
“Hoaammmm”Intari merengangkan tubuhnya, semalam karena banyak minum ia tak tahu siapa yang membawanya kekamarnya.
Setelah matanya melihat dengan jelas, terlihat sebuah tubuh tanpa busana yang terekspos didepan matanya. Intari berkedip-kedip untuk memastikan kesadarannya, ia mengulurkan tangan untuk menyentuh tubuh tersebut.
“Nyata”gumannya.
“Kenapa?..kau menginginkannya?”ucap seseorang dengan suara serak. Intari yang mendengarnya langsung seketika bangun dan menatap kearah Pria yang tak lain Yoongi. Suaminya sendiri.
“Bagaimana bisa kau ada disini?”Tanya Intari dengan menatap kearah Yoongi yang memilih untuk duduk. “Apa salahnya...ini kamarku juga kan?”tanya Yoongi kembali dengan menatap kearah Intari.
Intari terdiam sesaat. Pikirannya mengarah kehubungan mereka. Yoongi Suaminya, jadi emang tak ada salahnya tinggal bahkan tidur bersamanya.
Seketika itu juga wajah Intari memerah. Hal tersebut tak luput dari pandangan Yoongi yang menatap Intari.
“Apa sebegitu gugupnya dirimu, padahal tadi malam kau tak terusik dengan aku yang tidur disampingmu”ucap Yoongi yang langsung di diamkan oleh Intari mengunakan telunjuknya.
“Diam....Kau..Kau”Intari menatap kearah Yoongi dengan pandangan yang malu. Tentu saja malu, Intari kan tak tahu bahkan belum mengerti akan hal tersebut.
Yoongi yang didiamkan langsung menarik tangan Intari dan memeluknya. “Masih pagi, tidur lagi”ucap Yoongi yang berbaring bersamaan dengan Intari. Intari terdiam mematung saat Yoongi berbaring tepat didadanya.
“Kecil ya”ucap Yoongi yang langsung dimengerti oleh Intari, “Kalau tak suka, jangan baring didadaku..sana”kesal Intari. Enak aja dia dipanggil kecil, mentang-mentang tubuhnya hanya seperti tiang.
“Maaf...kau marah?”ucap Yoongi lagi yang kembali berbaring didada Intari. Detak jantung yang berburu terdengar oleh Yoongi.
“Tentu saja marah.....”ucap Intari sedikit bingung. Karena ya ini pertama kalinya juga pria dekat dengannya, lebih tepatnya sangat dekat. Empat tahun tak bertemu laki-laki. Sekali bertemu kontak fisik terjalin. Hah membuat Intari merasa diberi bom, bom apa kah itu.
“Kalau begitu aku minta maaf...sekarang biarkan aku tidur sebentar”ucap Yoongi yang memejamkan matanya. Meski begitu pendengarannya tetap berfungsi karena ingin mendengar detakkan jantung istrinya yang saat ini bingung ditambah malu. Senyumnya terukir tanpa sepengetahuan Intari.
-
Amelya membalikkan tubuhnya yang langsung menabrak sesuatu yang sangat keras. Tapi bukan berarti itu dinding. Amelya yang malas membuka mata hanya bisa meraba, ia merasakan disekujur tempat yang menghalanginya.
“Sejak kapan kamarku dekat dengan dinding?”gumannya, namun saat rabaan itu naik, sesuatu yang lain berhasil membuat Amelya menghentikan rabaannya.
“Tunggu sejak kapan Dinding punya rahang?”guman, Amelya memutuskan untuk membuka matanya untuk melihat dinding apa yang memiliki rahang, siapa tahukan dinding jadi-jadian.
“Yooo!!”
Mata Amelya membulat melihat apa yang ada didepannya, seorang pria yang berbaring miring dengan tangan kiri menjadi penampung kepalanya. Serta senyum yang bersinar seperti matahari yang terbit dipagi hari. Lalu mata yang menatap kearah Amelya dengan pandangan yang teduh untuk menghalangi indahnya cahaya matahari.
“Malaikat dari mana nih?”guman Amelya tanpa sadar melihat Echan yang masih stay dengan terkekeh mendengar ucapan Amelya barusan.
“Aku suamimu, bukan malaikat”mendengar kata suami berhasil membawa kembali kesadaran Amelya. Amelya langsung bergegas untuk bangun dan bersiap untuk berlari tapi tubuhnya tiba-tiba ditarik kembali.
Grebbb
“Masih pagi...istirahatlah, kau kemarin hampir ikutan minum, untung tidak jadi”ucap Echan memeluk Amelya dari belakang.
