MANTIV

MANTIV
● Mantiv(23)


__ADS_3

Intari dan Amelya tiba dirumah saat hari sudah gelap. Perkerjaan mereka sudah selesai, setelah memastikan keadaan SI Manja baik-baik saja, barulah mereka pulang dan mengakhiri dengan tandatangan untuk memastikan bahwa kasus si manja ini telah selesai.


Diruangan besar, para karyawan tengah makan Malam, mereka baru tiba dan duduk diruang tamu. “Huh”Intari menghela nafas.


Inul tiba dengan melangkah lebih cepat, hingga tidak menyadari bos mereka tengah duduk diruang tengah. Begitu juga dengan Nabila yang tengah membawa beberapa file.


“ada apa dengan mereka?”tanya Intari melihat kesibukkan Inul dan Nabila.


Mendengar itu Amelya hanya mengangkat bahu, tanda ia tidak mengetahuinya. Mereka pun melihat Inul dan Nabila yang berlalu lalang membuat mata mereka sakit.


“bisakah Kalian berhenti” ucap Intari yang membuat Inul dan Nabila berhenti ditengah kegiatan mereka.


“apa yang kalian lakukan?” tanya Intari. Amelya pun mengangguk.


“ah maaf Intari..Amelya..kami sedang memindahkan berkas-berkas lama dari lemari kami, agar kosong dan bisa diisikan dengan berkas baru.


“Ooh..yaudah lanjutkan kegiatan kalian..kami lelah, kami akan isitrahat langsung Malam ini” ucap Intari yang kemudian berdiri untuk pergi. Amelya juga mengikutinya.


“iya benar apa yang dikatakan Indah, semangat berkerja” ucap Amelya.


Inul dan Nabila tersenyum melihat tingkah dua orang yang kelelahan karena menghadapi seorang anak manja berusia 12 tahun, penuh dengan kebahagiaan dan merasa bahwa dirinya bebas dari segala hal.


“Para Boss kecapeaan” ucap Nabila.


“Jelas...pasti capek urusan kayak menjaga BOCIL”kata bocil sengaja ditekankan untuk menunjukkan bahwa itu juga berlaku untuk Nabila.


“Apa..jangan samakan aku, sama gadis yang menghambur uang, aku tidak begitu” ucap Nabila yang melangkah meninggalkan Inul. Inul tertawa melihatnya. Kemudian mengingat tingkah Nabila yang mirip dengan Evita. Membuatnya termenung.


“bagaimana kabarmu Evi”benaknya.


-


Dikamar Za yang bernuansa hitam, untungnya ada cahaya dan beberapa hiasan yang membuat ruangan itu hidup.


Za yang duduk diruang kerjanya, melihat layarnya. Dirinya tengah rapat untuk membahas masalah laporan mingguan. Ia ingin menghindari rapat tersebut, tapi suasana dihatinya yang tenang, membuatnya mengikuti kegiatan yang membosankan ini.


“jadi pak..kami melaporkan, kegiatan tadi yang menangkap seorang pencabul wanita...Ayahnya meminta bantuan para detektif untuk bisa mengungkapkan siapa pelaku pencabulan itu, kita pernah menyelidikinya, tapi tidak tertangkap. Karena ia punya kenalan dikepolisian, sehingga dengan mudah melarikan diri dari kita” jelas salah satu petugas.


“Laporan beberapa hari lalu, penyelesaian dan penutupan bar yang diselidiki telah benar-benar ditutup” ucap Petugas lainnya.


Mereka menyampaikan sampai benar-benar selesai, dan setelahnya satu persatu, petugas berpamitan karena rapat telah selesai. sedangkan Yoongi dan Echan masih betah dimeet mereka.


“Kak Za..ada apa dengan wajahmu yang berseri-seri itu?”tanya Echan melihat tingkah Za yang datar tapi disampingnya ada bunga-bunga kebahagiaan. Yoongi pun mengangguk menyetujui perkatannya.


“Tidak”


“tidak apa....lihat muka senang mu itu..apa Kak habis makan-makanan yang membuat mood berubah?”tanya Echan sambil menebak-nebak.


