
Dua orang pria yang melarikan diri berusaha untuk bisa lepas dari jangkauan Sebastian. Mereka terus melarikan diri sampai melihat taksi yang baru saja mengeluarkan penumpangnya.
“Yuda masuk kedalam taksi disana” ucap Andre yang berlari disamping Yuda sang kepala Desa.
“Baik..”jawab Yuda yang langsung masuk saat mereka telah tiba ditaksi yang dimaksud.
“Pak tolong kebandara”ucap Andre yang membuat sang Supir taksi kaget.
“Kau mendengar ucapanku tidak?”tanya Andre dengan nada yang sedikit ditekan, membuat sang Supir langsung menancamkan gasannya.
“Kenapa kau bisa datang kesini Yuda?”tanya Andre sambil melihar sekeliling.
“Aku hanya datang saat ada yang mengatakan bahwa perusahaanku akan diambil alih”ucap Yuda dengan santainya.
Bam
“Agh!!!”Yuda mengaduh kesakitan karena menerima pukulan dikepalanya oleh Andre.
“kenapa kau memukulku?”tanyanya.
“Otakmu itu perlu pukulan, asal kau tahu perusahaan itu tak akan dapat di ambil alih dengan mudah tanpa perintah dari Ayahku...jadi usahakan jangan gegabah seperti tadi...kita hampir ketahuan kau tahu”ucap Andre dengan nada yang begitu tegang.
“Apa yang ketahuan..tak akan dapat diketahui..semua bukti telah menghilang bukan?”ucap Yuda dengan santainya.
“Kau ini....dia adalah Evita, seorang Detektif yang akan langsung tahu dari karakter seseorang, makanya ia mendatangkanmu, kau harus berhati-hati jika bertemu dengannya”ucap Andre dengan penuh perintah.
“aku tak perduli....yang penting transfer uang yang akan ku dapatkan, aku menunggu transfer yang kedua oleh Ayahmu itu”
Andre yang mendengarnya hanya mendengus. Kini mereka telah tiba dibandara yang memang sudah dipesan oleh Andre saat ia akan keluar dari perusahaan Amelya.
“Sial.....untung aku sudah mempersiapkan segalanya”benak Andre.
-
Disisi lain, Sebastian kehilangan jejaknya, ditambah kota yang luas ini, jejak dua orang itu benar-benar hilang bagaikan tertiup angin.
“Tuan Sebastian.......apa yang harus kita lakukan?”tanya salah satu bawahan yang berdiri didepan Sebastian.
“kembali ketempat, dan usahakan yang lain untuk pergi kebandara atau tempat stasiun yang ada..aku memiliki kecurigaan mereka pergi mengunakan kendaraan itu”
Semua mengangguk dan langsung menjalankan perintah. Sebastian langsung kembali menuju tempat dimana Nyonyanya tengah berada.
-
Evita menatap datar dua orang didepannya yang kini duduk bersama. Ada aura suram diantara mereka berdua. Evita yang duduk ingin menikmati minuman yang dibelikan oleh Indah menjadi tak selera bahkan membukanya pun tak ingin.
“Jadi apa yang ingin kalian bicarakan kepadaku?”tanya Evita langsung, saat ini mayoritasnya adalah mencari bukti siapa yang menyebarkan kabut buatan.
Mavin dan Reza tak berbicara, mereka sempat terdiam sebentar. Hingga salah satu dari mereka berdua berbicara.
“Aku ingin bertanya Evita..apa benar kau tak mencintaku?”itu adalah keberanian yang diambil secara langsung oleh Mavin, ia telah lama bersama Evita dan ingin mendapatkannya. Tapi mengingat perkataan Evita kepada Sebastian membuatnya merasa bahwa hanya dirinya yang mencintai dan tak mendapat balasan sekalipun.
Reza yang mendengar pertanyaan itu langsung menatap Mavin yang tengah tenang menunggu jawaban Evita. Reza juga menatap Intari dan Amelya yang juga tenang. Dan menatap Evita yang tak menatap dirinya sama sekali.
“apa aku telah ketinggalan informasi yang penting ini”benak Reza.
Evita memandang Mavin dengan pandangan yang tenang. “sungguh sangat terhormat diri ini telah dicintai oleh Tuan Mavin. Maaf atas apa yang ku katakan kepada Sebastian waktu itu, tapi bukan sudah ku jelaskan kepada anda tuan Mavin, bahwa diriku tak memiliki rasa padamu, dan bahkan tak bisa memaksakan diri ini untuk mencintaimu...dan untuk masalah waktu itu aku benar-benar...”
