MANTIV

MANTIV
● Mantiv(137)


__ADS_3

“Zhan, ada yang ingin Paman sampai kepadamu”ucap Chen Rey yang berdiri diambang pintu mobil.


“Apa Paman?”Za menatap dengan serius wajah pamannya. Keduanya menatap dengan begitu seriusnya.


“Istrimu, mengalami hal yang sama seperti Ibumu dulu, hanya Ibumu tak separah dirinya. Jadi Paman menyarankan kau memberi ini kepadanya”sebuah obat terletak ditangan Za. Ia memandang obat yang diberikan oleh Pamannya.


“Paman, apa sebenarnya yang terjadi kepada Evita?”


“Paman bingung menjawabnya, disebut gangguan mental. Tapi Istrimu mampu mewaraskan dirinya, dibilang ia tak ada gangguan jiwa, ia memiliki emosi yang mudah meledak. Jadi Paman hanya bisa menyimpulkan, bahwa Istrimu ini memiliki kepribadian ganda”


“Mustahil untuk bisa dibilang kepribadian ganda, nyatanya ia hanya satu orang saja. Namun dalam hal ini paman bisa mengatakan itu saja..mungkin kau yang lebih paham maksud dua kepribadian ini”


Za diam mendengarnya penjelasan dari Pamannya. Ia sudah tahu memang inilah yang terjadi, apa lagi Sebastian pernah memberitahukan hal ini.


“Ini obat khusus untuk menenangkan dirinya. Dan tidak menganggu kandungannya. Hanya jangan pancing emosinya. Ia bisa lepas kendali dan melupakan dirinya sendiri..”


“Mungkin ada hubungannya dengan zat-zat asing ditubuhnya, Paman tak bisa meneliti lebih lanjut, karena Zat itu sudah menyatu dengan tubuhnya..hingga bisa mengeringkan kandungannya. Untungnya ada yang menahan zat itu berkembang..tapi tetap saja ia sudah menyatu dengan tubuh Istrimu”


Za mengangguk untuk menandakan dirinya mendengarkan penjelasan dari pamannya. Ia mengenggam erat obat yang diberikan dan berharapan bahwa semua akan baik-baik saja.


Itulah yang dipikiran Za. Ia menatap Evita yang makan dengan lahap didepannya.


“Za, bagaimana keadaan Intari dan Amelya?”tanya Evita yang sudah menghabiskan sarapannya. Ia mengelap mulut yang belepotan karena makan terlalu bersemangat.


“Mereka sedang menikmati lingkungan di kediaman Zhan, mungkin saat ini mereka ada ditaman”jawab Za dengan menatap Evita.


“Taman?....Za, aku juga mau kesana..boleh ya?”Evita menatap dengan wajah yang memohon.


Za melihatnya menghela nafas. Ia menatap Evita sebentar, lalu melangkah mendekati pintu Kamar.


“Za, apa yang kau lakukan?”tanya Evita ketika pelayan datang dengan senyum meriah. Evita tersenyum melihatnya.


Greb!


“Kau ingin ketaman kan, Kursi roda tak ada,jadi Aku akan mengendongmu kesana”ucap Za yang sudah mengendong Evita dengan Pelayan yang memegang botol infusnya.


“Eh, tapi pungungmu”


“Tak apa, tenang saja...”


Evita menatap diam melihat Suaminya semangat mengendong dirinya. Lalu melangkah membawanya keluar dari kamar.


-


Rasa lelah dan haus menghiasi. Mereka benar-benar merasa kewalahan dengan apa yang didapati.


Intari dan Amelya tak menduga bahwa rumah Suami mereka,tidak lebih tempatnya Rumah mertua mereka. sangat-sangatlah besar. Mereka menaiki mobil khusus untuk lingkungan dikediaman keluarga Zhan ini.


Meski begitu, tetap saja mereka kelelahan. Lelah melihat, lelah memuji dan lelah merasakan semua kemegahan yang ada. dan sekarang mereka berdua, tentu dengan suami mereka memutuskan untuk duduk digazebo taman.


“Aku merasa kita kembali kejaman sekolah”ucap Intari yang menikmati minuman buatan dari para Pelayan.


Amelya yang mendengar ucapan Intari mengangguk, saat ini mereka sedang melihat Echan dan Yoongi yang memutuskan bermain raket sebentar.


