MANTIV

MANTIV
● Mantiv(46)


__ADS_3

Dilantai dua, seorang wanita yang tak lain adalah Evita. Ia menatap kearah altar dimana Amelya tengah menari dengan indahnya bersama pria yang ia kenali.


“Apa mereka sepasang kekasih?.....bukannya selama ini Amelya dan Intari tak pernah menjalin suatu hubungan?”benak Evita yang menatap dengan meneguk wine.


Tak berapa lama, seorang pria berdiri disebelah kirinya dengan memegangi gelas wine. Melihat ada pria disampingnya, tak membuat Evita menatap. Ia masih menatap kearah altar tempat sang pasangan itu menarik perhatian orang-orang.


“Sangat indah bukan?”tanya Pria yang berdiri disamping Evita. Mendengar ada pertanyaan yang mengarah padanya. Evita hanya berdehem mengiyakannya.


“Berapa nomor kartu anda Nona?”tanya Pria itu dengan mengarahkan dirinya kedepan untuk melihat Evita.


Evita yang merasakan Pria itu menatapnya ikut menghadap kearah Pria yang berdiri didepannya. Tinggi dan memiliki kulit yang sangat dikenal oleh Evita.


“Kenapa Tuan Mavin Vintorin sangat ingin mengetahuinya?”tanya Evita tanpa basa basi.


Orang-orang yang berdiri tak jauh dari mereka, dibuat terkejut. Ternyata pria yang tinggi dan tak berpasangan itu adalah Mavin Vintorin. Tuan Muda Pertama keluarga Mavin. Sangat langka melihat Tuan Muda ini.


“Siapa tahu angka kita sama...kita bisa berdansa bersama bukan?”Mavin Vintorin menunjukkan kartu yang bernomor 30.


Melihat hal itu, Evita tersenyum “Maaf nomor kita berbeda....Nomor dari kartuku adalah 25”ucap Evita dengan santainya.


Tak menyadari seseorang terteguh mendengar hal itu. “25 bukan?....Nyonya Evita....anda mendapatkan pasangan anda..disini”ucap Merlina dari samping. Benar ia telah berada disamping untuk berbicara dengan para pengusaha yang mengucapkan kata selamat padanya. Mendengar Evita mengatakan kartu dengan nomor 25 itu. Ia langsung melihat kearah pria yang tengah santai dimeja tanpa diganggu siapa saja.


Merlina menarik Evita melangkah kearah Pria yang tengah duduk santai itu. Dengan setelan yang berwarna coklat. Menarik perhatian tapi tak ada yang berani mendekatinya.


“Tuan Derka Jamesta.....apa ini kartu anda?”tanya Merlina setiba dimeja. Membuat yang mempunyai nama langsung melihat kearah Merlina.


Evita terteguh tapi kembali santai, melihat pemuda yang menunjukkan mata berbinar sekarang.


“Kak Moaaaaaa!!!!!..”ucapnya yang langsung memeluk Evita tanpa basa-basi. Menghadirkan suasana cuka* untuk seseorang yang melihat kearah mereka.


“Bukannya dia Artis dan Model yang terkenal itu?”


“benar.....ternyata Tuan Muda Derka ya...sangat langka melihatnya disini...langka sekali”


Bisik membisik dari pada tamu penting. Melihat dua orang yang ternyata adalah orang yang sangat terkenal bahkan sangat berpengaruh.


Mengingat Derka seorang artis yang merupakan model. Memiliki kehidupan yang sibuk, hingga sulit untuk bertemu. Berbeda dengan Evita yang hanya seorang CEO dengan jadwal yang tak padat. Tapi berpengaruh besar pada seluruh perusahaan yang didirikan dikota A ini. Ada 10 orang terpenting yang sangat berpengaruh. Salah satunya adalah Orang Tua Merlina yang berada diposisi ke 10. Sedangkan yang pertama, adalah keluarga Zhan, yang kedua adalah keluarga Kim yang tak diketahui keberadaannya. Sedangkan diposisi ke 3-9 hanya beberapa tetua kecil yang mengamankan harta mereka.


“Apa Nomor mu sama dengan nomorku?”tanya Derka yang telah melepaskan pelukkan Evita. Ia menatap dengan mata yang berbinar. Membuat Evita tersenyum. “Ya”jawab Evita.


Setelah mendengar jawaban itu, Evita diajak turun untuk menuju altar yang kini telah kosong.


Amelya diajak oleh Echan untuk berjalan menuju ke taman yang ada dibelakang. “Apa yang anda lakukan Tuan?”tanya Amelya, ia merasa harus cepat pergi. Setelah dansa yang sangat memukau itu.


