menandakan bahwa selepasnya jubah tersebut maka Evita sudah dinyatakan tidak adalah lagi hubungan dengan keluarga Alex.
Para pelayan yang lain datang membawakan jubah merah hitam untuk dipasangkan ke Evita. Tubuh yang dingin tersebut benar-benar pucat pasi. Tapi tatapan wanita itu tidak pernah mengendur. Tetap pada tekadnya.
“tidak ku sangka..kau mengambil tindakkan ini..baiklah mulai sekarang Evita bukan dari bagian keluarga ini..dan hari ini disaksikan oleh kalian sebagai saksi, bahwa ia telah keluar dari keluarga ini”ucap Kakek Alex.
“ayah dan ibumu benar-benar orang yang memberontak..sungguh tingkah ayah mu yang menikahi ibu kampung seperti mu, memang cocok sifat dan tingkah laku nya turun kepadamu”ejek Kakek yang lain.
“sungguh tersanjung aku mendapat pujian dari kakek yang lama tidak angkat bicara, tapi apa hak kalian sekarang mengatakan keburukkan orang tuaku, saat aku masih menyandang marga Alex, kalian memuji keluargaku, sekarang kalian menghinanya..sungguh luar biasa”ucap Evita sambil tersenyum.
Semua orang memandangnya. Evita berubah. Itu yang ada dipikiran mereka.
Evita tidak menghiraukan tatapan menjijikkan, menghina, dan mencelanya. Ia berjalan kearah keluarga Zhan yang masih terteguh bahkan wajah mereka masih ada yang bersalah.
“aku menepati janjiku, maka saat kita bertemu lagi..seperti kataku, anggap aku sebagai orang asing”ucap Evita. Ia berjalan lagi kearah orang yang tersenyum dari awal sampai akhir. Tidak terteguh bahkan tatapannya menjadi puas.
Evita tersenyum dan mendekatkan wajahnya. “bibi..apa kau puas?”tanya Evita. Itu adalah Bibi Kedua.
“puas..karena keponakkanku tidak jadi menikah dengan orang menjijikkan seperti mu”jawabnya.
“Terimakasih..bibi..sungguh bukan kau yang menyebabkan kematian orang tuaku?”tanya Evita. Ada kilatan dimata Bibi Kedua namun kembali tenang.
“aku hanya berencana untuk mengusirmu, tapi tidak ada niat membunuh keluargamu”
“aku percaya itu..bibi sebenarnya kau tidak perlu melakukan tindakkan tercela untuk mengusirku dari kediaman Za. Tapi bibi seharusnya kalian berterimakasih kepadaku, karena aku kalian bisa masuk kekediaman Za yang langka dan aku juga berterima kasih karena tindakkan mu yang menganggu masakkanku, aku bisa keluar dari rumah itu” Evita tersenyum.
“terimakasih”ucap Bibi Kedua.
Evita menjauhkan wajahnya tatapannya datar, lalu tersenyum dan pergi kearah pintu keluar. Evita menundukkan badannya sedikit dan perlahan mengangkat wajahnya yang berubah menjadi dingin.
Ia berbalik dan pergi meninggalkan kekediaman keluarga besar Alex dengan dijemput oleh supir pribadinya.
-
Suasana kediaman Alex benar-benar suram, Kepala keluarga masih memendamkan amarah. Sedangkan yang lain juga begitu tapi Ibu dan Ayah Inul tidak,begitu juga dengan orang tua Nabila.
Inul dan Nabila membawa keluarga besar Zhan untuk mengantarkan mereka pulang. Mereka melewati lorong dan melihat sisilah keluarga besar Alex.
Dalam suasana sunyi ini, mereka berjalan, namun Za berhenti tepat didepan nama seseorang. Itu adalah Evita. Gambar yang ada disana sangat indah.
Evita yang mengenakan jubah ungu sebagai lambang kekeluargaan, duduk manis dikursi. Rambut panjangnya disanggul sehingga mampu meletakkan manik-manik penghias rambut. Simpul senyum terurai begitu indah,bola mata hitam kecoklatan begitu mantap memandang kearah kamera. Za melihatnya begitu lama sambil mengingat, ingatan buram yang selama ini ia lupakan.