Amelya terdiam merasakan apa yang dilakukan oleh Echan, tangan kekar milih Echan menyentuh perutnya, untung masih ada baju yang menjadi penghalangnya. Tapi suatu saat nanti itu tak akan menjadi penghalang untuknya bukan. Sudah jangan berpikir kesana.
“Ini...masih jam berapa?”Amelya berusaha untuk bertanya, ia tak mungkin berdiam diri, entar dikira bisu lagi.
“Masih jam 6 pagi...lagian tadi malam kita habis merayakan pernikahan, jadi hari ini kita jadikan hari yang santai”ucap Echan yang meletakkan kepalanya ditengkuk Amelya. Seketika itu juga Amelya mengeluarkan suara lenguhan yang membuat Keduanya terdiam.
“Maafkan aku”ucap Echan yang menjauhkan diri. Saat ini yang terpenting adalah kenyamanan Amelya, jika hasrat yang sudah terkekang, mendengar lenguhan Amelya membuatnya bergetar dan ingin melakukan lagi. tapi Echan tak ingin melakukannya. Karena yang ia takuti Amelya malah merasa tak enak. Jadi Echan ingin Amelya sendiri yang mengijinkannya.
“Ah tidak..eh..bukan maksudku..Maaf”Amelya juga bingung harus berreaksi seperti apa. Karena ia sendiri juga sadar bahwa lelaki memiliki nafsu yang luar biasa. Jika ia melenguh dan Echan melakukan lagi, bisa-bisa Amelya akan menjadi takut. Tapi untungnya Echan tak melanjutkanya. Amelya sedikit bersyukur.
Keduanya kembali diam tak bisa berkata apa-apa. Meski saat ini Echan masih memeluk Amelya dan Amelya tetap diam meski jika ia meminta untuk dilepaskan, pelukkan itu akan terlepas. Keduanya hanya bisa berdiam diri dengan pikiran masing-masing.
__ADS_1
-
Evita yang tadi malam meminum banyak sekali wine, merasa sedikit pusing untuk bangun. Ia bahkan tak ingin membuka matanya. Jadi ia memutuskan untuk meraba dan duduk dengan mata yang masih tertutup.
“Jam berapa sekarang..ugh kepalaku sakit”Evita menyentuh kepalanya, ia benar-benar malas membuka mata. Karena tangan yang meraba-raba, ia menyentuh sebuah benda yang tak asing didirinya.
“Kenapa aku pegang kaki...tapi kok aku tak merasakannya?”ucap Evita yang akhirnya membuka mata untuk melihat kaki siapa yang disentuh olehnya.
Saat pandangan berhasil tertangkap, ia melihat kaki kekar milik seseorang yang tengah asik tiduran dengan tubuh tanpa pakaian. Untung pakai celana. Jika tidak mungkin Evita sudah menendangnya.
“APA YANG KAU LAKUKAN ZA!!!”Evita berteriak sambil menatap kearah Pria yang terkejut mendengar teriakkannya.
“Masih pagi...jangan teriak-teriak....”ucap Za dengan suara paraunya. Ia mengucek mata dan menatap Evita yang masih syok melihat apa yang didapatinya.
Wajar jika Evita syok, bayangkan saja, sudah berapa kali ia melihat roti sobek. Canda roti sobek. Intinya tubuh pria yang begitu sempurna, Derka, saat mereka dipantai, Derja sempat membuka baju, itu pun didepan Evita saja. Sebastian, pria itu kan tinggal serumah, jadi kadang-kadang mata laknat Evita melihatnya, terus Reza, kesayangan keluarga Kim dulu juga memamerkan hal yang sama. Lalu Mavin Vintorin. Sekarang Za, Evita tak bisa berpikir lagi. berapa banyak roti yang sudah dilihatnya. Sial matanya ternodai lagi.
“Bisa kau kenakan pakaianmu”ucap Evita yang mengalihkan pandangannya. Ia tak ingin dikira pengagum roti sobek.
“Kenapa?...bukannya tubuhku sangat indah?”Entah kenapa Za kali ini sudah berani mengoda Evita. Evita memerah mendengarnya. Dulu sempat terpikir, apa ia akan bangga melihat lelaki yang memamerkan tubuhnya didepan kekasihnya. Dan ternyata sekarang bukan merasa bangga, Evita malah merasa malu.
