
Keesokkan harinya. Evita telah bersiap dengan style jas yang dikenakan olehnya. Ia terlihat seperti wanita kantoran.
Sebastian telah menunggu dirinya. “Nyonya tidak sarapan?”tanya Sebastian. Evita mengeleng membuat Sebastian menyerahkan roti lapis yang telah dihidangkan oleh pelayan.
“Makan ini Nyonya..untuk tenaga anda” Evita yang melihatnya langsung mengambil dan memakannya. “Terimakasih”ucapnya.
Mereka melesat menuju salah satu perusahaan yang akan menjadi pertempuran Evita. meski ia tak tahu tujuan ibu barunya itu, yang harus ia lakukan adalah menyadarkan Ayahnya. Ia tak ingin keluarganya harus hancur. Setidaknya ia tahu alasan apa yang sebenarnya terjadi.
Tiba diperusahaannya. Evita mendapatkan pelayanan yang menarik perhatian orang-orang. Reza tentu saja telah ada disana. Ia berdiri disamping Ayah Evita.
Sedangkan Evita berdiri berlawanan dengan Ayahnya sendiri. baru kali ini Evita menantang Ayahnya. Padahal ini perusahaan kecil, yang Evita sendiri tak terlalu memperdulikannya. Tapi karena keluarga luar ini ingin merebutnya, Evita mempertahankan posisinya.
“Evita....tanda tangani surat ini,setelahnya tak perlu diragukan lagi, Andre yang akan memimpinya”ucap Ayah Angkat Evita.
Evita memandang sekeliling, terlihat dua orang yang menunggu dirinya.
“Aku tidak ingin tanda tangan sebelum Ayah memberitahu ku sebab kematian Ibu ku”ucap Evita yang membuat Tuan Besar Kim kaget mendengarnya.
“Ibumu?...kenapa kau mempertanyakannya?”tanya Ayah Angkatnya.
Evita tak ingin menahan diri lagi, ia berbicara “Ayah selama ini aku menahan diri untuk tidak bertanya, sekarang biar aku bertanya kenapa Ayah menikah dengan wanita yang ingin mengambil segala kekuasaanmu”
“Ayah mencintainya”jawaban yang diberikan membuat Evita rada membara.
“Mencintai atau menghindari..Ayah katakan yang sebenarnya”Evita tahu Ayahnya menyembunyikan sesuatu darinya. Lebih baik ungkapkan segala yang ada.
“Wanita itu penghancur hubungan Ayah bukan..aku yakin Ibu saat ini pasti merasa sakit hati melihat tingkah Ayah”
“CUKUP!!!”Ayah Evita langsung mendekati Evita. “Kau sudah kelewatan Evita....apa selama ini aku selalu memanjakanmu?”tanya Ayah Angkatnya.
Evita ikut emosi, tatapannya berbeda dari sebelumnya,dan kali ini orang-orang langsung kaget melihat dirinya, karena pandangan Evita menunjukkan bahwa ia mirip dengan Ayah Kandungnya sendiri.
“Ayah...Aku manja, bukannya sepuluh black card yang kau berikan kepadaku tak pernah ku sentuh, rumah yang kau dirikan tak ku tinggali, apa aku manja?”Evita menurunkan suaranya, hinga aura dingin mulai memenuhi ruangan.
“Apa demi wanita itu, kau sampai mengatakan hal yang kau sendiiri tahu bahwa aku tak bertingkah manja kepadamu”seketika itu juga Ayah Evita melangkah mundur. Membuat Ibu barunya langsung menghalanginya.
“Evita..Ayahmu memiliki penyakit jantung, jangan seperti ini”mendengar hal itu seketika aura tubuh Evita menghilang. Ia menatap wajah pasih Ayahnya yang mulai lemas.
“Kau benar Evita....Ayah yang memanjakanmu”ucap Ayah Angkat Evita. Evita langsung memeluknya tapi ia terdorong oleh Ibu Barunya itu.
“Menjauh dari Suamiku, kau anak yang tak tahu diri”mata Evita membelak mendengarnya. Ia anak tak tahu diri.
“Kau yang ****** tak tahu malu, menghancurkan keluarga orang”Evita menjampak rambut Ibu barunya. Dan melempar menjauh dari Ayah Angkatnya. Evita memangku Ayahnya.
“Ayah..kita kerumah sakit sekarang”ucap Evita yang ditahan oleh Ayahnya. “Evita dengarkan Ayah...kau tak harus mencari tahu tentang ibumu”ucap Ayah Angkatnya. Tapi Evita tak mendengarkannya.
“Sebastian panggil anak buah sekarang. Kita akan kerumah sakit”ucap Evita yang langsung dianggukkan oleh Sebastian.
