
Intari bangun dari tidurnya. Ia melihat jam yang ada dimeja, menunjukkan waktu sore, yang tak lama lagi akan menyambut malam hari.
Ia menatap langit-langit kamar yang asing dimatanya, dan saat dirinya mulai terbiasa, Ia langsung duduk dan menyadari bahwa ia sudah tiba dikediaman Za.
“Astaga, aku tertidur sepanjang jalan...Intari-intari benar-benar ya..”gumannya.
Intari melangkah menyusuri kamar. Ia ingin mengingat apa saja yang ada disini, karena ia tahu bahwa disini akan berbeda dari kediaman Zhan. Mungkin akan lebih rumit lagi.
30 menit menjelajahi, akhirnya dirinya lelah melihat apa yang ada disekelilingnya. Rumah orang kaya ini benar-benar berbeda.
“Apa Za itu menabung uang, ah tidak..aku sudah tahu ia kaya..hanya ini masih terasa dirinya pria sederhana. Nyatanya pria ini lebih gila uang deh”guman Intari dengan pusing memikirkan berapa banyak Za mengeluarkan uang hanya untuk mansion ini.
Kamar yang seharusnya tak semewah di penthouse. Lihat saja, mulai dari kasur, lemari, rak. Dan hiasan-hiasan dikamar. Intari merasa tinggal disebuah kamar bangsawan.
“Dari pada pusing lebih baik aku keluar, mencari udara segar”guman Intari yang menuju keluar kamar.
-
Berbeda dengan Intari..
Amelya bengong dengan duduk dilantai. Ia tak menduga kakak iparnya ini sangat kaya. Benar-benar tak menduganya. Ia sudah berkeliling dikamar yang luas ini, sampai-sampai dirinya harus berakhir dengan duduk dilantai.
“Aku merasa Evita beruntung mendapatkan Za. Sudah tampan, anak pertama, cucu kesayangan dan lagi orang yang kaya. Evita saja sudah mengumpulkan beberapa black Card, jika Za memberikan black cardnya, kira-kira berapa nominal kartu itu”
Pikiranya melayang-layang yang membuatnya benar-benar diambang kemegahan.
Bagaimana pun, gaji Amelya. Intari dan Evita pasti tidak bisa menyusul gaji Za. Untuk sesaat Amelya melupakan bahwa Suaminya juga orang kaya.
Karena puas memeriksa disana dan sini. Amelya memutuskan untuk keluar dari kamarnya. Setidaknya ia tour dikediaman Kakak Iparnya ini, suami dari Sahabatnya.
-
“Eh?”
“Huh?”
Intari dan Amelya saling bertemu, mereka terteguh bersamaan.
“Kau berjalan-jalan juga Intari?”tanya Amelya.
“Hm, apa kau tahu aku pusing melihat kemegahan ini, ini lebih megah dari kediaman Zhan”bisik Intari dengan menunjukan mata uangnya. Karena dirinya adalah pencinta Uang. Oke lupakan itu.
“Apa lagi diriku, ah itu bukannya jalan untuk turun dari tangga kan?”Amelya menunjuk sebuah tangga.
Mereka melesat menuju kearah tersebut, namun langkah mereka terhenti ketika melihat apa yang ada didepan mereka.
“Ini benar-benar”
“Mirip dengan Mansion detektif yang dulu bukan?”Intari mengangguk menjawab pertanyaan Amelya.
Dekorasi mansion Za benar-benar mirip dengan mansion detektif Miss Lila dan Mr. Tom.
“Apa Kakak Ipar kita membangun mansion ini karena Evita?”tanya Intari. Karena melihat dekorasi yang sangat mirip dengan mansion detektif dulu. Apa lagi tangga yang ada didepan mereka.
“Ku rasa tidak”
Intari dan Amelya menatap kebelakang mereka. melihat seorang wanita dengan pakaian yang begitu mudah dikenali. Ia adalah kepala Pelayan dimansion ini. Keduanya merasa aneh melihat wanita yang ada didepan mereka.
“Ku rasa, Tuan muda Za tak mungkin membangun mansion hanya karena itu, pasti ada alasan penting dibalik itu”ucap Kepala Pelayan dengan senyumnya.
Intari dan Amelya menatap bingung dengan apa yang terjadi. Mereka merasa kepala Pelayan ini seperti Nyonya yang sebenarnya.
