
Evita membuka matanya, yang dilihatnya adalah sekumpulan lelaki yang berkeringat dengan nafsu yang memburu. Ia melihat sekeliling dan mendapati bahwa ia tak berbusana. Mengingat kejadian sebelumnya ia bernafas lega. Karena itu hanya mimpi belaka.
“Syukurlah...syukurlah aku masih..masih dalam keadaan suci”guman Evita. tapi tubuh yang lemah itu tak bisa bangun dari tidurnya.
Evita berusaha untuk bisa bangun, tapi tubuhnya benar-benar kelelahan. Ia berpikir ini pasti efek lain dari obat yang diberikan kepadanya.
“Aku harus segera keluar dari sini”benak Evita. ia berjuang untuk bangun. Dan saat ia bangun, saat itu juga tiga pria datang menghampirinya. Entah kenapa, yang pasti karena ia bangun, kunci yang mengikat tiga pria itu langsung terlepas.
“Sial”Evita merintih saat tiga pria mulai menangkap dirinya. Kewalahan dengan hal tersebut, ia berusaha untuk mengambil benda apapun yang pasti bisa ia gunakan untuk memukul. Dengan tangkas dan cepat, sekali ayun.
Tang.....
Kepala lelaki yang menangkap tubuh bagian atas langsung menahan rasa sakit. Kepalanya mengeluarkan darah yang lumayan segar.Evita berhasil menjatuhkannya. Sekarang tinggal dua pria yang masih bertahan.
Ia mengambil lagi benda yang tak lain adalah rantai besi yang mengikat para lelaki ini. Ia mencekik leher pria yang lain hingga pria itu tak bisa menahan lagi, merasa cukup, Evita lanjutkan sasaran ketiganya.
Tapi lelaki yang lain mampu berpikir, ia menangkis rantai tersebut, dan menangkap Evita lalu menyodorkan kepalanya untuk mengecup Evita.
Evita yang makin merasa terancam langsung mengambil rantai kembali dan mengkaitkan dileher pria tersebut. Ia berharap tak membunuh mereka.
“ugh...le...pas....le..pas”ucap pria tersebut sambil meronta-ronta. Wajah Evita langsung kaku saat menyadari bahwa Pria ini hampir mati ditangannya.
Ia bergegas melepaskan kekangan tersebut, dan melangkah untuk mengambil kain putih dan melilitkannya ditubuhnya. Ia melangkah untuk keluar tapi Pria yang lain masih berusaha untuk menangkapnya. Karena tak ingin tertangkap lagi, terpaksa Evita menendang tubuh pria tersebut.
“Aku harus cepat pergi....jika seperti ini, aku akan membunuh mereka...tidak..itu tidak boleh”guman Evita tak jelas.
Ia melangkah keluar, dan masih saja pria-pria tersebut berusaha untuk menangkapnya. Sayangnya para pelayan cepat datang membuat tiga lelaki itu berbaring dengan nafas yang hanya sisa sedikit.
Evita tak bisa lagi mengontrol dirinya, jika ia masih berada disini dan darah segar itu masih dilihat olehnya. Bisa-bisa ia membunuh orang yang ditemuinya. Ia tak bisa begitu. Jadi dengan pikiran kosong, Evita berusaha untuk tetap lari dan mencari jalan keluar.
Saat telah melihat jalan yang memberinya kebebasan, seseorang menarik dirinya dan terlihat kepalanya. Evita tak bisa menatap orang tersebut karena takut. Ia takut tertangkap lagi. seandainya ia tak kabur. Ia mungkin akan ternodai. Dan memilih untuk mati.
Dengan cepat ia berlari dan terus berlari entah kearah mana yang pasti ia berlari.
“EVITA!!!!”
Mendengar suara itu, Evita langsung melihat kebelakang tapi pandangannya langsung teralihkan dengan seseorang yang memeluknya. Ia merasakan hembusan nafas yang bergemuruh.
“Kau baik-baik saja?”tanya-nya.
Evita berusaha untuk menatap dan melihat bahwa yang memeluknya tak lain adalah Mavin Vintorin. Pria yang hanya beberapa kali ditemui olehnya.
“Terimakasih”ucap Evita. ia berterimakasih untuk bantuan pertama. Dan mungkin ia akan dibantu lagi.
“Masuklah...aku akan melindungimu”ucap Mavin Vintorin. Evita tersenyum, ia pun mengangguk dan memilih untuk memejamkan matanya.
