
Semua warga berkumpul dilapangan. Wajah mereka mengelap melihat pemuda yang tidak lain adalah warga didesa mereka juga.
Semua dalam keadaan terdiam, namun amarah mereka begitu mengelegar. Membuat suasana begitu sesak.
Intari dan Amelya hanya bisa berdiri didekat Kepala Desa. Mereka sebenarnya ingin menyelidiki dan menginterogasi sang pelaku terlebih dahulu, namun sayang teriakan wanita tadi membangunkan salah satu warga yang tertidur dan akhirnya seluruh warga bangun.
Kepala Desa melangkah mendekati pemuda yang kini terikat ditengah lapangan. Kaki dan tangannya telah diikat, ditambah ada salah satu tiang yang dijadikan tempat pengunci sang pemuda. Jadi ia tidak bisa lari kemanapun, karena tali kakinya terikat ditiang.
“Siapa namamu?”tanya Kepala Desa.
Intari memutar mata Malas. Ia merasa Kepala Desa ini sedang melawak atau apa. Seharusnya ia tahu siapa orang itu, kan mereka mengenalnya. Kenapa tanya nama lagi. Itu yang ada dipikiran Intari.
Berbeda dengan Amelya, ia tengah mengamati wajah pemuda yang menjadi tersangka kali ini. ‘Aku masih kurang yakin orang itu adalah tersangkanya’benaknya.
Pemuda yang ditanya itu pun tersenyum. “Kenapa kau ingin mengetahui namaku?..bukannya kau kepala desa disini, kenapa tidak tahu namaku sama sekali?”ucapnya.
Para warga geram akan ucapan yang diberikan oleh Pemuda.
“Apa-apan pemuda ini..apa dia ingin mati secara cepat..aku akan membunuhmu jika kau mau”
“dia berlagak seakan-akan sudah terkenal”
“sepertinya orang ini sudah tidak waraas”
“dia tidak menghargai Kepala Desa, wajahnya itu membuatku ingin mengulitinya”
Ocehan demi ocehan diberikan oleh Warga yang tidak bisa lagi membendung amarah mereka. Sangat tidak setuju hati mereka melihat pemuda itu masih bernafas, mereka ingin pemuda tersebut langsung dibunuh tepat didepan mereka.
“sudah hentikan semuanya”ucap Kepala desa pelan, ia memandang warganya dengan memberikan senyuman agar para warga bisa tenang.
Intari dan Amelya hanya menatap jijik dengan hal itu, mereka seperti memasuki dunia penuh drama. Tapi mengingat bahwa orang-orang disini wajar untuk ditenangkan,rasa jijik itu pun hilang. Meski sesaat.
“sekali lagi aku ingin bertanya..siapa namamu?”tanya Kepala desa lagi.
Pemuda itu memutar matanya dengan Malas. Ia kemudian menghadap kearah Kepala desa. “Apa kau begitu ingin mengenalku, padahal aku sudah terkenal kepala desa..aku adalah calon adik iparmu”ucapnya blak-blakkan.
Semua orang terteguh mendengarnya. Pasalnya mereka jarang bertemu dengan adik Kepala desa ini. Ada yang mengatakan bahwa adik kepala desa tengah tinggal dikota. Tapi ada yang mengatakan bahwa sang adik kepala desa hanya sedang bersembunyi dirumah.
“apa benar?”
“aku baru tahu..kalau kepala desa punya seorang adik”
“apa dia cantik?”
“tak ada yang pernah melihatnya”
“kalau sampai disembunyikan kemungkinan sangat cantik”
“tapi aneh, kenapa jarang terlihat..lebih tepatnya sih engak pernah dilihat sekali pun”
“wanita mana yang betah berada dirumah, bahkan anak rumahan sekali pun akan keluar walau hanya diteras”
Bisikan para warga begitu ricuh. Intari terdiam mendengarkan apa yang diucapan oleh para warga. Ia juga sedikit penasaran dengan si Kepala desa ini, padahal tak ada niat untuk menyelidiki kepala desa, tapi sekarang Intari merasa tertarik.
Amelya melangkah mendekati Kepala Desa yang terdiam sambil mengurut batang hidung diantara alisnya.
“Pak Kepala Desa...apa benar dia calon adik iparmu?”tanya Amelya perlahan.
__ADS_1
Kepala desa tersebut mengangkat wajahnya memandang wajah wanita yang baru 1 hari tinggal didesa mereka.
Ia mengangguk. “sepertinya iya, aku juga merasa mengenalnya, tapi beberapa tahun yang lalu, pertunangan mereka telah dibatalkan, dia sendiri yang membatalkannya”ucap Kepala Desa.