“Apa yang kalian lakukan berdiri disana?”tanya Evita yang muncul dengan tenang. Membuat ketiga wanita langsung menatap kepadanya.
Kepala Pelayan mengangguk dengan senyum menyambut. “Anda kembali lagi Nona Evita,saya berpikir anda sudah memutuskan untuk tidak kembali lagi”ucap kepala pelayan.
Intari dan Amelya merasakan aura permusuhan dari Kepala Pelayan. Ingin rasanya mereka langsung meremuk wajah yang memandang tajam kepada Evita.
“Niatku tidak ingin kembali lagi, tapi Tuan mu ini menarikku kembali. Jadi Aku kembali. Lagi pula aku adalah orang yang dicintainya. Apa salahnya aku kembali”ucap Evita dengan senyum tenang.
“Intari dan Amelya, ayo berkeliling.selagi Tuan rumah ini sedang sibuk”Evita menarik tangan Intari dan Amelya. Mereka menuruni anak tangga bersama-sama.
“Evita, apa ia memusuhimu?”tanya Intari sambil berbisik. Evita tersenyum, “Lebih tepatnya sainganku, ia mencintai Za”jawab Evita dengan berbisik. Intari dan Amelya merasa kasihan dengan Kepala Pelayan karena harus menghadapi Evita yang bermain-main dengan musuh kecil.
Tanpa mereka sadari, mata tajam dengan penuh permusuhan menatap kepergian mereka.
__ADS_1
-
Bibi Kedua tidak tenang didalam kamarnya. Karena ia merasa bahwa dirinya sudah ketinggalan langkah dari Evita.
Evita sudah bergerak maju didepannya.dan kemungkinan besar akan mengendalikan Za, keponakkan yang dijaga olehnya.
“Ini tak bisa dibiarkan, aku harus menghabisinya dengan cepat”pikiran terus berjalan. Mencari solusi dari setiap masalahnya. Hingga salah satu orang muncul didalam benaknnya.
“Benar, aku yakin ia pasti akan berbagai macam cara”dengan cepat Bibi Kedua meraih ponsel pintarnya dan menghubungi orang yang di tuju.
Tidak perlu menunggu lama,Ia langsung mendapatkan balasan dari panggilannya.
“Hallo, Tante, bagaimana apa ada kabar dari Zaza ku”
“Sebaiknya kita bertemu...aku akan mengunjungi tempat biasa”
Bibi kedua langsung bersiap pergi ketempat,Setelah panggilannya berakhir.
Tidak butuh waktu lama,Bibi kedua tiba disebuah cafe dengan pelangan yang tak terlalu ramai. Dilihatnya seorang wanita tengah menunggu.
“Kau datang lebih cepat Navi”ucap Renjeli, Bibi kedua.
“Tentu saja Tante, karena ini berita tentang Zaza, aku tak boleh menyia-nyiakan nya” Navi berbicara dengan wajah berseri-seri.
Renjeli menghela nafas, “Aku tak yakin ini akan menjadi kabar baik untukmu”
“Kenapa?..apa Zaza ku terluka?...atau terjadi sesuatu..Tante tahu aku sedang melakukan pemotretan jauh dari sini. Dan aku menantikan Za ku, apa yang terjadi?”Navi memandang sedih kepada Renjeli.
“Aku akan langsung keintinya. Za baru saja kembali. Namun dirinya mendapat hukuman karena seorang wanita. Kau tahu itu...”
Navi mendengar dengan wajah serius.
“Ia harus menerima cambukkan bersamaan dengan pukulan pengaris karena ulah dari wanita jal*ng yang pernah ku katakan kepadamu”
“Apa!..wanita itu, sial Apa Za dihasut olehnya?”Navi menatap emosi kepada Renjeli.
Renjeli melanjutkan ucapannya, “Aku berpikir hal yang sama, kau tahu ia membawa diri dengan mengatakan dirinya sedang hamil, dan Za bahkan harus menikahinya. Keponakkan ku pasti terpaksa”
Emosi Navi makin memuncak, ia sudah menunjukkan wajah emosi yang siap meluap. “Tidak bisa dibiarkan, Tante, ini namanya penipuan. Aku yakin ia tak hamil”
“Dia benar-benar hamil, aku melihat perutnya yang membuncit”
“Aku sudah memasang pancing kepada buruanku. Evita, umpanku akan segara tiba. Kita lihat bagaimana caramu menyelesaikan ini”benak Renjeli dengan memesan sebuah kopi hangat. Ia akan menunggu kabar selanjutnya, dan melihat bagaimana perkembangannya.
