
“Perkenalkan Saya Evita”ucap Evita yang memperkenalkan diri kepada Orang tua dari calon seketarisnya ini.
“Saya Ibu Lee Sebastian Nak..dan ini Suami saya...ada apa ya Nak dengan kedatangan kamu”ucap Ibu Lee Sebastian yang mengenakan baju kumuh karena habis dari kebun.
Sebelum tiba disini, Indah dan Evita sempat memandang kearah lahan yang menjadi rebutan. Ia jadi mengerti kenapa Calon Seketarisnya itu berkelahi tadi.
“Maaf sebelumnya Ibu, saya datang kesini bukan untuk bermaksud aneh, saya hanya ingin meminta izin kepada Ibu, untuk memperkerjakan Lee Sebastian menjadi seketaris saya...”ucap Evita. Indah yang berada disampingnya hanya menikmati kue basah yang disajikan, serta teh hangat tentunya.
“Berkerja sebagai seketaris..sangat senang kami mendengarnya, tapi nak Evita, bagaimana bisa Putra saya yang berusia 15 tahun ini bisa berkerja seperti itu”ucap Ibu Sebastian yang menatap dengan teduh kearah Evita.
Evita tersenyum mendengarnya. “Bu...tidak perlu takut, Sebastian akan mendapatkan pelajarannya, dan akan saya pastikan pendidikkannya..anda tidak perlu khawatir..hanya ada satu masalah Ibu.....Anak Ibu akan saya bawa kekota..”ucap Evita yang membuat Ibu dan Ayah Sebastian terdiam.
Indah yang melihat hal ini berbisik kepadanya, “Evita..apa kau yakin, kalau dilihat sepertinya sulit untuk mendapatkan Sebastian itu”
Evita yang mendengarnya menatap dengan melirik, ia berbisik “Justru sulit didapat itu yang seru, karena kemungkinan Sebastian ini sangat langka”
Mendengarnya, Indah mengeringit. “Apa maksudnya..kau ingin menjadikannya kekasihmu”celetos Indah lewat bisikkannya.
Evita memutar bola matanya, “Ya tidak lah...lagian aku hanya ingin mengembangkan bakatnya itu, bukan untuk menjadi kekasihku..aku sudah menganggapnya sebagai seketarisku”bisik Evita. Indah hanya mendengus mendengarnya.
Ibu dan Ayah Sebastian kembali menatap kedua orang yang menjadi orang asing ini. Apa lagi salah satunya dengan mudah memberikan pekerjaan untuk putra mereka.
“Nak Evita....terimakasih ya sudah menawarkan pekerjaan untuk Sebastian....untuk izin, kami mengizinkannya....anda akan menjaga putra kami kan?...dan Sebastian ambilah keputusan yang kau sendiri tak akan menyesalinya...”ucap Ibu Sebastian yang memberitahukan kepada dua orang dihadapannya. Putra dan orang asing yang ada ini.
“Tentu..saya akan menjaga Putra anda”Janji Evita yang membuat Indah menatap haru.
Sebastian yang duduk disamping Ibunya mengangguk, “Terimakasih Ibu....Sebastian akan berkerja dengan baik..”ucapnya kepada ibunya.
Ia melanjutkan dengan menatap Evita meski sedikit menundukkan kepala “Nona Evita....saya menerima perkerjaan itu”ucapnya.
Evita dan Indah yang mendengarnya langsung tersenyum. “Baiklah..Sebastian siapkan dirimu..kita akan langsung kekota hari ini..maafkan aku yang mendadak seperti ini”
Ibu Sebastian mengeleng. “Tidak Nak Evita...anda tidak perlu minta maaf, ini mungkin rejeki kami yang datang tiba-tiba”ucap Wanita itu.
Evita yang mendengarnya tersenyum. Sebastian bergegas menyiapkan diri untuk ikut. setelahnya, mereka pun pamitan dan kembali kekota.
-
Dalam perjalanan Pulang Indah dan Evita sedikit bercerita masalah restorant tadi. Mereka berdua duduk dibelakang sedangkan Sebastian duduk di kursi depan bersama supir Indah.
“Evita...bagaimana menurutmu dengan lokasi itu...agak sedikit aneh gak sih, bukannya restorant itu harusnya ditempatkan dikota-kota ya”ucap Indah yang memikirkan lokasi tadi.
