MANTIV

MANTIV
● Mantiv(111)


__ADS_3

“Nah....Apa kita akan memulai permainannya?”


Evita menarik kursi yang disediakan khusus untuknya. Ia menompang dagunya sambil ikut tersenyum. “Ini yang Ku suka, kedatanganku disambut olehmu Nona Yelina”ucap Evita.


Yelina yang melihat tingkahnya langsung menarik bibirnya untuk tersenyum. Evita yang melihatnya tahu bahwa itu hanya senyum paksaan.


“Mulailah permainannya..jelaskan permainan yang ada ditempatmu ini”ucap Evita dengan santainya.


Yelina yang mendengarnya tersenyum. Ia mengambil dua kotak kartu yang bisa ditebak bahwa itu adalah kartu remi.


“Baiklah, pertama-tama, Nona melihat dua kotak ini?”tanya Yelina yang langsung mendapatkan anggukkan dari Evita. Ia melanjutkan “masing-masing kotak ini terdapat 52 kartu, dan kalau digabungkan ada 104 kartu benarkan?”Evita mengangguk.


Yelina membuka dua kotak yang berisikan kartu. Ia mengambil empat kartu joker yang ada. “Aku akan mengambil empat kartu joker ini, karena kita tak memperlukannya”ucapnya yang kemudian menyinggirkan empat kartu tersebut.


Yelina kemudian menunjukkan segala kartu yang ada. terlihat semua angka dan beberapa kartu yang bertuliskan ‘K’,’Q’,’J’,’A’.


“Semua kartu disini ingatlah, Aku akan menjelaskan cara bermainnya”ucap Yelina kepada Evita yang mengangguk.


“Kita akan bermain yang simpel, yaitu cari kesamaan dari kartu yang kita buka, misal..”Yelina menutup semua kartu yang ada ditangannya. Ia kemudian membuka salah satunya. “Bisa dilihat ini adalah Kartu dengan angka 10 dan bergambar ‘♥️’ jadi tugas kita adalah mencari sesamanya”ucap Yelina. Ia mengambil kartu secara acak dan membukanya.


“WOW!!!”teriak orang-orang yang melihatnya. Belum permainan dimulai semua sudah merasakan aura yang penuh dengan tekanan. Yeah mereka berteriak karena Yelina berhasil menemukan sesama kartu yang dibukanya diawal.


Evita terdiam menatap kearah kartu yang ada. meski terlihat seperti khawatir, sebenarnya Evita tetap tenang dengan segala yang ada.


Yelina kemudian menyinggirkan segala kartu, “Jadi cara mainnya seperti itu..bagaimana Nona Evita?”tanya Yelina.


Evita berdiri dan menatap kearah Kartu yang ada. “Bagaimana jika kita tak menemukan kartu yang sama?”tanya Evita.


Yelina tersenyum, “Tentu saja ada hukumannya..tak mungkin tidak ada kan?”


Evita mengangguk “Sebelum itu, Aku ingin memastikan beberapa hal”Ucap Evita yang kemudian mengambil satu kartu. Ia membulak balikkan kartunya. Lalu kembali meletakkannya.


“Tenang saja Nona Evita, tak akan ada kecurangan dalam permainan ini,hanya sebuah taktik yang ada...jadi bermainlah dengan serius”ucap Yelina yang menatap Evita.


Evita duduk dikursinya, ia kemudian menatap kearah Yelina. “Yelina, Apa syarat dan ketentuan dalam pemainan ini”ucap Evita yang berhasil membuat Yelina tersenyum lagi.


Tanpa disadari oleh mereka, orang yang menyaksikan dibuat ketar ketir. Bahkan para pelanggan yang ada dibuat bergemetar karena hawa yang ada dipenuhi dengan kedua wanita yang akan bertempur. Entah adu kepintaran atau adu kelicikkan.


“Pertanyaan yang tepat, Tentu saja ada beberapa hal yang harus diperhatikan, pertama kita akan bermain 5 ronde. Kedua, jika kau berhasil mendapatkan kesamaannya, Kau berhak membuka lagi dan lagi jika semuanya tepat. Namun jika salah Kau harus berhenti menyentuh kartu. Ketiga, siapa yang kalah dalam ronde berhak mendapat hukuman dari yang menang, dan tak boleh melanggarnya”Penjelasan Yelina berhasil membuat segala yang lain terdiam. Evita menatap kearah Yelina yang mengambil salah satu benda.


