MANTIV

MANTIV
● Mantiv(99)


__ADS_3

“Apa maksudnya janji itu?...”benak Evita menatap kearah para pengusaha yang mengepung Pengusaha ke 10.


Gelagak pengusaha ke 10 benar-benar kebingungan. Ia bahkan tak bisa lagi bergerak dengan bebas. Ia langsung bersimpuh untuk mengalah.


“Pengusaha ke 10....sudah ku katakan jangan bertingkah”ucap Pengusaha ke 9 yang menyuruh anak buahnya untuk menangkap pengusaha ke 10.


“Bukannya ini tak wajar...saat kita mengadakan rapat, kalian terlihat antusias ingin membantuku..mengalahkan mereka?”ucap Pengusaha ke 10 yang menunjuk kearah pengusaha ke 2 dan 3.


Plak


Pengusaha ke 7 menepis tangan tersebut. “Justru kau seharusnya sadar....jika kau ingin mengendalikan kami..kuatkan dulu dirimu itu”


Pengusaha ke 10 terdiam tak bisa berkutik. Ia hanya bisa melangkah mengikuti para pengusaha yang membawanya.


“Maaf membuat pertemuan seperti ini....”Ucap Pengusaha ke 4 yang menyambut Pengusaha ke 2 dan ke 3 yang saat ini hanya diam tak berkutik.


Evita berdiri mengangkat tangannya yang berhasil menarik perhatian semua orang. Bahkan pengusaha ke 10 yang ingin dibawa pergi langsung berhenti.


“Aku ingin pengusaha ke 10 melakukan pembicaraan singkat denganku...bagaimana?”


Pengusaha ke 10 langsung menjauhkan tangan anak buah pengusaha ke 8 yang menahannya. Ia langsung membenarkan jas miliknya.


“Tempat dan waktu silahkan ditentukan”ucap Pengusaha ke10. Evita memandang datar kearahnya. “Akan ku katakan melewati pesan virtual....baiklah Aku permisi”ucap Evita yang melangkah pergi bersama pengusaha ke 3 yang tak lain adalah Maya Anita Zahra.


Namun belum sempat mereka pergi, Pengusaha ke 5 datang menghadang langkah Evita. hal ini berhasil mengerakkan Za yang ada didepan Evita.


“Pengusaha ke 2, apa kau berniat untuk menghabisi pengusaha ke 10 seorang diri?...apa kami tak mendapatkan bagiannya?”


Wow, Evita tak menduga akan ada yang berpikir demikian. Meski Evita berniat untuk menghabisi Pengusaha ke 10. Namun ternyata pengusaha yang lain berniat hal yang sama.


“Pengusaha ke 5..aku hanya akan melakukan urusan kecil dengannya, saat ini kalian berhak untuk melakukan sesuatu kepadanya, jika ia bisa datang ke pertemuan sederhana ku, aku bisa mengatakan bahwa kalian tidak mendapatkan bagian yang ku berikan”


Semua pengusaha terteguh mendengar hal tersebut. Hingga pengusaha ke 7 tertawa dengan suara yang mengelegar.


“Luar biasa..Luar biasa, Pengusaha ke 2, ku pikir anda seorang pria. Tapi sejak bertemu anda ternyata orang yang memang menganggumkan....seandainya topeng ini bisa dilepas....aku ingin melihat wajah anda yang sebenarnya”ucap Pengusaha ke 7.


“Menurutku pengusaha ke 7, bagaimana jika Kau menebak diriku ini siapa, dari pada membuka topeng yang tak akan memberi kejutan sama sekali”Evita tak ingin wajahnya diketahui, tapi sebenarnya itu percuma. Karena setelah ini, mungkin musuh yang lain mulai bergerak lagi.


“Anda benar....memang luar biasa....”belum selesai pengusaha ke 7 berbicara. Pengusaha ke 3 langsung memotong pembicaraannya.


“Bisakah ini diselesaikan, jika pertemuan ini berlanjut, hanya akan menghabisikan waktuku dengan sia-sia”


Lagi-lagi para pengusaha dibuat bungkam. Tak terkecuali pengusaha ke 10 yang mematung. Pengusaha ke 2 dan ke 3 benar-benar tak seperti yang dirumorkan. Meski mereka wanita, suara mereka mampu mengendalikan segala yang ada.


Pengusaha ke 3 langsung bergegas untuk pergi, begitu juga dengan Evita yang sudah tak betah berada didalam ruangan yang penuh dengan begitu banyak jabatan.


