
Pagi hari menyambut dengan cahaya yang terang menerang, memasuki celah gorden dikamar Evita dan Zhan Za Chen.
Kediaman Za mulai melakukan kesibukan yang sudah menjadi tugas masing-masing. Kepala pelayan yang menghandel seluruh pelayan untuk mengerjakan apa yang sudah ditugaskan.
Evita yang baru saja memberangkatkan suaminya, ia melangkah kembali kekamarnya. Ia terlalu malas meladeni para pelayan yang membencinya. Dan lagi bawaan hamil, ia sering marah karena emosi yang tak stabil,ia harus mengontrol diri dengan baik. ia juga ingin menenangkan dirinya meski tahu pikirannya akan terus berjalan.
Semenjak Za menjaga dan merawatnya. Ada ketenangan dengan rasa aman untuk Evita. meski sekeliling Evita penuh akan masalah,Evita tetap merasa tenang menghadapi masalahnya. Hanya emosi yang meluap-luap itu selalu mengalahkan ketenangan dari Evita sendiri.
Langkah kaki membawanya kearah jendela kamar. Pandangannya menatap apa yang ada dibalik jendela itu. terlihat taman yang begitu sangat indah, menarik perhatiannya.Evita tak menduga bahwa Suaminya memiliki sisi lembut juga.
“Kapan Za sudah hal seperti ini?”benak Evita.
Karena melihat indahnya taman tak jauh dari kamarnya. Evita memutuskan untuk melihat secara langsung, ia keluar dari kamar dan melangkah menuju kearah tangga.
“Kau ingin kemana Evita?”tanya Amelya dan Intari yang terlihat baru saja selesai berkeliling mansion.
“Aku ingin ketaman”jawab Evita dengan senyum cerahnya.
Intari dan Amelya saling memandang dengan wajah bingung. “Taman?”ucap mereka bersamaan.
“Hm, Taman..ada dibelakang mansion ini,dekat kamarku, aku ingin melihatnya”jelas Evita.
“Kalau begitu, kami ikut denganmu”usul Intari dengan antusias. Amelya mengangguk menyetujui ucapan Intari.
“Boleh...kalau gitu bisakah kalian menghampiri Pelayan ke dua. Dia adalah Bibi kemarin yang kita temui. Minta kepadanya untuk membuatkan kita cemilan”ucap Evita dengan santai.
Intari dan Amelya mengerutkan alis. “Kenapa harus kami?”tanya Amelya.Evita memelas dengan memegang perutnya. Memberi isyarat bahwa dirinya sedang hamil, jadi ia tidak bisa banyak bergerak dengan berlebihan.
Intari dan Amelya yang melihatnya, memasang wajah datar mereka.
Puas dengan Intari dan Amelya, Evita melanjutkan langkahnya. “Aku kesana dulu, susullah aku bersama Bibi oke”ucap Evita dengan turun dari tangga.
Intari dan Amelya hanya bisa mengangguk pelan sambil menghela nafas. Mereka berdua langsung mencari Pelayan dua yang dimaksud oleh Evita.
Evita berjalan hingga di pintu masuk mansion. Seorang bodyguard yang berjaga menghampiri dirinya.
“Nyonya Evita, ada yang bisa kami bantu?”tanya salah satu dari mereka.
Evita mengeleng, “Tidak ada, aku hanya ingin keluar sebentar”ucapnya dengan santai.
Empat Bodyguard yang menunggu di ambang pintu mengerutkan alis mereka.
Melihat hal seperti ini, Evita menghela nafas, ia jarang menjelaskan tujuannya apa. Tapi mengingat bahwa disini bukan tempat yang biasa dikunjunginya. Ia harus sebisa mungkin menjelaskan tujuannya dengan baik, agar tidak ada kesalahpahaman.
“Aku ingin ketaman, jadi apakah aku bisa pergi?”tanya Evita.
Para Bodyguard itu langsung tersenyum dan mengangguk. Evita ingin melangkah pergi. tetapi salah satu dari mereka menghalanginya.
“Ada apa lagi?”tanya Evita. Salah seorang Bodyguard mengambilkan sebuah sandal santai untuk Evita pakai.
Evita sadar bahwa dirinya melangkah tanpa mengunakan alas kaki. Sungguh memalukan.
