
“Nyonya kita akan kembali ke kediaman utama?”tanya Sebastian sambil fokus menyetir.
Evita masih dengan senyum ramahnya, dan menikmati pandangannya dijalanan yang begitu ramai. “sepertinya tidak perlu kesana Sebastian....biar Inul dan Nabila yang mengurus kediaman utama..kita pergi kediamanku..kediaman yang ku suruh kau urus empat tahun yang lalu”ucapnya. Membuat Sebastian hanya mengangguk. Jujur perubahan dadakkan ini, tidak mungkin ini perubahan yang tepat, tapi sebagai bawahan Sebastian tak pernah bisa memahami hal ini. Walau sudah lama mengenal wanita yang duduk dibelakang ini. Ia masih tak bisa mengerti bahkan dengan perubahan ini.
Sebastian seketika itu juga merindukan tatapan datar milik Evita. Suara datar dan ucapan singkat milik Evita. Boss ini benar-benar telah mengubah diri selama empat tahun tinggal di Amerika.
Dalam perjalanan mereka yang memakan waktu 6 jam. Tak membuat Evita letih tersenyum. Sebastian bahkan berharap topeng yang dikenakan oleh Evita bisa terlepas. Bisa lelah dan meninggalkan wajah dulu yang benar-benar dingin. Tapi kini sepertinya sulit. Sepertinya bossnya ini telah menetapkan sesuatu dengan matang.
-
Ditaman kota Q
Kebahagiaan mengelegar, menunjukkan aura kekeluargaan yang tengah berkumpul bersama.
Berita tentang tentang kehamilan Inul yang telah menikah dua tahun yang lalu. Dengan berita itu membuat seluruh keluarga besar merayakan kebahagiaan tak terkira ini.
Bahkan keluarga besar Zhan mengadakan acara yang membuat jalan sedikit padat. Benar saat ini kediaman yang ditinggali oleh Inul dan Suaminya yaitu Tuan Putra, cucu kedua dari keluarga besar Zhan. Yang berada dikota Q.
-
Karena jalanan yang padat membuat Sebastian sedikit menghembuskan nafas kasar. Ia melirik kearah jalan yang ditutup. Dan menyadari akan satu hal.
Matanya seketika terbelak kala menyadari bahwa orang dibelakang yang seharusnya masih tenang duduk, kini Malah keluar dari mobil dengan pergi kearah yang menjadi pusat perhatian.
Sebastian langsung memparkirkan mobil ketepi jalan. Ia berjalan menyusul Evita yang telah memasuki ruangan. “Nyonya!!”teriaknya.
Evita sebenarnya sudah tahu, segalanya. Benar dari empat tahun ini, Inul dan Nabila sering memberinya informasi. Bahkan sekarang Inul juga memintanya untuk hadir. Sebagai keponakkannya. Walau Inul tahu bahwa Evita bukan lagi bagian keluarganya.
Tapi Evita membalas pesan itu dan mengatakan bahwa ia akan datang tapi tidak sebagai Alex Evita. Evita datang hanya karena memenuhi keinginan Inul saja.
Yang hadir disana tentu saja Nabila, Intari dan Amelya juga ada disana. Dan juga dihadari oleh Zhan Za Chen. Sedangkan Echan dan Yoongi tak menghadarinya, karena ada urusan dikota tempat tinggal lebih penting dari pada acara. Sebenarnya itu adalah alasan semata.
Za juga tak ingin mengunjungi hal ini, tapi karena mengingat bahwa tunangannya juga ikut mengunjungi ini karena paksaan Bibi Kedua.benar Zhan Za Chen kini tengah menjalin pertunangan seorang model bernama Navi N. Anak dari keluarga Nurganto.
Semua menjadi pemandangan yang memilukan. Tentu saja, dan Sebastian tahu itu. Ia tahu siapa saja yang akan datang. Siapa saja yang akan bertemu dengan Nyonyanya ini. Seharusnya ia jauhkan Nyonya dari acara ini. Karena mengingat bahwa ada keluarga Zhan yang masih ada disini.
