
Sebuah tangan menyambut dengan begitu lembut. Menyentuh pingang yang dimana perut buncitnya diusap dengan perlahan.
“Hati-hati sayang!”bisik seseorang yang membuat Evita menatap kearahnya.
Bulu mata yang begitu lentik dengan hidung mancung yang mengenai pipi Evita. hembusan nafas yang pelan itu sangat dekat dengan wajahnya. Mata yang selalu menatap kearahnya akan menjadi hal candu untuk Evita.
Rindu, ia begitu rindu. Baru kali ini Evita tidak bisa menahan diri untuk tidak memeluk Za. Ia langsung memeluk Za dengan begitu erat.
“Sayang, Anak kita..sayang”tegur Za yang terkejut mendapati pelukkan dari Evita.
“Kau, kau benar-benar ya.....jangan lakukan hal seperti itu Za, aku tidak menyukainya”ucap Evita. ia melupakan dimana ia berada. Menulikan pendengarannya yang mana suara peluru banyak terdengar oleh mereka.
Intari dan Amelya mengeleng melihatnya, mereka kembali fokus untuk menyerang. Melihat orang-orang Evita sudah begitu sekarat, terlihat orang-orang asing yang datang mengepung semua orang yang ada.
Intari dan Amelya menatap bingung dengan yang terjadi. “Ada apa ini?”tanya Intari dengan wajah keheranan.
Amelya mengeleng, “Aku juga tidak tahu apa yang terjadi”
Sebastian dan Raja yang sibuk melumpuhkan musuh harus terhentikan karena melihat banyaknya orang-orang yang datang.
Clang!!
Sebuah pistol terarah tempat dikepala Evita. semua menoleh kearah sumber suara.
Wajah Za menjadi datar melihat Mavin Vintorian menodongkan pistol tepat dikepala Istrinya.
Dituntun kepala Evita untuk bersandar dengan baik di leher Za. Sesudah melakukannya, Za mengeluarkan pistol lain yang ada dibaju Istrinya.
“Bagaimana dirimu bisa masuk kedalam medan perang ini?”tanya Mavin Vintorian. Wajah Mavin Vintorian tampak penuh dengan rasa penasaran.
Za melirik kearah Evita yang ternyata menatap dirinya dengan mata yang tenang, Za melihat lagi bahwa Evita kembali berbaring di lehernya dengan menghirup aroma tubuhnya.
“Apakah aku harus mendapatkan izin darimu untuk menemui Istriku, Tuan Mavin Vintorian?”ucap Za menjawab pertanyaan dari Mavin Vintorian. Za mengenggam erat pinggul Evita.
“Hah?....Tuan Muda Pertama Zhan, seharusnya dirimu itu tidak ikut campur dengan urusan yang ada disini, ini urusanku dengan Istrimu itu”Mavin Vintorian tidak menurunkan tangannya, ia tetap menodongkan senjata tepat dikepala Evita.
Za menuntun pistolnya menuju kekepala Mavin Vintorian. “Urusan Istriku sama saja dengan urusanku...dan dirimu itu tidak pantas berbicara kepada istriku”ucap Za dengan wajah seriusnya.
Intari dan Amelya menatap orang-orang yang melumpuhkan orang-orangnya Mavin Vintorian. Terlihat dua orang asing mengenakan jas hitam. Bersamaan dengan Maya Anita Zahra dengan Seketaris Lee.
“Kalian tidak perlu lagi memegang senjata, semua akan dihabisi oleh orang-orang yang kami bawa”ucap Maya menatap Intari dan Amelya.
Intari dan Amelya mengangguk, mereka menatap Evita dan Za yang menghadapi Mavin Vintorian.
“Mavin Vintorian, sepertinya kita harus menghabisi keduanya. Ada kemungkinan dua orang inilah yang menjadi Mafia diantara para mafia”ucap salah satu dari empat orang yang menatap kearah Zhan Za Chen.
Evita yang berbaring santai di lekukkan leher diam mendengarkan pembicaraan dari orang yang akan dibunuh olehnya.
“Baiklah, bagaimana dengan yang lainnya?”tanya Mavin Vintorian dengan menoleh kearah orang-orang miliknya yang sudah dilumpuhkan.
Dengan senyum singkat, Mavin Vintorian menatap kearah Zhan Za Chen. “Kalian datang dengan persiapan yang begitu besar, mari akhiri ini”ucap Mavin Vintorian.
Peluru melesat mengarah kekepala Zhan Za Chen, namun dengan cepat Za menarik diri bersama Evita untuk menepis tembakkan yang ada. jarak yang begitu dekat mampu dielakkan oleh Za.
