MANTIV

MANTIV
● Mantiv(78)


__ADS_3

“Apa yang kau inginkan Andre...bukannya kau seharusnya tak ada disini?”ucap Tuan besar Kim yang saat ini terikat didalam rumahnya sendiri.


Andre yang memainkan sebilah pisau ditangannya hanya diam membisu. Ia tak memperdulikan apa yang dikatakan oleh ayah tirinya itu.


“Dengarkan aku Andre...apa yang kau inginkan..katakan!!!”Tuan Besar Kim telah kehabisan rasa sabarnya. Ia tiba-tiba berada disini saat bangun. Apa yang sebenarnya terjadi.


“Andre kau menengarkanku bukan?”Tanya Tuan Besar Kim dengan wajah yang makin memerah karena amarah. Bisa-bisanya orang yang ingin menghancurkan keluarganya malah ingin melakukan hal yang sama.


“Bisa kah kau diam...kau dari tadi tak henti-henti berbicara..apa baterai ditubuhmu itu tak pernah habis?”Ucap Andre dengan nada ketus. Ia melangkah menuju pintu utama. Tapi...


Brakkkk....


“Ayah!!!!!”Evita menerobos masuk dengan wajah yang terhenga-henga. Nafasnya saja masih perlu diatur dengan baik. Keringat dikeningnya begitu meluncur dengan cepat.


Andre yang melihatnya tersenyum “Kau cepat sekali datang....memang anak yang berbakti”ucap Andre yang kini menatap Evita.


Evita menatapnya dengan pandangan kesal dan marah. Tak habis pikir Pria ini lolos dari Reza, tidak mungkin?. Apa jangan-jangan Reza yang membebaskannya.


Evita berpikir sambil melihat tingkah Andre yang memainkan pisau ditangannya. Permainan jari itu benar-benar lihay untuk Andre.


“Apa yang kau inginkan?”tanya Evita yang kini menatap dengan pandangan musuh. Ia saat ini tak menganggap Pria didepannya sebagai kawan, melainkan seorang lawan.


“Tidak ada....tapi jika dirimu bisa memenuhinya maka aku akan melepaskan Ayahmu”ucapnya menjawab pertanyaan Evita. Evita terdiam sesaat. “Apa yang kau inginkan?”tanya Evita lagi. ini sudah kedua kalinya ia bertanya. Jika tak dijawab, yeah kita lihat apa yang akan dilakukan Evita.


“Aku..hmmm...gimana ya ngomongnya, masalahnya bukan hanya aku yang ingin..orang lain juga ingin”ucap Andre dengan wajah yang bingung.


Evita yang melihatnya juga ikut bingung. “Anakku..jangan dengarkan apa yang diucapkan oleh orang brengsek seperti dirinya itu”ucap Tuan Besar Kim yang masih terikat dikursi.


Evita seketika sadar, kalau Ayahnya masih terikat. Ia pun dengan cepat melangkah mendekati Ayahnya. Tapi tangannya ditahan oleh Andre yang menangkap dirinya.


“Apa yang terjadi?”Inul datang dengan wajah yang terkejut. Indah dan Amelya juga ikut kaget melihat apa yang terjadi.


“Siapa yang menyuruh penganggu ini datang”ucap andre dengan menarik Evita masuk kedalam pelukkannya.


Melihat hal itu Indah dan Amelya langsung kaget. “Apa yang kau lakukan hah?”ucap Indah yang ingin mendekat. Andre langsung mengarahkan pisau keleher Evita. membuat Indah berhenti melangkah.


“Andreee!!!!”Teriak seorang pria yang datang tergesa-gesa. Evita yang melihatnya tersenyum mengejek. Ia seakan-akan tengah menonton drama yang khusus untuk dirinya.


Reza datang dengan wajah yang penuh amarah, Andre hanya mendengus dengan apa yang dilihatnya. Sedangkan Inul,Indah dan Amelya merasa bahwa Reza menjadi penyelamat kali ini.


“Kau datang...Reza bebaskan Aku”ucap Tuan Besar Kim. Ia masih terikat saat ini. Reza yang mendengarnya langsung mengangguk dan membebaskan Tuannya.


Evita yang melihatnya mendengus. “drama apa lagi ini?”benak Evita yang menatap Reza. Reza yang ditatap menundukkan kepala.


Andre masih engan melepaskan Evita. membuat Evita mengeluarkan pistol ditubuhnya. Andre yang menyadari bahwa tangkapannya bergerak langsung mendekatkan kembali pisau tersebut kearah Evita.


“Andre lepaskan Evita”ucap Reza yang kini memandang Evita dengan wajah khawatirnya.


