
Navi Nurganto diam mendengarkan laporan dari bawahan Ayahnya.
Brak!
“Kalian tidak berguna!...hanya seorang wanita kalian belum bisa membunuhnya?”suara Navi penuh akan kekesalan dan kekecewaan. Tidak habis pikir olehnya, bagaimana bisa dua orang yang akan membunuh wanita didekat Zazanya, tidak ada yang sanggup membunuhnya. Bahkan malah mereka yang dibunuh oleh wanita jal*ng itu.
Navi dengan kepala pusing melangkah untuk mengunjungi Mansion Za secara langsung.
“Pak, tolong antarkan aku kekediaman Zhan Za Chen”ucap Navi memandang sopirnya.namun sopir itu tidak bergegas menyalakan mesin mobil.
Navi yang menyadari hal itu langsung menatap kearah Sopir pribadinya, “Ada apa?..kenapa Bapak tidak segera jalan?”
Sopir Pribadinya menundukkan kepala, “Nona Muda, diwilayah kediaman Tuan Muda Pertama Zhan, tidak ada yang diijinkan untuk masuk kesana tanpa surat ijin Nona”
“APA!!!”Navi menatap kaget dengan apa yang didengarnya. “Selama ini aku baru tahu, apakah ada yang seperti itu?..bagaimana bisa hanya mengunjungi kediamannya harus mendapatkan surat ijin?”Navi bertanya dengan wajah paniknya.
Sopirnya kembali menjelaskan, “Nona..Tuan Muda Pertama Zhan, adalah penerus keluarga Zhan, dan juga seorang jendral kepolisian. Wajar jika kita memperlukan izin kesana”
Navi mengelengkan kepalanya, “Oke..baiklah”
Bam!
Navi melangkah keluar dari mobil dan mengarahkan ponsel pintar kesamping telinganya. “Dengarkan Aku, cari tahu keberadaan Zhan Za Chen. Aku akan membayarmu dua kali lipat dari biasanya”
Setelah mendengar persetujuan dari seberang sana, Navi menutup sambungan telponnya. Pagi ini ia benar-benar mendapatkan kesialan.
“Dasar Ja*ang. Aku akan membunuhmu”
-
Evita menatap kearah suaminya yang mencium pungung tangannya. Tampak sekali rasa khawatir tersalur kepada Evita. dengan lembut Evita mengusap kepala Suaminya.
“Apa kamu akan terus seperti ini Za?”tanya Evita.
Za yang mendengarnya mengangkat kepala dengan perlahan, lalu memandang wajah Evita.
“Aku takut kehilanganmu Evita”ucap Za dengan wajah yang tampak sedih. Evita tahu bahwa Za sedang menahan rasa traumanya. Ia ingat saat ia koma, suaminya inilah yang begitu mengerikan dari pada yang lain. mengingatnya membuat Evita tersenyum kecil.
“Aku baik-baik saja Za. Ini hanya akan berlangsung selama 4 jam, setelah ini, mari hidup bahagia.tanpa masalah dan tanpa ada kekacauan yang terjadi”
Za yang mendengar ucapan Evita mengangguk. ia mencium jidat, mata dan hidung Evita. lalu mengecup singkat bibir Evita yang mulai mengering.
“Baiklah, Keponakkanku, saatnya memasuki ruang operasi”ucap Paman Chen Rey yang datang dengan pakaian lengkap khusus operasi.
Za mengangguk dan melepaskan genggaman tangan Evita. Intari dan Amelya menatap tegar melihat Evita diarahkan keruang operasi. Mereka tidaklah setegar yang dilihat. Mereka juga ikut trauma dengan yang telah terjadi. Berapa banyak kematian menghampiri Evita. memikirkannya membuat mereka pusing.
Tidak ada yang tahu Evita akan dioperasi. Baik dari keluarga Zhan, maupun keluarga Alex. Hanya mereka yang tahu, tentang operasi yang terbilang penuh akan kekhawatiran ini.
Menunggu dan terus menunggu, hingga 4 jam telah berlalu. Semua menatap kearah lampu ruang operasi. Dimana lampu tersebut padam dengan sangat tenang
Sreek!
“Paman!,bagaimana operasinya?”tanya Za dengan wajah paniknya. Paman Chen Rey tersenyum dengan begitu indah, yang berhasil memanipulasi kepanikan orang-orang.
“Tenang saja, Evita aman..dan kandungannya juga”ucap Paman Chen Rey yang membuat semua bernafas lega.
“Evita akan dipindahkan keruang rawat. Kalian bisa menjenguknya disana. Za ikut Paman”
Intari dan Amelya serta suami mereka melangkah menuju keruang rawat, berbeda dengan Za yang mengikuti Pamannya.
