MANTIV

MANTIV
● Mantiv(29)


__ADS_3

mengingat kenangan itu, membuat Nabila dan Inul selalu waspada tentang Evita. Bagi mereka Evita adalah orang yang langka, selain kuat, ia juga mampu menutup kesedihannya.


“Tante Kecil*...apa Kak Evita tidak akan kenapa-napa disana?”tanya Nabila.


(*Tante Kecil\=Inul)


“Aku tidak tahu Bil...kau tahu sendiri Evita itu bebas, kalau selalu dikekang, ia bukannya diam, atau memberontak. Melainkan merubah peraturan yang mengekangnya. Jadi sulit membuat Evita berada didekat kita”Inul menjelaskan bahwa selama dirinya dekat dengan keponakkan kecilnya itu, yang menjadi bossnya sendiri. Tentu tahu apa yang membuat Evita tenang dan membuat Evita marah. Meski Evita memiliki aturan keluarga, ia tetap saja membebaskan diri, hingga harus jauh dari keluarga. Keputusan itu sempat ditolak mentah-mentah oleh Ayahnya, karena putri satu-satunya harus menjauh dari keluarga hanya karena aturan. Tapi tetap saja, Evita memilih untuk menjauh dari pada membuat keluarga besar bertengkar.


“Kenapa Kak Evita harus menderita lagi?”tanya Nabila.


“Aku tidak tahu”itu lah yang bisa Inul katakan, karena jujur dirinya emang tidak tahu apa yang membuat penderitaan Evita begitu sering menghampirinya.


-


Intari dan Amelya sebenarnya ingin langsung menyelidiki, tapi mereka selalu saja didekati oleh orang-orang desa. Membuat pergerakkan mereka menjadi terganggu. Jadi mereka berdua memutuskan untuk mengikuti apa yang dilakukan warga sampai mereka semua tertidur.


Saat ini mereka tengah berada dilapangan kecil yang dibuat para warga. Lapangan ini sebenarnya berfungsi untuk anak-anak bermain. Dan juga berfungsi untuk para warga memberikan pertunjukkan kecil untuk pengunjung.


Karena jarang bertemu dengan orang kota, jadi mereka membuat acara kecil-kecilan. Intari dan Amelya tentu tidak menolak, karena mereka juga sangat penasaran adat apa yang dipakai oleh orang-orang yang berada didesa terpencil ini. Meski terpencil, warganya sangat banyak, yeah tidak sangat banyak sih.


Acara dimulai dengan menyalakan pelita, sejenis lentera yang dibuat dengan sumbu dan minyak tanah, disebut pelita karena nama tersebut lebih cocok dari pada lentera. Lentera lebih terang dari pada pelita. Selain pelita ada obor yang diletakkan disetiap pagar-pagar rumah. Untuk membantu menerangi jalan.


Intari penasaran dengan warga disini, karena ia melihat banyak tiang listrik yang didirikan. Yang pasti desa ini seharusnya sudah punya lampu. Ia juga ingat bahwa tadi dirumah yang ditempatinya terdapat lampu dan televisi.


“Reire...boleh aku bertanya”ucap Intari, memangil anak muda yang usianya 15 tahun. Wajahnya sangat manis.


Reire menoleh karena dirinya diajak bicara. “Iya Kak Han..silahkan”jawabnya.


Mendengar nama Han membuat Intari tersenyum, ia sebenarnya lupa kalau ia masih dalam keadaan penyamaran, dirinya selalu pelupa jika mendapati hal yang menyenangkan.


Bahkan sampai lupa tujuannya datang kesini. “Sebenarnya aku penasaran, kenapa kalian mengunakan obor penganti listrik dan juga Pelita. Bukan listrik disini sudah dipasang kesetiap rumah”


Reire tersenyum, ia menjawab “karena Kepala Desa ingin membuat kami menghemat listrik. Tidak semua orang bisa membayar listrik mereka, jadi Kepala Desa memutuskan untuk mengelola biaya listrik dengan menerapkan obor sebagai pengantinya”


Jeda sebentar, Reire menatap kearah api unggun yang dibuat. “selain karena biaya, ada faktor lain yang membuat keputusan itu diterima, yaitu karena para warga sulit mencari perkerjaan. Mereka kadang harus merantau untuk bisa membantu perekonomian keluarga”


Mendengar itu, Intari merasa iba, dirinya juga dulu seperti itu. Ia hidup dengan keluarga sederhana. Dan ia memiliki adik serta kakak, tapi kehidupan itu berubah saat ia harus menentang keluarganya karena memaksanya menikahi seorang pria tua yang mesum. Tentu ia menolak, bahkan sampai dirinya harus melarikan diri karena ternyata pria tua itu begitu posesif padanya. Selain itu ia juga mengancam akan membuat keluarganya kesulitan atau bahkan membunuhnya. Dan saat itu Evita yang menyelamatkannya, tapi mengkorbankan keluarganya sendiri. Kenapa bisa, karena ternyata orang tuanya sendiri ingin menjualnya.


