MANTIV

MANTIV
● Mantiv(7)


__ADS_3

-


“Hoam......hmmmm” Intari keluar dari lift sambil merengangkan tubuhnya yang sakit karena latihan memanah. Kaku ditubuhnya benar-benar membuatnya kewalahan.


Intari berjalan menuju ruangannya bersama Raja. Setiap perjalanan orang-orang dan karyawannya melihat dirinya tapi tidak berani berkomentar. Karena sifat Intari sama dengan Tuan mereka, Evita yang jika sedang dalam mood buruk maka setiap nafasmu serasa berat untuk keluar dari lubang hidungmu.


Kreeekk


“Pagi~”ucapnya sambil masuk kedalam.


“Pagi...eh, kenapa dengan dirimu Intari?...apa kau kurang tidur?” Tanya Amelya yang sebenarnya memang tahu, karena dirinya juga kurang tidur tadi Malam.


“Sudah Mel....jangan banyak tanya...ku sambet juga baru tahu nih”


Amelya yang mendengar itu langsung bungkam tidak lagi berbicara. “sungguh gadis pemarah, gini nih yang satu dingin yang satu humoris sekali marah gempar semuanya” benak Amelya.


Mereka pun berkerja dengan tenang, tidak ada suara sama sekali. Suasana tetap seperti biasanya. Apa lagi ruangan dipenuhi dengan bau lavender.


-


“Hoam.....” Intari sudah kesepuluh kalinya menguap tanpa henti saat mereka sudah berada diruang makan siang. Tepatnya dirumah mereka sendiri. Karena dirinya sudah mendapat seketaris baru, sisa separuh pekerjaannya ia serahkan dengan nyaman keseketarisnya itu. Sedangkan dirinya bersantai.


“Nona Intari, Nona Amelya memanggil anda diruangannya” ucap Pelayan mereka. Intari yang selesai makan pun pergi mengunjungi orang yang memanggilnya.


Setelah tiba, Ia melihat hanya Amelya, seketarisnya,Inul dan Nabila serta Sebastian seketaris Evita.


“Kemana Evita?...”tanyanya sambil duduk didekat Amelya. Amelya juga kaget mendengar pertanyaan itu.


“Lah..bukannya dia masih didalam kamarnya?...kau tidak menjenguknya?”Intari mengeleng.


“lalu dimana dirinya”


Mereka berdua pun melihat Inul yang terdiam, pandangan mereka seperti ingin meminta penjelasan, karena Evita pasti hanya akan memberitahukan kemana dirinya pergi jika mendadak seperti hari ini.


Inul yang merasa hawa intrograsi menjalar ditubuhnya, hanya bisa menghela nafas. “Evita pergi sejak tadi pagi”ucapnya.


Intari dan Amelya saling memandang tidak percaya. “Kak Inul, jadi Evita sedang menjalin hubungan dengan seseorang”Tanya Intari yang mengingat kertas tulisan dari Evita kemarin.


Amelya kaget “apa maksudmu, Hei Indah....Evita engak mungkin gitu, kau tahu sendiri banyak laki-laki yang ingin melamarnya tapi dirinya menolak”


“Apa salahnya Mel, lagian ya...siapa tahu aja kan dirinya memang ingin menikah”


“kau ini...”


“kenapa apa kau cemburut Evita menikah lebih dulu darimu”


“APA!”


Inul yang melihat dua orang berjabatan tinggi ini tidak pernah satu haripun untuk tidak bertengkar.


“Sudah berhenti...Evita ada urusan dengan pertemuan keluarga besar kami, setelah ini juga aku akan izin untuk menghadiri acara keluarga besar kami”ucapnya menjelaskan kesalah pahaman.


“Jadi gitu...tapi kenapa dirinya berangkat lebih dulu?”Tanya Amelya.


“Dirinya ada keperluan, menurutku pasti Kak Evi ingin membelikan keponakkan dan adik sepupunya hadiah”jelas Nabila yang ingin ikut dalam pembicaraan.

__ADS_1


Sedangkan Sebastian dan Raja tidak bergeming. Masing-masing dari mereka mempertahankan keanggunan sebagai seketaris yang dekat secara langsung dengan atasan.


“Jadi...kalian akan pergi, berapa hari?” Tanya Intari


“Mungkin hanya sekitar tiga hari, atau mungkin cuma satu hari”Jawab Inul.


“Terus Sebastian?..apa kau juga akan pergi?”Tanya Amelya melihat Sebastian yang berdiri dikursi khusus Evita itu. Setia bahkan tanpa bossnya.


