
“Tubuhnya benar-benar cocok dengan ibunya....ternyata benar-benar langka”
Ruangan yang penuh dengan aroma-aroma obat-obatan menyayat hidung. Tapi tak terpengaruh oleh dua orang yang tengah berbincang-bincang.
“Kau lihat....ia adalah putrimu...kau lihat kan, tubuhnya sangat indah, bagaimana jika ku suntikkan serum ini kepadanya..apa ia akan kuat sepertimu?”
“ja....ja...jangan....la..ku..kan”suara lemah gemulai keluar dari seseorang yang tengah dikurung dalam tabung kaca.
Yang mendengarnya tersenyum sambil menatap lawan bicaranya. “Kau benar...jangan lakukan, tapi dia memiliki tubuh yang langka, aku yang maniak eksperimen ini, tentu tak ingin meninggalkan benda yang berharga itu”
Sambil tersenyum ia melangkah menuju kearah tabung kaca yang terdapat seorang wanita. Wanita yang tengah tidur dalam lelapnya mimpi. Menyentuh wajah wanita yang terlelap itu ia berguman. “Aku ingin melihat tubuh yang sempurna ini mengunakan obat yang ku buat. Pastikan akan berhasil”
-
Yoongi, Indah,Echan dan Amelya terkejut melihat Zhan Za Chen yang langsung terkapar ketubuh Yoongi.
“KAK ZA!!!!”pekik keempatnya.
Tubuh yang lemas itu pun bergerak, dan matanya pun terbuka perlahan. Empat orang yang berada didekatnya langsung mendekat.
“Kak..apa kau baik-baik saja?”tanya Echan yang langsung menyodorkan air minum untuk Za.
Za yang melihatnya hanya terdiam, ia meminum air yang diberikan kepadanya.
“Kak...dimana Evita?”tanya Indah tanpa basa basi. Seketika itu juga tiga orang yang lain langsung menatap tajam kearahnya.
Indah yang bersifat tak sabaran, selalu lupa dengan keadaan. Hanya bisa terdiam setelah ditatap dengan pandangan tajam.
Za yang mendengarnya langsung terdiam dengan menundukkan kepalanya. “Maaf aku gagal melindunginya”ucap Za.
Karena.....
Za melihat Evita yang terkena suntikkan. Membuatnya ingin mendekat tapi.
Brakk
Brukkk...
“Cih....sial”ucap Za. Ia menangkis serangan yang datang
Dorrr.
“agh”Za menyentuh lengan kanannya. Ia menahan rasa sakit tapi sungguh sial karena orang-orang yang datang ikut menghajarnya.
“Jangan bunuh dia...boss melarang kita melakukannya....biarkan saja dia”
“baik”
Suara samar didengar olehnya, dan pandangannya juga ikut tengelam. Ketika mata tertutup yang terlihat olehnya adalah Evita yang digendong oleh seorang pria berkulit madu.
Mengingat hal itu membuat Za mengeram, ia tak bisa berbuat apa saat itu, dan dengan setengah kesadarannya. Ia baru bisa melangkah dan mengunjungi tempat Indah, karena memang tempat Indahlah yang paling dekat.
“Evita....Evita pasti baik-baik saja kan?”tanya Indah dengan wajah yang mulai ingin menangis lagi. hal itu membuat Yoongi langsung memeluknya.
Amelya menatap Indah dengan perasaan yang sama. Yeah yang mereka takuti adalah Evita ditangkap oleh orang yang sama.
Echan yang melihat Amelya terdiam langsung menenangkan dengan memberikan pegangan hangat untuk Amelya. Za yang melihatnya hanya bisa menundukkan kepala.
“Kim...ku harap kau baik-baik saja”benak Za.
-
Tiga hari berlalu..
Semua tengah berada ditempat yang menjadi perkumpulan orang-orang penting. Karena disana ada Miss Lila dan Mr.Tom yang kembali dari amerika.
Tentu saja Liyana juga ikut datang karena mendengar apa yang diucapkan oleh Indah bahwa Evita telah diculik. Hanya keluarga Evita yang tak diberi tahu. Karena jika diberi tahu, maka kemungkinan seluruh keluarga Evita bergerak dengan terlihat dan hal itu bisa memicu musuh-musuh keluarga mereka. jadi saat ini dengan 10% keberhasilan. Mereka berusaha untuk bisa menemukan Evita.
“Titik terakhir yang kita dapat, Evita masih berada dikota ini....kemungkinan Musuh belum bergerak sama sekali”ucap Mr.Tom yang menunjukkan hasil koneksi kalung yang dipakai oleh Evita.
