
Indah melampiaskan amarahnya kepada benda yang ada ditangannya. Ini sudah waktu sore. Evita juga membolos. Amarahnya dan rasa kecewanya bergabung. Habis sekolah ini ia akan latihan ekstra untuk menghilangkan amarahnya.
Indah tidak bisa menentukan siapa yang salah. Pertama Amelya mengenakan topeng yang menyembunyikan jati dirinya. Sedangkan Evita mengambil pendapat dari sudut pandangannya. Jadi dua sahabatnya ini saling berada ditempat yang membuat Indah bingung.
Ia tidak ingin persahabatan menjadi terpecah hanya perkara yang mungkin tidak akan sulit diatasi, Cuma masalah utamanya Amelya tidak menceritakan apa masalahnya. Jadi sulit menentukannya.
Bell pulang berbunyi. Indah dengan cepat melangkah keluar. Mobil yang menjemputnya tiba. Tapi sayang ia harus meladeni Bk yang mencari keberadaan Evita.
“Indah..dimana Evita?”tanya guru Bk yang kini menatap Indah.
“Saya tidak tahu Bu...Evita tidak memberi kabar kesaya...ini buktinya”ucap Indah dengan ponsel yang menjadi bukti saat ini. Guru Bk mengangguk mendengar apa yang diucapkan Indah.
“Sepertinya Evita harus dikeluarkan dari sekolah ini”ucap Guru Bk sebelum melangkah pergi. Indah yang mendengarnya langsung berbicara. “Ibu..lebih baik menunggu walinya datang dulu deh..karena takutnya akan ada yang menjadi masalah besar”ucap Indah. Tapi guru BK memandang rendah. “Apa yang menjadi masalah, justru Temanmu itu yang menjadi masalahnya...sekolah ini bisa ditutup”ucap Guru itu yang melangkah pergi.
Indah yang mendengarnya mendengus “Ibu belum tahu aja walinya yang mana yang datang”gumannya. Ia melangkah masuk kedalam mobil.
“Pak...antar aku kerestorant tempat ku berkerja....”ucap Indah, saat ini lebih baik ia izin dulu. Yeah ia tidak bisa membayangkan sudah berapa banyak iya izin. Untungnya perusahaan detektif masih memberinya gaji.
“Baik Nyonya”ucap Sang Supir.
Mobil pun melesat membawa Indah menunju ketempat kerjanya. Menikmati pemandangan, Indah melihat orang yang dikenalinya. Siapa lagi kalau bukan Amelya.
“Kenapa dia ada ditoko butik pernikahan?”benak Indah. Meski melihatnya. Indah tidak memilih untuk menghentikan mobilnya.
“Aku akan mencari tahu tentang hal ini”benaknya lagi.
-
Amelya menatap kearah butik yang didatanginya ini. Ia tak mengira habis kejadian yang membuatnya gemetar. Ia malah harus dengan tenang menemani Tunangannya ini kebutik.
Apa lagi butik kali ini adalah gaun pernikahan. Sungguh membuatnya mengeluh.
“Kita akan mencari jas untukku”ucap Hun Kai. Ia telihat tidak memperdulikan kejadian tadi. Sedangkan Amelya harus mendapatkan trauma yang baru saja didapatnya.
Setelah berurusan dengan jas itu. mereka berdua memutuskan untuk kembali. Hun Kai mengantar Amelya kekediamannya.
“Terimakasih”ucap Amelya yang kemudian ingin melangkah pergi. Tapi tiba-tiba tubuhnya didekam oleh Hun Kai dari belakang.
“Maafkan aku, gara-gara aku kau mendapatkan hal yang membahayakan dirimu...maafkan aku”ucap Hun Kai yang membuat Amelya terteguh.ia menganguk tak membalas dekapan itu.
“Terimakasih”ucap Amelya yang kemudian merasa bebas karena Hun Kai melepaskan pelukkannya.
“Sama-sama..yasudah sampai nanti malam”ucap Hun Kai yang melambaikan tangannya. Amelya mengangguk, ia menutup pintu mobil.
Mobil melesat meninggalkan area kediamannya. Amelya menunjukkan wajah asli yang lelah dengan apa yang dilakukan. Tangannya masih gemetar. Dan bayangan mata Evita masih terbenak dipikirannya.
“Maafkan aku Evita”gumannya. Ia melangkah masuk kedalam rumahnya untuk bersiap diri.
-
Dikediaman Evita.
Evita tengah menikmati permainan yang tengah dimainkan olehnya. Ia mendengarkan musik yang diputar dengan hedseet miliknya.