“tak perlu melanjutkannya Evita...sungguh suatu kebahagiaan bagiku telah jatuh cinta padamu, dan sungguh senangnya aku mendapat jawaban yang begitu penting untukku...terimakasih telah bersedia menerimaku walau hatimu tak bisa menerimaku....aku hanya ingin tahu apa isi hatimu...dan sekarang aku telah mengetahuinya..maka ku harap dipertemuan selanjutnya kita akan tetap seperti biasa ya”ucap Mavin yang berdiri. Ia mendekat membuat Intari dan Amelya waspada terhadapnya.
Namun Evita menahan dua Sahabatnya itu dan membiarkan Mavin memeluknya dengan pelukkan yang erat.
“Aku mencintaimu Evita”bisik Mavin.
Setelahnya, Mavin pun pergi dengan para bodyguard yang bersembunyi dari tadi. Intari dan Amelya yang melihatnya hanya bisa menatap horor.
“Kalau dia ingin menyekap Evita, maka kami mungkin akan kewalahan melawan para bodyguardnya ini”benak Intari dan Amelya bersamaan.
Mereka terkejut melihat lebih dari 2000 bodyguard yang keluar saat Mavin pergi dengan mobil sport miliknya. Reza yang melihatnya pun juga ikut dibuat kaget. Karena tak menyangka ia harus berhadapan dengan seorang tuan muda keluarga Mavin.
Kini tinggal Reza yang akan berbicara, tapi Evita benar-benar tak bisa mengulur waktu. Meski ayahnya pernah mengatakan bahwa
__ADS_1
“istirahatlah, karena apa yang kau lakukan di hari ini bisa dilakukan dihari esok. Dan jika tak ada hari esok, maka hari ini adalah hari akhirmu”
Namun perkataan itu hanya untuk menghibur dirinya. Evita berdiri dari duduknya.
“Tuan Reza..jika memang tak ada yang ingin dibicarakan maka diriku akan pergi sekarang”ucap Evita.
“Aku hanya ingin menyapa dirimu..itu saja”ucap Reza dengan wajah yang penuh senyum.
“Kalau begitu sampai jumpa”ucap Evita yang kemudian pergi bersama Amelya dan Intari yang dimana Sebastian telah datang menjemput mereka.
Reza yang melihat kepergian Evita hanya bisa menghela nafas. “Sampai jumpa katanya....Evita apa saat itu akan ada percakapan diantara kita lagi saat aku bertemu lagi denganmu”.
-
Disebuah kantor kepolisian. Putra tengah memeriksa hasil cctv untuk melihat siapa yang menebus tahanan yang susah payah mereka cari.
“Kakak..istirahatlah, Kakak tahu nanti Kakak Ipar Inul akan marah kalau kakak tak mengelola waktu istirahat kakak dengan baik”ucap Echan yang tengah menikmati makan siang buatan dari dirinya sendiri tentunya.
Yoongi juga ada disana, saat ini ia tengah memeriksa dokumen tentang kasus kematian kedua orang tua Evita. Mereka masih memperlukan beberapa bukti lagi. Untuk bisa langsung menentukan siapa tersangka utamanya.
“Baiklah Echan...aku akan istirahat dan makan siang”ucap Putra yang kemudian beralih menuju kemeja yang dimana terdapat Yoongi disana.
Echan, Yoongi dan Putra tengah menyelesaikan tugas dari sang Kakak pertama mereka. Zhan Za Chen benar-benar mengambil keputusan langsung. Walau hari ini sang Pemimpinnya mengalami halangan. Karena harus meladeni sang tunangan.
“Kenapa Kak Zhan tidak menolak saja pertunangan dadakkan itu??”ucap Echan secara dadakkan membuat Putra yang menikmati makan siangnya tersedak.
“Uhuk!!.....Echan hati-hati ucapanmu, dia Kakak Pertama...ditambah yang menentukan tunangannya adalah Bibi Kedua”ucap Putra.
Yoongi yang fokus kedokumen, memandang Echan dengan pandangan tenang. “Sebaiknya kita tidak ikut campur urusan pribadi milik Kak Za”ucap Yoongi yang kemudian kembali fokus kedokumen selanjutnya.