Pemuda yang menjadi tersangka, tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan dari Kepala Desa. Para warga menjadi sinis menatap pemuda yang dikira sudah kehilangan akal.
“Pemuda ini sungguh benar-benar gila”
“dia kehilangan saraf”
“apa dia melakukan ini karena kehilangan orang yang dicintai?”
“tidak ada yang tahu, apa motif orang seperti ini, yang harusnya kita lakukan adalah melaporkan dirinya kepolisi”
Mendengar kata Polisi, Intari memutar matanya Malas. Ia berbenak ‘ujung-ujungnya polisi, seandainya ada bagian dari kebebasan menghajar pelaku, mungkin aku akan langsung menyuruh mereka menangkap pemuda ini, kalau polisi, ujung-ujungnya juga kepenjara, dan hanya dihukum sampai 10 tahun, pemuda ini masih berumur panjang’
Amelya mengerti pikiran Intari, ia tersenyum melihat Intari memutar matanya dengan begitu Malas. Mengingatkannya dengan Evita yang juga suka memutar mata dengan Malas. Karena mereka tidak terlalu menyukai jalur hukum.
Hukum pasti masih mempertimbangkan kesalahan, dan hukuman apa yang tepat, beda dengan kebebasan dalam menghajar pelaku, jika pemerintah memberikan wewenang untuk Intari dan Evita. Sudah dipastikan penjahat bertobat.
Pemuda yang tertawa tadi, bangun dari berlututnya, meski dua kaki nya telah terikat. Dan mendapatkan beberapa tinjuan karena amukkan warga. Ia berdiri dengan sisa tenaga dan dalam keadaan tertawa.
Prok..prok...prok..
Pemuda itu bertepuk tangan, kedua tangan yang diikat dengan besi dikedua sisi berlawanan.
“Sungguh...kau mengatakan pertunangan kami batal, karena diriku..HAHAHAHAHAHAHA.....Yuda...bukannya kau yang membatalkan pertunanganku, BAHKAN KAU YANG MEMBUNUH ADIKMU SENDIRI, KEKASIHKU”
Pemuda tersebut berteriak sambil menunjuk didepan Kepala Desa yang masih tenang seperti biasanya.
“AKU DATANG SAAT ITU, ADIKMU MENGHUBUNGIKU UNTUK MINTA DISELAMATKAN, TAPI SAAT AKU DATANG, KAU SUDAH MEMBUNUHNYA, DAN DENGAN MULUT MANISMU ITU, KAU MENYEMBUNYIKAN ADIKMU DARIKU..SUNGGUH...AKU MELIHAT SENDIRI KAU MEMBUNUHNYA..SEMUA DIDEPAN MATAKU”Pemuda itu melanjutkan ucapannya. Membuat para Warga menjadi bingung dengan pendapat mereka. Disatu sisi mereka percaya dengan ucapan pemuda itu karena tidak pernah melihat adik kepala desa. Disisi lain mereka juga tidak yakin, karena mungkin saja sang adik sedang melakukan perkerjaan diluar desa atau merantau.
Kepala desa atau Yuda merasa tahu bahwa Warganya perlu penjelasan, ia pun berbalik dan menghadap kearah Warganya.
“Aku tidak berbohong, kalian bisa menentukan keputusan kalian, tapi sebelum itu, aku akan memanggil adikku...”ucapnya santai.
Pemuda yang menjadi pelaku langsung berkeringat dingin. Ia menatap kearah warga yang sudah pasti dikenalnya. Meski ada Intari dan Amelya. Ia bisa tahu bahwa mereka hanya orang baru. Dan tidak mungkin ada hubungannya dengan Kepala Desa.
Tidak hanya pemuda itu yang mengamati, Intari dan Amelya juga ikut mengamati. Mereka juga ingin mengetahui siapa wanita yang merupakan adik dari Kepala desa ini. Intari dan Amelya merasa bahwa kasus yang mereka ambil mendapat plowt twins yang luar biasa, yang tidak terduga.
“Adikku kemarilah”suaranya tidak lantang. Namun dalam keheningan mampu didengar. Jadi semua orang terdiam. Mereka ingin memperhatikan siapa orang yang tidak terlihat ini. Sampai-sampai ada laki-laki gila yang melakukan penculikan tidak jelas.
Tak perlu waktu lama, terdengar suara gelang kaki yang mendapat bel kecil. Gelang kaki itu tepat disamping Intari. Begitu ia menyadari bahwa gadis disampingnya yang bergerak. Intari menatap horor kearah gadis tersebut.
‘Kapan dia disampingku’benaknya. Karena sedari tadi, yang disampingnya hanya angin. Atau tidak ada orang lain disampingnya.
