MANTIV

MANTIV
● Mantiv(144)


__ADS_3

Yoongi dan Echan duduk dengan wajah penuh akan kebingungan. Mereka ingin menolong Kakak Pertama mereka, tapi bagaimana caranya?


Mereka tahu jika diposisi kakak Mereka. tidak ada yang bisa menandingi kesabaran Za dalam menunggu. Dalam menetapkan hatinya. Semua yang dilalui Za penuh pengorbanan hingga ia sulit mengekspresikan segala hal.


Apa lagi mengetahui Orang tua Za meninggal tepat 1 minggu setelah kelahirannya Za. Masa kecil Za tak seindah yang dipikirkan oleh Yoongi dan Echan.


Saat itu Orang Tua Yoongi dan Echan menceritakannya. Bahwa Za saat kecil harus dirawat dulu,kediaman keluarga besar menjadi tempat perawatan Za. Setelah usia Za genap sebulan. Semua kebingungan dengan siapa yang akan mengasuh Za.


Saat itu seluruh menantu dikediaman Zhan sedang mengandung. Dan satu-satunya yang tidak memiliki anak hanya Bibi Kedua. Kakek Pertama menyuruh Bibi Kedua untuk menjaga Za, agar ia mendapatkan perhatian dari seorang ibu, meski Ibu kandungnya sudah tiada. Setidaknya Za merasakan bagaimana rasanya seorang Ibu.


Namun semua tidak berjalan seperti yang diharapkan,Bibi Kedua bukannya menjaga malah membiarkan Za, sampai Za berusia 1 tahun. Diusia 1 tahun Za, Kakek Pertama membuat sebuah wasiat yang dimana sebagian besar kekuasaan Kakek Pertama akan jatuh ditangan Za saat ia berusia 20 tahun.


Mendengar informasi tersebut, Bibi Kedua akhirnya menjaga Za seperti anak sendiri. dan semua mulai berubah, kepribadian Za, watak Za hingga Za berusia 18 tahun.


Kakek Pertama dan Kakek yang lain merasa bahwa Didikkan Bibi kedua sangat tidak baik untuk Za. Namun semua terlambat karena Za sudah benar-benar didalam kendali Bibi Kedua. Tetapi siapa sangka saat Za bersekolah di SMK kota Q, semua berubah. Seseorang mengubah Za mereka menjadi orang yang berbeda dan penuh akan keinginan dan harapan.


Yoongi dan Echan yang sudah bersama dengan Za juga merasakan perubahan itu, dan orang yang merubah Za tidak lain adalah Evita. Wanita yang dalam sekali bertemu sudah mengubah kehidupan Za. Luar biasa mengingat semua kenangan yang ada.


“Apa yang harus kita lakukan Yoongi?...Kak Za pasti sedang menghancurkan segala yang ada”ucap Echan yang meletakkan kepalanya di sandaran.


Yoongi yang mendengar ucapan dari Echan hanya menghela nafas. Ia menatap kearah seorang pelayan yang datang bersamaan dengan dua pria berjas.


“Tuan muda ketiga dan keempat, kedua pria ini datang mencari Tuan Muda Za”ucap Pelayan dengan memperlihatkan dua pria berjas.


Echan dan Yoongi bergegas untuk menyambut kedatangan tamu yang mereka sendiri bingung harus bagaimana. Situasi saat ini benar-benar kacau apa lagi melihat sekeliling tidak ada suasana keindahan didalamnya.


“Dimana Tuan Muda Za?”tanya seseorang berjas Abu-abu. Ia memiliki wajah yang tenang dengan kacamata yang dikenakan olehnya. Lalu seseorang yang ada disebelah pria berjas abu-abu, mengerakkan tangan karena ada beberapa amplop besar ditangannya. Pria itu mengenakan jas berwarna hitam. Wajahnya dingin dengan pandangan yang hanya menatap disatu arah saja.


“Kakak Pertama sedang ada didalam kamarnya.jika ada keperluan kami bisa mewakilinya”ucap Echan. Yoongi mengangguk menyetujui ucapan dari Echan.


“Kami tahu bahwa Tuan Muda Ketiga dan Tuan Muda keempat bisa membantu, hanya kedatangan kami disini karena ingin bertemu dengan Tuan Muda Za..”ucap Pria berjas Abu-abu. Ia pun menatap kearah lantai atas yang terlihat sekali penuh akan kesuraman.


“Bisakan kami bertemu dengannya, tenang saja...kami tidak membuat kekacauan disini”lanjutnya lagi.


