MANTIV

MANTIV
● Mantiv(131)


__ADS_3

Bungkam, semua bungkam mendengar apa yang diucapkan oleh tiga pria yang sedang bersimpuh lutut mereka.


“APA KALIAN TIDAK WARAS”teriak Ayah Yoongi dengan nafas mengebu. Wajar ia berteriak, karena baru kali ini melihat kasus orang menikah dengan berkata tak menyentuhnya. Apa maksudnya itu?


“Kalian menikahi seseorang, bukan membeli barang. Membeli barang saja kalian sentuh wujudnya, bagaimana dengan wanita yang kalian nikahi, meski tak bersetub*h, tapi mengenggam tangan, mencium pipi. Itu sama saja menyentuh”lanjut Ayah Yoongi yang membungkamkan Yoongi dan Echan. Yeah benar apa yang dikatakan oleh Ayahnya itu.


Orang tua Yoongi dan Echan hanya bisa mengeleng tak percaya dengan apa yang didapati oleh mereka ini.


“Yoongi 20 pukulan, Echan 20 pukulan. Alat yang digunakan adalah papan pengaris panjang”ucap Kakek Pertama yang langsung mengagetkan semua orang.


“Paman, Itu berlebihan, 20 pukulan dengan pengaris panjang, bagian belakang akan bisa meretakkan punggungnya”ucap Ibu Yoongi menatap kearah Paman yang tak lain adalah Kakak dari Ayah mertuanya.


“Aku sudah meringankannya, Aku ingin 50 pukulan ditambah merenungkan kesalahan selama 1 bulan, tapi Ia sudah menikah..20 cukup tanpa renungan kesalahan, apa Kalian menentang keinginanku?”tanya Kakek Pertama yang langsung membungkam Ibu Yoongi.


“Dengar Yoongi dan Echan, 20 pukulan untuk kalian, dan menghapal 1000 lebih aturan keluarga kita, 3 hari cukup untukmu menyesali perbuatanmu itu”lanjut Kakek Pertama yang menatap kearah Cucunya.


“Lalu untukmu Za”pandangan menjadi tajam saat memandang kearah Za. Bibi Kedua langsung bergegas untuk menghalangi pandangan itu.


“Ayah Mertua, Aku tahu Za salah...tapi jangan sampai Kau menghukumnya lebih berat lagi”Bibi Kedua menatap kearah Mertuanya. Berbeda dengan Suami Bibi Kedua, Putra kedua dari Ayah Mertuanya itu. Suaminya hanya bersantai menikmati apa yang terjadi.


“Dengar menantu, kau tak berhak membentak apa yang ku ucapkan. Karena Aku juga berhak terhadap cucuku”ucap Kakek Pertama.


Bibi Kedua tak perduli, Ia berisi keras berdiri didepan Za. “Menantu, maaf jika Aku kasar kepadamu, Pengawal jauhkan dirinya dari Za”tintah Kakek Pertama yang membuat Bibi Kedua bergegas memeluk Za.


Melihat tingkah laku baiknya, membuat rasa geli di hati Za. Wanita yang nyaman dipeluk hanya Ibunya yang Ia sendiri tak tahu rasanya seperti apa. Lalu pelukan Istrinya selalu candu untuknya.


“Aku tidak akan menjauh dari Za!!!”Bibi Kedua tetap berisi keras, namun percuma saja. Dua penjaga yang ada langsung bisa menjauhkannya dari Za.


“Lepaskan!..ku bilang lepaskan. Ayah Mertua, begini caramu menghargai wanita?”tanya Bibi Kedua yang berani menatap kearah Kakek Pertama.


Kakek Kedua langsung menjawab ucapan Bibi Kedua, “Dan begini sikap wanita yang ingin dihargai. Dengar Keponakkanku, jika Kau terus bersikap seperti ratu yang tak tahu asal usulmu, Kau akan mendapatkan akibatnya nanti”


“AKU TAK PERDULI, INTINYA JANGAN MENYAKITI ZA KU!!!”teriak Bibi Kedua yang mengema didalam aula tamu. Meski begitu tak ada yang menghiraukannya. Ia diseret menjauh dari aula.


Setelah suasana kembali tenang, Kakek Pertama menatap kembali kearah Za.


“Za..Siapa wanita yang membuatmu berani melakukan ini?”tanya Kakek Pertama.


Za menjawab “Aku melakukan ini bukan karena wanita yang menyuruhku, ini semua keinginanku Kakek”


“Aku tahu, lalu siapa wanita yang beruntung itu, apa ia wanita yang 5 tahun lalu melakukan hal yang sama denganmu?”tanya Kakek Pertama. Ia sudah tahu jawabannya. Hanya masih memastikan apa yang ada didalam lubuk hati Za.


