MANTIV

MANTIV
● Mantiv(77)


__ADS_3

Evita bangun dari tidurnya. Ia tahu ini pasti telah lewat waktu malam. Ini kesempatannya.


Jangan kira Evita akan betah berdiam diri. Ia tak menyukai seseorang mengatur dan mengurung dirinya. Jadi dengan pikiran yang terus berjalan. Akhirnya ia menemukan cara keluar.


“Hanya ada satu jalan keluar, loncat dari lantai delapan ini”Evita mengambil sofa kecil yang bisa dipindah-pindah.


Ia memindai kaca yang ada dihadapannya. “Aku tak tahu ketebalan Kaca ini..tapi aku yakin tidak akan ada sensor yang mengetahuinya”


Brakkkkk


Sekali lempar, kaca tersebut pecah berkeping-keping. Evita melihat cukup tidak celah untuknya pergi. Meski celahnya masih memiliki beberapa serpihan. Evita melewatinya.


Tangan kanannya tergores dengan serpihan kaca yang masih utuh. “ugh....Harus cepat..ia akan menyadarinya”guman Evita.


Ia menatap kebawah yang menunjukkan ketinggian luar biasa. Tapi ada hal yang menarik, ia mungkin memang akan terluka, tapi ada tempat untuk menampung dirinya.


“Reza bodoh..kenapa meletakkan ku didekat pohon...emang dikira Aku tak bisa memanjat apa”Evita melangkah menaiki pagar dan mulai untuk mengatur posisi.


“Selamat tinggal Pria berengsek” Evita melompat.


Bruk


“Ugh....sial, tanganku terkilir lagi”Evita tiba didahan pohon yang untungnya kuat menahan dirinya.


Ia pun memilih untuk turun dengan hati-hati tangan Kirinya menghantam tubuh pohon yang kuat ini.


Evita melangkah setelah turun dari pohon. Ia berlari dengan cepat untuk meninggalkan Pria yang benar-benar gila.


“Reza...ku harap kau tak terobsesi lagi kepadaku”benak Evita.


-


“Evita.....Kau pasti telah tidur sekarang”


Ting..Kreeekk


Mata Reza menyusut melihat apa yang terjadi. Kaca yang tersebar dimana-mana dan terlihat bekas darah. Ia tak mengira bahwa orang yang dicintainya ini ternyata sulit untuk dimengerti.


“EVITAAAAAA!!!!”teriak Reza yang membuat para pengawal diluar langsung masuk kedalam.


“Sial...Pengawal Cari dirinya, aku akan membuat perhitungan dengan dirinya..”perintah Reza yang memukul meja dengan wajah yang penuh akan amarah.


“Evita..kau benar-benar membuatku makin mencintaimu”ucap Reza dengan wajah yang ingin tertawa.


“Apa sebegitu inginnya bersama kakak?” Andre datang dengan wajah santai melihat seorang pria yang telah kehilangan kekasihnya.


“Kau!”Reza baru sadar, ia yang membawa Andre kesini. Karena hanya Andre yang bisa membantunya.


“Mari berkerja sama Tuan Reza..aku bisa membantumu”ucap Andre yang mengulurkan tangannya untuk Reza.


Reza yang melihatnya menatap kearah Andre “Membantuku...apa yang kau bantu, kau hanya membantu hal yang bisa ku lakukan sendiri..kalau aku tahu, aku tak akan membebaskan mu”


“Tidak boleh seperti itu Tuan Reza...aku tahu aku tak bisa membantumu sekarang..tapi aku punya rencana, bagaimana jika.....”


Andre membisikkan rencananya kepada Reza yang masih terdiam mendengarkan.


“bagaimana?”tanya Andre yang kini menunjukkan reaksi senang. Reza menatapnya sebentar “Baiklah....kalau begitu aku ingin melihat apakah rencanamu itu berhasil”


-


Evita melangkah hingga ia merasa tenang karena ada taksi dijam seperti ini.


“Nona Ingin kemana?”Tanya Seorang Pria yang masih terbilang muda.


“Aku ingin ke jalan ***.. bisa kau membantuku, untuk ongkosnya aku akan membayar dirumah”ucap Evita.


Pria itu terdiam sejenak. Sebenarnya waktunya untuk istirahat. Tapi melihat wanita berjalan dengan keadaan terluka ia berhenti dan mencoba bertanya siapa tahu kan wanita itu hanya berpura-pura.


“Tapi jam saya telah selesai, ini tidak akan masuk hitungan dalam gaji saya”ucap Pria itu.Evita yang mendengarnya hanya bisa mengeleng. Ia tahu bahwa pria ini pasti mengira ia tak punya uang.