Yoongi dan Echan saling memandang. Melihat keseriusan dari dua pria asing didepan mereka, membuat mereka menyetujui apa yang diucapkan oleh Pria asing itu. karena mereka merasa bahwa dua orang asing itu bisa menenangkan Kakak Pertama yang sedang marah didalam kamar.


Tanpa berbicara apapun, Yoong dan Echan mengangguk. anggukkan mereka membuat dua pria asing langsung melesat naik dengan langkah tenang.


“Siapa mereka?”guman keduanya memandang dari lantai bawah. Melihat dua pria asing yang sudah berdiri dikamar Kakak mereka.


-


“Tuan Muda Za..mari ikut dengan kami”


Za masih tidak bergeming dengan panggilan dari dua pria yang ada didepannya. Matanya memindai apa yang dilihat olehnya.


“Paman Brillen dan Paman Willi?”kerutan muncul diwajah Za melihat orang kepercayaan Ayahnya. Ia pernah melihat foto dua orang ini saat Kakek Pertama mengenalkan kepadanya siapa orang tua kandung Za sendiri.


Saat itu ia menduga bahwa Orang kepercayaan Ayahnya sudah meninggal, tetapi mereka kini berada didepannya. Tidak ada perubahan dari mereka saat ia mengingat dari foto yang diberikan.


Masih sama,Paman Brillen yang suka mengunakan kacamata hitam. Lalu Paman Willi yang memiliki wajah dingin meski ia adalah orang yang paling banyak bicara dari pada Paman Brillen.


“Benar Tuan Muda, Aku adalah Brillen dan disampingku adalah Willi”ucap Brillen dengan wajah tenangnya.


“Apa yang kalian lakukan disini?”Za mengelap sisa air mata yang mengalir. Ia melangkah menuntun kedua pamannya untuk berada diruang tamu.


“Tidak untuk saat ini Tuan Muda, kami tidak bisa bersantai sekarang”ucap Willi yang menghentikan langkah Za.


Za membalikkan tubuhnya dan melihat dengan serius wajah dari dua Paman yang datang kepadanya ini.


“Anda akan mengetahui apa yang membuat kami mencari anda. Lebih baik Tuan muda ikut bersama kami..akan kami jelaskan semua yang terjadi”ucap Brillen dengan menuntun Za untuk turun. Sebuah Jas abu-abu terpasang ditubuh Za.


“Apa itu sangat penting?”tanya Za sambil melangkah turun dari tangganya.


Brillen mengangguk dengan tenang, “Sangat penting..ini menyangkut kepada Istri anda Tuan Muda”jawab Brillen.


Mendengar kata ‘Istri’ Za tidak memiliki keraguan lagi didalam hatinya. Ia pun mempercepat langkahnya.

__ADS_1


Yoongi dan Echan yang melihat Za turun bergegas mendekat, “Ada apa Kak Za?”tanya Yoongi.


Za menatap kearah Brillen, Brillen mengangguk. “Tuan muda Ketiga dan Keempat..jika berkenang, ikutlah bersama kami”ucap Brillen dengan begitu sopan.Yoongi dan Echan bergegas untuk ikut kemana Za dibawa. Mereka meninggalkan Mansion yang masih memiliki suasana sedih didalamnya.


Kecuali didapur, terdapat kepala Pelayan yang pusing memikirkan bagaimana nasibnya. Ia melihat Tuanya marah besar. Sulit untuk mendekat jika Tuannya marah. Dan lagi Ia tidak menduga bahwa kesempatannya sangat begitu kecil sekarang.


Mengingat Tuannya sendiri yang memeluk Evita. apa lagi harapan yang di inginkan olehnya. Semua harapan itu sudah hilang tidak tersisa lagi untuknya.


“Sial!...aku tidak boleh menyerah, aku harus mendapatkan posisiku yang sebenarnya”ucap Kepala Pelayan yang bergegas menghampiri kamar Za. Ia akan melakukan berbagai cara agar bisa mendapatkan Tuannya.


Langkah Kepala Pelayan terhenti saat melihat semua orang pergi meninggalkan Mansion. Ia tidak memiliki kekuatan untuk melanjutkan langkahnya dalam mengejar Tuan nya yang meninggalkan mansion.


“Sebaiknya aku memikirkan rencana yang tepat..”guman Kepala Pelayan.


-


Evita tiba di mansion gagak. Dimana seluruh orang-orangnya sedang berlatih dengan begitu serius. Semua orang tampak fokus.


Namun kefokusan mereka terhenti ketika melihat sebuah mobil tiba di depan mansion. Mereka berbaris dengan cepat, dan mengatur posisi untuk menyambut kedatangan sang Nyonya besar.