Benda itu tak lain adalah pisau. Semua kembali dilanda ketegangan. Bahkan dua bodyguard Evita mulai beraksi. Evita memberikan tanda untuk mereka agar tak bertindak.


“Tenang saja, Selama Nona Evita yang memutuskan,Kita akan bermain Aman”ucap Yelina yang meletakkan pisau didepan mereka.


“Nona Evita punya banyak uang bukan?”ucap Yelina yang berhasil membuat semua orang menatap kearah Evita. Evita yang ditatap masih tak bergeming.


Yelina melanjutkan, “Aku tak perlu uang, didalam kamar ku sudah berisikan segala mata uang, jadi tak diperlukan”mau sombong atau tidak itu tergantung penilaian orang. Memang benar didalam kamar Yelina bahkan tepat tidurnya berisikan uang .semua dari hasil judi, tempat usahanya sendiri.


Yelina kembali Melanjutkan “Jadi, Aku berniat untuk menukar benda yang menjadi perjudian Kita,..”Yelina menatap kearah Evita yang kini mulai berreaksi. “Apa yang akan kita judikan?”tanya Evita. ia sudah menyiapkan uang untuk bermain, tapi sepertinya Itu tak berguna sekarang.

__ADS_1


“Tentu saja, Yang ku inginkan adalah sesuatu yang berhubungan dengan pisau ini”Yelina mengambil mangkuk kecil berpoles manis. Mangkuk itu terletak didepan Evita dan Yelina.


“Jika kalah dalam ronde, maka yang kalah harus menuruti yang menang. Dan hukumannnya hanya satu, menyayat tangan sendiri”ucap Yelina yang berhasil membuat semua orang merinding mendengarnya.


“Setelah disayat, darahnya harus dituangkan kedalam mangkuk itu, dan kemudian melanjutkan kembali permainannya ..bagaimana?”tanya Yelina.


“Gila apa, Ini bukan penjudian lagi, tapi pembunuhan”bisik seseorang.


“Apa tak ada taruhan lain, kalau darah, sudah dipastikan ini melanggar aturan penjudian”


“Apa mereka orang gila?..mereka mempertaruhkan diri sendiri”


“Seberapa kaya mereka, sampai begitu gabutnya ingin mempertaruhkan nyawa sendiri”


Bisikan orang-orang yang keheranan dengan dua wanita, yang satu pemilik tempat perjudian dan satunya lagi seorang tamu spesial.


Evita terdiam mendengar apa yang diucapkan oleh Yelina. Ia kemudian berbicara “Jika sudah bermain 5 ronde, apa yang akan terjadi selanjutnya?”tanya Evita yang belum menjawab pertanyaan Yelina.


“Hm....seperti sebuah game, jika kalah harus menerima kekalahannya dan yang menang akan mendapatkan apa yang diinginkan, maka Kita buat kesepakatan..Jika Aku menang, Aku akan memenggal kepalamu ditempat, tepatnya dimeja perjudian ini”


“Dan jika Aku yang kalah, Semua tergantung keinginanmu”ucap Yelina yang menatap kearah Evita.


Evita membenak “Selama ini, Baru ada orang yang begitu ingin kematianku tepat didepannya, yeah tak masalah sih”


Evita bertanya lagi “Bagaimana nanti jika hasilnya seri?”


“Maka pemainan dilanjutkan sampai ada yang menang, tentu saja hukumannya tetap sama, Yaitu bermain Sayatan..apa Kau setuju?”Yelina sekali lagi menawarkan permainan yang penuh dengan kegilaan. Taruhan dalam judi kali ini, bukan lagi uang melainkan jiwa dan raga yang digunakan.


-


Derka yang mendengarnya mengangguk “Benar, Kita ini bukan teman, melainkan musuh yang saling kenal”


Mavin yang mendengar ucapan tersebut mengangguk. Lagian tak ada yang salah dari ucapan Derka. Pertemuan mereka berawal dari Evita. wanita yang mereka cintai.


“Lalu, apa yang ingin dibicarakan oleh Tuan Derka ini?”tanya Mavin yang menatap Derka dengan serius.


Derka yang mendapati tatapan tersebut, tersenyum, “Yeah Aku hanya ingin bertanya saja, Apa Tuan Mavin sudah menyatakan cintanya kepada Kak Moa?”tanya Derka memastikan sesuatu.


