MANTIV

MANTIV
● Mantiv(105)


__ADS_3

“Bagaimana rasanya dipuji?”tanya Evita yang menatap kearah Za.Yang ditatap hanya diam tak berbicara. Membuat Evita mendengus dan melangkah masuk kedalam rumahnya.


“Iya..pasti senang dipujikan....”ucap Intari yang melangkah pergi menyusul Evita, begitu juga dengan Amelya yang melangkah mengikuti kedua sahabatnya. Meninggalkan tiga pria yang menatap bingung.


“Siapa yang dipuji?”tanya Echan yang menatap kearah dua orang yang lebih tua darinya. Za dan Yoongi hanya mengangkat bahu tanda tak tahu.


-


Diruang tamu...


Intari duduk sambil memeriksa ponsel yang ada didepannya. Tertera berjuta informasi yang harus diperiksa olehnya. Mulai dari pemeriksaan dokumen perusahaan sampai dektetif. Namun bukan Intari namanya jika ia tak mengunakan seketarisnya. Ia mengirimkan semua dokumen yang didapat untuk seketarisnya yang membalas dengan cepat.


“Seketaris yang dijadikan korban”ucap Amelya yang datang membawa kue kecil hasil buatannya. Intari yang mendengarnya hanya terkekeh.


“Lagian Ia juga mendapatkan gaji yang cukup untuknya”ucap Intari yang mengambil kue kecil buatan Amelya.


“Bukan Indah Lestari kalau engak memanfaatkan sesuatu”ucap Evita yang datang dengan membawa laptop ditangannya.


“Heheh....ooh ya..Evita apa kau akan memulai rencanamu?”tanya Intari yang melihat Evita duduk didepan mereka.


Za,Yoongi dan Echan masuk kedalam rumah melihat tiga wanita yang asik bercerita. Mereka memutuskan mengunakan halaman untuk berdiskusi masalah kasus kepolisian. Membiarkan momen tiga gadis yang bersahabat ini penuh dengan kebahagiaan sebelum menghadapi perang yang tak diketahui kapan akan terjadi.


Amelya mengangguk, ia menatap kearah Evita yang asik mengetik sesuatu. “Aku sebenarnya sudah lama memikirkan ini....”


Evita menatap kearah Dua Sahabatnya. Ia melanjutkan “Tahukah Kalian ada sebuah hotel yang dijadikan tempat perjudian....dan hotel ini milik seseorang”Intari dan Amelya mendengarnya dengan seksama apa yang dijelaskan oleh Evita.


“Hotel tersebut tak lah penting...yang terpenting Yelina berada disana....Aku akan pergi kesana tentu saja dengan menikmatinya..namun sebelum kesana, Aku akan melakukan perjalanan besok”


Intari meringit mendengarnya “Perjalanan?”Intari sebenarnya sangat penasaran apa isi otak Evita. karena selama ini kadang mereka hanya mengikuti apa yang sudah direncanakan tanpa mengetahui detail dari rencana itu.


“Iya..Aku akan kemansion yang satunya lagi”Amelya dan Intari menatap datar kearah Evita. “Evita...sudah bertahun-tahun kita bersama, sebagai Sahabat. Saudara sesumpah...Aku penasaran berapa banyak mansion yang kau punya?”Tanya Amelya yang tak pernah banyak bertanya. Kini rasa penasaran telah menurunkan gensinya untuk tidak bertanya.


“Oh....itu hmmm....”Evita mengingat berapa banyak yang dipunya olehnya. Bukan merasa sombong atau berfoya-foya. Hanya saja semua Mansion itu dibeli olehnya karena beberapa alasan. Seperti ketika urusan perkerjaan, Evita akan memutuskan untuk membeli rumah atau mansion untuk ditingalinya dari pada menginap dihotel. Menurutnya itu terlalu ribet. Padahal yang ribet itu Sebastian. Ia yang mengatur semuanya meski masih ditangani oleh Evita.


“Sudahlah..tak perlu dihitung...Aku yakin diseluruh pelosok kota, Kau sudah memiliki tempat untuk ditinggali”ucap Intari yang melanjutkan cemilannya. Amelya mengangguk, memang benar tak perlu dihitung nanti mereka tambah pusing mendengarnya.


“heheh....Kalau begitu Aku titip rumah ini kekalian ya.”ucap Evita yang melangkah untuk kekamarnya. Intari dan Amelya hanya mengangguk mendengarnya.


-


Dihalaman depan, Echan dan Yoongi menatap kearah leher Za yang memerah. Semenjak melakukan diskusi dengan Kakak mereka ini. Hal yang menarik perhatian mereka adalah tanda merah yang ada dileher Za.


