MANTIV

MANTIV
● Mantiv(136)


__ADS_3

Pagi hari yang indah untuk menjalani kegiatan masing-masing. Begitulah yang dilakukan oleh Mavin Vintorin yang kini duduk menunggu seseorang untuk datang menemuinya. Ia sudah membuat janji bertemu dan ini saatnya.


Memandang kearah jam tangan yang menunjukkan pukul 8 kurang 10 menit lagi. Mavin Vintorin tampak gelisah dengan perasaan gundah yang ada. ia memandang kesana sini untuk menenangkan diri.


Dihati kecilnya berharap wanita itu tak datang namun pikirannya menyuruh wanita itu untuk datang dan ia bisa menjelaskan apa yang selama ini terjadi.


Kring!!!


Bell pengunjung memasuki ruangan, membuat perhatiannya tertuju kearah tersebut. Seseorang melangkah mendekati mejanya. Matanya memandang kearah wanita yang sudah lama tak dilihat olehnya, karena selama ini ia hanya memandang satu wanita yang tak lain adalah Evita.


“Permisi”ucap wanita itu menarik perhatiannya. Mavin Vintorin langsung menangguk. “Yeah silahkan Liyana”ucapnya yang langsung melihat wanita didepannya duduk dengan begitu tenangnya.


“Tidak pesan sesuatu?”tanya Mavin Vintorin yang melihat Liyana duduk didepannya.


Liyana yang mendengarnya mengeleng, “Aku tak ada waktu banyak untuk semua ini, silahkan sampaikan keinginanmu Tuan Mavin”ucap Liyana.


Mavin yang mendengarnya terasa menyayat kehati. Namun ia tak ingin memasukkan semua kedalam hatinya. Karena dari awal semua ini terjadi karena dirinya.


“Ba-Baiklah, pertama-tama..Aku ingin minta maaf kepadamu”Mavin Vintorin membuka pembicaraan terlebih dahulu. Liyana yang mendengarnya mengangguk.


Mavin Vintorin melanjutkan, “Aku tak ingat dengan kejadian waktu itu, mungkin karena pengaruh obat yang juga disuntikkan kepadaku. Saat itu yang ku ingat aku melihat seseorang berada dibawahku tanpa tahu wajahnya”


“Dan karena hatiku yang berkecambuk dengan perasaan, aku mengira dirimu adalah Evita. sejujurnya hatiku tak setuju dengan pengakuan dari mulutku. Tapi karena buta akan cinta Aku melupakan isi lubuk hatiku sendiri”


“Liyana, jika kau berbicara saat itu kepadaku dan mengatakan secara langsung kepadaku, Aku mungkin akan mengatakan bahwa kau gila tapi Aku akan bertangung jawab dengan apa yang ku perbuat”


Mavin Vintorin menundukkan kepalanya depan wanita yang kali ini tak ingin dilepas olehnya.


“Seperti ucapan anda Tuan Mavin, jika saat itu aku mengatakan kepadamu didepan Evita, bahwa diriku sedang mengandung anakmu, kau pasti akan menampar atau mungkin akan membunuhku langsung ditempat. Pria yang begitu cinta kepada kekasihnya tak akan membuat pikiran kekasihnya kotor bukan?”Tanya Liyana dengan wajah tenangnya.


“Permintaan maaf aku sudah menerimanya, untuk tanggung jawah kau tak perlu berpikir untuk menikahiku dan menjaga Putraku. Karena pada dasarnya Aku sangup mencukupi kebutuhan internalnya, jadi tak perlu khawatir”ucap Liyana.


Mavin Vintorin yang mendengarnya tercenga. Ia ingin membantah.


“Tak perlu berpikir melakukan itu semua Tuan Mavin, bagaimanapun dihati kecil anda masih bertahta seorang wanita yang sama. Aku tak ingin menjadi penganti ditempat itu. karena Aku juga ingin merasakan cinta tulus tanpa alasan”Liyana beranjak bangun yang membuat Mavin Vintorin ikut bangun.


“Maaf Tuan Mavin, Aku tak bisa berlama-lama karena ada urusan diperusahan, jika anda begitu ingin bertemu putra anda, izinlah kepadaku..aku akan mengaturnya untukmu..permisi”Liyana pergi dengan begitu serius. Ia tak memandang kebelakang.