Za juga tidak melepaskan kesempatannya, ia dengan cepat membidik dan menembakkan pelurunya.
Perubahan dadakkan itu berhasil memecahkan ketenangan Intari dan Amelya , mereka menatap kearah empat orang yang juga sedang membidik tepat kearah Za dan Evita.
Intari dan Amelya bergegas untuk membidik, namun mata mereka melihat kearah dua orang berjas hitam yang terlebih dahulu melesat dengan menembakkan timah mereka.
Zhan Za Chen, mulai kembali menembak, ia memeluk Evita dengan hati-hati. Mavin Vintorian pun tidak tangung-tangung melesatkan pelurunya berkali-kali untuk mengenai orang yang asik berpelukkan.
Evita dalam diam memikirkan tentang ucapan Ayah mertuanya saat itu.
“Menantu, ada yang ingin ku sampaikan kepadamu...”
Evita menatap kearah Mertuanya yang kini menatap dengan begitu tenang. “Tentu Ayah mertua, katakanlah”ucap Evita.
__ADS_1
Ayah Suaminya itu pun tersenyum, “Pertama-tama, aku ingin mengatakan terimakasih kepadamu terlebih dahulu, karena dirimu sudah menerima putraku dengan kebahagiaan dan cinta mu”
Evita mengangguk dengan wajah malunya. Ayah Mertuanya itu pun melanjutkan, “Sebenarnya ada yang membuatku khawatir kepada Putraku”
“Putraku tidak bertemu denganku, lebih tepatnya ia tidak merasakan pendidikkan dari orang tuanya. Jadi aku takut ia akan kenapa-napa..tetapi diriku sempat berpesan kepada Ayah ku bahwa Putraku nanti dididik dengan lebih ketat agar tidak seperti diriku”
“Kenapa Ayah melakukan itu?”tanya Evita mendengar ucapan dari Ayah mertuanya.
Ayah mertuanya pun menjawab, “Itu karena diriku adalah pemimpin Mafia dari para mafia..”
Evita tidak terkejut mendengar jawaban itu, karena iya memang sudah sering mendengar tentang mafia ini. Namun rasa terkejutnya muncul saat Ayah mertua melanjutkan ucapannya.
“Dan dirimu lah yang menjadi penganti ku”
Evita menatap dengan penasaran kearah Ayah mertuanya. “Ayah, apa maksudmu..aku selama ini tahu bahwa Ayah angkatku seseorang yang mungkin bermain didunia bawah, tapi tidak penah terpikirkan olehku bahwa akulah penerus dirimu. Apa maksudnya itu?”tanya Evita.
“Didalam tubuhmu terdapat sebuah Sd Card yang tertanam disana. Mungkin kau tidak akan mengingatnya. Hanya aku bisa mengatakan bahwa itu adalah wasiat yang ku tuliskan kepada Ayah angkatmu..”
Evita diam mendengarkan, tidak ada niat untuk memotong pembicaraan orang yang ada didepannya.
“Siapa sangka, umurku tidaklah panjang. Aku harus pergi meninggalkan Anakku yang baru lahir kedunia. Baru saja 1 minggu ia lahir, ia harus kehilangan kami. Untungnya aku sempat memindahkan kekuasaanku dan wilayahku kepada Ayah Angkatmu. Kami melakukan perjanjian, dimana wilayah kepemimpinanku akan diambil alih oleh Ayah angkatmu dan akan turun kepada pewarisnya. Dirimu lah pewarisnya”
Evita menundukkan kepalanya. Ia tidak menatap kearah Ayah mertua yang memandang kepadanya.
“Namun saat kepemimpinanmu di resmikan, saat itu juga Putraku akan menjadi penganti kepemimpinanmu, atau lebih tepatnya status Mafia yang ada kepadamu akan kembali kepada putraku..untuk lebih jelasnya, lihatlah sd card yang ditanamkan kepada tubuhmu Evita...”
Evita menatap kepergian dari sosok Ayah Metuanya. Ia diam memikirkan tentang apa yang dijelaskan oleh Ayah mertuanya.
“Selama ini Aku memang sudah ditakdirkan bersama Za saat Ayah angkat mengangkatku menjadi putrinya. Apakah kami jodoh?”benak Evita yang kini melepaskan pelukkannya.
Adu senjata berhenti melihat Evita yang menarik pistol cadangannya lalu membidik tepat kearah jantung Mavin Vintorian.
Kelengahan Vintorian menjadi peluang untuk Evita dalam membidikkan senjata tepat pada sasarannya.
Karena tembakkan itulah, seluruh orang yang tersisa berhenti mengadukan senjata mereka.mata mereka menatap kearah seorang pria yang memegang dadanya.
