
Evita begitu lelap tertidur dipangkuan Za. Tiba di mansion Gagak,Evita tak bangun sama sekali. “Tuan”Panggil Sebastian yang sudah membukakan pintu mobil.
Za keluar melangkah menuju kearah Mansion yang sudah dikelilingi para bodygurad Evita. terlihat sekali mereka menghormatinya. Tak hanya mereka,Intari dan Amelya yang tiba bersama tadi juga merasakan hal yang sama.
Setibanya didalam, sudah ada Yoongi dan Echan yang duduk menikmati teh hangat buatan Istri mereka.
“Kakak sudah pulang”ucap Echan yang melangkah mendekati Za. Za mengangguk sambil melangkah menuju ruang tamu.
“Tuan, sebaiknya bawa Nyonya kekamarnya..Kamar kalian ada dilantai dua”ucap Sebastian. Ia menuntun Jalan agar Za tak tersesat.
Za mengikuti apa yang diucapkan oleh Sebastian, lagian Evita begitu sangat kelelahan bermain kartu yang dipikir-pikir tak akan bisa menang.
“Ini Kamarnya Tuan”ucap Sebastian, Za mengangguk dan melangkah masuk untuk mengistirahatkan Istrinya.
Sebastian pergi meninggalkan kamar yang ditutup pelan olehnya. Za membaringkan tubuh istirnya dan ingin berniat untuk pergi, namun tangannya digenggam oleh Evita.
“Kau tak ingin tidur?”tanya Evita yang bangun karena merasa seseorang jauh darinya. Za yang mendengarnya langsung duduk disamping Evita yang berbaring.
“Kenapa hm..Apa Kau ingin sesuatu?”tanya Za menatap Evita. Evita terdiam sebentar, “Biasanya Kau akan menghantam diriku, tumben hari ini tidak?”tanya Evita.
Hubungan ranjang mereka bisa dibilang tak pernah absen, karena Za entah kenapa menjadi candu terhadap Evita.
Za yang mendengar pertanyaan itu langsung memerah mendengarnya. Ia memandang kearah lain. “Istirahatlah, Kau baru saja selesei berperang..Apa kau tak lelah?”tanya Za yang menatap kembali.
Evita langsung menatap kearah lain, “Tentu saja..sudahlah Aku ingin tidur”Evita menarik selimutnya dan bergegas untuk tengelam dalam mimpinya.
Za tersenyum, Ia mencium kepala Evita dan berbisik kata manis untuk menemani tidur Istrinya. Setelahnya Za melangkah keluar untuk menemui Adik-Adiknya.
-
“Kak Za.....sampai kapan kita akan terus seperti ini?”Yoongi bukan terburu-buru dalam menghadapi masalah mereka, hanya saja Ia memikirkan Istrinya. Bagaimana pun istri mereka harus mendapatkan Berkat dari kakek mereka.
Za tahu, saat ini memang tak mungkin lagi menghindar, namun Evita sudah menunjukkan dirinya. Tinggal menemukan musuh yang menjadi dalang sepenuhnya. Barulah keadaan bisa kembali tenang dan Za bisa membawa Evita kekediaman keluarga Zhan.
“Aku mengerti, memang sudah seharusnya Kakek kita tahu bahwa Kita sudah menikah dan Istri kita mendapatkan pengakuan bahkan berkat dari mereka, tapi...Evita telah turun tangan menghadapi musuhnya. Menurut kalian, jika pertemuan keluarga dilakukan...apa yang akan terjadi nanti?”tanya Za.
Mendengar pertanyaan itu, Yoongi dan Echan terdiam. Mereka tahu terburu-buru tak baik, tapi tak secepatnya mereka takut. Intari dan Amelya akan mendapatkan hukuman yang benar-benar tak ingin Yoongi dan Echan bayangkan. Lagian keluarga mereka ini memang terbilang unik. Dijaman modern mereka masih mengandalkan peraturan dan pengendalian diri yang tinggi.
Namun jika tak ada hal tersebut, mungkin sudah banyak cucu-cucu keluarga Zhan atau mungkin para penerus-penerus keluarga Zhan yang tak beres.
“Untuk saat ini kita bersabar dulu..Aku akan berpikir hal yang lebih baik, lagi pula Putra sudah membantuku..Ia akan memberitahukan pergerakkan dirumah”ucap Za menenangkan hati para Adik-adik anak dari Bibinya.
Yoongi dan Echan yang mendengarnya mengangguk, mereka paham memang harusnya berpikir dan bersabar. Mereka akan siap jika waktu telah tiba nanti.
