MANTIV

MANTIV
● Mantiv(156)


__ADS_3

BRUK!!!


Sebuah mobil hitam menabrak mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi.


Intari dan Amelya yang melihat tabrakkan mobil didepan mata mereka menghela nafas. Karena yang ditabrak bukan Evita.


“Kalian tidak apa-apa kan?”tanya Evita.


Intari dan Amelya ingin tercenga dengan pertanyaan Evita, mereka khawatir dengan dirinya melihat tabrakkan yang sangat mengerikan. Dan kini Evita malah bertanya kepadanya.


Hanya gelengan yang bisa diberikan oleh keduanya. Mereka melihat dua mobil hitam yang saling bertabrakkan itu, dimana dua orang pria berjas keluar dari sana.


“Siapa yang menyuruh kalian?”tanya Evita yang sudah berdiri didekat tabrakkan.


Banyak orang yang melihat kejadian mengerikan ini. Dan kilatan cahaya ponsel bergantian menyala untuk mengambil gambar. Bahkan kebisingan tidak bisa dihindari oleh mereka.


Evita dituntun untuk menjauh dari tempat kejadian dan salah dari mereka memberikannya sebuah penjelasan.


“Nona Muda, apakah anda memang ingin mengetahuinya?”tanya Pria berjas itu.


Intari dan Amelya menatap Evita yang tampak tenang dengan kejadian tadi. Padahal kejadian barusan sanggup membuat jantung mereka berdegup-degup.


“Tentu saja, katakan siapa yang menyuruh kalian?”Evita masih serius bertanya. Ia juga memperhatikan korban kecelakaan yang dipindahkan kemobil ambulan.


“Tuan Besar Kim, kami akan selalu memenuhi tugasnya untuk melindungi anda”ucap pria berjas kepadanya.


Evita mengerti, Ayah Angkatnya masih melindunginya hingga sekarang. ia dengan cepat mengangguk dan melangkah menuju kearah korban kecelakaan.


“Apa kalian tidak takut untuk menjadi buronan polisi?”tanya Evita selagi mereka berjalan menuju kearah korban.Intari dan Amelya juga mengikuti langkah Evita bersama Pria berjas yang dikenal oleh mereka, orang suruhan Ayah Angkat Evita sendiri.


“Kami sudah mengabdikan diri kami kepada Tuan Kim, tidak tidak ada lagi yang perlu kami pikirkan”jawab Pria berjas.


Evita hanya mengangguk, ia juga tidak bisa melarang siapapun. Selagi ia tidak membuat kesalahan mereka akan aman.


Tiba di tempat kejadian, Evita melihat tubuh seorang wanita yang penuh dengan darah bahkan kaki sedikit berbeda dari kaki umumnya. Bisa dibilang bagian kaki wanita itu terjepit sesuatu.


“Kasihan sekali”


“Gadis yang cantik, apa ia bisa bertahan?”


“Sungguh miris sekali hidupnya”


Bisikkan orang-orang didengar oleh Evita, ia mendekat lagi hingga para perawat memberinya ruang untuk melihat siapa gadis yang tanpa berpikir dua kali mengebutkan mobilnya.


“Tunangan Za?”guman Evita melihat wajah gadis yang bernafas sesak. Seorang perawat langsung bergegas mendekati Evita.


“Apa anda mengenalnya Nyonya, jika ia tolong beri tahu kami siapa dirinya dan orang tuanya”


Evita diam tidak menjawab pertanyaan dari Perawat, ia hanya menatap kearah seluruh petugas yang bersiap disana. “Secepatnya bawa dirinya kerumah sakit. Untuk masalah lainnya akan diselesaikan dengan cepat”


Seluruh perawat itu mengangguk dan bergegas pergi dengan cepat. Meninggalkan Evita,Intari dan Amelya yang menatap kepergian mereka.


“Bukankah ia Tunangan Za, Evita?”tanya Intari dan Amelya bersamaan. Mereka masing mengingat jelas wajah dari wanita yang mengandeng Za saat acara hamilnya Inul.


“Bukan lagi, apa menurut kalian ia ingin membunuhku?”tanya Evita dengan melangkah menuju kemobil mereka.


“Menurutku sih Iya, dilihat ia sangat membencimu”jawab Intari dengan berpikir keras akan kejadian barusan.


Amelya mengangguk, “Menurutku juga begitu. Mungkin ia musuhmu yang diselesaikan oleh takdir. Kamu tidak perlu turun tangan lagi”


Evita hanya menghardikkan bahunya. Mereka bertiga mengunakan mobil masing-masing menuju kerumah sakit. Untuk memastikan perawatan korban.


