
“Paman, apa maksud dari pandanganmu itu?”tanya Za yang mengantar pamannya diambang pintu kediaman keluarga Zhan.
“Zhan, keponakkanku..kau ini kenapa cemburu sekali”Chen Rey mengejek keponakkannya. Ia tahu saat ini Za melihat apa yang dilakukannya kepada Istri keponakkannya itu.
“Katakan saja Paman, Aku tahu Evita menarik dimata Pria-Pria tertentu”ucap Za dengan nada yang penuh akan kecemburuan.
Hal ingin membuat Chen Rey tertawa lepas. Baru kali ini Ia melihat pria yang begitu cemburu dan begitu bucin. Yeah sebenarnya Ia sudah melihatnya. Siapa lagi kalau bukan Ayah Za sendiri yang bucin terhadap Adiknya.
“Baiklah, Kau ingin tahu alasanku memandang Istrimu seperti itu bukan?”Chen Rey menatap keponakkannya dengan begitu serius. Ia berhenti melangkah dan menatap keponakkannya.
Za yang ditatap ikut menatap kembali. Mereka berdua berdiri diambang pintu dengan suasana yang mencekam.
“Bertahun-tahun yang lalu, saat Kau sibuk dengan tugas kepolisian, seorang wanita membawa Ayahnya kerumah sakit. Ayahnya menderita penyakit jantung. Dan saat itulah diriku bertemu dengannya”
Chen Rey memulai ceritanya dengan tenang, ia melangkah menuju kehalaman dimana ada Sebastian yang siap mengantarnya.
“Aku melihat wajahnya dan merasa tertarik dengan rupanya. Dulu ia tak semanis sekarang, dulu ia begitu sederhana dengan tampilannya. Hal itulah yang ku suka.”
Za yang mendengar ucapan Pamannya terdiam, ia merasa saingannya begitu banyak, bahkan pamannya pun menyukai Istrinya. Untung Ia sudah menikahi Evita. jika tidak entah kapan bisa mendapatkan Evita.
“Akibat pertemuan itu aku berandai-andai agar bisa bertemu dengannya lagi, dan berjalan waktu dengan tahun berganti. Aku melihatnya datang bersama keponakkanku dan lagi sudah mengandung anak dari keponakkanku..Aku akhirnya hanya bisa mengangguminya dan tak bisa memilikinya”ucap Chen Rey dengan berhenti melangkah. Karena didepannya ada mobil yang siap mengantar.
“Paman tahu batasan Za, Paman hanya tak percaya bisa melihat dirinya lagi. sekarang ia begitu luar biasa, yeah Paman mendoakan terbaik untukmu, jaga dirinya dan jaga juga apa yang kau putuskan. Doa paman semoga bahagia sampai kematian menjemput kalian”ucap Chen Rey yang membuka pintu mobil.
“Salah Paman”Za mengucapkan kata yang membuat Chen Rey berhenti masuk. “Apa yang salah?”tanya Chen Rey dengan menatap Za.
“Jika bahagia sampai kematian, maka salah satu dari kami akan jatuh cinta kepada orang lain, itu ucapan yang salah. Ucapan yang benar bahagialah selamanya, itu yang tepat”ucap Za dengan senyum yang jarang ditunjukkan.
Chen Rey yang melihatnya tersenyum, Ia tak percaya. Bayi yang sempat menerima kematian berkali-kali, kini tumbuh didepannya. Jika Ayah Za dulu tak menginginkan anaknya, mungkin Zhan Za Chen tak akan lahir didunia. Karena Ibunya saja berniat mengugurkan kandungan. Yeah tak ada yang tahu takdir bukan.
“Baiklah, Paman tarik ucapan Paman, dan diganti dengan doa semoga kalian bahagia selamanya dan akan terus bersama”ucap Chen Rey yang melangkah masuk kedalam mobil. Sebastian mengantar kembali kerumah sakit.
Za menatap kearah mobil yang pergi itu, lalu ada taksi online yang menepi dirumahnya. Keluar Raja yang terlihat lelah.
“Raja, kau terlihat lelah,istirahatlah dikamar tamu”usul Za yang membuat Raja kaget melihatnya.
“Kapan Tuan Za ada disini?”tanya Raja dengan wajah penuh kaget.
Za yang mendengarnya berkedip tak percaya. “Apa kau tak sadar kalau aku dari tadi berdiri disini Raja”ucap Za menjawab pertanyaan Raja.