Selama ini, semenjak kejadian itu, Ia penasaran kenapa Tuan Mavin terlihat santai seakan-akan tak terjadi apa-apa. Padahal jelas didepan mata bahwa orang yang dicintai diambil oleh orang lain. meski tahu bahwa orang lain itu adalah orang yang mengambil Hati Evita lebih dahulu.


*pengingat, Kak Moa panggilan khusus dari Derka kepada Evita


Mavin yang mendengar pertanyaan itu menatap dengan wajah yang bingung. Namun wajah bingung itu kembali datar. Ia menjawab “Tentu saja sudah, Aku tak ingin menjadi lelaki bodoh yang menyembunyikan cintanya, Aku bukan seseorang yang suka menyembunyikan sesuatu”


Derka yang mendengarnya langsung terteguh. Ia mengenal Mavin, seorang Putra dari pembunuh sekaligus seorang Mafia yang dikenal dengan kekejamannya. Lalu bagaimana bisa seorang keturunan tersebut mengenal cinta. Bahkan bisa dibilang sangat mengenal cinta. Semua diluar dugaan Derka.


“Anda sangat mengenal cinta ya Tuan Mavin, Tapi dari semua ini, Anda tak merasakan rasa sakit sekali pun?”


“Kalau dibilang tak merasakan rasa sakit, mungkin lebih baik disebut sudah merasakannya sampai tak tahu rasa sakit hati itu seperti apa”

__ADS_1


Derka yang mendengarnya menatap heran. Baru kali ini Ia melihat seorang Pria dingin menunjukkan reaksi lain.


“Begini, mungkin Derka sudah mengenal Evita lebih dahulu dari pada diriku, lalu bertemu dan mengenalnya lagi. tapi Aku sudah mengenal lebih dalam dari dirimu, Aku menolongnya, membantunya, dan juga menjaganya. Semakin hari rasa cinta yang samar-samar mulai terasa saat Aku bersama dengannya, memeluknya dan merasakan rasa takutnya. Air mata Evita yang mengalir didepan ku serasa bagaikan sebuah tanda, wanita yang ku kira teguh bahkan kuat, ternyata dibalik keteguhan dan kekuatannya terdapat Evita yang lemah, takut dan mudah menyerah. Aku tak tahu yang lain,Tapi Evita. Intari dan Amelya, mereka bertiga terlihat kuat namun lemah didalamnya, itulah yang membuatku jatuh cinta kepada Evita”jelas Mavin.


Derka membulatkan matanya mendengar ucapan dari Mavin. Tangannya bergemetar mendengar rangkaian kata yang dikeluarkan oleh Mavin.


Mavin melanjutkan “Jujur Derka, Aku ingin mengurungnya, ingin memilikinya, ingin mendapatkan jiwa dan raganya, bahkan ingin memiliki hatinya. Namun Kau tahu, saat pintu hati Evita diketuk, seseorang membukanya. Dan yang kau dapati adalah berdiri diambang pintu tanpa dipersilahkan masuk. Karena ada seseorang yang sudah berada disana..Kau hanya akan bisa berdiri tanpa disuruh masuk sekali pun”


Derka memejamkan matanya, air mata mengalir disela-sela kelopak mata. Hari ini, mungkin menjadi sejarah untuk orang-orang yang melihatnya selalu ceria. Karena hari ini adalah hari yang berhasil membuatnya menangis. Mengeluarkan air mata yang begitu derasnya.


Mavin yang melihatnya terteguh. Ia mengenal Derka sebagai Rival cintanya. Namun Ia tak menduga Pria yang selalu cerita itu ternyata bisa menangis. Dan semua hanya perkara cinta.


“Ah benar..benar sekali, bodohnya diriku ini, Kak Moa....bodohnya Aku Kak, betapa bodohnya Aku...Aku berpikir jika cintaku dan pengobrananku kepadamu itu lebih dalam, lebih kuat dan bahkan berpikir kalau Aku lah yang paling mengenalmu dari pada Mavin...sial, inikah yang ku cari selama ini”benak Derka.


Ia menghapus air matanya “Ku pikir, semenjak pertemuan kedua kalinya dipantai, Aku sudah mengenalnya, dan berpikir bahwa Nanti bisa mendapatkannya..namun pemikiran dan perkiraan ku itu salah...justru Aku lah yang tak mengenalnya, tak memahaminya dan tak mengerti dirinya. Dulu Aku hanya menduga saja, Ku pikir Dia hanya sedang menyelamatkan Temannya. Namun Dugaan itu tetap salah....Evita merupakan seorang detektfi rahasia dan juga seorang anak angkat dari keluarga Kim....Huaaaa sakitnya”benak Derka.