“Tenang saja....kau tak perlu khawatir..jika kau mengantarku, aku akan membayarmu secara cash jadi kau tak akan merasa dirugikan”


Pria itu terdiam lagi. Evita yang merasa tawar menawar ini membuatnya lelah. Ia perlu istirahat sekarang.


“Baiklah....kalau begitu naiklah”akhir dari pikiran pria itu. Evita mendengus, ia pun masuk dengan cepat. Dan mobil pun berjalan menuju ketempat tujuan.


Hampir satu jam berlalu, Evita akhirnya tiba dikediamannya. Ia pun turun dari mobil dan disambut oleh Sebastian.


“Nyonya...kenapa naik taksi?”tanya Sebastian. Ia bahkan terkejut melihat Nyonya-nya itu dalam keadaan kacau.

__ADS_1


“Sebastian nanti bertanya-nya, sekarang aku ingin istirahat...dan ooh ya”Evita baru ingat bahwa ia menumpang untuk datang kekediamannya.


Ia membalikkan tubuh untuk melihat pria yang mengantarnya. Evita kaget melihat pria itu tercenga dengan mulut yang terbuka lebar.


“Ehem”Evita berpura-pura batuk untuk menyadarkan kembali pria yang tercenga itu. yeah pasti tercenga lah kan jarang-jarang lihat orang kaya. Mungkin.


“Ah..maaf Nona, jadi ini benar rumah anda?”tanya Pria itu tak mempercayai apa yang dilihatnya.


Evita mengangguk “benar...Jadi berapa yang bisa ku berikan?”tanya Evita untuk pria yang telah berbaik hati mengantarnya.


“Tidak perlu Nona...saya hanya mengantar dan kebetulan saja”Pria itu tak jadi berpikir untuk memeras. Meski tahu bahwa ia bisa saja mendapat keuntungan, tapi niatnya memang ingin mengantar.


“Tidak perlu seperti itu...tunjukkan saja rekeningmu, atau mau ku bayar Cash”ucap Evita yang membuat Pria itu langsung mengeleng.


“jangan...lebih baik lima puluh ribu saja nona..itu cukup”Pria itu akhirnya mengalah dengan memberikan yang terbaik darinya. Meski mungkin lebih dari lima puluh ribu. Karena mereka perlu satu jam untuk datang kekediamannya.


“Baiklah...Sebastian, beri dia dua ratus ribu..itu cukup untuknya”Ucap Evita dengan cepat. Dan Sebastian langsung memberikan uang cash dengan wajah yang tenang.


Pria itu langsung kebingungan, tadi lima puluh kenapa jadi dua ratus. “Ah Nona Lima puluh saja”ucapnya.


Evita mendengus “Apa Aku perlu memberikan dua ratus juta kepadamu”


Pria itu langsung mengambil uang dua ratus ribu dengan wajah yang gemetar “Tidak perlu..ini sudah cukup..terimakasih Nona”Ucapnya yang kemudian pergi dengan terburu-buru.


“Emang orang kaya...aduh aku tak sanggup berada disana...”benak Pria itu.


Melihat kepergian Pria tersebut, Evita melangkah masuk kedalam kediamannya.


“Sebastian, cari identitas pria itu, dan beri bintang lima untuknya. Agar ia mendapatkan perkerjaan yang baik dan di beri gaji yang cukup..ia telah membantuku”


Sebastian yang mendengarnya langsung menjawab “Baik Nyonya..akan saya kerjakan....”


Mereka melangkah masuk kedalam kediaman Evita yang saat ini tengah sepi.


“Nyonya apa yang terjadi kepada anda?”tanya Sebastian yang kini membawakan Evita sebuah mantel untuk menghangatkan tubuh Evita.


Evita terdiam sesaat “Sebastian..utus pengawal untuk melindungi Ayahku..dan satu lagi, saat ini aku tak bisa menjawab pertanyaan mu...akan ku beritahu saat tiba”Evita memberikan jawaban untuk Sebastian.


Sebastian mengangguk, ia pun melangkah untuk meninggalkan ruangan, tapi ia teringat akan sesuatu.


“Nyonya...aku baru ingat, bahwa Nona Indah dan Amelya juga telah mengalami sesuatu, tapi mereka mengatakan hanya tersesat dan lupa arah. Dan meninggalkan barang-barang mereka”


“Apa yang terjadi kepada mereka?”Evita melupakan Sahabatnya ini. Ia mengingat mereka terakhir kali berpisah karena masalah di club itu. mengingat club ia teringat tiga wanita yang ia kenali.


“Mereka baik-baik saja...aku sudah mengantar mereka kedepartment Indah...”Sebastian menjawab yang memang dilakukan olehnya.


