MANTIV

MANTIV
● Mantiv(60)


__ADS_3

setibanya dirumah, mereka bertiga langsung dikagetkan dengan Ibu mereka yang baru saja pulang.


“Astaga....Kalian kenapa Nak?”tanya Ibu Evita yang langsung bergegas lari kearah tiga pemuda yang mengendong salah satu putrinya.


“Itu ibu kami mendapat musibah”ucap Evita. bingung mau jawab apa.


“kemana kalian sebenarnya?”tanya Ibu Evita yang menyuruh Tiga Pemuda membawa gadis kedalam rumah.


“mereka berniat mengambil kembali mangga yang telah mereka jatuhkan”ucap Za menjawab pertanyaan Ibu Evita.


Za,Yoongi dan Echan menurunkan ketiganya dengan hati-hati. Dan pelayan pun langsung membawakan P3K yang ada.


Ibu Evita terteguh, bukan hanya dia, Pelayan, Evita,Indah dan Amelya sendiri ikut terteguh dengan Ketiga Pemuda yang mengobati mereka.


“Ini salah kami Tante...seharusnya kami melindungi mereka”ucap Echan dengan menundukkan kepala, membuat Za dan Yoongi mengikutinya.


“Ah tidak..kalian tidak salah..lagian memang mereka yang sedikit nakal dan kelewatan tingkah...lanjutkanlah....Tante akan naik keatas untuk membersihkan diri...”ucap Ibu Evita yang meninggalkan ruangan bersama pelayannya. Membuat suasana kini dipenuhi dengan rasa malu.


Amelya melihat Echan yang mengambil minyak urut untuk mengurut kakinya yang terkilir. “Maaf ini agak sedikit sakit”ucap Echan yang dianggukkan oleh Amelya. Dengan Krek Kaki Amelya merasa lebih mendingan.


“Terimakasih”ucap Amelya yang ingin menarik kakinya. Tapi ditahan oleh Echan “Belum...harus dipijit sebentar...dan Sama-sama”ucap Echan yang mengurut kaki Amelya dengan lembut.


Indah menatap kearah Yoongi yang menekukkan lututnya, dan meletakkan kaki Putih milik Indah dipahanya. Dengan pelan ia memeriksa kondisi kaki Indah.


“Sakit?”Tanya Yoongi yang langsung dianggukkan oleh Indah. “Maaf sedikit sakit”ucapnya dan seketika itu juga Indah mendapat serangan kejutan karena Yoongi tepat memperbaiki kakinya. Ah terkilirnya benar-benar menyakitkan.


“mendingan?”tanya Yoongi dengan tangan yang masih betah memegang Kaki Indah. Indah mengangguk, niatnya ingin mengangkat kakinya untuk membuktikannya keYoongi tapi malah salah, karena Kakinya malah menendang kepala Yoongi.


Seketika itu juga Indah turun dari sofa sambil mengosok kepala Yoongi yang terkena kakinya. Memang sial dirinya. Yoongi menahan tangannya, “Duduk”Ucapnya dengan nada memerintah, seketika Indah duduk didepan Yoongi. Tapi bukan duduk disofa. Kaki yang ditekuk membuat wajah Indah meringis.


“Naik kesofa”ucap Yoongi lagi dan Indah langsung melaksanakannya. Ia kembali duduk dan kakinya diambil oleh Yoongi untuk dipijat kembali.


Sedangkan Evita, ia harus melihat mata yang menatap tajam kearah dagunya. Bulu mata itu mengedip-gedip menarik perhatiannya. Hingga ia meniup mata itu, membuat sang empunya langsung menatapnya.


“heheh”Evita Cuma bisa cengir, lagian mau ngomong dagunya lagi dipegang oleh Kakak Kelasnya ini.


Setelahnya Plester dipasang didagunya, dan kemudian mengobati luka dikaki Kanannya. Untungnya tak terlalu parah.


Za mengobati dengan hati-hati, dan lagi-lagi hal itu menarik perhatian Evita sendiri. ia menatap Pria didepannya dengan wajah yang hanya beberapa inci.


Mata yang berkedip, hidung mancung, dan suara hembusan nafas yang tenang. Membuat Evita tersenyum dalam diam. Ia meniup lagi “Huh~”


Za yang mendapati seseorang tengah mempermainkannya, menghentikan kegiatannya dan memandang Evita. Evita yang dipandang langsung menjauhkan wajahnya dan berkata “Maafkan aku”ucapnya.


Za mengeleng, ia kembali menunduk. Evita kembali bereaksi tapi kali ini ia bukannya menyerang malah diserang. Karena Za langsung meniup kearahnya.