“Kemarilah Salma”ucap Sang Kakak atau lebih tepatnya Kepala Desa dengan mengulurkan tangan kanannya untuk menyambut adiknya.
Yang dipanggil Salma itu pun menyambut uluran tangan sang kakak, lalu menghadap kearah para warga dan pemuda yang bisa dibilang mantan tunangannya.
Pemuda yang menjadi pelaku langsung berlutut lemas. Ia meneteskan air matanya perlahan. Dan tak berapa lama, ia tertawa begitu keras.
“HHAHAHAH..inikah..inikah yang aku lihat, sungguh-sungguh luar biasa, gadis mana ini?..dia bahkan menyamar menjadi adikmu, apa kau ingin mengelabuhiku?”tanyanya.
Kepala Desa tetap menunjukan sikap ramahnya, ia pun mengajak adiknya untuk mendekat kearah pemuda itu. Tapi baru satu langkah, sang adik atau si Salma tidak melangkah. Ia gemetar hebat yang dapat dilihat oleh Warga termasuk Intari dan Amelya.
“Tidak apa-apa SaSa, Kakak YuYu ada disini”ucap Kepala desa dengan tenang sambil menepuk lembut tangan adiknya.
__ADS_1
(Sasa\=Salma,Yuyu\=Yuda)
Salma masih bergemetar, ia tidak tenang. Bahkan melihat kearah Pemuda yang menjadi Pelaku kejahatan.
Pelaku kejahatan itu, memerah, ia seperti menahan amarahnya. Terlihat jelas bahwa ia menahan segalanya.
Hingga sang Kepala Desa kini menurunkan senyumnya. Ia pun menatap datar kearah Pemuda pelaku ini.
“Tolong....Sintro..jauhi adikku, karena kau..karena engkau, adikku kehilangan bayinya..karena engkau...kabut datang kedesa, kau adalah ilmuan yang salah, yang mengunakan kepintaran hanya untuk menyakiti kami..tolong jangan ganggu desa lagi, dan juga adikku”ucap Kepala Desa dengan tatapan yang berbeda.
Para warga langsung berseru setuju dengan ucapan Kepala Desa. Berbeda dengan Intari dan Amelya yang mencerna ucapan dari Kepala Desa ini.
Hingga Amelya mendekati Kepala Desa yang kini tengah ingin mendudukkan adiknya yang terlihat lemah.
Salma sang adik dari Kepala Desa, memiliki kulit putih mulus. Wajah yang begitu cantik. Bahkan bibir tipis itu begitu merah, tanpa pemerah buatan. Itu benar-benar alami. Dan lagi bentuk tubuh gadis tersebut begitu montok. Masuk kategori ideal. Yang bisa dipastikan menjadi incaran untuk para pemuda yang masih lajang.
Melihatnya, Intari merasa sedikit cemburu, karena tubuh tersebut masuk ideal, sedangkan dirinya masih perlu gizi walau sebenarnya ia sudah mengonsumsi makanan yang mengandung karbohirat berlebihan. Tetap saja ia tidak menambahkan berat badan, melainkan menambah hajat untuk dibuang langsung.
Tapi mengingat perkataan Evita yang juga memiliki tubuh sama sepertinya, membuat Intari tidak jadi merasa cemburu. Lagian ia juga berpikir yang sama ‘Makanan yang kami makan tidak mau menjadi lemak, mereka sekali masuk organ tubuh dalam langsung ingin keluar. Mereka tidak berMalam, mereka hanya bertamu'
Jadi Mereka’ ini adalah makanan yang sekali masuk kedalam mulut, tidak berapa lama. Sang makanan akan minta dikeluarkan. Jadi bisa dibilang Intari dan Evita tahu bahwa makanan yang mereka makan, hanya makanan tertentu yang mau berMalam, yang lain mungkin hanya bertamu.
Mengingat itu Intari terkekeh sendiri. Betapa gila pertemanannya yang menganggap hal kecil menjadi lelucuan. Padahal hal itu juga menjadi hal yang serius.
Amelya mendekat kearah Yuda sang Kepala Desa. “pak Yuda...apa maksud anda pemuda itu bernama Sintro adalah seorang ilmuan?...dan kabut..kenapa dengan kabut?”tanya Amelya.
Intari menyusul Amelya yang tengah berbicara, tapi sebelum sampai. Intari tertarik melihat pemuda yang kini tengah ditinggal sendiri atau tengah menerima kenyataan yang ada. Jadi ia ingin mengetahui seperti apa sih pemuda yang ditinggal kekasih, atau ditampar kenyataan.