“Bagus..Sebastian bisa bantu aku lagi..cari tiga wanita yang bernama Rita, Ninta dan Narti...fotonya akan ku kirimkan keponselmu”


“Baik Nona”Sebastian pun pergi meninggalkan kamar Evita. Evita terdiam sesaat, ia harus menyelesaikan ini.


Evita meranjak bangun untuk membersihkan diri, untungnya luka ditangannya tak terlalu parah. Jadi ia masih bisa tenang. Hanya tangan yang satunya yang terkilir. Ia akan periksa kedokter besok paginya.


-


Pagi harinya, sebuah tempat gedung tua yang tak digunakan terkepung oleh polisi.


Banyak wanita dan anak-anak bahkan orang tua dibebaskan dengan cepat. Hal ini mengemparkan seluruh awakmedia. Karena baru mengetahui tempat persembunyian orang-orang yang melakukan perjualan dan tempat untuk memuaskan nafsu bejat pria.


Hal ini membuat heboh pada masyarakat karena beritanya langsung tersebar dengan cepat kesegala arah.


Indah dan Amelya tak terkecuali. Mereka langsung tersenyum puas karena akhirnya bisa membantu orang-orang ada disana.


“Akhirnya mereka tertangkap juga...”ucap Indah yang kini memakai pakaian tertutup, benar ia membuang semua pakaian yang menurutnya menjijikkan, dan dari semua itu hanya tertinggal hoodie saja.


Begitu juga dengan Amelya yang kini juga mengenakan pakaian tertutup. Mereka berdua merasakan trauma yang mendalam.


Bayangkan, jika mereka tak bisa kabur, terus mereka tertangkap dan harus melayani nafsu seorang pria. Sudah bisa dipastikan mereka berdua akan memilih untuk bunuh diri dari pada melakukan hal itu.


Untungnya takdir berkata lain, mereka bisa lolos dengan selamat meski bayangan tersebut tak bisa hilang dibenak mereka.


“Sudahlah..yuk kita melihat Evita, ia pasti baik-baik saja”ucap Amelya yang mengajak Indah untuk menghilangkan pikiran yang menyakitan itu.


Kemarin malam mereka berpikir yang tidak-tidak kepada Evita. dan pagi ini mereka menanyakan keadaan Evita kepada Sebastian. Sebastian mengatakan bahwa Evita baik-baik saja. Mendengar hal itu mereka bisa bernafas lega.


“Baiklah..aku akan siap-siap”ucap Indah yang kemudian mulai bersiap untuk menuju kediaman Evita. begitu juga dengan Amelya.


-


Evita merasa tenang luka yang dialami dan terkilir telah diobati. Saat ini Ia baru saja beristirahat.

__ADS_1


Sebastian pergi menjalankan tugas yang diperintahkan olehnya, dan juga Indah serta Amelya. Evita masih bingung dengan apa yang dijelaskan oleh Sebastian tentang kedua Sahabatnya itu. tapi untuk sekarang ia harus menangani gadis yang berani menganggunya.


“Nyonya..ada tamu yang datang..mereka Nona Indah, Nona Amelya, Nona Nabila dan Nona Inul”ucap pelayan yang datang dengan wajah yang tergesa-gesa.


Evita yang berniat untuk mengunjungi Ayah Angkatnya menjadi urun. Ia pun mengangguk “Baiklah...sajikan minuman untuk mereka..mereka pasti capek”


Pelayan itu mengangguk “Baik Nyonya”ia pun melangkah pergi dengan cepat.


Evita keluar dari kamarnya, menuju ruang tamu yang dimana kedua sahabat dan keluarganya tengah menunggu dirinya.


“Evita....aku kangen denganmu”ucap Nabila memeluk Evita.


“Kangen pengen kabur kan?”Tebak Evita yang membuat Nabila terkekeh.


“Nabila kau tak bisa disini..Kakek menyuruhmu untuk menghapalkan aturan keluarga..hari ini kau harus pulang”tegur Inul yang membuat Nabila memayunkan bibirnya.


“Kenapa harus aku sih...menyebalkan”Gerutuk Nabila. Ia pun kembali duduk dengan wajah masamnya.


Indah dan Amelya mengeleng, melihat tingkah liar Nabila ini. Meski liar ia tetap dalam lingkungan yang penuh dengan aturan sehingga ia tak menjadi gadis nakal.


“Apa kabarmu Evita?”tanya Indah yang kini menatap Evita. ia merasa harus sebisa mungkin merahasiakan kejadian kemarin.


“Aku baik..bagaimana dengan kalian?”tanya Evita lagi. Indah dan Amelya saling menjawab.


