
melihat hal itu membuat Amelya dan Indah mengangguk dengan tersenyum bahagia menikmati apa yang diberikan kepada mereka. hati kecil yang penuh dengan rasa takut kini sedikit merasa kebahagiaan dari perhatian kecil yang diberikan.
-
Kepagian harinya, mereka bertiga tengah berkumpul diruang tamu. Mereka tengah ingin melakukan jogging pagi ini. Mumpung dikampung, polusi sedikit mengurangi dari pada dikota.
Tapi yang jadi faktor permasalahan adalah tidur mereka yang engak bisa hilang.
“Hei Cuci muka sana..gimana mau jogging kalau kalian masih mendengkur”ucap Amelya yang melihat dua Sahabatnya tengah duduk disofa sambil terpejam.
“Ya..iya”ucap Indah yang kemudian bangun, ia telah siap tinggal berangkat saja lagi. Evita juga begitu.
“Yasudah ayo berangkat”ucap Amelya yang siap bergerak, meski begitu ia juga masih menguap karena ngantuk.
Mereka agak bergadang tadi malam karena menonton film favorite mereka. dan saat ini waktu masih menunjukkan pukul 5 pagi.
Kreeek
Pintu terbuka melihatkan suasana yang masih gelap. “Eh breee...ini kita mau jogging atau mau maling nih”ucap Indah sambil memandang sekeliling.
“Jogging Indah....emang gini kok waktu joging..sudah ayok bergerak”Amelya mendorong kedua sahabatnya untuk keluar gerbang rumah Evita.
Mereka bertiga pun melangkah untuk jogging bersama. Untungnya Kampung Evita ini tak seluas kota, jadi mereka bisa berkeliling kampung.
“Ngomong-ngomong Evita...dulu saat kau masih sekolah dasar, kau mengatakan bahwa kau saat kecil itu berjualan”ucap Indah sambil berlari santai, mereka sedikit mengobrol bersama.
“Benar....dulu disini itu jualan sangat laris...aku membawanya keliling kampung ini..sampai telat datang kesekolah”ucap Evita, ia terkekeh mengingat kembali masa kecilnya.
“Ooh ya....emang jualan apa dan berapa harga jualan yang kau jual Evita?”tanya Amelya yang ikut nimbrung.
“Ada Tempe, Bakwan,lumpia, dan gorengan yang lain....untuk harganya tempe itu seribu, bakwan kalau kecil, seribu itu empat, dan yang lain sama seperti Tempe, satu seribu...oh ya selain gorengan aku juga jual kue..dari kue lapis dan kue basah yang lain...menyenangkan saat itu”
Mendengar hal itu membuat Indah dan Amelya merasa bahwa Evita ini hidupnya lebih sederhana dari mereka. karena mereka tidak sampai harus berjualan. Meski begitu semua punya jalan hidup sendiri, jadi tak ada yang perlu dipikirkan yang akan membuatmu merasa hidupmu itu malah tak berguna.
“Tapi..dari pada memikirkan hal seperti jualan itu, aku malah senang memikirkan tentang kehidupanku yang sekarang...lebih tenang aja gitu”ucap Evita yang membuat Indah dan Amelya mengangguk.
“Kau benar...kita telah melewati masa yang susah, dan sekarang kita menghadapi masa yang indah....”ucap Indah sambil melangkah kedepan.
“Jadi kita nikmati yeaaah” teriaknya yang tak memperhatikan langkah, hingga menabrak seseorang.
Braaak
“Hati-hati”ucap Evita dan Amelya bersama-sama. Mereka pun membangunkan kedua orang yang tengah bertabrakkan ini.
“Ugh....maafkan aku”ucap seorang wanita yang telah dibangunkan oleh Evita. mendengar suara itu membuat Evita memandangnya.
“Sania”Kaget Evita yang membuat Dua sahabatnya memandangnya. Mereka mengetahui bahwa Evita memiliki Sahabat dari SMP, dan sedikit melongar hubungan mereka.
“Evita...kau kah itu?”tanya Sania yang kini telah berdiri tegak, tingginya masih tinggi Evita.
“Mn..apa kabar?”tanya Evita. meski sedikit cangung ia tetap menyimpan rasa Persahabatan untuk Sahabatnya ini.
“Baik...bagaimana denganmu?”tanya Sania balik. Evita menjawab “Tentu saja Baik...oh ya kenalin ini Sahabatku juga, namanya Indah dan yang disebelahnya Amelya”
Indah dan Amelya memberikan salam bersama “Salam Kenal”
“Ah salam kenal juga...senang berkenalan dengan kalian....ngomong-ngomong kalian tengah berjoging dipagi buta ini?”tanya Sania sambil memandang Evita.