Bam!!


Pintu mobil tertutup oleh Evita, wajahnya masih sebam karena kejadian yang belum menghilang dari ingatannya.


Semua orang-orang Evita yang melihatnya langsung menundukkan kepala mereka. tidak ada satu orang pun yang berani mengangkat kepala apa lagi berbicara.


“Hiks!!..Hiks!!!”isak tangis Evita mulai terhenti, namun suara segukkannya belum hilang. Perut yang membuncit itu diusap lembut oleh Evita untuk menenangkan dirinya.


Bam!!!


Intari dan Amelya tiba, mereka terteguh dengan persiapan dari Sebastian. Memang tidak habis pikir oleh mereka. melihat hal seperti ini.


Ada lebih dari ratusan orang berkumpul hanya untuk Evita. mereka sebenarnya tahu Evita sudah mengumpulkan banyak orang-orangnya. Namun tidak bisa dibayangkan sebanyak ini yang berkumpul.


“Evita!”Amelya bergegas untuk mendekat dan memeluk Evita. Intari menyusul memeluk Evita. ketiganya saling berpelukkan dengan begitu lama.


Sebastian yang melihatnya menatap bingung, karena masalahnya tidak ada yang menyuruh para orang-orang ini mengangkat kepala mereka.


“Kembali ke kegiatan kalian”ucap Evita dengan suara serak. Ia bergegas masuk kedalam mansionnya. Disusul dengan Intari,Amelya dan Sebastian.


Didalam Mansion. Evita memilih duduk dengan kepala bersandar di sofa lembut.


“Evita..kau..”


Belum selesai Intari berbicara, Evita sudah mengangkat tangannya. Ia menatap dengan pandangan yang berbeda. Lagi-lagi mereka melihat kepribadian lain dari Evita.


“Aku tahu tindakkanku salah hingga Za harus melepaskanku untuk sementara..tenang aku akan menyelesaikan ini dengan cepat”ucap Evita dengan mata yang kini terlihat biasa saja.


Intari dan Amelya tidak bisa berkata-kata lagi. harapan mereka Za datang dan melarang Evita yang benar-benar kelewatan batas ini.


“Sebastian, kita akan bergerak malam ini juga..aku tidak akan menundanya, aku tidak ingin Za meninggalkanku atau melepaskanku”ucap Evita bangun dari duduknya. Ia melangkah menaiki tangga.


“Dan satu lagi, persiapkan semuanya...aku akan menghubungi Vintorian”


Sebastian mengangguk dan bergegas mengerjakan apa yang diperintahkan. Intari dan Amelya hanya menghela nafas. Mereka duduk diruang tamu dengan kepala yang begitu berat.


“Intari bagaimana ini?”tanya Amelya dengan wajah khawatirnya. Intari yang mendengar langsung menjawab, “Aku tak tahu...yang ku tahu. Kita harus melindunginya”


Menjelang jam 8 malam. Semua sudah bersiap-siap dengan peralatan mereka. Intari dan Amelya juga akan turun tangan. seperti ucapan mereka, mereka akan melindungi Evita dari apapun. Karena ini sebagai balasan dari apa yang telah diberikan Evita kepada mereka.


Tak..tak..tak...


Kepala menoleh melihat kearah seseorang yang mengenakan pakaian lengkap. Disetiap sisi terdapat pistol cadangan yang siap digunakan.


Evita yang turun dari tangga dengan tangan memegang gelang khusus. Gelang itu berguna untuk dirinya. Ia akan mengetahui keadaannya. yang paling utama adalah kandungannya ini, karena ia tidak ingin anaknya kenapa-napa.


“Evita!”Intari dan Amelya mendekat, Evita memberikan dua gelang yang lain. gelang khusus dirancang untuk mereka. semua sesuai dengan pemiliknya.

__ADS_1


Intari dan Amelya langsung mengenakan gelang yang diberikan oleh Evita.


“Dimana Sebastian?”tanya Evita dengan melangkah menuju keruang tamu.


Intari menjawab, “Ia sedang mempersiapkan yang lainnya”


Intari dan Amelya menatap Evita yang duduk dengan tenang. Wajah Evita tidak lagi penuh kesedihan. Wajah dinginnya kembali seperti dulu. Tidak ada rasa takut, khawatir ataupun rasa bahagia.


Tidak lama Sebastian datang dengan kesiapan yang matang. Ia berdiri tak jauh dari Evita.


“Semua sudah siap Nyonya”ucap Sebastian. Evita mengangguk, ia pun berdiri, tangan kanan yang mengunakan gelang khusus diangkat dengan perlahan. Hologram muncul dan menampilkan wajah Vintorian yang menanti mereka.