Intari tiba-tiba teringat tentang pertemuannya pertama kali dengan Evita. Gadis yang terlihat sombong dimatanya. Iya sombong, karena Evita memiliki wajah yang begitu tegas dan sorot mata yang tajam. Membuat orang menjadi minder ketika melihatnya. Tapi itu hanya pandangan sampai kau mengenalnya, maka pandanganmu padanya berubah.


Saat itu, Evita sedang membersihkan meja guru, dan Intari juga dapat bagian itu. Jadi mereka berdua sama-sama membersihkannya. Setelah pembagian kelas dan ia duduk dengan Amelya gadis yang menurutnya unik dan lucu. Walau ia tahu bahwa saat itu Amelya sebenarnya risih, tapi Intari tidak punya teman untuk diajak ngobrol bareng, jadi setelah lama kelamaan Amelya mau berteman dengannya apa lagi mengetahui ternyata Amelya seorang kpopers.


Karena mendapat bagian yang sama, Intari berasumsi untuk memulai obrolannya dengan berbasa basi. “hm...hei!”sapanya perlahan. Namun tidak dihiraukan oleh Evita. Intari berbenak. ‘nih orang sombong amat, cantik kagak’ iya Evita tidak lebih hanya gadis biasa saat itu. Tidak cantik-cantik gadis umumnya. Kalau sekarang yang saling membeda-bedakan pasti dibilang jelek.


Tapi Intari masih saja ingin mengobrol dengannya. Jadi ia mengunakan ide yang muncul dibenaknya. “hmm..Hei jam berapa sekarang”ucapnya sambil mencolek pelan lengan baju Evita.


Evita menatapnya dengan tatapan datar. Ia sedikit mengedipkan mata berkali-kali hingga membuat Intari merasa lucu. “Jam?..aku tidak membawanya”jawab Evita. Intari yang mendengar suara bass layaknya laki-laki hanya bisa terdiam. Sampai akhirnya mengangguk. Ia mengangguk karena menjawab perkataan Evita. Tapi ada yang salah dari Evita, ia seperti berbohong.


‘gadis ini sepertinya terlalu sering menyimpan sesuatu’benaknya melihat lagak gadis didepannya yang berpura-pura membersihkan. Padahal tempat itu sudah bersih. ‘apa dia ingin membersihkan meja ini sampai putih, kan sudah dicat warna coklat’benaknya lagi.


“eum..sebenarnya, Jam ku ada tapi rusak”ucap Evita. Membuat Intari terdiam ‘jadi dia ingin membenarkan ucapannya tadi, wow menarik jika aku berteman dengan orang yang seperti ini’benaknya. Ia hanya tersenyum dan mengangguk.


Setelahnya lama kelamaan, Intari mendekati Evita walau Evita masih saja sedikit dingin, tapi itu tidak terjadi sampai mereka naik kelas. Yang pasti sebelum semester pertama. Evita dan Intari sudah menjadi sahabat setelah Amelya.


Pertemuan Evita tidak terlalu mengesankan untuknya, karena mereka hanya berbincang santai, tapi itu ternyata menjadikan Intari lebih dekat dan selalu menghabiskan waktu berbincang dengan Evita. Hanya saja seperti diawal, Intari lebih akrab dengan Amelya dan menganggap pertemuannya dengan Amelya lebih luar biasa.

__ADS_1


Namun dari semua yang ada, baik pertemuan itu sengaja atau tidak. Intari merasa beruntung bertemu dengan dua sosok yang mampu menjadi tempat untuknya pulang.Amelya yang begitu tenang menghadapinya dan Evita yang selalu memanjakan dirinya. Jika pertemuan yang indah selalu berakhir dengan berpisah. Maka pertemuannya dengan Amelya dan Evita merupakan pertemuan sulit dan langka. Karena banyak perjuangan masing-masing yang sulit berakhir dengan saling memberikan kebahagiaan persahabatan yang sudah seperti saudara.


Mengingat kenangan itu, Intari terdiam sesaat sampai ia pun tersenyum manis membuat Reire menatap takjub padanya.


“Kak Han?..apa yang membuat Kakak tersenyum?”tanya Reire.


