
Za,Yoongi dan Echan tiba disebuah hotel yang mereka pesan. Mereka tak mengumpul di hotel yang dijanjikan. Mereka lebih memilih untuk menginap disalah satu hotel yang didirikan oleh keluarga Zhan.
Setelah memarkirkan mobil, ketiga pria tampan ini melangkah memasuki aula hotel. Semua karyawan yang ada langsung bergegas berbaris dan menundukkan kepala.
Mereka tahu bahwa yang datang kali ini adalah cucu dari keluarga Zhan. Pemilik Hotel ini. Salah satu manager yang ada langsung bergegas mendekati tiga orang ini.
“Maafkan kami Tuan...sambutan yang tak sempuran kami berikan kekalian ini, merupakan sambutan terburuk kami”dengan merendah menyampaikan keluhan karena tak tahu bahwa Tuan-Tuan muda ini akan datang.
“Tak perlu berbicara seperti itu”Echan mengangkat tangannya untuk menyuruh karyawan yang lain langsung kembali bekerja. Dengan lambaian singkat itu, semua langsung kembali keposisi masing-masing.
“Ada yang bisa saya bantu Tuan Muda?”tanya Manager yang kini mereka berdiri di sudut ruangan.
“Kami ini 3 kamar....tolong dipersiapkan”Echan lagi-lagi berbicara, sang Manager yang mendengarnya langsung mengangguk dan bergegas menyiapkan kamar yang diinginkan.
Tak perlu menunggu lama, Manager itu kembali dengan 3 karyawan cantik. “Tuan...silahkan ikuti para karyawan ini, Mereka akan mengantar anda..saya akan...”
Belum selesai ia berbicara, dua orang Tuan muda atau Cucu Pertama dan Cucu Ketiga itu langsung melangkah kelift yang ada. Echan mengangguk dan ikut melangkah tak perlu mendengar perkataan Manager, karena tahu manager juga punya kerjaan yang penting.
“Lakukanlah tugasmu”ucap Manager kepada para Karyawan yang ditugaskan untuk berada disamping 3 Cucu dari Keluarga Zhan.
Setibanya di lantai yang ditentukan, 3 pria tampan itu melangkah dengan 3 wanita yang berdiri dibelakang mereka.
“Tuan Kamar anda berada disini..”ucap para karyawan yang mengantar 3 pria yang tak menjawab sama sekali. Tertarik dengan karyawan disini sungguh sangat langka bukan. Mereka baru pertama kali menginap dihotel. Dan melihat perilaku karyawan disini menjadi salah satu ketidaksukaan mereka. entahlah mereka risih melihat wanita yang menjilat, seakan-akan kalau disuruh bergelinding mereka akan mau melakukannya.
Sayangnya untuk keluarga Zhan ini sangat tidak peduli akan hal-hal manis apa lagi penjilat. Kalau mereka ingin wanita, tinggal ngomong pasti akan ada anak-anak penjabat yang langsung datang seperti semut yang mencium bau gula.
Keluarga Zhan memiliki peraturan, mereka yang menyentuh wanita karena nafsu, akan langsung dinikahkan. Tak perduli wanita itu pelacur atau apa. Karena pada dasarnya, lelaki harus bertangung jawab dengan apa yang dilakukan. Mengingat pengontrolan nafsu itu susah, akan lebih baik langsung menikahkan, jadi tak malu untuk diri sendiri apa lagi keluarga.
Saat peraturan itu telah dipelajari oleh Za,Echan dan Yoongi, mereka tak menyentuh wanita. Hanya satu yang berani mereka sentuh, yaitu wanita bermarga Kim.
Tiba didalam kamar, Za membuka jas miliknya lalu melemparnya kesegala arah. Membuka kancing kemeja hingga lima kancing terlepas yang mengespos tubuh berotot miliknya.
Za menatap kearah jendela kaca, ia melihat indahnya pemandangan malam yang saat ini benar-benar menyejukkan mata.
Setelah berdiam sejenak, ia mengambil ponsel pintarnya untuk memanggil Manager Hotel.
“Yes..Tuan..ada yang bisa saya bantu?”yang diseberang sana langsung bersiap.
“Siapkan pakaian Ku, Echan dan Yoongi. 10 menit waktu mu untuk menyediakannya”ucap Za singat dan langsung mematikan ponsel pintarnya. Tak perlu menunggu jawaban, karean saat ini pikirannya tengah gelisah. Hatinya tengah tak tenang. Ada yang tak beres dengannya.