Mavin Vintorin yang melihatnya tak bisa berbuat apa-apa. Jika ia menahan Liyana,satu hal yang akan didapati olehnya, ia akan diserang oleh para bodyguard yang ada disekitar Liyana. Bagaimana pun Liyana bukan sembarangan orang.


Seorang Hecker yang begitu terkenal dikota A ini. Sulit untuk bermain-main dengannya.


Mavin Vintorin duduk lemas dikursi tempatnya. Ia merasa pertemuan ini tak membawa kemajuan untuknya.


“Kenapa wanita yang ku kejar begitu sulit”benak Mavin. Ia menatap layar ponselnya. Diwallpaper ponsel pintar itu terdapat foto Evita yang diam-diam diambil olehnya.


“Apa lebih baik aku bertemu dengan Evita”benak Mavin. Ia sudah tak bisa menemukan jalan yang baik. Jadi satu-satunya jalan adalah meminta bantuan Evita.


-


Liyana duduk didalam mobil dengan perasaan yang penuh akan kekesalannya. Ia tak menduga Mavin Vintorin masih menyebutkan nama wanita yang dicintainya.


Liyana berharap Mavin mengatakan hal lain seperti memaksanya untuk bersama. Tapi nyatanya hanya menjelaskan hal-hal yang berakhir dengan Evita.


“Aku tak mengerti Evita, kenapa Aku begitu kesal setiap ia mengatakan namamu”benak Liyana. Ia tiba disebuah gedung tinggi yang tak lain adalah Perusahaan Detektif.


“Liyana, Kau tak menjenguk Evita?”tanya Miss Lila kepada Liyana yang memasuki kantornya.


“Tidak Miss, saat ini Aku tak ingin mengunjunginya, nanti Aku akan kesana sekalian mengajak Vino”jawab Liyana dengan santainya. Miss Lila yang mendengarnya mengangguk tanpa tahu apa yang terjadi kepada Liyana.

__ADS_1


Brak!


Pintu kantor miliknya tertutup otomatis. Liyana mendudukkan diri dengan perasaan campur aduk. Ia pun memfokuskan diri dengan pekerjaan untuk melupakan apa yang terjadi sekarang. Dan berharap semua hanyalah mimpi belaka.


-


Diruang makan, semua orang menatap kearah Amelya dan Intari yang terlihat begitu lelah. Itu pandangan orang yang tak tahu.


Kepala keluarga Alex tahu akan yang terjadi, karena tak ada yang tahan dengan godaan dimalam habis mendapat restu.


Semua hanya senyum-senyum malu melihat Intari dan Amelya yang sering meringit. Sedangkan Suami mereka tampak bodohamat tapi memiliki rasa khawatir.


“Za, cucuku dimana Istrimu?”untuk menghindari malunya para menantu baru. Kakek Pertama bertanya tentang menantu yang sudah menjabat lebih dahulu menjadi menantu mereka.


“Ia sedang tidur Kakek, aku tak ingin membangunkannya”jawab Za dengan menghentikan pelayan yang menyajikan sarapannya.


“Ooh, yeah dia harus beristirahat...bagaimanapun Ia sedang mengandung, perhatikan keadaannya Za, jangan sampai stres”ucap Kakek Kedua yang begitu senang mendengar bahwa ia akan menjadi seorang kakek buyut. Tentu saja kakek yang lain juga senang.


“Iya Kakek”jawab Za seadanya.


Intari dan Amelya akhirnya bisa duduk, setelah berjalan disana sini dengan rasa nyeri di pingulnya apa lagi diarena pribadi mereka.


Suami mereka melarang untuk turun, tapi tak enak hati Intari dan Amelya jika mereka berada dikamar. Apa lagi mereka baru saja mendapatkan pengakuan menjadi istri dari Yoongi dan Echan.


“Menantuku”sapa Ayahnya Echan yang membuat Intari dan Amelya menoleh bersama. Karena keduanya juga menantu baru disini.


“Ha.hahahaha, Putraku Taoran Mahen, jangan membuat para menantu menjadi bingung”ucap Kakek Ketiga yang menegur putranya.


Ayah Echan yang mendengarnya tersenyum. Intari dan Amelya menatap bingung.


“Sepertinya Kalian harus belajar tentang susunan keluarga disini”ucap Bibi ketiga yang merupakan Ibu dari Putra.


“Semuanya silahkan makan”ucap Kakek Pertama membuka suasan yang penuh kebahagiaan.


