MANTIV

MANTIV
● Mantiv(129)


__ADS_3

Ketika diriku membuka mata, yang ku dapati pertama kali adalah cahaya putih yang menyilaukan.


“Dimana diriku?”Benak, hanya mampu berbenak. Tubuh yang berdiri dengan baik, lalu kaki yang melangkah menyusuri jalan tak tahu kemana arah yang dituju. Hingga.....


“Evita!!..Anakku”


Seseorang memanggil diriku, memanggil namaku. Aku menatap kearahnya dan melihat secara langsung siapa yang memanggil. Saat pandangan mulai membaik, mataku langsung mengalirkan air jernih berasa asin yang jatuh bergiliran.


“Ma..Mamah!” ingin ku bergerak dengan berlari namun tubuhku terasa remuk. Karena hal tersebut, Aku memandang kearah tubuhku yang terlihat penuh akan luka. Bahkan darahnya masih berbekas disana.


“Kau nakal sekali Evita”suara seseorang yang membuatku menatap kearahnya lagi. Ia tak lain adalah Papah ku sendiri.


Lalu disamping mereka ada tiga adikku yang berdiri dengan senyum bahagia. Dan sepasang suami istri yang tak ku kenali.


“Kemarilah...kita bercerita bersama”itulah yang diucapkan oleh Papahku.


Dan cahaya putih tanpa warna lain itu kini berubah menjadi penuh akan kebahagian. Aku duduk disebuah kursi yang ditengahnya memiliki meja panjang. Dan diriku duduk ditengahnya.


Berbeda denganku, Orang tuaku, adik-adikku dan pasangan asing itu duduk disamping kanan dan kiriku. Mereka menikmati secangkir teh yang dihidangkan didepanku.


Suasana ini membuatku mengerutkan alis. “Aku sudah mati ya?”benak, hanya bisa itu yang ku berikan. Karena tak mungkin bertemu seperti ini.


“Papah terkejut ketika mengetahui Putri Papah, telah melepas margannya”ujar sang Papah yang menatap kearahku.


Aku menundukkan kepala karena memang ini adalah salahku sendiri.


“Maaf Pah, Aku melakukannya juga ada alasan...salah satunya tak ingin keluarga besar malu”tak ada yang ku sembunyikan. Karena semakin disembunyikan semakin menyakitkan untukku.


“Yeah, itu juga salah Ayah karena tak bisa melindungimu”ucap seseorang yang datang dadakkan. Hal ini membuatku langsung tahu siapa orang itu. Ia tak lain Ayah Angkatku.


“Itu memang salahmu, karenamu Putriku jadi seperti itu”ujar Papahku yang menyambut kedatangan Ayah angkatku. Ku lihat ada Ibu Angkatku juga yang tersenyum kearahku.


Semua duduk kembali. Dan lagi-lagi semuanya menikmati apa yang ada didepan mereka. sedangkan diriku penasaran dengan apa yang terjadi.


“Putriku...bagaimana perasaanmu?”tanya sang Ibu angkat yang langsung ku jawab “Perasaanku, entah..aku tak tahu Ibu”


“Kau pasti bertanya-tanya kenapa bisa sampai disini, Kau belum meninggal Putriku, Karena suamimu itu akan menjagamu dan akan membawamu kembali”ujar Mamah yang terkekeh melihat kearahku.


“Iya..menantuku itu sangat menakutkan ya, dingin tapi bertangung jawab”lanjut Papahku yang membuat ku menatap sinis.


“Sudahlah...mereka juga sudah menikah..tak lama lagi kita akan punya seorang cucu”kegembiraan menghiasi wajah Ayah Angkatku. Hal ini makin membuatku pusing.


“Apa kau tak ingin kembali Evita?”tanya Ibu Angkat yang menatap kearahku. Mendengar kata kembali membuatku ingat bahwa aku baru saja ditembak seseorang dan sepertinya rohku tak ada ditubuh atau mungkin sebagian rohku berjalan dengan menikmati ketenangan.


“Aku tak ingin kembali, tapi juga tak bisa terus disini”jawabku. Memang benar. Saat ini tak mungkin Aku bahagia disini. Sedangkan disana seseorang berbicara ditubuhku dan berteriak namaku meminta untuk segera sadar. Pengen ngomong gini “Aku perlu istirahat”tapi percuma. Kan engak didengar.


“Dengar Putriku....ada lembaran akhir dalam hidupmu, dan itu belum kau isi sama sekali, jika kau pergi begitu saja..kau hanya akan membuat lembaran itu kosong. Tak ada yang tahu isinya apa..semua disini yakin kebahagiaan akan datang kepadamu”ucap sang Mamah yang memelukku. Aku membalasnya dan disusul oleh Ibu angkat.