Evita melangkah memasuki taman yang dijadikan tempat acara besar itu. Wajah penuh senyuman itu menarik perhatian semua orang. Bahkan sampai Evita berhenti melangkah didepan Inul dan Putra yang memandang kaget kearahnya.
Bulu mata lentik. Rambut pendek yang dipotong sampai lehernya. Bibir merah tanpa tambahan dan tatapan lembut layaknya gadis ceria umumnya.
Membuat Inul tak percaya akan hal ini. Evita, Evita yang berwajah dingin, rambut panjang. Tak tersenyum, bahkan sering murung kini berdiri didepannya dengan tampilan berbeda.
Empat tahun adalah masa perubahan yang berhasil membuat semua orang terdiam memandangnya.
Amelya dan Intari terdiam berdiri melihat hal ini. Kakinya tak melangkah sekali pun. Empat tahun mereka menanti. Menunggu orang yang seharusnya tetap dingin kini telah berubah. Kesal, marah dan kecewa tertanam dihatinya. Membuat Intari dan Amelya hanya terdiam ditempat.
Suasana itu berubah yang jadi bahagia kini suram. Benar suram, kedua kelurga besar itu langsung menatap tajam kearah Evita. Tapi Evita dengan senyum manisnya memeluk Inul. Membuat Bibi Kedua langsung bergegas menariknya. Dan menampar wajahnya.
Plakkkk
“beraninya Jal*ng sepertimu datang kesini.....”ucap Bibi Kedua tentu saja ia adalah anak dari tuan kedua Zhan.
Evita yang tertampar hanya terdiam sesaat. Dan kemudian ia tersenyum. “aku datang kesini bukan mengunjungi kalian, tapi mengunjungi Inul, apa salahnya?”tanya Evita. Membuat semua orang geram melihatnya.
“KAU!!”
Evita hanya menatap tenang kearah keluarga Alex yang berapi-api. Ia melihat Sebastian mematung melihat dirinya tertampar. Ia yakin Sebastian saat ini pasti tengah ingin melakukan sesuatu. Namun belum sempat ia ingin berbicara.
Evita lagi-lagi ditampar oleh keluarganya sendiri. dengan keras sampai Sebastian mengeram dan menarik tangan gadis itu.
Evita menahan tangan sebastian. Ia mengeleng sambil tersenyum, ia berbicara “aku tak berhubungan dengan kalian, tapi apa hak kalian jika seorang atasan mengunjungi acara bawahannya”
Evita mengucapkanya seakan-akan mengklam bahwa ia adalah penguasa. Memang benar adanya tapi tak ada yang tahu. Bahkan keluarga besar Alex dan Zhan pun tak tahu. Yang mereka tahu Evita masih belajar menjadi pemimpin diperusahaan yang diserahkan kepadanya.
“Sampah!!...Inul kau bilang bawahan.....hei gadis ******, dari mana kepercayaan dirimu itu berasal hah?..berani-beraninya kau mengatakan Inul seperti itu....kau ingin mati”
“Bunuhlah”kali ini yang berbicara adalah Derka sang model dan aktor yang diundang datang. Tentu saja dia diundang karena Derka juga dianggap adik oleh Inul, Amelya dan Intari. Jadi wajar ia datang.
Derka mendekati Evita, lalu memeluknya lembut seperti seorang adik yang kangen dengan Kakaknya.
“Kak..baru saja kita bertemu, dan kau Malah disakiti disini..kakak lebih baik kakak pulang saja”ucap Derka. Evita yang melihatnya seperti bayi lucu. Huh pengen ketawa dirinya.
Evita pun memandang Inul, tak menghiraukan tatapan semua orang. “aku memenuhi janjiku, sekarang aku permisi, maaf menganggu acara besarmu”ucap Evita yang langsung pergi bersama Sebastian dan 10 bodyguard milik Vintorin yang emang disiapkan untuknya.
