MANTIV

MANTIV
● Mantiv(14)


__ADS_3

“Evita....ibu dan ayah sangat berharap lebih kepadamu, agar perkenalan selama 3 hari nanti berjalan dengan lancar” ucap sang ibu lewat dari ponsel pintar Evita.


saat ini Evita tengah berada didalam mobil, hatinya dari keberangkatan pagi tadi tidak pernah tenang. Seakan ia merasa ada sesuatu yang harus ia hadapi padahal engan untuk melakukannya. Seperti panggilan Ibunya saat ini.


“dari pembahasan keluarga Malam tadi, keluarga besar Zhan memberitahukan untuk mengatur perkenalan selama tiga hari untuk mu dan cucu pertamanya” ujar sang ibu.


Evita hanya diam mendengarkan apa yang disampaikan. “jadi mulai besok kau akan dikirim kekeluarga Zhan untuk perkenalan itu...” suara ibunya penuh dengan kebahagiaan.


Evita terdiam lagi, ada rasa tidak tega menolak informasi tersebut. Dirinya dari awal tidak menyetujui pertunangan ini, ia hanya menyetujuinya karena orang tuanya menginginkannya. Dan sekarang ia harus melakukan lagi apa yang membuat orang tuanya bahagia.


“apa kau akan menerimanya?” tanya sang ibu


Dengan menarik nafas panjang. Evita tersenyum walau hanya dirinya dan sebastian yang tahu senyum itu hanya senyum belaka yang dibuat untuk menutupi segalanya. “Ibu..aku akan menerimanya, tapi saat ini aku ada pekerjaan, mungkin akan telat tiba dikediaman keluarga Zhan ini..ku harap ibu memberitahukan ini kepada keluarga Zhan atas keterlambatan nanti”


Dari seberang telpon ada suara senyum dan deheman dari Ibunya yang meniyakan keputusannya. Panggilan itu pun berakhir.


“apa lagi ini” benak Evita setelah mengakhiri panggilan dari orang tuanya.


-


Tiba disebuah perusahaan besar dengan nama yang terpapang di atasannya bertulisan “Hwa Ta”. Hwa Ta adalah nama yang diambil dari gelar yang diberikan oleh kedua sahabatnya. Hwa yang di ambil dari kata hangul sedangkan Ta berasal dari namanya sendiri.


Ia melangkah masuk kedalam perusahaan itu, para karyawan melihat kedatangannya sudah berbaris layaknya pasukkan baris berbaris. Orang yang melihatnya tidak bisa langsung menatap mata Evita. Ragu dan takut itu yang terbenam dihati mereka, takut karena Evita yang selalu memasang wajah dingin yang melarang orang meliriknya sedangkan Ragu karena merasa bahwa mereka tidak layak melihat orang seperti Evita.


Sedangkan Evita yang memasang wajah datar seperti biasa tidak ada yang mengetahui bahwa hatinya saat ini dipenuhi dengan banyak kegelisahan. Ia ragu untuk menyetujui dan menerima penawaran tentang perkenalannya dengan cucu pertama dari keluarga Zhan ini. Ada rasa tidak ingin melanjutkannya tapi ia memikirkan kembali bahwa saat ini orang tuanya tengah bahagia mendengar akan kemajuannya dengan cucu pertama Zhan ini.


Sebastian yang selalu disampingnya kali ini melangkah lebih cepat untuk membuka pintu ruang rapat yang dihadiri oleh delapan orang.


Orang yang berada didalam ruangan tersenyum melihat kedatangan Evita, bahkan mereka berdiri untuk menyambut Evita dengan begitu ramah.


“Selamat Pagi Evita” ucap mereka bersamaan. Sedangkan Evita hanya mengangguk dengan wajah datarnya.

__ADS_1


Rapat itu pun dimulai tanpa banyak basa basi. Sebastian sebagai seketaris pribadi Evita ikut turun tangan dalam membuka rapat besar ini. Dan orang-orang yang ada disini tahu bahwa Sebastian adalah orang yang bisa dibilang adik bagi Evita. Walau Evita tidak mengakuinya sama sekali tentang posisi Sebastian sebenarnya.