“Menurutku sih iya..tapi melihat lokasi yang ditentukan olehmu itu sedikit bagus Indah, karena banyak orang-orang asing yang akan mencari tempat tinggal, salah satunya didesa itu. Menurutku pas aja sih”Ucap Evita yang menatap layar ponselnya. Terdapat tulisan Reza yang menelponnya. Tapi Evita tidak berniat mengangkatnya.
“Kalau begitu, ku harap si pemilik Restorant itu menyetujui hal ini...tapi kalau aku ditanya-tanya nanti gimana”Indah mulai berpikir negatif tentang urusan restorantnya ini.
“Jika ia bertanya, kenapa memilih lokasi itu, jelaskan dari sudut pandanganmu..seperti menurut saya tuan, tempat itu sangat cocok, kenapa..karena jika orang-orang melangkah memasuki area desa, yang pertama kali dilirik mereka adalah restorant ini..dan jika di tanya, kenapa bisa seyakin itu, kau tinggal menjawab karena desa ini semakin lama akan semakin padat penduduk, dan bisa saja menjadi sebuah kota nanti... singkat bukan?”ucap Evita yang menjelaskan apa yang ada diotaknya.
Indah yang mendengarnya mengangguk. “Baiklah aku mengerti..terimakasih Evita, kau menemaniku dan membantuku lagi..dan lagi..”
“Itulah gunanya aku sebagai sahabatmu”ucap Evita. membuat Indah tersenyum mendengarnya.Tak berapa lama, mereka tiba dikediaman Evita.
“Evita..kau yakin disini...”ucap Indah, sebenarnya ia masih menyimpan rasa curiga dengan sahabatnya ini. Meski bukan terbilang anak manja, ia tetap dimanjakan oleh dua orang tuanya. Tak mungkin kan orang tuanya tiba-tiba bisa tenang dari anak kesayangan mereka. kecuali orang tua kandung Evita yang biasa-biasa saja.
“Iya dong..lagian aku harus belajar hidup mandiri..sebagai wanita bermarga Kim dan Alex. Aku tak boleh terlihat manja”ucap Evita yang menyakini Indah.
__ADS_1
Indah yang mendengarnya mengeleng. Ia pun mengangguk “Baiklah...Nyonya Muda ini sangat keras kepala..rada sulit memang..kalau begitu sampai jumpa besok disekolah”ucap Indah didalam mobil yang kemudian berlalu dari pandangan Evita dan Sebastian.
Sekarang yang mereka lihat adalah seorang Pria yang mengenakan jas biru tua. Dia tak lain adalah Reza yang menatap tajam kearah Evita.
Evita bodoamat, ia melangkah yang diikuti oleh Sebastian. Reza yang melihatnya langsung menegur. “Kau pelayan tidak boleh mengikuti Nyonyamu”ucap Reza.
Evita yang mendengarnya langsung menegur. “Dengar Reza..dia bukan pelayan disini..dia seketaris baruku, jadi hati-hati berbicara..ah dan satu lagi tolong siapkan kamarnya..ia akan tinggal disini untuk sehari”ucap Evita yang kemudian melangkah masuk kedalam.
Sebastian sempat bingung, karena ia tahu bahwa Pria yang bernama Reza ini sangat dekat dengan Nyonya-nya. Tapi hubungan mereka sedikit berbeda.
“Masuklah”ucap Reza yang kemudian melangkah.
Didalam rumah, pelayan menyambut kedatangan pemilik rumah. Evita melambaikan tangannya untuk menyambut sapaan itu. ia melangkah keruang tamu untuk menyampaikan beberapa hal.
“Sebastian”panggilnya. Yang membuat sang pemilik nama langsung berdiri didekat Evita. membuat Evita tertawa melihat tingkahnya.
“Hahahaha...Sebastian..santai, jangan tegang..ini bukan lagi ujian maut atau apa, sudahlah lebih baik kau duduk disana..dan Reza ikut duduk”ucap Evita kepada dua pria yang kini langsung duduk mendengar perintahnya.
“Bagus...ah kalau begitu, pertama..Bibi”panggil Evita kepada pelayan dirumahnya. Yang pasti sudah berumur. Sekitar 40 tahun lah.
“Iya Nyonya”datang Pelayan yang langsung sigap menerima tugasnya.
Evita menatap kearahnya, “Bi siapkan kamar untuk dia...dia adalah tamuku, tidak dia adalah seketarisku”ucap Evita bangga. Membuat Reza menatap dengan pandangan tak suka. Hal itu berhasil menarik perhatian Sebastian yang ada diseberang Reza.
“Baik Nyonya...”ucap Pelayan yang langsung bergerak memenuhi tugasnya.
