
setelah berkutak dengan semua yang ada didapur, Evita kini telah menyajikan tiga hidangan, ada omlet, ada sup ayam dan ada tumis sayuran. Dua jam berkutak dengan dapur cangih ini, Ia hanya mampu menciptakan 3 masakan.
“Huh” Evita menyeka keringat tipis dikepalanya. “sekarang..hmmm” sambil tersenyum menatap makanan yang ada.
Seorang pelayan berwajah lanjut usia masuk sambil membawa mapan yang berisikan dua gelas kosong. Evita melihatnya.
“Hmm....Maaf BU” sapanya, Yang langsung ditatap horor oleh sang Pelayan. Evita tahu bahwa Pelayan didepannya ini pasti bingung dengan panggilannya.
“AH..jangan panggil saya seperti itu Nona..saya tidak pantas” Ucapnya sopan, sambil meletakkan mapan yang dibawanya. Evita mengawasi setiap gerakkan Pelayan itu, hingga membuat sang Pelayan menjadi tidak tenang.
“Maaf Non, ada yang ingin saya bantu?” tanyanya. Evita tersenyum.
“Tentu..aku ingin Bibi menyimpan Omletku..bisa?” Evita merubah panggilannya, karena Pelayan 2 tidak enak dipanggil ‘Bu’ oleh Evita.
“Omlet?...tentu, tapi kenapa disimpan Nona, kan makan Malam hanya jam 8 dan dijam lain tidak ada waktu untuk makan”
“Aku tahu..tapi Omlet ini khusus untukku, jadi setelah makan Malam, omlet ini akan ku makan dikamarku” Evita memberikan Omletnya sambil tersenyum.
Pelayan itu menerimanya. “baiklah...jadi Nona, hanya 2 hidangan yang anda siapkan?”tanyanya.
Evita mengangguk. “tentu..lagian hanya kami berdua yang ada disini bukan?” tanya Evita balik. Dan dijawab dengan anggukkan oleh Pelayan.
Evita tersenyum, ia mengambil 2 hidangan tersisa dan meletakkannya dimeja makan yang panjang itu. “Bibi..aku akan tinggalkan makanannya disini, jadi mohon untuk dijaga..ah tapi Bibi kalau sibuk tidak masalah untuk meninggalkannya” ucap Evita yang kemudian pergi tanpa menunggu balasan.
Pelayan tadi yang merupakan Pelayan ke2. Meski sudah tua tapi tetap saja terlihat muda. Ia menyimpan omlet Evita lalu beralih untuk menyusun piring dimeja makan. Jam makan Malam akan segera tiba, jadi lebih baik ia memang berada didekat Meja Makan agar langsung bisa melayani Tuan dan Nona asing itu.
“Pelayan 2!” sapa sang Kepala Pelayan. Pelayan 2 pun langsung menoleh dan menghentikan kegiatan menyusun piring.
“Ada apa..Kepala Pelayan?”tanyanya.
“Pelayan 2..aku lupa memberi tahumu, ada keran air dibelakang tempat penyiraman taman Tuan yang rusak, bisa suruh Paman Tong memperbaikinya?” Itu bukan sebuah perkataan biasa tapi sebuah perintah. Tentu pelayan seperti mereka harus menurut.
Tapi Pelayan 2 menjawab “Kepala Pelayan, akan saya kerjakan, tetapi setelah menyusun piring ini terlebih dahulu”
Mendengar hal itu, Kepala Pelayan memiringkan wajahnya, “Pelayan 2..aku akan melakukannya. Bisa cepat kau beritahu Pak Tong, agar nanti tidak ada lagi kesalahan” ucapnya.
Karena Pelayan 2 merasa itu juga lebih penting, akhirnya Ia mengangguk dan pergi. Kepergiannya memberikan senyuman bagi Kepala Pelayan.
-
Evita baru saja selesai maskeran, Jam sudah menunjukkan pukul 07:50, jadi sisa 10 menit lagi untuk waktu makan Malam tiba. Jadi ia menyempatkan untuk bersantai bermain ponsel pintarnya.
“Oh....ternyata Intari dan Amelya belakangan ini menjalankan misi ya..” melihat laporan yang ada, Evita dapat memantau semua kegiatan dari laporan Sebastian, dan Inul juga akan melaporkan tentang data-data perusahaan mereka.
Dari banyak data yang dikirim, belakangan ini kasus tidak lagi seperti dulu yang sulit ditangani, sekarang kasus yang dihadapi terlihat mudah.