-


Yoongi tengah duduk dengan seorang tuan besar yang bisa dibilang keluarga besar Son. Keluarga besar Son ini menjadi keluarga terkaya keempat di kota mereka. Meski keluarga ini jarang dikenal, tapi orang-orang tahu bahwa orang yang bermarga Son sangat berbahaya seperti mereka sendiri.Keluarga Son ini tipe orang yang diusik sekali dibalas dengan nyawa walau itu hanya rumor tapi tetap saja mereka selalu waspada.


Pratama Son adalah kepala keluarga Son. Dirinya yang memainkan batang rokok ditangannya sambil melihat Yoongi yang memasang wajah dingin seperti miliknya. Pratama Son tersenyum dengan hal itu.


“Sepertinya Polisi dari keluarga Zhan ini sulit sekali untuk dihindari” ucapnya dengan suara berat penuh dengan nada membunuh.


Yoongi mengangkat bola matanya untuk melihat orang yang lebih tua didepannya ini. Wine sudah disajikan didepan mereka, meski ini dikantor polisi, Yoongi tidak melarang wine ini masuk kedalam ruangannya karena orang juga tahu dia suka minum wine jika dirinya ingin menenangkan diri. Dan itu hanya khusus didalam ruangannya.


Sambil mengambil gelas miliknya. Yoongi menyodorkan gelas kedepan untuk memberitahukan bahwa Tuan besar didepannya juga ikut minum. Dengan gerakkan Yoongi yang begitu anggun, Pratama pun mengambil gelas winenya dan meminum sampai gelas itu kosong.


Yoongi hanya minum beberapa tegukkan lalu meletakkannya kembali kemeja. Ia melihat kearah orang didepannya, “sungguh..aku sempat berpikir ini tindakkan pembunuhan” ucapnya dengan suara tenang. Sedangkan diseberangnya hanya tertawa mendengarnya.


“setelah menyelidiki dan berpikir lagi ternyata ini hanya sebuah permainan mudah untuk mendekatkan seseorang” lanjut Yoongi lagi. Dan Pratama Son mengangguk sambil menuangkan kembali wine didalam gelasnya dan meminumnya dalam sekali tegukkan.


“sungguh minuman yang memabukkan” ucap Pratama Son setelah meletakkan kembali gelas yang kosong diatas meja.


Yoongi hanya memasang wajah datar, tidak ingin terseyum walau itu sebenarnya pujian besar dari keluarga bermarga Son itu.


“Baiklah...bagaimana Tuan Xue tahu bahwa aku pelaku dari hilangnya Laura dan Siska ini?” tanyanya.


Yoongi menatap Tuan Son didepannya. Sambil mengeluarkan sesuatu disaku miliknya dan meletakkannya diatas meja. “aku mengetahui dari foto ini..pertama foto diambil sebelum kejadian, tapi ku pikir ini bukan awal kejadian melainkan sesudah kejadian...”


Jeda sejenak, Yoongi melanjutkan “dari pembesar foto yang dilakukan Echan, orang yang mengambil gambar ini sedang tergesa-gesa sedangkan dibelakangnya ada bodyguard yang menunggu mereka untuk segera melakukan tugasnya..”


Pratama Son hanya terdiam sambil menatap foto yang diletakkan diatas meja dari kejauhan.


“Kejadian ini tepat saat Laura dan Siska mengunjungi bar pertama kali, dan saat itu teman mereka atau lebih tepatnya orang yang menjebak mereka memberikan minuman kedalam gelas mereka masing-masing dan meninggalkan mereka dikamar berbeda...dari mana aku mengetahuinya karena pelayan mengatakan bahwa dua orang ini keluar dari ruang berbeda dalam keadaan mabuk..selain itu orang yang menjebak mereka bukannya pergi melainkan hanya sedang menunggu kedatangan bodyguard untuk menjemput dua orang ini...saat sudah dimasukkan kedalam mobil, tiba-tiba tuan mereka menyuruh mereka untuk mengambil gambar ditepi jalan dengan terburu-buru karena keadaan masih terbilang sore hari....” Pratama mendengarkan Yoongi tanpa ingin membela dirinya. Yoongi sedikit merasa bahwa orang didepannya ini hanya auranya saja yang menakutkan tapi dilihatnya orang didepannya ini memiliki hati yang baik.