Saat Ayahnya telah dibawa kerumah sakit, Evita ingin menyusul tapi dirinya dihalang oleh Ibu Barunya ini.
“Tanda tangani berkas ini”ucapnya dengan tajam. Para karyawan yang ada dibuat kaget dengan hal ini. Reza tentu saja pergi karena tugasnya melayani tuan Kim.
Jadi saat ini hanya ada Sebastian disisi Evita. “Aku tanda tangan..tak sudi, menjauh dari keluargaku..ingat itu”Evita ingin melangkah pergi tapi.
Plak
Wajahnya menerima tamparan keras dari wanita yang haus akan kekuasaan, membuat Evita ikut menamparnya.
Plak
“Wanita ****** seperti mu berani menamparku..siapa dirimu hah?”Evita menatap Wanita yang ia sendiri tak ingat namanya.
Wanita itu dibangunkan oleh Andre yang kini menatap dengan tatapan marah.
“Berani kau menampar ibuku?”ucapnya dan Evita menjawab “Tentu saja berani....bahkan membunuh kalian pun aku berani”ucap Evita tanpa memikirkan perasaan orang-orang yang menjadi takut kepadanya.
“Kau!!”Andre ingin menyerang tapi seseorang langsung menghalanginya.
“Baby..kau tak apa-apa?”tanya Mavin Vintorin. Membuat semua orang kaget melihatnya. Evita sendiri tak terkecuali. Ia mengingat mereka terakhir kali bertemu hanya pas disekolah, bagaimana pria ini bisa tahu ia ada disini.
“Bawa mereka pergi dari sini, mereka mengangguku”ucap Mavin Vintorin kepada orang-orangnya. Sekali perintah itu, Ibu Andre dan Andre dibawa keluar dan setelahnya suasana lain hadir.
__ADS_1
Mavin Vintorin memeluk Evita tanpa permisi, Evita langsung mendorongnya. “Maaf Tuan Mavin, jangan mendekat dan jangan sok akrab, aku bukan kekasihmu”ucap Evita yang menatap Mavin Vintorin.
Mavin Vintorin tersenyum “Yeah..apa kau memiliki kekasih?”bertanya.
Evita menjawah “Tentu Saja punya..dan lebih baik menjauh, jika anda ingin uang anda kembali, aku akan menyanggupinya”ucap Evita yang ingin pergi tapi ditahan oleh Mavin lagi. namun tangan itu cepat dilepas oleh Sebastian yang tahu bahwa Evita tak menyukai pria ini.
“Maaf Tuan Mavin, Nyonya Evita sedang sibuk....aturlah pertemuan dulu..kami akan meladeni anda”Sebastian menuntun Evita untuk keluar dari perusahaan yang hanya tertinggal Mavin dengan wajah senangnya.
-
Evita menunjungi Rumah sakit. Ia langsung menghampiri salah satu dokter yang bertugas.
“Bagaimana keadaan Ayahku dokter?”tanya Evita yang menatap teduh kepada dokter tampan yang tak berkedip melihatnya.
“Tuan Kim baik-baik saja...saat ini ia akan istirahat total diruang rawat. Tak bisa pulang dulu, jadi mohon dimengerti”ucap Dokter itu tak berkedip selama berbicara.
“Baik terimakasih”Evita melesat meninggalkan dokter yang masih memandangnya. Membuat perawat yang ada disana sedikit kaget.
“Dokter ada apa dengan anda?”tanya perawat itu.
“Wanita itu terlihat cantik”guman dokter yang kemudian pergi menghadirkan tanda tanya untuk perawat yang bertanya.
Evita masuk kedalam ruangan rawat ayahnya, ia tahu Ayahnya saat ini tertekan karenanya.
“Ayah maafkan Kim...huh....Kim salah Ayah...Kim tak tahu Ayah terkena penyakit...Ayah...maafkan Kim”Kim menduduk disamping Ayahnya. Ia bahkan tak bisa lagi membendung air matanya.
Reza yang ada disampingnya mengusap punggung Evita. “Nyonya Muda, Tuan besar Kim sedang istirahat..lebih baik Nyonya istirahat juga”ucap Reza. Mendengarnya Evita mengangguk. Ia tetap duduk disamping Ayahnya, hingga tertidur.
Berita tentang perusahaannya itu menjadi trending, tapi langsung ditangani oleh Reza. Karena lebih penting Evita tak diketahui publik. Mereka merubah rumor tentang Evita yang bersikap lembut, menjadi wanita yang dingin dengan tatapan yang mengerikan. Untuk membuat orang-orang jadi takut kepadanya.
Tentu saja berita itu sampai kepada Indah dan Amelya. Indah dengan Amelya saat ini tengah menikmati waktu sengang mereka.
