
“Katakan yang sebenarnya, siapa yang menyuruhmu?”Evita menatap Pelayan yang selalu bersama Ayahnya. Ia sudah sabar dari tadi untuk menanyakan siapa dalang yang menyuruh dirinya. Tapi jawaban yang diberikan Pelayan ini selalu sama.
“Tuan Andre yang menyuruhku Nyonya Muda”jawabnya. Evita menghela nafas, sudah sepuluh kali ia bertanya. Pelayan ini benar-benar membuatnya kehabisan rasa sabar.
“Apa pria ini rela mati untuk melindungi Reza..Aku tak menduga ia begitu sangat rela mengorbankan kemariannya”benak Evita.
“Nyonya Muda..bunuh saja diriku, ini salahku, Aku tak menduga akan menjadi seperti ini”ucapnya.
Evita yang mendengarnya hanya bisa mengeleng “Baiklah...kalau kau begitu menginginkannya, aku akan memenuhinya...lagian tak ada gunanya juga kau hidup”ucap Evita.
Pelayan itu terteguh mendengar apa yang dikatakan oleh Nyonya Muda yang ia sendiri yakin bahwa Evita ini penakut. Tapi siapa sangka malah seperti ini.
“Nyonya Muda apa anda benar-benar ingin membunuhku?”tanya pelayan itu dengan wajah yang sedikit takut.
“Yeah apa yang salah, kau menginginkannya bukan?”Evita bertanya balik. Lagian ia juga tak harus memberi makan orang yang tak berguna kan.
“Baik memang itu keputusan yang tepat”ucap Pelayan tersebut dengan kepala yang menunduk. Evita tersenyum sinis melihatnya.
“Pengawal tahan ia disini, sampai seseorang datang untuk mengurus dirinya”
Pengawal yang mendengarnya mengangguk. Evita pun pergi berlalu meninggalkan ruangan yang berada dibawah rumahnya sendiri.
Evita mengambil ponsel pintar miliknya, ia memutuskan untuk seseorang yang mengurus pelayan satu ini. Yeah setidaknya orang itu punya perkerjaan.
“Hallo Paman...apa Kau sibuk?”tanya Evita saat telpon tersebut terhubung dengan orang yang dihubungi.
“Tidak..kenapa?”tanya Paman yang tak lain adalah Ayah Maya Anita Zahra.
“Paman bisa membantuku, Aku punya Pelayan yang begitu patuh kepada tuannya, bisa kau bantu aku membongkar rahasia yang disimpan Pelayan ini..tapi jika memang sulit, dan terbawa emosi, yeah lakukan sebebas kalian”ucap Evita yang menatap kearah Lift.
Lift terbuka karena memindai kedatangan orang. Evita langsung memasuk dan menekan tombol lantai atas.
Yang diseberang sana langsung menjawab “Asal Kau mengijinkan apa yang ku lakukan, maka aku akan membantumu”jawaban yang ada disana, Evita yang mendengarnya tersenyum.
“Yeah ia ada ditanganmu, itu seterahmu, yang ku inginkan hanya informasinya saja”
Telpon pun terputus. Evita keluar dari Lift miliknya dan melihat pelayan yang ada. tentu saja disana ada Sebastian yang tak mengetahui apa-apa.
“Nyonya Muda...saatnya sarapan..Anda ada ujian hari ini”ucap Sebastian yang menghidangkan sarapan enak dimeja makan. Evita tersenyum dan mulai memakannya. Menikmati sarapan yang ada.
-
Tiga bulan telah berlalu....
Tepat dibulan April perpisahan sekolah pun dilangsungkan. Banyak siswa yang berprestasi begitu menanti hari ini. Karena setelah ini mereka akan menginjak pendidikkan yang lebih tinggi lagi.
Tapi Evita, Indah dan Amelya tak memperdulikan itu. sekarang mereka akan fokus dengan perkerjaan yang didapat. Tak boleh tersia-siakan.
Pendidikan itu penting, sangat penting. Tapi Evita,Indah dan Amelya yang dinyatakan siswa terbaik tak memilih untuk melanjutkan pendidikkan. Alasan karena memang mereka hanya ingin berhenti sampai diSMK. Tak berniat untuk melanjutkan kejenjang tinggi. Meski kesempatan emas ada dimata.
Pemerintah yang mengetahui bakat ini tak mau menyia-yiakannya, tapi ketiga gadis benar-benar menolak tentang tawaran ini. Entah apa yang terjadi kepada ketiganya.