Semenjak melihat sang penari pasangan yang membuat Za menahan cuka karena melihat bahwa orang yang ingin dikejarnya malah menari dengan indah.
Za melempar ponsel pintarnya di kasur besar yang nyaman itu. Ia lebih memilih untuk mandi dengan menyegarkan diri. Hatinya menahan rasa membara ini, karena mengingat bagaimana dengan mudahnya Derka mengangkat tubuh wanita miliknya. lalu memegang tanganya.
Bam
Za memukul sisi kamar mandi yang membuatnya bergema sebentar. Ia tak merasakan rasa sakit, yang dirasa hanya rasa cemburu karena gagal mendekati Evita.
“Aku akan mendapatkan mu kembali Evita..tak ingin seperti dulu yang meninggalkanmu”ucap Za.
-
Berbeda dengan Echan yang dengan tenang duduk menatap tangannya. Kedua tangan yang baru saja mengajak seorang wanita asing tapi familiar untuknya.
Ada garis kecil dibibirnya. Namun kembali mengendur, mengingat ia harus mengejar dan melepaskannya lagi.
“Sial...aku belum mengetahui siapa dia...Araku atau hanya imajinasiku”
Ia melangkah menuju kekamar Mandi lalu melabuhkan diri dengan tenangnya air yang mengalir. Tubuh berotot dengan kulit indah itu harus basah dengan luncuran air yang menurun dengan cepat.
Echan benar-benar merasa pertemuan singkat membuat ingatan yang terlupakan bisa kembali. Hal ini yang membuatnya sangat ingin mengetahui dan melihat dengan jeli siapa Wanita asing tapi sangat familiar untuknya.
__ADS_1
“Sebaiknya aku mencari keberadaannya”benak Echan yang kini melangkah keluar dari kamar mandi. Terlihat pakaian yang masih terbungkus dengan baik.
Echan tersenyum, ia tahu siapa yang memesan pakaian ini. Pasti Yoongi yang memesannya. Tak salah lagi.
Dengan cepat Echan mengenakan pakaian itu, terlihat pas dengan tubuhnya, kaus dengan celana cargo pelengkapnya.
“tunggu kenapa pakaian ini terlihat pas sekali, dan terlihat familiar untukku, kalau Yoongi yang memilihnya pasti hanya baju dengan celana jeans. Kok ini santai sekali?”Echan melihat kearah kertas yang tertulis oleh manager.
Tuan Za yang memesannya
Melihat tulisan itu, merasa tersedak ludah sendiri. Echan menutup mulut tak percaya, ternyata Kakak Za-nya sangat memperhatikan kenyaman untuk mereka. bahkan memesankan baju lagi.
Berbeda dengan Yoongi yang hanya menatap dingin lalu merebahkan diri ingin tertidur.
Sudah beberapa hari bukan beberapa bulan ia tak bisa tidur tenang. Sekarang mungkin sudah waktunya untuk tidur dan beristirahat.
Kasus-kasus yang dijalani selalu berakhir seperti ini, mereka sebenarnya mendapat laporan bahwa ada gejatan senjata, tapi anak buah yang memeriksanya mengatakan bahwa disana tak terjadi apa-apa. Membuat ia berpikir keras. Apa mereka selama ini tengah ikut campur dalam kasus seseorang?.
Tapi memikirkan hal itu malah membuatnya berpikir tentang wanita yang ditolongnya, digendong dan orang yang berhasil membuatnya berpikir keras. Kim Hanuel Nim. Wanita yang dulu seingatnya adalah wanita yang kuat dengan mental yang luar biasa kuatnya. Tak ada yang tahu apa yang terjadi, hingga wanita itu memilih untuk pergi, pergi dari sisinya.
Kim Haneul Nim nama yang sama juga yang beberapa tahun lalu berkenalan dengannya, sekarang entah kenapa nama itu menjadi familiar untuknya. Bahkan nama Indah yang dikenalnya juga sangat Familiar. Apa selama ini, Indah adalah Kim Haneul Nim. Dan Indah adalah orang yang pergi meninggalkannya.
“Aku tak bisa tenang saat ini, lebih baik aku tidur”benaknya. Menutup mata tapi sia-sia. Bagaimanapun hati yang telah tersentuh oleh orang yang asing membuatnya harus berpikir keras, apa ia akan kembali mencintai.