“Ku bilang pakai bajumu”Evita menutup tubuh Za dengan selimut hitam miliknya. hingga keduanya saling berdekatan. “Apa salahnya aku memamerkan tubuhku didepan istriku sendiri”
“Za..kapan kau belajar kata-kata memalukan seperti itu....Za kembali seperti dulu, seperti wajah talenan”Evita sudah mulai mengelantur. Ia sungguh merasa aneh dengan Suaminya ini. Yeah ia tak bisa melupakan bahwa statusnya telah menjadi istri seorang Tuan Zhan Za Chen. Cucu pertama keluarga Zhan. Cucu tersayang, lalu kesayangan Bibi Kedua.
Dulu Evita sendiri pernah memikirkan, bahwa ia tak mungkin memiliki hubungan dengan keluarga Zhan ini. Tapi takdir berkata lain, Ia bahkan tak menduga menjadi istri dari keluarga Zhan.
“Kau mengataiku Talenan...Emang ya Istri yang tidak membanggakan suaminya sendiri.....padahal dulu saat pertama kali bertemu, begitu dingin dan memiliki wajah yang cuek”
Evita mendengar ucapan Za langsung menatap kearah Za dan memandangnya. “Pertama bertemu....apa maksudmu?”Evita mengingat bahwa setiap bertemu Za, ia tak dingin.
“Bukannya balapan yang dilakukan seorang wanita dengan saingan satu orang saja, langsung mengeluh ketika ada orang lain yang mendahuluinya”ucap Za yang duduk dengan bersandar.
“Sial!!..jadi itu Kau”Evita langsung melesatkan tinjuannya kearah Za. Za menahan tangan tersebut dan menarik Evita hingga tubuh Evita menindih Za.
“Ya...itu Aku Evita....Aku..Zhan Za Chen”ucap Za dengan wajah yang serius. Evita langsung terdiam dengan mata yang terpaku melihat Za yang begitu antusias. Hingga..
Cup
Za mencium bibir lembut Evita dan menuntungnya untuk bermain sebentar. Meski begitu terkejut Evita mulai terbuai dengan apa yang didapati olehnya. Ia terbawa suasana hingga menginginkan lagi dan lagi.
Za menatap mata Evita yang kini terbuai dengan ciumannya, ia melihat mata Evita yang tersirat begitu banyak kesedihan dan ketakutan. “Evita...apa yang membuatmu menjadi seperti ini?”benak Za yang melanjutkan lumatannya.
-
Intari dan Amelya baru saja selesai membersihkan diri, kali ini mereka akan sarapan bersama. Aroma makanan telah tercium oleh keduanya. Mereka langsung bergegas kedapur.
Untuk Suami mereka, tentu saja mandi. Karena Intari dan Amelya lah yang paling dahulu membersihkan diri.
“Selamat pagi Nyonya”ucap para Bibi yang menghidangkan makanan. Intari dan Amelya mengangguk. “Pagi Bii!!!”balas keduanya. Mereka berniat untuk melahap duluan, tapi langsung terhentikan oleh Bibi kesepuluh.
“Nak Indah..dan Nak Amelya, kalian harus menunggu yang lain, apa lagi Suami kalian”ucapnya. Intari dan Amelya saling memandang karena bingung.
Bibi yang lain langsung berbicara lagi, “Tak baik jika seseorang tak menunggu Suaminya, setidaknya makan bersama adalah momen yang sangat bahagia. Karena kalian baru menikah, mungkin tak mengetahuinya, jadi dari sekarang mulailah untuk belajar”
Intari dan Amelya yang mendengarnya akhirnya mengerti dengan apa yang dikatakan oleh para Bibi, saat ini mereka masih harus belajar. Apa lagi membangun rumah tangga bukan seperti mengangkat tangga yang sebenarnya. Tapi harus menyiapkan segala yang ada.
“Baik Bi..kami mengerti..kalau begitu ajari Kami”ucap Amelya yang dianggukan oleh Intari.
Para Bibi pun tersenyum, tak lama datang Yoongi dan Echan dengan style santai. Karena mereka juga sudah mengatur urusan kepolisian kepada anak buah mereka. setidaknya mereka libur sebentar.
__ADS_1
“Dimana Za dan Evita?”tanya Intari kepada Amelya yang tengah menuangkan air minum untuk para suami mereka.
“Entah...mungkin masih dikamar”jawab Amelya. Ia ingat malam tadi Evita benar-benar mabuk berat.
“Aku akan membangunkannya”Intari ingin berdiri tapi ditahan oleh Yoongi. “Biarkan saja, ada Kak Za disana”
Intari terdiam sesaat, ia mengerti bahwa sekarang sudah harus fokus terharap urusan sendiri. jadi Ia kembali duduk.