Hari yang indah, penuh dengan kebahagiaan disetiap sisinya. Semua keluarga yang hadir begitu menanti hal ini.
Banyak siswa yang akan lulus menampilkan kecantikan, ketampaan mereka. untuk menunjukkan mereka telah lulus tanpa banyak masalah.
Tentu saja Indah,Evita dan Amelya juga menikmatinya. Indah dan Amelya yang tak memiliki orang tua, hanya datang seorang diri. Mereka tak memperdulikan siapa yang akan menjadi wali mereka, jika tak ada, ya mereka sendiri saja. Untuk apa repot.
Keluarga yang datang diperpisahaan Evita tak tangung-tangung. Berhasil menarik perhatian awakmedia, tapi meski mereka datang dan ingin mempublis apa yang mereka dapat. Pasti akan terhapus dengan segera. Tak bisa memberikan mereka keuntungan dari apa yang mereka lihat.
“Selamat untuk Kalian yang telah lulus”ucap Inul sambil memberikan buket bunga kepada Tiga gadis yang mengenakan gaun manis layaknya seorang putri bangsawan.
Apakah mereka yang ingin mengenakannya, tentu saja tidak. Indah berniat ingin mengenakan kaus oblong dengan celana oversize, Evita yang berniat ingin datang dengan hooddie oversize dan Amelya yang ingin datang dengan pakaian biasa saja. Tapi mereka bertiga dipaksa oleh para Bibi pemilik kantin. Yang menanggap mereka sebagai anak sendiri. mau tak mau, Ketiganya mengenakan gaun yang begitu manis untuk mereka.
__ADS_1
“Terimakasih Kak Inul”ucap Indah dan Amelya bersama-sama. Evita hanya mengangguk menerima hadiah itu.
Ayah dan Papahnya serta Mamahnya datang dengan wajah yang bahagia.
“Sayang kemari”ucap Ayahnya. Evita yang mendengarnya langsung mendatangi dan tak menduga bahwa kedua Ayahnya langsung memeluknya.
“Selamat putriku..”ucap sang Ayah yang mengecup kepala Evita. Evita mengangguk menerimanya.
“Selamat Nak..kau telah lulus..jadilah orang yang mandiri dan bisa membantu orang lain”ucap sang Papah yang mengelus kepala Evita dengan lembut. Evita mengangguk mengerti apa yang dimaksud oleh Ayahnya.
“Kami tak bisa berlama-lama sayang, karena ada urusan lain dengan keluarga..jadi, jangan nakal woke”ucap sang Mamah yang kini memeluk Evita. Evita mengangguk.
Orang tua kandungnya langsung pamit setelah acara itu terbilang selesai. tinggal Ayah angkat yang masih ada disampingnya.
“Amelya...Indah kemari”ucap Tuan besar Kim yang merentangkan kedua tangan untuk memberitahukan bahwa ia ingin dipeluk oleh Indah dan Amelya.
Keduanya yang melihat hal itu langsung bergegas lari dan memeluk Ayah angkat Evita. Evita yang melihatnya terkekeh.
“Dasar anak manja”benak Evita. Indah dan Amelya langsung memeluk Ayah Evita dengan begitu bahagia. Yeah mereka merasakan kehangatan seorang ayah, apa lagi perhatian lebih dari Ayah Evita ini.
“Selamat untuk kalian ya...sangat luar biasa, kalian hanya dua tahun sekolah, sudah berhasil mendapatkan sertifikat lulus sebagai siswa SMK”Ayah Evita memberikan kecupan dikepala dua gadis yang dianggapnya sebagai anak sendiri.
“Terimakasih Ayah”ucap keduanya dengan bahagia. Evita
yang melihatnya tersenyum puas.
“Baiklah, Ayah tak bisa berlama-lama, ada rapat diperusahaan..jadi nikmati waktu kalian..ooh ya jangan lupa untuk makan malam ya”ucap Ayah Evita yang kemudian berlalu pergi meninggalkan ketiga gadis yang melambaikan tangan mereka.
“Aduh Aku pengen nangis..huh...sangat mengharukan”ucap Indah yang langsung mengusap air matannya. Amelya mengangguk menyetujui apa yang disebutkan oleh Indah sedangkan Evita mengejek.
“Sudahlah cengeng banget jadi orang..apa-apa nangis”Evita menatap Indah dengan pandangan mengejek.
