
semua orang yang hadir mengunakan topeng dimata mereka. hingga yang hanya mengenal merekalah yang tahu siapa mereka. sedangkan yang tak mengenali hanya akan menganggumi tanpa arti.
Begitulah yang terjadi saat seorang Pria keluar seorang diri. Dengan setelan yang serba biru Malam. Ia melangkahkan kaki jenjangnya menaiki tangga yang ada. semua wanita dan pria bahkan pasangan melihat kearahnya. Pria itu telah mengenakan topeng dengan warna biru yang sangat cerah berpaduan dengan matanya yang berwarna hitam kecoklatan.
Pria itu berhenti melangkah ketika melihat pasangan yang dikenal olehnya. Ia langsung tersenyum sinis melihat hal yang baru ditemuinya. Dengan mata cerah kegelapan itu, ia menyapa dua orang yang tak melihat kearahnya.
“Malam Tuan dan Nyonya...”ia tak bisa melanjutkan pembicaraannya karena ingin mengetahui siapa Nyonya dan Tuan didepannya ini.
Pria yang bermarga Zhan itu langsung menatap kearah Pria yang berkulit madu. Tatapan mereka bagaikan petir yang saling menyambar membuat Navi N memundurkan tubuhnya.
“Mavin Vintorin”guman Zhan Za Chen melihat kearah Mavin Vintorin yang tersenyum padanya.
“Waaah..tenyata Tuan Muda Zhan....bersama Nona Muda Navi”ucap Mavin Vintorin. Navi yang mendengar namanya sedikit kaget. Ia tersenyum lalu merendahkan sedikit tubuhnya untuk memberi salam.Mavin membalas salaman itu dengan anggukkan.
Ia kemudian beralih pada Zhan Za Chen yang masih menatap tajam kearahnya. Melihat hal itu ia tak mau kalah dengan pandangan yang tajam lewat dari topeng yang dikenakan.
Tak ada yang menang dalam perang pandangan itu, Hingga suara ricuh dari sang pemilik Pesta menyambut sang tamu yang dinanti.
Sebuah mobil berhenti, dan seorang supir membukakan pintu, terlihat kaki jejang seseorang. Kaki mulus yang terespos dengan sangat mencolok membuat semua orang terdiam melihatnya. Tak hanya dipintu satunya. Dipintu yang lain juga seseorang keluar dengan kaki jejangnya.
Dan yang terakhir seorang wanita keluar dengan penampilan yang sama. Hanya membedakan mereka dari gaun yang dikenakan. Sudah dipastikan bahwa yang paling tinggi adalah si paling muda dan yang tinggi tak seberapa adalah yang tertua.
Sang Pemilik pesta langsung turun dari tangga melangkah mendekati wanita bergaun merah maroon. Ia bahkan memeluknya.
“Selamat datang Evita”ucapnya membuat Mavin dan Za menatap kearah wanita yang mengunakan topeng berwarna merah. Tak hanya mereka berdua seorang pria dari kejauhan juga melihat karah wanita yang disapa oleh Pemilik Pesta.
“Mari masuk”ucap sang Pemilik yang bernama Merlina. Gadis yang berusia 22 tahun. Ia mengunakan gaun yang mewah tentunya dengan penghias rambut yang manis. Hingga wajahnya terlihat sangat imut.
“terimakasih Merlina”ucap Evita yang melangkah menyusuri tangga. Sambil melihat kearah dua orang pria bersama wanita. Mereka saling menatap. Tapi Evita hanya menatap sekilas dengan tatapan tenangnya.
Yoongi dan Echan dibuat kaget dengan melihat wanita yang berjalan dibelakang Kakak Ipar mereka, bukan maksudnya Evita. Wanita yang mereka lihat dengan masing-masing mengenakan topeng berwarna biru terang dan yang satunya biru langit. Ada rasa aneh yang muncul dihati mereka. membuat mereka berdua menyentuh dada yang berdegup kencang.