Terdengar suara Mavin yang mengatakan bahwa ia akan dibawa keamerika. Yeah setidaknya ia dilindungi. Entah kenapa ia percaya dengan ucapan Mavin Ini. Dari pada orang kepercayaan Ayahnya.
-
Evita bangun dari tidurnya. Hari sudah pagi. Dan sepertinya ia telah kembali, tubuhnya tak lagi merasakan paksaan. Tapi bayang suram tentang disetubuhi muncul dibenaknya.
Ia menatap kearah sampingnya. Dimana seorang pria dengan tenangnya tertidur. Dengan membelakkan matanya, ia terduduk, membuat Pria tersebut terbangun.
“Kau sudah bangun..Baby?”ucap Mavin Vintorin dengan nada serak khas orang bangun.Evita yang usianya masih terbilang muda. Malah tidur dengan pria lain.
“Tunggu...aku tak bermimpi bukan?..aku bukan gadis dewasa...?”benak Evita. ia menatap tubuhnya yang tak mengenakan apapun. Membuatnya langsung menutupi diri.
“Maaf...aku mengambil kesempatan menyentuhmu...tapi tenanglah aku akan bertanggung jawab..dan satu lagi, ada obat yang diberikan seseorang untukmu”ucap Mavin Vintorin. Dengan santai ia bangun dengan tubuh kekar. Bagi wanita yang mungkin mencintainya pasti akan bahagia melihat tersebut. Tapi Evita merasa jijik melihatnya.
__ADS_1
“Terimakasih...”suara tercekat Evita tak mampu lagi dilanjut. Pria berkulit madu itu pun melangkah menuju kekamar mandi. Sedangkan Evita memilih untuk mengerutuk dirinya sendiri.
“Bagaimana kau bertemu dengan Za..Evita..Evita...kau benar-benar seperti j****g”guman Evita. ia tak bisa lagi membayangkan jika bertemu dengan kekasihnya. Tapi dari pada memikirkan kekasihnya. Ia memikirkan cara untuk menyelamatkan Ayahnya.
Krek
Mavin keluar dari kamar mandi. Terlihat segar dengan wajah yang berseri-seri. Evita hanya mendengus. Ia melangkah untuk mandi.
“Tuan mavin...ada yang ingin kubicarakan dengan anda”ucap Evita setelah melewati pria berkulit madu itu.
Mavin hanya memandangnya. Dan memilih untuk mengambil ponsel dan menghubungi seseorang. “Prepare women's clothes...buy as many as you can (Siapkan pakaian wanita...beli sebanyak-banyaknya)”ucap Mavin Vintorin. Setelahnya ia memilih untuk mengenakan pakaiannya.
-
30 menit Evita membersihkan diri. Ia tak keluar dari kamar mandi. Karena melihat tubuhnya yang penuh dengan tanda-tanda merah.
Wajahnya kesal, malu dan marah. Kesal karena tubuhnya tak lagi suci. Malu karena ia melakukan hal yang tak pernah dibayangkan olehnya dan marah karena telah menjadi j****g. Yeah tak ada yang tahu takdir.
“sial....siapa sebenarnya mereka, kenapa aku tak bisa menemukan mereka....”benak Evita. ia memilih untuk segera keluar dari kamar mandi. Tapi ada hal yang terlupakan olehnya.
“Pakaian...sial, selama berlari dan kabur...aku tak memiliki pakaian sama sekali”benak Evita. ia telah dinodai, sekarang seperti gadis yang telah dibuang karena sudah dipakai.
Evita memilih untuk mengalihkan perhatiannya dari pada memikirkan tentang apa yang terjadi padanya. Jujur saja gelang pingang pemberian keluarga besar Alex. Telah benar-benar ternodai. Sekarang yang bisa ia lakukan adalah berbohong. Baik kepada keluarga, maupun kepada Sahabatnya sendiri.
Tuk...tuk..tuk
“Kau telah selesai mandi?”tanya seorang diseberang sana. Yeah Evita tahu bahwa itu adalah Tuan Mavin. Pria yang menidurinya. Untuk mengobati dirinya.
“Yah...tapi aku tak punya pakaian”Jawab Evita. dan terdengar suara benda yang digantung. Ia pun membuka sedikit pintu kamar mandi. Dan mengambil bathrub yang ditinggalkan oleh Tuan muda yang tak tahu apa jabatannya.
“Pilih mana pun yang kau suka”ucap Mavin dengan menikmati kopi yang ada ditangannya.
Evita hanya mengangguk, ia keluar dan memilih pakaian mana yang ingin dipakai olehnya. Semua pakaian yang diberikan memiliki merek terkenal. Dan entah kenapa Evita sedikit tenang karena pakaian tersebut tak terbuka.