-
“Ba..bagaimana ini bisa terjadi?”ucap Navi yang baru saja berniat untuk bertemu dengan temannya. Siapa lagi kalau bukan Yelina.
Pagi yang cerah ini seharusnya disambut kebahagiaan, mereka malah menyambut kolam lautan darah yang begitu banyak.
“PERIKSA SEGALA YANG ADA, JANGAN SAMPAI KITA TAK MENEMUKAN BUKTI PEMBUNUHAN INI”teriak Navi kepada anak buahnya. Semua langsung bergegas menuruti perintahnya.
“Ba..bagaimana bisa?”benak Navi. “Siapa yang Kau lawan Yelina?”guman Navi yang menatap mayat seseorang dengan dilindungi sebuah payung dikepalanya.
Navi duduk dikursi kamarnya. Ia menyentuh jidatnya karena pikirannya saat ini benar-benar penuh pertanyaan.
“Bagaimana bisa...kematian mereka semua dalam satu malam?..tidak mungkin kan satu orang menghabiskan mereka?”Navi berpikir keras. Ia menatap kearah sebuah foto seorang pria yang berpakaian rapi.
“Zaza..bagaimana kabarmu, ini sudah berhari-hari aku tak melihatmu, Apa kau benar-benar meninggalkanku...sudahlah lebih baik Aku memeriksa kediaman keluarga Zhan, apa mereka sudah menemukanmu”Navi bergegas untuk bersiap-siap pergi bertemu dengan keluarga Zhan.
-
Dan seperti apa yang diucapkan Navi, Ia kini sudah duduk diruang tamu yang terlihat sekali Bibi Kedua melangkah mendekat kearahnya.
__ADS_1
“Kenapa Navi?”tanya Bibi kedua dengan nada lembutnya. Navi yang mendengarnya langsung berdiri dan memeluk Bibi Kedua.
“Bibi, bagaimana Zaza..apa sudah ditemukan?”tanya Navi. Bibi Kedua yang mendengarnya tersenyum, “Kami sudah menemukan lokasinya, dan Ia juga memberikabar bahwa Ia sedang ada urusan..Navi, Bibi akan pastikan Za bersamamu”ucap Bibi Kedua dengan mengusap kepala seorang gadis yang sangat manja.
Navi tersenyum, “Baik Bi...terimakasih ya” Ia bergegas untuk pamit setelah mendapatkan jawaban dari apa yang diharapkan. Navi tak akan melepaskan pria yang benar-benar membuatnya jatuh cinta.
Bibi Kedua yang melihat Navi pergi kembali memasang wajah datarnya. “Gadis ini..seandainya Aku tak mengunakanmu untuk berada disamping Za, agar Za masih ku kendalikan..Kau mungkin sudah ku bunuh”benak Bibi Kedua yang melangkah pergi meninggalkan ruang tamu.
-
Jika biasanya Evita yang akan bangun kesiangan, Kali ini Intari yang kesiangan. Ia membuka mata dan memindai ruangan kamarnya yang bercahaya terang.
“Ini, pasti sudah siang”benak Intari yang bangun dari berbaringnya. Ia menatap kearah lain dimana Yoongi baru saja selesai mandi.
“Yoongi?”Intari menatap kearah Pria yang masih berbalutkan handuk dipingangnya. Perut berkotak-kotak itu tampak didepan Intari.
Selama menikah, Intari Cuma beberapa kali melihat hal ini, dan Hal seperti ini berhasil membuatnya salah tingkah. Intari langsung melihat kearah lain.
“Kenapa...dan tumben sekali kau bangun siang?”Yoongi yang mengerikan rambutnya dengan handuk kecil melangkah mendekati Intari, Ia kemudian duduk saat sudah berada disamping Intari.
“Tak apa..lagian tak masalah kan Aku bangun siang-siang”Intari menatap kearah lain saat Yoongi duduk disampingnya.
Yoongi yang melihat Istrinya menatap kearah lagi tersenyum, Ia menyentuh dagu Intari lalu membimbingnya untuk menatap kearahnya.
“Tidak..tidak masalah, lagian Istirku mau apapun juga tak akan masalah”ucap Yoongi yang langsung membuat wajah Intari memarah. Hal ini benar-benar yang paling disukai Yoongi.
Keduanya yang saling memandang membuat suasana menjadi penuh keheningan dan hal ini berhasil membuat keduanya yang tadinya berjarak kini hanya beberapa inci lagi akan..