Evita tersenyum dan mengangguk “Benar...lagian kami memang ingin menikmati Kampung halaman”
“Ah...kalau begitu nikmatilah...aku ada urusan dengan sepupuku Ica....pengennya ikut,tapi engak bisa”ucap Sania sambil memayunkan bibirnya.
“hahah...jika sibuk tak perlu Sania..kapan-kapan lah.....lakukan hal yang terpenting terlebih dahulu”ucap Evita yang membuat Sania mengangguk.
“Ooh ya bagaimana hubunganmu?”tanya Evita. hal ini menarik perhatian Indah dan Amelya. Mereka tahu bahwa Evita saat ini tengah menanyakan seseorang. Dan ingin melihat reaksi dari Evita dan Sania ini.
“Tentu saja baik..terimakasih Evita, aku mengikuti saranmu...dan hubungan kami semakin berkembang”ucap Sania. Ia tersenyum dengan bahagia, membuat Evita ikut tersenyum melihatnya.
“Syukurlah...ku harap kalian bisa sampai kepelaminan”
“Doa terbaik sekali...kalau begitu aku izin pamit ya semuannya....dan maaf menabrak dirimu”ucap Sania yang langsung membuat Indah menjawabnya “Tidak apa-apa..aku yang seharusnya minta maaf”
Sania tersenyum mendengarnya. “jaga Evita...kalau begitu aku pergi”ucap Sania yang melanjutkan langkahnnya meninggalkan tiga orang yang memandang kepergiaannya.
__ADS_1
“Sahabat yang menarik”ucap Indah sambil menatap Evita yang tersenyum.
“Kenapa kau tersenyum?”tanya Indah lagi, dan kali ini Evita menjawab “Karena aku bisa melihat ia bahagia, maka aku akan bahagia”
“sesederhana itu?”tanya Indah lagi dan Evita menjawab “Tentu...dan jika kalian juga sebahagia seperti sekarang, aku juga bahagia”Evita merangkul Kedua Sahabatnya sambil tertawa membuat Indah dan Amelya ikut tertawa bahagia.
Mereka bertiga pun melanjutkan joging yang sempat tertunda tadi. Sambil sedikit bercerita menikmati matahari yang kini mulai terlihat.
-
Siang harinya, ketiga orang tengah melihat kebalkon rumah Evita. menatap langit yang terlihat panas tapi tak terlalu panas untuk suasananya.
“Eh breee kita ngapain lagi nih, udah seger gini enaknya gapain....bosan nih”ucap Indah sambil menatap langit-langit yang penuh dengan awan putih.
“gimana kalau kita ngerujak”ucap Evita yang langsung membuat kedua Sahabatnya bangun.
“Ayuk”
Mereka bertiga melangkah menuju kearah dapur dan mulai mencari buah untuk ngerujak. Tapi yang ditemukan Cuma beberapa saja. Bahan utamanya mangga muda tak ditemukan.
“Tak ada manga muda..mana enak”keluh Amelya yang melihat bahan yang ada didepan mereka.
“Bener....Evita kita cari kemana ya?”tanya Indah yang memandang keEvita. Evita terdiam sejenak memikirkan dimana tempat buah yang mudah mereka curi maksudnya ambil.
“Ah....ditanah belakang rumahku yang pertama, ada pohon manga muda..aku coba tanya Ayah dulu apa pohon itu berbuah”mereka bertiga pun melangkah menemui Ayah Evita yang saat ini tengah ada diruang kerjanya.
Tuk...Tuk...
“Pah....Papah ada didalam?”tanya Evita sambil bersuara pelan dan ada suara deheman yang menandakan bahwa ia boleh masuk, Evita pun masuk sendirian, sedangkan Indah dan Amelya menunggu diluar.
Didalam sana telah ada beberapa orang penting yang terlihat mengenakan jas. Melihat kearah Evita yang menundukkan kepala memberi hormatnya.
“Maaf mengangguk semuanya”ucapnya yang mendapat anggukkan dari orang-orang yang menjadi tamu Ayahnya.
“Ada apa?”tanya Ayahnya yang kini berdiri memandang Evita. Evita menyuruhnya untuk berjongkok bentar, dan Ayahnya menurut. Membuat orang-orang penting sedikit berguman.