Evita, Indah Dan Amelya telah masuk kedalam pesta disusul dengan yang lain. mereka semua menatap kearah tamu yang sepertinya sangat penting saat ini. Contohnya para pelayan menuju kemeja tempat sang tiga wanita itu duduk.
“Siapa mereka?”
“Apa mereka artis?”
“aku dengar namanya Evita”
“Evi...tunggu Evita...bukannya orang itu dikenal dingin ya”
“kau benar.....kalau dia Evita, maka yang lain?”
“Indah dan Amelya”ucap seseorang yang terdengar oleh Yoongi dan Echan. Mereka terdiam sesaat memandang kearah tiga wanita yang asing menikmati hidangan.
“Para tamu yang terhormat...terimakasih telah datang kepesta ku, dengan usia yang kini menginjak 22 tahun, aku sangat senang bisa merayakannya dengan kalian...khususnya Tuan Mavin, Tuan Zhan,Tuan Xue, Tuan Taoran dan Nyonya Evita...”
Ia melanjutkan “Malam ini adalah puncaknya..jadi nikmati pesta yang dibuat olehku ini.......”
“Yeahhhhhh” semua orang mengangkat wine mereka. untuk menunjukkan persetujuan langsung tentang apa yang diucapkan oleh Merlina. Ia pun tersenyum dan bergabung dengan orang-orang yang ada.
Dari kejauhan seseorang memandang kearah tiga gadis yang datang. Ia meletakkan wine dimeja lalu memainkan pisau dan garpu untuk memotong steak yang disajikan.
Pesta yang dijalani oleh Evita, Indah dan Amelya adalah Pesta yang teratur, jam segini khusus makan Malam. Setelahnya akan ada permainan.
Mereka bertiga makan dengan tenang sambil berbincang-bincang dengan pengusaha lain.
“Waah sangat jarang bertemu dengan Nyonya Evita disini..bahkan Nyonya Indah dan Amelya”ucap salah satu pengusaha bersama pasangannya. Evita dan Indah mengangguk mendengarnya.
__ADS_1
“Anda berlebihan Tuan”Amelya tak ingin para Tamu ini merasa dicueki oleh dua Sahabatnya.
“apa kalian tengah menjalankan bisnis?”pertanyaan kembali diberikan. Dan yang menjawab kali ini adalah Indah. “tentu Bisnis Pakaian...apa ingin berkerja sama Tuan?”ada nada yang tersembunyi dari ucapan Indah. Jujur saja saat ini ia tak menyukai seorang penjilat. Mereka pengusaha pasti akan mencari tempat yang aman untuk bisnis mereka. setelahnya mereka akan mulai bermain-main dibelakang. Dan membuat dampak besar dari yang bersangkutan. Ini yang membuatnya terlalu Malas menghadapi sang penjilat.
“Ah....hehe..kalau bisa ya...boleh berkerjasama”sedikit cengiran yang diberikan tapi sayang Evita menghentikan niatnya dengan memotong steak lebih keras dari biasanya.
“Maaf Steaknya terlihat keras”ucap Evita untuk mengakhiri akting sial yang dibuat oleh orang yang berdiri didekatnya.
Indah menutup mulutnya, menahan tawa yang saat ini didapat olehnya. Tuan perusahaan itu langsung terdiam, dan dengan kikuk pergi setelah memberi salam. Membuat Amelya bernafas dengan lega.
“Menganggu”ucap Evita dengan santai. Seseorang datang lagi di meja mereka. tapi yang datang kali ini adalah seorang wanita. Membuat suasana yang tadi tenang menjadi sesak nafas.
“Kau datang sendiri?”Evita yang berbicara sambil memotong steak yang ada dipiringnya. Lalu memakannya. Orang yang diajak berbicara tersenyum. Ia saat ini duduk berlawanan arah dengan Evita.
“Kau datang, tentu aku harus datang....lagian kau sangat tahu bahwa aku akan datang kesini”
“Seorang pencuri atau penjahat akan meninggalkan baunya, maka ada seekor anjing yang menunjukkan arahnya...tak perlu menyembunyikan identitasmu...langsung saja hadapi aku”Evita memberikan potongan yang tajam membuat semua orang menoleh kepadanya. Dan setelahnya mereka kembali tenang.