“Tunggu..tunggu dulu”Kali ini Evita yang berbicara. Ada yang salah disini, kata Pelayan yang datang kekediamannya, Ayahnya hilang. Dan yang didapati sekarang Ayahnya malah terikat. Kalau Hilang seharusnya tak ada disini kan?.


Semua orang yang mendengarnya langsung terdiam, Evita keluar dari pelukkan Andre dengan menodongkan Pistol tepat dikepalanya.


“Aku penasaran...Pelayan datang kepadaku..dan mengatakan bahwa Ayah menghilang”ucap Evita yang menatap kearah Andre.


Andre yang mendengarnya menatap tajam kearah Evita. Evita tersenyum melihatnya.


“Apa jangan-jangan Pelayan itu melakukan sesuatu...Inul telpon Nabila dan tahan Pelayan itu”ucap Evita. karena sudah terbiasa akan ucapan Evita. Inul langsung bergegas menelpon Nabila.


Saat Inul fokus dengan ponsel pintarnya, Indah dan Amelya menatap bingung. Mereka sebenarnya tak mengerti apa yang dimaksud Evita.


Kalau dikira, seharusnya ini hanya sebuah rencana yang mudah ditebak. Tapi Evita ini malah membuatnya terlihat seperti rencana yang hanya tebak menebak. Tapi kalau dipikir-pikir Evita pasti memiliki alasan. Berpikir seperti itu Indah dan Amelya ikut membantu.


“Astaga..kita telah ditipu olehnya...untung ada Nabila disana”ucap Indah yang kini membuat orang-orang memandang kearahnya.


Evita tersenyum, ia yakin sahabatnya pasti tahu apa yang diinginkan olehnya.


Tak berapa lama, Sebastian datang dengan anak buahnya. Evita hampir tertawa melihatnya, ia berpikir ini hanya akan jadi pertempuran darah. Tapi malah menjadi hal yang lucu untuknya.


“Nyonya anda tak apa-apa?”Sebastian mendekat dengan memberikan jas yang dikenakan olehnya untuk Evita. Evita mengangguk. Ia pun memerintahkan lagi kepada Sebastian.


“Sebastian, masalah disini telah selesai...suruh mereka kembali”tintahnya, Sebastian mengangguk tak akan bertanya lebih jauh. Karena yang penting Nyonya-Nya baik-baik saja.


Tuan Besar Kim hanya bisa mengeleng. Ia pun mendekati Evita dan memeluknya.


Andre yang ingin melarikan diri ditahan oleh Reza. “Nyonya Muda...apa yakin hanya sampai disini..Aku yakin pria ini pasti memiliki maksud lain”


Evita yang mendengar hal itu hanya menatap datar. “Maksud lain?...bukan kah yang bermaksud lain itu kau?”benak Evita.

__ADS_1


Ia pun tersenyum “Reza ku serahkan ia kepadamu...dan satu lagi, jangan sampai lepas lagi ya”dengan nada yang santai tapi penuh akan perintah.


Evita pun menuntun Ayahnya untuk duduk diruang tamu, ia berdiri memandang sekeliling.


“Ayah...lebih baik Ayah sedikit memberikan pengawal dirumah ini”ucap Evita yang mengurut pundak Ayahnya.


“Hahah Kau ini Evita....pengawal yang ada dirumah sekitar 50 orang. Dan kau ingin menambahnya lagi”


Indah dan Amelya yang mendengarnya sedikit mengeleng. “Ini orang tua penjabat atau apa, pengawal aja sampai 50”benak mereka berdua.


Inul datang mendekat “Aku sudah mengatakan kepada Nabila untuk menangkap pelayan itu..ia ditahan diruang bawah tanah”ucap Inul yang mendekat.


Tuan Besar Kim tersenyum “Evita...Ayah tak mengerti, kenapa kau menahan Pelayan itu?”tanya Tuan besar Kim.


“Ayah..menurutku dia pelakunya?..coba Ayah pikirkan bagaimana bisa Ayah terikat?”Evita mulai bertanya saat Reza datang dengan wajah yang penuh tanda tanya.


“Terikat...ah tadi malam Ayah selesai malam malam, Ayah begitu mengantuk..jadi memutuskan untuk tidur”jawab Tuan besar Kim yang kini mengusap kepala Evita.


Evita terdiam “Berarti Pelayan ini telah merencanakannya dari lama....tenanglah Ayah, setelah ini aku akan mencari tahu dalangnya”Tuan Besar Kim hanya mengangguk, ia pun bangun dari duduknya.


“Evita..Ayah ada rapat..jadi Ayah harus segera keperusahaan..Reza ayuk”ucapnya. Reza yang mendengarnya langsung mengangguk. Ia sempat melirik Evita yang menatap dirinya juga.


