
Sebelum keberangkatan Sebastian kekota Q....
Sebastian menatap kearah Tuannya. Yeah meski Ia tak ingin memanggil begitu, tetap saja status Zhan Za Chen adalah Suami Nyonya-Nya sendiri.
Sebastian melangkah mendekat kearah Za yang tengah asik membaca buku. Entah apa isi buku tersebut sampai-sampai Za tak menyadari keberadaannya.
“Tuan Za”ucap Sebastian yang memberanikan diri untuk berbicara berdua dengan Za.
Za yang dipanggil langsung menatap kearahnya. “Ada apa Sebastian?”tanya Za yang menutup bukunya.
“Maaf menganggu sebelumnya...Tuan Za, Aku ingin mengobrol dengan anda”
Za yang mendengarnya langsung menuntun Sebastian untuk berbicara diruangan lain. yang hanya ada mereka berdua.
Setibanya diruangan..
“Sebastian....Sebenarnya Aku juga ingin bertanya kepadamu..masalah Evita dan bagaimana ia bisa sampai sekarang ini”ucap Za yang duduk disofa. Sebastian duduk disebelahnya.
“Banyak yang terjadi Tuan”ucap Sebastian.
“Aku tahu...Kau pasti begitu sangat lelah bersamanya"
“Iya...Aku lelah Tuan...Tapi rasa lelah itu tergantikan dengan rasa bahagia ketika bersama dengan Nyonya”
“Sebastian...Matamu tak berbohong...Kau sungguh sangat mencintai Evita, bahkan bisa dibilang Kau mungkin tak akan meninggalkannya”
Sebastian menunduk mendengar ucapan Za. Za tersenyum, Ia melanjutkan “Yeah...pada dasarnya Kau sudah bersamanya bertahun-tahun dan dimasa Remaja mu yang seharusnya dikelilingi banyak teman malah berakhir dengan bersama Evita dan menghadapi berbagai macam kejadian”
“Namun Sebastian....Maaf melukai hatimu lagi dan lagi...dan sekarang Kau harus terluka lagi”ucap Za yang menatap kearah Sebastian.
Sebastian tahu bahwa Tuan Za ini sebenarnya sudah menyadari dirinya menyukai Nyonya-Nya dari awal. Dan saat itu tepat setelah Evita benar-benar menjadi kekasih Za.
“Tidak Tuan Za...Tak perlu minta maaf, lagian tak ada yang salah, Aku yang mencintai Nyonya dan aku yang menangung akibatnya..lagi pula diriku senang dengan Anda yang menjadi Pendamping hidupnya”
“syukurlah......Sebastian, Apa yang terjadi kepada Evita..yang sebenar-benarnya”
“Banyak Tuan....salah satunya setelah pertunangan kalian dibatalkan”
Sebastian menatap kearah Tuan Za yang menengang mendengarnya. “Tuan tak perlu kahwatir..saat itu Nyonya tak mengenali Tuan karena ingatannya.....jujur sebagai seketaris pribadinya, Aku juga berpikir akan dilupakan oleh Nyonya..tapi Semenjak Tuan memutuskan untuk melepaskan Nyonya...Nyonya tak pernah menaruh hati kepada siapapun, bahkan kepada Mavin Vintorin itu”
“Mavin?”
“Tuan...Empat tahun bukan, lebih tepatnya enam tahun yang lalu, Nyonya memutuskan untuk keamerika dan menenangkan diri disana, dengan bantuan obat yang entah dari siapa, lalu bersama Mavin Vintorin...”
Sebastian melanjutkan “Mavin Vintorin adalah orang yang membawa Nyonya keAmerika pertama kali sebelum ia kembali, lalu setelah itu Ia juga yang membawa Nyonya keAmerika untuk membantu Nyonya menghadapi rasa trauma yang dalam..”
Za yang mendengarnya terdiam, Sebastian masih melanjutkan ceritanya “Namun satu hal yang menjadi keanehan, Ingatan Nyonya memudar dengan hari yang dilewati. Nyonya hanya mengingat orang yang didekatnya. Sebenarnya Tuan ada dalam ingatannya, tapi dengan Mavin yang ada disampingnya membuat Ingatan itu tak tersampaikan, hingga Nyonya hampir mengira Mavin lah yang berada disampingnya”
“Lalu Bagaimana denganmu Sebastian....bukannya Kau tak ada disana saat itu?”tanya Za yang ingin mengalihkan pembicaraan. Hatinya sakit ketika tak bersama orang yang dicintainya, apa lagi sampai menderita seperti itu.
“Aku berada dikota Q menyelesaikan urusan dan harus menyelesaikan urusan juga dikota A. Aku hanya mengetahui hal ini karena Senior Liyana yang mengatakannya”
“Baiklah...ada lagi yang ingin kau katakan Sebastian?”tanya Za yang ingin meranjak pergi. Tapi Sebastian menahannya.