Evita kembali fokus, “Baik..pertama Sebastian kau akan disekolahkan terlebih dahulu woke...tenang saja untuk masalah uangnya, aku akan menjaminnya...asal kau sekolah dengan benar”ucap Evita yang mendapat anggukkan oleh Sebastian.
Setelahnya Evita beralih menatap Reza yang juga menatapnya. “Dan Reza...besok sore..aku akan mengadakan rapat berdua denganmu..jadi atur waktumu dengan baik..namun jika perusahaan lebih padat jadwalnya..maka beritahukan aku tentang itu”ucap Evita.
“Baik..akan ku lakukan Nyonya Muda”ucap Reza. Evita yang mendengarnya mengangguk. Ia pun memilih untuk mengakhir rapat singkat itu. karena waktu juga sudah menunjukkan jam 9 malam. Ia memilih untuk istirahat.
-
“Kemana saja kau.....dan ngapain?”tanya Hun Kai yang kini melangkah berjalan kemobilnya. Amelya yang mendapat pertanyaan itu hanya bisa mendengus.
“Aku minta maaf...tapi tadi ada seseorang yang sedang berkelahi..untungnya sempat dihentikan”jelas Amelya. Namun Hun Kai benar-benar tidak percaya akan ucapannya.
Hun Kai membuat Amelya merasa tersiksa, karena baru kali ini Amelya diperlakukan seperti ini. Apa lagi oleh seorang laki-laki. Hun Kai tak tanggung-tanggung menarik tangan Amelya. Hingga tangan itu berbekas dipergelangan tangannya.
“Sial ini cowok main kasar”benak Amelya. Ia bahkan di paksa masuk terlebih dahulu saat setelah membeli gaun tadi. Hun Kai masih marah hanya perkara kecil.
Didalam mobil, mereka tidak saling bicara, Amelya memilih untuk berdiam diri dengan mengenggam tangannya. Sudah sangat memerah karena Hun Kai mengenggam terlalu keras.
“Dengar..Amelya..pertama jangan pernah ulangi lagi, kau itu harus izin dan memberitahuku..jangan asal pergi seperti tadi...kalau kau menikah denganku, perhatikan hal itu..dan kalau kau masih perduli dengan Ayahmu itu”ucap Hun Kai yang kini menatap ponsel pintarnya.
Melihat tingkah yang biasa saja. Membuat Amelya berpikir Hun Kai telah tenang. “siapa juga yang ingin menikah denganmu”benak Amelya. Meski menolak tapi tidak bisa berbuat apa-apa.
Mengingat hal itu membuat Amelya merasa bergemuruh. Kalau saja ia tidak memikirkan rahasianya sebagai detektif. Sudah dipastikan ia akan menghajar pria yang berani menyakitinya.
Saat ini Amelya tengah mengerjakan tugas-tugas sekolah. Untuk tangan yang memar tadi sudah diamankan olehnya.
“Sekarang tugas sudah selesai...tinggal memikirkan bagaimana caraku menutup bekas luka ini....ah iya aku baru ingat, untung aku sudah membeli banyak stocking ini”ucap Amelya yang melihat kearah lemarinya.
Selama mengenakan rok pendek, Amelya tidak pernah menunjukkan kulit kakinya. Ia memilih untuk mengunakan stocking. Ia tidak pede kalau kaki jenjangnya menjadi sorotan orang-orang.
__ADS_1
Setelah semua barangnya telah siap, niatnya ingin tertidur. Tapi pintu kamarnya diketuk oleh seseorang.
“Nak..kau sudah tidur?”tanya Ayah Amelya yang berada diseberang pintu.
Amelya menjawab “Belum Ayah”ucapnya yang kemudian membukakan pintu. Melihat sang Ayah yang berwajah sedih.
“Ada apa Ayah?”tanya Amelya. Ayahnya kembali menunjukkan wajah tersenyum meski terpaksa.
“Nak..bagaimana kabarmu?”tanya sang Ayah yang baru bisa bertemu putrinya. Selama pertunangan itu rada sulit untuk melihat anaknya sendiri.
“Aku baik Ayah....sangat Baik”ucap Amelya yang kini memeluk Ayahnya. Ibu Amelya yang melihat interaksi Ayah dan Anak itu merasa bahagia.
“Syukurlah...nak Kami ada kabar..bahwa dua hari lagi, pertunangan kalian akan dilangsungkan”ucap sang Ayah tanpa basa basi. Membuat Amelya menelan pahitnya apa yang didengarnya.