“Apa yang ku lakukan?”benak Yoongi menatap dengan penuh keterkejutan ketika melihat raut wajah Intari yang mulai takut. Ia kemudian menjauhkan dirinya.
Intari yang melihat hal tersebut menatap bingung. “Apa yang terjadi kepada Yoongi?”benak Intari.
Yoongi tersenyum yang kemudian menyodorkan handuk kecil kepada Intari. Melihat hal tersebut Intari memiringkan sedikit kepalanya.
-
Amelya yang sibuk menyiapkan masakkan, karena Ia sedikit telat bangun. Untungnya Ia bisa menyelesaikan beberapa masakkan.
“Mau dibantu”ucap seseorang yang membuat Amelya hampir menjatuhkan piring kosong.
“Hati-hati sayang”ucap Echan yang langsung menolong Amelya bersama Piringnya.
“Kau tak apa-apa?”tanya Echan yang tak dijawab oleh Amelya. Karena Amelya kaget sekaligus memerah mendengar panggilan Echan. Yeah baru kali ini Amelya merasa dipanggil begitu intesnya. Padahal mereka memang sudah menikah dan sudah sewajarnya seperti itu.
“Mn..Aku baik-baik saja”ucap Amelya yang berdiri disamping Echan. Echan meletakkan piring kosong lalu menatap Amelya yang menunduk.
“Kenapa hm..piringnya engak jatuh, lagian kalau jatuh tinggal beli”ucap Echan dengan santainya tak tahu Istrinya lagi berdegup-degup.
“Tak..tak apa-apa”ucap Amelya yang menghindari Suaminya. Echan melihat hal tersebut mengerutkan alisnya. “Apa yang terjadi padanya?”benak Echan.
“Selamat pagi”sapa dua seketaris pribadi yang baru saja tiba. Mereka berdua melangkah menuju keruang tamu. Ada beberapa pelayan yang berkerja juga menyapa dua orang yang mengangguk.
Amelya yang tadi merasa berdegup-degup seketika tenang. Ia kemudian menarik kursi untuk Echan lalu dirinya menyusul duduk disamping Echan.
“Kenapa mereka telat bangun sih...Evita wajar kesiangan tapi Intari”Amelya berbicara sambil menatap kearah ruang tamu yang luas dimana ada pelayan yang mondar mandir.
“Iya yah...sudahlah jangan berpikir negatif”ucap Echan meski begitu, ia sebenarnya berpikir dalam diam. “Yoongi jalan bilang kau sudah melakukan itu lagi”benak.
“Intari tuh sering kesiangan saat masih SMA, dan Evita merupakan siswa rajin yang sering datang pagi..sekarang setelah menikah kenapa jadi kebalikan seperti ini”Amelya meratapi kebingungannya, Ia sebenarnya penasaran akan perubahan. Masalahnya ia tak berubah sama sekali.
“Sudahlah...lagian Kau juga berubah”ucap Echan yang menarik perhatian Amelya. “Apa yang berubah?”tanya Amelya.
“Kau yang dulu akan sama seperti mereka, jika kedua sahabatmu itu bermasalah, kau juga akan ikut. jika kedua sahabamu betingkah, kau juga akan ikut..namun sekarang Kau berubah, Kau tak mengikuti diantara mereka, melainkan menjadi dirimu sendiri dan tak tergantung akan apapun”ucap Echan menjawab pertanyaan Amelya.
__ADS_1
Mendengar hal tersebut, Amelya terdiam. Memang benar, sekarang Ia tak lagi mengikuti kedua sahabatnya, ditambah ia akan berpikir untuk mengikuti sahabatnya, meski kadang-kadang ia akan melakukan sesuatu yang sama persis seperti sahabatnya, namun apa yang diucapkan oleh Echan tak ada yang salah. Amelya menjadi tersenyum mendengar ucapan Echan.
Para pelayan yang melihat dari kejauhan dibuat senyum-senyum melihat tiga boss mereka, pemilik dari mansion Gagak.
“Lihat....Nyonya Amelya begitu bahagia”
“Benar..Aku pun sampai-sampai tak percaya ketika mereka datang tadi malam”
“Apa lagi Aku..ketika membuka pintu melihat dua malaikat tampan yang menatap kearahku...Aku hampir mengira kalau diriku membuka pintu kematian”
“Aku tak menduga mereka menikah...Apa Nyonya Evita juga?”
“Kita sudah pulang jam 10 malam, mana mungkin kita tahu..”