“Sudahlah, jangan dipeluk mulu..entar engak mau kembali dia”usul sang Papah yang tersenyum menatap kearahku.


“Maaf Papah...Anakmu melanggar segala janjinya, dan mempermalukan dirimu”Aku bersujud didepan orang tuaku. Dengan air mata yang mengalir diwajahku. Perasaan campur aduk ini berhasil membuat ku tak ingin berhenti menangis.


“berhentilah menangis..berapa usiamu, kau sudah lebih dari 20 tahun. Masa masih ingin menangis”ucap Ayah angkat yang mengangkat bahuku. Ku lihat semua yang ada.


“Nak..kami akan pergi, karena tak bisa berlama-lama disini, sadarlah dan kembali dengan membahagiakan yang lain..”ucap sang Ayah angkat yang memelukku. Tak lama bayangannya menghilang bagai asap .


Lalu disusul Ibu angkat yang juga memelukku. “Aku bangga memiliki Anak angkat sepertimu Evita. tidak Kau sudah mewarisi segala yang ada, kau bukan anak angkat tapi anakku”ucap Ibu Angkatnya yang juga ikut menghilang.


Adik-adikku yang terdiam dari tadi kini mendekat dan memelukku.


“Kak berbahagialah, jangan khawatiran kami, kami disini bahagia”


“benar Kakak, apa pun yang terjadi disana, semua terjadi atas kehendak yang maha kuasa..jangan dijadikan dendam kakak”


“Kami adikmu menyayangi dirimu”

__ADS_1


Mereka bertiga juga ikut menghilang bersamaan dengan pelukan yang hangat. Dan menyusul Papah dan Mamah yang mendekat kearahku.


Dan entah kenapa Aku ingin mundur tapi percuma. “Kau tak bisa mundur Evita, jalan hidup itu kedepan bukan kebelakang. Bagaimanapun kau akan terus kedepan meski didepanmu selalu bertemu hal yang ada dibelakangmu”Papah memelukku dengan erat dan sesuatu didiriku terangkat, itu tak lain adalah kalung pemberian Papah dan Mamahku.


“Kau menjaganya, Kami akan selalu melindungi bagaimana pun nanti. Dan satu hal yang pasti..jangan pernah menyerah Putriku..”ucap sang Mamah yang menghilang tersedot kearah kalung yang ku kenakan.


Papahku juga ikut tersedot dengan kata-kata terakhirnya. “Selesaikan sampai tuntas masalahmu”pesan yang diberikannya.


Semua telah pergi, namun yang tersisa didepanku adalah pasangan yang tak berbicara sama sekali. Hal ini membuatku bertanya-tanya, siapa mereka?


“Kau..apa Kau Istri Putra Kami...Zhan Za Chen?”


Aku yang mendengar pertanyaan itu langsung menjawab dengan mengangguk.


Dan setelah mengangguk, wanita yang ada disamping orang itu menampakkaan diri. Aku terkejut melihatnya.


Rambut kuning dengan senyum manis berlari mendekat kearahku dan ia langsung memelukku.


“Waah cantiknya menantuku, sangat cantik, tak sia-sia aku kesini”


Reaksi pertamaku Cuma bisa bengong mendengarnya.menantu? menantu siapa lagi?..aku juga baru saja menikah, yeah meski Aku juga penasaran sama Ibu dan Ayahnya Za sendiri.


“Hiya, jangan mendekatinya seperti itu, kasihan dirinya..”ucap Pria yang menampakkan dirinya.


Aku langsung tercenga melihat orang tersebut. Ku edarkan pandanganku kearah dua orang didepanku dan ku ingat wajah suamiku eh maksudnya Za. Mata Za mirip sang Wanita yang berdiri didepanku, lalu perawakkan Za mirip Pria yang ada dibelakang wanita didepanku.


“Kalian..orang tua Za!!!”pekikku menatap tak percaya. Dan yang ditanyai mengangguk-angguk dengan begitu semangatnya.


“Waah..Eh..Ehem”terlalu kaget sampai aku lupa mengatur diriku. Jangan sampai mertuaku melihat Aku yang nakal dan bermasalah ini.


“Hahah sudahlah Menantu, jangan sesopan itu....Anggap kami orang tuamu juga”ucap Wanita yang tak ku ketahui namanya siapa. Tapi Aku mengelarinya sebagai Mertua manis yang ku punya. Wajahnya manis dengan senyum cerianya.


“Benar menantu...kemarilah dan duduk disini, giliran kita bercerita..nanti saja kau kembali. Biarkan Putraku stress dulu menunggu dirimu”ucap sang Ayah dari Suamiku. Ah wataknya sama seperti Za. Rasanya jika Aku bertemu dengan Ayah Mertua ini, serasa bertemu versi asli Za.