Raja langsung menunduk malu, “Maaf Tuan, Aku tak sadar karena bengong”
“Tak apa. Sudah masuklah ini sudah larut malam, lebih baik istirahat dikamar tamu, ada banyak kamar yang kosong”ucap Za yang melangkah meninggalkan Raja.
Za melangkah menuju kekamarnya, dimana ada sang Istri yang sedang tidur pulas karena begitu lelahnya.
Za menatap wajah sang Istri dengan tenang. Saat ia ingin berbaring menemani Istrinya. Rasa sakit yang tak dirasa kini muncul dipungungnya.
Ia bangun dan menatap kearah cermin, dimana pungungnya penuh akan darah yang masih mengalir. Za menghela nafas, ia melangkah keluar dari kamar.
“Apa Kau tak ingin mengobatinya Za?”ucap Seseorang yang menghentikan langkah Za.Za menatap kearah sumber suara yang memperlihatkan wanita duduk bersandar dengan menatap kearahnya.
“Kenapa Kau bangun sayang?”tanya Za yang melangkah mendekat dan menuntun Evita untuk berbaring. Namun Evita yang sudah bangun itu menuntun Suaminya untuk duduk disampingnya.
“Aku ingin melihat pungungmu”pinta Evita yang membuat Za engan menurutinya. “Apa kau tak ingin menunjukkannya kepadaku Za?”tanya Evita.
Mau tak mau Za menurut. Ia membalikkan tubuhnya dan terlihat sekali pungung yang bersih dimata Evita, kini bergaris-garis dengan meninggalkan bekas yang mendalam. Evita menghela nafas melihatnya.
“Za...”Evita memeluk Za dari belakang. Hal ini membuat Za mengerutkan alisnya dan ingin melepaskan pelukkan yang didapat olehnya.
__ADS_1
“Evita,pungungku berdarah, pakaianmu akan berdarah juga”ucap Za yang ingin melepaskan pelukkan. Namun Evita engan menjauh.
“Za, apa ini caramu mencintaiku, apa ini caramu memberikan cinta yang tulus kepadaku?”tanya Evita yang membuat Za terdiam. Ia merasa lukanya diairi oleh air mata.
“Za, terimakasih..terimakasih, cinta, kasih sayang,perhatian, hingga dirimu yang tulus selalu ada untukku. Za aku ingin mengatakan sesuatu”ucap Evita yang membuat Za terdiam.
“Aku tahu, bahwa kehamilanku ini memiliki resiko tinggi, dan Aku yakin, Kau memilih sesuai keinginanku”Evita memikirkan kehamilan yang terbilang beruntung ini. Ia sudah tahu bahwa kehamilanya bukan hal yang mudah didapat. Semua pasti punya resiko yang tinggi.
“Za, apa pun yang terjadi, jagalah ia mengerti”ucap Evita yang membuat Za melepaskan pelukan Evita. ia memeluk Evita dengan begitu erat dan mencium puncak kepala Evita.
“Evita, jangan berpikir yang macam-macam, mengerti. Dengar aku hm, saat ini yang terpenting dirimu, buatlah kebahagiaan disekelilingmu ya”ucap Za dan membaringkan Evita dengan tenang.
“Aku akan mengobati luka pungungku, setelah ini Aku akan menemani dirimu hm, jadi tidurlah”ucap Za mencium kembali puncak kepala Evita. namun ia menambahkan ciumannya dibibir singkat sang Istri.
Evita terdiam, ia mengangguk untuk menyetujui apa yang diucapkan oleh Za. Za pergi meninggalkan dirinya yang diam-diam menghela nafas dengan berat. Otak yang tak ingin berpikir kini memikirkan segalanya.
“Anakku, dukung Ibumu, setelah semuanya selesai..Ibu akan menjamin kebahagiaan untukmu, jadi bertahanlah”benak Evita yang memejamkan matanya.
-
Didalam kamar Yoongi.
Terdengar amarah Intari yang membuat Yoongi bersimpuh lutut dengan wajah menunduk.
“Kau ini, waaah Yoongi..bisa tidak menjadi dewasa, jika memang kau ingin dihukum katakan kepadaku..kau ini bagaimana sih, lihat pungungmu semua penuh warna merah, sakit kan?”Intari memarahi Suaminya. Ia tahu Suaminya tak ingin dirinya ikut dihukum, tapi Ia tak tega melihat suaminya dipukul sepeti ini.
“Sekarang katakan, dimana kau menaruh kotak p3knya?”tanya Intari yang mengatur nafas untuk menahan amarahnya. Yoongi yang mendengarnya menunjuk kearah lemari kecil didekat televisinya.