Mendengar ada yang bertanya, Sebastian angkat bicara “Tidak Nona Amelya, Saya ditugaskan untuk menyelesaikan beberapa kasus yang belum ditandatangani oleh Nyonya Evita”


Mendengar suaranya saja sudah tenang seperti air yang mengalir ketubuhmu. Raja yang berdiri disamping Indah merasa bahwa levelnya harus ditingkatkan lagi. Melihat bahwa seketaris lain didepannya ini sungguh berwibawa.


Intari yang mendengarnya tersenyum, serta Amelya. Mereka pun mengangguk dan kembali ke situasi awal yaitu membahas beberapa misteri kasus yang sulit ditebak.


-


Ciiitttt.....


Suara mobil berhenti tepat dirumah yang bercat ungu dan didepan rumah itu terdapat rumah lain berwarna merah dan biru yang terlihat tidak akan pernah cocok.


Mobilnya diparkir tepat didepan rumah berwarna merah, sedangkan dirinya pergi kerumah berwarna ungu hanya untuk memandang rumah itu.


Dari jauh, seseorang sudah menunggunya. Senyum menghiasi sudut bibirnya dengan tangan terbentang ingin memeluk orang yang kini berjalan kearahnya.


Evita membungkukkan tubuhnya sambil mengangkat tangan kanannya untuk menyerahkan kunci mobil kepada adiknya. Sedangkan tubuhnya sudah didekap dengan wanita tua yang menunggu kedatangannya.


“Akhirnya kau kembali, sudah enam bulan ibu tidak melihatmu”


“maaf Mah, aku telah menunda waktu untuk pulang kerumah”jelasnya.


“Pah..”Ucap Evita yang memberikan sapaan lembut. Ayahnya yang duduk dikursi ruang tamu hanya mengangguk dan kembali membaca koran yang dari tadi pagi ia baca.


Adik laki-laki Evita terdapat tiga orang, yang satu sedang mengurus diri untuk dapat masuk kesekolah kepolisian sedangkan dua lainnya masih sekolah dasar.


“Evi...duduklah, Ibu akan membawa makanan dan minuman kesukaanmu” melangkah pergi sambil bernyanyi karena merasa senang akan kedatangan putrinya itu.


Evita yang duduk sambil menghadap kearah Ayahnya hanya terdiam menunggu makanan tiba dan sedikit berbicara saat Adiknya membawa hadiah untuk para adik-adik lainnya.


-


“Mah...Pah”Panggil Evita. Evita tidak pernah menyebutkan Ibu dan Ayah, karena memanggil Mamah dan Papah sudah sangat nyaman. Namun Ibunya sering memanggil dirinya sendiri dengan sebutan Ibu.


“Iya sayang..kenapa?”Tanya Ibunya. Papahnya itu hanya memandang sebentar lalu kembali ke korannya.


“Kenapa aku disuruh untuk pulang?...bukannya aku sudah mengatakan aku masih ada beberapa kegiatan lagi”


“Kalau tidak ada urusan keluarga besar kita, kami tidak akan memaksamu untuk pulang” Jelas Papahnya dengan nada dingin. Papahnya mendapat sengolan kecil dari Mamahnya itu.


Evita mendengar itu mengangguk, karena pada dasarnya orang tuanya ini termasuk Papahnya tidak akan pernah mengeluh jika putri semata wayang tidak pulang. Karena mereka akan tetap tahu kegiatan putrinya dari Inul yang merupakan Adik Papahnya.


“Jadi acara keluarga kali ini apa?”Tanyanya....


-


Diruangan yang besar. Dipenuhi dengan para keluarga, dari keluarga pihak Papahnya tengah berkumpul bersama. Ruangan besar itu kini terisi dengan keluarga besar yang terkumpul dari segala penjuru.

__ADS_1


“Evita...kenapa kau memakai pakaian hoodie lagi, acara malam ini pakailah gaun bagus”tegur dari sang Mamah yang sudah menyiapkan pakaian khusus putrinya itu. Evita hanya menurut. Karena dirinya tidak akan pernah melawan Mamah dan Papahnya.


Setelah menganti pakaiannya, dirinya melihat Inul dan Adiknya Nabila dipintu masuk aula. Ia memutuskan untuk menghampiri mereka.


“Hai kak Evi...”Sapa Nabila yang kemudian pergi setelah mendapat anggukkan dari Evita. Menuju Ibu dan Ayahnya yang menunggu dirinya.