Evita menghadap kearah Mavin Vintorian yang sudah mulai merasakan sebuah ajal menjemput dirinya.
“Aku belajar darimu Tuan Mavin Vintorian. Bagaimana caramu mencari diriku karena keberadaanku yang sangat tersembunyi. Lalu begitulah caraku mencari kelemahanmu”jawab Evita dengan nada yang tenang.
Pistol yang digunakannya kini terarah tepat dikening Mavin Vintorian. Dalam sekali tarikkan ia yakin saat itu juga Mavin Vintorian akan meninggal dunia.
“TUNGGU!!!”
Teriakkan seseorang berhasil menarik perhatian yang lain. Evita menatap kearah Pria dengan seorang putra bersama sang wanita yang menatap kearahnya juga.
Tiga orang itu bergegas mendekat dengan wajah yang sangat panik. Seakan-akan mereka telah terlambat untuk menyelamatkan seseorang.
Mereka tidak lain adalah Mavin Vintorin, putra dari Mavin Vintorian. Digendongan Mavin Vintorin adalah putranya, Vino lalu wanita disampingnya yang tak lain adalah Liyana.
“Evita, Maafkan aku..aku bukan menghalangimu..hanya aku ingin mengenalkan Istri dan Anakku sebelum kepergian Ayahku”ucap Mavin Vintorin menatap kearah Evita.
Evita tidak menghiraukan apa yang dikatakan oleh Vintorin. Ia memilih untuk memeluk Za dan mengendongkan dirinya kepada Za dengan gaya Koala.
Za mendapati sikap manja Evita menghela nafas, ia memberikan posisi terbaik agar Anaknya tidak apa-apa.
“Lakukan sesukamu Tuan Mavin Vintorin. Hanya harapanku satu, apa yang dijanjikan Istriku. Kau bisa memenuhinya”ucap Za menatap Vintorin.
Mavin Vintorin mengangguk, ia pun menatap kearah Ayahnya yang kini duduk dengan darah mengalir begitu deras.
“Uhuk!, Kau datang Putraku..apakah mereka inilah yang akan kau kenalkan kepadaku?”tanya Mavin Vintorian dengan nada yang begitu sulit.
“Benar Ayah, ini adalah Calon Istriku, dan ia adalah Ibu dari Anakku, namanya Liyana”ucap Mavin Vintorin mengenalkan Liyana yang ada disampingnya.
Lalu Mavin Vintorin menurunkan Vino yang terlelap dalam tidurnya, karena perjalanan jauh yang mereka tempuh, dan lagi ini memang sudah menunjukan jam 3 dini. Wajar jika Vino lebih dulu tertidur.
“Ini adalah Putraku Ayah, namanya Vino-Li”Lanjut Mavin Vintorin.
__ADS_1
Mavin Vintorian mengangguk, ia mengusap wajah Mavin Vintorin. Putra satu-satunya yang masih hidup dan lagi putra hasil dari ketidak sengajaan, yang akhirnya menjadi kesayangan Mavin Vintorian.
“Anakku, Uhuk!, bahagialah selalu. Dan Ayah tahu bahwa Ayah tidak akan pernah bisa dimaafkan olehmu. Jadi Ayah hanya bisa mengatakan bahagialah wahai putraku, Aku bahagia melihatmu bahagia bersamanya, dan jangan ikuti jejak...A..Yah..Mu!”
Bruk!
Mavin Vintorian terjatuh dengan nafas terakhir yang berhembus, bersamaan dengan Empat orang yang menjadi kaki tangannya. Semua menatap kearah sisa-sisa orang-orangnya Mavin Vintorian, yang akhirnya menjadi orang-orang Zhan Za Chen.
“Selamat untukmu Tuan Mavin Vintorin”ucap Intari dan Amelya menatap dengan pandangan penuh keterkejutan.
Mereka tidak menduga ternyata Liyana luluh dengan pesona dari Mavin Vintorin, namun dipikir lagi hanya Evita yang masih bertahan dengan godaan Mavin Vintorin.
“Terimakasih, datanglah kepernikahanku bersama Liyana”Mavin Vintorin memberikan undangan dengan lisannya. Semua mengangguk.
“Hm, Aku ingin menyampaikan selamat datang Queen Kim Hyun Jae”
Ucapan Mavin Vintorin berhasil membuat semua mata menatap kearah Evita yang masih digendong ala koala. Mereka merasa sudah saatnya tahu apa yang sebenarnya terjadi.
“Hm, terimakasih atas ucapan selamatmu. Dan maafkan diriku yang harus membunuh Ayahmu. Kuburkanlah dirinya bersama orang-orangnya. Semoga ia berada di tempat yang penuh akan kebahagiaan”ucap Evita dibalik gendongan Za.