“Terimakasih”ucap Evita mengenakan sandal yang diberikan.
“kami akan mengantar Nyonya”ucap bodyguard yang mengulurkan tangan untuk menjaga Evita menuruni tangga mansion.
“Baiklah”Evita menyambut uluran tangan itu, ia turun dengan hati-hati. Dirinya merasa bahwa ia sudah dilayani bak anak bangsawan berstatus istri dari penerus kerajaan. Oke lupakan hal itu.
Evita berjalan menikmati pemandanganya. Dua bodyguard mengantarnya menuju ketaman dan mereka membagi tugas. Ada yang menjaga didepan Evita dan ada yang menjaga dibelakang Evita.
Evita sebenarnya risih dijaga seperti ini, tapi dirinya tahu bahwa ini semua demi kebaikkannya. Jadi ia harus menahan diri meski tidak nyaman dengan hal seperti ini.
“Kita sudah sampai Nyonya”ucap Bodyguard yang ada didepan Evita. Evita mengangguk.
Sebuah gerbang taman dibuka dengan perlahan. Evita mencium aroma bunga dan tumbuhan lainnya. Ia merasa semua yang ada disini sangatlah segar. Bahkan aromanya tak ada yang busuk sama sekali.
Kakinya melangkah masuk, menelusuri Taman yang indah. Dua bodyguard yang bersamanya menjaga diambang pintu masuk.
Taman yang dimasuki Evita memiliki pagar yang mengelilingi mereka, lalu separuh tempat taman ini memiliki rumah kaca khusus untuk taman yang memang sangat mudah rapuh.
__ADS_1
Ada dua pohon yang berbuah. Mangga dan apel. Evita menatap kekanan dan kirinya. Ada niat kecil didalam hatinya, melihat pohon yang ada didepan mata.
“Tidak ada yang melihatku kan?”benaknya sambil tersenyum puas.
Perlahan dirinya mendekati sebuah pohon mangga yang buah-buahnya masih muda. Ia mengiler melihat mangga muda itu. dan bayangan tentang rujak menghantui dirinya.
Tanpa panggil sana dan sini, Evita melesatkan diri menaiki pohon mangga yang memiliki tinggi dua kali dari tinggi tubuhnya.
-
Intari dan Amelya merasa lelah mencari pelayan 2 yang mereka sendiri lupa seperti apa dirinya. Baru saja bertemu kemarin, mereka belum terlalu mengenal Pelayan 2. Hingga salah seorang pelayan melewati mereka.
“Permisi!”sapa Amelya yang membuat Pelayan itu tersenyum dan mengangguk.
“Iya, ada yang bisa ku bantu?”tanyanya.
“Kami mencari Pelayan 2, apa kau melihatnya?”Intari bertanya tanpa basa-basi. Ia sudah pusing jika harus menjelajah lagi didalam mansion bak kastil ini.
“Pelayan 2 ada di dapur, mari ku antar”ucap Pelayan kepada mereka. Intari dan Amelya langsung mengangguk dan mengikuti langkah pelayan didepan mereka.
Makan malam sudah pernah mereka lakukan dimansion ini. Jadi mereka tahu letaknya. Hanya,tetap saja ini masih memusingkan kepala mereka.
Perlu 8 menit untuk tiba didapur. Dan susana disana sulit dipahami oleh mereka berdua.
Kepala pelayan yang menjadi saingan Sahabat mereka sedang menceramahi para Pelayan. Ada tiga pelayan dan dua orang koki yang ikut diceramahi.
“Apa kalian tahu, kalian sudahku peringatkan. Jangan mengelola makanan yang tidak dimakan sama sekali. Kita tak bisa membuang makanan yang sudah disajikan seperti itu”
Intari dan Amelya mendengarkan dengan tenang. Mereka mengingat bahwa malam tadi, menu yang dihidangkan sudah tersentuh semua. Lalu makanan mana yang belum dimakan oleh mereka?.
“Lihat ini, jangan memasak jika tak ada yang bisa menghabisinya. Dua wanita yang memakan ini hanya mencicipinya. Istri dari Tuan Muda ketiga dan keempat merasa bahwa masakkan ini tidaklah enak. Jadi jauhkan apa yang tidak disukai..menger..”