Hal itu berhasil membuat Indah ingin melempar buket bunga yang diberi oleh Inul kepadanya. Tapi niatnya itu tertahan ketika melihat banyak pria yang mengenakan pakaian hitam datang membawakan bunga yang indah.
“Gila banyak banget bunganya, ini niatnya pengen mengucapkan selamat atau lamaran?”
“Tak ada yang tahu..mending kita lihat....siapa tahu ada kisah seru”
Bisikkan orang-orang mulai memenuhi suasana. Evita melihat orang-orang yang datang ini merasakan kejangalan. Masalahnya, sejak kejadian pelayan itu. Evita tak lagi melihat batang hidung Reza. Ia selalu bersama Ayahnya. Jika tak bertemu Ayah Angkatnya itu, Evita tak akan melihat Reza.
Evita berpikir Reza akan melepaskannya, dan menyerah. Karena tak memungkinkan untuk Evita memberikan hatinya kepada orang yang berani mengatur dirinya. Apa lagi sampai mengurungnya.
Namun tetap saja, hanya Reza yang tahu apa yang diinginkannya. Sedangkan Evita hanya bisa menahan diri.
“Siapa mereka?...apa kau mengenalnya Evita?”tanya Indah yang berbisik disamping Evita. Evita mengeleng. Amelya yang melihat jawaban itu sedikit curiga. Pasalnya jika memang tak tahu, untuk apa dilihat, tapi mungkin karena
penasaran Evita malah tertarik untuk melihat siapa yang datang.
Tak lama seorang pria dengan jas yang berwarna putih datang. Ia melangkah layaknya seorang pria yang hanya satu-satunya didunia. Membuat perhatian wanita menuju kearahnya.
“Waah kakak tampan..”
“Sial..harusnya tadi aku pakai parfum yang dikasih mamah, siapa tahu kan terpikat”
“mimpi..ku lempar sepatu baru tahu”
“kenapa sih....lagian ya yang tampan gini jarang dilihat...aduh aku tak sabar ingin melihatnya”
Bisik- membisik selalu menjadi kegiatan yang paling utama saat melihat sesuatu yang baru. Evita,Indah dan Amelya hanya menatap datar kedatangan pria itu.
Pria yang datang itu memiliki kulit berwarna madu, sangat begitu menarik perhatian. Padahal ia tak seputih orang-orang. Tapi perawakannya sangat menarik untuk dipandang.
“Hai Baby”ucapnya saat telah tiba ditempat yang diinginkan. Tentu saja itu tepat didepan Evita. Evita mengeleng.
__ADS_1
“Tuan Mavin Vintorin”ucap Evita yang langsung dianggukkan oleh Pria yang ada didepannya. Indah dan Amelya yang mengetahuinya langsung tak suka. Karena terlihat jelas Pria ini ada maksud lain.
“Ada apa?”tanya Evita yang tak ingin basa basi lagi. ia menunggu disini bukan untuk menunggu pria ini datang.
Mavin Vintorin mengenggam tangan Evita lalu bersiap untuk mencium punggung tangannya. Tapi Evita langsung menarik tangannya. “Katakan saja apa yang ada inginkan?”to the point. Malas berbelit-belit. Indah dan Amelya yang mendengar pertanyaan itu sedikit tersenyum.
“Kasihan..anda telat untuk menyukai Evita..orang dia sudah punya pawangnya”benak mereka berdua.
“Aku datang ingin mengucapkan selamat untukmu..ah ya satu lagi, aku tak akan ada disini, kalau kau merindukanku, hubungi saja aku, aku akan selalu menunggumu”ucap Mavin Vintorin yang menyerahkan buket bunga yang ada. bahkan tak tanggung-tanggung dengan segala yang diberikan. Bunga itu sangat banyak.
Evita mengeleng melihatnya, yeah ia harus apakan semua bunga ini. Apa harus ia buang, tapi sia-sia. Lebih baik ia berikan keanak panti. Pasti suka nanti.
“Baiklah terimakasih atas perhatian anda”Evita menerima buket bunga itu. setelahnya Tuan Mavin Vintorin pun pergi dengan wajah yang bahagia.
Pecah sudah harapan para wanita yang melihat hal tersebut. Memang mereka tak bisa dibandingakan dengan anak orang kaya. Walau tahu mereka cantik, tapi untuk tingkat kepintaran mereka berada dibawah ketiga gadis itu. karena dari ketiganya peringkat tiga besar tak bisa lepas dari tangan ketiga gadis. Yeah sia-sia memang. Tapi kepintaran tak menentukan laku tidaknya wanita. Namun untuk bersaing percuma. Karena tetap saja Evita,Indah dan Amelya memiliki body yang cocok walau mereka tak sebohai wanita-wanita yang berada diclub malam. Dah jangan berpikir yang aneh-aneh.
