
Membuat Lima gadis yang mendengarnya terdiam. “Tunggu...Kalian..maksudnya orang yang bermotor saat misi mengambil koper?”Tanya Nabila, ia sangat tak bisa melupakan kejadian itu.
Mr.Tom mengangguk “Benar...saat itu, kami berpikir untuk mengambilnya, dan tak menyadari bahwa ada kelompok wanita yang bisa mengambil kembali hal itu. Sebenarnya kami berniat ingin membunuhnya, tapi mengetahui bahwa Miss Lila mengenalnya, kami membiarkan kalian”
Mendengarnya, membuat kelima Gadis terdiam seketika. Yeah mereka tak menyadari berani melakukan hal itu. Apa lagi Evita. Indah,Amelya,Inul dan Nabila seketika memandangnya. Kalian tahu selama omongan manis Evita waktu itu, selalu menjadi ejekkan mereka untuk Evita.
Ditambah sekarang orang yang dirayu Evita adalah kakak kelas mereka. orang yang begitu banyak fans tersayangnya. Huh..mimpi buruk apa ini.
“Maafkan aku sebelumnya..”ucap Evita sambil menunduk, pipinya memerah karena mengingat hal yang ia pikir tak akan diingatnya kembali.
“Tak apa...namanya juga misi, pasti ada yang harus dilakukan untuk misi itu berjalan lancar”ucap MR. Tom yang sebenarnya tak mengetahui apa yang dimaksud oleh Evita.
Perbincangan itu berlanjut sampai malam. Mereka membahas misi dan kerja sama kelompok yang baik. Hingga terjalinlah sebuah hubungan yang mendekatkan mereka.
-
Setelah lamanya perkenalan itu terjadi, mereka bersepuluh menjadi kelompok yang terbaik. Dan mendapatkan pangkat yang sangat membanggakan masing-masing.
Tentu saja itu membuat mereka makin liar, yeah makin tak setabil dalam kehidupan remaja. Yang seharusnya menikmati masa muda, mereka malah menikmat kasus-kasus yang harus menghadapi kematian.
Tapi dari semua itu, mereka malah merasa kehidupan yang membosankan menjadi seru dalam hidup. dan hal itu membuat Reza, sang kepercayaan Ayah Evita merasa kejangalan. Meski sibuk dengan urusan kantor selama berbulan-bulan ini. Ia merasa hal aneh terjadi. Yaitu Evita pulang dengan keadaan larut malam. Dan kadang tak pulang. Alasannya...
“Itu Reza...Aku,Indah,Inul,Nabila menginap dirumah Amelya”ucapnya. Dan Reza membuktikan omongan itu. Orang tua Amelya menjawab bahwa memang benar mereka menitip Amelya kepada Evita. tapi tak tahu apa yang mereka buat. Membuat Reza ingin mengintai Evita diam-diam.
Hari ini niatnya seperti itu, tapi kerjaannya sudah jangan ditanya semakin bertambah. Seakan-akan tahu bahwa ia jangan menganggu Evita.
Reza menghela nafas. Ia saat ini tengah menangani krisisnya perusahaan salah satu milik ayah Evita. tak sengaja matanya melihat sang Nyonya Muda melangkah menuruni tangga.
“Reza!”Teriak Evita. ia melihat kesegala arah dan menemukan siapa yang dicarinya.
Reza melihat kedatangan Nyonya Mudanya langsung berdiri dan menyambut kedatanganya dengan mengangguk. “Ada yang bisa saya bantu Nyonya?”tanya Reza
Evita mengangguk “Aku ingin kaumembantuku....bisa?”tanya Evita. Reza yang mendengarnya mengangguk “apa Itu?”
“begini...aku akan pergi kekampung bersama Sahabatku...bisa kau siapkan mobil dan perlengkapannya, untuk pakaian aku sudah menyiapkannya dikoper..tak perlu bodyguard, Ayahku disana akan menyiapkannya....kau hanya perlu mengatur keberangkatanku saja”
Reza yang mendengarnya mengerutkan alis “Nyonya Muda....berapa lama anda disana, sebentar lagi Tuan Besar dan Nyonya Besar akan kembali?”
“Tidak lama..hanya beberapa Hari..Mamahku dan Papahku sangat ku rindukan. Yakali aku engak menjenguk mereka..tenang saja dan siapkan segera..aku berangkat bye..bye...dan semangat kerjanya”ucap Evita yang melangkah pergi. Terdengar motor balap yang dikeluarkan. Sudah dipastikan bahwa Nyonya Mudanya ini sedang tak bersama dua Supir titipan ayah angkat dan ayah kandungnya.