“Sabar Nona Evita....saat ini pesta dimulai, nikmati dulu setelahnya baru kita selesaikan oke”ucapnya lalu melangkah pergi meninggalkan Evita yang terdiam mendengarnya.
Diruang bawah tanah Mansion Evita. Ia melangkah menuju ketempat penahanan Anjing-anjing musuhnya ini. Sudahlah ia tak bisa menunggu sang Pelaku utama keluar, ia harus mencari terlebih dahulu.
Tiba ditempat, ia melihat dua orang tengah mengobati luka yang sepertinya hasil dari amukkannya. “Kalian telah selesai saling mengasihani?”Tanya Evita yang menarik perhatian dua orang yang tengah membalut luka.
Feliya menatap dengan gemetar lalu bersembunyi dibelakang Sintra yang tengah membalut luka Feliya. Feliya memiliki tato naga dibelakang tubuhnya, dan tato itu harus bertambah dengan luka yang diterimanya.
“Ada perlu apa?”tanya Sintra yang menenangkan Feliya dibelakangnya. Feliya telah gemetar saat pertemuan terakhir waktu itu. Entah apa yang membuatnya begini. Membuat Sintra melindungi dan merawatnya dengan tulus.
“Aku ingin bertanya, selain kalian..ada penembak jitu yang digunakan, meski ia tak menembak, ia mengunakan laser dari senjatanya untuk mengalihkan perhatian...siapa yang menyuruh Pria itu?..yang ku tahu saat ini pemerintah melarang penembak jitu dilakukan..kenapa ia bisa mengunakannya dengan mudah?”tak basa basi. Semua pertanyaan diotak keluar dimulut Evita tanpa memberi nafas untuk Feliya. Ia bahkan merasa tercekik mendengar suara Evita.
“Bisa kita berbicara ditempat lain..Feliya tak menyukaimu”ucap Sintra yang kembali menenangkan Feliya. Melihal hal itu Evita menyuruh Pengawalnya untuk mengeluarkan Sintra keruangan satunya dan Feliya dirawat oleh dokter yang disuruh.
Sintra bingung dengan Evita, kenapa ia tak membunuh Feliya saja, dari pada mengobatinya.
“Aku?...aku hanya tak ingin objek musuh menjadi gila gara-gara amukkanku, lebih baik ia mati dalam keadaaan waras dari pada gila”Sintra terdiam mendengar apa yang diucapkan oleh Evita.
“Seberapa benci dirinya ini?”benak Sintra. Ia mengambil nafas dan mulai menjawab pertanyaan Evita yang tadi.
“Aku tak tahu siapa pria penembak Jitu itu..yang ku tahu hanya bossnya..selain itu untuk masalah bagaimana pemerintah mengizinkan hal ini, bukannya anda seharusnya tahu Nyonya Evita..bahwa ada anak pengusaha yang mampu menundukkan pemerintah. Lebih tepatnya menyembunyikan hal ini dari pemerintah” Sintra menjelaskan dengan nada yang sedikit mengejek walau pandangannya tak berani menatap Evita yang masih dengan tenang mendengarkan kalimatnya.
Ia melanjutkan “Wanita ini sangat manja, ia adalah Nona Muda Merlina...sang anak kesayangan Tuan..”
“Cepat sebutkan saja siapa namanya, tak perlu sebutkan Anak kesayangan siapa, aku bisa meruntuhkan kesombongan Tuan tua bau tanah itu”ucap Evita yang membuat Sintra langsung meneguk kasar ludahnya sendiri.
“Ini wanita apa pria?..kasar sekali”benak Sintra, ia melanjutkan lagi “Merlina merupakan salah satu jembatan untuk wanita yang suka berjudi. Ia wanita yang sangat mencintai judi dan uang. Wanita ini juga menyukai permainan yang dimainkan oleh para keberuntungan dadu..ia tak lain adalah....