Waktu itu saat berada di balkon, dimana ia masih menjadi seorang detektif. Ada tiga orang gadis yang manis menunggu dirinya dan adik-adiknya yaitu Yoongi dan Echan.
Za melangkah dengan santai begitu juga yang lain, sampai pelayan membukakan pintu balkon, Za melihat seorang gadis dengan rambut disanggul tertawa bersama teman-temannya.
Gadis itu memiliki bola mata hitam kecoklatan, rambut hitam yang panjangnya sampai setengah punggung ramping itu. Baju putih yang digunakannya begitu cocok untuk tubuh gadis itu.
Melihat kedatangan mereka, Gadis tersebut tersenyum dan mendekatinya. Za merasa senyumnya tidak luntur untuk gadis didepannya. Wajah gadis tersebut masih buram, meski matanya tampak jelas. Mata itu begitu teduh dan teguh pendirian. Membuat Za nyaman ditatap oleh mata itu. Rambut yang dihias dengan pernak-pernik membantu menambahkan keindahan tata rambut itu.
Za memeluknya dan membenamkan wajah gadis tersebut didadanya. Ia berkata “aku sungguh beruntung mendapatkanmu”
Mengingat kejadian yang sudah lama dilupakan, membuat hati Za sakit. Ia seperti sekali lagi melepaskan orang yang dicintainya. Melihat gambar Evita yang tersenyum manis itu, membuatnya mengingat gadis yang kabur diingatannya.
Entah rasa apa, ia ingin mengejar Evita, ingin bertanya langsung. Jadi saat kesadarannya kembali, Za melangkah mengejar Evita yang sepertinya tidak jauh dari kediaman Alex. Dengan mobilnya ia mengejar mobil Evita meski tidak tahu mobil apa yang ditumpangi oleh Evita.
__ADS_1
Setelah keluar dari gerbang dan halaman keluarga Evita. Za melihat seseorang keluar dari mobil hitam dan melangkah untuk pergi kemobil merah. Za memandang sebentar dan langsung mendekati mobil tersebut.
Ia keluar dari mobilnya dan melangkah menuju kearah Evita yang ingin membuka pintu mobil merahnya.
“Maaf”ucap Za setelah tiba didepan Evita.
Evita tampak terteguh, tapi masih tersenyum “ada apa tuan Za..ada yang bisa saya bantu?”tanya Evita. Membuat Za benar-benar merasa sakit dihatinya ada kelegaan mendengar suara gadis didepannya.
“aku ingin bertanya” Kali ini Za berdiri tegak dan memandang gadis pendek didepannya. Meski sebenarnya gadis ini tingginya lumayan tapi didepan Za, gadis itu hanya gadis pendek biasanya.
“silahkan”ucap Evita.
-
Dikediaman keluarga Zhan, suasana tidak tegang, suasana dikediaman ini menyedihkan.
“Aku berduka dan tidak tega melihat orang seperti itu, tangguh mengambil keputusan”ucap Bibi ke5 yang dianggukkan oleh suaminya.
“apa yang dikasihani, justru bagus kalau gadis tersebut pergi, sungguh gadis menjijikkan”ucap Bibi kedua.
Bibi dan paman ketiga hanya mendengus dan meninggalkan orang yang selalu terlihat tenang itu. Begitu juga yang lain.
Yoongi dan Echan sekarang berdiri dibalkon mansion keluarga Zhan. Mereka termenung sejenak sampai menyadari kedatangan kakak mereka, yaitu Kak Za.
“Kak Za..ada apa denganmu?”tanya Yoongi. Melihat wajah Za yang sedih.
“apa yang kakak sedihkan?”tanya Yoongi lagi.
“Apa ini karena kakak ipar membatalkan pertunangan kakak?”Ucap Echan yang mendapat pukulan ringan dari Yoongi.
“ini serius”tegurnya.
“Aku serius kok”ucap Echan sambil manyun,mengosok pukulan yang mendarat dikepalanya.
“kalian ingat Kim bukan?”tanya Za. Yoongi dan Echan mengangguk.