“Banyak,,Tuan Za..apa anda ingin mendengarnya?”Za yang menatap kearah Sebastian langsung menangguk, ia duduk kembali.
“Katakanlah”ucap Za yang menatap kearah Sebastian.
Sebastian menarik nafasnya, Ia ingin menyembunyikan segalanya, tapi ia sadar, jika Ia melakukan itu sama saja Ia egois dan bisa-bisa membuat Evita membencinya. Seperti katanya dulu, Mencintai dengan bahagia merupakan hal terindah dari pada mencintai dengan niat yang akan menyakiti segalanya.
“Pertama,Tuan Za..Nyonya mengalami gejala yang tak bisa dibiarkan, Yaitu emosi yang mudah meledak. Kadang Nyonya terlihat tenang setenang Air, tapi kadang Ia akan mengamuk bagaikan ombak laut...apa lagi jika ada senjata disampingnya”
“Bagaimana mengatasinya?”tanya Za.
“Obat tidur..Kami yang mengetahui emosi tak setabil itu hanya bisa mengunakan obat tidur..dan ingatannya akan menghilang jika ia mengamuk.Tuan Za, mungkin jika ada dirimu, Kau bisa mengatasinya”
“Yang Kedua, Nyonya akan bertingkah tak sesuai ucapannya...kadang ia akan menjadi dingin dan berniat untuk membunuh orang yang ada didepannya. Tapi kadang ia akan menjadi iba kepada seseorang..”
__ADS_1
“Aku tak bisa mengatakan banyak hal jika Tuan tak melihatnya secara langsung..hanya Aku memberi tahu Tuan, setidaknya ini bisa membantu jika Aku tak ada nanti”
“Sebastian...Kau ini sudah terlihat seperti kekasihnya. Mengetahui kelemahan dan segala kekurangannya”ucap Za yang membuat Sebastian terteguh.
“Namun...dari semua itu Aku berterimakasih kepadamu, Kau selalu ada disisinya disaat ia terpuruk..Terimakasih Sebastian” Za meranjak bangun.
“Kalau begitu perbincangan kita selesai..Aku akan mengingatnya”ucap Za melangkah pergi meninggalkan Sebastian yang menghela nafas. Ia sebenarnya tak tenang bersama dengan Za. Pria yang selalu memiliki aura dingin.
-
Za mengingat pembicaraannya dengan Sebastian. Kali ini mereka berdua kembali kekota Q. Karena Evita telah menyelesaikan urusan yang terbilang gabut.
“Ku pikir kau akan menghabisi mereka”ucap Za yang fokus menyetir, Ia sebenarnya penasaran bagaimana Evita mengamuk jika ia mengalami emosi yang tak stabil.
Evita yang mendengarnya langsung menjawab “Sebenarnya Niat awalku memang ingin membunuh mereka, tapi untuk mendapatkan infomasi, Aku harus membiarkan para sampah itu hidup”
“Baiklah Nyonya Kim, sekarang istirahatlah dan tidur, kau perlu istirahat sekarang”ucap Za yang mengusap kepala Evita. Evita mengangguk dan memilih untuk tidur.
Za yang menyetir merasa lega dengan apa yang diperbuatnya. Ia harus menguatkan dirinya untuk bisa melindungi Evita. dan menjaganya sampai Kematian memisahkan mereka.
-
Merlina menatap kearah pintu kamarnya. Ia mengunci diri karena kali ini orang tuanya sepertinya sudah sangat gila.
“MERLINA..KELUAR!!!, SEHARUSNYA KU BUNUH SAJA DIRIMU, KENAPA AKU HARUS MEMBESARKAN ANAK SEPERTIMU....KELUAR SEKARANG!!!”
Itu adalah teriakkan Ibunya. Wanita yang melahirkannya dan berniat untuk membunuhnya.
Merlina memandang dengan pandangan datar, telinganya yang digunakan untuk mendengar itu kini diputuskannya segala pendengaran yang ada. yang membuatnya menganggap teriakkan itu sebagai angin lalu.
Impian mendapatkan keluarga bahagia itu hanya mimpi. Diluar terlihat ia begitu dimanja, tapi yang sebenarnya terjadi adalah orang tua yang haus akan kekayaan.
Semua perkara dari keluarga Kim yang membuat keluarganya menjadi seperti ini. Seandainya dulu dirinya yang diangkat menjadi anak dari keluarga Kim. Ia mungkin akan mendapatkan impian bahagianya itu. namun seperti perkataannya. Semua hanya mimpi.
Saat ini Merlina tak bisa bergerak bebas. Ibu dan Ayahnya sekarang mengalami kendala. Yaitu seluruh Pemimpin dikota A berniat untuk menjatuhkan mereka.
