MANTIV

MANTIV
● Mantiv(122)


__ADS_3

Waktu yang cepat berlalu benar-benar memberikan suasana yang berbeda. Bayangkan titik-titik tadi yang dipimpin oleh, Intari, Amelya dan Sebastian.


Ada lebih dari puluhan orang yang menyambut mereka dengan senjata. Dan berbagai senjata dengan kecepatan dalam menembak timahnya. Namun saat Intari, Amelya dan Sebastian yang sudah lama tidak membunuh orang, akan menghabiskan banyak waktu hanya untuk membunuh para sambutan ini.


Tetapi, Itu hanya pemikiran mereka, Nyatanya dalam beberapa jam. Para sambutan itu tiada, meninggalkan genangan darah yang menghiasi tanah.


Bahkan pakaian yang dipakai oleh semua orang memiliki jejak darah-darah para sambutan mereka.


Dan kali ini, semua melihat lebih dari puluhan pasukkan berpakaian hitam dengan senjata yang siap menembak siapa saja. Dan ditengah-tengah mereka, terlihat seorang wanita tengah menikmati secangkir teh dengan tenangnya.


Semua yang telah tiba kini berdiri dibelakang Evita. Intari dan Amelya serta seketaris mereka melangkah mendekatinya.


“Apa yang terjadi?”tanya Intari yang melihat seluruh pasukkan pria didepannya ini sedang menunggu perintah.


“Aku sudah tiba disini lebih dari 3 jam, dan tak ada yang memberiku sambutan, hanya Aku sepertinya disuruh untuk menunggu”jawab Evita yang membuat kedua sahabatnya menatap bingung.


“Jika kita tak menyerang, ini tak akan berakhir”ujar Intari dengan nafas yang penuh emosi. Saat ini Ia ingin mengakhiri orang yang sudah menganggu kehidupannya.


“Percuma, Intari, mereka sudah menyiapkan yang namanya rencana. Dan kau lihat sendiri puluhan pasukkannya mengelilingi dirinya. Menurutmu kita perlu maju begitu?”tanya Evita yang membuat Intari terdiam.


Intari dan Amelya memandang kearah kumpulan orang-orang bersenjata yang senjatanya tinggal menarik pelatuk untuk menyerang musuhnya.


Jika mereka ingin menyerang, hanya hentakkan senjata yang bisa digunakan. Dan mereka akan tamat dalam waktu kurang dari setengah jam.


“Lalu, Apa yang kau tunggu?”tanya Amelya. Ia hanya penasaran, Kenapa Evita sekarang banyak diam dan kadang berhenti ditengah kegiatannya.


“Aku menunggu yang lain datang”ucap Evita yang tak lama. Suara langkah kaki mendekat dan langsung membentuk barisan yang sama. Yaitu melingkari mereka. bukan hanya diri mereka, Musuh pun masuk kedalam lingkaran yang dibuat.


“Maaf Aku telat”ucap Maya Anita Zahra yang berhasil mengagetkan mereka.


“Tidak, belum dimulai juga kok”jelas Evita yang membuat Maya melangkah mendekat kepadanya.


“Evita, para mafia sedang menonton sekarang”ucap Maya dengan santai.


Intari dan Amelya melihat ke segala arah dan yang didapatinya. Ada sedikit tebing yang terdapat empat orang bertopeng sedang duduk bersantai.


“Apa yang ingin mereka lakukan?”tanya Intari yang mengerutkan alisnya menatap kearah Maya. Teman Evita.


“Tenang Indah, mereka hanya menonton..tidak akan menyerang apa lagi ada orang yang dikenali oleh kalian”jawab Maya yang menyiapkan senjatanya.


“Evita, menurutmu berapa lama semua ini akan berakhir?”tanya Maya yang kini menatap seorang wanita yang tengah terdiam.


“Entah, mungkin salah satu diantara diriku dan dirinya yang akan mati barulah akan berakhir”jawab Evita dengan santainya.


Sekumpulan musuh membuka jalan kecil untuk menunjukkan seorang wanita kini telah selesai dengan teh hangatnya.


“Oh...Hai Evita sayang”ucap Welida yang memakai mantel panjang dengan ciri khas kerajaan.


Evita terdiam mendengar namanya. Bahkan semua orang bungkam ketika Welida berbicara.


“Kemarilah Evita, ada yang ingin ku bicarakan, kali ini Aku tak ingin anak buahku mengorbankan darah mereka hanya untuk bertempur”ucap Welida yang membentangkan tangannya untuk menyambut Evita.