“Sungguh membuatku makin mencintainya”benak Reza melihat tingkah anak yang ia tahu begitu tangguh tanpa merasa keluh dengan keluarga yang sepert ini.
-
Siang hari telah berlalu, Evita,Indah dan Amelya beristirahat digazebo sekolah. Mereka saat ini mendapat libur satu minggu dari sekolah dan juga dari misi mereka. membuat mereka memikirkan cara untuk menikmatinya.
“Eh..Evita...karena kita dikampungmu nih ya, kita ngapain aja nih?”tanya Amelya sambil meminum jus yang dibeli olehnya.
“Em....gimana kalau Memancing disungai. Mandian, sama apa ya Ah...kita ngerujak..enak tuh”ucap Evita sambil membayangkan kegiatanya. Membuat Indah ikut membayangkannya.
“Tapi kita kerja parttime..apa engak masalah bree kalian izin..kalau aku mungkin akan dikeluarkan”Indah memikirkan kerja yang dilakukan olehnya.
“Eleh...tak mungkin lah, kan kita pergi Cuma satu minggu doang..gimana sih”Evita memberikan pencerahan kepada Indah.
__ADS_1
“Ya,,ya...eh engak nyangka ya kita bisa makin akrab dengan mereka.....”Indah memandang kearah lain yang membuat Dua sahabatnya ikut memandang kearah tersebut.
Mata Evita dan Amelya menatap datar dengan melihat kearah tiga pria yang menjadi bahan halusinasi untuk orang yang tak bisa memiliki mereka.
“Eh....asal kau tahu ya Indah..mereka itu Cuma akting..yakinlah...akting”Amelya mengatakan hal yang merasa sedikit jengkel untuknya. Kenapa? Karena saat diaula detektif, mereka akrab pas disekolah masing-masing menahan gensi mereka. membuat Amelya menatap sinis.
“Benarr tuh..apa lagi si muka datar itu, beh sudah beberapa bulan ini aku ngomong ama dia, engak direspon..padahal aku engak basa basi”Evita mendengus.
“Itu salah Elu....eh Evita, kau kan mengodanya dulu...dan kau juga pernah cerita tentang kau yang membuat fansnya marah. Udah pasti ia membencimu”Indah menatap Evita dengan pandangan menegur. Dan yang ditegur hanya membuang muka.
“Eh ngomong-ngomong nih ya..ku dengar dulu ada pemuda yang kau sukai Evita...cinta pertama lagi”Indah menganti topik seketika. Membuat Evita terdiam karenanya.
“Eh benar juga....kau kan pernah cerita punya cinta pertama ama seseorang dari kampungmu bukan?”Amelya ikut mengoda Evita yang kini mulai memerah.
“Asal kalian tahu ya.....itu udah lama..dan aku telah melupakannya....mungkin kita tak akan bisa bertemu lagi”ucap Evita sambil menghabiskan cilok yang dibelinya.
Mendengar itu, membuat Indah dan Amelya menyetujui apa yang mereka dengar. Karena Evita memang mengatakan telah melupakannya, bahkan tak mencintainya. Karena ia telah melupakan dan memberikan cintanya untuk sahabatnya. Yaitu Sania.
-
Disore harinya, tiba keberangkatan mereka. Indah,Inul,Nabila,Evita dan Amelya melangkah menaiki mobil yang telah disiapkan oleh Reza. Reza sendiri tak bisa ikut, karena mempersiapkan segala kedatangan Tuan besarnya. Evita tentu saja telah ijin kepada Ayah Angkatnya. Biar tak mengkhawatirkannya.
“Yes kekampung..Kekampung...Kekampung....Kita kekampung... yeeee..”Nabila berteriak sambil mengerakkan tangannya dengan gembira. Inul siap mengendarai Mobil, disebelahnya Amelya. Karena Amelya tak mau ketularan bobrok mereka.
“Kampungg......oh....kampung..kau lah tempat kebahagiaanku....”ucap Indah sambil mengeleng kepala menikmati nyanyiannya.
“Yeah...kita kekampung epribadiiiii...”ucap Evita dengan cemilan yang diangkatnya.
“Selamat jalan...dan semoga sampai ketujuan”ucap Reza memberikan salam perpisahaan. Matanya masih melihat kearah Evita. Indah dan Amelya sedikit merasa aneh dengan hal ini.
“tentu...kami pamit”ucap Inul yang dianggukkan oleh Evita. mereka pun berjalan memecah arus lalu lintas. Menikmati pemandangan kota yang akan berganti dengan pandangan desa.