Setiba dirumah sakit, Evita dan Sahabatnya bergegas menuju keruang operasi yang sudah dikatakan oleh perawat. Mereka juga berniat untuk bertemu dengan orang tua dari korban secara langsung.


Ketiganya melirik seorang wanita yang sedang menutup mata dengan suara tangis tertahan. Ketiganya yang baru tiba hanya saling memandang sebelum akhirnya mereka bergegas mendekati wanita itu.


“Maaf, apakah anda orang tuanya?”tanya Intari dengan tenang. Mereka bertiga melihat wanita tersebut mengangkat kepalanya dan menatap mereka bersama-sama.


Matanya meneliti seakan-akan ia tengah mencari seseorang dari mereka. hingga dalam sekejap mata, Evita yang tidak jauh dari mereka terdorong kebelakang hingga menghantam dinding.


Intari dan Amelya bergegas menarik wanita yang mencekik Evita. mereka tidak menduga bahwa wanita ini begitu kuat mencengkram leher Evita.


“Dirimu!, Ya karena dirimu...Putriku mengalami ini semua, karena mu. Kenapa kamu menikahi Za, kenapa kamu..”

__ADS_1


Wanita yang masih mengoceh itu seketika diam melihat perut Evita yang tampak jelas didepan mata. Ia melepaskan cengkramannya dan berniat untuk mendorong perut Evita.


Namun sayang Intari dan Amelya sudah menahannya hingga ia menjauh dari Evita.


Helaan nafas dihembuskan oleh Evita, ia menatap Wanita yang memberontak ingin dibebaskan.


“KAU WANITA SIALAN!, GARA-GARA DIRIMU..PUTRIKU HARUS SEPERTI INI, AKU TIDAK PERDULI. NYAWA DIBALAS NYAWA, LUMPUH DIBALAS LUMPUH!”


Teriakkan wanita itu berhasil mengundang semua orang, bahkan sang suami yang baru tiba menatap kaget dengan apa yang telah terjadi.


“Istriku ada apa?”tanya sang Suami yang menatap Istrinya. Istrinya dengan cepat menunjuk Evita, tepat dibelakang sang Suami. “Dia, dia yang membuat Putri kita seperti ini”


Sang suami menatap kearah Evita dengan emosi yang meluap. Namun tatapan itu segera melebar setelah tahu siapa yang ia lihat.


“Nona Kim Hyun Jae!”kagetnya.


Evita mengangguk mendengar namanya dipanggil. “Tuan Nurganto”


-


Didalam ruangan yang kini penuh akan hawa membunuh. Dimana Evita menatap kearah pasutri yang salah satunya mengenal dirinya.


“Jadi, apa yang ingin kalian sampaikan kepadaku?”tanya Evita. ia menerima ajakkan untuk berbicara dengan tenang tanpa ada jalur hukum didalamnya.


“Kau!..tinggalkan Za. Beri ia kepada Putriku”ucap Nyonya Nurganto kepada Evita.


Evita tersenyum mendengarnya, “Jika ingin membicarakan hal seperti ini, sebaiknya tidak perlu. Aku tidak akan memberikan Za ku kepada kalian.ia adalah suamiku”ucap Evita yang membuat Nyonya Nurganto emosi. Jika ia tidak ditahan oleh suaminya, Evita akan menghadapi wanita emosian itu.


“Nona Kim Hyun Jae, apa yang sebenarnya terjadi kepada putriku?”tanya Tuan Nurganto dengan menahan Istrinya.


Evita menatap dengan tenang, “Ia ingin menabrakku, namun sayang bodyguardku yang menghadangnya hingga begini jadinya”


Sang ibu yang tidak menerima informasi tersebut, ingin menghajar Evita dengan melayangkan tangannya. Namun Dua sahabat Evita sudah menghadang tangan yang melayang itu.


“Keluarga besar Nurganto bukan?..aku tidak akan membawa ini kejalur hukum. Hanya satu syaratku, jangan sampai ini terulang lagi..kalian tahu aku bisa membuat seluruh bisnis kalian jatuh dalam satu malam”Evita berbicara tenang.namun yang mendengarnya merasakan ancaman dari setiap ucapan Evita.


Keluarga Nurganto hanya bisa diam dan tidak berani menghentikan Evita bersama sahabatnya keluar dari ruang pribadi.


Tiba diluar, Evita melihat suami mereka tiba dengan wajah panik. Mereka bertiga bergegas mendekat dan mendapati pelukkan hangat masing-masing.


Yoongi tidak berbicara, ia hanya dengan tenang memeluk Intari dan memastikan semua aman.


Lalu Echan yang bertanya banyak hal kepada Amelya. Membuat Amelya menghela nafas untuk menjawab pertanyaannya.