“Aku datang kesini bukan untuk berbicara, tapi untuk membunuhmu”Evita menatap kearah Welida yang tersenyum senang.


“Maka dari itu, kemarilah...tenang saja..mereka tidak akan bertindak tanpa perintah dariku”ucap Welida yang membuat Evita langsung melangkah masuk kedalam lingkaran tersebut.


Semua orang langsung menatap kaget ketika jalan masuk Evita ditutup dengan cepat. Dan para pasukkan itu langsung berjongkok untuk menampilkan dua wanita. Tidak, ada tiga wanita yang dimana salah satunya berada didalam tabung kehidupan.


“Tidak, Aku tidak sengaja...Lagian Aku ingin memberitahumu, Evita Aku menanti kedatanganmu, temui aku dan kita selesaikan apa yang menjadi keinginanmu, tentu saja tak semudah yang dipikirkan....Aku juga sudah menyiapkan sambutannya, jadi nikmatilah..baiklah sistem sudah mulai membaik, kalau begitu sampai jumpa, Aku menantikan dirimu..dan..”


Bisikkan Welida ditelinga Evita membuatnya terdiam. “Ibumu juga menantikan dirimu”


Mengingat ucapan Welida, Evita tak berkedip ketika melihat tabung yang berisi tubuh manusia tanpa busana. Dengan wajah pucat yang tak memiliki kehidupan sama sekali.


“Lihat apa yang ku bilang, Aku dan Ibu Angkatmu menantikan kedatanganmu”jelas Welida tanpa menunjukkan rasa sedihnya.

__ADS_1


Intari dan Amelya serta Maya bahkan yang lain menutup mulut mereka. ketika melihat wanita yang berada ditabung tersebut.


Evita yang tak mengedipkan mata langsung melangkah mendekati kearah tabung. Wanita yang memiliki rambut hitam dengan bola mata biru yang menunjukkan betapa cantik dirinya.


Ketika melihat dari hologram pesan ibu Angkatnya. Evita yang bertahun-tahun tak bertemu lagi merasa Ibu angkatnya benar-benar cantik. Dua ibu nya sangat cantik.


Dan tanpa disadari matanya mengalirkan benih cantik menghiasi wajahnya. Intari dan Amelya yang melihat dari kejauhan juga ikut menangis.


Bayangkan, jika Evita tak memiliki Ibu kandung, maka Ibu angkatnya akan dianggap sebagai Ibu kandung. Karena kedekatan mereka sudah mendarah daging. Dan betapa beruntungnya Evita memiliki dua Ibu. Dimana Ibu kandung dan Ibu angkat yang menyayanginya.


Cara menyayangi dengan tindakkan yang berbeda. Ibu kandung akan selalu menjahili Evita sedangkan Ibu angkat akan memanjakan Evita.


Intari dan Amelya yang sudah kehilangan kehangatan sempat merasakan kasih sayang Ibu Angkat Evita. mereka merasa sayatan didada mereka melihat hal ini.


“Aku sebenarnya ingin dia hidup, apa lagi saat Ia menyamar menjadi asisten dikantorku. Kau tahu, Aku ingin menahan jiwanya sayangnya obatku tak bisa menahannya”Ucap Welida yang langsung mendapati mata tajam Evita yang menatapnya.


Evita mengenggam erat kerah baju Welida. Ia bahkan mengubah matanya yang tadi coklat kehitaman kini berubah menjadi warna merah padam.


“Ah...Lihat..Lihat matamu, Itu yang ku cari...itu yang ku cari..hahaahhhahaha Evita, kau memang eksperimen sempurnaku”ucap Welida yang membungkam Evita.


“Maksudmu...Eksperimen, jangan bilang Intari dan Amelya juga terkena eksperimenmu....?”Tanya Evita yang kini memiliki gambaran jelas.


Yeah sangat jelas,


Didalam ruangan penuh akan bau obat-obatan yang berhasil membuatnya mengeringitkan alis.


“Suntikkan serum itu kepadanya, Aku ingin melihat bagaimana tubuhnya menahan serum pemuas nafsu yang ku sempurnakan”ucap Welida yang menatap kearah Evita.


“Evita sayang, setelah ini Kau akan dipindahkan kedalam ruangan lain, lalu kemudian kaburlah”ucap Welida kepada wanita yang mulai memejam akan matanya


Kilasan ingatan itu muncul dengan gambaran tambah jelas. Evita memundurkan langkahnya yang membuat Welida tersenyum.


“Sepertinya Ingatanmu sudah jelas ya Evita sayang”ucap Welida yang membuat Evita menatapnya.


