
Disebuah bandara yang kini tengah ramai. Mavin Vintorin melangkah keluar dari mobilnya. Ia kini mengenakan style hitam miliknya dengan kaca mata hitam sebagai pelengkapnya.
Melangkah dengan kaki jenjang miliknya,menatap lurus tanpa memperdulikan orang-orang yang memperhatikannya.
“lihat pria itu, jika aku menikahinya, sudah ku pastikan bahwa aku yang paling sempurna bisa ada didekatnya”
“jika dirinya melirikku, ku pastikan segala keindahan yang kulihat akan lenyap dengan tatapannya”
“langkah yang begitu indah, andai aku melangkah bersamanya, sudah ku tetapkan, disetiap langkah kami akan terdapat bunga yang menemani”
Semua ucapan yang disampaikan oleh gadis-gadis, membuat suasana dipenuhi dengan bunga-bunga. Namun itu hanya akan berlaku untuk pria yang mudah tertarik dengan wanita.
Sayangnya Mavin Vintorin hanya mengakui 1 wanita dihatinya, yang tak lain adalah Evita sendiri.
Mavin melangkah tak memperdulikan perkataan manis oleh gadis-gadis. Ia terus melangkah bahkan jika diizinkan merokok ia akan melakukannya sekarang, sayangnya ia harus menahan diri.
“Tuan..penerbangan anda tinggal 20 menit lagi”ucap sang seketaris pribadi Mavin.
“hm....”Mavin Vintorin tak menghiraukan lagi apa yang akan dilakukan oleh Seketarisnya.
Pasti ada yang bertanya-tanya, kenapa pakai pesawat umum, bukannya Mavin anak orang kaya. Sebenarnya sebelum pergi dan sebelum ketemu dengan Evita. Mavin mendapat telpon yang dimana ia harus menjemput seorang pria yang sangat penting untuk ayahnya.
Jadi karena itulah, ia menunggu kedatangan pria itu lalu berangkat bersama sampai ketempat tinggalnya, bukan tempat tinggal melainkan tempat persinggahan keluarganya.
“Maaf membuat anda menunggu”ucap seseorang yang membuat Mavin mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang begitu penting untuk ayahnya.
“Kau?”
-
Seperti yang dikatakan oleh Evita, mereka bertiga kini mengunjungi sebuah tempat yang tak lain adalah kampung yang pernah diteliti oleh Intari dan Amelya. Tempat sang kepada Desa dan Sintro.
Mereka keluar bersamaan, Intari dan Amelya tentu harus memakai penyamaran mereka. sedangkan Evita tentu tak harus melakukan hal itu, karena saat ini seperti yang diketahui oleh Intari dan Amelya. Evita tak akan melepaskan semudah itu topeng yang ia kenakan. Jadi Intari dan Amelya saat ini harus mewaspadai apa yang akan dilakukan oleh Evita yang bisa menjadi masalah.
“Disini tempatnya?”tanya Evita dengan wajah yang bahagia, tentu saja, semua itu karena memang pada dasarnya Evita sangat menyukai pemandangan desa. Ditambah ia lahir dari keluarga yang sederhana. Jadi jangan ditanya betapa berseri wajahnya saat ini.
“Hai Kakak Han”sapa sang Reire, orang yang sangat akrab dengan Intari. Intari mendengar nama penyamarannya dipanggil, ia pun membalikan tubuh dan melihat kearah asal suara tadi.
Terlihat kumpulan wanita yang tengah berjalan bersama wanita lain, yang tak lain adalah Salma. Intari dan Amelya menatap kearah wanita yang mereka anggap sebagai teman juga. Beda dengan Evita yang menatap lain.
“Apa yang kakak lakukan disini?”tanya Reire dengan antusias, yang dianggukkan oleh Salma. Salma begitu angun dengan pakaian desa yang santai. Ia menyangul rambutnya dengan begitu indah membuat dirinya terlihat seperti gadis langka.
“Kami kesini untuk mencari Kepala desa, apakah dia ada?”tanya Amelya, tentu saja mereka tak akan mengatakan hal yang sebenarnya kan. Jadi mereka mengunakan taktik kata yang bisa membuka kunci kebohongan.
“Ah....Kakak sedang ada urusan dikota, jadi ia tak bisa kembali secepatnya”ucap Salma, ia kini berdiri paling depan untuk bisa berbicara dengan leluasa. Intari dan Amelya mengangguk.
“Tak berbohong”benak Intari. Intari pun melangkah mengunjungi Reire untuk mengajak mereka bercerita bersama.