Bam!!
Pintu ruang Paman Chen Rey ditutup dengan tenang oleh Za, ia menatap Pamannya yang memberikan sebuah kantong kecil berisikan Chip.
“Ini yang tertanam ditubuh Istrimu, aku tidak tahu masih berfungsi atau tidak. Yeah aku hanya merasa Ayahmu itu sudah gila, bagaimana bisa menanamkan chip kedalam tubuh anak-anak”
Za menatap kearah kantong kecil didepannya. Terlihat masih ada sisa darah yang berbekas disana.
“Aku tidak tahu apa yang Ayah pikirkan”ucap Za menatap Paman Chen Rey kembali.
Hal ini membuat keduanya diam tidak berbicara apa-apa, hingga Paman Chen Rey menghela nafas.
“Sudahlah, semua telah terjadi. Bahagialah selalu, sebenarnya bukan ini yang ingin ku sampaikan tapi masalah kandungan Istrimu”
__ADS_1
Za mengerutkan asli mendengar ucapan Pamannya, “Apa yang terjadi Paman?”
“Sebenarnya...
-
Intari dan Amelya menunggu Evita bangun dari obat biusnya. Perawat mengatakan bahwa dalam setengah jam Evita akan bangun karena waktu obat bius sudah selesai. jadi mereka menunggu Evita hingga 30 menit kedepan.
Dengan saling menunggu itu, mereka menatap kearah perut Evita yang membuncit dengan sangat besar.
“Berapa usia kandungannya?”tanya Amelya. Intari menatap kearah Amelya yang menatap perut Evita. “Kalau tidak salah sudah menjalani 7 bulan”
“Intari, 7 bulan ku rasa tidak mungkin, kamu tidak melihat perutnya itu, mereka tampak seperti 9 bulan”Amelya baru menyadarinya. Setelah melihat perut buncit Evita dari balik selimut rumah sakit yang menyelimuti Evita.
“Apa yang kalian bahas?”tanya Echan yang datang membawakan makan siang untuk mereka. Yoongi juga datang membawa teh es dan menaruhnya di meja.
“Kami membahas tentang kandungan Evita, kalian lihat...”Amelya menunjuk perut Evita yang tampak tenang, semua kembali menatap Amelya meminta penjelasan.
“Usia kandungannya baru 7 bulan? Itu tidak memungkinkan, bisa saja usianya 9 bulan. Lihat perutnya sudah membesar”ucap Amelya meminta pembelaan kepada suaminya.
Belum sempat Echan berbicara, seseorang membuka pintu ruang rawat yang membuat semua perhatian mengarah kepadanya.
“Kak Za”ucap Echan dan Yoongi bersamaan. Intari dan Amelya bergegas bangun dari duduk mereka dan melangkah mendekati Suami yang berdiri tak jauh dari mereka sendiri.
“Kalian sudah makan siang?”tanya Za dengan melangkah mendekati Evita.
Intari dengan tenang menjawab, “Mereka baru tiba dengan membawa makan siang, mari makan bersama”
“Tidak perlu, kalian makanlah...dan lagi berkelilinglah jika bosan”ucap Za yang membuat Intari dan Amelya mengangguk.
Mereka pun makan di dalam ruang rawat sambil menyaksikan cinta romantis dari Evita dan Za.
Saat ini Evita tidak menunjukkan tanda-tanda akan bangun, padahal sudah saatnya ia membuka mata. Dan lagi diliat oleh Intari dan Amelya, bagaimana Za menjaga Evita dengan sangat baiknya hingga tidak ada yang bisa menandingi penjagaan Za. Lupakan tentang penjagaan Za secara langsung, tanpa mereka duga, Za menjaga Evita dengan sangat baiknya hingga Evita tidak pernah menyadarinya.
Yoongi dan Echan adalah saksi, bagaimana kakak Pertama mereka begitu perduli menjaga Istrinya tanpa lelah. Meski Kakak pertama mereka bekerja, Kakak pertama mereka itu tidak akan setenang jika tidak bersama dengan Evita. yang pasti Yoongi dan Echan tahu bahwa Evita sangat penting dalam hidup Kakak Pertama mereka.
“Hm, maaf Kakak Ipar”ucap Amelya. Ia sebenarnya tidak ingin menanyakan hal seperti ini, namun rasa penasarannya sangat memuncak hingga tidak bisa dipendam lagi.
“Ada apa Amelya, katakan saja”ucap Za menatap Amelya.