“Huh~”Evita yang mendapat serangan itu langsung menutup mata dan menjauhkan diri, ia mendengus karena Za kembali fokus mengobatinya. Dan sedikit tertawa karena simuka talenan bisa membalas juga.


Tak berapa lama Ibu Evita datang dengan membawakan minum dan cemilan. Ia meletakkannya dimeja dan ikut duduk. Tiga Pemuda itu duduk disamping Tiga Gadis, bedanya tiga gadis duduk disofa, dan tiga pria duduk di lantai. Membuat Ibu Evita terkekeh melihatnya.


“Apa mereka menghormati wanita?”benak Ibu Evita. ia kemudian berbicara “Nak...naiklah kesofa..sofanya masih luas”


Za,Yoongi dan Echan melirik kearah sofa yang kosong, mereka pun mengangguk dan duduk disofa yang kini muat untuk mereka bertiga.


“Jadi Evita...Indah...dan Amelya bagaimana apa merasa lelah akan hukuman yang diterima”ucap Ibu Evita. tiga Gadis yang mendengarnya menunduk.


“Kalian ini....nakal dan tak bisa mengontrol diri....setidaknya perlakukan tamu dengan baik, baru memikirkan buahnya...ooh ya tahu tidak, kenapa kalian bisa seperti ini?”tanya sang Ibu, Ketiga gadis langsung mengeleng. Sedangkan Ketiga Pemuda menonton pembicaraan, melupakan bahwa mereka sebenarnya harus pulang.


“itu karena kalian Puhunan, atau kepuhunan”ucap sang Ibu yang membuat kerutan kepada Enam orang yang mendengarnya.


“Apa itu Mah?”tanya Evita, dia baru mendengarnya.


“Kepuhunan atau Kepohonan adalah perkataan yang memberitahukan bahwa orang yang menolak makanan atau menyebut makanan akan mengalami musibah”jawab sang Ibu.

__ADS_1


“Musibah...seperti kami?”tanya Indah dengan memakan cemilan didepannya. Evita dan Amelya juga ikut mengemil.


“Yeah...ada beberapa yang bisa masuk dalam kepuhunan ini...pertama ketika seseorang menawarkan makanan, lebih baik di santap...atau dicicip, kedua ketika seseorang menyebutkan keinginannya, bukan dibenaknya tapi diucapkan dengan lisannya..itu bisa menimbulkan kepuhunan”jelas Ibu Evita.


“jadi kami Kepuhunan”ucap Amelya yang dianggukkan oleh Ibu Evita.


Ibu Evita melanjutkan “Masih aman jika kalian hanya diberi luka-luka...ada orang yang kepuhunan dipermainkan makhluk gaib..dan yang paling berbahaya Nyawa jadi taruhannya..jadi hati-hati jika menginginkan sesuatu”


Keenam orang pun mengangguk mendengar apa yang dijelaskan oleh Ibu Evita.


“Ooh ya....ketiga Pemuda ini...kalian menginap dimana?”tanya Ibu Evita mengalihkan perhatiannya kearah Tiga Pemuda yang sempat terabaikan.


“kami tinggal dirumah sewa Tante....lumayan jauh dari sini”ucap Echan. Memang benar karena Rumah Sewa itu dekat dengan sungai..dari pada rumah Evita yang jauh dari sungai.


“Ooh begitu...karena jauh dan ini sudah malam..kalian menginap saja disini”ucap Ibu Evita yang membuat Ketiga Pemuda itu terteguh.


“Menginap?..siapa?”tanya seorang Pria dengan nada dinginnya. Ia tak lain adalah Ayah Evita yang baru saja pulang dari kerjanya.


Ibu Evita langsung menyambutnya, begitu juga dengan Evita, dan dua Sahabatnya langsung berdiri.


“Ini Pah...Mereka orang yang menyelamatkan putri kita....setidaknya berikan mereka tempat untuk beristirahat semalam”ucap Ibu Evita membujuk Ayah Evita yang kini menatap kearah Tiga pemuda yang berdiri dan menunjukkan hormat mereka.


“Tak masalah....kamar tamu masih tersedia....tapi jaga sikap”ucap Ayah Evita yang kini membawa Ibu Evita pergi naik kelantai Dua.


Evita yang melihatnya hanya bisa mengeleng, adik-adiknya saat ini pasti sedang menikmati taman bermain dikediaman keluarga besar Alex.


“Baiklah...kak Za,Kak Yoongi dan Kak Echan, menginaplah semalam disini...nanti Pelayan ini akan membawa kalian...”ucap Evita yang kemudian duduk kembali, sama seperti Indah dan Amelya. Mereka tak tahan dengan kaki yang masih sakit ini.