Namun tidak Bibi Kedua yang sarapan dengan perasaan penuh kekesalan. Ia tak menduga keluarga ini menerima orang asing semudah itu.


Acara makan-makan itu pun selesai, para menantu baru dibawa keruang tamu keluarga. Dimana ada Orang tua Yoongi,Orang tua Echan,Orang tua Putra, dan Anak kedua dari Kakek pertama yang tak lain adalah Bibi Kedua dan Paman kedua.


“Karena semua disini, Kakek akan mengenalkan susunan keluarga disini”ucap Kakek Pertama.


Intari dan Amelya yang duduk disamping suami mereka mengangguk.


“Baiklah, dua orang disampingku ini, yang sebelah kananku merupakan adikku, ia dikenal dengan panggilan Kakek kedua. Selain itu ia yang menjadi kepala keluarga dimarga Xue. Anaknya satu orang saja, ia bernama Xue Edgar dan istrinya bernama Xue Wenki, panggil saja Ia Ibu Kiki”jelaskan Kakek Pertama yang membuat Intari paham.


Ia memandang kearah mertuanya yang disambut hangat dengan senyuman oleh mereka. melihat hal seperti itu Intari merasakan sosok orang tuanya yang menyaksikan hal ini.


Ia menepis pikiran anehnya dan membalas senyuman dari Ibu Mertuanya.


“Sekarang yang disebelah kiriku, Ia juga adikku, dengan panggilan Kakek Ketiga. Dan sebagai kepala keluarga dari Taoran. Sama seperti Kakek Kedua, Kakek tiga punya satu anak. Ia bernama Taoran Mahen dan Istrinya bernama Taoran Weyrely, panggil saja Ibu Rely”lanjut Kakek Pertama.


Amelya yang mendengar Ibu Echan langsung menatap kearah Mertuanya yang juga menatap dirinya. Ia langsung malu saat mertuanya tersenyum kepadanya. Tingkah Amelya itu berhasil membuat orang-orang menjadi gemes melihatnya.


“Dan sekarang diriku, Aku Kakek pertama, sekaligus memimpin keluarga dengan tiga marga, salah satunya Zhan. Aku punya tiga putra dan semua telah menikah. Putra Pertamaku bernama Zhan Omorfos, dan Istrinya bernama Chen Rey. Ia tak mengambil marga Suaminya tapi marga diri nya. Lalu Putra Keduaku, ia bernama Zhan Anggara dengan istrinya bernama Zhan Renjeli. Ia yang tadi dipanggil kalian dengan sebutan Bibi Kedua”


Intari dan Amelya mengangguk mendengarkan susunan keluarga yang membuatnya pusing ini. Yeah mereka merasa aneh karena keluarga ini selalu menyebutkan angka disetiap panggilannya.


“Dan Putra ketigaku, Ia adalah Zhan Xander dan Istrinya bernama Zhan Ferti. Mereka dipanggil dengan sebutan Bibi Ketiga. Kalian pasti sudah bertemu Putra yang menikah dengan Inul, Tante Muda Evita. Putra adalah anak mereka”jelas Kakek Pertama dengan begitu sangat jelas.


Intari merasa sedikit kejangalan, Ia memutuskan bertanya. “Kakek, apakah Bibi Kedua punya seorang anak?”

__ADS_1


Semua tampak terteguh mendengar pertanyaannya. Intari yang merasa salah langsung meminta maaf. “Maaf”


“Tidak perlu minta maaf menantu”ucap Ayah mertuanya yang tak lain adalah Ayah Yoongi.


“Ehem, biar Kakek yang menjelaskan”ucap Kakek Pertama yang berniat untuk menjelaskan tentang Bibi Kedua.


“Tak perlu Ayah, biar aku yang mengatakannya..”potong Paman kedua yang membuat suasana seketika berubah.


“Menantu Xue, biar aku menjawab secara langsung. Aku Zhan Anggara, menikahi Istriku karena pernikahan paksa. Akibat salah pergaulanku yang berakhir menikahinya dan membuatnya tak bisa hamil lagi. jadi alasan kenapa tak ada keturunan ya karena ia tak bisa hamil”ucap Paman Kedua dengan begitu tenangnya.


“Lagi pula, didalam keluarga Zhan, tak ada yang bisa menikah dua kali. Jika itu terjadi tak akan diakui oleh keluarga. Maka itulah aku tak menceraikan Istriku ini”lanjut Paman kedua yang membuat Bibi Kedua menatap tajam kepadanya.