“Apa yang ingin kau bicarakan kepadaku?”tanya Mavin Vintorin.
Evita menenangkan dirinya. “Aku ingin meminta bantuanmu...apakah anda bisa..tapi sebelum itu, aku benar-benar berterimakasih”ucap Evita berusaha untuk tenang.
Mavin Vintorin bangun dari duduknya dan meletakkan cangkir yang dipegang olehnya. Melangkah mendekati Evita lalu..
Cup
Mavin Vintorin mencium dagu Evita dengan dadakkan, refleks membuat Evita mundur dan menjauh dari Mavin yang langsung terkejut dengan tingkah Evita.
“Kenapa?...kau tak menyukainya?”tanya Mavin dengan nada yang mengoda.
Evita yang merasa sudah banyak berbuat salah, tak bisa lagi berakting didepan Mavin. “Hiks...hiks”seketika air mata keluar dari mata Evita. yang membuat Mavin Vintorin langsung menenangkan dirinya.
“Maaf..maaf..ini salahku”ucap Mavin Vintorin. Pria yang tak diketahui oleh Evita. ia memeluk Evita dengan lembut.
“Tuan...ku mohon, rahasiakan hal ini....jangan sampai ada yang tahu....aku..aku..aku tak punya muka untuk menatap dunia”suara Evita mulai mencekat. Ia memendamkan kepalanya didada Mavin Vintorin.
Entah ada rasa apa, Evita mampu meluapkan kesedihannya. Yeah sekarang ia terlihat seperti wanita yang mudah tersentuh dengan lelaki.
“Sudah jangan menangis....aku akan merahasiakannya...jadi tenanglah”ucap Mavin Vintorin dengan lembut, ia mengusap punggung Evita dengan tenang. Entah kenapa Mavin Vintorin makin merasakan degupan jantung yang mendalam.
-
Za, bagaikan sebuah taman tanpa bunga. Bagaikan sebuah malam tanpa bintang. Dan bagaikan matahari tanpa cahayanya. Suram, sunyi dan kelam telah memenuhi ruang hati.
__ADS_1
Bayangan kekasih yang pergi tanpa menunjukkan kebahagian, kehidupan. Terus menghantui dirinya.
Seandainya-seandainya ia tak terkejut. Dan langsung menangkap kekasihnya. Mungkin saat ini Kekasihnya ada disamping dirinya.
Tapi percuma saja memikirkannya, karena semua telah terjadi, tak ada yang bisa memutar kembali waktu. Tak ada yang bisa menghentikan waktu.
Za yang tak tidur seharian, dan tak membersihkan diri, ia memandikan seluruh tubuhnya dengan aroma minuman yang memabukkan. Hal ini langsung diketahui oleh sang keluarga.
Kakek Pertama, Kedua dan Ketiga. Memberikan peringatan untuk Za, jika seorang wanita mampu membuat cucu mereka seperti ini. Maka wanita tersebut harus segera dinikahkan dengan Za. Tapi Za tak mengatakan siapa yang ingin dinikahi olehnya. Siapa yang membuatnya seperti ini. Karena ia tak yakin Apakah Evita akan kembali.
-
Indah dan Amelya yang berada dimarkas detektif. Menunggu kedatangan kekasih mereka. hari ini adalah hari keputusan mereka. seseorang mengatakan kepada mereka bahwa Evita telah diamankan. Tapi yang menjadi pertanyaan, siapakah dirinya.
Inul mengetahui bahwa Evita mendapat masalah karena ia datang kelokasi kediaman Kim. Dan hal ini mau tak mau Inul harus berbohong kepada orang tua Evita, dan beralasan bahwa saat ini Evita tengah sibuk berkerja.
Maka tak heran Indah dan Amelya juga terdiam melihat Inul ada dimarkas detektif dengan wajah yang memerah, karena amarah.
“Apa yang sebenarnya terjadi...kenapa tak ada yang memberitahuku?”tanya Inul dengan nada marah. Indah dan Amelya tertunduk tak berani berbicara.
“Apa kalian akan terus berdiam diri, katakan saja..apa yang terjadi?”tanya Inul lagi. kali ini ia mengontrol amarahnya.
Indah yang menceritakan segala yang terjadi, dari awal sampai akhir. Tapi mereka tetap berbohong dengan kasus penculikkan dan apa yang menjadi alasan penculikan itu.