“Maaf”Intari merasa tak enak jika dirinya masuk dalam acara ceramah begini. Memang tadi malam ia hanya mencicipi udang yang dimasak. Namun bukan berarti dirinya tak suka, ia hanya kekenyangan.
“Maaf menganggu kalian. Pertama masakkan itu bukan tidak enak, semua enak. Hanya karena terlalu banyak hidangan, aku hanya bisa mencicipinya. Jadi..”
“Apakah anda pernah diajarkan untuk tidak menganggu urusan orang lain”
“Jangan diambil hati dengan apa yang ku ucapkan. Aku hanya mengatakan bahwa ini urusan kami, jadi maafkan ucapanku”ucap Kepala Pelayan yang membuat Intari dan Amelya tersenyum kikuk.
“Ada apa anda kesini Nona muda?”tanya kepala Pelayan dengan nada remeh.
Intari ingin melayangkan tamparan kepipi mulus diwanita yang lebih tua darinya. Namun ia harus menahan diri, karena ia tahu bahwa Evita akan menyelesaikan masalah ini dan pasti Kepala pelayan ini akan habis ditangan Evita.
Amelya yang hanya diam sedang menahan dirinya. Ia merasa bahwa Kepala pelayan disini sombong. Dan mereka seperti seorang yang akan selamanya berada disini. Amelya merasa bahwa tak lama lagi akan ada pertunjukkan yang seru.
“Aku mencari Pelayan 2”ucap Intari dengan cepat. Pelayan 2 langsung bergegas mendekat.
“Ada apa Nona, jika ada sesuatu katakanlah”ucap Pelayan 2 yang akrab dengan Evita.
“Bibi, Evita memberiku pesan, bahwa ia ingin Bibi membawa cemilan, dan jus untuk Evita...”Intari menatap Pelayan 2 dengan ramah.
Pelayan 2 langsung mengangguk dan bergegas menyiapkan apa yang bisa ia berikan kepada Nyonya yang sebenarnya.tak lama menunggu Pelayan 2 langsung bergegas mendekati Intari dan Amelya.
“Mari, dimana Nyonya Evita?”tanya Pelayan 2
“Dia ada ditaman”jawab Amelya.
Ketiganya melangkah pergi dengan acuh. Tak menghiraukan orang yang ada didapur.
-
Evita sudah duduk didahan pohon yang kokoh, ia memilih untuk menaiki satu dahan lagi karena itu dekat dengan buah mangganya.
Setelah menaikinya, dengan cepat Evita meraih dua mangga yang masih muda, mengerakkannya lalu menjatuhkannya ketanah.
“Asik,ngerujak kita”guman Evita. ia melirik lagi. tangan kiri memegang dahan lain sebagai tumpuannya. Dan tangan kanan menjadi alat pemetik buahnya. Mangga muda sudah berjatuhan lebih dari 5 buah. Evita merasa puas melihatnya.
Ia dengan perlahan turun dari dahan satu ke yang lain. karena lelah,Evita memutuskan untuk bersandar sebentar didahan pohon. Ia merasa tak ada yang mencuri buah hasil dari petikkannya. Jadi istirahat sebentar.
__ADS_1
“Evita!!!”
Teriak Intari dan Amelya. Mendengar teriakkan sahabatnya. Evita membuka mata dan melihat bahwa sahabatnya dan pelayan 2 mendekat.
“Evita, kau ada dimana?”tanya Amelya dengan kepala yang memandang kesana dan kesini.
Evita tersenyum, ia pun mengubah posisinya untuk duduk dengan menjuntaikan kaki. Dengan badan bersandar di batang pohon.
Intari dan Amelya belum melihat kaki miliknya yang berayun-ayun. Terlihat juga Pelayan 2 sedang bingung mencari keberadaannya.
“Dimana Nyonya?..Nona Muda?”tanya Pelayan 2 dengan rasa cemas. Cemas karena mereka harus menjaga Nyonya yang hamil ini. Akan berbahaya jika terjadi sesuatu, bisa-bisa jaminan mereka adalah mengangkat kaki keluar dari mansion ini.
“Tenang saja Bibi, ia pasti ada disin....Ni”Mata Intari menatap dengan hati-hati. Saat tatapannya bertemu dengan Mata Evita, ia langsung terhenti di langkahnya.