“Baiklah, saatnya kita lihat siapa yang akan tertawa sampai akhir”Welida menjentikkan jarinya dan seketika itu juga. Seluruh pasukkannya terbakar layaknya seorang yang dijadikan tumbal.


“Tenang saja, mereka semua sudah mati..hanya Nyawa mereka saja yang belum dijemput oleh malaikat maut”ucap Welida dengan santainya.


Welida melangkah mendekati meja yang terdapat sebuah botol kecil berisikan pil yang sama dengan milik Evita,Intari dan Amelya.


“Evita ingat Pil ini?”tanya Welida yang berhasil membungkam semua orang. Percuma ingin menyerang. Api yang membakar tubuh begitu membara. Dan yakinlah para pasukkan Welida akan menjadi abu dalam beberapa waktu.


“Kau pasti ingat, baiklah aku yang mengirim pil ini...Pil yang menghapus beberapa ingatanmu termasuk orang terpenting dalam hidupmu, tapi sungguh beruntung untukmu Evita, kau bisa mengingat keluargamu dengan jelas meski ada beberapa yang tak kau ingat”ucap Welida yang menjelaskan pil ditangannya.


“Pil ini bertahan sampai 5 tahun bahkan lebih jika tak ada yang memicu untuk menghentikan pil yang berkerja ini”


“Yeah ku akui Liyana mampu membuat tablet untuk menghentikan Pil ini berkerja didalam tubuh kalian..dan sekarang kalian bisa mengingatnya”Welida meletakkan kembali botol berisikan pil yang ada.


“Baiklah, Evita..Aku akan mengembalikan Ibu Angkatmu itu, lagian tubuh yang sudah mati tak bisa berguna lagi”


“Berani kau mengatakan hal tersebut”ucap Evita yang membuat Welida tersenyum.


“Yeah Aku berani, karena lagian selama ini, Kau tak mengetahui bahwa Akulah yang membunuh keluargamu bukan?”


Evita bungkam mendengarnya. Memang benar, seandainya Ia berkerja dengan baik, mungkin Welida sudah tertangkap dan mati ditangannya.


“Kau bermain-main dengan bawahanku yang aku kerjakan..sudahlah itu tak penting..baiklah pertama Aku akan menjawab pertanyaanmu tentang kenapa Aku membunuh Ibu kandungmu”ucap Welida yang tampak tahu jalan pikir Evita.


“Sebenarnya seperti yang dijawab oleh anak buahku, kematian Orang Tua kandungmu itu karena ketidak sengajaanku, Aku sedang mencoba sebuah eksperimen tentang kabut yang akan digunakan untuk senjata mafia, namun malah membuat kecelakaan orang tuamu, itu benar-benar ketidak sengajaan”ucap Welida.


“HA....kalau ketidak sengajaan, kenapa semua bukti kalian hilangkan?”tanya Evita.


“Dengar dulu Evita sayang, Setelah diselidiki siapa yang mati ditempat itu, kami tidaklah pergi, Kami hanya bersembunyi saat kedatanganmu, dan yang menariknya seluruh Pemimpin Mafia mengenal dirimu, Kau merupakan salah satu Queen yang cari oleh mereka”ucap Welida.


Evita terdiam mendengarnya. Intari dan Amelya juga terdiam. Tidak dengan para suami mereka yang mengerutkan alis tak paham dengan jalan pembicaraan ini.

__ADS_1


“Dan karena itulah Kami menyembunyikan segalanya untuk memancing dirimu keluar. Banyak yang diambil, apa lagi ketika mengetahui bahwa dirimu seorang cucu dari keluarga Alex”jelas Welida.


Evita mengeleng kepalanya “Queen?...Aku tahu bahwa Ayah Angkatku seorang Mafia, tapi Aku tak tahu gelarku apa didalamnya. Selama ini Aku hanya seorang penerus dari keluarga Kim. Dan Aku tak mengerti Queen yang kau sebut itu”


Evita tak berbohong. Ia memang tak tahu tentang perkara Queen dan semacamnya. Yang diketahui olehnya, Ia merupakan seorang penerus yang akan meneruskan jabatan Ayahnya didalam dunia Mafia.


Dan Saat ini Evita belum mendapatkan izin untuk bisa menaiki posisi tersebut. Sekarang Ia adalah Queen mafia. Apa maksudnya itu.


“Hmmm..mungkin karena kedua orang tuamu tak mengatakan yang sebenarnya, jadi Kau tak tahu apapun”ucap Welida dengan santai.


Evita terdiam lagi. Welida melanjutkan “Ada satu hal lagi, Evita...Kau sudah menikah bukan, bahkan Sahabatmu juga sudah menikah bukan?”tanya Welida yang langsung mendapatkan jawabannya.