Intari yang mendengarnya, menatap Reire yang begitu penasaran. “aku hanya mengingat Sahabatku yang saat ini sepertinya tengah sibuk” ucapnya menjawab pertanyaan Reire. Reire bingung mendengarnya, pasalnya ia bertanya kenapa tersenyum, tapi kenapa wanita disampingnya Malah mengatakan mengingat sahabatnya.


“Aku tidak mengerti”ucap Reire. Ia sebenarnya tidak tahu sahabat itu seperti apa. Ia hanya tahu tentang teman.


“Apa kau tidak memiliki Sahabat?”tanyanya.


Reire mengangguk.


Intari tersenyum, “Reire....Sahabat itu sebenarnya seperti teman. cuma Sahabat ini lebih dekat denganmu, lebih selalu berada disekitarmu, dan jarang-jarang orang bisa mendapatkan sahabat yang setia, sayang seperti keluarga, dan selalu ada baik duka maupun suka. Tapi mendapatkan mereka sepertinya harus banyak perjuangannya”ucapnya.


“Kalau begitu, berarti sahabat ini lebih berarti dari pada pertemanan?..bukannya sama saja”


“berbeda...kau akan mengetahuinya jika memiliki sahabat”


“aku tidak ingin”


“kenapa tidak ingin?”


“karena aku memang tidak terlalu akrab dengan mereka. Anda tahu, aku hanya berusaha untuk berdiri disamping mereka saja sangat sulit karena mereka selalu menjaga jarak dariku”


“menurutku tidak”kali ini bukan Intari yang menjawab, tapi Amelya. Amelya dari tadi mendengarkan apa yang dibicarakan Reire tentang pertemanannya. Dan Amelya yang duduk disamping teman Reire juga menceritakan ketidak akraban mereka dengan Reire. Sebenarnya mereka takut akrab karena Reire seorang anak indigo yang mampu melihat hal aneh, jadi mereka selalu takut.


Namun saat menceritakan hal itu kepada Amelya, Amelya menjelaskan bahwa pertemanan tidak perlu memandang sesuatu. Mereka seharusnya saling mendukung. Karena dengan dukungan itu mereka membangkitkan jiwa mati seseorang yang berakhir dengan kebahagiaan.


“Kenapa tidak?”tanya Reire sedikit tidak suka.


“Kau sepertinya terlalu memikirkan pandanganmu sendiri, cobalah memandang kearah lain, ambil sudut yang berlawanan, karena biasanya hal itu akan membuka pandanganmu. Seperti saat ini, kau mengambil kesalahan kecil temanmu yang menjauh, kau salah. Mereka bukan menjauh, mereka hanya ingin memahami dengan baik agar berteman denganmu tidak menyingung perasaanmu, kau seorang indigo temanmu tidak, jadi mereka tidak ingin kau merasa tertekan jika selalu berada didekat mereka” Amelya menjelaskan dengan sedikit tenang. Meski ia tidak tahu apa kah itu benar-benar berpengaruh untuk orang yang terluka karena pertemanan.


Intari yang menyadarinya pun membantu “Kesalahan memang selalu dijadikan patokkan untuk menang dalam pendapat/argumen, tapi setidaknya kau cari dulu alasan mereka melakukan kesalahan itu, siapa tahu itu semua demi dirimu. Ingatlah, kesalahan memang membantu seseorang untuk menang, karena tanpa kesalahan tidak akan ada perdebatan bahkan adu argumen, tapi dibalik kesalahan itu terdapat fakta yang disembunyikan untuk melindungi seseorang. Jadi berhati-hatilah dalam mengambil argumen/pendapat”jelasnya.


Reire langsung meneteskan airmatanya. Ia tidak menyadari bahwa temannya ini hanya ingin membuatnya tenang agar dirinya tidak risih. Karena tahu bahwa Reire seorang indigo, pasti akan mengontrol diri, jadi mereka selalu mengajak Reire bermain didekat rumah saja. Agar Reire bisa tenang.


Reire bangun dari duduknya. Ia berdiri didepan teman-temannya, meminta maaf dan memeluk mereka.


Melihat itu, Intari dan Amelya tersenyum, karena sejujurnya teman Reire lebih banyak dari pada mereka. Sungguh pertemanan yang luar biasa bukan?.


-


Setelah puas menerima sambutan hangat dengan acara kecil yang dibuat warga untuk mereka. Intari dan Amelya kembali mejalankan misi.


Tujuan mereka kali ini adalah melangkah menyusuri jalan yang mereka tandai dengan jalan pintas. Tapi sebelum sampai kejalan pintas, mereka harus mengambil jalan yang umum dilewati menuju kekediaman Kepala Desa.