“Emang produk yang ada duplikatnya”benakku tertawa bebas. Seperti yang dikatakan, Aku memutuskan untuk mengikuti keinginan Mertuaku.


“Jadi..Kalian meninggalkan Za saat ia berusia 2 minggu setelah melahirkan?”tanya Ku kepada mertuaku. Tampak sekali mereka merasa sedih yang mendalam. Yeah tak ada salahnya, mereka pasti ingin menikmati kebahagiaan melihat perkembangan anak mereka sendiri kan.


“Benar..Kami tiada karena Kecelakaan akibat jalan licin yang ada ditikungan. Saat itu aku dan Suamiku pulang dari berbelanja keperluan Za. Yeah mungkin ini takdir”ucap Ibu mertuaku yang menundukkan kepalanya. Aku memeluknya dengan erat, sebagai wanita aku tahu rasanya kehilangan akan kebahagiaan kita.


“Ibu, Za sekarang sudah besar loh..bahkan Ia bahagia dan sering tersenyum”Aku memberikan semangatku kepadanya. Dan dibalas dengan senyuman licik dari Ibu Mertuaku.


“Mommy, panggil Aku mommy. Dan Aku tahu maksud besarmu itu apa. Apa kau puas dengan pelayanannya dikasur”


Aku senang mendengar kalimat pertamanya tapi mendengar kalimat terakhir dari Ibu mertuaku. Aku langsung menunduk malu karena ucapannya berhasil menarik bayangan tentang aktifitas panas kami yang sudahlah...


“Hiya, jangan membuat menantu kita malu, kau ini..eh jadi menantu, berapa ronde yang kalian lakukan”tanya Ayah Mertua juga.


“Kau juga sama....yeah jika mereka melakukannya tak lama lagi akan ada cucu yang hadir”


Mendengar kata cucu, Aku bungkam, karena seperti yang ku ketahui. Aku tak mungkin bisa mengandung seorang anak. Jangankan mengandung berharap saja tak akan mungkin.


“Astaga, waktu kita hampir habis” Pekikkan Ibu mertuaku berhasil mengembalikan kesadaranku yang langsung menatap kearahnya. Aku terkejut ketika melihat mereka yang mulai memudar.


“Menantu, jaga Za ya...dan dirimu juga..tenang saja Kami merestui kalian..dan jangan lupa panggil Aku Mommy ya”Ibu Mertuaku langsung menghilang dengan hembusan angin yang datang. Namun berbeda dengan Ibu Mertuaku. Aku menatap dengan pandangan bingung kearah Mertuaku yang masih stay disana. Ia tak lain adalah Ayahnya Za sendiri.


“Menantu, ada yang ingin ku sampaikan kepadamu...”


-


Semenjak kedatangan Orang tua kandung dan orang tua angkat lalu mertua. Aku merasa tak ingin kembali. Yeah padahal sudah berjanji akan kembali. Tapi aku bahagia disini. Karena suasananya tenang tak ada yang perlu dikhawatirkan.


Saat asik berbaring, aku mendengar seseorang berbicara kepadaku. Mendengar lebih intes, Aku mengenali suaranya.


“Raja, kenapa juga dia curhat kepada orang yang sedang koma gitu?”benakku. namun raut wajah yang tadi bingung berubah menjadi datar dengan perasaan yang tak bisa disampaikan.

__ADS_1


Setelah mendengar curhatan Raja. Aku mendengar panggilan dari Suamiku sendiri. Aku yang sudah berjanji akan kembali, memilih untuk kembali dan mendekati sebuah pintu yang ku yakini adalah jalan keluarku.


Namun saat melangkah pergi, ada dua pasangan yang berdiri menghalangiku. Tidak bukan dua tapi tiga pasangan. Terlihat sekali diantara mereka penuh akan kebahagiaan bukan kebencian.


“Kau akan kembali Evita?”


“Jika Iya, Aku titip pesan kepada Putriku Indah Lestari..katakan kepadanya. Maafkan Ayah dan Ibu yang menyakitinya...”


“Dan sampaikan kami merindukannya”


Satu pasangan hilang dari hadapanku. Aku tahu mereka siapa. Mereka tak lain adalah Ibu dan Ayahnya Intari.


“Evita, Kau sudah menjaga Amelya..sampaikan pesanku kepadanya. Teruslah bahagia bersama orang yang dicintainya. Dan berhentilah menangis, namun jika ingin menangis menangislah”


Menyusul lagi pasangan yang lain menghilang didepanku. Dan Aku juga tahu siapa mereka. mereka adalah orang tua Amelya.


Namun yang terakhir ini hanya menganggukkan kepalanya dan membuka jalan. Aku tahu siapa mereka. kematian mereka pun tak ada diriku disana. Bahkan tak tahu sama sekali jika Sebastian tak mengatakannya kepadaku.