Karena telah menerima hadiah itu, Evita mengutus salah satu pengawal untuk membereskannya dan mengantar kepanti. Serta uang yang akan diberikan. Lagian anak-anak pasti akan suka melihat begitu banyak hadiah. Evita akan sangat senang jika bisa melihat langsung.
Indah dan Amelya mengeleng kepala. Mereka tak mengira bahwa Evita mampu menarik perhatian laki-laki. Padahalkan kalau dilihat Evita tak semanis yang dikira. Tapi karena ia telah dewasa, tentu saja masa pertumbuhan itu berhasil mengubah dirinya menjadi gadis yang sangat menarik perhatian orang-orang.
Indah dan Amelya hanya bisa berharap kepada Za untuk secepatnya menikahi Evita. kalau tidak, yang akan makan cuka pasti Za.
“Kita pulang Evita?’Amelya mengajak kedua sahabatnya untuk pulang. Lagian ngapain disini acara udah dari tadi selesai, Cuma tinggal basa basi. Dan sesi foto.
“Bentar..seseorang mengirim pesan kepadaku untuk menyuruh kita menunggu mereka”ucap Evita yang melihat jam tangan miliknya.
Tak lama sebuah mobil terparkir. Para siswi yang ada disana menjadi tertarik untuk melihat, dan mereka memperhatikan ketiga gadis yang menjadi target kali ini. Mereka kan engak tahu, bisa jadi kedatangan mobil itu juga untuk ketiga gadis tadi.
Keluar seorang Pria yang mengunakan jas berwarna hitam. Melangkah dengan kaki jenjang miliknya untuk menuju kearah Evita.
Indah dan Amelya langsung melangkah maju untuk melindungi Evita, namun Evita menyuruh mereka untuk tenang. Dan biar ia yang menghadapinya.
Reza, pria yang menghindar dari Evita ini, kini muncul didepannya sendiri. menarik perhatian Evita.
“Selamat Nyonya Muda...anda telah lulus”ucapnya. Ia pun berlutut dengan dadakkan yang membuat orang-orang terteguh melihatnya.
Sebuah bunga muncul beriringan dengan tangan yang terulur kepadanya. Evita menatap hal itu dan diam membisu tak ingin berbicara.
“Nyonya...tidak Evita..jadilah kekasihku”ucap Reza dengan wajah yang bahagia.
Evita tahu, bahwa Reza mungkin mengancam dirinya disini, tapi yeah meski pun diterima juga ia tak akan sudi. Lebih baik ia menolak.
Indah dan Amelya yang melihatnya langsung tercenga. Bagaimana bisa pria ini begitu percaya diri. Padahal Evita sudah ada yang punya.
“Bagaimana Evita..kau menerimaku?”tanya Reza lagi. ia seakan-akan memaksa untuk Evita menerima dirinya. Evita tersenyum tangannya terangkat untuk orang didepannya. Namun..
“Menerimamu?”Evita menatap lagi, tangannya terulur kesalah satu tangan pria yang kini berdiri disampingnya.
“Reza..aku telah mencintai orang lain..sudahku katakan kepadamu..aku telah memiliki kekasih”
Indah dan Amelya yang melihat kedatangan Pria itu langsung melihat kearah lain. dan mereka saling menutup mulut tak percaya dengan apa yang dilihat.
Tiga pria yang mengenakan pakaian polisi lengkap dengan perlengkapannya. Wajah yang tampan menjadi daya tarik orang-orang yang melihatnya. Apa lagi yang datang ini dengan tubuh yang tinggi dan memiliki senyum yang manis.
Tapi bukan untuk orang lain, melainkan untuk gadis yang kini menyambut kedatangan mereka.
Reza yang melihatnya terdiam ditempat. Ia kaget melihat pria yang ada disamping Evita. bahkan dengan tenang meletakkan tangannya dipingang Evita.
Evita tersenyum melihat pria yang ditunggunya datang. “Selamat datang Zhan Za Chen”
“Selamat datang Xue Yoongi”
“Selamat datang Taoran Chan”
__ADS_1
Ketiganya menunjukkan wajah bahagia yang sangat indah. pria-pria yang ada disana terkagum melihatnya.