Namun siapa sangka tebakkannya benar-benar pas. Karena Za mengangguk dengan begitu antusias.


“huh..benarkah” Echan langsung berdiri dari kursinya melihat anggukkan Za atas jawabanya.


“tidak” Ucap Za lagi. Membuat dua orang didepannya kebingungan.


“apa yang tidak?”tanya Yoongi.


“Kak Za...anda makan apa tadi....seharusnya Kak Za sudah makan Malam, karena waktu makan Malam sudah selesai bukan?”tanya Echan.


“Makan Omlet”ucapan singkat dari Za. Membuat Yoongi dan Echan membelakkan mata mereka.


“OMLET!”ucap mereka bersamaan membuat Za memandang mereka dengan wajah bingung.


“Mn”jawabnya.


Yoongi dan Echan pun saling melirik. “diluar dugaan”ucap Yoongi yang dianggukan oleh Echan.


“siapa yang memasaknya?”tanya Echan penasaran dengan Omlet ini. Jujur saja itu masakkan yang gampang untuk mereka, tapi melihat Za yang bahagia, membuat dirinya penasaran tingkat tinggi.


“Dia” ucap Za tak ingin menyebutkan namaya. Membuat Yoongi dan Echan lagi-lagi melirik dan bertanya lewat mata.


“apa kakak Ipar?”tanya Echan berhati-hati.


“Kakak Ipar?...”Za melirik Echan dengan wajah datarnya. “aku tidak menikah” jelasnya lagi. Karena benar adanya, saat ini ia belum menikahi anak orang, bagaimana Echan dengan santai memangil wanita yang ia tidak cintai.


“bukan”ucap Za memutuskan bahwa ucapan Echan salah. Membuat sang penanya hanya bisa tersenyum kecil.


“apa Nona Evita yang memasak?”tanya Yoongi. Dan Za hanya mengangguk.


Mereka lagi-lagi saling melirik dalam diam. Melihat bunga-bunga yang berada disamping tubuh Za.

__ADS_1


“mn”jawab Za.


“terus kenapa kakak Senang?”tanya Echan membuat bunga-bunga yang tadi berterbangan menjadi lenyap seperti busa yang disentuh langsung hilang.


“bukan apa” ucapnya. Kemudian beralih untuk keluar dari meet. Kini hanya sisa 2 orang yang ada dimeet tersebut.


“ada apa dengan Kak Za..apa dia mulai menyukai gadis itu?”Tanya Echan.


“menurutku..tidak, kita tahu bahwa kak Za pernah mencintai seorang gadis yang menjadi cinta pertamanya, tidak mungkin ia bisa langsung jatuh hati kepada wanita itu” Jawab Yoongi.


“kalau begitu..apa ini ada hubunganya dengan omlet”tanya Echan lagi.


“Sepertinya..ah iya aku ingat...kau tahu bahwa omlet kesukaan kak Za setelah ia bucin dengan seseorang” jelas Yoongi.


“ah benar...waktu itu kim kan yang memasakkannya” ucap Echan mengingat kejadian 3 tahun yang lalu. Yoongi pun mengangguk menyetujui ucapan tersebut. Mereka pun berpikir dalam diam.


-


Setelah keluar dari Meetnya, Za berjalan mendekati jendela kaca besar yang menunjukkan keindahan kota A. ia termenung sambil mengambil batang rokoknya dan menghisapnya.


Asap rokok memenuhi ruangan yang ada, membuat awan-awan kecil yang tidak berapa lama menghilang seperti uap. Ia termenung mengingat kejadian 3 tahun yang lalu, dimana pertama kalinya merasakan cinta yang begitu dalam untuk seseorang.


“apakah kau masih ada?...”gumannya.


 


Jam berdetak menjadi backsound untuk Malam yang sunyi, Evita tertidur begitu lelapnya, karena merasa penat menghabiskan waktu mengikuti drama para pelayan diMansion yang bukan miliknya.