Echan dan Putra pun mengangguk. Lagian mereka juga memang hanya bisa berpendapat tak bisa menyampaikan keluhan mereka. jangan kan mereka, kakek Pertama, kedua dan Ketiga saja tak bisa menolak apa yang ditindakkan oleh Bibi Kedua.
-
Sepasang kekasih yang menarik perhatian semua orang tengah menyusuri jalanan. Meski yang menarik perhatian adalah sang pria yang berjalan dengan tubuh kekarnya. Pandangan dingin dengan wajah yang selalu membuat ketertarikan bagi yang melihatnya.
Zhan Za Chen yang seharusnya menyelesaikan kasus tentang siapa yang membebaskan tahanannya yang belum sempat ia interogasi. Malah harus memenuhi tugas sang Bibi Kedua untuk menemani calon menantu kesayangannya yang tak lain adalah Navi.
“Nona Navi..berhenti bersentuh denganku”ucap Za. Bukan kenapa seperti rumornya, Za merasa geli jika wanita-wanita yang berani menyentuhnya tanpa memikirkan situasi.
Walau Za tahu bahwa Navi adalah tunangannya, tapi tetap saja penyakit yang entah sejak kapan hadir ini, membuatnya banyak mengalami keuntungan.
Navi terdiam entah apa yang dipikirkannya. Ia hanya mengangguk dan kemudian melanjutkan langkahnya.
“Sial....siapa yang bisa menyentuhnya..penyakit apa sih ini”benak Navi.
Zhan Za Chen hanya mengikuti dari belakang langkah wanita yang tak dicintainya. Dan disaat-saat seperti ini entah kenapa ia merasa ingin wanita yang dicintainya muncul bahkan kalau perlu memeluknya sekarang. Tapi itu hanya mimpi.
Itu yang dipikirkan Za saat tak sengaja Pikiran itu Malah menjadi nyata. Dimana sebuah mobil berisikan tiga orang wanita. Dan disana terdapat orang yang dicarinya. Evita duduk dikursi depan dengan wajah yang memandang kedepan.
Za yang melihatnya hanya bisa menatap tanpa sadar berhenti ditengah jalan. Membuat Navi yang melihatnya menatap aneh.
“Siapa yang dilihatnya?”benak Navi. Ia memandang sekeliling namun tak menemukan kearah mana tatapan yang diberikan oleh Za.
“Za....ada apa?”tanya Navi sedikit berteriak agar kesadaran Za kembali.
Saat mendengar pertanyaan Navi, Za kembali sadar dan menenangkan dirinya. “bukan apa-apa...ayok jalan”ucap Za yang kemudian melangkah mendahului Navi.
Navi merasa keanehan melihat tingkah Za yang sedikit bercahaya. Navi pun memandang kearah dimana Za melihat tadi. Dan terlihatlah seorang wanita yang keluar dari mobil mewahnya.
Navi langsung memandang kesal kearah tersebut. Karena tak habis pikir, kenapa ada wanita itu lagi yang harus muncul dan merusak moodnya kali ini.
“Kenapa?”tanya Za yang menyadari bahwa Navi tak mengikutinya.
Navi tak ingin Za melihat siapa yang keluar dari mobil. Ia langsung mendekat dan mendahului Za. “bukan apa-apa..aku hanya memikirkan sepatu apa yang cocok untukku, atau mungkin kita membeli sepatu couple aja ya”
“Aku tak perlu...hanya kau saja”ucap Za menjawab dengan nada dinginnya.
“Yeah...setidaknyakan ada yang menunjukkan keseriusan kita dalam menjalin pertunangan ini”ucap Navi lagi sambil melangkah dan masuk kedalam toko sepatu. Tanpa mendengar jawaban Za.
“Aku hanya menjalani pertunangan tapi tak menyetujui pernikahan”itulah yang dikatakan oleh Za yang kemudian ikut masuk kedalam toko tersebut.
__ADS_1
Sebelum masuk, Za melihat seorang wanita yang tengah berpelukkan dengan dua sahabatnya. Ia tersenyum dan kemudian masuk, menyusul orang yang menganggu dirinya.
-
Evita, Intari dan Amelya kini berpelukkan. Kenapa?, karena Evita mendengar betapa kahwatrinya sahabatnya ini padanya. Dan begitu juga sebaliknya betapa rindunya Intari dan Amelya kepada Evita yang sangat mereka sayangi ini.