“kalian tahu, saat melihat susunan keluarga tadi, gambar Evita mirip kim”ucapnya tanpa basa basi.
Mata Yoongi dan Echan terteguh. “bagaimana bisa?” ucap mereka bersamaan.
“aku juga tidak tahu..tapi aku merasa bahwa itu dia” Za duduk dikursi menghadap kearah Yoongi dan Echan.
“kalau kakak merasa itu dirinya, kenapa tidak bertanya kepadanya?”tanya Yoongi.
Za mengeleng “aku sudah bertanya kepadanya...dan dia menjawab..”
“silahkan”ucap Evita.
Za mendekat namun Evita mundur. “katakan saja”ucap Evita sambil memasang wajah tidak nyaman.
“aku ingin bertanya, apa namamu sebelumnya adalah Kim?”tanya Za. Melihat wajah Evita mengerut bingung, hati Za seperti tertampar. Ia seperti salah melihat tapi juga merasa benar.
“Kim?...aku baru mendengarnya, siapa kim ini?..artis?”tanya Evita.
Za termundur mendengar jawaban Evita. Ia berbenak “apa aku salah melihat..apa tebakkan ku salah.Kim...apa kau benar-benar meninggalkanku?”
“tidak..dia bukan artis..dia seorang detektif”ucap Za.
Evita tersenyum “apa mungkin dia terlihat mirip denganku?”tanya Evita.
Za mengeleng dan mengangguk. Ia bingung menjawab pertanyaan ini, disatu sisi, Evita mirip dengan Kim tapi hanya dibagian mata, sedangkan Kim didalam ingatanya buram, tidak jelas. Jadi ia bingung menutuskan.
“kalau begitu..anda pasti salah mengira tuan..maaf tuan Za saya harus pergi..”Evita masuk kedalam mobil meninggalkan Za yang masih termenung.
Mengingat hal itu dan memberitahukan kepada Yoongi dan Echan masih membuatnya sakit.
“Kalau begitu, apa mungkin emang mirip?...kakak, Kim itu berbeda, menurutku, Kakak Ipar...ehem bukan Evita itu terlihat dingin dan cuek..sedangkan Kim banyak tertawa dan tersenyum” ucap Echan yakin dengan ingatannya tentang seseorang bernama Kim yang adalah cinta pertama Kakaknya.
“aku setuju..tapi..ada yang aneh dari Evita ini..saat ia tersenyum sepintas aku melihat ia adalah Kim” Yoongi ragu-ragu menyampaikan pandangannya.
Za mendengar hal itu hanya bisa menatap kearah langit yang masih cerah. “sudahlah..itu tidak penting..aku hanya merindukkannya”ucap Za yang kemudian pergi meningalkan Adiknya yang terdiam.
“Apa kakak Za bena-benar dalam mencintai Kim?”tanya Echan.
__ADS_1
“aku bertanya kepadamu..apa kau pernah melupakan cinta pertamamu?”tanya balik Yoongi membuat Echan mengeleng. Yoongi dan Echan juga memiliki cinta pertama, dan mereka masih menunggu orang tersebut. Mereka tidak ingat wajah kekasih mereka itu tapi ingat dengan nama mereka.
“aku tidak bisa melupakan mereka...Kak Yoongi, kenapa cinta kita begitu sulit untuk bersatu”ucap Echan mengingat dimana mereka berpisah dengan kekasih mereka. Saat itu usia mereka masih terbilang muda. Tapi mereka setia dengan kekasih mereka ini.
“aku tidak tahu”jawab Yoongi.
-
Evita duduk didalam mobil merahnya yang dibawa oleh Sebastian. “Nyonya kita akan kemana kali ini?”tanya-Nya.
“Kita akan pergi dari kota ini..aku ingin pergi keAmerika untuk beberapa bulan Sebastian, kau tolong pergi kekota Q dan kendalikan perusahaan yang lain...aku akan kembali setelah aku selesai dengan tujuanku”jawab Evita.
Mereka kini sedang menuju kearah bandara untuk keberangkatan Evita. Ia sudah menyiapkan apa yang ingin ia lakukan sekarang. Kini setelah melepas marganya, ia bisa sedikit bebas.