Krriiingggg


Krrriiiinggg


Krrrriiinggg


Ponsel pintarnya berdering disamping telinganya, membuat dirinya bangun sambil mengucek pelan kelopak mata karena masih mengantuk.


“siapa yang menelpon?”ucapnya meraih ponsel dan mengaktifkan panggilan untuk mendengar siapa yang menelponya.


“hallo”sapanya.


“Hei......hiks...anak Mamah..”ucap suara diseberang sana. Membuat Evita langsung berdiri dari duduknya dengan suasana yang menegang.


“Tidak apa sayang..jaga dirimu Evi” teriak sang Ayah.


“Tunggu..kalian ada dimana, berhentikan mobilnya!”perintah Evita.


Suara tangisan bergema dipendengaran Evita, ia juga ikut memetakkan air mata, bingung tampak diwajahnya.


“Ibu..Ayah..Kembar....Denis,sudah..jangan menangis, HENTIKAN MOBILNYA!!!!”ia terteriak, lalu bergegas pergi keluar kamarnya, berlari, menyurusi lorong yang ada, tidak perduli teguran para Pelayan yang melihatnya.


Diseberang sana, suara Ibunya untuk terakhir kalinya. “Evi...Ibu tidak bisa memaksakan kehendakmu, kali ini..dengarkan permintaan Ibu, lepaskan tali belagu yang kau gunakan, pilihlah keputusaanmu, jangan ragu mengambil keputusan, melangkahlah.. ibu, Ayah,Adik-adikmu akan mendukungmu...ingat pesan Ibu, selalu tersenyum, namun jika kau mengalami musibah yang membuatmu harus menangis maka menangislah.... Sayang..maaf ibu tidak bisa membantu mu lagi mulai sekarang...”


BRAKKKKK


Suara tabrakan terdengar begitu kuat, membuat Evita yang sudah mendekati ambang pintu langsung berhenti ditempat. Para pelayan juga ikut berhenti, mereka ingin mendekat namun aura Evita tiba-tiba berubah drastis. Kepala Pelayan yang melihatnya terdiam seribu bahasa.


Evita membelakkan matanya, Ia langsung menekan Ponsel pintarnya dan berjalan keluar dari Mansion. Melangkah secepat mungkin pergi menuju kegerbang utama yang jaraknya begitu lumayan untuk membuatnya berkeringat.


“Sebastian...jemput aku!”tintahnya yang mendapat jawaban ‘Iya’ dari orang yang ditelponnya.


Evita berlari terus berlari, tidak memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia terus berlari tanpa melihat kearah belakang.


Para Pelayan yang melihatnya hanya Pelayan 11-15 dan Kepala Pelayan.


“Apa yang terjadi padanya?”tanya Pelayan 12.


“Kalian semua dengar..jangan beri tahu siapa pun, agar kalian tidak terkena hukuman” ucap Kepala Pelayan membuat Pelayan 11-15 mengangguk dengan bingung.


“Baiklah” ucap mereka bersamaan. Mereka pun pergi meninggalkan Kepala Pelayan yang berdiri diambang pintu.


Sambil mengangkat ponsel pintarnya, “Nona...apa rencana selanjutnya?”tanya Kepala Pelayan sambil tersenyum.


-


Sebastian menunggu disamping jalan tol karena mendapat pesan Evita yang akan menyusulnya. Nyonya-Nya itu mampu berlari begitu jauh tanpa merasa kelelahan.


Evita melihat Sebastian dari kejauhan, ia mendekat dengan terus berlari.


“Nyonya...ini” Sebastian memberikan sebotol air mineral untuk Evita. Evita mengambilnya dan meminumnya beberapa tegukkan.

__ADS_1


“Mari masuk Nyonya” Ucap Sebastian membuka pintu mobil. Evita pun masuk. Dan Sebastian pun masuk kedalam mobil. Mereka mengebut dalam Malam yang sunyi. Menuju kearah jalan kekota N yang dimana tempat tinggal keluarganya.


Menyusuri jalan yang kini mulai ada beberapa mobil lewat. Mereka tetap menancapkan gas mobil untuk menerjang jalan yang luas.