“Evita...ku pikir kau akan berubah....aku takut kehilangan dirimu lagi”
“benar..sangat sulit mengembalikan keindahan yang kau berikan kepada kami, jadi jika ada masalah ceritalah”
“maafkan aku, Intari dan Amelya...aku salah karena telah membuat kalian begini...aku tak bermaksud melakukan hal itu”
Intari dan Amelya melepas pelukkan mereka. menghapus air mata yang mengalir membasahi pipi mereka.
“kalian seperti anak kecil”ucap Evita. Intari dan Amelya manyun mendengar apa yang diucapkan oleh Evita. “ayolah...apa kalian benar-benar seorang bocah?”ucap Evita lagi yang mendapat pelukkan kejutan dari Sahabatnya itu.
Sebenarnya mereka tak akan membaik jika Intari tak berbicara duluan dimobil. Menceritakan betapa menderitanya mereka tak mengetahui keberadaan Evita. Ditambah Evita muncul dengan penampilan yang berbeda. Membuat mereka berpikir bahwa Evita kembali kemasa kelam. Dan itu ada benarnya, Intari dan Amelya menolak perubahan itu, cukup sekali tak perlu berkali-kali karena hal tersebut begitu buruk untuk Evita sendiri.
Dalam mobil yang beraura pertentangan dimusnahkan oleh ikatan persahabatan dan kesaudaraan yang luar biasa kuat. Evita sendiri mengaku tak akan bisa bertahan lama jika harus membenci sahabatnya sendiri.
Dengan itulah mereka pun berhenti dan melepaskan keluh kesah yang terpendam dihati mereka. sakit tentu saja, karena sangat jarang mereka diperlakukan sejahat itu oleh Evita sendiri. jujur takut jika yang jadi penjahatnya adalah Evita. Orang yang penuh dengan kerahasiaan.
“sudah yuk...kita kembali kemansion..aku ada perlu sesuatu disana”ucap Evita yang kemudian mendapat anggukkan dari Intari dan Amelya. Mereka pun berangkat menuju Mansion Kim yaitu Mansion yang hanya penting yang bisa masuk.
-
Setibanya disana, Evita langsung disambut oleh Pelayan, Sebastian memilih untuk tinggal diruang tamu. Sedangkan Intari dan Amelya mengikuti kemana perginya Evita.
Evita memasuki ruangan Kerja miliknya. Ingat diMansion ini Intari dan Amelya termasuk tuan Rumah. Jadi jika ada ruang kerja untuk Evita, maka mereka juga ada.
Ketiga orang itu pun masuk kedalam dan melihat apa yang terdapat didalam ruangan itu. Intari terkejut karena melihat banyak gambar yang ditempel oleh Evita dengan keterangannya. Ia pun membaca apa saja yang terdapat digambar itu. Sedangkan Amelya fokus kegambar kabut dan gambar sebuah ruangan lab yang terbengkalai. Ia ingat bahwa lab itu tak lain adalah lab yang dipakai oleh Sintro untuk membuat kabut buatan miliknya.
“kenapa semua yang berkaitan dengan kasus yang kami selidiki Malah menyambung dengan kasusmu Evita?”tanya Amelya.
Evita mengambil tiga gelas dengan satu botol wine yang kini ia tuangkan dimasing-masing gelas. “kau mempertanyakannya, aku juga bingung kenapa ini bisa menjadi terkait, aneh saat aku menyelidiki kasus kematian orang tuaku, terdapat beberapa bukti yang langsung didapatkan walau harus menunggu lama..seperti kabut dan kasus penembak jitu.”ucap Evita sambil berdiri didepan mading yang terdapat beberapa gambar utama yang ditempel begitu dekat.
“Bukannya sudah jelas kematian kedua orang tua mu memang dilakukan oleh seseorang..pasti ada alasannya bukan”ucap Intari yang kemudian meminum wine yang disediakan oleh Evita.
“Menurutku kasus ini pasti ada sangkut pautnya dengan mafia”ucap Amelya to the point. Membuat Intari dan Evita memandang dirinya.
“Kenapa memandangku...bukannya kita tahu, bahwa Evita memiliki orang tua angkat yang dulu dikenal sebagai ketua mafia yang ditakuti, ditambah tak ada yang tahu siapa anak yang diangkat dalam keluarga itu, hingga mereka terus menyelidiki. Dan mereka Malah mendapatkan data pribadimu yang menunjukkan kau memilki keluarga...bisa dipastikan mereka ingin melihat siapa ketua mafia yang akan mengantikan keluargamu”ucap Amelya.