Sedangkan Amelya dan Evita kembali berbincang-bincang dengan Salma, sang adik kepala desa.
“Sungguh suatu hal yang luar biasa bisa ketemu dengan kalian, apa yang kalian perlukan dengan kakakku?”tanya Salma. Evita dan Amelya tersenyum, mereka pun diarahkan oleh Salma menuju kesalah satu kursi kayu yang terletak di dekat Taman Desa.
“Hahah....bukan apa-apa, Kami hanya ingin bertanya sesuatu saja, ooh ya perkenalkan Aku Evita”ucap Evita dengan mengulurkan tangannya untuk mengajak sang Adik kepala desa bersalaman.
Salma membalas salaman itu, “Ah...kalau begitu Salam Kenal Nona Evita, Aku Salma”Kali ini Salma mengucapkan kata begitu angunnya. Membuat orang yang mendengarnya begitu merasa tersentuh karena itu adalah perkataan yang begitu lembut.
Amelya tersenyum mendengar tutur kata yang begitu halus dan lembut, jujur saja Amelya sangat jarang mendengar tutur kata yang begitu halus di kota atau ditempat ia berada. Bukan apa, ia selalu dekat dengan orang yang berbicara mengunakan volume tinggi. Tinggi gak tuh.
“Salma ya...ah iya ada yang ingin ku tanyakan Salma, apa kau merindukan seseorang?”tanya Evita yang kini menatap Salma. Amelya merasakkan keanehan yang ada, sangat jarang Evita langsung to the point dalam kasus, biasanya ia akan menjebak mangsanya, baru mencari bukti lain. Tapi kali ini Evita langsung tanpa basa basi lagi.
“Rindu?...ah tentu saja aku merindukannya”ucap Salma dengan wajah yang sedikit tertunduk. Membuat Amelya merasa bahwa Salma saat ini pasti merindukan Kakaknya.
“AH susah ya nahan rindu...ku harap kau bisa langsung bertemu dengannya”ucap Evita yang kemudian berdiri. Membuat Intari yang melihat dari kejauhan ikut mendekat.
Amelya pun berdiri. “Kami mengucapkan terimakasih sebelumnya, sayangnya Tuan Yuda tak ada...maka kami izin pamit..”ucap Evita yang langsung dibalas anggukkan oleh Salma.
“Lain kali mampirlah, kami sangat senang dengan adanya Nona Han dan Nona Ara disini”ucap Salma sambil melambaikan tangannya.
Evita, Intari dan Amelya pun memasuki mobil. Mereka pergi meninggalkan desa tanpa ada pembicaraan sama sekali. Sampai ditengah perjalanan.
Ciiiitttttt~
“Ada apa Evita?”tanya Intari yang langsung melihat kearah Evita. Evita saat ini tengah menatap kearah jendela mobil bagian Kirinya. Membuat Intari dan Amelya langsung menatap kesana.
__ADS_1
“Apa mungkin?.....”
-
“UH!!!!”seorang wanita melepaskan wink yang melekat dikepalanya. Ia menghapus make up yang berada diwajahnya. Dan melepaskan rambut putih miliknya.
Rambut putih panjang itu tergerai dengan indahnya. Membuat pandangan orang-orang menjadi teralihkan jika melihat rambut itu. Namun saat rambut itu disinggirkan dari punggungnya, maka terlihat tatto naga yang bercorak indah dikulit putihnya.
“Menyebalkan...bisa-bisanya orang yang dicari-cari Malah datang sendiri”Wanita itu mengeluh dengan nada yang begitu kasar. Ia melepas pakaian desa yang dikenakannya, dan mengantikannya dengan pakaian miliknya.
“Evita......apa aku harus membiarkannya?”Wanita itu menatap kearah gambar yang menunjukkan foto Evita yang dimana saat itu Evita tengah tiba dibandara pertama kalinya.
“Untuk apa melakukan itu...tahanlah dulu, kita akan membunuhnya, tapi tidak sekarang...setidaknya biarkan dirinya bermain terlebih dahulu”ucap Wanita itu sendiri, ia memainkan pisau tajam ditangannya dengan mengoreskan benda itu kedinding. Hingga suara gesekkan begitu terdengar, memenuhi ruangan.
“tapi sebelum itu...aku suka hadiahmu”
BOOMMMMMM!!!!!
Segerombolan pria memasukki ruangan tempat wanita itu bersembunyi. Wanita yang tadi bermain Pisau kini menyeringai dengan wajah bahagia
“HAHAHA BAGUS...INILAH YANG KU NANTIKAN”ucap wanita itu. Ia melompat menghindari tembakkan dari salah satu orang yang ada. Dan terus melompat hingga mengenai sasarannya.