“Iya Kakek, Ia orang yang sama. Ia adalah Evita, cucu dari keluarga Alex dan anak angkat dari keluarga Kim”jawab Za dengan seriusnya.


Kakek Pertama menghela nafas. Ia sudah tahu, sudah tahu segalanya. Alasan cucunya seperti ini. Namun hal yang tak dipercayai olehnya adalah menghukum cucunya. Niat hati tak ingin menghukum tapi ia tak bisa mentolerin apa yang dibuat oleh cucunya. Apa lagi Putranya juga melakukan hal yang sama.


“Lihat Mor, Putramu menurut sepertimu, Pulang-pulang membawa Istri, huh Kau memberiku jantung yang kuat”benak Kakek Pertama dengan menghela nafas. Semua yang ada diruangan dibuat tegang karena tingkahnya. Padahal dirinya hanya sedang mengeluh.


“Baiklah Za, dengar hukumanmu adalah....30 cambukkan, renungan 1 hari karena kau menyentuhnya dan satu lagi Istrimu juga harus mendapatkannya”ucap Kakek Pertama. Namun Za yang sudah menetapkan agar Istrinya tak diikutkan langsung menolak.


“Kakek, jika Istriku juga mendapatkannya, biar aku yang menangungnya”ucap Za dengan beraninya.


Para paman-pamannya menatap heran. Semua melihat sosok Kakak Pertama mereka didiri Za. Karena dulu Ayah Za juga menangung semuanya.


“Baiklah, 30 cambukkan, 15 pukulan dan 1 hari renungan. Lakukan itu”dengan berat hati hukuman diberikan. Za mengangguk dan bersiap untuk menghadapi apa yang didapat olehnya.


Begitu juga dengan Yoongi dan Echan yang juga sudah siap. Namun mereka merasa tak enak hati dengan hukum ini. Tapi mereka juga tak bisa membantah, jika membantah, Istri mereka juga akan menanggungnya.


Semua melangkah menuju kearah ruang hukuman yang ada dibagian belakang rumah. Rumah besar ini memiliki ruang hukuman yang lumayan.


Za, Yoongi dan Echan menghadap kearah dinding bertulisan banyak aturan. Diantaran semua aturan itu yang paling banyak adalah aturan melindungi Wanita. Meski Lelaki harus dihormai, namun wanita juga mendapatkan hormat mereka. bagaimanapun lahirnya seorang anak datang dari rahimnya wanita. Jika rahim tak ada,dimana menampung nafsu bejat lelaki?.


Itulah yang membuat keluarga Zhan dikenal sebagai penyayang wanita. Karena mereka menyayangi wanita dengan lebih baik, bahkan menghargainya.

__ADS_1


Wanita pada dasarnya lemah, tapi jika disebut lemah, bagaimana ia mengandung lalu melahirkan. Bayangkan saja ketika kau sedang kelelahan lalu disuruh berkerja lagi hingga kau tak sanggup bergerak karena kelelahan. Begitulah wanita yang mengandung selama 9 bulan, lalu mengasuh dan mendidiknya. Semua memiliki kelemahan dan kekuatan mereka masing-masing.


Sebagai keluarga yang memiliki keturunan laki-laki, tak heran mereka begitu menghargai wanita. Karena dijaman kakek buyut mereka. keluarga Zhan dikenal kejam kepada wanita, untungnya dari kakek-ke kakek akhirnya wanita diperlakukan dengan baiknya.


Namun tak semua wanita diperlakukan baik, mereka akan menilai mana wanita yang patut dihormati dan mana yang buruk.


Za duduk ditengah-tengah, paling depan. Sedangkan Yoongi dan Echan sedikit kebelakang disisi Za.


Beberapa pelayan membawakan cambuk dan papan pengaris yang memiliki ketebalan dua jari.


Dan sisa dari pelayan itu memegang pundak-pundak mereka untuk mempertahankan agar tak jatuh saat pukulan mendarat.


“Dengar Za..Yoongi dan Echan, setelah ini kalian tahu apa yang harus dilakukan bukan, apa janji keluarga kita?”tanya Kepala keluarga Zhan yang berdiri didepan mereka.


Ketiganya langsung menjawab “Menikah seumur hidup sekali, dan jika sang Istri tiada, Kami tak akan menikah. Kami hanya menikah satu kali dan cukup mencintai satu wanita”jawaban serentak.


Ada rasa kagum, sedih dan tak tega melakukan hal seperti ini, namun sia-sia jika tak melakukannya. Ini semua sebagai hukuman atas tindakkan yang dilakukan.