“Yeah, jika kau tak menghempasku kedinding, Aku tak akan mungkin mengalami keguguran dan mengakibatkan rahimku bermasalah”Bibi kedua berdiri dan melangkah pergi meninggalkan ruang keluarga yang harusnya diisi oleh kebahagiaan.


“Begitulah Kami, jadi jangan terlalu berharap banyak”ucap Paman Kedua yang juga meranjak pergi. Intari dan Amelya merasa tak enak hati dengan apa yang terjadi.


“Tenanglah menantu, ini bukan salah kalian”ucap Kakek Kedua dan Ketiga yang membuat Intari dan Amelya makin tak enak hati.


“Sudah..sudah, Yoongi, Echan, bagaimana kalau kalian mengajak Istri kalian berkeliling disini. Agar tak bosan hanya duduk-duduk disini saja”ucap Kakek Ketiga memberikan ide menarik. Yoongi dan Echan mengangguk, keduanya langsung membawa istri mereka untuk berjalan-jalan mengelilingi halaman Zhan.


-


Seseorang baru saja bangun dari tidurnya. Ia membuka mata dan melihat seseorang tengah duduk menjaga dirinya.


“Pagi sayang”sapa orang yang tak lain adalah Suaminya sendiri. Evita tersenyum menyambut Suaminya.


“Pagi juga Za”sapa Evita yang kangen dengan momen ini. Ia merentangkan tangannya seperti anak kecil yang ingin digendong.


Za yang paham langsung memeluknya dengan hati-hati. “Kau ingin mandi?”tanya Za yang dianggukkan oleh Evita.


“Iya, tapi jangan macam-macam”tegur Evita terlebih dahulu yang membuat Za tertawa mendengarnya.


“Iya..Hahah, baiklah Istriku, Aku akan memandikanmu seperti bayi”ucap Za mengendong Evita. luka di pungung tak dirisaukan.


“Za, apa pungungmu berdarah lagi, jika Ia turunkan aku..aku bisa berjalan, lebih baik papah diriku”ucap Evita mengusulkan diri. Za yang merasa sakit dipungungnya langsung mengangguk.


“Maafkan aku, jika saja Aku kuat. Luka ini pasti tak berarti apa-apa untukku”ucap Za dengan menurunkan Evita secara hati-hati.


Evita tersenyum mendengarnya. “Jangan seperti itu Za, kau sudah kuat. Kau menerima hukuman untukku dan anak kita”Ucap Evita dengan menarik tangan Za menuntun diperutnya.


Za membulatkan mata melihat kemanjaan Istrinya. Baru kali ini Evita lebih manja dari biasanya.


“Ayo Mandi, setelah itu kita makan bersama”ucap Za yang menuntun Istrinya kekamar mandi.


Setelah berurusan dengan air itu, Evita mengenakan pakaian yang santai seperti biasanya. Ia duduk dikasur dengan memandang Suaminya yang mengaduk-aduk bubur untuk dirinya.


“Apa Aku harus makan bubur terus Za?”tanya Evita yang mulai bosan. Rasa bubur itu tidak enak.


“Kau bosan?”tanya Za dengan menatap Istrinya. “Iya, rasanya Cuma itu-itu saja, bisa kau masukkan gula didalamnya. Agar ada manis-manis nya gitu”tawar Evita yang membuat Suaminya itu mengeleng.


“Kau ini Evita, tidak boleh makan yang terlalu manis. Kau sudah kelewatan batas dalam memakan sesuatu, wine dilarang untukmu kau harus menahannya dan makanan manis juga”ucap Za yang membuat Evita cemberut.


“Kau ingin sesuatu yang baru untuk dirasa kan, Aku akan mengambilkan Ayam goreng untukmu, jadi tunggu disini”ucap Za yang meranjak bangun. Evita tersenyum mendengarnya. Ia memandang kepergian Suaminya.


Tak lama Suaminya datang dengan aroma dari ayam goreng yang membuat nafsu makan Evita memuncak.


Tanpa basa basi, Evita menyuap apa yang diberikan oleh Za, bahkan tanpa sepegetahuan Evita ada obat yang dibuat oleh Za. Obat itu untuk membuat Evita tenang.


Za menatap dengan wajah penuh kebahagiaan, namun matanya serius melihat Evita yang makan dengan lahap.

__ADS_1


“Evita, Aku tak ingin melihatmu mengamuk lagi”benak Za.


__ADS_2