“Tentu saja Baik”


“Baik pastinya”


“baguslah...ngomong-ngomong tujuan kalian datang kesini ada urusan apa?”Evita masih ingin mengetahui apa yang terjadi kepada kedua Sahabatnya. Karena ia tahu Reza tak akan mungkin mau menyelamatkan sahabatnya ini.


“Kami kangen denganmu Evita....kalau kami engak kangen, ngapain datang”ucap Indah yang ingin menyentil kepala Evita. tapi sayangnya ia tak terjangkau.


“Kebiasaan nih anak...coba kalau Kau, engak mungkin kangen kami kan”Amelya ikut menimpal.


Inul yang mendengarnya ikut membantu “Emang gini nih anak....orang datang dengan niat baik, malah ditanya yang aneh-aneh”


“Aku tak bertanya hal aneh..kan siapa tahu mereka datang ingin mengurus suatu masalah..atau ingin curhat”ucap Evita yang membuat kedua sahabatnya terdiam.


Suasana yang berubah hanya bisa dirasakan oleh Indah dan Amelya. Sedangkan Evita berada disuasana yang entah berantah. Berbeda dengan Inul dan Nabila yang tak tahu apapun.Hinggaa....


Brakkkkk


“Nyonya...Tuan...tuan...”Seorang Pelayan pria masuk dengan cepat dan menabrak pintu yang terbuka lebar itu.


Evita kaget melihat apa yang didapatinya. Ia tahu bahwa Pelayan Pria ini berasal dari kediaman utama.


“Apa yang terjadi?”ucap Inul yang langsung mendapati Evita mengangkat tubuh Pria itu bagaikan kapas.


“Pak atur nafas...katakan dengan jelas”Evita mendudukkan Pelayan Pria itu bagaikan sebuah boneka. Indah dan Amelya yang melihatnya sedikit merinding.


“Nyonya...Tuan besar..Tuan besar menghilanggggg!!!”ucap Pelayan itu dengan nada yang sangat kuat.


Membuat semua orang langsung terteguh. Evita terdiam beberapa detik. Hingga.


“Sial!!!!”Evita tanpa basa basi langsung melesat lari keluar dari kediamannya. Ia membawa motor balapnya menuju kekediaman utama.


Indah,Inul,Nabila dan Amelya kaget dengan kepergiaan dadakkannya itu.


“Apa yang terjadi?”tanya Inul yang kebingungan.


“Kak Inul..lebih baik kita susul Evita terlebih dahulu”Usul Indah yang melangkah keluar dari kediaman Evita. Amelya menyusul Indah.


Nabila yang ingin ikut langsung ditahan oleh Inul. “Tinggal disini Nabila....kau akan menyusul jika kami memperlukanmu..ingat kau dilarang ikut”ucap Inul yang membuat Nabila langsung mengangguk. Karena melihat wajah Inul yang begitu serius.


Mereka pun berangkat mengunakan mobil, dan menyusul Evita yang saat ini pasti tengah berbalapan dengan para mobil. Mengingat jalan yang lumayan padat. Sangat dilarang untuk berkebut-kebutan.


“Ku harap Evita tak mengila”Amelya berguman. Indah yang duduk disampingnya sedikit terteguh. Yeah kalau mereka melihat Evita marah, ini adalah momen yang sebenarnya. Karena saat marah kepada mereka berdua, Evita masih menahan diri.


Saat kedua Sahabat dan keluarganya menyusul, Evita telah menaikkan kecepatannya, hingga membuat orang-orang yang dilewatinya mengangga. Untung engak terlalu macet. Jika tidak sudah dipastikan kecelakaan bisa terjadi.


“Reza...apa lagi yang kau inginkan”Benak Evita yang menatap tajam kearah jalan yang begitu banyak mobil didepannya. Tapi itu tak memberikannya rasa takut.


Sebuah telepon tersambung kepada Evita. yang membuatnya langsung menyentuh handphonenya.


“Ada apa?”ucapnya. ia tak tahu siapa yang menelpon dirinya.


“Ini saya Nyonya....Saya sudah menjalankan perintah anda, Tiga gadis yang anda suruh telah saya tangkap..apa yang ingin anda lakukan?”tanya Sebastian tak tahu apa yang terjadi kepada Nyonya saati ini.


Evita yang masih berpikir jernih itu langsung menjawab “Penjarakan mereka...aku akan mengurus mereka nanti, Sebastian datang kekediaman utama, jangan lupa bawa anak buah kita....secepatnya”

__ADS_1


Telpon itu pun terputus dalam sekali tekan. Evita tak akan memerintah lebih dari dua kali, jadi lebih baik secepatnya dilaksanakan jika perintah telah keluar dari mulutnya.


__ADS_2