“Aku pulang jam 12 malam, Cuma melihat Nyonya Intari dan Nyonya Amelya...mungkin Nyonya Evita akan pulang pagi ini”
“Mn..kita tunggu aja”
Para Pelayan saling berbisik. Ada sekitar 12 pelayan yang ada. dan diantara mereka semua tak terlalu dekat dengan Evita dan Intari. Mereka lumayan dekat dengan Amelya. Karena yang merengkut para pelayan ini tak lain adalah Amelya.
-
Evita membuka matanya, Ia memindai sekeliling. Ia tahu ini sudah pagi dan tubuhnya benar-benar kelelahan. Padahal Ia tak banyak bergerak tadi malam. Sudahlah itu tak penting.
Evita menatap kearah sampingnya karena ada Za yang tenang membaca buku. Evita sering bertanya, jam berapa Suaminya ini bangun. Setiap Ia membuka mata, Suaminya ini pasti sudah bangun terlebih dahulu.
“Za”sapa Evita yang menarik perhatian Za. Za menutup buku lalu mengusap wajah Evita yang kini memilih untuk duduk.
“Kenapa...?”Za bertanya, biasanya akan ada ucapan selamat pagi ala Suaminya. Tapi karena Evita menyapa, ucapan selamat pagi itu diganti menjadi kata Kenapa.
Evita menyentuh tangan Za yang memegang pipinya. “Pagi”ucap Evita yang membuat Za tersenyum, “Selamat pagi sayang”Za mengecup kepala Evita cukup lama membuat Evita menatap aneh padanya.
“Evita dengar...”Za mengubah suasananya menjadi serius, hal ini berhasil membuat Evita mengerutkan alisnya. “Jika Kau sudah menemukan musuh atau dalang dari apa yang kau cari, tolong satu hal..kendalikan dirimu oke...”
Evita mengangguk, Ia paham. Saat ini Za tak pernah melihatnya menggamuk, hanya Sebastian dan itu pun Evita tak bisa mengingatnya. Namun sekarang ia sudah mengingat beberapa memorinya. Hanya tinggal melengkapi beberapa yang buram. Seperti..
Kring!!!
Ponsel Evita berdering membuat perhatian Evita teralihkan, ia mengambil ponsel tersebut dan melihatnya. Mata Evita menatap datar ketika melihat siapa yang memanggilnya.
“Siapa?”tanya Za. Evita memilih untuk bangun dan melangkah kearah jendela mansion. “Anak buahku”jawab Evita. Za mengerti, Ia pun pergi kekamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Melihat Za sudah tak ada, panggilan tersebut disambut oleh Evita. “Bagaimana?”tanya Evita kepada seseorang yang berada diseberang telponnya.
“Nyonya...Kami sudah mendapatkan hasilnya..datanya sudah dikirimkan. Silahkan lihat hasilnya”
Evita mendengar hal tersebut langsung berdegup kencang. Entah kenapa Ia ingin menghindari hal ini “Baiklah...”Telpon pun diputuskan oleh Evita. dan tak lama file masuk diponselnya.
Evita membuka dan membaca isi file yang didapatnya. Matanya menyipit ketika melihat apa yang didapatnya. Hatinya berdegup-degup dengan cepat ketika mengetahuinya. Dan perasaannya serta bayangan kelamnya kembali menghantui dirinya. Membuatnya mundur hingga jatuh kebelakang.
Bruk!
“Hosh...hosh....Bagaimana bisa?”benak Evita yang menegadahkan kepalanya untuk menenangkan dirinya.
-
Mavin Vintorin menatap kembali kearah perusahaan detektif milik Evita. Ia lagi-lagi menemui kekosongan disana. “Kenapa Kau tak ada Evita...lalu Ponselmu kenapa Aku tak bisa menghubungimu?”Mavin Vintorin menghela nafas. Ia merasa saat ini banyak hal terjadi.
Dan yang harus diselesaikan olehnya terlebih dahulu adalah masalah seorang anak kecil yang mirip dengannya. Bahkan orang-orang akan menyebutkan Anak itu adalah putranya. Yeah Mavin Vintorin tak bisa menghindarinya. Ia yakin Anak tersebut Putranya dan Ia tak akan meninggalkan benih yang sudah menjadi Anak itu. Ia tak ingin dicap seperti Ayahnya yang bermain disana sini bersama wanita.
Mavin Vintorin tak tahu siapa Ibunya dan kenapa Ibunya tak merawat dirinya. Bahkan Ia diberi didikkan keras oleh Mavin Vintorian Ayahnya sendiri.
...****************...
__ADS_1
(Kim engak jadi hiatus, karena kesibukkannya diganti, jadi maaf sempat membuat informasi sebelumnya)