Dan karena itulah dirumah tak pernah bertemu dengan kehangatan bahkan kebahagiaan. Saat ia kembali ia mendapatkan pukulan dan amarah dari keluarganya.
“huh...lelahnya”ucap Merlina yang melangkah menuju keruang belajarnya. Kamar yang memiliki segala tempat yang diinginkan olehnya. Ia bahkan tak tangung-tangung membawa alat dapur untuk memasak. Lagian mansion ini tak akan pernah tenang.
Setibanya diruang belajar. Merlina mengambil salah satu kain yang ada dilantai. Banyak sekali kain-kain sisa yang digunting olehnya. Ia menatap kearah gambar besar yang menunjukkan wajah seseorang.
Yang tak lain adalah Wajah Evita. orang yang begitu dibenci olehnya. Ia mengambil pisau yang tergeletak dimeja lalu menusuk berkali-kali sampai perasaannya tersampaikan.
“Seharusnya Aku membunuhmu...kenapa...kenapa..kenapa sulit sekali membunuhmu....gadis yang penuh kebahagiaan ini”
“Sudahlah....tak penting, Sekarang Aku akan memikirkan cara membunuhmu dengan baik....”Merlina melempar pisaunya lalu melangkah menuju kesalah satu dapur miliknya. mengambil soda yang ada dikulkas dan meminumnya. Ia tak memperdulikan teriakkan diluar yang bergema-gema.
-
Diruangan yang menghadirkan hawa membunuh. Seluruh ruangan diisi oleh orang-orang bertopeng. Terdapat dua lantai yang digunakan. Dilantai bawah telah duduk bermacam orang-orang yang saling berbisik-bisik.
Dan dilantai dua yang terdapat 12 tempat yang mendominasi. 10 diantaranya telah diduduki oleh pemiliknya. Hanya sisa 2 tempat yang begitu spesial. Namun tak diisi oleh pemiliknya.
Mavin Vintorin menatap kearah bawah dimana terlihat begitu banyak jaringan mafia yang selama ini tak diketahui olehnya. Saat ini Mavin Vintorin menduduki pemimpin ke 6 yang dimana semua berkat dirinya sendiri. sedangkan Ayahnya berada di pemimpin ke 1 yang kadang membuatnya merasa begitu kesal.
Namun lupakan masalah itu, yang menjadi alasan Mavin disini adalah melihat pemimpin yang ada. 10 pemimpin yang dikenalinya hanya Ayahnya saja. Kini setelah datang melihat pertemuan yang dibilang penuh kemisterian berhasil menarik dirinya.
Karena 10 pemimpin ini, hanya 4 yang pria. Sisanya adalah Wanita. Mavin Vintorin yang duduk dibagian tengah. Menatap kedepan dimana ada Pemimpin ke 2, 4,8,9 dan 10 yang merupakan seorang wanita. Dan disampingnya Pemimpin ke 7 adalah seorang wanita juga.
“Ayah tak berbohong..seluruh pemimpin disini adalah Wanita”benak Mavin menatap dengan perasaan kalah. Yeah baru kali ini ia merasa sebagai laki-laki bisa kalah dengan wanita yang ada.
Disampingnya adalah pemimpin ke 5 yang dikenal dengan panggilan si Singa tidur. Atau Leon Zer. Pria itu adalah pria yang memang seperti namanya, tertidur disaat-saat penting seperti ini. Melihatnya membuat Mavin sedikit merasa aneh.
Tak berapa lama, bisikan para pemimpin bawahan yang ada dilantai bawah terdengar oleh mereka.
“Katanya Pemimpin ke 2 akan datang”
__ADS_1
“Benarkah...Pemimpin dari keluarga Zahra?”
Mendengar kata Zahra membuat Mavin Vintorin membenak “Zahra....apa dia orang yang ku kenal?”mengingat bahwa Evita juga memiliki kenalan dengan orang bermarga Zahra.
“Kita tak tahu sebelum ia benar-benar datang..lagian kenapa juga pertemuan ini dibuat?”
“Ku dengan pemimpin yang sebenarnya telah ditemukan”
“Pemimpin?”
“Pemimpin dari segala pemimpin...ada 2 pemimpin yang membimbing 10 pemimpin yang ada. tapi dari dua itu, hanya Satu yang mendominasi. Saat ini keberadaannya ditemukan”
“Oh benarkah...siapa dirinya?”
“Kita akan tahu..jadi lebih baik berdiamlah”
Bisik para orang-orang dilantai bawah. Mavin yang mendengarnya merasa sedikit was-was. Ia seakan-akan merasa kenal dengan orang yang disebut ini.
Tak berapa lama pintu bagian pemimpin spesial terbuka. Terlihat seorang pria mengunakan topeng masuk. Mavin yang melihat mengerutkan alisnya.