Untuk rapatnya dengan Reza telah selesai. Evita menyuruh Reza untuk membeli lahan yang menjadi rebutan itu, lalu menyerahkannya kekeluarga Sebastian. Dan menutupi semua hutangnya.
Dari semua tindakkan Evita. itu merupakan gaji yang akan diterima oleh anak mereka nanti. Dan keluarga Sebastian sangat berterimakasih. Selain itu Evita juga menyanggupi biaya pengobatan orang tua Sebastian.
Semua yang dilakukan Evita tanpa sepengetahuan Sebastian. Tapi mau menyembunyikan apapun tetap akan diketahui oleh Seketarisnya itu.
Seperti sekarang, Sebastian bertekuk lutut dengan kepala menunduk. Evita yang bermain game tidak mengetahui keberadaannya. Pelayan yang ada mengira Sebastian sedang dihukum. Tapi dihukum kok malah duduk sih. Rada aneh memang Nyonya mereka.
Reza yang telah selesai berurusan dengan kantor, kaget melihat Sebastian yang bertekuk lutut. Dan menundukkan kepala. Sedangkan Evita yang bermain tidak menghiraukannya.
“Apa kau melakukan kesalahan?”tanya Reza dengan nada yang dingin. Sebastian yang mendengarnya langsung mengeleng tanpa memandang orang yang bertanya.
Sekarang Sebastian akan menerima les private yang langsung dibiayai oleh Evita. sudah berapa banyak uang yang Evita keluarkan membuat Reza sedikit cemburu. Cemburu kepada Sebastian yang mendapat perhatian lebih. Walau Evita sendiri tidak pernah merasa begitu.
Selain Les Private yang terbilang rahasia, Reza dibuat penasaran dengan hasil apa yang sampai membuat Sebastian bisa tinggal dengan Evita disini. Ia merasa kalah saingan sekarang.
“Bangunlah..apa yang kau lakukan?”tanya Reza lagi. ia tahu bahwa Evita tidak menyukai orang yang bertekuk lutut kepadanya.
“Tidak..Aku tidak akan berdiri sebelum Nyonya Evita memandangku”ucap Sebastian. Yang membuat Reza cembukur. Maksudnya cemburu. Bagaimana bisa dipandang, Reza sendiri saja tidak pernah dipandang pun.
Mendengar ada suara yang lain, selain musiknya. Evita menatap kearah yang berhasil membuatnya melepaskan stcik game miliknya.
“Apa yang kau lakukan sebastian!!”ucap Evita yang melepaskan hedseet miliknya.
Sebastian yang mendengar ucapan tersebut langsung bersujud layaknya menyembah. Membuat Evita mundur dari duduknya.
__ADS_1
“Tidak angkat kepalamu...tidak sopan begitu”ucap Evita. ia benar-benar tidak terlalu menyukai tindakkan orang yang seperti ini.
“Nyonya...saya berterimakasih banyak....anda telah banyak membantu saya..saya akan berkerja dengan baik dan akan menjadi seketaris yang selalu menemani anda”ucap Sebastian panjang lebar. Membuat Evita mengeleng melihatnya.
“Sebastian berdiri lah”ucap Evita yang langsung dituruti oleh Sebastian.
Reza yang ada disampingnya mendengus. “Kalau tuannya yang suruh menurut...”benaknya.
“Sekarang aku akan menjawab ucapanmu itu...semua yang ku lakukan itu bukan bermaksud untukmu melakukan hal seperti tadi...aku hanya melakukan yang terbaik, apa lagi kau akan menghadapi pekerjaan yang sulit. Jadi setidaknya orang tuamu mendapatkan biaya lebih dahulu”jelas Evita.
Sebastian mengangguk. “Terimakasih Nyonya”
Evita tersenyum “Sama-sama”ucapnya yang kemudian mengelus kepala Sebastian. Ia melangkah menaiki tangga untuk membersihkan diri. Ini udah sore. Saatnya untuk mengistirahatkan diri. Masalah membolos dan kejadian disekolah, sepertinya akan mengemparkan pihak sekolah.
-
Malam harinya, seperti apa yang dijanjikan. Tidak, yang diucapkan oleh Hun Kai.Amelya kini duduk dimeja makan yang sangat mewah.
Mungkin malam ini akan membahas pertunangan mereka lagi. Amelya hanya bisa pasrah sekarang. Perusahaan Ayahnya benar-benar sedang diujung tanduk.
“Bagaimana hubungan kalian Nak Hun Kai...?”tanya Ayah Hun Kai yang telah menikmati makan malam mereka.
Hun Kai yang mendengarnya langsung mengengam tangan Amelya. Amelya dibuat jantungan karenanya. “Tentu saja berkembang Ayah...Amelya sangat cantik menurutku”jawab Hun Kai.