-
Mavin Vintorin memutuskan untuk memilih hotel yang saat ini tengah dipandangnya. Hotel keluarga Zhan yang sangat ia benci ini. Bukan apa, cucu keluarga Zhan ini membuatnya jengkel karena telah mengambil hati kekasihnya. Yeah ia berharap bisa merebut kembali kekasihnya itu. Walau belum dimiliki olehnya.
Memilih hotel ini, karena hotel lain telah full, mungkin Merlina benar-benar ingin para tamu pentingnya itu memiliki kenyamanan. Ditambah Mavin sendiri terlalu malas menunjukkan identitasnya. Lebih baik ia tidur dan besok paginya pulang keamerika.
Melangkah menuju kedalam, ia melihat pria yang tak asing dimatanya.
“AH tuan Mavin Vintorin”ucap Pria itu yang menyapa dengan senyum manisnya. Ia adalah Derka Jamesta. Orang yang membuat Mavin Vintorin meminum Cuka segentong karena tak bisa menyentuh Evita. Pria didepannya ini dengan mudahnya menyentuh bahkan memeluk Evita.
“1 Kamar”ucap Mavin Vintorin tanpa meladeni sapaan Derka Jamesta.
“Apa kau ingin tahu nomor berapa kartu Kak Evita”Derka Jamesta menatap kearah kunci yang dipegang olehnya.
Mavin Vintorin mengerutkan alisnya. Ia menatap kearah Derka yang kini juga menatapnya. Mereka melupakan keberadaan para karyawan yang menatap diri mereka.
“Maksudmu?”Mavin Vintorin memang merasa kejangalan dengan kartu yang ada ditangan Evita. Saat itu Evita meninggalkan kartunya di meja. Jadi tak mungkin Evita membuka kartu tersebut. Tapi mendapat jawaban dari pertanyaannya. Mavin merasa yakin kalau Evita telah membuka kartunya.
“Kartu kak Evita, bukan bernomor 25. Nomornya tak sampai diangka puluhan”Derka memegang kunci lalu berlalu sebentar dan kemudian mendekatkan diri keMavin dan berbisik.
“Nomor kakak Evita adalah 01”setelah berbicara ia melangkah menuju lift dengan karyawan yang ada. meninggalkan Mavin Vintorin yang terdiam setelah mendengar ucapan dari Derka Jamesta.
Mavin Vintorin mengingat semua kartu yang ada, dan semua telah saling berdansa kecuali, ia Derka, dan seorang lagi..Yaitu...
-
Evita terbangun dari tidurnya. Badannya masih merasakan rasa ketakutan yang dalam. Ingatannya kabur membuatnya pusing. Menyentuh kepala untuk meredakannya serasa sia-sia.
Ia melihat sekeliling, tempat yang kini tengah ia lihat yang tak lain sebuah hotel. Dua Sahabatnya tengah tertidur disofa. Wajah mereka kecapean dengan sedikit dengkuran kecil karena tubuh mereka benar-benar lelah sekarang.
“Maafkan aku, Intari..Amelya..telah membuat kalian ikut dalam masalah ini, ini yang ku kahwatirkan....”benak Evita. Ia melangkah dengan membawakan selimut lalu menyelimuti Intari dan Amelya yang masih dengan tenang tertidur, mereka tak terusik dengan apa yang diperbuat oleh Evita.
Melihat hal itu, ketidaktegaan muncul dibenak Evita, ia benar-benar telah tega membawa Sahabatnya ini kedalam masalahnya. Yeah seharusnya dari awal tak perlu membawa mereka.
Evita melangkah menuju kemeja kecil yang terletak di samping tempat tidur, ia ingin mengambil air minum, tapi sayang bayangan seseorang tengah tersenyum padanya seketika muncul. Membuatnya langsung merasakan sakit kepala yang luar biasa.
“Ah...siapa perempuan itu..sial apa ini karena masalah ingatanku?”benak Evita. Ia memutuskan untuk mencari udara segar diluar. Tak ingin menganggu tidur nyenyak dua Sahabatnya.
__ADS_1
Setibanya diluar, Evita memilih untuk berada ditaman kecil yang tak jauh dari hotel. Ada karyawan yang menanyai tentangnya, Evita hanya menyuruh untuk tidak menganggunya dulu.
Dikursi taman, Evita memejamkan mata menikmati angin yang sangat sejuk masuk kedalam tubuh. Waktu menunjukkan pukul 2 pagi. Masing sangat gelap untuk Evita saat ini. Tapi entah kenapa melihat malam yang penuh dengan bintang itu menjadi kesenangannya sendiri.