Amelya dan Pelayan 2 juga ikut berhenti, mereka melihat kearah mana Intari memandang. Dengan cepat wajah mereka berubah menjadi panik setelah melihat Evita yang bersantai didahan pohon.
“Hai”sapa Evita dengan tangan melambai.
Pelayan 2 menunjukkan wajah yang penuh akan kepanikkan, napan yang ada ditangannya jatuh dengan cepat hingga apa yang ada diisi napan pecah berkeping-keping.
“Astaga Nyonya!!!....apa yang anda lakukan?”Pelayan 2 panik dengan tangan bergemetar, ia bergerak tidak tenang karena melihat Evita.
Intari dan Amelya harus menenangkan Pelayan 2 yang sudah kelewatan panik. Yeah siapa yang tidak panik, melihat seorang Nyonya yang sedang hamil, dengan santai duduk di dahan pohon. Jika Evita jatuh itu akan sangat berbahaya. Dan mereka akan mengalami masalah.
“Bibi tenang lah, oke tenanglah”ucap Amelya dengan mengusap lembut punggung pelayan 2. Intari menatap tajam kearah Evita, ia dengan cepat melangkah pergi untuk memanggil dua bodyguard yang menjaga dibalik pintu taman.
“Ada apa?”guman Evita melihat sahabatnya yang begitu tidak tenang.
Tak lama dua bodyguard pun datang dengan berlari, mereka langsung mendekati pohon yang diduduki oleh Evita.
“Apa yang anda lakukan Nyonya?”tanya salah satunya. Evita dengan santai menjawab, “Memetik buah”
Amelya mengeleng, ia dengan wajah memerah mulai mengeluarkan kata-kata mutiaranya, “Memetik katamu?...Evita kau itu adalah Nyonya disini, mereka bisa memetiknya untukmu. Jadi kau hanya perlu mengatakan apa keinginanmu”ucap Amelya tanpa jeda.
Evita pura-pura tak mendengarnya, ia perlahan mengubah posisi untuk turun dari pohon.
“Nyonya, hati-hati, kemarikan kaki anda”ucap salah seorang bodyguard. Evita menurunkan kakinya perlahan dan disambut oleh bodyguard dengan hati-hati.
Intari dan Amelya melihat kehati-hatian dari para Bodyguard. Mereka tahu bahwa menyentuh Evita sama saja memenggal kepala seseorang. Tidak ada yang tahu Za seperti apa, mengingat ia begitu mencintai Evita bahkan rela menunggu sampai 5 tahun hanya untuk orang yang dicintai. Itu sama saja dengan menahan diri untuk ditidak menyakiti seseorang.
Evita akhirnya menginjakkan kakinya ditanah, sandal yang di lemparnya sembarangan, kini di pasangkan oleh Bodyguard dengan begitu hati-hati.
“Tolong ambilkan buah yang ku jatuhkan ini”ucap Evita yang langsung dianggukkan oleh Dua Bodyguard.
“Bibi, bisakah kau membuatkanku rujak, aku ingin memakannya”Evita membujuk Pelayan 2. Intari dan Amelya yang melihatnya mengeleng. Tidak ada yang bisa memarahi Evita, bahkan menegur. Hanya suaminya yang bisa membuat Evita berhenti dalam kebar-barannya.
“Oke, sekarang kita nikmati taman ini”Evita membalikkan tubuhnya dengan wajah bahagia.
Jlub!
Ouch!!
“EVITA!!!!!”
-
Mata menatap dengan begitu teliti, melihat dibalik teropong ia mengetahui bahwa target sudah terlihat.
“Apa kita harus membunuhnya sekarang?”ucap seseorang yang baru saja selesai melihat targetnya.
“Apa lagi, kita tidak perlu memenuhi syarat dari orang yang memberi uang. Ia sudah memberikan kita uang dengan baik..yang pasti pelurunya diisi oleh racun”jelas sang penembak jarak jauh, senapan ditempatnya tempat di depannya, posisi menembak siap di kerahkan.
“Kau benar..baiklah..siap posisi”sang Penembak mulai memfokuskan pandangannya.
“SEKARANG!!”
Swuush!!!!!
“Bagaimana?”
__ADS_1
“Aku tidak tahu, tapi ini sulit dijelaskan"
“Hah?”