Tak berapa lama, mereka tiba di jejak ponsel Ibunya. Iya Evita meletakkan pelacak dimasing-masing ponsel orang tuanya, serta Adik-adiknya. Agar mudah mengetahui dimana mereka.


Mobil berhenti, Evita langsung keluar dari dalam mobil, berlari melihat mobil yang tertabrak tortroan. Jalan ini sepi, karena memang padat penduduknya tidak terlalu seperti kota A. jadi tentu saja tidak ada yang menyadari kecelakaan yang ada disini.


Evita terdiam sambil mengelilingi mobil yang sudah hancur, tubuh Ibu dan Ayahnya terkeluar dari jendela mobil depan. Adik-adiknya terguncang, kepala mereka berdarah. Evita mendekat dan memeriksa denyut nadi, masing-masing.


Hiks..hiks....


Evita meneteskan air matanya, mendapati fakta, bahwa ia terlambat datang. Orang tua dan adiknya benar-benar telah pergi meninggalkannya. Evita ingin menyusuri lagi, namun Sebastian menghentikannya.


“Nyonya...ada bom dibagian belakang mobil” ucapnya mengingatkan.


Mata Evita membelak, “Kapan waktunya?”tanya Evita.


Sebastian meliriknya. “30 detik lagi” ucapnya. Evita berdiri disamping Sebastian, Ia pun menarik lengan Sebastian dan berbisik tentang sesuatu. Sebastian mengangguk. Ia mengeluarkan orang tua dan adik-adik Nyonya-Nya dan meletakannya jauh dari mobil agar telihat bahwa mereka sempat keluar dari mobil.


“Kenapa tidak membawa Mayat mereka Nyonya?”tanya Sebastian setelah menyelesaikan tugasnya.


“Aku tahu..tapi biarkan polisi yang menyelidiki hal ini, aku akan menyelidiki dalang dari segalanya...Sebastian, antar aku kembali ke Mansion Za..setelah itu kau lapor tentang kecelakaan yang ada disini” ucapnya.


Sebastian mengangguk. Mereka pun berjalan kembali kemobil. Jalan dikota N benar-benar sepi tidak ada mobil yang lewat. Mereka pun masuk kedalam mobil dan tidak berapa lama.


BOOMMM!!!!


Suara meledak mengema. Evita melihat kekaca mobil tengah yang menampilkan mobil terbakar begitu dasyatnya. Matanya kelam, tidak menunjukkan kehidupan. Air matanya menetes begitu lancar, meluncur dipipinya.


Sebastian melihatnya, ia mengulurkan tangannya dan mengelus rambut Evita, Nyonya-Nya itu seperti anak kecil, diam seribu bahasa jika menderita, tidak mau menceritakan apa yang membuatnya sedih. Sebastian sudah 3 tahun ini bersama dengan Evita, Nyonya-Nya. Ia sudah tahu perubahan sikap Evita yang membuat semua orang salah paham dengannya.


Belaian Sebastian hanya menghapus 3 kali dirambutnya. Evita terdiam menikmati belaian itu, Ia tahu Sebastian sudah berada didekatnya 3 tahun ini, dimana dirinya yang dulu mengalami tekanan lebih kuat sampai ragu melangkah kedepan. Tapi Sebastian selalu berada disampingnya, untuk mendukung dirinya.


“Terimakasih” ucap Evita saat Sebastian menarik tangannya dan melanjutkan fokus untuk menyetir.


“sama-sama”Sebastian pun melanjukan mobilnya sampai kekediaman Za.


Dimana dirinya langsung diturunkan didepan gerbang utama. Jam sudah menujukkan waktu 3 pagi. Evita keluar dari mobil, Ia melangkah mendekati gerbang utama, namun langkahnya berhenti melihat 3 mobil yang terparkir didepan mansion Za.


“Huh...sepertinya aku harus jujur kepada mereka” benaknya, Ia melangkah masuk kedalam Mansion besar itu.


Tubuhnya tiba-tiba kaget melihat kepala keluarga Zhan ada disana sambil duduk dengan wajah dingin. Begitu juga dengan para Bibi dan Paman yang lain. Serta anak mereka yang berdiri.