Hanya mereka, kekasih mereka harus menghadapi ujian. Ditambah Yoongi dan Echan serta Za berniat untuk menjadi polisi jika telah lulus dismk nanti.
Membaca berita yang mengemparkan itu membuat Indah dan Amelya membahasnya kali ini.
“Evita telah dua hari ini tak memberi kabar lagi, Sebastian juga ikut tak bisa memberi kabar..sekarang apa yang harus kita lakukan Amelya...bisa dipastikan Evita memendam masalahnya sendiri”Indah menatap layar ponselnya yang memberitakan tentang Sahabatnya.
“Lalu apa kita harus mengunjunginya, Ingat Indah..Evita anak keluarga Kim, ia tengah dilindungi saat ini, kita harus menunggu dulu”Amelya yang datang. Ia merasa bingung sekarang.
“Kenapa berhenti...ada masalah dengan Kak Chan Ye ini?”tanya Amelya yang dianggukkan oleh Indah.
“Aku tak merasa tenang,ia mendekatiku seperti aku ini kekasihnya..aku tak mau”Indah mengingat kejadian waktu itu merasa sedikit merinding.
“Ya sudah itu tak penting Indah...sekarang yang terpenting Evita saat ini..apa yang sebenarnya terjadi”Amelya kembali memikirkan Evita.
Indah yang mendengarnya juga ikut terdiam. Bagaimana cara agar mereka bisa membantu Evita. saat ini Evita pasti kesusahan. Apa lagi keluarga aslinya tak ada dikota Q. Mereka ada didesa lain. yang mungkin beberapa tahun akan menjadi sebuah kota.
-
Malam harinya, suasana rumah menjadi Sunyi. Amelya yang ada didalam kamarnya merasakan hawa dingin merambat didirinya.
Ia dengan cepat ingin menghangatkan dengan meminum susu hangat. Jadi ia memutuskan untuk pergi kedapur dan membuatnya.
Tapi ada yang aneh, kemana orang tuanya ini. Ia menyentuh ponselnya dan menelpon sang ibu yang sering dihubunginya.
Tutttt....
Tuutttt....
Tuttt...
Petir dan hujan turun bersamaan, membuat Amelya kaget mendengarnya. Baru kali ini ia mendengar petir dan hujan sekencang dan sederas ini.
“Apa Ibu dan Ayah sedang melakukan bisnis?”benak Amelya. Ia mengingat jadwal diperusahaan, tapi tak ada kunjungan masalah bisnis ini.
Rumah saat ini hanya Amelya yang ada. pelayan telah tidur dihalaman belakang. Jadi tak ada disini. Amelya melesat ingin kembali kekamar. Tapi tiba-tiba mimpi yang terlupakan kembali teringat.
“Sial...tak mungkin itu terjadi...lagian keluargaku baik-baik saja”Amelya melanjutkan langkahnya tapi terhenti dengan pesan yang tiba-tiba masuk diponselnya.
Ting
__ADS_1
‘Nak Kematian akan memberi kehidupan bagi mereka yang menginginkan...anakku hiduplah dan bahagialah’ pesan yang terkirim dari ibunya. Apa yang terjadi?.
Amelya melangkah langsung mengecek dari mana pesan itu berasal. Ia harus secepatnya menemukan ibunya. Tidak orang tuanya.
“Ibu..Ayah tunggu aku”Gumannya. Keluar mobil kesayanganya yang diberikan oleh orang tuanya. Amelya melesat saat penjaga gerbang membukakan gerbang halaman rumahnya.
Amelya melajukan mobil sampai diposisi yang didapat olehnya. Ia memelankan kendaraannya. Untuk memindai jejak yang tertinggal. Hingga terlihat mobil yang terguling keluar jalurnya.
Amelya membelakkan matanya, ia melangkah keluar dan ingin mendekat kearah mobil itu tapi matanya kaget melihat apa yang dilihat olehnya.
Seorang Wanita menatap dengan tatapan yang sama, yang terakhir kali diberikan oleh orang tersebut kepadanya. Dengan pistol yang ada ditangannya.
Hujan yang deras mengalir diwajah Amelya. Ia melihat orang tuanya telah tergeletak ditanah dengan terlungkup. Ia melangkah mendekat untuk memastikan bahwa itu benar orang tuanya.
Saat tiba disana, ia kaget melihat apa yang didapati. Ini benar orang tuanya. Dan nafas yang terbilang lemah.
“Ibu..Ayah...bertahanlah aku akan membawa kalian kerumah sakit”ucap Amelya sambil melihat ponselnya. Ia gemetar tak bisa bergerak dengan tenang.