“Bagaimana...apa acara keluarga ini membuatmu tenang?”Tanya Inul yang tahu bahwa Evita beberapa hari lalu sedang gelisah.


“Tidak..aku makin gelisah”


“Apa karena seorang Policeman yang kau tulis dibuku waktu itu”. Evita langsung terdiam.


“Kenapa...apa ada hubunganya dengan acara keluarga kita hari ini?”Tanya Inul. Evita hanya menghela nafas.


Inul yang tidak mendapat jawaban hanya bisa terdiam. Karena dirinya tidak ingin singa yang bersemayang didalam tubuh Evita bangun. Selagi Evita tenang walau gelisah, itu masih lebih baik dari pada tenang tapi beraura membunuh.


Dirinya dan Evita menghampiri semua orang karena dua orang ini adalah orang langka yang ditemui. Yang satu ceria sedangkan yang satu dingin. Namun dibalik itu semua terdapat kemanisan dari sifat mereka.


“Hei..Evi, lihat sekarang kau makin cantik, moga saja pemuda itu menyetujui pertunangan ini”


Inul yang mendengar itu seperti mendapat sengatan kecil. Karena dirinya bisa mengetahui bahwa aura disampingnya sedang membara.


“Hehe...Kakek, apa maksud kakek tentang pertunangan?”Tanya Inul sambil mengalihkan perhatian disamping orangnya ini. Auranya sudah menusuk-nusuk tubuhnya. Dan lagi Ia penasaran dengan acara besar keluarganya ini yang terbilang langka. Kecuali ada sesuatu yang bersangkutan dengan dirinya juga.


“Apa maksudmu, berapa usia mu Inul?...sudah saatnya kalian mendapat jodoh kalian, beberapa bulan lalu ada keluarga besar dari keluarga Zhan mendatangi kami, dan membahas tentang pertunangan. Lebih tepatnya perjodohan” senyum mementang diwajah kakek keluarga mereka ini. Mereka tidak memiliki marga dalam pengenalan keluarga. Tapi pencapaian dari masing-masing keluarga yang berkumpul tidak bisa diremehkan terutama Evita sendiri yang diam-diam merintis usaha apa lagi membangun perusahaan besar yang bisa dibilang rahasia itu.


“Kakek...apa maksud kakek tentang keluarga Zhan ini, itu kan keluarga yang berapa ditingkat lebih tinggi, kenapa mau mencari jodoh dengan keluarga kita”


Dengan brukk, sebuah buku kecil mendarat dikepala Inul. “kau ini, ini juga demi keluarga kita, dan lagi mereka tertarik dengan dirimu serta Evita yang langka ini. Santia sudah menikah. Jadi mereka hanya ingin bertemu dengan kalian”


“Kenapa harus kami, Santia kan juga masih muda”


“Santia sudah menikah Inul....kau ingin dipukul lagi”


“tidak Kakek”Ucap Inul yang kemudian memasang wajah murung. Dirinya tidak habis pikir kenapa keluarga super kaya dan terkenal itu mau bertemu dengan dirinya apa lagi Evita yang langka dikenal orang, kecuali orang bertanya Cewek dingin beraura membunuh. Baru orang akan mengenal Evita.


“Evi..apa kau benar-benar setuju akan perjodohan ini?”Tanya Inul.


Dirinya melirik Evita yang berbisik dengan Ibunya. Lebih tepatnya dirinya mendengar apa yang dibicarakan Keponakkannya bersama Kakak Iparnya itu.


“Kau jangan menolak perjodohan ini?”


“hm”


“pasti baik, sungguh mamah tidak mungkin salah menilai pemuda itu, dia baik”


“hmm”


Inul memasang wajah datarnya kembali, dirinya tidak percaya keponakkan yang berwajah dingin, aura menakutkan kalah dengan Ibunya sendiri. Setelah merasa kecewa. Ia melirik orang yang tidak jauh duduk diantara mereka. Yaitu Ayah Evita yang dikerumuni oleh orang-orang lain yang berjabatan tidak kalah jauh.


“Anaknya pengusaha, Ayahnya juga pengusaha. Anak sebagai Ceo di perusahaan detektif sedangkan Ayahnya sebagai juragan Wallet...keluarga ini benar-benar membuat semua orang inscure melihat mereka” benaknya.


...********Bersambung********...


Jangan Lupa Like adn Comment😊

__ADS_1


__ADS_2