Jlubbbb
Tewas satu maka yang lain akan ikut tewas, jika mangsa yang kau inginkan telah kau dapatkan. Wanita itu tersenyum puas saat salah satu dari mereka langsung mati ditangannya.
Wanita itu mencabut pisau yang ia gunakan, lalu ia melangkah lagi mendekati kumpulan orang yang ada. Tembakkan dari musuh benar-benar sangat menguntungkan baginya. Ia dengan mudah menghindari, dan mengambil kesempatan untuk membunuh yang lain.
Dorrrrrr
Swuuusssshhhh
Pisau itu kini terlepas dari tangannya, namun itu tak memberikannya ketakutan, ia semakin bersemangat. “terimakasih Nona Evita, sangat jarang aku bisa membunuh orang disini....Hahahhah”
Wanita itu pun berlari dan menyerudup ke ranjang miliknya. Dan tak berapa lama, ia keluar dengan peralatan lengkap ditubuhnya. Lengan kanan dan kirinya terdapat peluru cadangan, paha kanan miliknya terdapat pistol cadangan dan satu pistol ditangan kanannya.
“mari bermain...jangan kasih kendor bestieeee”ucap Wanita itu. Ia kini mendekat sisa gerombolan yang ada.
Dooorrrrr
Dooorrrrrrr
Dooorrrrrrr
Tak perlu waktu lama untuk dirinya bermain, ia sudah menghabisi orang yang ada. Dan kini sisa mayat-mayat yang tak berguna. Tubuhnya tentu saja bersih, hanya wajah dan tangannya yang berdarah.
“Ah....kurang seru, tapi tak apa lah, selama bisa membunuh aku akan kenyang dengan ini, Nona Evita terimakaih makanannya...”Ucapnya.
-
“Evita..apa kau yakin, ini....ini adalah Makam Kekasih Sintro?”Ucap Intari. Mereka kini berada dipertengahan jalan menuju kekota. Dimana ada tempat untuk pemakaman. Dan Evita menghentikan mobilnya di pemakaman itu.
Amelya memindai sekitar, “Aku melihat bahwa sepertinya pemakaman disini sudah lama ditinggalkan dan jarang diurus”
“Kalau begitu, berarti makam satunya lagi disini adalah anaknya Sintro?”tanya Intari. Membuat Amelya menatap kearah makam yang dimaksud olehnya.
“Tungguh bukannya empat makam ini terlihat bersih, sepertinya makam ini sering dirawat oleh seseorang”ucap Amelya yang menatap aneh dengan empat Makam yang begitu bersih, terawat.
Intari memperhatikan hal yang sama, ia memandang sekeliling hingga melihat seseorang yang tengah bersembunyi.
“Tunggu!!!!”ucap Intari yang membuat Evita dan Amelya menatap kearah dimana Intari berlari.
“Apa yang terjadi padanya?”tanya Evita yang melihat Intari berlari kearah hutan lebat.
“Apa dia ketakutan hingga membayangkan ada orang yang bersembunyi disana?”tanya Amelya kembali. Dua orang itu pun hanya mengangkat bahu mereka. “Entah” itu adalah perkataan yang mereka katakan bersama-sama untuk menjawab pertanyaan masing-masing.
-
Intari mengejar tak memperdulikan keadaannya. Ia terus berlari sampai menemukan titik yang terakhir ia lihat, namun sayang seribu sayang. Ia harus terpeleset yang membuatnya terjatuh.
Srakkkkk
“AGHHHHH!!!”
__ADS_1
Intari menuntup matanya, berniat menerima rasa sakit yang ada, namun kenyataannya. Ia Malah tak merasakan apa-apa. “Aneh, aku jatuh atau apa tadi?”benaknya.
Intari memeriksa sekitarnya, hingga ia merasakan rahang yang ditebak olehnya itu adalah milik manusia.
Dengan cepat Intari mengangkat tubuhnya, walau tangannya masih betah dirahang yang bisa dibilang leher seseorang. Dengan cepat pula ia mengangat kepalanya melihat leher siapa yang ia pegang dengan santainya.
“Apa ini hantu?”ucapnya bersamaan dengan pandangannya. Intari langsung terdiam, ia menarik tangannya secepat kilat. Menyadari bahwa bukan hantu didepannya, bukan tengkorak didepannya. Melainkan seorang pria yang ia kenali.