“YELANI”Guman Evita yang menatap kearah wine yang ada dihadapannya. Ia harus tenang, saat ini meski didalam wilayah musuh, setidaknya ada ketenangan yang ada didirinya.
“Evita”panggil Amelya yang menyerahkan sebuah kartu. Kartu berwarna hitam. Masing-masing dari mereka mendapat satu.
“Kepada tamuku yang terhormat, kalian telah mendapatkan kartu-kartu itu...isi dari Kartunya adalah angka. Jadi kita akan bermain saat ini. Permainannya adalah Mari berdansa denganku....”Merlina menunjukkan kartu hitam ditangannya dan didalamnya terdapat angka yang tertulis huruf tebal yaitu NOL.
Ia melanjutkan “Permainan kali ini hanya berdansa dengan nomor yang sama, jika kau bernomor 1 maka cari pasanganmu. Dan jika telah menemukannya, maka langsung ajak berdansa bersama mu...masing-masing kartu terpisah ya, karena jumlah kalian telah kami tentukan...jadi MARI KITA MULAIIIII”
Semua orang langsung membuka kartu yang didapat oleh mereka. dan setelah melihat angka yang didapat semua langsung melihat kearah para wanita.
Kali ini wantia duduk di meja, sedangkan pria berdiri, mereka melihat kartu-kartu yang diangkat oleh para wanita.
“Mari berdansa denganku..”perkataan yang makin banyak diucapkan. Dan alunan musik mulai berbunyi. Para pria yang telah mendapatkan wanita yang bernomor sama, mereka pun berdansa dengan indahnya.
__ADS_1
“Kau mendapatkan nomor berapa?”tanya Intari dengan pandangan menuju kekartu Evita.
“Aku tak membukanya, biarkan saja...jika kalian ingin bermain, bermainlah”Evita meninggalkan mejanya menuju kearah tangga untuk melihat pesta dansa dari lantai dua.
Amelya menatap kartu yang belum dibuka olehnya. Ia pun membuka dan melihat sebuah angka dengan font tebal, angka 48.
“Kau mendapatkan angkanya Amelya?”tanya Intari sambil meletakkan kartunya. Ia Malas bermain, ia memilih untuk memakan sajian yang masih belum selesai dimakannya.
“Yeah..angka 48”ucap Amelya yang langsung mengangkat kartu itu tinggi-tinggi.
Lama ia menunggu hingga membuat tangannya pegal karena tak ada yang datang ia turunkan kartu yang diangkatnya. Namun
“Mari berdansa denganku...Nona Amelya”
Intari langsung menjatuhkan steak yang dimakan olehnya, melihat kearah pria yang berdiri dibelakang Amelya. Amelya juga terdiam mematung mendengar suara yang tak asing didirinya. Ia sangat mengenal suara ini. Suara yang membuatnya tenang disetiap namanya terpanggil.
Amelya langsung membalikkan tubuhnya melihat kearah Pria bertopeng dengan senyum yang ditunjukkan dan mata yang menatap kebingungan.
“Tidak..ini bukan Echan kan?”benak Amelya. Ia menatap tangan yang masih betah terulur itu. Dengan memberanikan diri ia mengambil tangan itu dan setelahnya ia dituntun untuk berdiri. Melangkah menuju altar pangung yang disediakan.
Sebuah putaran pertama diberikan, dan seketika itu juga tubuh Amelya bergerak mengiringi nada dan dansa pria didepannya. Mereka memberikan gerakkan halus yang menjadi keindahan untuk dilihat.
Intari langsung berdiri dari duduknya, melihat hal ini sangatlah langka untuknya, “sial..kami berniat melupakan saat itu juga kami Malah dipertemukan...tunggu!”kesadaran Intari langsung mengambil alih. Ia menatap kesegala arah hingga membuatnya tersandung.
