
Wajah Chan Ye tidak tampak sedap untuk dipandang. Terlihat sekali kekecewaan diwajahnya setelah melihat apa yang terjadi.
“Ha!, kalian mengerjai diriku?”tanya Chan Ye dengan nada kesalnya.
Yoongi memeluk Intari dengan sangat dekat, dan memamerkan ciuman singkat di kepala Intari. Wajah Chan Ye yang sudah dilanda kekecewaan semakin emosi.
“Apa kalian bisa membuktikan kepadaku bahwa kalian sudah menikah?”tanya Chan Ye dengan nada bicara yang menahan emosi.
Yoongi menatap dengan pandangan datar kearahnya, “Periksalah dicatatan sipil, apakah ada nama ku dan Indah disana?”
Chan Ye dengan wajah kesal melangkah pergi meninggalkan restorant Indah. Indah tidak menatap kearah perginya Chan Ye karena menurutnya sudah tidak ada lagi urusan ia dan Mantan Kakak Kelasnya itu.
“Kenapa kamu datang?”tanya Intari dengan menatap kearah Yoongi. Yoongi mengecup singkat jidat Intari dan menjawab, “Kakak Ipar mengatakan kepadaku bahwa Istriku akan diambil oleh orang lain, maka dari itu aku datang kesini dan menyelamatkan Istriku”
Mendengar jawaban dari Yoongi, membuat Intari tertawa bebas, ia tidak menduga ternyata Suaminya bisa melakukan hal seperti ini.
“Apa ingin makan malam?”tanya Intari kepada Suaminya. Yoongi tersenyum dan berbisik manis yang membuat wajah Intari memerah.
“Ayo pulang, dan mari makan”ucap Yoongi dengan menarik tangan Intari. Intari menelan silvanya karena ia tahu maksud dari mari makan itu, pasti hal yang akan membuat tubuhnya remuk.
-
Diwaktu yang sama..
“Apakah benar, kalian berdua sudah menikah?”tanya Suno Rin dengan nada yang penuh akan kesopanan, meski ia berbicaranya dengan wajah sedihnya.
“Benar, Kami sudah menikah beberapa bulan yang lalu, sayangnya kami tidak mengadakan acara atau memberitakan pernikahan kami”jawab Echan dengan mengenggam tangan Amelya.
Yeah Amelya tidak menduga Echan datang tepat saat Suno Rin ingin melamarnya. Karena bagaimana pun Amelya ingin membuktikan bahwa ia sudah menikah dengan bahagia bersama Suaminya. Dan agar Suno Rin tidak menganggap dirinya berbohong.
“Huh~, aku ucapkan selamat kepada kalian..aku tidak menduganya, ternyata aku terlambat mengejar Amelya, jikalau aku tahu sainganku adalah dirimu Echan,aku pasti sudah mengejar Amelya lebih cepat”
Amelya diam mendengarkan apa yang dikatakan oleh Suno Rin, ia diam-diam tertawa dengan apa yang diucapkan. Karena Amelya mengingat begitu jelas, betapa takutnya Suno Rin kepada Echan yang merupakan ketua osis saat SMK dulu.
“Terimakasih”ucap Echan yang membawa Amelya pamit dari Cafe. Meninggalkan Suno Rin yang menatap sedu kearah mereka.
Didalam mobil..
“Kenapa dengan wajahmu Ara?”tanya Echan kepada Istrinya yang diam sampai mereka tiba didalam mobil.
“Apa kamu merasa tidak enak menolak lamaran Suno Rin?..apa kamu ingin memiliki dua suami?”tanya Echan dengan begitu cepat.
Amelya yang mendengarnya menjadi kelagapan, ia tidak menduga pikiran Echan mengarah kesana.
“Ah tidak, aku tidak memikirkan itu..hanya aku merasa tidak enak, ia membayar makanan yang ia pesan”ucap Amelya dengan wajah seriusnya.
Echan yang mendengarnya kembali menatap kearah depan, “Kan dia yang memesan makanan itu, kenapa harus kamu yang membayarnya, lagian jangan pikirkan hal itu. bagaimana kalau kita memikirkan cara untuk menyusul Kakak Ipar”
“Menyusul Kakak Ipar?”Amelya menatap bingung dengan apa yang dikatakan oleh Suaminya ini.
Wajah Echan tersenyum cerah, dan dalam hitungan detik. Kecupan singkat dibibir, terasa oleh Amelya.