Kepergian Ayahnya tak membuat aura tenang kembali. Evita maish tetap fokus dengan apa yang didalam pikirannya. Indah dan Amelya sedikit merinding dibuatnya.


“Evita...ayuk kita kembali”ucap Inul .saat ini ia harus membawa kembali Nabila.Evita yang mendengarnya mengangguk.


-


“Kau telah membantuku menarik perhatian Evita, ia meloloskanku kali ini, Andre terimakasih”ucap Reza yang beristirahat disalah satu cafe dekat perusahaan.


“tenang saja..aku hanya membantu mengembalikan posisimu sebelum Kakakku itu bertindak”Andre berbicara dengan bangganya.


“Aku senang dengan rencanamu, tapi tak senang dengan kau yang menyentuhnya”Reza menatap Andre yang kini sedikit terteguh.


“heheh santai..lagian kalau tak begitu, mereka tak akan percaya”Andre hanya bisa tertawa kaku. Ia juga tak mungkin meninggalkan kesempatan bukan.


“Apa kau tak memikirkan pelayan yang kau gunakan itu?”tanya Andre. Untuk mengalihkan pembicaraan mereka.


“Pelayan itu bisa tutup mulut meski ia mati sekalipun”ucap Reza yang kini menatap coffee miliknya.


“Wow keren..haha tak disangka..baiklah, aku sudah membantumu, sekarang bisa kau membantuku?”Tanya Andre yang kini mulai serius.


“Aku ingin pergi dari kota ini, hanya bisa kau biayai kepergianku, aku akan membawa ibuku..”


“Kenapa kau ingin pergi?”


“KePerancis”


“Baiklah..akan ku lakukan sebagai ucapan terimakasih”


“yeah Terimakasih kembali”


-


Disebuah ruangan yang saat ini bagaikan penjara bawah tanah. Banyak wanita yang tak berbusana. Mereka tak bisa berbicara karena stamina ditubuh mereka telah dikuras.


Seorang wanita keluar dengan jas putih yang ada ditubuhnya. Ia memiliki rambut yang begitu panjang. Dengan rias wajah yang begitu cantik menampilkan bahwa ia sangat menarik.


Dua Pria berpakaian sama. Meski sama kedudukkan mereka berbeda. Mereka berjalan dibelakang wanita yang memainkan sebuah pulpen ditangan.


“Nona...kami telah kehilangan orang yang penting”Pengawal datang dengan menundukkan kepala. Ia mengucapkan kata tersebut sambil terhenga-henga.


Yang dipanggil Nona itu langsung mengangkat kaki dan menendang pengawal yang ada didepannya.


“Apa kalian ini bodoh....kapan mereka kabur?”tanya Nona itu. dua Pria dibelakangnya menjawab. “Mereka tak lama kabur Nona..kemarin aksi kabur mereka”jelasnya.


Nona yang dipanggil itu langsung melempar pulpen yang dimaininya hingga tertancam disalah satu mading yang sangat berantakkan, tapi ada dua foto disana.


“Sial....dua gadis ini harus ditemukan..mereka akan menjadi objek yang baik untuk eksperimenku”


“CARI MEREKA..!!!”tintahnya. semua pun langsung bergegas mengikuti apa yang diperintahkan. Wanita itu menatap tajam kearah dua foto yang didapatnya. Ia harus mendapat kedua gadis yang ingin digunakannya.


“Kenapa marah begitu hah?”pria dengan tubuh kekar masuk kedalam ruangan dan memeluk Wanita yang terlelap dalam emosi.


Karena pelukkan itu, Wanita itu mencabut pulpennya, dan mengarahkannya kemata Pria dibelakang tubuhnya. Tapi sia-sia karena Pria itu dengan cepat menahan tangannya.


“Kau emosi, dan melampiaskannya kepadaku hmmm..itu tidak baik baby”ucapnya.

__ADS_1


“Menjauh dariku...kalau ingin memuaskan nafsumu, silahkan pilih wanita-wanita yang ada didalam kurungan itu”


“Aku tak mau”


“Lalu apa keinginanmu”


“Aku menginginkanmu”


“Aku...mhmpp”


-


“Sebastian...ada apa denganmu?”tanya Evita yang kini tengah beristirahat diruang tengah. Kepergian kedua sahabatnya membuat Evita sedikit lega. Ia tak berani mengatakan apa yang terjadi. Ditambah ia senang Indah dan Amelya baik-baik saja.


Sebastian yang mendapat pertanyaan itu langsung bertekuk lutut seperti apa yang dilakukannya dulu. Ini kedua kalinya ia bertekuk lutut.


“Sebastian apa yang kau lakukan?”tanya Evita langsung bangun dari duduknya. Ia memandang Sebastian dengan pandangan terkejut.