-


Setelah kejadian itu, seluruh cucu ini tidak diijinkan tinggal berpisah dari keluarga utama Zhan. Dan keputusan itu tidak bisa diganggu gugat.


Akhirnya Intari,Evita dan Amelya kembali kekediaman Utama dengan pelayanan lengkap dari keluarga. Sungguh sangat mengesankan.


Diruang tamu yang sedang menikmati suasana bersama keluarga. Sebuah diskusi dibuat oleh Para Kakek.


“Kakek ingin menyarankan kepada kalian bertiga. Terkhusus untukmu Za”ucap Kakek Pertama.


Para cucu itu pun menatap kearah Kakek pertama dengan wajah penasaran, apa saran yang ingin diberikan.


“Kakek membuat keputusan untuk mengelar pernikahan kalian. Maksudnya meresmikan status kalian sebagai anggota keluarga ini. Biar seluruh dunia tahu bahwa kalian semua adalah sepasang suami istri”ucap Kakek Pertama.


Kakek Kedua menambahkan, “Jangan risau akan banyaknya isu mengatakan hal yang tidak benar. Kalian tinggal menunjukkan bukti kebenarannya.


Kakek Ketiga tidak tinggal diam, ia juga ikut menambahkan, “Ini saran tapi kami tidak ingin mendengar kalian menolaknya. Kalian harus meresmikan ini, tidak perlu memikirkan anggaran atau semacamnya. Kami yang akan mengatur semuanya”


Seluruh keluarga bersorak setuju dengan keputusan dari Tiga Kakek yang sudah membuat keputusan.dan seperti apa yang dikatakan oleh kakek ketiga. Cucu pasutri itu tidak bisa menolak dengan apa yang sudah ditetapkan oleh seluruh keluarga.


“Hm, Evita..apa tidak masalah mengundang keluarga Alex?”tanya Kakek Ketiga dengan berhati-hati. Semua orang tahu Evita bukanlah bagian dari keluarga itu. namun alangkah baiknya jika pengiring Evita adalah keluarganya sendiri dari pada ia berjalan dialtar pernikahan sendirian.


Evita yang mendengarnya menganguk, “Tidak ada masalah Kakek, mereka juga keluargaku yang sebenarnya”ucap Evita.


Semua pun tersenyum mendengarnya, mereka melanjutkan obrolan mereka hingga larut malam.


Pagi harinya seluruh pelayan mansion utama sibuk menyiapkan keperluan pernikahan yang akan diadakan dalam waktu 15 hari lagi.


Acara pernikahan yang digelar sangat cepat membuat Evita,Intari dan Amelya menatap tidak percaya. Apakah seperti ini rasanya disayang oleh keluarga.

__ADS_1


“Pasang disana lampionnya”


“Itu lampu-lampu kecilnya tolong di atur ulang, sangat menyilaukan jika didekat sana”


“Apa mejanya sudah cukup?”


“Saran jangan pakai meja, berdiri aja?”


“Kalian ini gimana sih?..tamu kita banyak ada sekitar ratusan yang datang, belum lagi para pengusahannya”


Para kepala pelayan dan kepala dekorasi mulai sibuk dengan seluruh persiapan yang ada.


Intari,Evita dan Amelya hanya bisa menonton kegiatan mereka, dengan cemilan yang dibuat khusus oleh para pelayan menjadi peneman bagi mereka.


“Aku tidak menduga kita akan merayakan pesta pernikahan disini”ucap Intari dengan menyantap kue kering.


Amelya dan Evita mengangguk bersamaan. “Benar, mereka sangat antusias sekali”imbuh Amelya. Evita ikut menganggukkan kepalanya lagi.


Disaat asik melihat kegiatan yang sangat sibuk, Intari merasa ada sesuatu yang menganjal dibenaknya. Ia menatap Evita yang dengan tenang memakan bolu beras buatan dari keluarga Alex.


Yeah keluarga Alex sudah mengetahui segalanya, mereka juga berkunjung pagi tadi, namun tidak bisa berlama-lama karena semua juga memiliki kesibukan. Dan bolu beras itulah yang menjadi kesukaan Evita. mereka juga mendapat bagian hanya, bagian Evita yang paling banyak.


“Evita, apa kamu tidak berpikir..semua yang kamu lalui sekarang sudah terselesaikan”ucap Intari dan tiba-tiba. Ia tidak menyaring apa yang diucapkannya. Dan saat ia sadar bahwa ucapannya itu mengingatkan pada semua musuh Evita, ia menjadi bungkam seketika.