“Yoongi...apa kau tak apa-apa!!”teriak Echan yang berlari mendekat. Membuat Yoongi tersadar dari apa yang dibengongkan olehnya.
“Maafkan aku”ucap Intari yang langsung ingin berdiri, namun kesialan datang padanya. Kaki kanannya keseleo. Membuatnya kehilangan keseimbangan dan kembali menjatuhkan dirinya, membuatnya harus menahan malu karena dua kali menimpa orang.
“Apa bulan kesialan telah kembali, atau aku dapat tanggal sial, atau aku dapat keburukkan dalam ramalan, dahlah..malu aku malu...”benak Intari. Ia sekali lagi mengangkat tubuhnya dan menunduk.
“Maaf”ucapnya lagi, yang membuat Echan tersenyum melihat tingkah dua orang asing ini. Yoongi membersihkan dedaunan yang menyangkut dibajunya. Ia tak menjawab perkataan Intari. Membuat Intari ketakutan, takut identitasnya Malah dibongkar oleh polisi ini.
“Tak apa..”yang menjawab bukan Yoongi melainkan Echan. Intari yang mendengarnya mengangguk, dan berusaha untuk berdiri, namun belum sempat ia mendirikan dirinya dengan benar, Yoongi mengangkat tubuhnya dengan santai ala bridal style. Membuat Echan tercengah akan tindakkannya.
“Aku akan mengantarkanmu, dari mana kau datang?”tanya Yoongi dengan wajah datarnya. Membuat Intari kalang kabut sendiri, mau menjawab tapi jantung berdetak. Ingin turun tapi kakinya sakit. Memang sial dirinya ini.
“Ah..itu aku...aku tadi ingin mengunjungi desa, tapi tersesat disini, karena mobil kami ada disekitar sini, dekat pemakaman umum”ucap Intari asal, sudah stress dirinya. Ditambah malu lagi.
“Baik..aku tahu pemakaman itu..pemakaman lama bukan?”tanya Yoongi lagi. Membuat Echan menatap horor padanya. “apa ini benar-benar Yoongi yang ku kenal, bukannya ia akan berbicara sedikit, dan akan bertanya sedikit, tapi kali ini....ia seakan-akan mengobrol dengan kekasihnya”benak Echan.
“Ah iya..iya benar”jawab Intari dengan asal, lagi pula tak penting dengan makam yang mungkin membuat Yoongi penasaran, yang terpenting ia harus segera kembali dan menjauh dari Yoongi dan Echan.
“Echan..aku pergi sebentar, kau lanjutkan”ucap Yoongi yang kemudian melangkah menuju kearah yang mereka tuju. Echan yang melihatnya hanya bisa mengangguk. Lagian ia dibuat bingung saat ini. “Aneh, wanita itu seakan-akan menghindar dari Yoongi, apa dia mengenali Yoongi”benak Echan. Namun misi yang terpenting saat ini, ia harus mencari jejak perginya Sintro yang terakhir koneksi ponselnya disekitar sini, jadi ia dan Yoongi harus menyelidiki tempat ini dulu.
Yoongi dan Intari tak sama sekali berbicara, mereka hanya bisa mendengar suara deguran nafas yang terhembus. Dan angin sepoi-sepoi yang tertiup. Membuat suasana menjadi cangung. Entah apa yang ada diisi hati mereka.yang pasti saat ini, misi Intari yaitu menjauh dan Misi Yoongi secepatnya kembali.
Intari berharap kakinya ini cepat sembuh, setidaknya penyihir apalah itu yang bisa menyembuhkan kaki, secepatnya datang dan menyembuhkannya. Namun sayang, bukannya berharap seperti itu, Intari entah dari keberanian mana yang ada. Ia mengangkat tangannya dan mengulurkannya untuk mengambil daun-daun kering yang ternyata tersangkut di kepala Yoongi.
Membuat pandangan mereka berdua saling bertemu. Intari terdiam dan Yoongi menghentikan langkahnya. Mereka memandang dalam satu titik. Mencari pandangan terdalam dimata masing-masing. Intari melihat bayangannya dan Yoongi melihat Bayangannya. Membuat semu merah kini memancarkan diri diwajah Intari.
“Ah maafkan aku, itu ada de...dedaunan di kepalamu”ucap Intari dengan wajah yang kini tertunduk. Tanpa disadari, ia bersandar nyaman di dada bidang milih Yoongi.