“Dimana Pemimpin Utama Tuan Lee?”tanya Pemimpin ke 2 yang tak lain adalah seorang wanita.
Yang dipanggil dengan sebutan Tuan Lee langsung menjawab “Nona Akan tiba...”ucapnya yang tak lama melangkah seorang wanita yang mengunakan topeng dengan rambut panjangnya.
Mavin yang melihatnya terdiam. “Ayah tak salah...aura membunuhnya memojokkanku”benak Mavin dengan merasakan degupan jantung ketika melihat Wanita itu masuk.
Seluruh pemimpin langsung membungkuk memberi hormatnya. “Selamat datang Queen”ucap mereka. Mavin yang tak tahu hanya bisa diam. Yang penting ia menundukkan kepalanya.
“Terimakasih...kalian telah datang, Lalu Kenapa pertemuan ini dilangsungkan?”tanya yang disebut Queen itu. semua langsung terdiam.
Pemimpin ke3 berbicara “Tentu saja membahas kembalinya Pemimpin Utama yang ada...Kami mendengar lokasinya telah ditemukan”
“Lalu...Kalian ingin menangkap dirinya?”tanya Queen tersebut.
Pemimpin ke 5 berbicara. “Tentu saja tidak....Kami ingin mengetahui dirinya....seseorang yang mampu mengendalikan seluruh pemimpin yang ada”
“Terlalu cepat kalian mengambil tindakkan...Pemimpin Utama yang kalian sebut itu menurutku belum bisa dipastikan”
“Kenapa begitu...Maaf sebelumnya, tapi Kami telah menyelidikinnya..keberadaannya benar-benar telah ditemukan”ucap Pemimpin ke 8
“Lalu....Kalian ingin menjatuhkanya?”
Seluruh pemimpin terdiam mendengar Queen berbicara. “Kalian berpikir Aku tak tahu, bahwa kalian bergerak dengan diam-diam..Pemimpin ke 9 dan ke 10, kalian tahu resikonya bukan.....”yang berbicara kali ini adalah orang disamping Queen. Mavin yang mendengarnya tak percaya, masalahnya orang disamping Queen itu hanya orang biasa.
Tapi melihat wajah semua orang terdiam, membuat Mavin membenak “Lee ini pasti orang yang mendominasi segalanya...atau mungkin ada sesuatu?”
Tuan Lee melanjutkan ucapannya “Resiko yang akan kalian terima, sama saja dengan menghancurkan posisi kalian..sebagai pemimpin Mafia yang cerdik dalam mengatur taktik membunuh. Seharusnya gunakan otak kalian dengan benar..jangan mengambil tindakkan seperti ini”
“Jadi maksud Tuan Lee..Kami melanggar aturan janji antar Mafia?”tanya Pemimpin ke 4 yang berdiri.
Hal ini membuat suasana menjadi tegang. Namun yang berada dikursi spesial itu terlihat biasa saja.
“Janji?...sejak kapan kalian berpaku pada janji antar Mafia?..bukannya selama ini kalian saling memperebutkan posisi?”ucap Tuan Lee yang berhasil membungkam Pemimpin ke 4.
“Dengar seluruh pemimpin yang ada...jika memang ingin melakukan sesuatu, tak perlu mengadakan pertemuan seperti ini...Kalian saja tak menghormati Queen yang duduk disini bagaimana ingin mengetahui Pemimpin utama yang kembali itu”
Mendengarnya semua orang langsung diam. Tak terkecuali Mavin yang juga merasa benar. Karena pertemuan ini hanya pertemuan sia-sia.
“Mungkin itu yang bisa disampaikan olehku....Aku pamit”ucap Queen yang melangkah pergi meninggalkan ruangan. Pertemuan yang dilakukan secara singkat itu membuat Mavin dilanda begitu banyak hal. Pertemuan ini mungkin akan berakhir dengan pertempuran. Entah apa yang akan terjadi nanti. Dan siapa yang sebenarnya kembali ini?
-
Malam yang sunyi, tapi tidak untuk Za yang mengendong Evita. mereka tiba dirumah Evita tepat pukul 10 malam. Dimana Evita benar-benar tertidur lelap. Yeah wajar karena kemarin ia mengempur Evita tanpa lelah. Mengingatnya membuat Za memerah.
Ia masuk kedalam rumah yang dibukakan oleh Intari. Berbicara sebentar, Za membawa Evita kekamar dan membaringkannya. Za memutuskan untuk membersihkan diri lalu menyusul sang istri yang terlelap dalam tidurnya.
“Mimpi yang bahagia”ucap Za yang mencium kening Evita, lalu memeluknya dan ikut kedalam lautan mimpi yang ada.
__ADS_1