Mavin yang melihat Derka masih betah memetakkan air mata. Membuatnya menyodorkan sapu tangan miliknya. “Baru kali ini, Aku melihat lelaki nangis hanya karena perkara cinta..dulu Aku sering melihat mereka menangis karena tak ingin dibunuh...”Mavin sedikit tertawa yang membuat Derka ikut tertawa.


“Inilah Cinta Tuan Mavin, bagaimana pun...Aku sudah menemukan jawabannya, selama ini Aku galau karena merasa seharusnya Aku yang pantas disamping Evita..namun setelah mendengar ceritamu..Aku sadar”Derka meletakkan sapu tangan milik Mavin.


Ia melanjutkan. “Bahwa yang benar-benar mengenal Kak Moa lah yang bisa bertahan sampai akhir..karena Ia lah yang membuat Kak Moa menjadi kuat sangat kuat sampai Kak Moa tak menangis didepannya”ucap Derka.


Mavin yang mendengarnya mengangguk, memang benar apa yang diucapkan oleh Derka. Selama ini yang diketahui oleh Mavin hanya dua orang yang membuat Evita berani menangis. Pertama dirinya dan kedua adalah Za. Namun Mavin saat itu tahu bahwa posisinya tak bisa dibilang menguntungkan sedangkan posisi Za adalah posisi tepat.dimana Evita sendiri yang memeluk dan mengenal orang yang dipeluknya.


Mengingat hal tersebut rasa sakit kembali hadir dihati Mavin. Namun rasa sakit itu hanya sebentar. Karena saat ini rasa penasaran akan seseorang ada dibenaknya.


“Sudah 30 menit kita berbicara Tuan Derka..Sebaiknya Aku pergi, karena Aku juga ada urusan”ucap Mavin yang meranjak bangun.


“Baiklah, Biar Aku yang bayar, kali ini biar Aku yang traktir”ucap Derka yang ikut bangun dari duduknya.


Mavin yang mendengarnya mengangguk, Ia kemudian mengumankan beberapa kata yang berhasil membuat Derka terdiam ditempat.


Hilang dari pandangan dan disadarkan oleh Managernya, barulah Derka kembali. Ia mengusap matanya.


“Astaga...Tuan Derka apa yang terjadi kepadamu?”tanya Ravel yang menunggu Tuannya datang dilokasi, namun karena merasa kahwatir ia menyusul Tuan Derka. Dan terkejut saat tiba yang didapati Tuannya melamun dengan air mata yang mengalir.


“Tak ada Ravel, ooh ya tolong bayar tagihannya”ucap Derka yang melangkah keluar dari Kafe. Ia tersenyum senang dengan apa yang didapatinya. Rasa galau dan sakit hati hilang menjadi rasa senang yang tak berbendung lagi. bahkan kalau bisa digambarkan saat ini disisi-sisi Derka dihadiri dengan berbagai bunga.


“Benar apa yang Kau ucapkan Tuan Mavin..tak seharusnya Aku bersedih, karena.....”


‘Kau sudah berusaha mencintainya, nyatakan cintamu kepadanya agar ia tahu, dan saat itulah Kau akan mengetahui apa hasil perjuangan dari cinta mu itu’ucap Mavin


Derka akan menyatakan cintanya dan akan menerima apa yang selama ini sudah dicintainya. Harapannya adalah kebahagiaan baginya dan bagi orang yang dicintainya. Dan Ia akan menjadi makin dewasa dan bisa mengerti segalanya.


Mencintai bukan sesuatu yang harus dimiliki. Kadang mencintai juga tak harus memiliki. Intinya cintailah dia tanpa menyakitinya. Bagaimana pun jalan cinta mereka sudah ditentukan. Jadi jangan menderita.


-


“Sebastian, Apa kau yakin...Evita bisa berjudi?”bisik Za yang berdiri dibelakang Evita.

__ADS_1


Mereka berdua menyamar menjadi bodyguard Evita. Sebastian yang mendengarnya menatap bingung “Selama ini, Aku tak pernah melihat Nyonya berjudi”bisik Sebastian yang berhasil membuat keduanya merasa khawatir kepada Evita.


__ADS_2