“aku ingin berbicara denganmu”menghentikan langkah mereka. dua orang ini pun saling memandang hingga salah satunya memutuskan pandangan.


“Apa yang ingin Anda bicarakan?”tanya Amelya yang sudah mulai merasakan ketidakenakkan dihatinya. “Ku harap bukan pertanyaan...”Benak Amelya terhenti mendengar pertanyaan Echan yang berdiri didepannya.


“Apa Anda bernama Amelya....atau Ara?”tanya Echan yang langsung membuat Amelya merasa hujan deras turun didirinya. Tak sanggup ia menjawab pertanyaan ini. Kenapa nasibnya Malah harus bertemu dengan Echan.


“Iya namaku Amelya...tapi Ara?...siapa itu?”pelan dan sedikit gemetar diucapkan oleh Amelya. Tak bisa dipungkiri lagi, ia tak bisa membuat Echan kembali dengannya.


“jadi anda bukan Ara?”..tidak aku pasti tak salah mengira bukan..sudah lama aku mencari orang yang mengisi hati. Tapi kenapa kau bukan dirinya”Echan menatap dengan tatapan yang menyedihkan. Mengatakan bahwa ia tak bisa lagi menunggu dan menanti seseorang yang dicintainya.


Amelya terdiam, ia tak sanggup berbicara lagi, ini memang hal sulit yang dilakukan olehnya. “bagaimana bisa aku berani bersamamu Echan...sedangkan aku..aku...aku”benak Amelya, ia langsung melangkah pergi meninggalkan Echan yang menatap kosong kearahnya.


Yoongi telah mengobati kaki yang terkilir itu. Ia melangkah ingin pergi tapi undur karena mengingat ada yang ingin ditanyakan olehnya.

__ADS_1


“Maaf..apa aku bisa bertanya?”ucap Yoongi kepada Wanita yang bernama Intari.


Intari terdiam, ia yakin saat ini Yoongi pasti bertanya tentangnya. Tak sanggup ia menjawab pertanyaan dari orang yang dicintainya ini. Setelah diam sejenak, ia membuka mulut.


Belum mengatakan sesuatu, Intari melihat Amelya melangkah pergi dengan sangat cepat,menghindari orang-orang. Melihat hal itu membuat Intari langsung ikut mengejar dan meninggalkan Yoongi yang masih menunggu jawabannya.


Yoongi terdiam melihat kearah Intari yang berlari dengan kaki yang baru saja diobati. “Apa yang dikejar wanita itu?”benak Yoongi, ia melihat kearah Echan yang menyusul perginya Intari.


“kenapa ini?”kerutan muncul didahi Yoongi. Ia pun ikut mengejar mereka.


Ditempat lain, Evita dan Derka menjadi bintang yang sangat indah saat mereka menyelesaikan dansa yang mereka buat. Semua orang langsung bertepuk tangan.


“Waah pasangan ini sangat serasi seperti pasangan sebelumnya....indah sekali..indah sekali”ucap Merlina menaiki altar dengan bertepuk tangan.


“Baiklah para Tamu semuanya....ini adalah akhir dari acaraku...kalian diberi tempat menginap dihotel yang telah ku sewakan khusus untuk kalian”ucap merlina. Memang sudah saatnya pesta ini berakhir, karena Malam telah berlarut dengan sangat cepatnya.


Semua orang pun mengangguk, mereka berjabat tangan kepada Merlina dan melangkah keluar dari Mansion menuju keHotel yang disediakan.


Untuk Evita, itu tak perlu, saat ini mereka masih dikota A, jadi ia hanya perlu pulang.


“Kakak Evita....bisakah anda tinggal dihotel yang ku sediakan?”ucap Merlina dengan senangnya. Ada nada manja disana membuat Evita sedikit ingin mencongkel pita suara itu.


“Tentu saja bisa”jawab Evita. Lagian siapa juga yang mau pulang, orang dia lagi menunggu kesempatan untuk menikam mangsa besar didepannya ini.


Derka berpamitan setelah mendapatkan hari yang sangat indahnya, begitu juga yang lain mereka semua pergi. Dan meninggalkan Tiga wanita yang berada dimansion sepi.


Intari dan Amelya tiba ditaman yang besar, mereka melupakan misi mereka yang seharusnya berada didekat Evita. Mereka Malah harus meladeni dua cowok yang kini menyusul mereka.


“Kalian kenapa pada lari?”tanya Yoongi yang melihat tiga orang tengah menghela nafas karena lelah.


Echan menatap Yoongi, lalu menatap dua Wanita yang salah satunya adalah orang yang dicarinya.