“Terimakasih”ucap Yoongi membalas perkataan Intari, ia melanjutkan langkahnya, dengan tenang dan kemudian “Tetaplah seperti ini, agar aku mudah mengendongmu” ucapan tenang dan santai yang berhasil membuat Intari makin menekukkan wajahnya. Hingga ia menyadari ada kesalahan dari tempat nyaman yang ia dapatkan.
“Sial...apa lagi ini, Yoongi..astaga, kenapa aku berakhir dengan keadaan seperti ini”benaknya, Intari merasa kesialan kini menumpuk dihari ini, ia akan mengingat tanggal kesialan ini hingga tak akan terjadi lagi. harus bisa ia hindari.
-
Evita menemukan gubuk tua yang terlihat sangat terawat, membuatnya melangkah untuk mengetuk pintu disana. Amelya?...saat ini ia tengah menungu Intari kembali. Walau tahu Amelya dan Intari juga takut dengan hal gaib, tapi ini kan masih siang, tak mungkin ada hantu kan. Itu yang dipikiran Evita saat ia melangkah pergi meninggalkan Amelya tadi.
Tuk
Tuk
Tuk
“Apakah ada orang?”tanya Evita. Tak ada tanda-tanda orang ingin beranjak mendekati pintu,namun ada suara lain yang membuat Evita menatap kearah semak-semak.
Sraaakkkkkk
Swuuussss
“Sudah tak perlu kabur”Evita menangkap basah seorang pria yang melarikan diri darinya. Evita tahu bahwa Intari pergi pasti melihat pria ini. Pria yang didepannya mengunakan topeng dengan wajah senyum menyeringai seperti hantu yang gentayangan. Sayangnya, Pria ini lupa dengan mengunakan kain putih untuk menutupi tubuhnya, biar benar-benar terlihat seperti hantu.
“Apa yang kau perlukan”ucap Pria itu yang kemudian membuka topeng yang dikenakannya. Wajah tampan terlihat masih muda. Itu yang bisa digambarkan, ia terlihat begitu sangat muda sekitar 28 tahun. Bulu mata hitam yang panjang membuat keindahan untuk memandang matanya, tapi sayang Evita menatap datar pria didepannya. Jadi ya sia-sia pria itu menunjukkan pesonanya.
“Aku ada perlu sesuatu darimu”ucap Evita yang kemudian duduk dengan enaknya tanpa disuruh. Membuat Pria itu mengikuti keinginannya.
“Aku tak perlu basa-basi, akan ku tanyakan langsung, apa makam yang selalu kau bersihkan itu adalah milik kekasihmu, atau bisa ku tebak kau adalah Sintro yang asli?”tanya Evita langsung membuat Pria didepanya terdiam.
Tak berapa lama, Pria itu berdiri dan melangkah masuk kedalam gubuk miliknya, membuat Evita menatap datar dengan apa yang dilihatnya. Hingga tak berapa lama, Pria itu datang dengan dua cangkir Teh yang begitu hangat.
“Minumlah, kau adalah tamuku, aku tak akan membunuhmu, hanya dengan racun, tak memungkinkan aku bisa membunuh orang sepertimu..”ucap Pria itu. Suaranya berat untuk didengar. Evita hanya mengangguk, ia mengambil cangkir itu lalu meminumnya.
“Untuk Pertanyaanmu, apa kau sedang menyelidiki kasus kematian Salma?”tanya Pria itu balik.
Evita mengangguk “Benar...aku penasaran dengan kematian yang tidak logis didalam otakku ini”ucap Evita dengan cepat, ia begitu ingin cepat kembali, karena ia tahu bahwa Intari dan Amelya tidak akan bertahan lama untuk menunggunya.
“Baiklah..aku akan beritahu ini, bahwa Makam yang kalian lihat memang benar, itu adalah makam Salma, dan Anak yang dikandungnya, dan diantara mereka adalah makam kedua orang tuanya”ucap Pria itu, lalu ia melanjutkan “Jadi cukup sampai disini”Pria itu meranjak bangun dengan menunjukkan bahwa saat ini ia mengakhiri percakapan yang terbilang singkat.
__ADS_1
“Baiklah,terimakasih informasinya...tapi ada satu hal yang ku tangkap disini, kau adalah Sintro yang sebenarnya, dan Kau adalah orang yang hanya bertangung jawab untuk Anak yang dikandung oleh Salma...terimakasih Informasinya”ucap Evita yang kemudian pergi meninggalkan gubuk itu. Meninggalkan Pria yang menundukkan kepalanya dengan air mata yang mengalir diwajahnya.
“cinta?..apa itu, sungguh merepotkan orang-orang”benak Evita yang kemudian melangkah pergi menjauh.