Brukkk
Intari menatap kebelakang untuk melihat siapa yang menolongnya dari tersandungnya. Ia membelakan mata melihat mata pria yang tak asing didepannya. Ia terdiam dan menunduk. Ingin pergi tapi...sebuah pelukan didapat olehnya karena hasil dari dorongan seseorang.
“Hei pak..matamu kau taruh dimana, Malah dorong orang sih”membentak tapi dalam benak. Pengen ngomong tapi takut Yoongi menyadari bahwa ini adalah dia, Indah Lestari.
“kau tak apa-apa?”pertanyaan yang keluar dari mulut Yoongi melihat wanita asing tapi sangat familiar untuknya.
“apa dia Indah”benak Yoongi. Melihat wanita dipelukkananya mengeleng. Dan ingin melepas diri tapi sayang jatuh lagi. “apa kakimu terkilir?”tanya Yoongi lagi.
Membuat Intari muak dengan nasibnya ini. “Ya tuhan...kau memberikan ku kesialan apa keberuntun kali ini”benak Intari.
Karena tak mendapat jawaban dari wanita dipelukannya. Yoongi berinisiatif mengandeng tangan itu lalu menuntunnya keluar dari kerumunan orang.
“Aku akan membantumu”ucap Yoongi. Intari hanya bisa pasrah dengan nasibnya kali ini. Yeah mungkin memang tiba hari keMalangan untuknya.
Sedangkan ditempat lain, dansa tetap berlanjut. Langkah demi langkah mereka lakukan. Tak membuat kesalahan dalam setiap gerakkan. Yang menjadi daya tarik untuk menonton. Orang-orang yang tadi menari berdampingan menjadi berhenti karena kagum melihat dansa dari pasangan yang tak tahu siapa mereka.
Amelya menatap kearah Echan dengan tatapan mencari tahu. Ia masih ingin mengetahui siapa pria ini dan berhadap bahwa pria ini bukan Echan. Tubuh Amelya diangkat dengan gampangnya oleh sang Pria. Dan Amelya memberikan gerakkan yang indah saat ia diangkat.
Setelahnya, Echan memberikan putaran lagi pada Wanita yang ingin dicari tahu olehnya ini. Amelya gadis yang asing tapi familiar untuknya. Bahkan tak perlu dicari lagi, Amelya ini pasti kekasihnya yang terlupakan oleh dirinya.
Tangan kanan Echan menyentuh pingang ramping itu. Dan tangan satunya lagi membentang dengan menyesuaikan tangan sang Wanita. Melangkah maju, mundur, kanan dan kiri dilakukan.
Amelya merasa bahwa kesialannya telah tiba, bagaimana tidak. Ia melihat dengan jelas bahwa mata pria didepannya mirip dengan mata Echan. Mata yang selalu membuatnya tenang jika dipandang. Amelya benar-benar merasa sial.
“kapan ini selesai”benak Amelya yang masih melakukan beberapa gerakkan. Sedangkan Echan entah kenapa sedikit demi sedikit memori ingatannya terbuka.
“Apa kau menolakku?”tanya Echan yang mengejar seorang wanita yang tengah berjalan meninggalkan dirinya.
“apa maumu?”tanya wanita itu, ia menatap Echan, Echan melihat dengan bayangan suram tapi suaranya terdengar jelas.
“Aku bilang aku suka kamu..dan aku ingin kau jadi milikku, apa kau mau?”tak ingin menyerah, ia menghalangi langkah wanita yang ingin pergi meninggalkanya setelah mendengar perkataannya.
“Aku?.....aku menolak”jawab wanita itu. Ia melangkah melewati Echan. Namun sayang Echan dengan cepat menahan kepergiannya.
__ADS_1
Wanita itu melanjutkan “aku juga tak menyukaimu” ia ingin pergi, namun sayang Echan Malah memeluknya dari belakang “Kau mengatakan tak menyukaiku, tapi hatimu?”
Memori yang singkat itu berhasil membuatnya semakin percaya bahwa gadis didepannya adalah Amelya, atau panggilan sayangnya Ara.