“Tuan Muchen kalau sama Anak dan Istrinya tak terlalu dingin ya..apa lagi ia mau menundukkan kepala hanya untuk Putri dan Istrinya”ucap salah satu seseorang dengan berbisik.
“Yeah....semoga nanti kita tak bertemu dengan Putrinya, setidaknya Anak Keduanya saja”
“makin Runyam...anak keduanya bercita-cita sebagai polisi....tamat kau sebelum berkerja sama”
Mereka berbisik dalam ruangan dengan nada yang sangat pelan. Sedangkan Evita berbisik kepada Ayahnya.
“Papah....Pohon manga dibelakang Rumah pertama kita itu berbuah apa tidak?”
Papahnya yang mendengarnya mengeluarkan aura dingin, membuat orang-orang yang ada disana merasa bahwa bisikkan mereka didengar oleh Tuan Muchen.
“Kenapa malah bertanya kepada Papah...bukannya Kau bisa melihat sendiri?”ucap Papah Evita sambil menatap tajam kearah Putrinya yang kini terkekeh.
“Lupa Pah...hehe maaf menganggu”ucap Evita lagi yang kemudian izin pamit. Aura dingin Ayahnya membuatnya ingin cepat pergi. Ia sedikit merasa kasihan kepada Orang-orang yang kini berkeringat dingin karena nya.
Pintu pun ditutup, Evita menghela nafas sambil memandang kearah Sahabatnya yang menantikan jawabannya.
“Gimana?”tanya Indah dengan antusias.
“Kita cek sendiri aja....Papahku sedang Rapat”ucap Evita yang menuntun Dua sahabatnya menuju kerumah pertama untuk melihat pohon manga apakah berbuah atau tidak.
Cukup lima belas menit mereka berjalan, terlihat pohon manga besar yang berbuah dengan lebat. Membuat mata ketiganya berbinar melihatnya.
“Waaah”kagum, ketiganya langsung mengecap liur mereka.
“harus dapat banyak nih”
“harus lah”
“ayo ambil”
Ketiganya terdiam sejenak, “Eh tunggu...Ambilnya kayak gimana Evita?..yakali kita naik keatas...pohon ini kan tinggi”
Mendengar ucapan Indah, Evita melihat kesegala arah, ia mengambil salah satu ranting pohon yang terlihat kuat. “Gunakan akal”ucapnya menjawab pertanyaan Indah.
“Emang bisa pakai itu...lagian tembakkan mu itu tepat sasaran kah?”ketidakyakinan Indah muncul diwajahnya. Ia bahkan melipat kedua tangannya untuk melihat Evita membuktikan ucapannya.
__ADS_1
“kau pikir aku tak pernah tepat sasaran apa....kau lupa kalau aku bermain dengan senjata api”Indah yang mendengarnya masih mendengus. Membuat Amelya menjadi penengah.
“Sudah...sekarang lebih baik kau lempar itu....dan kita lihat hasilnya”
Evita pun menyiapkan posisi yang tepat, ia menatap kearah tiga buah mangga yang masih muda dengan ketinggian yang lumayan. Tapi memberikan peluang yang besar untuk dilempar.
Ia menyiapkan ancang-ancangnya. Dengan tarikkan nafas yang tenang dan tatapannya terhadap sasaran telah terkunci, tangan yang memegang dahan kayu itu langsung dilemparnya dengan keras.
Lemparan itu mengenai tiga buah Mangga dan membuatnya tergoyang-goyang. Hingga...
Bruk
Mereka bertiga berbinar melihatnya tapi seperdetik kemudian Indah mengejek “Alah...Cuma satu yang jatuh..mana cukup”ucapnya. Memang benar bahwa yang berhasil jatuh hanya satu buah mangga. Membuat Evita mendengus.
“Kalau begitu kau saja yang coba...nih..nih”Evita memberikan ranting lain kepada Indah. Dan langsung ditangkap oleh Indah.
“Simpel nih mah.....Kelingking ku nih....kelingking..doang”ucap Indah sambil mengambil ancang-ancang untuk melempar.
Setelah merasa tepat, ia pun melempar dengan tenaganya. Mereka bertiga memandang kearah mana Ranting itu terbang, Rating itu terbang sangat rendah dari lemparan Evita. membuat Evita tertawa melihatnya.
“Ini yang kau bilang kelingking....lemparanmu saja tak bisa mengalahkan lemparanku....Hahaahaha....hhahaah...kelingking katamu...hahah...sakitnya perutku”ucap Evita sambil membungkuk menahan perutnya yang tertawa bebas. Melihatnya membuat Indah mendengus. Ia melihat kearah Amelya yang dari tadi terdiam. Ternyata ia tengah memegang sebuah batu yang sebesar kepalan tangannya.