Echan dan Yoongi taklah bodoh. Mereka sama-sama lulus meski diusia yang berbeda-beda, beda bulan doang. Intinya Mereka bukan anak kecil yang beransumsi kalau tanda merah itu bekas gigitan nyamuk. Itu tak mungkin.


Karena Echan yang mudah bicara, ia menatap kearah Za yang menatap kearah mereka berdua.


“Kenapa?”tanya Za. Ia sedikit merinding ditatap begitu intes oleh Kedua orang didepannya ini.


“Kak Za..Itu dilehermu..ada tanda Merah”ucap Echan dengan menunjuk kearah leher Za. Za yang mendengarnya langsung menutupi tanda tersebut.


Echan dan Yoongi yang melihatnya hanya bisa terdiam sambil membenak “Kak Za..pasti sudah melakukan itu kan?”benak mereka.


Za yang merasa tak perlu menutupi lagi hanya bisa menghela nafas. Ia menatap kedua orang didepannya ini. “Dengar...Aku melakukannya juga akan ku tanggung akibatnya...untuk kalian...”Za tak melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


Echan dan Yoongi mengangguk, mereka mengerti pasti ada alasan dibalik Za melakukan itu bersama Evita. dan malah bersedia menanggung akibatnya sendiri.


Keluarga besar Zhan memiliki aturan bukan?. Dan yang melanggarnya akan mendapatkan hukumannya. Alasan kenapa Yoongi dan Echan masih menahan diri, karena hukuman ini. Yeah meski itu berlaku kepada mereka, bukan berarti orang yang sudah menyandang nama mereka tak kena masalah.


Yoongi dan Echan yang sudah menikahi Intari dan Amelya. Saat nanti diketahui oleh Keluarga besar. Maka hukuman akan diterima oleh Yoongi dan Echan. Tentu saja Intari dan Amelya akan menerimanya. Karena akan sama-sama menanggung apa yang telah diperbuat.


Kalau perkara menikah mungkin tak akan terlalu berat hukumannya. Tapi menyentuh wanita itu tanpa memperkenalkan orang tersebut. Hukumannya akan lebih berat. Maka Yoongi dan Echan tak pernah menyentuh Intari dan Amelya sampai kelewatan batas. Mereka berdua ingin Istri mereka tak mendapatkan masalah nanti.


Namun itu hanya pemikiran mereka, keduanya tak menduga bahwa Kak Za akan melakukan hal yang sudah melewati aturan keluarga. Dan hukumannya nanti kemungkinan besar diterima keduanya.


“Kak Za.....ku harap Kak Za bisa membuat kakak Ipar bahagia”ucap Echan yang mengubah suasana penuh dengan hawa lain itu. Yoongi mengangguk.


“Terimakasih..memang itu yang ku inginkan”ucap Za yang kembali menatap kelayar ponsel. Terdapat puluhan panggilan yang masuk. Tapi tak satupun yang dibalas olehnya. Melainkan mengirim pesan bahwa Ia akan bertemu setelah urusannya selesai.


“Kak Za....Jadi apa rencanamu..seperti yang kita ketahui.bahwa seluruh keluarga mencarimu”ucap Yoongi yang kini menatap lekat kearah Za. Pria yang sangat disayangi oleh Para Kakek mereka.


“Aku tahu...itu tak penting untuk sekarang...Aku hanya akan kembali setelah Evita menyelesaikan urusannya. Mencari dalang kematian orang tuanya”Za terdiam memikirkan apa yang akan dilakukan Istrinya itu.


Berbeda dengan Za,Yoongi dan Echan hanya bisa mengangguk dengan pilihan Za ini. Namun hal yang tak bisa mereka pungkiri adalah ketika keluarga Besar turun tangan untuk mencari Za. Lebih tepatnya mereka bertiga.


Ibu dan Ayah mereka sudah menghubungi mereka berdua berkali-kali. Dan Yoongi hanya membalas bahwa ia tengah sibuk. Sedangkan Echan membalas ia sedang ada keperluan. Dengan alasan utama tak bersama dengan Za. Yang berarti mereka telah melanggar aturan juga hanya demi satu orang.Keamanan Istri mereka.


-


Seperti yang dikatakan oleh Evita. ia pergi pada pagi harinya mengunjungi kediaman yang satunya. Evita berangkat dengan Za yang kini telah menjadi pendamping hidupnya.


Selama perjalanan tak ada yang saling berbicara. Hingga Evita memutuskan untuk membuka suasana. “Za”Panggil Evita sambil menatap kearah jendela mobil. Perjalanan yang ditempuh memakan waktu 4 jam.