Dengan berbekal beberapa alat yang diletakkan didalam tas, Intari dan Amelya membawa lentera yang dibuat mereka, karena itu bisa membantu mereka melihat jalan dari pada pelita.


Menyusuri jalan yang begitu bergelombang, membuat Intari begitu semangat melewatinya.


“ada apa denganmu, kau seperti baru saja turun kedesa”ucap Amelya.


“Hei Kakk Ara, aku merindukan tempat tinggal yang membuat seluruh kehidupanku berubah waktu itu”Intari mengingat tempat tinggalnya bersama orang tuanya.

__ADS_1


“Kau merindukannya, kenapa tidak ajak Evita berlibur bersama nanti kekampung halaman kita”ucap Amelya, dirinya juga merindukan jaman-jaman yang masih begitu hijaunya sebelum masuk kedunia perkotaan.


“mn, kita akan mengatur liburan nanti”Intari mengangguk begitu antusias, Amelya juga mengangguk.


Mereka terus melangkah sampai tidak terasa bahwa mereka telah tiba dikediaman Kepala Desa yang begitu cerahnya. Cerah?, Iya karena rupanya Kepala Desa yang menguasai listrik didesanya.


“Apa ini yang disebut dengan hemat?..cih dia memanfaatkan sikap manisnya”ucap Intari melihat kediaman Kepala Desa.


“menurutku itu wajar, kan mereka lebih banyak mengeluarkan uang dan membantu warga, dan lagi warga pasti akan melakukan hal yang sama jika mereka tahu bahwa Kepala desa mereka tidak memiliki lampu dirumah”


“kau ini!”


“jangan ambil pendapat hanya sekali pandang, kita ambil positifnya saja, ayuk...sekarang kita harus menuju jalan pintas” Intari mengangguk.


Mereka berdua menyusuri jalan lain, yang terlihat jarang dilewati, ditambah tempat itu sedikit berhawa sepi.


Intari dan Amelya yang sudah biasa menghadapi kesendirian dan kegelapan hanya menganggap biasa saja. Mereka terus berjalan. Yang dilewati mereka adalah daun-daun kering, ranting-ranting dan ada beberapa bangkai hewan yang sepertinya baru beberapa hari mati.


Sebenarnya tidak ada yang aneh, mereka mengamati dengan begitu teliti, ditemani lentera yang terang, mereka dengan aman menyusuri jalan, sampai tidak menyadari mereka kembali kekediaman warga.


Intari tidak bisa membiarkan pengamatan ini menjadi hal yang biasa-biasa aja, karena didalam denah, mereka hanya melihat bahwa jalan pintas ini tidak berujung, atau tidak tahu ujungnya kemana. Eh ternyata Malah kembali kedesa.


Amelya juga mengerutkan alisnya. Ia memikirkan tempat rahasia yang seharusnya ditemukan, Malah menemukan kembali tempat tinggal desa.


“Apa kita kembali lagi?..sungguh luar biasa?”Intari sebenarnya mengeluh cuma nadanya mengejek.


“aku juga bingung, seharusnya kita menemukan apa yang bisa membantu kita”


Asik memberikan pendapat dengan sudut pandang masing-masing, mereka berdua terkejut mendengar suara teriakan seseorang.


TOLONG!!!


TOLONGG!!!


TOLONGG!


TOLONGG!!!!


“Ada yang berteriak?”tanya Intari yang dapat anggukkan oleh Amelya.


“Sepertinya diarah sana”Amelya menunjuk kearah yang jauh dari kediaman warga. Membuat Intari mengerutkan alisnya.


Mereka berdua pun bergegas menyusuri arah teriakan berasal. Mereka membelak kita melihat seorang wanita tengah menahan anaknya agar tidak dibawa oleh seseorang.


“TIDAK LEPASKAN ANAKKU..LEPASKAN ANAKKU... KAU JANGAN BERANI-BERANI MEMBAWANYA”


Intari melihat hal itu langsung bergegas berlari, ia terus berlari kencang dan mengambil aba-aba untuk melompat. Seperdetik dalam lompatan, ia menerjang tubuh pria yang mengenakan pakaian hitam dengan wajah yang tertutup.


Pria tersebut merintih kesakitan karena ditahan oleh Intari.dalam sekejap, saat tubuh pria tersebut terjatuh, Intari mengambil ancang-ancang mengunci tubuh pria itu dan membuatnya pingsan.


Dan tak berapa lama, seperti yang diperkirakan, lelaki tersebut langsung tumbang, atau bisa dibilang pingsan.


Amelya yang baru saja menolong Wanita bersama anaknya mengunjungi Intari.


“Apa dia orang yang tinggal disini?”

__ADS_1


...****************...


__ADS_2