“Lah mereka pergi begitu aja?...tapi syukur sih dari pada bertemu dan berbicara dengan mereka kan”ucap Intari dengan langsung mendudukkan dirinya direrumputan.


Amelya menatap Intari, “Maksudmu...lebih baik kita lupakan mereka?”tanya Amelya.


Mendengar itu membuat Intari mengerutkan alisnya. “Apa lagi, Kita tak akan bisa bersama mereka lagi Mel...sudahlah buang saja perasaan itu”jawab Intari. Nada bicaranya kasar tapi mengandung arti yang terpendam.


“Aku tak bisa Indah...kau tahu bahwa hati kecilku..masih mengharapkannya”Amelya menatap dengan pandangan teduh kearah rumput yang diinjak olehnya.


“Maksudmu Mel?...kau mengatakan kepadaku sebelumnya untuk membiarkan mereka..mereka dari awal lupa dengan kita dan kita..entah kenapa tak bisa mendekati mereka”Intari menjelaskan sambil memeluk tubuhnya. Ada rasa jijik yang menghantui dirinya.


“Tapi..kau tak menyadari, mereka-mereka sepertinya mulai mengingat kita”Amelya entah kenapa merasa ada serpihan cahaya untuk kisah mereka. Intari yang mendengar itu ingin membentak tapi suara ledakkan besar terdengar oleh mereka.


“Evita!”keduanya langsung menuju kearah sumber suara. Mereka melesat dengan cepat dan melepaskan gaun mereka, yang kini terganti dengan pakaian nyaman serta peralatan yang terpasang dengan lengkap.


“Evita bilang..Mansion ini...


“Mansion yang dijadikan acara adalah mansion cadangan dari keluarga Merlina ini....kita mungkin akan mendapatkan serangan dadakkan. Jadi sebaiknya gunakan perlengkapan penyamaran kalian...”Evita menjelaskan sebuah denah yang kini ada dihadapannya.


“Lalu bagaimana anak buah kita bisa menyerang ...jika disemua area Mansion ini tertutup?”Intari memperhatikan tempat yang ingin mereka serang ini. Semua yang dikelilingi pagar akan mempersulit mereka. karena ada kemungkinan sudah bisa terdekteksi kedatang mereka.


“Tak Perlu Anak Buah ikut...yang kalian perlu lakukan adalah menahan si gadis manja ini...karena aku tak ingin mengungkapkan identitasku yang lain”ucap Evita. Mendengar hal itu Amelya dan Intari mengangguk.


“Intinya...kalian harus bersiap jika ada tanda-tanda dimulainya permainan ini”


Intari dan Amelya langsung masuk kearah Mansion dan melihat situasi yang saat ini tengah berkabut. Menunggu hingga terlihat seseorang tengah menahan pihak yang lain, dan yang satunya melakukan hal yang sama.

__ADS_1


“Sungguh indah”ucap Evita melihat bahwa saat ini kedua sisinya telah di kepung oleh dua wanita.


“Menarik bukan...aku membuat kejutan yang indah bukan?”Merlina berbicara dengan nada bahagianya. Ia mendekatkan pisau yang mengarah keperut Evita. Evita menahan arah pisau itu dengan tangan kanannya yang kini mengeluarkan darah segar.


“Darah manismu itu seharusnya tak keluar Nyonya Evita...apakah sulit menghadapi kami?”Wanita yang lain adalah Yelani yang mengarahkan pisau dileher Evita, Evita menahan pisau yang mengarah kelehernya dengan pisau yang ada ditangan kirinya.


“Darahku tak seberapa......kalian tak perlu khawatir.aku yang akan menghadapi kalian sendiri..tapi sebelum itu mohon izin”ucap Evita yang membuat Yelani dan Merlina menatap bingung.


Intari dan Amelya menonton adegan yang sangat seru ini, pengen cemilan tapi tak jadi mengingat bahwa mereka diberi pesan oleh Sebastian.


“Nyonya Intari,..Nyonya Amelya..bisa kalian awasi Nyonya Evita....aku hanya tak ingin ia mengamuk kembali...seperti dulu...kalau bisa tahan amukkannya”


Mengingat apa yang dikatakan Sebastian, seketika itu juga Intari melesat mendekat kearah Tiga orang yang saling menyerang sekarang.


Evita melesat dengan cepat mencengkram tengorokan Merlina. Semua melihat hal ini langsung terdiam ditempat.


“MERLINAAAA!!!”Yelani langsung bergegas mendekat dengan pisau yang ada ditangannya. Sebelum tiba didekat Evita. Evita telah melempar Merlina dengan tenangnya kearah Yelani.


“Selesai?”Evita mendekat melihat dua orang yang saling tumpang tindih akibatnya.