“Bagaimana?...aku sudah mengatakan bukan kalau pengusaha ke 2 dan ke 3 itu seorang gadis”ucap pengusaha ke 10 yang melupakan bahwa ia hampir dibunuh oleh pengusaha yang lain.


Semua pengusaha yang tersisa hanya diam tak menghiraukan, mereka bergegas untuk pergi meninggalkan isi pertemuan yang tak ada artinya. Untungnya tak menguras terlalu banyak tenaga.


-


Evita keluar bersamaan dengan Maya yang juga melangkah bersamanya. Saat ini dua mobil sudah mengantri bersama. Mereka saling mengangguk untuk memberikan kode bahwa mereka harus berpisah.


Didalam mobil, Evita menatap datar kearah jalanan. Mobil dibawa oleh Za. Tak ada yang bisa berbicara sekarang karena masing-masing tengelam dalam lautnya pikiran.


Evita memikirkan bagaimana bisa ada janji diantara pengusaha. Janji yang tak diketahuinya. Sudah menjadi seorang pengusaha ke 2 selama 6 tahun. Ia tak mengetahui hal ini.


Evita berniat untuk menghubungi Maya yang sudah 15 menit lebih dahulu pulang dari pada dirinya. Maya akan kekota Q malam ini juga. Maka tak heran ia membawa mobil sport yang akan langsung membelah jalan dengan kecepatan gila.


“hallo...ada apa?..apa kau ada waktu menelponku, seharusnya kau habiskan waktu untuk malam pertama dengan suamimu”


Evita sebenarnya merasa puas dengan panggilannya tersambung. Hanya apa yang disampaikan oleh Maya berhasil membuat Evita terdiam memantung.


Benar Malam pertama. Apa itu, mereka baru saja beberapa hari menikah. Dan tak ada kegiatan yang dilakukan layaknya sepasang suami istri. Evita selalu mementingkan urusannya dari pada hal yang seperti ini.


“woy...kau mendengarkanku...wahh jangan bilang nih anak engak sadar sama sekali lagi”

__ADS_1


Evita langsung menyadarikan diri kembali “Bisakah kau serius..atau menjadi dingin seperti saat kau menjadi pengusaha ke 3”


Yang diseberang sana langsung tertawa bebas. “Evita...Evita....seandainya kau tahu, bahwa hanya denganmu aku seperti ini..sudahlah, jadi ada apa?”


Evita mengerti apa yang dimaksud oleh Maya. Maya memilik masalah yang sama, sebagai keturunan keluarga Zahra yang aslinya adalah orang buta. Kini berkat sahabatnya ia bisa melihat kembali dan mewarisi segala aset keluarganya. Ditambah banyak yang terjadi selama Evita berada diamerika. Dan sekarang Maya terlihat lebih kuat bahkan mampu mengalahkan Evita yang hanya masalah kematian orang tuanya.


“Aku ingin bertanya masalah Janji antara pengusaha, janji pengusaha ke 1 yang membuat seluruh pengusaha lain tak bisa berkutik”


Evita terdiam sesaat karena diseberang sana Maya belum menjawab sama sekali pertanyaannya.


“jujur Evita...aku pun tak tahu, selama ini aku menyuruh Lee untuk mencari tahu apa yang menjadikan diriku sebagai pengusaha ke 3. Jawaban Lee saat itu hanya mengatakan bahwa aku memang meneruskan usaha dari ayahku..jadi aku tak bisa membantu dalam hal ini”


Evita mengerti, memang saat ini tak bisa dipungkiri bahwa Maya juga baru terjun kedalam dunia bisnis jadi wajar ia tak tahu.di tambah Lee yang merupakan orang kepercayaan keluarga Zahra tak bisa mengatakan apa yang dijanjikan.


“Baiklah..kalau begitu maaf menganggu perjalananmu”Evita mengakhir panggilannya setelah Maya mengatakan Iya.


“Sebenarnya siapa pengusaha ke 1 ini?”benak Evita menatap kearah Suaminya. Mengingat gurauan Maya berhasil membuat Evita bingung. Ia sebenarnya memang tak tahu harus seperti apa. Ditambah setelah menikah, Za hanya memeluk dan menciumnya. Tak ada hal lain.


“Za”Evita berusaha untuk mencoba bertanya, tapi ia bingung. Masa ia harus bertanya keinginan Za. Malu dong Evita mah engak bisa bertanya kalau berhubungan hal seperti itu.


“Ada apa?”tanya Za yang masih fokus menyetir. Evita hanya mengeleng tak bisa mengatakan apa-apa. Ia hanya bisa berharap bayangan buram tentang disetubuhi bisa hilang agar ia bisa memberikan tubuhnya untuk Za juga.