Amelya yang melihatnya bungkam, ikutan bungkam karena ia juga berpikir demikian. Setelah semua masalah diselesaikan, mereka akan hidup bahagia hingga ajal menjemput. Dan yang paling bahagia pasti Evita, ia yang paling banyak menghadapi segala masalah didalam hidupnya, bahkan perlu 8 tahun untuk menjalani hidup tanpa masalah.


Evita menatap kedua sahabatnya yang bungkam langsung tersenyum, ia juga paham apa yang mereka maksudkan. “Benar, semua yang ku lalui sekarang sudah selesai..jadi mari kita berbahagia dengan hidup tenang tanpa masalah”ucap Evita dengan tenang.


Intari dan Amelya mengangguk, rasa tidak enak hati mereka menghilang. Kini rasa bahagia mendengar bahwa Sahabat mereka juga tampak senang dengan yang telah terjadi. Inilah hidup, perlu perjuangan untuk menemukan kebahagiaan.


-


Di ruangan yang penuh akan cahaya, membuat mata seorang gadis terbuka dengan perlahan. Ia melihat dengan mengamati sekeliling hingga sesuatu membuatnya berhenti.


Ia berusaha mengerakkan kakinya yang tidak ada rasa sama sekali. Gerakkannya pun tidak bisa di lakukan dengan baik. Merasakan hal seperti ini, membuatnya mengingat apa yang ia lupakan.


Target didepan mata, dengan kecepatan tinggi di kebutlah mobil yang melewati wilayah ramai. Tidak perduli ramai atau tidak, yang terpenting targetnya ada didepan mata.


“Sebentar lagi, Kamu akan pergi dari dunia ini”


Brummmm!!!


“HAHAHAHAHAH,Matilah Evita!!!”


BRUK!!!!


Navi menatap tak percaya dengan apa yang ada didepannya. Ia sangat yakin bahwa ia telah membunuh Evita, dan Ia akan selamat.


Namun apa yang dilihat olehnya tidak seperti yang ia bayangkan. Kedua kakinya tidak bergerak, tangan kanannya digips lalu kepalanya dibalut perban.


Air matanya mengalir dengan cepat mengetahui bahwa dirinyalah yang mengalami luka parah.


“Tidak, tidak mungkin. Tubuhku....tubuhku”Navi berguman sambil menyentuh kedua kakinya dengan mengunakan tangan kiri.


“Hiks..ini tidak mungkin, Huaaaaa aku tidak mungkin cacat...AYAH IBU.....Huaaaa!!!”ruangan Navi penuh akan suara tangis yang membuat orang tuanya datang dengan wajah panik.


“Putriku ada apa?”tanya sang Ibu dengan cepat menghampiri anaknya.


Navi bergegas memeluk Ibunya dan menangis dengan sejadi-jadinya. “Ibu~..lihat aku lumpuh, aku tidak bisa bergerak lagi..Huaaaa...Ibu bagaimana ini?”Tanya Navi.


Ia mendapat Ayahnya tidak jauh berdiri darinya. “Ayah!, bunuh wanita yang bersama Za itu. aku yakin dirinyalah yang telah membunuhku Ayah, ia yang telah membunuh....”


PLAK!!!


Tamparan manis berbekas dipipi Navi, ia menatap sang Ibu yang meluapkan emosinya.


“Ibu, Apa ini?”tanya Navi menyentuh pipi kanan yang ditampar oleh sang Ibu, panas dari tamparan itu terasa di telapak tangannya.


“DENGAR NAVI. LUPAKAN PRIA YANG KAU CINTAI, IBU TIDAK SETUJU JIKA KAMU MASIH MENCINTAINYA. MASIH BANYAK PRIA LAIN YANG AKAN MEMBAHAGIAKANMU, BUKAN PRIA YANG SEPERTI DIRINYA”teriak sang Ibu yang memeluk Putrinya.


Navi terteguh dengan apa yang Ibunya katakan. Ia tidak menduga Ibunya akan seperti ini. Namun dengan perkataan sang Ibu,Navi pun setuju. Ia akan melupakan ZaZanya dan hidup dengan bahagia melupakan rasa terobsesinya.


Sang Ayah yang melihat Ibu dan Anaknya saling berbagi kasih, ikut memeluk dan membagikan rasa sedih dengan apa yang terjadi. Ia tidak tahu takdir keluarganya akan seperti ini.

__ADS_1


Semua yang di perkirakan oleh Tuan Nurganto, bahwa Evita hanya gadis biasa adalah salah. Nyatanya, Evita adalah orang yang mampu mengulingkan usahanya. Ia bahagia karena keluarganya tidak di hancurkan oleh wanita yang ia sendiri yakin lebih menderita dari hidupnya.


__ADS_2