“jangan lupa suntikkan serum ini padanya”
“lakukan dengan baik,jangan membuatnya cepat lelah”
“akan terhapus ingatan yang suram itu..heheh setelahnya ia tak akan mengingat dirinya lagi”
“serum ini harus berhasil, dengan begini aku tak perlu lagi mengalami kerugian”
Suara yang terdengar tapi tak dibisikkan. Membuat Evita waspada. Ia melihat sekeliling untuk memastikan tak ada seorang pun disisinya.
Perasaan gunda muncul. Bayangan hitam berdiri didepannya. Hingga tak berapa lama, bayangan itu menjadi sosok dirinya.
“kenapa kau bahagia...apa kau lupa dengan penderitaanmu?”
Evita menatap tak percaya, orang ini berbicara padanya. Dengan wujud asilnya.
“Kau seharusnya membunuh dirinya, seperti kau membunuh mereka”menunjukkan tampilan orang yang pernah mati ditangan Evita sendiri. seketika itu juga membuat Evita berdiri. Ia masih menatap kosong dengan bayangan yang menyerupai dirinya.
Bayangan orang yang dibunuh olehnya menangkap dirinya. “kau seharusnya membunuh mereka, bunuh orang yang menganggu hidupmu, bunuh orang yang membuat orang tuamu pergi..kenapa kau malah bersantai..kau melupakan kepahitan hidupmu?”
“bunuh mereka”
“bunuh mereka”
“bunuh mereka”
Tak tahan Evita mendengar jeritan dan omongan dari bayanganya. Ia langsung menepis dengan cepat kearah bayanganya.
“ku peringatkan, kau akan menderita jika tak membunuh mereka.....akan ku kembalikan ingatan yang terhapus paksa oleh wanita ****** itu”
“PERGGGGIIIIIIII!!!!”Evita teriak dengan sangat kencang membuat orang-orang memandang kearahnya.
“Pergi..Pergi..Pergi”Evita tak bisa lagi mengontrol dirinya. Ia bahkan berjalan dengan sangat tertatih-tahih tak memperdulikan pandangan orang-orang yang berada ditaman juga.hingga...
Grappp
Evita mendapati dirinya tengah dipeluk oleh seseorang. Pelukkan itu erat membuatnya merasa aman. Hingga tangisannya pecah.
“Hiksssss.....hikssss.....HUAAAAAAA”
“Pergi....pergi...pergi”Evita memukul dada orang yang memeluknya. Tak memperdulikan jika orang didepannya ini kesakitan. Pukulan yang diberikan malah mendapatkan pelukkan yang makin dalam. Semakin membuat Evita terdiam dengan tangisan yang masih mengalir.
“Tenanglah.....”pelukan itu mengerat membuat yang memeluk menuntun untuk mendudukkan wanita yang masih menangis tak mau berhenti.
“Tenanglah....ada aku disini...Kim”
-
Brukkk
Wanita bertopeng melempar dua wanita yang kini tengah kesakitan. Yelani dan Merlina saling memberikan tatapan mengancam.
“Hentikan tatapan kalian itu, aku bisa membuat salah satu mata kalian buta sekarang”ucap Wanita bertopeng dengan suara dinginya. Tapi itu tak membuat Yelani menuruti beda dengan Merlina yang langsung menatap kearah lain.
Wanita bertopeng itu langsung menembakkan sumpit besi miliknya, hingga mengenai mata kanan Yelani. Memekik karena tertencap tepat tak salah sasaran. Membuat Merlina langsung menutup mata karena tak tahan melihatnya.
“Aggrrrrrhhhhhhh”Yelani menahan sakit dimatanya. Tak menyangka akan benar-benar langsung dibutakan oleh Wanita bertopeng ini.
__ADS_1
“merepotkan”ucap Wanita bertopeng itu. Ia langsung pergi meninggalkan para anak buahnya yang membantu mengobati kedua orang yang tak lain adalah Yelani dan Merlina.
“Dasar dua gadis bodoh..mereka benar-benar tak bisa merasakan yang namanya kesenangan....yeah mungkin memang sekarang waktu untuk mengingat kenanganmu kembali Evita”Wanita bertopeng itu menatap kearah cermin yang kini menampilkan wajahnya. Ada senyum kecil diwajah yang menghadap kecermin.