Intari bergegas mengambil kotak p3k. Ia duduk dibelakang Yoongi dan menatap dengan wajah penuh kesedihan. Keluarga Zhan ini memang bukan main dengan aturan. Ingin rasanya Intari menghancurkan dinding penuh aturan itu dan membakar ruang hukuman.
Intari perlahan mengoleskan lebam yang diterima dan luka akibat gesekkan dari papan pengaris. Ia mengobati dengan hati-hati karena mendengar suara kesakitan dari Suaminya.
“Maaf”ucap Yoongi setelah Intari mengoleskan obat luka. Intari membentangkan perban yang akan menutupi pungung Suaminya.
Yoongi yang merasa sesuatu mengalir dipungung bergegas membalikkan tubuhnya dan melihat sang Istri yang menunduk dengan wajah menangis miliknya.
Tak kuasa melihat hal seperti itu, Yoongi bergegas memeluk Intari. Ia memeluk dengan begitu erat untuk menenangkan istrinya.
“Yoongi, Aku tahu kau mencintaiku, tapi tidak seperti ini caranya. Hatiku sakit melihat kau dihukum, Yoongi..Aku juga mencintaimu”ucap Intari yang membuat Yoongi melesatkan wajahnya mencium Intari.
Kali ini tak ada batasan, restu sudah didapatkan. Yoongi memberanikan diri mencium istrinya dengan begitu dalam. dengan pelukkan yang erat. Yoongi mengangkat Intari yang masih dalam ciumannya.
Intari yang berniat untuk membalutkan perban jadi urun. Ia mengalungkan tangannya dipundak Suaminya. Dan merasakkan tubuhnya diangkat oleh sang Suami yang kini membaringkannya dikasur.
“Intari, Boleh aku mendengarkan kata cintamu sekali lagi”bisik Yoongi yang membuat Intari malu dengan melihat wajah Suaminya.
“Untuk apa..sudah Obati lukamu dulu”ucap Intari mengelak. Ia ingin bangun, tapi percuma karena posisinya saat ini dikekang oleh Suaminya. Yoongi seperti hewan buas yang siap menerkam mangsanya.
“Yoongi Ka-Kau”Intari belum selesai berbicara, Yoongi sudah menyerangnya dengan kembali mencium dirinya.
“Intari, Aku sudah lama menahan diri tidak memakanmu, izinkan aku memakanmu malam ini, biarkan lukaku.karena sekarang sepertinya ada yang harus ditenangkan terlebih dahulu”Yoongi berbisik ditelinga Intari dengan nada beratnya. Hal ini membuat Intari memerah dan hanya bisa mengikuti alur yang Yoongi berikan.
Malam ini biarkan mereka mempererat hubungan dengan indahnya malam yang seharusnya dilakukan dimalam pertama. Tapi ubahlah malam ini menjadi malam resmi mereka.
-
Amelya dalam diam mengoleskan luka yang didapat Suaminya. Didalam kamar Echan yang penuh kesunyian ini. Kedua orang suami istri tak saling berbicara.
Hingga Echan yang tak tahan berdiam diri, membalikkan tubuhnya dengan dadakkan.
__ADS_1
Hiks..Hiks..
Mata Echan membulat ketika melihat wajah sang istri yang menangis. Menangis dengan air mata yang terus mengalir. Hal ini membuat Echan mengusap wajah cantik yang bulat milik Amelya.
“Sayang, jangan menangis dong..hei kenapa hm?”tanya Echan dengan lembutnya. Pria yang begitu sayang kepada wanitanya.
Amelya yang dari tadi menundukkan kepala, kini memeluk erat tubuh Suaminya. Melupakan bahwa dirinya baru saja mengobati lebam yang didapat oleh Suaminya itu.
“ouch!”suara rintihan terdengar oleh Amelya. Ia menjauhkan diri karena tahu bahwa ia sudah kelewatan batas memeluk Suaminya. Tapi Echan menariknya kembali dan membalas pelukkannya.
“Maafkan Aku ya..aku melakukan ini bukan karena tak mencintaimu, justru aku sangat mencintai hingga tak ingin orang yang ku cintai mendapatkan hukuman yang sama”ucap Echan yang menenangkan Istrinya.
Amelya tak sanggup berkata-kata. Ia melihat suaminya dipukul merasa rasa sakit. Benar-benar gila sekali keluarga Zhan ini. Namun jika tak seperti ini, tak akan ada lelaki sejati yang membuktikan betapa tulus cintanya.
“Amelya dengar hm,..berhentilah menangis Istriku, maafkan aku ya..oke”Echan menatap wajah Amelya dan mengusap pelan wajah yang dialiri air mata.