“Kenapa kau ingin menikahiku?”Evita bukannya merasa tak senang. Ia hanya ingin meyakinkan hatinya. Bahwa Pria disampingnya adalah orang yang mencintainya bahkan bisa melewati batasan hanya untuk dirinya.


“Kau bertanya?..lalu Aku juga ingin menanyakan hal yang sama, Kenapa Kau setuju menikahiku?”Evita yang mendengar ucapan itu langsung menatap kearah Za yang fokus menyetir. Kilat dimata Evita menunjukkan keterkejutan.


“Aku....Kan dadakkan, Aku kaget juga kok kalau kau membawaku untuk menikah..seperti kau yang memaksaku untuk menjadi kekasihmu”ucap Evita dengan wajah yang memerah. Ia memandang kearah jendela mobil dan menyembunyikan wajahnya.


Za yang fokus menyetir menarik tangan Evita lalu mengenggamnya. “Evita..tak perlu bertanya kenapa dan bagaimana, karena sejak Awal, Aku memang berniat untuk menikahimu dan selalu mencintaimu”jelas Za yang mencium punggung tangan Evita. Evita tak menatap kearahnya. Hanya bisa diam tak bersuara.


“Ooh ya...Siapa yang ingin kau kunjungi?”Tanya Za. Evita yang mendengarnya langsung menjawab “Bertemu dengan sang kepingan dari masalah kecelakaan orang tuaku”jawab Evita. Za yang mendengarnya mengangguk. Ia sudah mengetahui semuanya dari Sebastian. Yeah pria yang mencintai Istrinya juga.


-


Setibanya ditempat. Keduanya turun dengan disambut oleh para anak buah Evita. yeah mereka adalah Anak buah Evita sendiri.


“Selamat datang Nyonya...dan”ucap salah satu pemimpin yang menatap kearah Za.Evita yang dulu dikenal sering bersama Mavin. Kini membawa orang lain yang membuat mereka penasaran. Siapa Pria disamping Nyonya mereka.


“Dia Suamiku”ucap Evita tanpa basa basi, ia meninggalkan ruangan yang dimana Za juga mengikutinya. Mereka meninggalkan seluruh pasukan yang menatap sambil tercenga mendengar ucapan Evita.


“Hanya Pria itu yang membuat Nyonya, Kita mengklam dirinya”ucap salah satu pasukkan.


“Ku pikir Tuan Mavin Vintorin yang akan terus bersama Nyonya Kita”


“Tapi Aku setuju dengan Pria itu..dia terlihat begitu sangat menyayangi Nyonya kita”


“Ganti panggilannya...menjadi Tuan bukan Pria”

__ADS_1


“Setuju”


Meninggalkan para Pasukkan. Evita menatap kearah penjara bawah tanah yang dimana terdapat Sintra dan Feliya yang tengah menikmati makan bersama.


“Siang”ucap Evita yang membuat raut wajah Feliya berubah menjadi suram. Ia bahkan langsung melangkah menuju ke dapur dimana Sintra tengah asik memotong sesuatu.


Diambilnya pisau yang berada ditangan Sintra. Lalu mendekat kearah Wanita yang berada diluar sel dengan wajah yang tenang menatap kearahnya.


Feliya menarik baju Evita untuk mendekat dan menyodongkan Pisau ditangannya ke leher Evita. Za yang berada disana ingin langsung menolong tapi dihentikan dengan Evita yang mengangkat salah satu tangannya.


“Kenapa Kau kemari?”tanya Feliya yang menatap kearah Evita. Evita yang ditatap dengan pandangan membunuh sedikit terpancing. Tapi ia datang kesini bukan berniat untuk membunuh mereka. melainkan urusan yang lainnya.


“Untuk menjenguk kalian”jawab Evita yang memang itulah niatnya. Sudah meninggalkan orang yang harusnya ia bunuh. Tapi niatnya urun hanya karena Evita masih memiliki sedikit rasa iba.


“Menjenguk....Kau?....mimpi Apa aku semalam bisa bertemu dengan orang yang membuatku ingin cepat-cepat pergi dari sini”ucap Feliya yang mendekatkan pisaunya. Hal tersebut membuat Za ingin mendekat tapi lagi-lagi dihentikan oleh Evita.


Sintra yang ada disana mendekat ingin menghentikan tingkah Feliya. Wanita yang mengalami trauma dalam karena Evita berhasil membuatnya menjadi tambah gila. Untungnya masih ada sisa jiwa normal yang akhirnya bisa pulih. Semua itu berkat Evita yang mengundang dokter untuk mengobati Feliya.