“Iya Ayah...lebih cepat lebih baik bukan”ucap Amelya yang membuat kedua orang tuanya langsung memeluknya. Tak ada lagi yang bisa mereka lalukan. Bergerak sedikit saja, Amelya akan ikut mereka. akan bahaya jika putri mereka ikut terseret dalam kasus hutang perusahaan.
-
Kepagian harinya..
Indah bangun diapartement milik sahabatnya ini. Ia bergegas mandi dan mempersiapkan diri. Untuk siapa yang masak dan siapa yang bersih-bersih apartementnya. Tentu saja Indah sendiri.
Ia ingin hidup mandiri meski banyak uang. Benar Indah masih memiliki dua kartu blackcard dari peninggalan orang tuanya. Tapi uang itu tidak pernah tersentuh.
Indah bukannya tidak ingin mengunakannya. Ia hanya ingin menyimpan dulu. Siapa tahu nanti akan berguna untuknya juga. Lagian uang dibank lain masih cukup untuk membiayainya.
“Astaga..tugas b ing ku....dan tugas matematikaku...aduh gimana nih..”Indah baru sadar bahwa ia masih punya tugas sekolah. Ia melupakannya karena mengingat tentang urusan retorant tadi malam.
Ia juga sih yang salah, saat tiba diapartementnya. Ia memilih untuk tidur dari pada mengecek tugasnya. Dan ini hasilnya.
Dengan cepat Indah memeriksa tugas apa saja yang ada. ia mengerjakannya meski tahu bahwa itu serasa sia-sia. Yeah lebih baik dikerjakan dirumah. Kalau ditanya kenapa telat tinggal bilang tadi ada sesuatu yang membuat telat.
-
Berbeda dengan Indah, Evita tengah santai menikmati sarapannya. Ia tahu bahwa ada tugas sekolah, tapi ia sudah mengerjakannya saat mereka belum kedesa. Jadi untuk apa repot.
Ia menghabiskan sarapan yang dihidangkan. Sarapannya bukan roti. Evita lebih memilih sarapan ala kampungnya. Makan nasi dengan es dingin sebagai pelengkap.
Nasi yang disajikan, bersama dengan ayam bakar dan soup hangat terhidang dimeja. Ia menghabiskan tanpa berpikir panjang. Sebastian dan Reza juga ikut sarapan. Tapi mereka memilih untuk sarapan roti.
“Habis ini, Sebastian kau ikut aku kesuatu tempat....”ucap Evita yang telah menghabiskan makanannya. Ia pun melirik Reza setelah berbicara dengan Sebastian.
“Ah Reza ingat yang ku katakan tadi malam...jangan lupa woke”Reza yang mendengarnya mengangguk. Setelahnya Evita dan Sebastian berangkat dengan mobil yang sudah disiapkan oleh Reza.
Reza yang melihat kepergian Evita, membuatnya murung. “Apa aku tidak bisa menjadi seketarismu”benak Reza.
-
Berbeda dengan kedua sahabatnya. Amelya harus menghadapi pria yang saat ini mulai lebih sedikit mengekangnya. Ia bahkan tidak diijinkan melihat kearah lain. padahal Amelya didalam mobil. Orang luar tidak akan melihatnya bukan.
“Ingat...disekolah nanti tetap ada disisiku. Jangan jalan atau pergi tanpa seizinku”ucap Hun Kai yang mulai menyetir mobil. Mobil yang mereka pakai kali ini akan langsung membawa Amelya keacara yang akan diadakan nanti malam. Yeah acara makan malam keluarga. Maka Hun Kai membawa mobil agar bisa langsung kesana. Padahal mereka sampai sore sekolah, dan perlu membersihkan diri. Rasa stres memang.
“Ya”jawaban singkat dan padat dari Amelya. Sudah malas ia meladeni orang yang tingkat tololnya ini benar-benar tinggi.
Mereka akhirnya tiba disekolah. Namun Amelya sedikit kaget dengan apa yang dilihatnya. Kebetulan yang tak terduga.
__ADS_1
“maafkan aku Evita..Indah”benaknya yang kemudian melangkah keluar mobil. Ia mengandeng tangan Hun Kai dengan wajah gembira. Sambil melewati dua orang yang juga akan masuk kegerbang sekolah.
“Begini baru benar”ucap Hun Kai yang kemudian melangkah dengan wajah yang bahagia. Membuat Amelya sedikit menahan rasa muntahnya.