“Yeah, menyusul untuk mendapatkan dedek Bayi”ucap Echan yang menyalakan mesin mobil. Amelya memerah mendengarnya, ia menatap Echan yang fokus menyetir.
“Ayoo...apa aku akan baik-baik saja?”benak Amelya.
-
Pagi hari menyambut dengan begitu indahnya, Evita melangkah keluar dari kamar menuju ke ruang tamu dimana ada Sebastian yang siap mengantar dirinya.
“Selamat pagi Nyonya”sapa Sebastian dengan senyum ramah. Evita mengangguk membalas sapaan Sebastian.
“Kita berangkat sekarang?”tanya Sebastian. Evita menjawab “Tunggu Za datang, oh ya...bisa atur pertemuanku dengan Paman A, jika bisa hari ini juga dilaksanakan”
__ADS_1
Sebastian mengangguk, ia menatap tablet ditangannya dan mulai mengetik segala jadwal bahkan membuat ruang untuk pertemuan Evita dan Paman A.
“Ayo berangkat”ucap Za datang dengan setelan yang tampak rapi. Evita mengulurkan tangannya untuk merapikan dasi Suaminya.
“Dimana Adik-adikmu, apa mereka sudah pulang?”tanya Evita yang mengenggam tangan Za. Za mencium pungung tangan Evita, “Ku rasa mereka akan bangun pada sore hari, tenang saja..mereka akan datang kok”
“Baiklah”
Evita, Za dan Sebastian melangkah keluar dari mansion. Mereka pagi ini akan pergi kemansion Evita yang lain, dimana ada Feliya dan Sintra yang masih bernafas dengan tenang.
Perlu waktu untuk tiba dimansion itu, Evita menyempatkan diri untuk tidur. Karena bawaan hamil, ia sering mudah tertidur. Dan Za yang akan melindunginya.
Ciiit!!
“Nyonya dan Tuan, kita sudah tiba”ucap Sebastian yang membuka pintu mobil, dimana Za dan Evita melangkah keluar.
Mansion yang telah ditinggalkan ini sangat membuat Evita merasa tidak enak hati. “Za apa sebaiknya Mansion ini ku berikan kepada Amelya dan Intari?”tanya Evita.
Za melangkah bersama Evita untuk masuk kedalam mansion. “Menurutku tidak perlu dijual, mansion ini bisa berguna untuk anak-anak kita”jawab Za dengan santai.
Evita menatap kearah perutnya yang membuncit, ia tersenyum dengan mengusap perutnya. “Kamu benar, lagian Intari dan Amelya memiliki mansion yang ditinggalkan oleh keluarga mereka”
Za mengangguk mendengar ucapan dari Istrinya. Mereka pun melangkah hingga keruang bawah tanah. Terlihat oleh mereka beberapa pengawal yang datang memberikan hormat.
“Selamat datang Tuan dan Nyonya”sapa mereka bersamaan, Evita dan Za mengangguk.
Berdiri didepan Sel, terlihat seorang wanita tengah duduk menatap kearah Evita.dan seorang pria yang tengah menyiapkan sarapan pagi dengan bumbu masakkannya. Tercium sekali dihidung Evita.
“Apa kalian bahagia tinggal didalam Sel?”tanya Evita yang menarik perhatian dua orang.
Sintra dan Feliya. Keduanya bergegas mendekat kearah Evita. “Dirimu datang?...ku pikir kamu telah meninggal hingga melupakan kami”ucap Feliya dengan nada menyindirnya.
Evita tidak memperdulikan ucapan Feliya, ia memperhatikan Sel yang berubah, seharusnya Sel itu hanya berisikan kasur dan perlengkapaan sederhana, dan sekarang sel itu tampak seperti rumah kost yang begitu bersih.
“Seperti yang dirimu lihat, kami memang bahagia”Feliya dengan cepat menjawab ucapan dari Evita, ia bahkan mengucapkan kalimatnya dengan nada penuh akan kekesalan.
“Kamu sangat kesal kepadaku Feliya, yeah tidak ada yang salah dengan apa yang kamu ucapkan itu, aku ingin menyampaikan sesuatu kepada kalian. Ini mungkin pertemuan terakhir kita”ucap Evita yang membuat Feliya dan Sintra terteguh.