Tak berapa lama, datang Pelayan yang membawakan rujak keinginan Nona muda mereka. seketika itu juga, Evita,Indah dan Amelya tersenyum dan langsung melahapnya. Mereka sempat menawarkan rujak kepada Kakak Kelas mereka, tapi langsung ditolak dengan lembut.


-


Setelah lima hari berlalu, akhirnya mereka bertiga kembali kekota, untuk menempuh ilmu.


Selain itu saat kejadian itu, mereka tak bertemu lagi dengan Kakak Osis mereka dihari yang lain. tapi itu tak membuat mereka berpikir keras, hanya berpikir ringan soal hal aneh yang terjadi didiri mereka.


Dalam perjalanan yang dimana suasana sedikit sepi, masing-masing terlelap dalam pikiran sendiri. membuat Inul dan Nabila sedikit merasa aneh.


“Apa yang terjadi dengan kalian?”tanya Inul kepada ketiga Gadis yang ada dikursi belakang.


Amelya dan Indah mengeleng. Sedangkan Evita menjawab “Sudah...fokus saja menyetir...jangan banyak tanya”meski jawabannya bukan yang diinginkan oleh Inul.


Karena mendapat jawaban itu, Inul kembali fokus sedangkan Nabila terdiam tak berani berbicara.


“Baterai mereka sudah habis?”benak Nabila dan Inul sambil menghadap kedepan.


Empat jam perjalanan, akhirnya mereka tiba, pertama mereka mengantar Indah terlebih dahulu, karena kediaman Indah lebih dahulu.


“terimakasih liburannya”ucap Indah dengan nada Malasnya. Evita menjawab “Yo sama-sama”


Indah pun masuk kedepartmentnya dan memilih untuk merebahkan diri, ia tak menikmati liburan kali ini. Masa hari pertama nya saja yang penuh canda dan tawa, hari kedua sampai pulang malah menikmati pemandangan yang membosankan karena kakinya yang sakit.


Tak berapa lama tiba dikediaman Amelya. Amelya turun dari mobil dan mengambil barangnya. “terimakasih breee liburannya rada menyenangkan”ucapnya, Evita mengangguk “Yeah rada....sama-sama”ucap Evita.


Setelahnya baru tiba dikediaman Evita. kali ini mereka melesat pergi kekediaman utama keluarga Kim. Evita ada urusan disana.


“Inul dan Nabila..jaga rumah baik-baik...pagi-pagi aku akan kerumah..awas sampai kotor”ucap Evita yang langsung dianggukkan oleh Inul dan Nabila. Setelahnya mereka melesat kekediaman Evita yang kedua.


Evita masuk kedalam rumah tanpa menekan bell, memang sudah menjadi kebiasaannya, lagian ini rumahnya juga. Pelayan yang tengah sibuk karena harus bebersih-bersih kaget melihat kedatangan Evita.


“Selamat Sore Nona Evita”ucap mereka menyapa, Evita hanya tersenyum. Ia melangkah menuju keruang tamu yang kini terlihat dua orang yang tengah berbicara dengan suara yang bahagia.


Melihat hal itu, Evita langsung berteriak “Ibu....Ayah”ucapnya dengan nada bahagia, tapi melihat yang memandangnya membuatnya langsung berhenti ditempat dengan wajah yang datar.

__ADS_1


-


Amelya baru saja tiba, ia dikagetnya dengan tamu yang ada dirumahnya. Tak mengira bahwa ada yang bertamu.


“Sore...Ibu..Ayah”ucapnya yang ingin melangkah pergi.


“Amelya....setelah mengantar tas mu...bisa kau turun dan bergabung disini”ucap sang Ibu. Yang membuat Amelya mengangguk.


Setelah membersihkan diri sebentar, Amelya langsung turun memenuhi permintaan Ibunya.


“Duh....Amelya cantik banget ya....sangat cantik”ucap Seorang wanita yang kini duduk dengan menikmati tehnya.


“Iya...usainya masih muda....bu...saya jadi tak tega”ucap Ibu Amelya sambil menuntun Putrinya untuk duduk disampingnya.


“Tak apa Bu..lagian Hun Kei juga masih muda....tapi mereka masih bisa menjalani hubungan”ucap Wanita itu menarik indra pendengaran Amelya yang mulai memahami kearah mana perbincangan ini.


“Nak..kau sekolah dimana?”tanya Wanita yang kini memandang Amelya. Amelya menjawab dengan sopan santunnya. “Sekolah SMK N1”ucapnya yang langsung dianggukkan oleh Wanita dihadapannya.


“Nanti bertemanlah dengan Hun Kai ya.....kalian berdua pasti cocok....yasudah...Ibu Amelya, aku izin pamit ya....nanti kapan-kapan kita kumpul lagi”ucap Wanita yang tak lain adalah Bibi jauh Amelya.