Semua diam mendengarkan ucapannya, serta Mavin Vintorin yang mengangguk.
Setelah semua perang yang berakhir dengan lautan darah, mereka memutuskan untuk kembali.
Didalam mobil Evita, Evita masih betah duduk dipangkuan Za tanpa memperdulikan tatapan dari Sahabatnya.
“Evita, apakah dirimu harus melakukan hal seperti ini?”tanya Intari yang mulai muak melihat kemesraan didepannya.
“Kalian juga akan melakukan hal yang sama sepertiku ketika kalian berpisah dari suami kalian sendiri”Evita berbicara dengan memainkan kemeja baju suaminya.
Tidak ada lagi yang bisa melawan apa yang dikatakan oleh Evita. mereka hanya bisa mengeleng lalu mendiamkan ucapannya.
“Akan kemana kita Nyonya?”tanya Sebastian yang kini merasa lega, lega perang berakhir. Dan lega melihat Nyonya kembali bahagia. ia masih marah kepada Tuannya itu, hanya amarahnya diganti dengan rasa bahagia melihat Nyonya-nya bahagia.
“Kembali kemansion Gagak”jawab Evita yang kemudian memilih untuk tertidur.
-
Tiba dimasion Gagak.
Semua bergegas untuk memasuki masion yang benar-benar penuh akan kesuraman. Untungnya Intari dan Amelya sedikit memberikan suasana kebahagiaan disana. Hingga mereka tidak merasakan kesepian didalam mansion.
Semua tidak kembali tidur, mereka duduk diruang tamu untuk membahas apa yang sebenarnya terjadi. Semua itu diperintahkan oleh Evita. karena sekarang ia harus mendapatkan jawaban yang sudah sangat membuatnya penasaran.
“Baiklah, Pertama...Siapa anda?”tanya Evita menatap kearah tiga pria asing yang tidak dikenali olehnya.
Diruang tamu ini, terdapat Za dan Evita, Intari dan Yoongi, Amelya dan Echan, lalu Maya dan seketaris Lee. Dan Sebastian bersama Raja. Hanya ada tiga pria asing yang dua diantaranya dikenali oleh Za, sedangkan orang asing yang lain tidak dikenali oleh siapapun.
“Perkenalkan namaku Brillen, aku adalah anak buah dari Tuan Zhan Omorfos, dan orang kepercayaannya. Tuan Omorfos adalah Ayah dari Tuan Muda Zhan Za Chen”ucap Pria berkaca mata. Semua mengangguk menyambut sapaannya.
“Perkenalkan namaku Willi, sama halnya dengan Brillen, diriku adalah Anak buah yang berada dibawah Brillen, dan Aku juga merupakan orang kepercayaan dari Tuan Zhan Omorfos, Ayah dari Tuan Muda Zhan Za Chen” ucap Pria disamping Brillen. Ia mengenakan setelan jas yang tampak rapi.
Mereka mengangguk dan menatap kearah yang lainnya. Dimana seorang pria yang mengenakan pakaian santai bersamaan dengan koper kecil ditangannya.
“Perkenalkan, Aku adalah orang kepercayaan Tuan Besar Kim, kalian bisa memanggilku dengan panggilan yang bisa diucapkan oleh Tuan Kim, Panggil aku si ‘A’...”
Semua mengerutkan alisnya, Evita mengangguk lalu berbicara, “Hm, Paman A..apa yang ingin anda lakukan disini, ah tidak. Aku ingin bertanya apakah dirimu yang ada dibalik uang transfer didalam rekeningku?”tanya Evita dengan tepat sasaran.
Karena orang yang ada didepannya langsung mengangguk, “Benar Nona Muda, akulah yang mentransfer beberapa tabungan dari Tuan Besar Kim. Ini merupakan tugasku karena akulah yang menjadi penjagamu”
Semua diam menatap kearah Pria yang dipanggil A itu. Intari dan Amelya menatap tak percaya. Ternyata memang benar ada orang yang melindungi Evita.
“Apa kedatanganmu kesini?”tanya Evita dengan rasa berdegup-degup. Hatinya merasakan bahwa ada sesuatu yang akan diketahui oleh dirinya.
“Untuk mengatakan semua yang disampaikan oleh Tuan Besar Kim. Dengan ini anda akan mengetahui apa yang selama ini membuat Anda menjadi seperti ini Nona Muda”
Ucapan itu berhasil membuat Evita gemetar, tangan gemetar itu pun digenggam oleh Za yang berada disampingnya.
__ADS_1
“Tenanglah...”ucap Za menatap Evita yang sudah tampak tidak tenang.