__ADS_1
Ya, kalung itu adalah kalung pemberian Za untuk Evita. tentu saja ada pelacak disana. Semua dilakukan tanpa sepengetahuan Evita sendiri.
“Yang bisa kita temukan, Pelacak itu hanya bergerak disatu titik. Ada dihotel grandnight....”ucap Liyana yang menunjukkan proyektor tentang bangunan tinggi yang terlihat megah.
“Kenapa disana?”tanya Indah dengan memperhatian segala yang ditampilkan oleh Liyana.
“Menurutku sih, kemungkinan penculik ini sedang melakukan suatu bisnis..atau mungkin menunggu kita datang?”pendapat Amelya.
Semua mengangguk-angguk. Tak ada yang bisa memberi pendapat lebih. Hingga..
“Tuan...Kita mendapatkan tamu, mereka adalah Paman dan Bibi Evita”ucap seorang karyawan yang ada.
Seketika itu juga Indah dan Amelya bangun. Yeah mereka tahu yang dimaksud Paman ini tak lain adalah Paman yang membantu Evita dengan bergerak dalam bayangan.dimana setiap masalah Evita, pendukung utamanya adalah mereka.
“Keluarga Zahra”guman keduanya. Membuat semua orang langsung menatap heran.
“Biarkan mereka masuk”ucap Mr.Tom. Karyawan yang mendengarnya langsung mengangguk.
Semua terdiam sampai ketukkan pintu terdengar dan Mr.Tom mempersilahkan mereka untuk masuk.
“Selamat Siang..Saya Paman Evita...panggil saja tuan Zahra..dan ia adalah Istri Saya”ucap Tuan Zahra dengan sesopan mungkin. Membuat semua orang yang mendengarnya sedikit merinding.
Yeah tanpa disebut, mereka sudah bisa mengetahui bahwa orang ini adalah seorang Mafia. Meski pakaian mereka terbilang santai, tapi aura dan kebiasaan sudah mudah ditebak oleh seorang detektif.
Mr.Tom langsung bangun dan memberikan jabatan tangan untuk menyambut mereka.
“Selamat datang”ucap Mr.Tom yang langsung dianggukkan oleh Tuan Zahra.
“Selamat datang”ucap yang lain dan Tuan Zahra bersama Nyonya Zahra tersenyum dengan menganggukkan kepala.
“Mari duduk”
Setelah semua duduk, diskusi pun mulai berjalan. “Aku tahu kedatanganku disini pasti menjadikan tanda tanya untuk kalian....aku tak bisa membantu kalian menemukan Evita....tapi ada satu hal yang harus ku lakukan”
Mendengar hal itu membuat semua orang terdiam. Nyonya Zahra melanjutkan ucapan Suaminya. “Evita merupakan anak yang baik, kadang nakal, kadang ceroboh, dan kadang sangat penurut..Evita anak yang sangat disukai tapi dibenci dalam keadaan apapun. Kami tak bisa membantu lebih, karena kami berada dikondisi yang kritis juga..sehingga menyebabkan Evita menjadi seperti ini”
“Jadi...kalian, datanglah kehotel GrandNight, dan temukan Evita. karena jika kalian tak mencarinya, kalian akan kehilangan dirinya”ucap Nyonya Zahra.
Indah yang mendengarnya mengerutkan alis, ia langsung berbicara “KAU SEORANG MAFIA BUKAN?..BUKAN KAH SANGAT MUDAH BAGIMU UNTUK MENYELAMATKANNYA....KALIAN MAFIA BUKAN?”Emosi yang sudah meluap, tentu saja akan tumpah, tak perduli keadaan bahkan suasana. Semua tak menduga dengan Indah yang makin gelisah disetiap harinya.
“Kami tahu...tapi Kami juga memiliki seorang Anak Perempuan. Dan Janji dalam dunia Mafia, Kami tak bisa menyentuh atau menganggu kelompok lain. selama mereka tak melakukan sesuatu yang merugikan..”
“Jadi maksud Anda Evita bukan siapa-siapa bagi anda?”tanya Amelya. Mendengar jawaban dari Tuan Zahra membuatnya mendidih.
“Seandainya Anda tahu....tapi tak masalah, aku akan membocorkan satu hal, Evita tak seperti yang kalian kira...dialah yang dicari-cari dalam dunia Mafia...hanya orang tertentu yang tahu dirinya, dan mereka juga tahu bahwa kami melindunginya, jika kami bergerak..apa yang akan terjadi?”tanya Tuan Zahra dengan pandangan yang tajam.