“Apa yang dirimu maksud Evita?”Sintra menghalangi Feliya yang ingin mengamuk. Yeah bisa dibilang Feliya masih menaruh kebencian mendalam kepada Evita. jadi tidak heran ia menatap tidak suka kepada Evita yang muncul tiba-tiba.
“Sebenarnya aku tidak ingin membebaskan kalian, tetapi aku tidak ingin anak didalam kandunganku meniru sikap ibunya, jadi hari ini akhir dari kalian berada disini”
Pengawal bergegas membebaskan Feliya dan Sintra. Wajah kedua orang yang ada didepan Evita tampak begitu kebingungan.
“Aku tidak tahu, apa dirimu sudah menjadi seorang wanita yang sangat baik, hingga membebaskan penjahat seperti kami?”Feliya bertanya dengan nada yang pelan. Seakan-akan ia tidak percaya dengan apa yang didapatkan olehnya.
“Menurutmu?”Evita memandang Feliya dengan pandangan tenang.
Melihat hal tersebut, Feliya langsung mengeleng dan menatap kearah lain.
“Kita akan berbicara diruang tamu, ikutlah”
Setiba diruang tamu, Sintra dan Feliya duduk dengan begitu hati-hati. Mereka tampak sudah berubah selama berada didalam sel. Entah apa yang membuat mereka berbeda dari saat itu.
“Baiklah kita langsung keintinya. Aku akan membebaskan kalian, dan tidak akan membunuh kalian”ucap Evita.
Sintra dan Feliya terteguh lagi, mereka merasa ada yang aneh dengan wanita yang memiliki aura pembunuh. Mereka saja duduk berhadapan merasakan rasa sesak yang begitu dalam. meski ruangan dingin, mereka masih bisa merasakan panas yang menjalar dibelakang tubuh mereka.
“Namun ada syarat dari apa yang diucapkan itu, yaitu..aku ingin kalian pergi tanpa meninggalkan jejak dan tidak pernah ku temui lagi. karena bagaimanapun aku membenci kalian, intinya jika kita bertemu, janganlah menyapaku. Anggap diriku orang asing yang tidak kalian kenali”ucap Evita dengan memberikan sebuah amplop dengan ketebalan yang bukan main.
“Untuk apa itu?”tanya Sintra.
Evita menjawab, “Untuk biaya kepergian kalian, dengan ini kita akan berpisah, dan ku harap kita tidak akan pernah ketemu lagi”
__ADS_1
“Ini...”
Evita tidak memperdulikan apa yang diucapkan oleh Sintra dan Feliya, ia meninggalkan mansion bersama Za dan Sebastian. Mereka akan menghampiri sebuah perusahaan peninggalan Ayah angkat Evita.
Tiba diperusahaan..
Evita melangkah masuk bersama Za, seluruh karyawan yang bekerja disana langsung bergegas membungkukkan tubuh menyambut kedatangan CEO perusahaan.
Sangat langka bertemu dengan penerus perusahaan Kim Hyun, apa lagi mereka tidak percaya penerus Kim Hyun, adalah seorang wanita.
“Selamat datang Nona Muda”ucap Paman A menyambut kedatangan Evita.Evita mengangguk dan melangkah mengikuti Paman A yang masuk kedalam Lift.
Tiba diruang presdir, Evita melangkah melihat sekelilingnya. Sebenarnya perusahaan Ayah Angkatnya ini, tidak pernah ia datang sampai masuk kedalam ruang presdir, ia hanya datang di ruang rapat dan melangkah pergi tanpa perlu memeriksa apa-apa. Karena saat itu ada Reza yang mengurus segala aset perusahaan. Dan yeah sekarang semua aset perusahaan ada ditangan Paman A.
“Nona muda, duduklah di kursi kepemimpinan itu, kursi itu khusus untuk anda”ucap Paman A dengan menyusun berkas-berkas yang siap ditanda tangani.
Evita menatap Za yang tersenyum kearahnya, dengan belaian lembut mendukungnya, Evita melangkah mendekati kursi kepemimpinan yang tidak pernah tersentuh olehnya.
Ia duduk dengan perlahan dan menatap kearah depan. Suasana didepannya serasa berubah. Tampak sekali jejak kelelahan Ayahnya yang mendirikan perusahaan mulai dari nol hingga keringat menjadi saksi bisu bagi Ayah Angkatnya. Evita bisa merasakan hal seperti ini, dan hal ini sama dengan yang dialami olehnya saat mengantikan posisi Papahnya.