“APA!!!......EVITA...Evita diculik?”tanya Inul dengan wajah yang penuh keterkejutan. Indah dan Amelya mengangguk. Mereka tak bisa lagi menemukan Evita. karena jejaknya benar-benar telah menghilang.
“jadi bagaimana..apa kalian hanya akan menunggu...Evita tak mungkin bisa bertahan lama..aku akan memberi tahu orang tuanya”
“TIDAK!!!”pekik Indah dan Amelya bersama-sama. Membuat Inul kaget dengan ucapan tersebut.
“Jangan....lebih baik jangan...saat ini lebih baik hanya Kak Inul yang tahu..jika orang tua Evita juga tahu, akan menjadi masalah...”usul Amelya. Inul yang mendengarnya sedikit mengerti. Memang jika diberi tahu, akan terdapat masalah besar. Pertama Orang Tua Evita akan menjauhkan Evita dari keluarga Kim. Kedua Evita akan dipindahkan kekota N. Dan ketiga Evita akan memiliki keterbatasan, karena ia akan dikekang dalam aturan keluarga dan jika ingin kebebasan, harus ada lelaki yang mampu membebaskan dirinya.
“Baik...aku mengerti..aku tak akan memberi tahu tentang hal ini...tapi aku tak akan bisa berbohong..jadi sebisa mungkin kalian menemukan dirinya”ucap Inul.
“Kami mungkin tak menemukannya, tapi seseorang mengatakan bahwa ia baik-baik saja”ucap Indah dengan nada yang sedikit takut.
Mendengar hal itu membuat Inul mengerjab-ngerjabkan matanya. “Apa kau yakin Indah....kalau begitu, itu bagus...jadi kemungkinan kita hanya perlu menunggu Evita bukan?”tanya Inul lagi. Amelya mengangguk.
Tapi jujur saja, tak senang dengan hal tersebut, bukan berarti mereka berharap Evita benar-benar diculik. Hanya entah kenapa mereka merasa akan ada perubahan yang akan terjadi. Bukan kepada Evita. tapi kepada Mereka.
“Baiklah..aku tak bisa berlama-lama...aku memilki tugas lain, setidaknya ada kabar Evita...kalau begitu aku permisi”ucap Inul, ia melangkah meninggalkan markas detektif.
Indah dan Amelya bernafas lega. Setidaknya tak ada masalah tambahan. Sekarang tujuan mereka hanya satu, yaitu mengikuti apa yang dipesankan oleh Evita.
Saat siang tadi, mereka mendapat pesan. Selain keadaan Evita. mereka juga mendapatkan pesan bahwa Evita meminta untuk berjaga dikediaman dektetif. Dan setelahnya akan disampaikan dengan kedatangan Evita sendiri. selain itu Indah dan Amelya akan mengambil keputusan lain. mereka tak mungkin meninggalkan Evita. karena mereka berhutang nyawa kepada Evita. setidaknya membalas dengan mengikuti Evita. dan terus bersamanya. Mungkin sampai Evita bahagia.
Tuk...tuk
Pintu terbuka, terlihat dua pria yang datang dengan wajah yang terlihat lelah. Indah dan Amelya tersenyum menyambut mereka.
“Yoongi...”
“Echan”
Keduanya berdiri menyambut kedatangan kekasih mereka. tak ada yang mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya bukan. Maka biarkan hari ini menjadi akhir mereka bahagia dan menikmati betapa indah memiliki orang yang kita sukai. Dan merasakan kasih sayang yang mereka berikan.
Setidaknya tak akan ada penyesalan nanti, mungkin akan ada, tapi mereka akan merelakan apa yang mereka telah lakukan. Kebahagiaan harus didapat bukan. Tapi mereka tak ingin kebahagiaan seseorang yang dilakukan terpaksa hanya untuk mereka. lebih baik orang tersebut bahagia, dan mereka yang akan menanggung rasa sakitnya.
-
__ADS_1
“Baby..makanlah, dari pagi kau tak makan, mereka telah memasakkan makanan khas indo..jadi makanlah”ucap Mavin Vintorin untuk gadis yang kini dianggapnya kekasih sendiri. walau ia tak tahu apakah bisa mendapatkan hati sang Gadis tersebut.
Tak ada jawaban dari orangnya. Mavin Vintorin mendekat dan memberikan pelukkan hangat. Ia tahu bahwa Baby-nya masih trauma akan segala yang terjadi. Tapi Mavin tak ingin rasa trauma itu menjadi gunung. Setidaknya trauma itu bisa dilupakan dengan ia yang menjadi pengantinya.