Amelya menunggu jawaban Yuda sang Kepala Desa. Meski ia sedikit memaksa, tapi ia harus tetap tenang agar Kepala Desa tidak curiga kepadanya, Dan Intari. Apa lagi mengingat bahwa mereka hanya orang asing yang berkunjung.
“Hm..maaf membuat liburan kalian menjadi tidak seru seperti ini..”ucap Yuda sedikit sedih. Ia melanjutkan “Dia..adalah tunangan adikku beberapa tahun yang lalu, dia berprofesi menjadi seorang ilmuan. Adikku memberitahuku bahwa ia tengah mengandung anak dari seorang pemuda yang tidak lain adalah Sintro itu. Jadi kami melaksanakan pertunangan, hanya saja setelah beberapa bulan, adikku memberitahuku bahwa kekasihnya, tunangannya ini tengah melakukan kegiatan terlarang dengan membuat sebuah ramuan yang bisa disebar melewati kabut”
Jeda sebentar sambil menatap teduh, Yuda melanjutkan “kabut tidak pernah terjadi disini, tapi setelah aku mengetahui dari perkataan adikku, aku mengelola warga untuk berhati-hati dari kabut. Tapi aku tidak menyangka, kabut tersebut dihirup oleh adikku, dan itu terkena dampak kepada Bayinya, dan apa yang bisa ku perbuat, selain memaksa bayi tersebut keluar dari tubuh Adikku, karena usia kandungannya memasuki 8 bulan. Aku ingin menikahkannya dengan Sintro setelah melahirkan, tapi takdir berkata lain”
Yuda menceritakan kejadian yang mereka alami, saat itu...
2 tahun yang lalu, seorang gadis muda yang tengah bercermin dikamarnya. Ia memandang wajahnya.
Hingga sang Kakak datang dengan tiba-tiba. Membuat sang Adik kaget bukan main.
“Kak..apa yang kakak lakukan disini, kakak seperti seorang hantu yang muncul tiba-tiba”ucap Salma dengan suara lembutnya.
“Ayooo....lihat adikku, ia begitu sangat cantik, apa kau sedang memikirkan kekasihmu?”tanya Yuda yang kini duduk dikasur sang adik.
Adiknya pun menghampiri Kakak, satu-satunya. Ia berbaring dipangkuan sang Kakak dan menatapnya.
“Kakak..aku tahu, Kakak pasti kecewa, karena aku sudah mengandung 5 bulan. Bahkan aku sendiri tidak mempercayainya. Ku pikir aku hanya kegemukkan, tapi ternyata aku tengah hamil 5 bulan. Maafkan aku kakak, ini salahku”ucap Salma dengan air mata yang berhasil menetes.
Yuda menyeka air mata tersebut. Ia tersenyum “tidak adikku, kau memang salah, tapi itu perbuatannya, meski salah, kakak tidak membencimu, kakak hanya tidak begitu setuju saat adik kakak sudah disentuh orang lain tanpa ada ikatan. Untungnya pemuda Sintro itu mau bertangung jawab. Dan kakak senang, ia ternyata seorang yang berpendidikan”
Mendengar itu Salma begitu senang, bahkan ia tertawa menangapi apa yang diucapan oleh Kakaknya. Ia sempat takut kakaknya akan menolak Sintro, tapi untungnya kakaknya masih membuka hati.
2 bulan telah dijalani, dan usia kandungan Salma 7 bulan 3 minggu. Yang berarti 1 minggu lagi akan memasuki 8 bulan.
Yuda tengah memikirkan proses persalinan adiknya. Jujur saja, semenjak adiknya hamil, ia melarang adiknya dilihat oleh Warganya, bukan apa. Ia tidak ingin adiknya merasa tertekan, dan merasa tidak berguna. Jadi demi adik dan calon keponakannya, ia ingin memberikan kebahagian dan keamanan yang terbaik.
Tapi kebahagiaan itu hanya pemikiran, hingga tiba Malam berkabut tebal. Yuda khawatir dengan adiknya, yang berkata ingin membeli buah karena ia tengah ngidam. Ia menginginkannya, jadi Yuda mengijinkannya untuk membeli. Tapi sampai sekarang. Sang adik belum juga tiba.
__ADS_1
“Sasa..apa kau baik-baik saja”Yuda kini tengah berjalan menuju Warga. Ia ingat bahwa Malam ini ada sedikit pasar kecil yang dibuka. Dan pasti adiknya akan berkunjung kesana, menjadi orang asing. Tapi saat tiba disana yang didapatinya hanya kesepian. Para warganya tengah bersembunyi didalam rumah karena kabut yang tebal.
...****************...