“Lakukan”ucap Kakek Pertama yang membuat tiga orang pelayan langsung mendekati Za,Yoongi dan Echan.


-


Evita memandang kearah jendela kamar rawatnya. Ia baru saja selesai mandi. Dan malam hari sudah menyambutnya. Ada rasa aneh dihatinya yang membuatnya ingin pergi, tapi ditahan olehnya.


“Nyonya, anda ingin sesuatu?”tanya Sebastian yang menatap kearah Evita.


Evita mengeleng, “Tidak ada Sebastian, hm..Dimana Za?”tanya Evita.


Intari dan Amelya yang duduk dikursi dekat Evita saling menatap. Mereka berdua sudah mendengar pertanyaan Evita ini, sudah lebih dari 10 kali Evita mencari Za.


“Kenapa Evita, Kenapa Kau mencari Za?”tak ingin menutupi rasa penasaran, Amelya langsung bertanya.


Evita menatap kearah Sahabatnya, “Dimana Suami kalian, aku tak melihatnya menjengukku?”bukannya menjawab,Evita bertanya balik kepada Sahabatnya.


Kebungkaman yang dilakukan oleh Intari dan Amelya membuat Evita menatap bingung kearahnya. Ingin bertanya seseorang menarik perhatiannya.


“Apa Aku menganggu kalian?”tanya Chen Rey. Paman Za yang tak lain adalah seorang dokter.


“Paman”sapa Intari dan Amelya. Evita menatap bingung kearah Pria yang begitu tampan, Ia merasa pernah melihatnya tapi dimana?.


“Aku hanya memeriksa kondisimu sebentar, istrinya Za”ucap Chen Rey yang membuat Evita mengerutkan alisnya.


Chen Rey memeriksa dengan teliti, hingga pemeriksaan selesai. “Baiklah, Kau sudah kembali sehat, jaga pola makan, dan Apa Za memberitahumu?”tanyanya.


Evita mengeleng dengan wajah bingung yang ditampakkan olehnya.


“Sepertinya belum, oh ya dimana dirinya?”menatap kesana-sini berakhir menatap Evita. Chen Rey langsung terdiam.


“Apa yang kemana dan Apa yang anda katakan kepada Za?”tanya Evita. namun bukannya dijawab Paman Suaminya itu hanya tersenyum, “Tak ada, Paman pergi dulu, ada pasien lain yang harus diurus”ucapnya dengan melangkah pergi.


Evita menatap bingung dengan kepergian orang tersebut. Ia menghela nafas dan tak ingin banyak berpikir. Baru saja sadar, masa Ia harus berpikir sih?.


“Nyonya, Saya ijin keluar”ucap Sebastian yang dianggukkan oleh Evita.


Kini hanya tinggal Evita, Intari dan Amelya. Semua diam tak ada yang berniat untuk bicara.


Evita sendiri bodoamat, ia ingin tidur dan melanjutkan mimpi indahnya. Setidaknya ia sudah bangun. Meski begitu lengan kirinya masih terasa sakit akibat tusukkan wanita sialan.


“Huh..apa Wanita itu sudah mati?..aku ingat pisau yang ku gunakan waktu itu, dilumuri dengan racun”benak Evita.


“Evita”


Asik berbenak, Evita menatap kearah dua sahabatnya yang salah satunya, telah memanggil dirinya.

__ADS_1


“Kenapa, ada apa dengan kalian dari tadi diam mulu”ucap Evita dengan mengerutkan alisnya.


Intari dan Amelya saling diam, hingga akhirnya Amelya angkat bicara.


“Apa dikapal persiar waktu itu, Kau sudah mengetahui segalanya?”tanya Amelya.


Evita yang tadi ingin bercanda, kini mengubah suasana menjadi serius. “Iya, Aku mengetahuinya”jawab Evita dengan menatap kearah jendela yang masih terbuka.


Angin berhembus dengan perlahan, menerpa wajahnya. “Jangan kalian bertanya, kenapa Aku tak membicarakan hal itu disaat kalian sudah bebas. Kalian sudah tahu jawabannya, tak ada seorang sahabat yang mau membuka aib sahabatnya sendiri”ucap Evita melanjutkan jawabannya.


Intari dan Amelya terdiam mendengarnya. Memang benar, jika saat itu mereka diposisi Evita, mereka juga akan melakukan hal yang sama.


“Lalu Evita, Apa benar..Kau sudah bersetu*uh dengan Kak Za?”tanya Intari. Perasaannya tentang hal ini belum pudar. Amelya yang mendengar pertanyaannya langsung tercenga. Beda dengan Evita yang diam mengatur nafasnya.