-


Pesawat mendarat setelah tiba dibandaranya. Mavin Vintorin yang tak bisa tenang kini bertambah buyar. Ia masih memikirkan anak kecil usia 5 tahun itu.


“Bagaimana bisa?..bagaimana bisa begitu mirip denganku?”Mavin Vintorin mengingat kembali wajah yang begitu mirip dengannya. Mata, hidung bahkan tatapan anak itu semua mirip dengannya.


Semakin dipikirkan semakin menyadarikan dirinya. Wanita yang disentuhnya saat itu memang bukan Evita. melainkan Wanita yang lain.


“Sial....Aku harus mencari tahu hal ini”guman Mavin Vintorin yang melangkah keluar dari pesawat. Ia menatap kearah Andre yang tak mengetahui bahwa ia tengah mengikuti dirinya.


“Bagaimana caraku mengetahui hal ini...ah aku lupa”Mavin Vintorin mengirim pesan kepada anak buahnya untuk mencari data wanita yang ingin dicari olehnya. Ia tak akan melepaskan siapa yang berani bermain-main dengannya.


Sekarang ia kembali fokus mengikuti Andre dan Yuda yang menaiki sebuah taksi menuju kesuatu tempat.


-


Nabila kembali kekediaman utama keluarga Alex. Ia akan kekota Q bersamaan dengan Evita.


“Tentu saja, mereka sudah menikah..dan saat ini hanya kami yang jadi saksinya..”Nabila menceritakan segala yang terjadi kepada Inul. Karena memang Inul ingin mendengarnya.


“Apa Evita baik-baik saja?”


“Ia akan selalu baik-baik saja jika masalah tak datang....bagaimana pun mereka akan kekota Q...apa yang akan terjadi selanjutnya hanya takdir yang tahu”


“Nabila...aku merindukan mereka”Inul menatap kearah Keponakkannya yang saat ini masih berdiam diri dikasur.


“Sudahlah istirahat..kau pasti lelah”


“Mn”Nabila hanya bisa berdehem karena bingung menjawab apa. Ditambah ia masih tak bisa tenang. Ia masih memikirkan apa yang akan terjadi kedepan.


-


Kepagian harinya...


Suasana diperusahaan benar-benar sunyi karena tak ada karyawan yang bertugas sama sekali. Ditambah para Bibi yang ikut dipindahkan kekota Q.


“Sepi...serasa dikuburan”ucap Intari yang menatap sarapan hasil buatan dirinya dan Amelya.


Evita tentu saja ia masih molor karena pulang larut malam. Intari dan Amelya tak bisa mempermasalahkan hal ini. Hanya ada rasa penasaran. Apa yang dilakukan dua orang itu. yeah meski mereka sendiri seharusnya tak memikirkan orang lain.


“Sudah semua kah?”tanya Amelya yang membawa makan terakhir. Intari mengangguk.


“Baiklah bangunkan yang lainnya”Intari dan Amelya langsung bergegas membangunkan suami mereka masing-masing. Karena memang begitulah yang diajarkan oleh para Bibi yang ada.


Intari menatap kearah kasur yang kini sudah menjadi bagian Yoongi juga. Terlihat pria yang masih betah tidur disana.

__ADS_1


“Ehem”Intari berusaha untuk membangunkan dengan pelan. Siapa tahukan Suaminya tipe orang yang tenang. Meski dingin bagaikan kutub utara yang ia sendiri belum pernah kesana.


“Eh engak bangun juga?”guman Intari menatap dengan membungkuk untuk melihat dengan jelas wajah Suaminya. Tampan tentu saja,Suami siapa dulu. Yeah memikirkannya membuat Intari bangga sendiri.


“Bangun...Yoongi”Intari menguncang tubuh Yoongi untuk bangun tapi bukannya bangun Intari tertarik hingga ia dijadikan bantal guling oleh Yoongi.


Nafas yang masih mendengkur menghembus ketubuh Intari. Kepala Intari berada dikepala Yoongi. Yoongi benar-benar memeluk dirinya.


“Yoongi bangun”Intari sedikit bergerak untuk membuat Yoongi bangun tapi itu sia-sia. Entah Yoongi bergadang apa tadi malam. Padahal mereka tidur lebih awal setelah Evita berangkat menghadiri acara pertemuan.


Karena tak bangun-bangun, Intari mengerakkan tubuhnya hingga keduanya..


Bruk!!


Agh!!!


Yoongi menyentuh kepalanya untuk melihat keadaan dirinya yang merasakan beban tambahan. Ia menatap Intari yang tertawa dengan bebas.