“Maaf” ucap Evita


Ia ingin melanjutkan untuk menjelaskan kepergiannya, tapi Bibi Kedua sudah berbicara terlebih dahulu. “Ooh...ternyata kau berani menginjakkan kaki mu kemari” ucapnya. Ia mendekati Evita yang terkejut dengan ucapannya.


“Kenapa..kau...sungguh benar-benar mempermalukan keluargamu.. kau dipuji oleh Ayah dan Ibu mu, tapi ternyata pujian itu hanya omong kosong” ucapnya. Semua orang tidak melawan atau membantu, hanya diam menyaksikan. Evita menundukkan kepalanya.


Za yang berdiri sambil menyantap rokoknya dan memandang kearah lain, tidak ingin mengikuti apa yang terjadi.


“Evita...kau gadis yang paling ditakuti bukan. Tapi apa kemampuanmu, kau hanya gadis biasa...yang mudahnya bercinta dengan laki-laki lain saat kau berada dirumah tunanganmu sendiri”ucap Bibi Kedua. Mata Evita membelak, mendengar apa yang diucapkan oleh Bibi Kedua.


“Laki-laki..maksud bibi?” tanya Evita. Tidak lagi ada panggilan tante untuk orang didepannya.


“ooh..kau tidak tahu, jelaskan kepada kami siapa laki-laki yang mengantar mu kembali?” tanya Bibi Kedua.


Evita ingin menjawab, tapi Pelayan lain berbicara mendahuluinya, “Nona....berhentilah, Nona Evita dalam keadaan tidak baik saat ini, ia sedang menangis” ucapnya.


Mendengar ini, Evita merasa lega, karena ada orang yang memikirkan kondisinya.


“Aku baru menyadarinya, kau dalam keadaan kacau datang kesini..apa yang kau lakukan...apa..apa kau meminta pertanggung jawaban kelaki-laki itu dan kau kembali karena tidak mendapat pertanggung jawabannya?”tanya Bibi Kedua dengan mata berbinar.


Semua orang langsung melihat Evita. Mata mereka menjadi jijik hanya Bibi ke3 dan ke 4 yang masih memasang wajah teduh sedangkan Yoongi dan Echan juga merasa jijik namun Za, ia seperti melepaskan indra pendengarannya, jadi tidak mendengar apa yang dibahas.


Evita langsung mundur perlahan, semua orang mengira dirinya telah dilecehkan, telah diperkosa, sehingga hamil, pergi kabur lalu kembali saat tidak ada yang bertangung jawab. Sungguh, dari sudut mana mereka mengambil kesimpulan itu. Mereka hanya melihat keadaan yang nyata tapi tidak ingin melihat rincinya. Inikah keluarga Zhan yang terkenal itu.


Evita perlahan merasa bahwa dirinya salah berada dikeluarga ini, salah dalam berperilaku baik, salah menilai dalam pergerakkan, seharusnya ia sudah menilai keluarga ini dari pertama jumpa. Tapi waktu itu ia benar-benar tidak perduli dengan keluarga kaya ini. Apa lagi masalah pertunangan yang tidak disetujuinya.


Mata jijik mereka, masuk kedalam kulit-kulit Evita, melihat tatapan itu, lambat laun, wajahnya berubah menjadi tenang, matanya tidak menujukkan kebahagiaan. Hatinya sudah dilanda kesedihan dan harus menerima hinaan.


Bibi Kedua merasa puas melihat Evita tidak melawan, ia terus mengejek. “Kau bilang, orang tua mu mendidikmu dengan baik.tapi apa, apa yang kau lakukan, kau hamil anak orang dan memanfaatkan keadaan ini, inikah dirimu yang sebenarnya, apa Ibumu juga begitu...menjadi seorang.....pelacur”


PLAKKK


Evita menampar muka Bibi Kedua didepan semua orang. Para Kakek, kepala Keluarga. Bibi dan Paman menjadi berdiri lalu memperhatikan tindakkan Evita yang tidak beretika.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2