Amelya mengangguk dengan mencium telapak tangan Suaminya. Hal ini membuat Echan terteguh. Pikirannya masih dengan larangan yang ada.namun ingatannya muncul, dimana semua keluarga sudah merestui dirinya dan Amelya.
Echan yang mengenggam wajah Amelya, kini dengan perlahan mendekatkan wajahnya. Ingin meraih bibir ranum milik sang istri yang masih terisak menangis.
Mata Echan membulat kala melihat bahwa dirinya sudah dicium duluan oleh Amelya. Ia merasakan kenyalnya bibir seseorang yang menyentuh bibirnya. Niatnya ingin bermain tapi Amelya menghentikan ciuman bibir itu.
“A-Aku..ingin ke..ketoliet”Amelya dengan wajah memerah meranjak bangun dan ingin melangkah pergi. Namun seperti dalam aturan keluarga Zhan, pria tak boleh menyentuh wanita tanpa menikahinya. Maka hasrat memburu mereka harus ditahan.
Tapi karena sudah dipancing, tak ada yang bisa menahan hasrat tersebut. Echan yang tadi merasa pungung sakit seketika hilang dengan nafsu memburunya.
Ia menarik Amelya kedalam pelukkannya dan mencium Amelya dengan begitu buasnya.
“Amelya..maaf tapi izinkan aku malam ini memakanmu”ucap Echan yang membaringkan Amleya dikasur besar miliknya dan malam itu menjadi malam panas untuk dua pasangan yang pengamannya terlepas karena sudah mendapatkan restu dari orang tua.
-
Berbeda dengan pasangan yang satu ini.
Evita menatap kearah Za yang terlungkup disampingnya. Ia mengusap wajah Suami yang memandang dirinya.
“Za..kenapa kau tak tidur?”tanya Evita yang membuat alis Za bertaut.
“Justru aku yang seharusnya bertanya, kenapa Istriku yang sedang mengandung ini tak tidur, ini sudah jam 2 pagi”ucap Za yang mengambil tangan Evita dan mencium telapak tangan tersebut.
Evita yang melihat Za seperti itu tersenyum, ia mengubah posisi dirinya yang berbaring, kini memiringkan tubuh dengan mengenggam tangan Za.
“Baiklah, Suamiku..Aku akan tidur sekarang oke”ucap Evita yang mengenggam tangan Za. Za yang melihat hal tersebut tersenyum usil.
Tak lama tangan yang digenggam Evita dijauhkan oleh Evita dengan mata yang menyorot tajam. “Za jangan bertingkah mesum, aku tahu kau suka bermain-main, tapi ingat aku sedang sakit dan kau juga sedang sakit”ucap Evita dengan wajah yang mulai memerah. Ia tak marah hanya malu saja. Bagaimana tangan yang digenggam itu bermain diarea,sudahlah.
“Oh.begitu rupanya ya, tapi pungungku tak sakit jika Aku memakanmu sekarang. Astaga Aku lupa bertanya”ucap Za dengan wajah yang penuh keterkejutan. Evita yang melihatnya mengerutkan alis.
“Apa yang lupa bertanya?”tanya Evita untuk menghilangkan rasa penasarannya.
“Lupa bertanya, apa aku boleh memakan dirimu disaat kau sedang mengandung”jawab Za dengan begitu seriusnya.
Evita yang mengira situasi genting atau hal berhubungan perusahaan. Ia memandang datar kearah Suaminya. Dengan cepat Ia mengubah posisi membelakangi Suaminya.
“Kenapa denganmu Evita?”tanya Za yang melihat tingkah Istrinya. Padahal ia tahu Istrinya sedang ngambek sekarang. Sikap yang jarang ditemuinya.
“Ooh..Istriku lagi ngambek rupanya..yasudah sebaiknya Aku harus memeluknya dan mendekat didirinya”ucap Za yang bangun dari terlungkupnya dan memeluk Evita dari belakang.
Evita terkejut melihat Suaminya yang sudah memeluk dirinya. “Za apa yang kau lakukan, lukamu baru saja diobati oleh Pelayan”ucap Evita dengan nada terkejutnya.
__ADS_1
Za tak perduli, Ia membaringkan diri dengan kepala menyentuh tengkuk Evita. ia cium tengkuk putih itu dan meninggalkan bekas disana.
“Za!”pekik Evita yang membuat Za tertawa. Malam itu menjadi malam sunyi tapi penuh kasih sayang untuk semua orang. Dan tinggal lihat esok hari apakah akan baik-baik saja.