Pria tua yang merupakan duda satu anak. Ia mengenakan bathrub, dan dengan santai duduk menatap Evita. semua yang melihat hal ini sama-sama berguman.


“Tidak Istri, tidak suami. Mereka sama saja”


Evita duduk dengan perlahan, ia menatap kearah Vintorian yang mengambil sebatang rokok lalu menghisapnya.


“Aku menantimu, kenapa kau begitu lama sekali baby?”


Pertanyaan Mavin Vintorian tidak dihiraukan oleh Evita. ia hanya diam dengan menatap kearah Vintorian.


“Oke aku tahu bahwa aku sudah membuatmu kesal dan marah..mungkin dendam juga akan ada didalam hatimu itu”


Evita tersenyum sesaat, “Dendam?...seharusnya aku sudah tahu bahwa Kau bisa melihat semuanya dengan jelas..saat itu kau yang menghancurkan alat penyadap yang ku pasang dikantormu bukan?”


(Chapter 35)


Saat itu Evita meletakkan alat penyadap yang tidak akan diketahui oleh siapapun. Namun siapa sangka penyadap itu ternyata sudah diotak atik oleh orang lain.


“HAHAHAHAHA, kapan kau menyadarinya Baby?...yeah itu sekarang tidak penting”


Evita tidak menghiraukan lagi ucapan dari Vintorian, ia menatap Vintorian dengan tenang.


“Aku akan kesana Tuan Mavin, mari kita bersenang-senang malam ini”ucap Evita yang melambaikan tanganya. Seketika itu juga semua hologram menghilang dengan cepat.


“Ayo kita berangkat”ucap Evita mengajak yang lain. Intari dan Amelya mengangguk.


Tiba di luar mansion. Seluruh orang-orang Evita sudah bersiap, bahkan mereka menanti Evita untuk keluar dari Mansion.


Evita tidak berbasa basi, ia mengangkat tangannya untuk mengangkat semua kepala yang menghormat kepada dirinya.


“Baiklah...terimakasih untuk kalian semua, hari ini kita akan melawan orang yang sudah berani mempermainkan hidupku. Mempermainkan kematian orang tuaku..mari kita menghadapi si Blue ini”


Semua bersorak dengan cepat saat Evita melangkah memasuki mobilnya. Intari dan Amelya melangkah bersama.


“Raja?”Wajah kaget Intari menatap Pria yang menjadi supir kali ini. Lupa bahwa ia memiliki seketaris pribadi, dan melupakan bahwa ia juga yang menyuruh Raja untuk selalu bersama Sebastian.


“Malam Nyonya”sapa Raja dengan senyum ramahnya. Intari dan Amelya mengangguk, beda dengan Evita yang tidak menunjukkan reaksi apapun.


Mereka berangkat dengan cepat menuju kekediaman Mavin Vintorian yang tidak terlalu jauh dari Mansion Gagak.


-


Mavin Vintorin menatap tak percaya dengan apa yang ada dihadapannya.


Liyana yang diperkirakan akan menolak bahkan menghindari kini menerima cintainya.


“Ehm, ini Liyana..ah..”Mavin Vintorin menatap panik dengan Liyana yang mengulurkan tangannya.


Upaya pendekatan Mavin Vintorin seperti sebuah minyak ketemu air. Tidak pernah menyatu.Tetapi siapa sangka, usahanya memberikan hasil yang luar biasa mengejutkan.


Berdiri didepan air mancur taman kota, Mavin Vintorin berniat untuk serius dengan Liyana, didepan Putra mereka Vino. Ini hanya acara lamaran sederhana, tetapi memberikan kebahagiaan bagi mereka.


“Apa lagi Tuan Mavin?...apa anda tidak ingin menikahiku?”tanya Liyana dengan wajah tenangnya. Mavin Vintorin kewalahan dengan ucapan Liyana.ia mengenggam tangan Liyana lalu mengambil alih Cincin yang tersemat dijari manis.


“Aku tidak bilang begitu”Mavin Vintorin memeluk Liyana dengan begitu bahagia. tidak habis pikir olehnya ternyata usahanya tidak sia-sia.

__ADS_1


“Yeah!!...AYAH!!!”Vino memeluk orang tuanya dengan wajah penuh akan kebahagiaan.


“TUAN MUDA,NONA EVITA SUDAH MENUJU KEKEDIAMAN TUAN BESAR”seorang pengawal berbicara dengan tergesa-gesa. Membuat Mavin Vintorin menatap dengan wajah terkejutnya.


__ADS_2