“Apa Kau tahu, Sahabat mu dan dirimu yang memakan Pil buatanku, ada resikonya..Yaitu tak bisa hamil”


Evita,Intari dan Amelya menatap dengan pandangan yang penuh keterkejutan luar biasa mendengarnya.


-


Mavin Vintorin mencoba mengecek lokasi Evita saat ini. Dan yang didapatinya Evita tengah berada dikota Q dengan titik kordninat yang berbeda.


“Dia, ada ditebing?”benak Mavin yang melangkah bangun dari duduknya. Seorang anak buahnya mendekat dengan wajah tergesa-gesa.


“Tuan, melapor, Tuan Besar sedang menuju ketebing perbatasan antara Kota Q dan Kota N”lapor bawahannya dengan nafas yang memburu.


“Ayah?”Bawahannya mengangguk menjawab ucapan Mavin.


“Baiklah, siapakan mobil, Kita akan kesana sekarang”Ucap Mavin lagi yang langsung bergegas untuk bersiap.”Aku tak tahu apa yang terjadi, tapi firasatku buruk dalam hal ini”benak Mavin.


Bukan hanya dirinya, Derka Jamesta yang berada dikota Q saat ini menikmati waktu Istirahatnya. Namun perasaan tak enaknya menghantui dirinya.


Ia begitu merindukan seorang wanita dan ingin segera bertemu dengannya. “Ada apa Derka?”tanya Ravel yang membawakan minuman untuk Tuannya ini.


Derka mengeleng namun kemudian Ia berbicara “Ravel, didekat sini apa ada tebing?”tanya Derka dengan wajah yang penuh kesedihan.


Ravel yang mengenal Derka sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu. “Untuk apa ketebing..memang dikota Q ada banyak tebing tapi tebing yang tinggi ada diperbatasan antara kota Q dan Kota N”jawab Ravel.


Belum selesai Ia berbicara, Ia melihat Derka mengenakan mantelnya dan bersiap untuk pergi.


“Kemana?”tanya Ravel.


“Aku ingin kesana, sepertinya akan terjadi sesuatu”jawab Derka yang langsung diikuti oleh Ravel.


Dan bukan hanya Derka dan Mavin yang merasa gelisah.Nabila yang menunggu waktu satu jam lagi untuk menunjukkan pukul 8 malam merasakan kegelisahan yang berat.


“Ibu, boleh aku pergi”ucap Nabila dengan wajah yang penuh air mata.


Ibu Nabila yang melihatnya merasa aneh dengan putrinya ini. “Kenapa denganmu dan matamu itu?”


Nabila langsung menjawab “Ibu, sepertinya ada yang akan pergi, Ku mohon izinkan Aku melihatnya”ucap Nabila yang langsung membuat Ibu Nabila bingung.


“Tapi pertemuan ini?”tanya Ibunya. Nabila menjawab dengan mengambil tasnya. “Ibu, Aku mencintai pria lain, dan jika Ia mencintaiku, Aku akan menemukan kalian”ucap Nabila yang langsung cabut pergi meninggalkan Ibunya yang kebingung.


-


Mavin,Derka dan Nabila yang berada dilokasi berbeda kini bertemu dalam jalan yang sama. Dalam waktu yang sama mereka masing-masing mengendarai kendaraan mereka. Mavin dengan mobil, dan Derka serta Ravel juga mengunakan mobil beda dengan Nabila yang menancamkan gasannya dengan motor yang didapat dari hadiah anggota detektif.


Perjalanan mereka lancar seakan-akan tahu bahwa saat ini ketiganya mengalami kegelisahaan.


40 menit perjalanan mereka, akhirnya tiba ditempat. Dan terlihat dibeberapa titik untuk ketebing banyak manusia yang sudah dijemput oleh malaikat maut.


Nabila yang melihatnya mengerutkan alis. Bukan hanya dirinya Derka dan Mavin juga sama. Bahkan Ravel juga itu meringit.


Dan wajah meringit mereka makin parah saat melihat sekumpulan orang yang dibakar hidup-hidup dalam keadaan siaga untuk menembakkan senjata.


Terlihat Evita dan Welida yang berdiri berlawanan dengan suasana mencengkam.

__ADS_1


Mavin keluar dari mobil, Nabila yang langsung berlari mendekati Intari dan Amelya. Serta Derka yang juga keluar dari mobil.


Derka dan Mavin melangkah hingga mereka tiba didekat Za yang terdiam berdiri tak bisa bergeming sama sekali.


__ADS_2