“Kakak Ipar Za, itu..berapa usia kandungan Evita?”tanya Amelya. Yoongi,Echan dan Intari tidak bisa berkata apa-apa lagi melihat Amelya yang tampak begitu serius.
“Hehehe..kenapa, apa ada yang salah”ucap Za.
Semua terteguh mendengar Za tertawa didepan mereka. bahkan tanpa diduga rahang Mereka tercenga dengan sangat baiknya.
“Tutuplah mulut kalian itu”
Belum puas akan keterkejutan, mereka malah mendapatkan serangan baru dari seseorang yang berbaring di ranjang rawat.
“Evita!”semua bergegas mendekat kearah Evita yang menguap beberapa kali dan memandang mereka.
“Bisakah kalian tidak berisik..aku ingin tidur, tetapi mulut kalian ini memang tidak bisa mengatur volume suara”ucap Evita dengan ngelantur. Semua tertawa mendengarnya.
“Evita syukurlah”Intari dan Amelya mendekat lalu memeluk Evita. setelahnya mereka memberi Za untuk mendekat kearah Evita.
“Aku baik-baik saja, bukankah sudah ku katakan tidak perlu khawatir”Evita menatap kearah Sahabatnya yang tersenyum dengan wajah penuh akan kelegaan.
“Sudahlah, aku ingin tidur lagi.bisakah kalian..”
Kringg!!!
“Ponselku berbunyi, aku akan mengangkatnya permisi”ucap Echan yang meninggalkan ruangan.
Evita menatap perginya Echan tidak jauh dari mereka. Ia kembali menatap sahabatnya yang melanjutkan makan siang mereka.
“Kamu lapar Sayang?”tanya Za yang duduk disamping Evita. Evita mengeleng, ia mengenggam tangan Za dengan lembut. “Aku tidak lapar Za, oh ya Bagaimana Chipnya sudah kamu lihat?”
Za mengeleng, “Aku belum melihatnya, akan ku lihat setelah kita pulang. Sore ini kamu bisa kembali kerumah. Kita akan kemansionku sayang”
Za mengecup singkat Pipi Evita yang membuat Evita tersenyum kearahnya.
“Kakak Za, maaf mengangguk”Echan datang dengan wajah paniknya. Membuat semua menatap bingung bersama-sama.
__ADS_1
-
Dikediaman Zhan...
Seluruh keluarga berkumpul. Mereka semua melihat kearah Bibi kedua, yaitu Renjeli. Wanita yang kini diikat dengan tiang besi. Ia meraung-raung dengan emosi yang tidak stabil.
“DIMANA EVITA!DIMANA DIRINYA..AKU,AKU AKAN MEMBUNUHNYA, AKU AKAN MEMBUNUHNYA, MEMBUNUHNYA HAHAHAHAH”
Semua meringit mendengar teriakkan dari Bibi Kedua. Tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi, hingga Paman kedua menjelaskan betapa gila Istrinya sekarang, gila akan kekuasaan.
“Tuan Besar, Tuan Muda pertama, ketiga dan keempat telah tiba bersama Istri mereka”
Kakek Pertama mengangguk dan menyuruh untuk membiarkan semua masuk.
Mata Bibi kedua menatap dengan teliti, hingga melihat Evita yang berjalan bersama Za disampingnya. Dengan cepat tubuhnya memberontak ingin melepaskan ikatan yang menghalangi.
“Tahan dirinya!”ucap Kakek Kedua yang melihat Bibi Kedua mulai kehilangan akal.
Semua menatap bingung dengan yang terjadi, apa lagi Evita yang melihat kondisi Bibi Kedua.
“Kakek, Apa yang terjadi?”tanya Echan sebagai perwakilan dari Za dan Yoongi.
Kakek ketiga menjawab, “Kami tidak mengerti dengan keadaan Bibi kedua kalian.namun penjelasan dari paman kedua mengatakan bahwa istrinya sudah mengalami gangguan jiwa”
Semua terkejut dengan penjelasan Kakek Ketiga. Mereka masing-masing berpikir bagaimana ini bisa terjadi.
“ZA!, DENGANKAN AKU, TINGALKAN WANITA MURAHAN INI, IA TIDAK PANTAS UNTUKMU. IA AKAN MENGAMBIL SELURUH HARTAMU HINGGA KAMU TIDAK BISA LAGI MEMILIKINYA. ZA DENGARKAN BIBI, BIBI TIDAK BERBOHONG!”
Tidak ada yang tidak tahu, Bibi Kedua adalah wanita yang begitu gila akan kekuasaan dan harta. Sudah bisa diketahui bahwa ia menjaga Za karena harta warisan Za yang terbilang banyak.