Dalam perjalanan mereka perlu waktu 4 jam untuk datang kekampung. Untungnya jalan dikampung tak lagi becek, jadi mereka tak akan merasa susah untuk lewat.
Setelah perjalanan itu, akhirnya mereka tiba ditempat yang dituju. Jalan dikampung masih sepi, hanya beberapa orang yang akan kekota memenuhi jalan. Tapi itu tak memadatinya.
Selain itu kampung tempat tinggal Evita, masih terbilang sepi, karena penduduk yang sangat jarang tinggal ditempat mereka.
Tiba disebuah rumah yang sangat besar, dengan bangunan yang sangat mewah, itu adalah rumah sang orang tua kandung Evita. mereka berlima pun turun dari mobil.
“Selamat datang”ucap Ibu Evita yang langsung mendapat pelukan dari Evita. meski hanya beberapa bulan tak pulang, Evita sangat merindukan orang tua Kandungnya.
“Hai Tante..apa kabar?”tanya Indah yang memberikan salamnya dengan tersenyum. “Baik...oh ya Nak Indah..turut berduka ya..dan maafkan Evita”ucap Ibu Evita. ia tahu bahwa Evita ikut campur dalam masalah itu.
Indah yang mengingatnya tersenyum “Tak usah seperti itu tante..tak ada yang salah..”ucap Indah. Ia tak ingin mengingat hal itu yang akan menghancurkan harinya.
Amelya yang menyadarinya kembali mengambil alih suasana “Tante...bagaimana kabar Tante?”ucap Amelya yang kemudian memberikan pelukan hangat. Orang Tua Kandung Evita pernah mereka temui, walau ini pertemuan yang ketiga kali. Tapi keakraban mereka seperti telah menjadi saudara.
“Tentu saja Tante Sehat...yasudah ayuk masuk...kita istirahat dulu..baru bermain woke”ucap Ibu Evita yang mempersilahkan mereka masuk.
Inul dan Nabila ijin untuk kerumah utama, karena keluarga mereka memang ada disana.
Menikmati cemilan dan secangkir teh. Indah,Evita dan Amelya bercerita tentang ini dan itu. Mereka bahkan tertawa menikmati momen mereka.
__ADS_1
“Anakku....mari makan malam....ooh ya kamar kalian telah disediakan, mandilah”ucap Ibu Evita yang datang sambil menyampaikan pesannya.
Evita,Indah dan Amelya langsung mengangguk, mereka pun pergi kekamar yang disuruh. Indah dan Amelya satu kamar, mereka tak ingin merepotkan orang rumah. Meski sebenarnya Orang Tua Evita bisa memberikan dua kamar.
Dikamar Indah dan Amelya tengah membuka koper yang mereka bawa. “Rumah ini sangat besar ya....ini keluarga bisnis sangat membuat orang jadi insecure karena mereka”ucap Indah. Mereka berdua tahu bahwa keluarga kandung Evita mengalami bisnis yang berkembang pesat. Salah satu bisnis itu adalah penjualan sarang wallet yang sangat diminati.
“Kau benar....pantes Evita suka berbisnis”Amelya mengambil baju yang ingin dikenakan olehnya.
“Ooh ya..aku mandi duluan ya”ucap Amelya yang kini meranjak bangun membawa pakaiannya. Indah mengangguk karena ia memang ingin mandi paling terakhir. Ingin menikmati kamar yang kini ditinggali olehnya. Kamar ini merupakan kamar mereka juga. Karena telah menjadi teman Evita. Indah dan Amelya diperlakukan layaknya anak sendiri oleh orang tua Evita. maka wajar jika orang tua Evita kadang memanjakan mereka juga.
Berbeda dengan kedua sahabatnya, Evita saat ini tengah bermain busa dibak mandinya. Ia mengunakan sabun diseluruh tubuh. Wangi pohon cendana mengisi ruangan. Entah kenapa ia menyukai wangi ini. Meski samponya bukan wangi yang serupa. Gelang ditangan, dua kalung dileher, Satu kalung keluarga dan satu kalung pemberian orang tuanya. Dan ikat pingang yang masih bisa dipakai hingga ia menikah nanti. Tak akan pernah sesak untuk dipakai. Ikat pingang itu adalah tanda kekeluargaaan dan keperawananya. Keluarganya ini penuh dengan aturan.
Evita sendiri membebaskan diri dengan merantau, tak ingin terjebak akan aturan. Padahal diusianya seperti ini, perjodohan bisa terjadi. Untungnya ia tak kenal imbas dalam hal ini.