-
Navi duduk dikantor Ayahnya.
Tuan Nurganto. Salah satu pengusaha yang menjadi pemimpin ke 6 saat ini. Dan Putrinya merupakan seorang model dan sekaligus seorang investor dibeberapa restoran dan hotel.
“Ada apa kau kesini Putriku, apa Za mu sudah ditemukan?”tanya Tuan Nurganto yang baru saja selesai dari rapatnya.
“Ayah, berikan aku anak buahmu.aku ingin mereka menghabisi seseorang untukku”Navi berbicara sambil menunjukkan keseriusannya.
“Apa yang terjadi, jelaskan rincinya”tanya Tuan Nurganto memandang Navi yang duduk didepan.
“Evita, gadis yang menempel diZaza ku Ayah, aku ingin ia disiksa dan dihancurkan. Sampai dirinya tak bisa bermimpi lagi”
“Evita?..apa dia cucu dari keluarga Alex?”
Navi terdiam sesaat, ia mengenal keluarga Alex. Karena keluarga Alex teman dekat Ayahnya.
“Aku tak tahu Ayah, tapi yang pasti namanya adalah Evita”ucap Navi dengan tekad yang masih sama.
“Ayah pernah mendengar rumor bahwa cucu pertama keluarga Alex sudah melepas marganya. Jadi baiklah..Ayah akan mengirimkan beberapa orang untuk membantumu.."
“Terimakasih Ayah..Ayah yang terbaik..ummcah!”
Navi melangkah pergi meninggalkan Ayahnya dengan menyempatkan diri mencium pipi sang Ayah tersayang.
Keluar dari kantor Ayahnya, Navi merasa bahwa ia tak lama lagi akan segera mendapatkan Za nya karena ia yakin musuhnya akan pergi dengan cepat. Ia sudah memikirkan rencana yang matang didalam otaknya.
“Seketaris, cari data tentang cucu pertama dari keluarga Alex...aku ingin tahu wanita itu, sangat sulit bertemu dengan cucunya ini”ucap Tuan Nurganto setelah putrinya menjauh dari kantor.
-
__ADS_1
Evita, Intari dan Amelya puas berkeliling dikediaman Za. Mereka sekarang duduk diruang tamu dengan santai.
“Evita, suamimu Kaya ya”ucap Intari dengan nafas yang lelah setelah berkeliling.matanya saja masih terpejam karena pusing melihat hiasan dari mansion mewah ini.
“Bukankah suami kalian juga orang kaya”jawab Evita dengan berbaring disofa. Ia mengambil bantal untuk menutupi perutnya agar nyaman dan tidak kedinginan.
“Tapi aku merasa suamimu inilah yang Kaya Evita,meski begitu kenapa semua tampak suram?”ucap Amelya dengan wajah bingung.
Melihat segala yang tertata dikediaman Za, tak ada hawa kehangatan hanya ada kesedihan dengan suasana suram yang begitu indah. membuat rumah ini menjadi sepi meski penghuninya banyak.
“Entah, dulu aku juga tiba disini seperti itu. tak ada yang berbeda dengan beberapa tahun yang lalu”jawab Evita santai. ia mengingat bahwa disinilah ia ditampar dan menampar. Tapi itu masalalu jadi ia tak ingin mengungkit semuanya.
“Begitu ya..tapi tetap saja ini terlihat mewah”ucap Intari dengan keluhan yang tak henti-hentinya.
Ketiganya saling diam hingga suara sepatu pantofel mendekat kearah mereka.
“Apa kalian lelah?”tanya seorang wanita tua dengan wajah ramahnya. Evita membangunkan kepalanya untuk melihat siapa yang bertanya. Matanya berbinar dan langsung berdiri bahkan memeluk seorang yang membawa cemilan ditangannya.
“Siapa?”tanya Intari dan Amelya menjawab dengan gelengannya.
“Intari dan Amelya...Dia adalah Bibi yang menjadi pelayan disini. Aku mengenalnya, saat aku tak tahu apa-apa dia yang membantuku dan ada satu lagi seorang gadis yang yeah....lupakan”Ucap Evita yang membuat kedua sahabatnya bingung.
Evita ingin mengenalkan gadis pelayan yang pernah berbicara ramah kepadanya. Tapi ia ingat bahwa gadis itu juga mengerjai dirinya.