Indah dan Amelya terdiam. Yeah mereka mengerti. Jika Evita ketahuan, kemungkinan menyelamatkannya kecil, dan bisa saja tak diselamatkan. Karena jika keberadaannya diketahui, seluruh kelompok mafia itu pasti akan bergerak untuk mendapatkannya. Masalahnya apa yang membuat mereka menginginkan Evita.
“Jika saja orang bodoh itu tak menyembunyikan sesuatu dari putrinya sendiri..ini tak akan terjadi”guman Tuan Zahra. Tapi gumangan itu tetap terdengar oleh mereka. hal itu membuat Indah dan Amelya berpendapat bahwa Ayah Angkat Evitalah yang menjadi utamanya.
“Sekarang kita tak bisa berlama-lama, kami hanya mengetahui satu jadwal, bahwa pesawat akan digunakan pada malam hari, dan saat itu kemungkinan Evita akan dibawa..kalian harus bisa menyelamatkannya..”
“Karena jika tidak..”Tuan Zahra terdiam sebentar, dengan suasana hening, ucapannya berlanjut “kalian tak akan mengetahui apakah ia Evita atau orang lain”
Mata Indah dan Amelya membelak mendengarnya, mereka tak ingin Evita kenapa-napa. Begitu juga dengan Za. Ia mengerutuk dalam hatinya. Karena kesalahannya, jika saja mereka tak bertengkar, pasti semua akan baik-baik saja.
-
Seperti yang dikatakan, semua bergerak disekitar hotel, Za,Indah dan Amelya memilih untuk memesan kamar masing-masing. Dan bersiap jika kemungkinan Evita masih ada didalam.
Waktu yang semakin larut, dan keadaan yang semakin gelap. Semua memindai masing-masing. Jejak Evita masih tak bergerak. Bahkan terdiam ditempat. Mereka merasa aneh dengan hal ini.
Indah dan Amelya memutuskan untuk berkeliling. Mereka mengunakan penyamaran yang sedikit berbeda. Agar tak ada yang mengetahui diri mereka.
Berjalan disekitarnya tak ada hasil yang didapatkan. Sungguh sulit ternyata. Tak seperti Evita yang mampu menemukan mereka bahkan dalam keadaan tak sadarkan diri. Tapi yang terpenting adalah berusaha untuk mencari.
“Za...apa jejaknya bergerak?”tanya Indah melalui earphonenya. Hanya jawaban tidak yang terdengar. Yeah Indah tahu bahwa Za tak bersemangat sama sekali.
Amelya yang mendengarnya hanya bisa terdiam, bagaimana rasanya jika kekasihmu diculik tepat didepanmu, ditambah kau hanya memiliki sekali pertemuan yang bisa merubah segala keadaan. Dan hal itu yang tak mungkin Za inginkan. Amelya menyadarinya, jika Evita memang berubah, kemungkian satu, tak ada cahaya dihatinya. Bahkan matanya.
__ADS_1
“Indah kita lanjutkan pencarian”ucap Amelya yang mendapat anggukan oleh Indah. semua pun kembali bergerak.
-
Cahaya yang begitu kuatnya membuat mata menjadi sakit. Sambil mengerjap-ngerjapkannya. Ia menajamkan pendengarannya. Terdengar suara mesin-mesin yang berbunyi. Lalu suara cairan-cairan yang sepertinya di didihkan.
“Ugh...Aku dimana?”guman Evita. ia membuka matanya dan menangkap segala yang dilihatnya. Terlihat apa yang tak ingin dilihatnya.
Tubuhnya yang tak ada sehelai kain pun disana, sungguh pemandangan yang menjijikkan. Matanya seketika melotot tajam. Ia memandang sekelilingnya.
“ugh”bergerak untuk melepaskan diri dari ikatan tali yang untungnya bisa dilepas.
Evita bangun dari tempat yang menguncinya. Ia melangkah menunju kearah yang ia yakini adalah jalan keluar. Tapi langkah yang biasanya tegak kini terlihat lemas. Ia merasa tubuhnya panas. Sangat panas.
Tiba dipintu, ia melihat kesegala arah, meski tubuh yang tak berbusana itu, ia mengambil kain yang terlihat sangat panjang. Membalut diseluruh tubuh dan melanjutkan langkahnya.
Ia hanya bisa menduga bahwa saat ini ia pasti berada ditempat-tempat yang lumayan ramai. Karena yang ramai itu lebih baik dari yang sepi. Sebuah tempat untuk bersembunyi itu adalah tempat ramai. Karena orang-orang tak akan mengetahui dirimu. Dan itulah yang ada dipikiran Evita.