“huh~ sudahlah aku akan mengirimnya kerumah sakit jiwa..hahah sungguh, Istriku belum menghadapi Istri Keponakkanku secara langsung,ia sudah kalah seperti ini”ucap Paman Kedua menatap Evita.
Evita yang mengerti hanya tersenyum sinis. Ia pun melangkah maju dengan perlahan.
“Paman, ku rasa Paman sangat mencintai Bibi Kedua”ucap Evita. ia menatap Bibi Kedua yang berceloteh dengan mencaci dirinya.
“Aku tidak menduga Bibi Kedua, bahwa kamu akan kalah sebelum aku bertindak”benak Evita. ada rasa puas didalam dirinya. Namun ada juga rasa iba melihat lawannya sudah mengalah terlebih dahulu.
“Ha?apa maksud ucapanmu keponakkanku?”tanya Paman Kedua dengan wajah bingungnya.
Evita tersenyum, “Paman, Meski aturan keluarga mengatakan menikah harus sekali seumur hidup. namun tidak berlaku bagi orang yang tidak mencintai Istrinya. Aku hanya berpikir kenapa Paman tidak melarikan diri..”
Semua menatap kearah Evita, lagi-lagi mereka merasa dejavu. Karena momen ini sangat cocok dengan Evita yang menilai orang-orang.
“Paman, untuk harta dan tahta, paman sudah mempelajari segala bisnis yang ada, jadi paman bisa berjuang dari nol kembali. Namun dilihat paman menahan diri karena menyayangi keluarga Paman, dan lambat laun Paman mulai terbiasa dengan keberadaan Bibi Kedua disamping paman”
“Jika Paman tidak melihat Bibi Kedua, Paman akan merasa ada yang kurang, maka tidak heran setiap Paman pulang kerja. Paman akan selalu melihat keberadaan Bibi kedua bukan?”
Paman Kedua tidak berbicara sama sekali, membuat yang lain diam memahami apa yang diucapkan oleh Evita. Evita kembali berucap, “Cinta itu tidak meski hadir seperti sebuah drama. Karena bagaimana pun benih cinta akan tubuh dengan sendirinya. Paman, Paman sangat mencintai Bibi Kedua. Contohnya sekarang Paman tidak tenang jika Bibi Kedua kehilangan akal sehatnya bukan?”
Paman Kedua menghela nafas dengan perlahan, ia pun tersenyum menatap Evita, “Pengamatan dirimu memang sangat luar biasa Evita, aku akui akan hal itu. aku memang mencintainya, namun aku tidak ingin mengakui apa yang ku rasa. Aku beranggapan bahwa semua ini karena aku merasa bersalah telah membuatnya menderita seperti ini”
Semua diam mendengarkan apa yang dijelaskan oleh Paman kedua, memang tidak ada yang tahu bagaimana perjalanan Paman kedua hingga bersama dengan Bibi Kedua. Hanya mereka tidak menduga seperti ini kisah cinta mereka.
“Paman, lebih baik secepatnya kerumah sakit jiwa, dan obati Bibi Kedua. Ku harap ia kembali dengan cinta yang tulus untuk Paman”usul Evita.
Paman Kedua pun mengangguk dan menyuruh para pengawal membawa Bibi Kedua. Mereka pergi meninggalkan ruangan yang kini telah kembali tenang.
“Bibi Kedua sudah out, tinggal kepala pelayan yang harus ku hadapi”benak Evita.
“Cucuku, apa kalian tidak berniat memberi kabar kepada Kakek kalian ini”ucap Kakek Pertama mendekati Evita. Evita dengan cepat memberikan hormatnya.
“Cukup Evita, tidak perlu begitu...kemari. Kakek ingin merasakan cicit Kakek”ucap kakek Pertama yang mengulurkan tangannya.
Evita menyambut uluran tangan itu, dan membiarkan Kakek Pertama mengusap beberapa kali perutnya.
“Apa kamu mendekati kelahiran Evita?”tanya Kakek Kedua. Evita mengeleng, “Tidak Kek, mungkin ada dua yang berada diperutku hingga membesar seperti ini”ucap Evita yang membuat semua heboh mendengarnya.
“Jangan bilang, Kamu hamil kembar Evita?”para Bibi pun menatap dengan penuh ketidak percayaan.
Evita menghardikkan bahunya, sedangkan Za mendekat dan menyentuh pundak Evita.
“Ia sedang hamil kembar, dan Paman Chen Rey mengatakan bahwa Evita harus mengurangi asupannya. Itu bisa membahayakan Evita sendiri”jelas Za yang membuat semua kaget.
__ADS_1
“Jadi beneran Kembar?”