Amelya mendekat dan menghalangi pandangan Evita. Untuk mengambil alih situasi. “Sudah”ucap Amelya yang langsung bergegas mengikat Merlina.


Evita mengerutkan alisnya melihat Amelya yang seenaknya menghalangi apa yang ingin dilakukan olehnya. “Apa yang kau lakukan ?” mendengar pertanyaan itu, membuat Amelya dan Intari merinding geri. Tapi mereka dengan cepat melakukan tugas mereka.


“Tidak ada....sudah cukup, mereka tidak suka bertarung...sepertinya mereka bukan ahli dalam bidang ini”ucap Intari yang ingin mengikat Yelani, seseorang datang dengan pistol miliknya. membuat Intari langsung memutar tubuh dalam keadaan telungkup.


“Siapa!!!”Intari menatap kearah asal tembakkan. Evita dan Amelya juga mendapat sekarang. Mereka langsung dipojokkan ditengah altar.


Berdiri seorang wanita yang tiba dengan tenangnya. Mengenakan topeng diwajah seluruh wajahnya. Membuat Evita,Intari dan Amelya menatap dengan tajam melihat siapakah yang ada dibalik topeng itu.


“Senang bisa bertemu dengan Nona Kim”sapaan diberikan dengan bungkukkan tubuh memberi salam. Membuat Mata Intari dan Amelya membelak.


“bagaimana ia tahu nama marga Evita yang kedua?”benak mereka bersama-sama. Mereka melihat kearah Evita yang menatap nanar kearah Wanita misterius itu.


“Kenapa gemetar hah?....Kim sayang”ucap Wanita yang melompatkan diri, mengerakkan tubuh lenturnya dengan sangat enteng tanpa takut terjatuh. Ia mendekatkan diri kearah Evita yang mulai merinding dengan gemetar hebat.


“Sudah ku bilang....jangan lupa minum obatmu waktu itu, kau melupakannya?”seketika itu juga Intari dan Amelya melihat Evita yang merintih kesakitan dengan menutup telinganya.


“Evita kau tak apa-apa?”Amelya memeluk Evita yang kini gemetar dengan hebatnya. Melupakan niat awalnya yang ingin mencari petunjuk dan menangkap sang pelaku kematian orang tuanya. Malah harus mendapat serangan balik dari seseorang.


Intari melihat wanita itu pergi dengan dua bodyguard yang membawa Yelani dan Merlina pergi. Ia menatap sebentar lalu berbicara sebelum pergi.


“Aku akan menunggumu..datanglah lagi dan saat itu apa yang kau cari akan kau ketahui”ucapnya yang menghilang dengan bayangannya.


Intari dan Amelya menuntun Evita yang masih gemetar dengan mata tertutup. Mereka melangkah menuju kearah mobil mereka. dan menerjang jalan untuk pergi ke tempat yang aman. Kembali keMansion perlu waktu, jadi mereka memutuskan untuk mampir kesalah satu Hotel asing. Asing sih kan jarang-jarang kehotel. Lagian mereka tinggal pesan apartement sayangnya engak kepikiran.


Setibanya disana, Evita masih memejamkan mata, dengan cepat Intari mengendong dari belakang untuk membawa Evita ke kamar, sedangkan Amelya memesang 2 kamar, satu untuk Evita, satunya untuk mereka berdua. Kenapa engak tidur bareng?...Evita orangnya risih engak bisa tidur kalau berbarengnya. Yeah namanya juga anak aneh.


Tiba dikamar, Intari langsung membaringkan tubuh Evita, ia mengambil air minum yang ada untuk Evita. “Evita..minum dulu...tenangkan dirimu..Hei kau dengar aku kan?”Intari meletakkan gelas kebibir Evita yang masih bergetar, ia menuntun Evita untuk duduk dengan nyaman dan memberikannya air minum untuk menenangkan.


“lebih baik kau istirahat, kami akan menunggumu”ucap Intari yang membaringkan Evita.


Menunggu sejenak, Amelya datang membawa bingkisan yang berisi makanan. Ia meletakkannya dimeja dan duduk bersama Intari.


“Apa dia tak apa-apa?”tanya Amelya. Rasa familiar tentang keadaan Evita menjadi pikiran untuk mereka berdua.


“entah lah...aku tak tahu, tubuhnya masih gemetar, seakan-akan baru menemukan sesuatu yang dihindari olehnya..siapa gadis itu?”Intari berpikir keras, siapa tahu ia pernah bertemu dengan gadis yang sampai membuat Evita menjadi seperti ini.

__ADS_1


...****************...


Cuka*\=Cemburu


__ADS_2