“Kalian tak ingin menitip pesan kepada Putri kalian, Paman Zahra dan Tante Zahra?”tanya ku menatap kearah dua pasangan yang mengeleng.


“Tak perlu, Putriku kuat sepertimu Evita”ucap Paman Zahra yang membukakan pintu untukku. Aku mengangguk dan melangkah masuk kedalam cahaya yang begitu terang.


-


Kilau cahaya memasuki mata Evita yang berkedip-kedip. Seorang dokter langsung memeriksa keadaannya.


“Syukurlah, Ia cepat sadar..Zhan rawat dirinya, saat ini Ia perlu diperiksa lebih lanjut dan belum bisa dibawa pulang ya”ucap Paman Chen Re yang melangkah pergi.


Za yang berada didalam kamar bersama yang lain menatap kearah Evita yang membuka mata dengan memindai sekelilingnya.


“Za”kata pertama yang keluar dari mulut Evita. Za yang mendengarnya langsung bergegas mendekat dan mengenggam tangan Evita.


“Iya, Kenapa Aku disini”ucap Za dengan senyum bahagia melihat sang Istri kembali sadar. Evita senyum perlahan. Lalu menatap kearah lainnya. Matanya tak kaget melihat Kakeknya datang bersama Nabila dan Inul.


Intari dan Amelya mendekat kearahnya. Lalu mereka masing-masing ingin memukul Evita namun terhenti ditengah layangannya.


“Jika Kau tak sadar Kami akan menamparmu hingga Kau sadar”ucap Amelya dan Intari yang memetakkan air mata. Evita yang melihatnya tersenyum.


“Apa yang Kau senyumkan hah?”Intari melotot melihat kearah Sahabatnya yang sudah sadar itu.


“Ka..Kalian tak..ingin..meme..luk..ku?”suara yang masih akan serak dikeluarkan olehnya. Intari dan Amelya yang mendengarnya tentu saja langsung memeluk dirinya.


“Hatii-hati”tegur Yoongi dan Echan bersamaan. Hal ini menarik perhatian Inul dan Nabila yang bangga dengan tiga orang sahabat itu yang bisa menemukan kebahagiaan mereka.


“Apa hanya Intari dan Amelya yang dipeluk, Kami tidak?”Nabila menatap kesel dengan raut wajah yang dibuat-buat. Intari dan Amelya yang mendengarnya terkekeh. Mereka melepaskan pelukan mereka lalu membiarkan Inul dan Nabila memeluk Evita.


“Ibu..Ibu...ciappa iyah?” gadis kecil yang cantik. Suara yang manis keluar dari mulutnya meski kalimatnya belum tuntas, namun semua tahu apa yang diucapkan olehnya.


“Dia Kakak Kamu Ida putri”jawab Inul yang mengendong Putrinya, lalu menunjukkannya kepada Evita. Evita mengangkat perlahan tangannya yang masih kaku, dibantu oleh Za untuk mengenggam pipi tembem Anaknya Inul.


“hyaalooo...Ta..tak”ucap Gadis tembem itu yang membuat Evita tersenyum.


“Yeah tak sia-sia aku kembali..hehe”benak Evita dengan mantap kearah lain. matanya tertuju kearah Kakeknya yang menundukkan kepalanya.


“Ehem..Kakek, Apa tubuhku ada dikakimu sampai kau menundukkan kepalamu”ucap Evita. meski marga nya terlepas darinya, Ia tetap Cucu dari Kakeknya ini, lebih tetapnya cicit.


Kepala keluarga Alex itu mengangkat kepalanya dan menatap Cicitnya yang tersenyum dengan manis. Hal ini mirip dengan Ibu Evita sendiri.


Kakek Alex bergegas mendekat dan memeluk Evita dengan sedikit erat. Meski begitu pelukkan itu mengendur karena Evita merintih kesakitan.


“Kakek, Aku baru sadar jangan mengirimku kekematian lagi”canda Evita yang membuat Kakeknya tertawa. Kecupan dijidatnya hadir dengan kasih sayang Keluarga Alex.


Evita tersenyum dan mencium pipi Kakeknya. Ia kemudian menarik tangan Za untuk berada disampingnya. Mengetahui bahwa Evita baru sadar dan perlu istirahat yang lain melangkah keluar dari kamarnya.


Meninggalkan Evita dan Za yang saling terdiam saat pintu rawat ditutup.

__ADS_1


“Kenapa Aku pegang tangannya tadi sih”benak Evita dengan menatap kearah lain. namun Za yang ada disebelah Evita setelah Pintu tertutup itu langsung memeluk Istrinya bersamaan dengan ciuman di pipi Evita.


“Za...Geli!!!”


__ADS_2