Atau Adik Sepupu Ayahnya Amelya. Pamannya inilah yang menjadi lirikan Amelya, karena yang ditahu olehnya bahwa Pamannya ini sedikit licik.


Setelah kepergian Bibi dan Pamannya, Amelya kini menghadap kearah Orang Tua yang ingin pergi tak mau menjelaskan apa maksud dari ucapan Paman dan Bibinya.


“Ibu..Ayah...apa kalian berniat menjodohkanku?”tanya Amelya,membuat Ibu dan Ayahnya langsung terdiam ditempat.


“Nak..maafkan kami”ucap Ibunya yang kini memeluk Amelya. Amelya terdiam, ia masih ingin mendengar penjelasan orang tuanya.


Ayah Amelya duduk langsung dilantai karena tak sanggup lagi berdiri, tapi itu tak membuat Amelya goyah, ia takut bahwa kejadian ini hampir sama dengan kejadian Indah. Tak mungkin kan orang tuanya tega melakukannya.


“Maafkan Ayahmu ini..karena tak sanggup menahan hutang perusahaan kita...hingga Pamanmu ingin mengambil alih perusahaan”ucap sang Ayah dengan wajah yang bersalah. Membuat Amelya menatap ibunya yang menangis terisak dengan memeluknya.


“berapa hutang perusahaan Ayah..Aku punya tabungan, siapa tahu bias membantu”ucap Amelya dengan suara yang gemetar. Ia merasa takut sekarang. Ibunya makin menangis mendengar pertanyaan Amelya yang seakan-akan sanggup menebusnya.


“Lima....lima Puluh....”belum selesai Amelya langsung memotong pembicaraan.


“Lima puluh juta...Black Cardku itu bisa langsung menebusnya”ucap Amelya dengan cepat.


“Tidak..sayang Tidak...Lima Puluh Miliar...kita mengalami kerugian dan ditipu oleh orang agen kita sendiri”


Bagaikan disambar petir, Amelya langsung bertekuk lutut. Sebanyak itu...sebanyak itukah hutang mereka. apa yang terjadi dengan keluarganya.


“Ayah....kita meminta bantuan Evita....dia..dia bisa membantuku Ayah...ayuk kita memberitahunya”ucap Amelya. Ia hanya bisa memikirkan cara ini.membuat Ibunya menangis tak tega, karena mereka merasa harus menjual putri mereka sendiri.


“Anakku...Evita tak akan sanggup melakukannya, jika ia membantu kita...ia harus menghadap keluarganya, kau tahu keluarganya punya peraturan, jika mengambil keputusan sendiri, ia akan melangar aturan Amelya...apa lagi untukmu, ia pasti akan langsung melakukannya”Ibu Amelya menatap putri satu-satunya. Ia memeluknya.


“Ibu tak bisa memikirkan cara lain...anakku, lebih baik kau pergi, biar ibu dan Ayahmu yang menangung segalanya..pergi dan bersama dengan Evita”ucap Ibunya yang mendapat anggukkan oleh Ayahnya.


“tapi ibu....aku tak bisa meninggalkan kalian..hiks..hiks”Amelya kini menangis. Ia tak sanggup lagi sekarang.


“Ibu..Ayah...aku akan menerima perjodohannya...asal kita bisa mengembalikan keadaan”ucap Amelya mengambil keputusan akhir. Mendengar hal ini membuat Ibu dan Ayahnya terteguh.


“Tidak anakku..kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti kepadamu....kau akan berpisah dengan kami..kau akan tinggal selama perjodohan itu dijalankan..tidak putriku..tidak”Ibunya mendekap putrinya dengan erat tak sanggup mengkorbankan putrinya sendiri.


“Nak...tak perlu..biar Ayah dan Ibu yang menanganinya”ucap Ayahnya yang kini ikut memeluknya.


“Tidak..kali ini biar Amelya yang membantu Ayah dan Ibu...ku mohon”


Kedua orang tuanya langsung bungkam dengan apa yang diucapkan oleh Anak mereka. karena kali ini terlihat tekad sang Anak untuk menompang tangung jawabnya.


Membuat orang tua langsung memeluknya lagi dan tengelam dalam tangisan yang hanya mereka yang bisa mendengarnya.


Amelya terdiam dengan air mata yang mengalir, mungkin ini jalan hidupnya, setidaknya Indah dan Evita masih akan bersamanya dan orang tuanya akan mendukungnya. Ia yakin akan bisa melewati hal ini. Dan berharap bisa berjalan dengan tak memberikan ia luka yang dalam.

__ADS_1


__ADS_2