“Kenapa Kau menyembuhkanku?”tanya Feliya yang membuat Sintra berhenti mendekat. Dan Za yang berhenti menghalangi. Mereka sedikit memberi jarak untuk dua orang yang sepertinya ingin berbicara.


“Bukannya Kau berniat untuk membunuhku...aura membunuhmu itu benar-benar menghantui diriku, dan saat kau datang, Aku yang bagaikan hewan buas telah dijinakkan sehingga tahu dari kejauhan kau sudah datang disini menganggu diriku”ucap Feliya yang masih stay ingin membunuh Evita.


“Lalu..kenapa Kau tak membunuhku?”tanya Evita yang berhasil membuat dua lelaki disana menatap horor. Dengan enteng dan santai Evita mengucapkannya. Berbeda dengan Feliya yang menatap tajam kearah Evita.


“Sudah ku katakan..Aku yang dulunya seorang pembunuh bayaran tak akan mudah dijinakkan, tapi denganmu, Kau..Kau membuatku tunduk sampai tak mampu mengerakkan pisau ini yang sudah berada dileher mu”Ucap Feliya yang menjauhkan pisaunya.


“Membunuhmu merupakan hal mudah untukku”ucap Feliya yang melangkah kembali kemeja makan dengan menikmati makanannya. Ucapan yang dikeluarkannya adalah kalimat yang sering digunakan olehnya untuk membunuh para mangsanya.


Evita yang mendengarnya tersenyum, ia melangkah untuk duduk didepan sel. Dimana hidupnya dua orang yang sepertinya saling mencintai.


“Bagaimana keadaanmu Sintra?”tanya Evita yang menatap kepada pria sang maniak eksperimen. Sintra yang mendengarnya langsung mengangguk dan menjawab “Baik....bagaimana denganmu?..sudah bertemu dengan Merlina dan Yelina?”


Za yang mendengarnya menatap kearah Evita. “Selama ini Kau hanya berfokus untuk mencari musuhmu...Evita siapa sebenarnya yang membunuh orang tuamu?”benak Za.


Evita yang mendengar pertanyaan itu mengangkat kedua bahunya “Tidak baik..karena sekarang hal lain terjadi, Merlina dan Yelina,aku bertemu dengan mereka..tapi berakhir dengan mereka yang ditangkap oleh seorang wanita..apa kalian mengenalinya?”tanya Evita yang menatap kearah Dua orang yang salah satunya berkeringat dingin.


“Wanita?...Diriku hanya bertemu dengan Andre...”ucap Sintra yang memang hanya bertemu dengan Andre. Berbeda dengan Feliya yang menatap kearah Evita, lalu mendekat dengan cepat.


“APA YANG KAU MAKSUD..WANITA YANG MEMILIKI RAMBUT HITAM, PANJANG?”ucapnya dengan wajah yang memiliki kilatan kebencian.


“Kenapa?...Apa kau sangat membencinya?”tanya Evita. ia sebenarnya tak mengingat wanita bertopeng yang membuatnya mengingat tentang masa lalunya. Meski masih ada beberapa yang belum diingat olehnya.


“Tentu saja....Wanita itu adalah ilmuan gila yang dulu mengunakan diriku sebagai objek eksperimennya...untungnya..untungnya Aku tak pernah ikutan”ucap Feliya yang membuat Evita meringit mendengarnya.


“Sudahlah....itu tak penting, Apa kalian sudah melihat teman kalian?”tanya Evita yang membuat keduanya bingung.


“Teman?”Guman Feliya yang kemudian menatap lekat kearah seberang Evita. terdapat dua pria yang tengah asik bermain kartu. Sintra yang melihatnya langsung menatap horor.


“Bagaimana bisa?”tanya Sintra yang langsung menarik perhatian dua orang yang bermain kartu.


“Oh Yooo”ucap Andre yang memandang kearah mereka bahkan Reza yang juga menatap. Namun tatapannya langsung tajam ketika melihat Evita yang berdiri disamping seorang pria yang dikenalinya.


“Syukurlah kalian akur....setelah urusanku dengan Merlina dan Yelina selesai..Aku akan menghadapi kalian..jadi berdiam disini menjadi anak yang baik..tidak, peliharaan yang baik”ucap Evita dengan suara yang penuh dengan kebencian. Mendengarnya membuat keempatnya menunduk. Evita melangkah pergi dengan menarik Za. Ia tak ingin Suaminya ini berdiam disana tanpa berbicara. Meski dia yang menyuruh Za untuk tak ikut campur saat Ia tiba disini.

__ADS_1


__ADS_2