“Kenapa tidak ada lagi sebuah misteri sih..dulu saat ramai kasus sana sini yang sulit,sekarang kasus mudah pun harus kami hadapi karena kami bosan” benaknya. Benar adanya, belakangan ini setelah kembali dari Amerika, Kasus yang dilihatnya tidak semenarik yang dulu. Jadi dirinya, Intari dan Amelya yang punya sifat cepat bosan, pasti akan mengambil kasus, meski tidak semenarik yang mereka inginkan.
Setelah berkutak dengan ponsel pintarnya, dan melihat jam sudah masuk waktu makan Malam, dengan penuh senyuman ia keluar kamar dan menuju kemeja makan.
__ADS_1
Semua sudah bersiap dimeja makan, Evita sedikit terkejut ketika melihat meja makan yang seharusnya hanya ada nasi, sup ayam dan tumis sayuran. Kini Malah ada banyak makanan, mulai dari ayam bakar, tumis sayuran lain, hidangan seafood dan berbagai macam lainnya.
Melihat ini Tentu saja Evita tahu, bahwa sepertinya dirinya sedang masuk dalam perangkap seorang laba-laba. Yang dimana sekali ia bergerak maka tubuhnya semakin terjerat.
“kenapa tadi menyuruhku untuk masak..kan aku tidak perlu berkutak didapur kalau tahu begini..tapi yasudah lah..yang penting ia tidak makan masakkanku kan” benaknya. Evita duduk dikursi yang lumayan jauh dari kursi sang pemilik rumah.
Tak berapa lama, pintu utama dibuka dan langka kaki seseorang terdengar melangkah menuju keruangan tengah. Terus melangkah sampai tiba diruang meja makan. Semua pelayan dari keseluruhan berdiri dengan rapi untuk menyambut Tuan mereka, begitu juga dengan Kepala Pelayan yang berdiri disamping kursi sang Tuan.
Evita mendengar kedatangannya hanya berdiri tidak memandangnya.
Setelah Za duduk, baru Evita ikut duduk, meski hanya berjarak 1 kursi. Evita tidak menghiraukan para pelayan yang melayaninya. Lagian ia juga disini hanya tamu.
“Aku tidak bisa melayani pria, apa lagi menghidangkan makanan, jadi ku harap ini dimasukkan dalam nilai haha” benaknya sambil menikmati masakkan yang bukan dibuat olehnya. Tanpa mengingat bahwa ia pernah melayani keluarga besar Zhan.
Tiba-tiba seorang pelayan menghidangkan tumis sayuran dari kacang panjang,kangkung dan tomat yang dibuat oleh Evita. Evita tidak menyadari tumisannya dihidangkan oleh pelayan untuk dimakan Tuannya. Yang menghidangkan adalah pelayan 12.
“Apa ini?” suara berat dan memberi tekanan membuat para pelayan sedikit gemetar mendengarnya. Begitu juga Evita yang tengah minum air putih, tersedak.
“Uhuk...” Evita melihat kearah Za yang juga memandangnya. “maaf..”ucap Evita pelan tapi masih bisa didengar.
Pelayan 12 itu tidak tahu apa-apa, ia hanya disuruh untuk menghidangkan makanan oleh Kepala Pelayan, bingung untuk menjelaskan. Kepala Pelayan yang melihatnya tersenyum, lalu mendekati meja. “Tuan..ini masakan Nona Evi. Ia memasakkan ini khusus untuk Tuan” ucapnya.
“Uhuk.....uhuk” lagi-lagi Evita tersedak gumpalan nasi, baru saja nasi itu masuk kedalam mulutnya, ingin mengunyah dengan tenang, Malah disana dirinya tengah dibicarakan, apa lagi mendengar kata ‘khusus’. Evita berbenak “sejak kapan aku masak khusus untuk orang..huh...aku aja sudah 2 tahun tidak masak”
Za hanya terdiam, ia mengambil garpu yang terletak disamping piringnya, dan memakan tumisan buatan Evita.
Evita melirik diam-diam, sambil berusaha untuk tenang. Za yang mengunyah tidak menunjukkan reaksi apa pun,hanya saja setelah makan itu, ia meletakkan garpunya. Dan menyeka mulutnya menggunakan sapu tangan.
Evita melihatnya sedikit mengerutkan keningnya. Za Melihat perubahan Evita. Ia bertanya “apa yang kau pikirkan?”
“ah tidak..tidak..tidak apa-apa” ucap Evita cepat menjawab.