Mereka akhirnya tersadar bahwa Evita tak sendiri kesini. Ada orang lain yang menemaninya. Dan itu tak luput dari pandangan Zhan Za Chen yang menatap sendu pungung Evita yang perlahan menghilang.
Acara itu pun penuh dengan bisik dan ricuhnya orang. Bahkan media yang berada disana dibuat bingung. Siapa Evita ini, apa ia adalah orang asing. Orang yang terkenal , tak ada yang mengetahuinya.
__ADS_1
“Dasar jal*ng ini..benar-benar”umpat bibi Kedua.
Gadis yang kini berdiri mendekati bibi Kedua dan menenangkannya. “bibi siapa dia?”tanya Navi. Membuat Bibi Kedua menatap tajam kearahnya.
“ia adalah tunangan pertama Za..Navi wanita itu licik, bahkan ia sekarang menjadi makin menjijikkan”jawab Bibi Kedua .
Navi yang mendengarnnya mengeram. Jujur saja ia tak terima jika ia adalah orang kedua yang mengenal Zhan Za Chen. Pria terkaya dan seorang yang sulit didekati. Matanya menatap kearah kepergian Evita. Membuatnya mengeram “sepertinya aku ketemu mainan yang menarik”benaknya.
Derka yang Malas basa basi. Hanya kembali duduk, sedangkan Intari dan Amelya sudah pergi mengikuti mobil milik Evita yang menuju kediaman Evita yang tak lain Si Gagak.
-
Intari melajukan mobilnya bersama Amelya yang menjadi penumpang.
“kapan ia datang?”tanya Intari.
“aku tak tahu Indah..kau tahu sendiri, kita tak tahu jadwal dirinya”
“wanita ini...apa yang dia inginkan sebenarnya”
“benar...apa yang disimpan olehnya”
“aku benci topeng itu”umpat Intari sambil mengeram kasar.
Amelya memandang jalanan dengan pandangan tajam. “aku juga...kenapa ia kembali dengan topeng itu lagi.....”
Mereka terus melaju sampai akhirnya tiba, benar tiba dihalaman luasnya dua kali lipat dari lapangan sepak bola.
Dan butuh 10 menit untuk tiba di mansion yang seperti istana itu. Dijalan yang dibuat khusus untuk jalan lewat mobil. Menampakkan sebuah lampu jalan yang begitu indahnya.
Selain itu, ada tempat bermain, benar tempat permainan yang sangat dimainkan oleh anak-anak yaitu taman lika liku.
Setelah disana ada dibelakang mansion besar itu terdapat luas yang lebih besar lagi, yang ditanami dengan buah-buahan. Setelahnya ada kolam kecil dan ada tempat bersantai layaknya keluarga.
Mansion ini adalah mansion yang ditingalkan oleh pemimpin pertama Detektif yang dulu. Yang membuat mereka menjadi seorang detektif. Meski luas. Mansion ini jarang didatangi oleh Evita. Bukan apa, Evita akan datang jika dirinya merindukan hal-hal yang bisa membuatnya tenang. Disebut kediaman gagak karena disini burung yang nyaman tinggal hanya buruk gagak. Kalau burung lain yang berdiam disini yang ada mereka langsung mati. Entah kenapa. Jadi saat itulah Evita memberikannya nama kediamaan si Gagak.
Setelah 10 menit, akhirnya mobil itu berhenti begitu juga mobil Intari dan Amelya. Mereka bergegas keluar untuk menyusul Evita yang mulai masuk kedalam Mansionnya.
“Evita!!!”teriak Intari. Ia tak perduli dengan pandangan tak suka dari para pelayan yang memakai maid berwarna hitam. Benar-benar seperti kuburan.
“kenapa?”tanya Evita yang kini tengah menghampiri ruang makan.
“topang?”tanya Evita balik.
“kau!...EVITA!”kali ini Intari yang membentak. Membuat para pekerja langsung bergegas melindungi Nyonya mereka.