Ia melangkah sampai terlihat sebuah lift. Dengan senyum yang terukir. Ia ingin berlari tapi tubuh yang makin panas itu, makin membuat nya kesulitan.
“Apa yang sebenarnya terjadi kepadaku?”benak Evita. rambut panjang yang terurai, dengan wajah yang memerah. Terlihat sekali ia tengah terangsang oleh sesuatu.
Meski begitu, Evita harus tetap melangkah. Tiba dilift, terlihat angka-angka yang tak bisa ditebaknya. Jika ia berada dilantai atas, seharusnya ia mengklik lantai satu, tapi masalahnya ia ada dilantai berapa. Karena tak ingin diketahui ia kabur. Evita menekan sembarang angka. Meski yang ditekan juga angka Satu.
Lift tertutup dengan cepat. Nafas Evita berburu bagaikan berlari marathon. Ia benar-benar tak tahan. Tapi ia harus secepatnya pergi.
“Sepertinya aku diculik...sial, mereka sepertinya memberi sesuatu ditubuhku”guman Evita. tubuh yang makin panas itu berhasil membuat pikiran liarnya aktif.
Ting
Pintu lift terbuka, Evita melirik kesegala arah, terlihat bahwa ia tak berada dilantai utama. Sepertinya ia harus mengunakan lift yang lain. dengan cepat ia keluar dari lift dan melanjutkan langkahnya.
Tapi langkahnya terhenti saat melihat dua orang yang menghalanginya.
“Nyonya...apa anda tersesat?”ucap Pria yang terlihat mengoda dirinya. Yeah Evita tahu pasti wajahnya saat ini terlihat dengan godaan.
“Kau sangat cantik..kemari lah”ucap Pria yang lain.Evita menahan diri dengan mengigit mulutnya sendiri. ia harus tetap sadar. Meski pikirannya melayang-layang.
“Maaf aku sedang tak ingin berurusan dengan kalian”ucap Evita. tapi tetap saja, lelaki akan menjadi yang terkuat jika mangsanya lemah. Dan saat ini Evita yang menjadi lemah. Lemah seperti gadis ja*ang lainnya.
Ia mendorong pria yang menyentuhnya, dan dengan cepat ia melangkah lari meski kaki yang digunakan tak ingin berkerja sama.
“Sial....bergerak..bergerak bodoh”guman Evita. ia melangkah menyusuri lorong yang berisikan kamar-kamar.
“Gadis cantik..tubuhmu pasti panas..kemarilah..aku akan mendinginkanmu”
“jika kau tak ingin satu orang, aku bisa menjadi penambahnya....kemarilah...tubuhmu itu sangat indah untuk dilewatkan”
“cih sial”gerutuk Evita. ia tahu jalannya tak secepat berlari. Ia tahu dua lelaki dibelakangnya hanya berjalan santai. Seakan-akan tahu bahwa Evita tak bisa kemana-mana.
“Ya tuhan..ini kah akhir hidupku?”benak Evita. ia memaksa terus melangkah, sampai akhirnya dua lelaki tersebut tak tahan lagi. dan memeluknya dari belakang.
“Lepas!”ucap Evita. tapi sia-sia. Tubuhnya makin goyah.
“Lihat tubuhmu sangat menginginkan sentuhan...kemarilah sayang”ucap Pria yang memeluknya.
Diciumnya tengkuk Leher Evita. yang berhasil membuat tubuh Evita melonjat tinggi. “Sial..jika begini aku...aku...aku”
“Menjauh darinya”ucap Pria yang lain. Evita menatap kearah Pria tersebut. Yang tak lain adalah Mavin Vintorian. Pria yang sempat ditemuinya.
Dua pria tadi ingin melawan, tapi melihat Pria itu tak bergeming. Mereka pun pergi. Evita ditarik oleh Mavin dengan cepat.
“Apa yang kau lakukan...disini berbahaya”ucapnya.
Tapi Evita yang telah tak berdaya hanya bisa terdiam. Ia ingin disentuh tapi ia tak mau disentuh oleh orang lain selain kekasihnya sendiri. mengingat kekasihnya entah kenapa hanya bayangan wajah pria yang ia tak tahu siapa.
“Kau harus berendam dikamar mandi”ucap Mavin. Ia membawa Evita kesalah satu kamar yang dipesannya. Setelahnya Ia pergi meninggalkan Evita.
Evita masih bersyukur ternyata Mavin tak seperti lelaki bejat lainnya. Setidaknya ia masih tertolong. “Terimakasih”itu hanya terucap dibenaknya. Mungkin nanti dikeadaan yang baik baru ia berterimakasih dengan benar.
__ADS_1