-
Evita telah selesai Mandi, ia telah selesai membersihkan diri. Hampir saja pagi ini terjadi sesuatu yang membuat Evita takut. Ia bukan tak ingin melakukan hubungan dengan Za. Tapi sekarang ia masih takut. Bayangan orang lain menyetubuhinya masih menghantuinya. Ia takut Za menjadi sasaran kebenciannya. Dan untungnya permainan Ciuman tadi berakhir hanya sampai disana.
Evita menyentuh bibirnya, bibir yang ia tahu tak pernah disentuh. Kini Za lah yang merengutnya. Tapi dipikir-pikir kayaknya bukan Za. Melainkan orang lain. Evita menjadi makin gelisah memikirkannya.
“Kau sudah siap?”tanya Za yang telah selesai mandi, ia telah mengenakan pakaian santainya. Evita menatap kearah Za.
“Ada apa?”tanya Za yang mendekat dan mengusap kepala Evita. Evita mengeleng. “Ayuk sarapan..pasti mereka telah menunggu kita”meski Evita terlihat tak mengetahui masalah Hubungan, ia telah di didik oleh keluarga Alex. Jadi paham betul apa yang dimaksud rumah tangga itu.
Mereka berdua pun melangkah keluar kamar menuju ke dapur yang terlihat dua pasangan tengah berbincang-bincang.
“Sudah lama menunggu?”tanya Evita, ia menarik kursi disampingnya dan menarik kursi yang ada dihadapannya. Za duduk dikursi yang ditarik oleh Evita. Evita duduk disebelahnya.
“Tentu saja...tidak..hahah”Intari menatap kearah Evita dan Za yang terlihat begitu tenang.
“Berapa banyak botol yang kau minum tadi malam Evita?”tanya Intari yang penasaran, Evita yang jarang mabuk, kini bisa mabuk bahkan mabuk berat.
“Mungkin sekitar 4”Evita meneguk air putih yang ada.
“Sudahlah...dari pada cerita mending makan”Amelya sudah tak tahan melihat sarapan yang enak ini. Sayang kalau di dinginkan. Lebih baik dimakan. Intari dan Evita yang melihatnya langsung tertawa. “Kau benar...mari makan”ucap Evita yang dianggukkan oleh yang lain.
-
“Kak..tolong beri beberapa bawahanmu..untukku please”Andre mendapatkan Izin kemarin, tapi Ayahnya mengatakan bahwa Bawahan Mavin Vintorin yang bisa diperintahkan.
“Untuk apa?...bawahanku bukan seenak jidatmu memerintahnya”ucap Mavin Vintorin yang baru saja selesai berenang dikolam belakang halaman.
Andre yang mendengarnya merasa kesal. “Apa susahnya sih....Aku adik kandungmu loh”
“Kandung?...entah keberapa”Mavin Vintorin menjawab acuh dengan orang yang mengaku adiknya ini. Pasalnya sudah berapa kali Ayahnya membawa seorang anak yang berakhir dibunuh sendiri.
“Kau tak percaya..bahkan darahku milik keluarga Mavin”Andre mengulurkan lengannya untuk membuktikan diri.
“Sudah...sudah, aku tak bisa memberikan bawahanku seenak jidatmu....sana pergi minta sama Ayahmu itu”Mavin Vintorin melangkah pergi meninggalkan Andre yang telah kesal.
“Sial....percuma aku disini....bagaimana caraku membalas Evita...”Benak Andre yang melangkah masuk kedalam Mansion yang begitu banyak pengawal.
-
“Apa Ayah mencari keberadaanku?”Merlina baru saja selesai mandi. Ia tengah menikmati skin care miliknya.
“Dasar anak manja....untuk apa bersedih, Ayahmu itu pengusaha..ia pasti akan meminta bantuan untuk membawamu pergi”ucap Yelina yang baru selesai mengenakan pakaiannya. Ia sekarang mengunakan penutup mata karena mata satunya telah buta.
“Biarin....lagian meski Ayahku pengusaha, ia mungkin hanya akan mencari dengan menaikkan derajatnya”Merlina menatap kearah Cermin yang menampilkan wajahnya.
“Seharusnya saat pestamu itu, Kau tak perlu ada disana..kenapa ikut menyerang”keluh Yelina mengingat kekalahan mereka.
“Bukannya kau juga kalah, Evita..wanita itu adalah wanita yang ku benci”
“Apa yang membuatmu membencinya”
__ADS_1
“Karena ia memiliki segalanya”Merlina memandang datar kearah Cermin yang memantulkan bayangannya sendiri.