“Kalian melindunginya..kalian lupa kalau aku juga nyonya kalian disini”ucap Intari sinis. Membuat para pelayan jadi menjauh, benar yang tinggal disini ada 3 orang. Dan Evita adalah orang yang memegang kendali penuh, tapi diwasiat yang tertulis Intari dan Amelya juga adalah pemilik rumah ini, walau sebenarnya mereka tak tinggal disini.
“Sejak kapan kalian jadi nyonya disini?”tanya Evita balik masih dengan nada senyumnya.
Mata Intari dan Amelya menatap tak percaya. Ini kah perubahan Evita. “Evita..topeng apa yang kau pakai?”tanya Amelya ada nada sedih disana.
Amelya tentu saja sedih, kalian sadar empat tahun tak lah mudah, mereka harus menghadapi segalanya. Belum lagi sekarang ada hati yang merasa sakit. Benar setelah pertemuan waktu itu, mereka sering bertemu dengan Echan dan Yoongi secara kebetulan. Dan itu selalu berhasil membuat mereka serba salah. Dan sekarang Evita. Apa lagi yang terjadi dengan sahabatnya ini.
“Topeng?”tanya Evita balik.
Intari dan Amelya benar-benar sudah tak tahan. Dengan dadakkan Intari menampar Evita. Dan ini sudah ketiga kalinya Evita tertampar dihari pertama setelah empat tahun pergi.
Setelah menampar, Intari menarik baju Evita untuk mendekat kearahnya “Kau tahu...kami selalu menanyakan keberadaan dan kabarmu...tapi kau kembali dengan menyakiti perasaan kami...kau benar-benar mengecewakan”ucapnya yang kemudian pergi menarik Amelya untuk mengikutinya.
Kepergian itu pun menjadi keheningan Evita. Ia masih tetap tenang. Bahkan masih tersenyum. Pipi kanan dan kirinya telah merah. Walau yang paling merah adalah pipi Kanannya.
Evita kembali merapikan baju dan kemudian ia pun pergi kekamarnya. Kamar khusus untuknya. Meninggalkan Pelayan yang ada dengan wajah kebingungan. Wajah yang sulit diartikan.
“apa Nyonya kita adalah Nyonya yang dulu?”itulah yang terbenak dipikiran para pelayan.
-
Empat tahun yang lalu
Keadaan Evita memang tak setabil. Benar ia terus bergadang untuk mencari segala bukti yang ada. Tak ingin tertinggal apa pun itu, baik kecil maupun besar.
Bahkan ia harus meladeni Vintorin demi bisa mendapatkan beberapa bukti yang harus dibantu Vintorin. Ia bahkan rela menghilangkah trauma dalam hidupnya untuk menguak kasus kematian orang tuanya.
Evita kini menghadapi ayah Vintorin. Tentu saja tuan Mavin Vintorian. Salah satu mafia yang berhati dingin dan membunuh tanpa berpikir dua kali.
Mereka berdua saling berhadapan. Ada seringai kecil dibibir tuan besar itu. Membuat wajah datar Evita menatap jijik kepadanya.
__ADS_1
“kau telah kembali baby”
“ayah itu adalah panggilanku..ingat dia kekasih anakmu”ucap Vintorin yang kemudian merangkul Evita dengan posesif. Ah rasanya Evita ingin membunuh mereka langsung ditempat.
“kau ini...dia juga menjadi babyku, karena kau juga babyku”ucap Ayah Vintorin.
“alasan”
“seterahmu....Evita...apa kabarmu?”tanya Tuan Mavin.
Evita masih dengan tenang berbicara “anda melihat saya Tuan...berarti anda tahu keadaan saya..ah tidak kabar saya”ucapnya dengan datar. Ia sebenarnya takut tapi tetap saja mulutnya ini dan tindakkan yang kasarnya tak pernah hilang. Jadi ya sudahlah, ketakutannya disampingkan dulu.
“hahahahha.....inilah yang ku suka...kata-kata menusuk darimu...Evita, ku rasa aku menyukaimu”ucapnya yang membuat ayah satu anak itu langsung mendapat tinjuan dari anaknya.