“Sial..kenapa Malah manis...bukannya aku membuat garam lebih dari 5 sendok makan, tapi kenapa jadi manis..bukannya asin ya?”benak Evita. Sebelum bertemu dengan Pelayan 2, Evita memasukan 2 menu hidangannya dengan garam, jadi saat dimakan pasti asin. Namun siapa yang menjadikan masakkannya manis.
Karena merasa masih tidak percaya, Evita mengambil sup Ayam yang dimasak olehnya. Merasakan masakkannya.
Setelah memakannya, wajah Evita datar seperti dinding tembok. Ia memandang sup Ayamnya. “ah..ternyata emang manis..apa aku salah masukkan garam atau salah mengetahui yang mana garam atau gula” benaknya.
Evita tentu harus bertangung jawab, kalau pun masakan tadi asin, ia juga pasti akan bertangung jawab juga, tapi beda kalau rencananya berhasil. Sekarang rencananya Malah diubah oleh seseorang. Benar-benar merepotkan.
Evita berdiri dari duduknya. “Maaf Tuan Za...saya tidak tahu ternyata masakkan saya Malah tidak layak dimakan..saya ingin mengundurkan diri untuk membawa makanan ini” ucapnya sesopan mungkin. Dirinya Malas duduk dimeja makan yang rencananya tidak berjalan lancar.
“tidak perlu...Pelayan 2 bawa makanan yang dimasak olehnya, jangan dibuang..kelola makanan itu menjadi enak dan kalian bisa memakannya....”perintah Za yang membuat Evita mematung ditempat. Sebenarnya dirinya ingin mengambil omletnya dan memakannya didapur agar tidak ada yang tahu. Tapi Malah dihalangi oleh Za.
“ah..baik Tuan” ucap Pelayan 2. Ia mengambil sup Ayam dan Tumis sayuran Evita. Ia berhenti sejenak dan menoleh kearah Evita yang juga memandangnya. Evita melihat Bibi tersebut tapi sedikit bingung dengan tatapan Bibi yang sekarang penuh senyuman.
“Maaf Tuan..” ucap Pelayan 2, membuat semua orang memperhatikannya. Evita juga memperhatikannya dan merasa ada perasaan tidak enak dalam benaknya. Za yang tadi minum menoleh kepada Pelayan 2.
“begini, Nona ini sebenarnya membuat 3 hidangan....”
__ADS_1
“Bibi!”Evita memotong pembicaraannya. Ia tahu apa yang ingin bibi ini sampaikan.
“Tidak apa Nona...” ucap Pelayan 2 membuat Za sedikit mengerutkan alisnya. Pelayan 2 melanjutkan “jadi ini hanya 2 hidangan yang disajikan, Nona masih menyimpan 1 hidangan lain..saya akan membawanya” Za mengangguk.
Setelah mendapat persetujuan pelayan itu langsung melesat kedapur dan mengambil 1 hidangan yang dibuat oleh Evita.
“Kacau...kacau....aduh Bibi..aku ingin diusir disini..kenapa bibi membuatku makin susah untuk keluar dari sini sih” benak Evita melihat Pelayan 2 membawa omlet yang sangat mengoda itu.
Evita ingin omlet itu menjadi cemilan saat dia diusir atau Malah dicaci maki, tapi dia tidak ingin Omletnya Malah menjadi hidangan penutup untuk orang lain.
Pelayan 2 meletakkan Omlet didepan Za. Za melihat dan mengambil sendoknya lalu memakannya. Semua orang terdiam, Pelayan 12 kembali kebarisan. Sedangkan pelayan 2 masih berdiri disamping Za.
Evita mengigit kukunya berharap bahwa makanan itu tidak enak. Tapi makin berharap makin merasa tidak enak. Karena Za mengambil lagi-lagi dan lagi sampai omlet tersebut habis tak tersisa dipiringnya.
Diam seribu bahasa, itu yang dihadapi oleh Evita. Sedangkan Pelayan yang lain ada memasang wajah senang ada yang merah dan ada yang terasa panas. Evita merasakan aura panas itu lalu melirik kearah Kepala Pelayan yang tengah menghadap kepunggung Za.
Za menyeka mulutnya dengan sapu tangan. Lalu berdiri dari duduknya dan melihat kearah Evita yang sebenarnya memandang Kepala Pelayan bukan kepadanya. Za tahu bahwa orang dibelakangnya ini sedang panas. Tapi mau gimana pun ia tidak perduli, lagian apa pentingnya mereka.