“Nyonya..pertama ini kesalahanku, aku terlambat datang, Nyonya pasti mengalami kesulitan..kedua ada yang ingin ku tanyakan..Nyonya apa yang terjadi kepadamu waktu itu”


Evita mengerti apa yang dimaksud Sebastian. Ia pun menyentuh kedua pundak Sebastian untuk berdiri.


“Sebastian dengar..saat ini aku hanya bisa memberimu perintah, tak bisa memberitahumu apa yang sebenarnya terjadi, jadi mohon untuk tidak bertanya dulu woke..dan masalah terlambat, itu tak masalah karena aku juga tak kenapa-napa...sekarang istirahatlah”


Sebastian yang mendengarnya mengangguk. Yeah sekarang ia tahu batasannya, tak boleh sampai membuat Nyonya-Nya ini marah. Sebastian pun pergi meninggalkan Evita yang kini memeluk tubuhnya sendiri.


Jika ia tak kabur, Reza pasti telah memberinya racun untuk tubuhnya, ia pasti akan langsung bergegas bunuh diri jika itu terjadi. Keperawanan yang dijaga olehnya tak boleh direngut oleh siapapun. Apa lagi anak pertama, cucu pertama dan orang yang dijadikan contoh paling pertama. Tak boleh kehilangan segalanya.


Evita mengenggam gelang pinggang yang ada dibalik pakaiannya, ia mengenggam dengan erat dengan doa yang diucapkan dibenaknya. Ia harus memikirkan untuk menyinggirkan Reza dari dirinya dan keluarganya.


Untungnya Reza tak mengetahui siapa keluarga asli Evita. jika tidak ia akan mendapatkan resiko yang berat.


-


Berbeda dengan Sahabatnya. Indah dan Amelya masih dihantui dengan bayangan gelap yang dilihat oleh mereka. padahal mereka tak mengalaminya. Tapi entah kenapa mereka malah seperti pernah merasakannya. Mereka hanya takut, takut dengan apa yang terjadi.


Meski semua telah tertangkap, tak ada yang tahu nanti seperti apa jadinya. Jika suatu saat nanti mereka kembali ditangkap.


“Indah...”Amelya mengetuk kamar Indah yang membuat Indah langsung bangun.


Kreeek


“Ada apa Amelya?”tanya Indah yang kini menatap Amelya. Saat ini mereka masih tinggal diapartement Indah.


“Indah..aku tak bisa tidur..tidak istirahatpun tak bisa...bagaimana ini..bayangan kelam itu masih ada”


“Sama..aku juga,bagaimana ini. Aku takut nanti akan terjadi sesuatu yang tak diinginkan”


“Huaa....aku pengen bersama Evita, tapi takut..takut ia malah jijik denganku”


“kenapaa jijik Amelya..kau tidak diapa-apain”


“Jijik karena pernah tertangkap”


“Sudah...jangan dipikirkan...sekarang tidurlah dikamarku, besok kita akan kembali sekolah..”


Amelya yang mendengarnya mengangguk. Memang saat ini lebih baik memikirkan kedepan dulu. Untuk rasa takut ini, mereka berdua sama-sama berharap untuk bisa melupakannya.


-


Keesokkan harinya...


Ketiganya bertemu digerbang utama sekolah, tentu saja dengan wajah yang menyembunyikan segalanya. Indah dan Amelya sedikit tertutup mengenakan pakaian sekolah, sedangkan Evita tak menyadari perubahaan itu.


“Selamat pagi dunia...selamat pagi semuanya...mari hadapi segala yang ada, dan siapkan diri untuk ujian yang akan tiba”ucap Indah yang melangkah masuk kegerbang sekolah.


Amelya dan Evita terkekeh mendengarnya. Mereka tahu bahwa Indah ini sebenarnya pintar. Tapi yeah tak diasah aja tuh otak. Jika di latih, mungkin ia bisa langsung mendapatkan gelar pelajar tercepat.


“Dia terlihat agak gila”ucap Amelya yang membuat Evita tertawa. Tapi ucapan itu terdengar ditelinga Indah membuatnya berbalik.


“Eh Amelya..jangan cari ribut..ini hari yang tenang, jangan jadikan hari yang suram...entar dikutuk masa depanmu ikut suram”


“Banyak ngomong..sana-sana”ucap Amelya yang melangkah lebih dahulu. Evita tertawa melihatnya.


“Sudah puas tertawa?”tanya Indah yang menatap Evita dengan pandangan datar.


“Heheh sudah..sudah puas..kaburrrr”Evita berlari menuju jalan lain yang bisa digunakan untuk meninggalkan Indah. Indah mendengus melihatnya.

__ADS_1


“Dasar kedua sahabat sialan”guman Indah. Ia pun melangkah menuju kekelasnya.


__ADS_2