Setelah puas dengan mandi yang memakan waktu hampir 20 menit. Ia pun membersihkan diri dengan air dan mengenakan pakaiannya.
Dengan kaos santai, celana panjang yang santai. Ia keluar dari kamarnya, menuju ruang tamu untuk ikut berkumpul bersama keluarga.
Tak berapa lama Amelya datang dengan aroma yang segar juga. “Eh Mel....udah mandi..dimana Indah?”tanya Evita yang membawa cemilan kecil ditangannya. Amelya yang mendapat pertanyaannya langsung menjawab “Mandi..”ia mengambil cemilan dari tangan Evita.
“Ooh....tumben tuh anak mandi paling akhir”Evita melangkah menuju ruang tv. Ia menyalakannya menonton salah satu film kartun kesukaannya.
“Biasa....semenjak kepergian orang tuanya. Ia sedikit merubah diri”ucap Amelya. Ia kadang bermalam diapartement Indah. Dan mengetahui perubahan sahabat mereka yang satu ini. Yaitu mandi lebih lama dan paling terakhir.
“Biarlah...dia mungkin masih tak bisa membiasakan diri...aku juga kadang berpikir terlalu berlebihan saat itu..tapi jika aku tak menahan diri..mungkin akulah yang berubah”ucap Evita.
Amelya mengangguk “Iya kau benar....semoga Indah bisa kembali seperti dulu”
Apa yang mereka berbicara seperti apa yang terjadi saat ini. Indah tengah tengelam dalam air yang mengalir dikepalanya. Meski tegar, ia tak bisa menyembunyikan sedih yang mendalam.
Kesal,kecewa dan penyesalan karena membunuh orang tua sendiri tak bisa pergi dari dirinya. Indah menyadari bahwa keputusanya masih belum bisa membuatnya tenang. Apa lagi perlakuan orang tuanya ini sangat menyayat hati.
“Hiks....kuat..kuat....kuat..Indah..kuatlah..setidaknya untuk Sahabatmu”Indah menguatkan diri sendiri. ia memang masih menyayangi orang tuanya, tapi bahagia karena orang tuanya tak perlu merasa beban lagi. kalau perlu saat waktu itu bisa diputar kembali, biar ia yang pergi agar orang tuanya tak merasa beban yang berat bukan.
Indah mematikan air kerang, kemudian mengambil handuk dan mengeringkan diri. Ia mengenakan pakaiannya dan melihat wajahnya yang untungnya tak membengkak. Dengan membersihkan wajahnya lagi, Indah kembali tersenyum dan menghirup nafas dengan tenang.
“Ayok...nikmati liburannya....”ucap Indah yang kemudian keluar dari kamar. Menuju ketempat dua orang yang tengah menonton kepala botak.
-
“Mari makan”ucap sang Ibu saat datang keruang tv yang memperlihat kan tiga orang tengah asik menonton film kartun. Ia kadang sedikit mengeleng kenapa anak seperti mereka masih suka film kartun. Biasanya anak seusia mereka suka hal-hal berbau romantis.
“Baik Mah”ucap Evita yang kemudian mengajak Sahabatnya keruang dapur untuk makan. Mereka semua kumpul, dari orang tua Evita, adik-adiknya ikut makan bersama.
Terhidang ayam yang dimasak dengan saos dan pelengkapnya sambel. Membuat menu malam ini sangat istimewa untuk mereka.
“mari makan”ucap mereka membuka kegiatan untuk menikmati makanan. Semua disediakan oleh mereka. orang tua Evita bahkan tak tanggung-tanggung menawarkan tambahan untuk makan.
“Nak Indah....makanlah..kau terlihat sangat kurus..tak seperti waktu itu”meski dingin Ayah Evita memberikan perhatian lewat tindakkan. Membuat Indah terteguh dibuatnya. Ayah Evita ini adalah Ayah yang sangat idamankan oleh orang. Karena perhatiannya sangat nampak.
“Baik Paman....aku akan makan”Indah menyuap makanan melalui tangannya. Kalau dilihat seharusnya mereka makan dengan sendok dan garpu, tapi dikeluarga Evita makan dengan tangan sangat baik dan itu menjadi kebiasaan mereka. maka Indah dan Amelya sangat menyukai hal ini, karena mereka juga begitu.
“Makan yang banyak Nak Indah...Nak Amelya juga...ini makan ayamnya lagi”ucap Ibu Evita sambil memberikan potongan ayam yang lain.
__ADS_1