“Semua berjuang dengan sangat keras, Ayah..Papah...berikan kekuatan kepada Putrimu ini”benak Evita.
“Nona muda, ini adalah aset perusahaan, dan ini adalah bukti chip yang ditanam pada lengan kanan Anda”ucap Paman A menunjukkan gambar lengan kanan Evita. tampak sekali chip itu ditanam dalam tubuhnya.
“Ini benar-benar ditanam dalam tubuhku?”wajah Evita penuh akan keraguan. Paman A menangguk yang membuat Evita tidak percaya.
“Jadi, apa aku harus menghadapi operasi itu?”tanya Evita. Paman A dengan tenang menjelaskan “Nona Muda, semua tergantung dengan keinginan anda, jika anda ingin menunggu hingga anda melahirkan, itu tidak masalah. namun saran Saya, lebih cepat lebih baik. Tentu kita harus memperhatikan keadaan Anda”
Evita diam mendengarkan penjelasan yang diberikan kepadanya. Ia mengambil bolpoin yang akan digunakan untuk menanda tangani berkas didepannya.
Evita menatap isi berkas yang ada. Seluruh aset keluarga Kim benar-benar jatuh atas namanya. Tidak dengan nama Kim Hyun Jae, tetapi dengan nama aslinya Evita.
“Hm, Paman kenapa tidak mengunakan nama Kim Hyun Jae?”Evita penasaran kenapa nama asli nya dipakai, bukan nama yang diberikan oleh Ayah Angkatnya.
“Nona muda, nama anda Kim Hyun Jae, merupakan nama yang diberikan oleh Tuan Kim Hyun, namun nama itu tidaklah bisa di resmikan secara legal, dan nama anda di kartu keluarga tetap nama Evita, jadi nama Kim Hyun Jae adalah nama pemberian yang bisa dianggap sebagai nama samaran anda”
Evita mengangguk, ia menanda tangani surat yang ada didepannya dengan tanda tangan asli miliknya.
Setelah semua berkas ditanda-tangani. Evita menatap kearah Paman A yang memanggil seseorang.
“Nona muda, ini adalah seketaris yang berkerja setiap saat diperusahaan ini, Saya harus mengenalkan dia kepada anda untuk mempermudah pekerjaan anda nanti”Paman A menatap kearah arloji miliknya.
“Kenapa Paman?..apa anda setelah ini akan pergi meninggalkan segalanya?”tanya Evita. entah kenapa ia merasakan rasa perpisahan yang besar diruangan ini.
“Benar, tugas saya sudah selesai, saya akan kembali ke Italia pada esok hari, karena saya juga memiliki perusahaan disana, tenang saja Nona..saya juga sebagai pemegang saham diperusahaan ini,kapan-kapan saya akan datang untuk berkunjung kepada anda”
Evita diam mendengarkan jawaban dari Paman A, ia tidak menduga ternyata Paman A ini benar-benar menyiapkan semuanya dalam sekali pemikirannya.
Tuk..Tuk..Tuk..
“Masuklah”ucap Paman A yang mempersilahkan seorang Pria masuk kedalam ruangan.
Mata Evita membelak melihat Pria yang ada didepannya, ia bahkan merasa tidak percaya hingga ia berkedip-kedip untuk memastikan penglihatannya.
Za bahkan berbisik kearah telinganya dengan suara yang penuh akan kecemburuan. “Apa ia tampan hingga matamu sulit sekali untuk berpaling darinya”bisik Za.
Evita dengan cepat menarik pandangannya, ia pun menatap kearah Za dan mencemberutkan bibirnya. Ia tidak menduga Za juga mudah cemburu kepadanya. Yeah Ia tahu saingan Za sangat banyak karena dirinya. Namun, bukan salah Ia jika orang-orang menyukainya.
“Nona muda, Perkenalkan ini Reagel. Ia adalah seketaris perusahaann yang akan membantu anda. Dan Reagel ini adalah pemimpin sebenarnya, namanya adalah Nona Kim Hyun Jae”ucap Paman A.
Evita senang mendengar ucapan dari Paman A yang menyebutkan nama samarannya, hanya jika itu dikatakan tepat kepada orang yang tidak pernah bertemu dengan Evita. dan pria yang ada didepan Evita ini, tidak lain adalah Suami Sahabatnya, Sania. Dan lebih tepat lagi, orang yang pernah disukainya.
“Huh~”
__ADS_1