“Menurutku tidak...entah ada sangkut pautnya atau tidak, yang pasti Mafia terdapat digolongan kedua menjadi penyebab kematian orang tuamu, ada faktor pertama yang membuatnya begitu ingin membunuh kedua orang tuamu”Pendapat Intari.
“Bisa jadi....ini masalah dendam..apa orang tua mu pernah mengalami cekcok dengan orang lain?”tanya Intari kepada Evita yang mengelengkan kepalanya.
“Intari...Amelya, aku sudah menemukan kasus kenapa orang tuaku dibunuh..pertama pembunuhan ini bisa dibilang tindakkan gegabah oleh seseorang. Dan kedua orang yang melakukannya berniat untuk mengungkapkan identitasku sekalian...hanya ia mengalami kegagalan saat orang tuaku yang harus meninggal ditempat”ucap Evita sambil meletakkan gelasnya.
“Maksudnya?”tanya Intari dan Amelya.
“begini..kalau berhubungan dengan Mafia, tentu ini terkait karena saat ini dunia bawah sedang mengalami masa kritis dimana Maya anita Zahra harus turun tangan sendiri menyelesaikan masalah yang bertepatan setelah kematian orang tuaku..ada kemungkinan orang tua ku memang ikut bermasalah dengan mafia ini, tapi orang tuaku tak pernah tahu bawah mereka bermasalah dimafia, mereka mengira bermasalah diperusahaan. Tahukan kalian perusahaan yang baru didirikan oleh ayahku. Yaitu perusahaan impor sarang wallet yang dilakukan di itali waktu itu, sayangnya tak berhasil berjalan karena ada beberapa orang yang tak begitu senang dengan perusahaan itu..”
Evita berhenti sejenak, ia memandang gambar dimading yang begitu jelas menunjukkan mobil hancur yang tak lain adalah mobil kedua orang tuanya.
Evita melanjutkan omongannya “dan ada beberapa orang yang sepertinya mengetahui sesuatu dari orang tuaku, hingga mereka mengejar ‘sesuatu’ itu...dengan cara membunuh langsung kedua orang tuaku...aku memikirkan hal ini selama empat tahun ini..ada kejangalan dibalik kejadian itu, pertama penembak jitu yang digunakan oleh mereka ternyata adalah orang yang mereka buang juga. Ditambah sang pembuat kabut juga dibuang oleh mereka. kemungkinannya mereka ingin menghilangkan jejak tapi lupa bahwa memori seseorang masih bisa diambil”
Evita melanjutkan pembicaraannya setelah meminum wine yang tersisa digelasnya. “kalian tahu kenapa aku pertemukan Yuda dan Andre...aku tahu bahwa Andre ada disana, karena perusahaan Amelya sekarang tengah diambil alih oleh seseorang yang tak lain adalah Yuda dan orang dibelakangnya adalah orang yang menjadi tersangka utama kita...kenapa bisa begitu, Andre yang bertindak gegabah tak akan tinggal diam jika salah satu orang yang masih menyimpan bukti tertangkap begitu saja”
Intari yang mendengarnya memasang wajah mengerut. “tunggu Evita...maksudmu Yuda adalah sang penyebar Kabut buatan itu?”tanya Intari.
Amelya mengangguk “aneh sekali Yuda ikut dalam kasus ini jika ia harus mengotori diri dengan berkerja sama pada Sintro?”
“Aku berpikir begitu, saat kasus yang kalian tangani selesai ,saat itu juga aku memperlukan sintro, jadi kau membebaskannya dengan uang tebusan 100 juta. Saat ini mungkin ia tengah dicari oleh para kepolisian”ucap Evita dengan santai tanpa menyadari bahwa raut wajah Sahabatnya telah berubah.
“Evita apa kau ingat dengan Za?”tanya Intari dengan dadakan membuat Amelya ingin memukulnya sekarang.
“Za?...ooh polisi yang menghalangiku saat pertama tiba dibandara waktu itu kan?”ucap Evita yang membuat Intari dan Amelya terdiam.
“Apa Evita benar-benar melupakan Za yang merupakan kekasihnya sendiri...orang yang memenangkan tahta dihatinya”benak Intari dan Amelya.
“sudah itu tak penting....sekarang yang penting adalah kita harus pergi menuju ketempat yang harus dituju kali ini”ucap Evita.
__ADS_1