“Nona Evita ada-ada saja, ini mari makan cemilannya....Bibi yakin kalian pasti sangat lapar sekarang”ucap Bibi dengan meletakkan cemilan dimeja.
Intari dan Amelya tersenyum dengan mengangguk sedikit. “Terimakasih”ucap mereka.
Ketiganya langsung menikmati cemilan buatan dari Bibi. Sambil berbincang-bincang dengan santai tak menghiraukan pandangan orang-orang yang menelisik mereka.
Tak..tak..tak...
“Anda sudah datang Tuan”sapa Kepala Pelayan menyambut. Ketiga gadis yang mendengarnya langsung menatap kearah sumber suara.
“Aku merasa kepala pelayan ini begitu gigih”benak Intari menatap kasihan kepada Kepala Pelayan yang tak dihiraukan oleh Za.
Za melangkah berdiri didepan Evita yang berbaring dengan perut yang ditutup-tutupi.
“Diluar dingin, sudah mandi?”tanya Za dengan singkat.Evita cemberut melihatnya. Ia membentangkan tangan dengan santai.
Membuat Intari dan Amelya mengeleng melihat tingkah kekanakan dari Evita.
“Belum, aku belum mandi, Intari dan Amelya pun belum”jawab Evita yang langsung membuat Intari dan Amelya menatap aneh kepadanya.
Za menyambut Evita dengan mengendongnya ala koala. Hal ini membuat semua pelayan kaget. Bahkan Bibi yang mengantar cemilan ikut terkejut melihat Tuan yang dulunya anti wanita, kini dengan santai mengendongnya.
“Kita mandi”ucap Za yang melangkah pergi meninggalkan ruang tengah.
Intari dan Amelya mengeleng pelan melihat pasangan itu. mereka berdua pun bangun dan ikut melangkah kekamar masing-masing. Karena memang sudah waktunya mandi. Lebih tepatnya mereka lupa mandi karena menikmati keindahan mansion yang mewah.
Ruang tengah yang ditinggalkan menjadikan susana suram dengan perasaan yang penuh akan amarah.
“Tuan kita, bisa mengendong wanita?”
“Aku tak menduganya, ini sulit dipahami”
“Apa wanita itu adalah Istri Tuan kita?”
Semua diam dengan wajah gemetar ketika dilirik oleh Kepala Pelayan yang sudah dijatuhkan berkali-kali. Dan bahkan sekarang melihat dengan mata kepala sendiri bahwa dirinya diperingatkan secara tidak langsung oleh wanita yang dulu sempat kalah darinya.
“Aku harus menyinggirkan wanita itu”benak Kepala Pelayan yang menatap kesal.
-
Navi memandang puas dengan apa yang ada didepannya. Ada lebih dari 30 orang yang bisa mengunakan senjata dengan baik. Ia merasa bahwa ia akan bisa mengalahkan Evita dalam sekali serangan.
“Ini akan membosankan jika dirinya langsung kalah dalam sekali serangan”ucap Navi dengan wajah sedihnya.
Ia berdiam sesaat sampai akhirnya seseorang datang kepadanya. “Nona Muda, aku adalah pemimpin dari kelompok ini..katakan apa tugas kami”ucap sang pemimpin.
“Oke, aku akan mengatakan tugasnya kepada kalian. Ini..”sebuah foto wanita terpangpang diwajah Pemimpin kelompok.
“Aku ingin kalian membunuhnya, aku mendapat lokasi bahwa dirinya ada di kediaman Za, jangan buat keributan disana. Yang perlu kalian lakukan adalah menangkapnya dan membunuh dirinya” ucap Navi dengan melihat apakah ada keseriusan dari orang yang disuruh oleh Ayahnya.
“Baik, kami akan melakukan apa yang anda minta. Untuk hasilnya akan kami laporkan jika sudah membunuhnya”pemimpin kelompok memberikan tekad serius yang membuat Navi puas mendengarnya.
__ADS_1
Ia langsung melambaikan tangan untuk mengusir pria yang akan mengurus semua musuhnya. Dan dirinya hanya perlu menunggu hasil dari apa yang telah direncanakan.
“Besok, apakah anda berita tentang cucu pertama keluarga Alex sudah meninggal dunia..HAHAHAHAH”Navi tertawa puas dengan mengangkat tinggi dagunya. Ia merasa kemenangan ada didepan matanya.