“Terimakasih masakkannya” ucapnya yang menuju kearah Evita. Evita yang bengong mau menjawab apa hanya mengangguk tidak karuan. Yang pasti ia sudah menjawab ucapan Za.
Za pergi menuju kekamarnya, dan yang lain membersihkan dan menyelesaikan tugasnya, Evita ingin pergi karena menurutnya tidak ada gunanya disini. Tapi langkahnya berhenti karena seseorang menghalangi langkahnya.
“Nona...selamat, karena berhasil membuat Tuan senang dengan hidangan anda” ucap Kepala Pelayan. Ia pun pergi setelah mendapat anggukan oleh Evita.
“Huh...pelayan disini sepertinya memusuhiku..tapi tidak apa, semakin dimusuhi semakin aku bisa keluar dari sini..hahahaha” benaknya. Ia melihat Pelayan 2 sepertinya sedang disudutkan oleh pelayan yang lebih muda. Evita tidak menghiraukan tapi mendengar perkataan pelayan muda itu. Evita mendekat.
“HEI TUA...APA KAU SEDANG MENCARI PERHATIAN TUAN... DAN APA MAKSUDMU BAHWA KAMI SENGAJA MEMASUKKAN GULA KEMAKANNYA..KAMI TIDAK MELAKUKANNYA” ucap pelayan 13. Disana ada Pelayan 14 dan 15 serta Pelayan 2. Evita dari jauh mendengar perkataan itu mendekat dan semakin mendekat.
“Saya tidak bilang begitu, hanya saya bertanya siapa yang melakukannnya, saat saya melewati kalian, kalian menuju kedapur bukan?” Tanya Pelayan 2.
Pelayan 14 tidak terima mereka bertiga dituduh. “tentu kami memang menuju kedapur, tapi bukan hanya kami, ada juga Kepala pelayan, jadi apa memungkinkan kami bisa memasukan garam kedalam masakkan orang Sampah itu?” ucapnya sedikit kasar.
Evita termenung sejenak, kemudian ia pun berhenti berjalan, ia pun mundur dan tidak melanjutkan untuk menghentikan para pelayan berkelahi, tapi tiba-tiba ia melihat sang Pelayan 2 didorong oleh Pelayan 15 yang sepertinya perdebatan masih tak menemukan titik pencerahan.
“Apa yang kalian lakukan?” Evita membentak Pelayan 13,14 dan 15 yang masih emosi. Hingga mereka juga mendorong Evita. Lalu meninggalkan Evita dan pelayan 2 yang merintih kesakitan.
“Bibi tidak apa-apa kan?”tanya Evita sambil membantu Pelayan 2 bangkit.
“tentu Nona..maaf gara-gara saya Nona Malah harus membuang masakkan nona..tapi tenang saya sudah memasaknya hingga menjadi enak kembali, tapi tidak ada yang mau makan..tenang nona saya akan memakannya dan akan memberikannya bersama suami dan anak saya” ucapnya cepat tanpa memberikan Evita kesempatan untuk menjawab.
Evita juga tidak tega dengan perkataan itu, apa lagi sebenarnya ia juga yang membuat rencana untuk cepat pergi dan tidak menyangka ada orang baik yang mau berdiri sampingnya.
“tidak..tidak Bibi.ini tidak salah, aku yang salah..seharusnya melihat semua bumbu dapur agar tidak salah memasukkan gula dan garam. Hingga membuat masakan menjadi manis” ucap Evita.
“tidak Nona..masakkan anda sudah enak, tapi seseorang merubah masakkan anda..jadi..”
“Bibi sudah jangan dibahas..cukup sampai disini, saya tidak ingin terlalu jauh dalam masalah biasa seperti sekarang, biarkan saja. Sudah bibi sebaiknya istirahat...” ucap Evita yang dianggukan oleh Pelayan 2. Mereka berdua pun berpisah setelah Evita masuk kedalam kamarnya.
Didalam kamar, Evita berbaring sambil menghadap kearah langit-langit. Jujur ia tahu siapa yang salah dalam kasus ini, siapa yang tidak tahu. Dia detektif yang sudah menangani berbagai macam kasus, tentu saat mudah menentukan siapa dalang dari masakannya menjadi manis itu.
__ADS_1
“baiklah..kali ini sepertinya jaring laba-laba masih tidak bisa menjeratku...akan ku lepaskan kalian, dan ku harap kalian tidak menghancurkan rencanaku lagi” ucapnya yang kemudian terlelap dalam tidurnya.
...****************...