“Untuk apa itu Amelya?”tanya Indah yang membuat Evita berhenti tertawa dan melihat Amelya.
“Untuk melempar Buah”jawab Amelya dengan tampang yang santai.
“Eh benarkah....Tapi Amel..itu...batu kau dapat dari mana?”tanya Indah, karena dari saat mereka tiba, tak ada batu disini, apa lagi rumah Evita itu berjalan semen, engak mungkin kan ada batu. Yah mungkin ada tapi batu kecil, engak sebesar kepalan tangan.
“Batunya baru saja ku temukan sekitar sini”jawab Amelya yang kini bersiap melakukan ancang-ancang.
“Tunggu Mel...sebelumnya nih ya....kau ingin melempar itu?”kali ini yang bertanya Evita. ia menatap horor kearah Amelya yang bersiap melempar batu ditangannya.
“Apa lagi....lagian kita perlu tiga manga..setidaknya tiga jangan hanya satu”Jawab Amelya sambil kembali keposisi.
Ia pun melempar sebelum Evita berbicara....
“Amelya....masalahnya....”
Swuuussshhhh
“Aduh!!!”
“Diseberang pohon ini ada jalan yang sering dilewati penduduk”lanjut Evita dengan wajah yang shock mendengar kata ‘aduh’ yang ada diseberang mereka.Indah dan Amelya membelakkan mata mendengar perkataan Evita dan aduhan seseorang.
“Sial...kena siapa lagi”ucap Indah dan Amelya meringis membayangkan lemparannya. Masalahnya lemparan itu tak tinggi Indah dan tak melewati lemparan Evita. tapi lemparan itu melambung, tak mengenai buah sama sekali. Malah mengenai orang. Matilah mereka bertiga.
Mereka bergegas menyusuri jalan yang dipimpin oleh Evita. setelah beberapa menit mereka melihat jalan yang lumayan luas, jalan ini juga bersemen.
Melihat kesegala arah, mereka melihat tiga orang Pria dan salah satunya tengah berjongkok sambil memegang batu ditangannya. Mata Amelya yang melihatnya tersenyum kikuk. Mereka pun mendekat.
“Maaf apa kalian tidak apa-apa?”tanya Evita terlebih dahulu. dan membuat Tiga orang itu langsung melihat kearah mereka. seketika itu juga mulut ketiganya berbicara tanpa berpikir.
“Talenan?”
“Matahari?”
“Kulkas 5 pintu”
Apa yang terucap tak mungkin tak didengar, Tiga Pria yang tak lain adalah Kakak Kelas mereka sendiri. Pria yang disebut Evita Talenan adalah Za yang berdiri disamping Echan. Yang disebut oleh Amelya Matahari adalah Echan yang berjongkok sambil memegang batu dan memegang jidatnya. Dan Pria yang disebut oleh Indah Kulkas 5 Pintu tak lain adalah Yoongi yang memegang dua Rating kayu.
Mata ketiganya membelak melihat dua Ranting kayu itu. Mereka tersenyum dan Amelya melarat panggilan mereka.
“Maafkan Kakak..kami salah ngomong....ah ya apa yang terjadi dengan kalian dan kenapa disini?”tanya Amelya.
Echan yang berjongkok langsung berdiri dan menjawab “Kami kesini sedang menikmati liburan oleh Kakek kami....dan tak sengaja berjalan disini, tapi hal aneh terjadi, ada dua ranting yang terlempar kearah kami. Kami sempat menghindar tapi batu ini tak sempat ku hindari”Echan menunjukkan jidat yang robek karena batu yang mengenai jidatnya.
“Mati aku”benak Amelya melihat kearah Jidat Echan yang mengalirkan sedikit darah merah yang segar.
“Eh..lemparan maut”guman Indah dan Evita yang membuat Amelya menyenggol keduanya.
Evita sedikit meringis dibuatnya begitu juga Indah. “Kalau begitu lebih baik diobati....mari kerumahku, aku punya P3K dirumah”ajak Evita. bukan apa ia ikut bersalah juga.
Mereka pun melangkah menuju kerumah Evita yang perlu waktu 20 menit kesana, karena mereka sedikit memutar. Evita menuntun jalan sambil meramalkan permintaan maaf, begitu juga Indah dan Amelya. Meski mereka yang berjalan paling depan. Mereka tak bisa berjalan beriringan, karena takut ketahuan.
__ADS_1