Amelya yang mendengarnya membenak “Cantik kepalamu...bukannya kau tak pernah melihatku”
“Baguslah kalau begitu...dua hari lagi pertunangan resmi kalian, setelahnya hari pernikahan..apa kalian siap?”tanya Ayah Hun Kai.
Hun Kai tediam sejenak “Tidak Ayah..”Amelya yang mendengarnya kaget.
“Kenapa?”tanya Ayah Hun Kai kepada Putranya.
“Aku tidak ingin acara pernikahan ditunda jauh, hari pertunangan diganti dengan pernikahan saja...lagian kami sudah saling mencintai”ucap Hun Kai dengan percaya diri.
Mendengar hal itu,membuat orang tua tersenyum “Baguslah Nak..kalau begitu akan ayah atur..kau tenang saja..bagaimana menurutmu Kakk?”tanya Ayah Hun Kai kepada orang Tua Amelya.
Orang Tua Amelya menatap Putri semata wayang mereka. Amelya yang menyadarinya mengangguk. Lagian ia memang tidak bisa lagi lari dari jeratan laba-laba ini.
“Kami sangat senang mendengarnya..dan itu memang hal yang bagus”jawab Ayah Amelya yang membuat orang tua sang laki-laki langsung tersenyum.
Makan malam itu menjadi saksi bahwa Amelya akan makin lama mengunakan topengnya dan terus menyamar menjadi orang lain. entah kenapa kata mencintai, tidak tertanam dihati Amelya. Mungkin ada seseorang yang membuatnya jatuh cinta. Tapi Amelya belum menyadarinya.
-
Evita sendiri belum datang kesekolah. Ia masih dalam perjalanan. Para Siswa yang ada masing-masing melemparkan pendapat.
“Siapa yang datang dengan puluhan mobil begini...tidak bisa dibayangkan”
“Aku juga kaget..kau tahu, dibawah jalan sana..sangat padat, ku pikir ada yang kecelakaan ternyata mobil-mobil ini tengah menghalangi mereka”
“Gila juga nih...siapa sih yang menjadi tamu disekolah kita..presiden...seharusnya ada polisi kalau presiden datang”
“ngadi-ngadi presiden..ngapain datang kesekolah kita...”
“Kau benar”
Mereka tidak menyadari bawah kemarin mereka telah mengetahui satu fakta yang besar. Tapi karena sudah melupakannya yeah tidak bisa dipungkiri.
Indah baru kali ini menyadari bahwa yang datang lebih banyak. Ia keluar dari mobilnya. Dan ingin melangkah masuk kekelas. Tapi tangannya ditahan oleh seseorang yang tak lain adalah Kakak kelasnya Yaitu Chan ye.
“Indah...Aku ingin bertanya..siapa mereka?”tanya Chan Ye. Indah memandangnya, ia menepuk jidatnya karena baru ingat, ia belum mengembalikan sapu tangan yang sudah berbulan-bulan ada didirinya.
“Ini kakak makasih..ah mereka, kakak akan tahu nanti jika orangnya datang”ucap Indah. Membuat Chan Ye mengerutkan alisnya.
Tak berapa lama, Amelya datang dengan pasangannya. Mereka harus berdesak-desakkan dengan mobil yang ada. bahkan mobil Hun Kai mendapatkan goresan karena mengenai pagar sekolah.
Ia marah dan keluar dari mobil, melangkah langsung mengetuk Pintu yang membuat orang didalam keluar. Ia tak lain adalah Inul yang ikut datang.
“Kak Inul?”benak Indah dan Amelya yang melihatnya.
“Hei....mobilmu itu bisa dipinggirkan..menghalangi jalanku tahu tidak..dasar sialan..anak orang kaya keberapa hah?”ucap Hun Kai dengan nada jengkelnya.
Belum sempat Inul menjawab, seseorang keluar dengan pakaian hitam lengkap.
“Berapa kerugian yang harus kami bayar?”tanya Pria itu. membuat Hun Kai menatap dengan pandangan mengejek. “Kau bilang apa tadi..berapa?..kau tidak lihat mobilku itu hah?”Hun Kai menunjuk kearah mobilnya.
Semua Siswa yang ada disana langsung gempar.
“Aku baru tahu kalau Hun Kai anak terkaya di kota A...”
__ADS_1
“Aku juga baru tahu, tapi bukannya aneh ya dia datang kesini, ku dengar karena ingin membantu perusahaan Pamannya”
“eh benarkah..udah enak dikota A kok malah harus ada disini?”
“Entahlah..kita lihat saja apa yang terjadi”
“Kau benar”
Pria berpakaian hitam itu memandang mobil yang terlihat biasa saja baginya. Ia sudah sering membawa mobil seperti itu, bahkan menjatuhkannya.