“HAHAHAHAH Yoongi dasar kebo..bisa tidak dibanguni dengan panggilan langsung bangun..ini malah makin tambah tidur...sekarang jatuh kan, gimana sakit?”Intari tentu tak akan merasakan sakitnya. Karena ia dilindungi oleh Suaminya sendiri.


Yoongi yang melihat apa yang ada dihadapannya, apa lagi saat ia baru bangun tidur. Berhasil membuat bibirnya mengukir senyuman yang membuat Intari kelagapan.


“Ngapain senyum hah?”Intari berusaha bangun tapi Yoongi dengan cepat menjatuhkannya lagi.


“Bisa seperti ini sebentar...aku ingin melihat energi pagiku ini”ucapnya.Intari hanya bisa diam dengan wajah yang bingung. Ia bahkan memerah saat menyadari apa yang dimaksud Yoongi.


“BANGUN!!..MANDI DAN SARAPAN”Teriak Intari menjauhkan diri dan melangkah pergi meninggalkan Pria yang menenangkan diri karena sesuatu berhasil dibangunkan oleh Intari yang tak menyadarinya.


“huh..tenang”ucap Yoongi yang langsung bergegas kekamar mandi.


Berbeda dengan Intari. Amelya tengah membangunkan Suaminya dengan cara menguncang tubuh Echan lebih cepat.


Hal tersebut berhasil membuat Echan kelagapan. “Astaga..ada apa Amelya...Ara ada apa?”Echan bahkan berdiri sambil mendekam Amelya karena kaget dengan guncangan Istrinya sendiri.


“Eh..apa..apa yang terjadi hah?”Tanya Echan lagi memandang sekeliling melihat suasana yang biasa-biasa saja. Ia langsung melihat kearah pelukkannya dan terlihat Amelya yang memerah.


“Eh..maaf”Echan melepas pelukkannya yang membuat Amelya bisa bernafas lega.


“Bangun..udah pagi, jangan tidur sampai kesiangan”ucap Amelya yang berbicara menghadap kearah lain. Echan yang melihatnya hanya bisa tersenyum kecil, melihat tingkah Istrinya yang begitu unik dan imut.


“Baiklah....hm sebelum itu engak ada ucapan selama pagi gitu?”tanya Echan yang ingin mengerjai Istrinya. Amelya yang mendengarnya makin memerah.


“Apanya yang selamat pagi...sudah sana mandi”Amelya mendorong Echan untuk menuju kekamar mandi miliknya. tentu saja itu milik Echan juga.


Echan yang didorong tersenyum hingga tiba diambang pintu. Ia membalikkan tubuhnya dan cup.


Sebuah ciuman mendarat dipipi Amelya. “Pagi”ucap Echan yang kemudian masuk kamar mandi dengan suasana yang bahagia.


Amelya mematung ditempat hingga ia langsung memanas “Echan!!!....Bodoh!!!”teriaknya yang kemudian pergi dari kamarnya sendiri.


-


Berbeda dari pada yang lain, Evita betah tidur didada bidang Za tanpa disadari olehnya. Padahal Za sudah bangun dari tadi dan berniat untuk mandi. Tapi melihat sang Istri yang tak kunjung bangun hanya bisa membiarkan apa yang dilakukan istrinya.


Selain itu Za masih memikirkan kejadian tadi malam. Masalah pengusaha ke 1, Apa mungkin Kakeknya tahu. Tapi jika tahu kenapa ia tak bisa mengambil alih. Saat ini saja perusahaan yang ada masih diambil alih oleh Putra bukan dirinya.


“Siapa pengusaha ke 1 ini...tak mungkin Kakek yang mengendalikan semua yang ada”benak Za.


Evita mengeliat ketika merasa bahwa sudah saatnya ia bangun. Matanya mengerjap-ngerjap sambil menangkap objek yang ada didepan mata.


“Hoam”Evita membangunkan tubuhnya, tapi terhenti saat ia merasakan seseorang menyentuh pingangnya. Refleks membuatnya mendorong orang yang ada didepannya.


Brak


“Agh!!!”Za jatuh dari kasur. Evita langsung sadar akan tindakkannya. Ia langsung bergegas untuk membangunkan Za.


“Astaga...Maafkan Aku Za”ucap Evita yang menuntun Za untuk duduk disisi kasur.

__ADS_1


Evita menatap kearah Za, siapa tahu ada yang terluka. Tapi Za menarik Evita yang berhasil ditolak oleh Evita.


Menyadari tindakkannya, Evita menunduk. “Apa kau masih membayangkan bahwa kau dilecehkan?”tanya Za menatap kearah Evita.


__ADS_2