“berhenti mengoda Calon Istriku...atau ayah akan habis ditanganku”Ancam Vintorin.
Evita hanya memutar bola mata dengan Malas. Pemandangan ini benar-benar membosankan.
“huh...anak ini..suka bukan berarti cinta...kau mencintainya dan aku menyukainya itu hal yang berbeda”ucap sang Ayah yang kembali menenangkan diri dengan merapikan jasnya.
“maksudnya?”tanya Vintorin tak mengerti.
“sudahlah...kau akan tahu sendiri...Nak Evita...apa yang ingin kau lakukan saat ini?”tanya Ayah Vintorin.
“Tuan..aku ingin meminta bantuanmu..bisakah?”
“tentu saja...”mereka kini mengabaikan Vintorin yang ada disana.
“aku ingin mengetahui penyebab kematian orang tuaku”ucap Evita.
“ooh kecelakaan itu?..apa yang bisa ku bantu?”
“aku ingin Tuan mengambil bagian cctv dan satu lagi, data orang-orang yang bereksperimen itu saja"
“mnnn....baiklah...beri Paman waktu 1 hari untuk itu”
“baik”
Pembicaraan itu berjalan lancar. Tapi tidak untuk Evita. Ia masih menyimpan motif lain. Ia meletakkan dikantor milik ayah Vintorin sebuah alat penyadap yang dibuatnya telah lama. Itu adalah alat yang digunakan oleh para detektif.
“baik Tuan mavin..saya permisi”ucap Evita yang langsung bergesa pergi tak ingin pulang bersama Vintorin yang akan berakhir dengan jalan-jalan.
-
Seperti janji yang telah disepakati.
Evita mendapat beberapa bukti kecil yang luar biasa. Dan hal yang tak terduga ia dapatkan secara beruntung.
Pemuda yang melakukan kabut buatan telah tertangkap dan kasusnya telah diselesaikan oleh Intari dan Amelya. Ah bangganya melihat sahabatnya yang luar biasa. Sekarang ia bisa terbantu.
Evita mengambil earphonenya. Dan menghubungi Sebastian. Sambil dirinya mengetik komputer untuk mengecek data-data yang didapatkan oleh ayah Vintorin.
“selamat Malam nyonya”
“selamat Malam sebastian”
“ada yang bisa saya bantu”
“aku ingin kau membebaskan seorang pemuda yang bernama Sintro yang baru saja kembali kepenjaranya”
“baik akan saya laksanakan”
“jaga ia sampai aku kembali”
“baik”
Panggilan itu berakhir dan kembali lah Evita menatap layar didepannya. Menampilkan beberapa penampakkan yang ada. Membuatnya tersenyum sinis.
“ah...sepertinya aku perlu bertemu dengan adikku”ucap Evita yang kemudian mengirim pesan singkat keseseorang.
-
1 tahun telah berlalu, benar Evita menjalani hidup dengan sedikit santai. Karena Vintorin selalu menemaninya lebih tepatnya menyusahkannya. Tapi tenang tanpa Vintorin sepertinya ia tak bisa melangkah cepat. Sekarang ia mendapat bukti tambahan. Dan sepertinya bukti-bukti yang ingin didapatnya perlu tantangan besar sampai satu tahun baru bisa didapatkan.
Benar bukti yang dicarinya adalah seorang penembak jitu. Jangan pandang seorang detektif tak bisa meneliti hal sekecil ini. Apa lagi sampai melewatkannya. Penembak jitu tentu terpakai, baik apa pun itu. Karena dengan kemampuan mereka bisa lebih mudah dilakukan. Dan itu terbukti.
Sayangnya orang yang menjadi penembak itu telah dikabarkan bunuh diri. Evita sempat geram saat mengunjungi keluarganya. Tapi ia tak habis akal. Ia masih menyelidiki kematian itu. Sampai berakhir dengan menemukan orang yang menjadi tangan kedua oleh tuan yang sebenarnya.
__ADS_1
“menarik”
-