“Baik Nyonya...akan saya laporan segalanya..” ucap Sebastian.
Mereka memarkirkan mobil dan menuju kearah bandara. Setelah memeriksa semua tiket dan barangnya. Sebastian mengurus keberangkatannya. Evita tersenyum melihat dua orang berdiri didepannya.
Ia tidak menyangka bahwa Inul dan Nabila mengetahui kemana ia akan pergi. Dan menyusul dirinya hingga kebandara.
“Hai”sapa Evita melangkah mendekat. Inul mengangkat tangannya untuk menampar keponakkannya ini. Tapi ia tidak tega. Hingga berakhir memeluk Evita erat-erat.
“apa yang kalian lakukan disini?”tanya Evita yang masih dalam pelukkan Inul.
“tentu saja mengantarmu..bodoh”jawab Inul sambil terisak. Nabila menundukkan kepalanya tidak berani melihat kearah Evita.
Evita tersenyum. “apa yang kau tundukkankan, kau hanya melihat kakimu, bukan wajahku...tubuhku tinggi”ucapnya.
Mendengar itu Nabila langsung memeluk Evita tanpa menghiraukan orang-orang yang melihatnya.
“sudahlah..aku tidak meninggal, kenapa pada sedih begini?”ejeknya.
Nabila mendengus mendengarnya. Inul pun mendekat dan melihat Evita yang tidak tampak sedih.
“Evi....apa ini keputusan mu?”tanya Inul
“Iya”jawab Evita.
“apa kau akan melangkah kejalan yang dulu?”tanya nya lagi.
“apa pun yang ku pilih tidak ada hubungannya lagi dengan kalian”jawabnya.
“kau meninggalkan kami dan menjadi orang asing”
“meski asing..darah yang mengalir ditubuhku tetap darah keluarga Alex”
“kau..tidak sedih meninggalkan Amelya dan Indah?”
“mereka sudah dewasa..dan lagi...mereka sudah bisa mengambil keputusan yang sudah menjadi hak mereka”
“kau....”Inul terisak, tak sanggup bicara lagi, ia menyayangi keponakkannya ini. Karena ia tahu masa kecil dan kelamnya hidup Evita yang hanya dirinya, Amelya,Intari yang tahu masa kelamnya.
“sudahlah..ini sudah terjadi..aku titip perusahaan detektif kepadamu...oh ya jaga kejadian ini agar Intari dan Amelya tidak tahu..mereka tidak boleh tahu..hidup mereka sudah buruk, jangan sampai mereka juga merasa bersalah”ucap Evita yang mendapat anggukkan dari dua orang didepannya. Ia tersenyum.
“aku akan kembali..tapi kembalinya aku tidak akan langsung bertemu kalian..aku mungkin harus menyelidiki sesuatu..Inul...ku harap setelah aku kembali kau sudah menikah..dan Nabila setelah ku kembali kau menjadi gadis yang berprestasi dan memiliki pengetahuian tinggi serta bisa membuat para dosen mengejarmu, bukan dosen yang kau kejar...buat universitas menarikmu bukan kau yang menarik mereka.”ucap Evita bangga. Setelah itu Sebastian pun memberitahukan bahwa pesawatnya akan berangkat.
Mendengar itu, Evita berpamitan dengan Inul dan Nabila. Ia pun masuk kedalam pesawat. Inul dan Nabila menunggu sampai pesawat itu lepas landas dan meninggalakan bandara ini.
Inul dan Nabila kembali begitu juga dengan Sebastian yang harus menjalankan tugasnya kekota Q dan mengatur jadwal Evita serta memantau perusahaan yang ada dibawah tangan Evita.
“Mari kembali ketempat semula”ucap Evita melihat kearah jendela pesawat yang menampilkan hempasan awan.
...****************...
Pentas Kecil:
Kim: "Kim itu saya kan Za?"
Za: "Bukan Elu"
Kim: "Lah terus Kim itu siapa?"
Za: "Entar juga tahu kok"
__ADS_1
Evita: "Ehem"
Kim: "Cieee ehem-ehem"