__ADS_1


“Saat foto itu diambil, gambar mereka tidaklah bagus, lebih tepatnya Laura dan Siska tidak dalam keadaan waras melainkan mereka sedang mabuk berat. Untungnya sang editor luar biasa bisa membuatnya terlihat bagus, jadi kalau dilihat sekilas ini hanya pengambilan foto pemandangan yang sebenarnya ada niat besar dibalik foto” ucap Yoongi mengakhir perkataannya. Dalam kasus seperti ini sebenarnya ia malas, ingin berbicara panjang, ia lebih banyak bertindak tapi menghadapi orang yang bermarga Son ini harus ekstra hati-hati.


Pratama Son memandang Yoongi lalu mengaitkan jari jemarinya diatas lututnya. “sungguh..luar biasa..tuan Yoongi benar-benar luar biasa....tuan bermarga Xue ini memang tidak bisa diremehkan seperti Zhan Za Chen” ucapnya.


Diam sejenak, ia melanjutkan “kau tahu apa sebab ku ingin melakukannya?” tanyanya.


Yoongi mengangguk “tentu aku tahu..dari laporan Nyonya Zahra bahwa Kedua saudara angkatnya ini sedang menjalin hubungan dengan seseorang yang dikenal dengan nama Alex Son dan Riski Noer..tentu ini adalah penyebab terjadinya kasus ini” ucapnya dengan santai dan Pratama Son mengangguk.


“Baiklah...kalian cukup berhenti sampai disini..aku akan menjelaskanya langsung ke Nyonya Maya Anita Zahra” ucapnya.


“Baik..ku anggap kasus ini selesai sampai disini tuan Pratama Son”


Yoongi dan Pratama Son saling berdiri lalu bersalaman. Wajah mereka saling datar tapi menyimpan banyak rahasia. Setelah Pratama Son keluar dari ruangannya. Yoongi duduk dengan tenang kembali dan menuangkan wine miliknya.


“Hah...percintaan ini memang bisa membuat semua orang bertindak diluar nalar” ucapnya.


-


Keluarga Pratama Son dikenal dengan keluarga sedikit sadis, mereka adalah orang yang reputasinya tidak bisa diganggu. Seperti motto mereka, senggol dikit nyawa taruhan. Namun dibalik itu kasus tentang hilangnya saudara angkat Zahra diselesaikan dengan baik. Karena ternyata dibalik kehilangan mereka bukan karena ingin membunuh atau menculik tapi ingin mempererat hubungan putra Son dengan Siska sedangkan putra dari keluarga bermarga Noer ini dengan Laura.


Sebenarnya tidak perlu bertindak lebih karena Laura dan Siska juga menyukai mereka. Tapi namanya orang tua, mereka mengira bahwa anak mereka tidak bisa dekat dengan wanita. Jadi mereka mengambil tindakkan untuk mendekatkan dengan cara paksa.


Untungnya Zahra mengerti akan semua ini, ia pun berterimakasih atas tindakkan Yoongi yang menyelesaikan tanpa perlu dunia luar tahu, karena Zahra adalah keturunan Mafia yang masih dirahasiakan oleh Kota besar ini.


“Aku sangat berterimakasih atas tindakkan Tuan Yoongi....untungnya ini hanya kesalahpahaman” ucapnya.


Yoongi dan Echan yang mendengarkannya hanya mengangguk. Echan angkat bicara “tidak perlu berterimakasih..kami melakukan ini juga karena ini tugas kami...untungnya memang hanya kesalahpahaman..jika tidak, akan ada tindakkan yang tidak diinginkan” ucap Echan. Zahra mengangguk, ada untungnya memang ini hanya kesalahpahaman, jika tidak Zahra sendiri yang akan turun tangan dengan membuat para pasukkan nya untuk mencari Adik angkatnya.


“Sebagai ucapan terimakasih..maukan kalian datang kejamuan besar keluarga kami...keluarga Zahra dengan senang hati menerima kedatangan kalian” ucapnya.


“Yoongi dan Aku akan menyempatkan waktu untuk datang” ucap mereka. Zahra tersenyum, Zahra memutuskan untuk pulang dan melanjutkan urusan keluarganya tentang pertunangan kedua adik angkatnya ini.

__ADS_1


...****************...


Jangan Lupa Like and Comment😊


__ADS_2