“Jadi Tuan apa yang anda inginkan?”tanya Pria itu lagi. Hun Kai mendengus. “50 juta..transfer kerekeningku”ucap Hun Kai dengan menunjukan kartunya, itu menarik perhatian orang-orang.
“Bagaimana bisa ia berlagak seperti itu..50 juta loh, engak murah njirrr..”
“Gila nih orang, pantes Amelya betah dengan dia”
“Diam-diam ia tengah berbisnis”
“Anak pembisnis mah gitu”
Indah yang mendengarnya mendengus. Ia memilih untuk melangkah masuk kekelas. Tapi langkahnya terhenti saat mendengar suara seseorang.
“Apaa ini cukup Tuan?”ucap Pria lain yang membuat Indah dan Amelya dari kejauhan membelakkan mata.
“Reza!!”ucap mereka bersamaan. Tapi ditempat yang berbeda. Amelya masih didalam mobil. Malu untuk keluar, biarkan saja orang-orang memandangnya apa. Saat ini lebih baik ia tidak memperdulikan mereka. yang akan menambah beban pikirannya.
Reza datang dengan style yang santai, membuat orang-orang langsung menatap kearahnya.
“Gila baru kali ini ada orang yang seimbang dengan Za, Echan dan Yoongi”ucap sang pengagum pria.
“Kau benar..lihat matanya, tatapannya itu loh aduh meleleh”
“Siapa sih dia, kenapa bisa ada juga disini...aduh apa dia jodohku?”
“mimpi...ku pukul pakai sepatu baru tahu..sadar mereka semua datang mengunakan mobil, pasti orang kaya”
“Aku juga kaya”ucapnya.
“Matamu Kaya”
Membiarkan mereka terus berbisik membuat laki-laki yang mendengarnya meringit. Mereka tetap memandang siapa sih yang menjadi pusat perhatian kali ini.
Tak berapa lama mobil yang lain datang, tapi kali ini langsung orang-orang berpakaian hitam keluar dari mobil mereka. ada sekitar 25 mobil yang ada. dan diantaranya 2 mobil yang berisikan orang penting.
Para pria yang mengenakan pakaian hitam itu langsung membukakan pintu. Tapi sedikit kaget dengan siapa yang keluar.
“Sebastian”ucap seseorang dari dalam. Membuat para mata langsung melihat kearah tersebut. Bell kelas berbunyi tapi tidak ada yang perduli. Anggota osis pun ikut menonton dengan apa yang terjadi.
“Kemari Nyonya”ucap Sebastian mengulurkan tangannya. Orang yang didalam langsung menyambutnya. Keluar wanita yang mengikat rambutnya. Mengenakan seragam sekolah.
Semua yang melihatnya langsung membelakkan mata. “Nah orang nya datang”ucap Indah.
Amelya yang melihatnya seketika sadar. “Jadi ini asalan kenapa Evita tidak pernah mau disebut Nyonya Muda...maafkan Aku Evita”gumannya.
Para pria yang berpakaian hitam langsung menundukkan kepala mereka. Evita yang melihatnya hanya mendengus. Ia melangkah kearah Reza yang menatap kearahnya.
“Reza kau juga datang?”kagetnya. Reza mengangguk. Sebastian ada dibelakang Evita.
“Kenapa bisa jadi wanita itu..gila....”
“jadi ini sebabnya Evita selalu merahasiakan diri”
“gila nih cewek...emang cocok jadi istri gua”
“mimpi loh..bangun atau kusadarkan pakai sepatu ku ini”
Hun Kai yang melihatnya kaget. Ia langsung melangkah pergi dan mengendarai mobil masuk kearea parkir. Membuat Evita menatap aneh kepadanya.
Tak berapa lama, keluar orang yang penting. Para guru yang tadinya Cuma melirik kini paham dengan apa yang terjadi. Mereka mengirim pesan akan menghukum seorang anak yang berani dibebaskan membawa senjata api.
Guru Bk yang mengatakan hal aneh kemarin menjadi terdiam ketika Evita melangkah dengan santai kesekolah. Tampang Evita tidak menunjukkan ia akan kalah kali ini.
“Eh Ibu...ngapain bu?”tanya Indah yang melihat guru Bk sedang gemetar.
“Saya sudah bilang Bu..hati-hati”ucap Indah lagi yang kemudian melangkah masuk gerbang. Beberapa siswa juga kembali kekelas.
“Selamat datang...Tuan”sang Kepala Sekolah langsung menyambut.
“Jadi siapa orang tua Evita ini?....”tanya Kepala Sekolah yang melihat dua pasangan yang saling memandang.
__ADS_1