“Kenapa Intari, Apa kalian merasa Yoongi dan Echan tak menginginkan kalian?”tanya Evita dengan memandang kearah Sahabatnya.


“Dengar, tidak ada lelaki yang mau menikahi wanita tanpa rasa cinta, jika pun ada mereka akan jatuh cinta kepadanya. Dan untuk masalah disentuh atau tidak, itu hak mereka. lagi pula Aku tahu alasan utama kenapa Yoongi dan Echan tak menyentuh kalian, itu karena Keluarganya...Keluarga-nya..”


Mata Evita membelak ketika berbicara hal tentang hubungan mereka. Ia yang tadi bersandar tenang kini duduk dengan wajah yang penuh keterkejutan.


“Ada Apa Evita?”tanya Intari dan Amelya bersamaan, mereka berdua langsung bergegas kearah Evita.


“Yoongi dan Echan, ia tak ada disini, dan Za juga?”tanya Evita. Intari dan Amelya yang tak tahu hanya bisa menjawab dengan mengangguk.


“SIAL!”pekik Evita yang membuat Intari dan Amelya terkejut.


“Kita tak bisa disini, Aku harus kekediaman keluarga Zhan”ucap Evita yang menarik infus ditangannya.


Sheetttt


“Evita, Apa yang Kau lakukan?”tanya Intari yang kaget melihat Evita mencabut infus yang digunakankan.


Amelya bahkan bergegas keluar mencari Dokter agar menenangkan Evita.


“Sial..Sial..Sial, pantas Paman mencari dirinya, Za....Kau benar-benar”benak Evita yang melangkah untuk keambang pintu. Namun langkahnya terhentikan oleh Sebastian yang menghadangnya.


“Nyonya, Apa yang anda lakukan?”tanya Sebastian. Disusul dengan Chen Rey yang datang .


“Izinkan Aku pergi sebentar...”belum selesai Evita bicara, Sebastian memotong ucapannya. “Nyonya, Anda masih harus dirawat, dan tubuh anda tak akan kuat untuk berjalan”


“Bodoamat, Sekarang Aku harus menghentikan Za sebelum Ia dihukum oleh keluarga Besar Zhan”ucap Evita dengan memandang tajam kearah Sebastian.


Sebastian dan Chen Rey bungkam mendengarnya. Intari dan Amelya menatap terkejut. Mereka berdua baru sadar. Keluarga Zhan merupakan keluarga yang gila akan aturan dan hukuman.


“Sebastian, siapkan mobil”tintah Evita, mau tak mau Sebastian menurutinya. Tak lama Raja datang dengan membawakan makanan untuk makam malam. Namun dirinya kaget melihat salah satu bossnya melangkah melewati dirinya.


“Apa yang?...”ingin bertanya namun sia-sia, Ia hanya bisa mengikuti langkah Evita,Intari dan Amelya yang menyusul Sebastian.


Chen Rey yang melihatnya hanya bisa tersenyum, “Keluarga Zhan memiliki menantu yang luar biasa ya, oh ya Kakak lihat menantumu itu, Ia lebih kuat darimu dan sepertinya lebih kaya dirinya hahaha”Chen Rey berguman sendiri. Ia menatap hilangnya tiga wanita yang salah satu diantaranya membuatnya kagum.


“Bertahun yang lalu, Aku pernah bertemu dengannya, Ku pikir kita berjodoh tapi ternyata bukan, ternyata jodohmu adalah keponakkanku sendiri, Evita..”benak Chen Rey.


*untuk pengingat, cek di chapter 72


Evita melangkah menuju kearah parkiran,tubuhnya mulai melemah,namun Ia tak boleh kalah sekarang, yang terpenting adalah memukul Suaminya itu.


Mobil pun datang dengan Sebastian yang menyupir, Evita menaiki mobil disusul oleh Intari,Amelya dan Raja.


“Kekediaman keluarga Zhan, Sebastian..jalannya berlawanan dari arah mansion Za”ucap Evita memberitahukan.


Sebastian mengangguk, Ia masih ingat jalannya. Namun hatinya merasa senang mendengar Nyonya-Nya mengingatkan tentang alamat suaminya itu. luar biasa, padahal 5 tahun tak bertemu namun masih bisa diingat oleh Nyonya-nya.


Mobil berjalan mengikuti arus yang diarahkan. Sebastian membawa mobil dengan kecepatan diatas rata-rata. Jangan ditanya apa kah ada yang takut atau tidak. Jawabannya tidak, karena tiga wanita itu dulunya seorang pembalap. Beda dengan Raja yang sedikit gemetar melihat Sebastian mengebut.

__ADS_1


__ADS_2