“Am...Amelya!!”Kaget Indah. Ia baru saja pulang dari tempat berkerja untuk mengundurkan diri. Memilih jalan ini karena lebih gampang dan aman dari pada jalan padat. Tapi kaget melihat apa yang terjadi. Ditambah yang menjadi perhatiannya orang yang berdiri didepannya.
“Indah..bantu aku..angkat ibu dan Ayahku, mereka masih bisa bertahan...Indah bantu aku..hiks..hiks..Ibu Ayah bertahanlah”Amelya mengangkat salah satu orang tuanya untuk mengangkat tubuhnya.
Wanita yang berdiri itu langsung mendekat dan ingin membantu, Tapi Indah langsung menatap tajam dan
Plak....
“EVITA!!!”raut wajah marah Indah benar-benar terlihat. Selama ini ia tak semarah ini. Dan baru kali ini marahnya terlihat.
Ia tak habis pikir, Evita membunuh orang tua sahabatnya sendiri. ditubuh Evita juga terlihat darah. Sudah dipastikan Evita yang membunuhnya.
“APA YANG KAU LAKUKAN, KAU MEMBUNUH ORANG TUA SAHABATMU SENDIRI, EVITA!, KAU BENAR-BENAR TAK TAHU DIRI”
Evita mengeleng, ia menatap pistol ditanganya. “Tidak Indah..Amelya..kalian salah paham, ini tak seperti yang kalian pikirkan.
“Apa yang harus disalahpahami, dengan mata kepala kami sendiri, aku melihat kau memegang pistol itu, sudah dipastikan kau membunuhnya bukan?”Indah tak bisa lagi menatap Sahabatnya ini. Amelya tak bisa lagi berpikir. Orang tuanya benar-benar meninggalkannya.
Amelya bangun dengan menatap Evita yang kebingungan. “Evita..apa kau memiliki dendam kepadaku, apa karena aku yang membongkar identitasmu...sehingga kau berniat membunuh orang tuaku”Amelya menatap Evita yang kini menatapnya dengan pandangan serba salah.
“Tidak Amelya..kau salah..tidak..aku salah”Evita ingin menangis, tapi air matanya tak keluar sama sekali. “Evita..kau memang pembunuh..sekalian bunuh aku sekarang”Amelya mengangkat tangan Evita yang memegang pistol, lalu menegadahkannya tepat dikepalanya.
Membuat Indah sontak kaget “Amelya apa yang kau lakukan?”tanya Indah yang ingin mendekat.
“Bunuh aku Evita.....Bunuh Aku...kau ingin balas dendam bukan?”Amelya menatap Tajam kearah Evita dengan pandangan yang penuh tekad. Indah menarik Amelya.
“Amelya....!!!”Evita menjatuhkan tangannya.
Pandangannya menjadi kelam. Sedangkan Amelya meringkuh menangis dengan keras bersama Indah yang memeluknya.
“Ibu...Ayah...ini salah ku....Huaaaaaaaa”Indah menenangkan Amelya.
Sedangkan Evita terdiam seribu bahasa. Ia tak bisa berpikir jernih sekarang. Tapi tujuannya yang lebih penting. Namun langkahnya terhentikan tak bisa meninggalkan kedua Sahabatnya.
“Pergilah!!!...menjauh dari kami..dasar pembunuh”Indah melontarkan perkataan tajam yang membuatnya hampir mati jika peluru tak mengenai kepalanya.
Evita menembak dirinya. Indah langsung berdiri dan menghajar Evita tanpa ampun.
Buk...bak..buk...bak....buk
“kau anak yang dimanja”
“kau yang selalu memandang rendah kami”
“kau tak memikirkan perasaan kami”
“kau bahkan rela dua kali hampir membunuh sahabatmu sendiri..menjauh dari kami..menjauh”
Wajah Evita telah terkena setiap pukulan Indah. Tapi Evita tak membalasnya. Ia hanya terdiam dan berdiri ditempatnya. Indah kembali menuntun Amelya untuk pergi, orang-orang Amelya telah datang. Dan mereka pergi tanpa berbicara dengan Evita yang diam mematung.
“Amelya tenanglah”ucap Indah yang menenangkan Amelya. Amelya menangis dengan tersedu-sedu.
Mereka tak habis pikir, apa yang terjadi, kenapa Evita ingin membunuh orang tua Amelya. Sekarang Amelya telah seorang diri tanpa orang tua. Keduanya terlelap dalam pikiran masing-masing.
__ADS_1
Kematian orang tua Amelya, membuat Amelya merasa bahwa mimpinya ternyata benar. Ia tak mengira mimpi itu akan terwujud dengan cara seperti ini.
Malam ini menjadi saksi, dengan hujan yang deras dan petir yang menyambar. Amelya menetepkan dihatinya kesedihan yang mendalam.