“Kau benar Indah, ingat waktu itu kita kumpul disini selain merumpi,kita juga mencuci mata”


“Eh benar Amelya, waktu itu ingat saat para Sahabat kita, sibuk bermain”


“Nah itu Indah, yakali lupa..oh ya hutangmu yang ingin berkenalan dengan pria pun tak pernah terwujud loh”


“EHHHHH!...kok aku engak ingat ya Amelya?”


“Ingat apa?”suara Evita membuyarkan kefokusan semua orang. Apa lagi melihat Evita yang didudukkan oleh Za. Echan dan Yoongi melangkah mendekat Gazebo.


“Gantung disini saja”ucap Za kepada Pelayan yang mengangguk,Botol infus pun digantung dan pergilah Pelayan meninggalkan 3 pasangan yang menikmati waktu santai mereka.


“Kau sudah mendingan Evita?”tanya Intari yang dianggukkan oleh Amelya.


Evita menatap kearah sahabatnya,mata yang sudah teliti dari awal akan menangkap hal yang tak seharusnya ia lihat.


Dan mulut Evita yang jarang direm, kini bertanya tanpa beban. “Ooh, apa kalian sudah melakukan malam pertama?”


Za yang mendengar ucapan Evita langsung melihat kearah Adik-adik sepupunya yang malu-malu kucing. Beda dengan Amelya dan Intari.


Intari menjatuhkan kepalanya dimeja gazebo sedangkan Amelya memilih menutup wajahnya dengan kedua tangan.

__ADS_1


“Hei, Ayolah...ngapain malu sih, kan sama-sama mengalaminya”entah apa yang merasuki Evita hingga omongannya tak lagi dikontrol.


Za yang melihat raut wajah adiknya bak tomat, menahan bahu Evita untuk tidak banyak bicara.


“Ah...Yoongi,Echan mari kita bermain raket lagi”Za menganti topik, ia yang jarang ikut campur kini harus turun tangan untuk menganti suasana yang ada.


Perginya para suami, membuat Intari dan Amelya menunjukkan wajah mereka. terlihat sekali keduanya sudah seperti kepiting rebus.


“Woy,apa sih yang dimalukan”ucap Evita yang menerima jus dari pelayan lain. ia meminumnya dengan tenang.


“Hei Evita, jangan berlagak tenang..apa kau tahu kau juga dulu bersembunyikan”


Byurrrr!!


Evita menyemburkan jus miliknya, dan untungnya ia menyemburkan jus itu ditanah bukan dimeja.


“Yeah..yeah, aku mengerti perasaan kalian..sudah jangan dibahas”Evita menganti topik. Pikirannya baru berjalan dengan benar setelah melihat raut wajah Sahabatnya yang benar-benar memerah.


“Huh~”Intari dan Amelya menghela nafas dengan legaan yang panjang.


“Jadi, apa yang kalian ingat?”tanya Evita kembali, ia sayup-sayup mendengar apa yang dikatakan oleh sahabatnya ini..


“Oh itu loh, ingat kita kumpul digazebo, apa lagi saat itu lagi ultanya sekolah”Amelya mengingatkan Evita tentang ulta sekolah yang begitu ramai.


“Tentang kita bermain Truth or Dare bersama Dina,Fifa,Sastria dan Noor?”


Intari dan Amelya mengangguk dengan jawaban Evita. ketiganya mengingat kelucuan saat bermain hal seperti itu.


-


“Woke..giliran Kau Indah!”ucap Fifa yang menunjuk Indah. Indah yang mendapat giliran menentukan pilihannya.


“Oke,Aku lagi malas melakukan kebenaran, jadi aku pilih Dare”Ucap Indah dengan santai.


Evita,Amelya,Noor,Sastria dan Dina mengangguk-angguk. Saat ini mereka sedang menikmati waktu luang besar selama sekolah mengadakan ulta. Mereka tak ikut lomba, melainkan memilih menjadi penonton. Dan sebagai pendukung.


Ketujuh orang ini duduk digazebo yang ada dibagian tengah. Mereka duduk tanpa memperdulikan orang lain yang memperhatikan tingkah konyol mereka. toh yang lain juga sibuk dengan urusan sendiri.


“Evita dan yang lain tentukan Dare apa untungnya”ucap Fifa yang menarik perhatian Evita.


“Aku setuju..harusnya yang jarang kita lakukan sih”usul Amelya yang senyum sadis didepan Indah.Indah yang duduk disebelahnya merasa merinding.


“Oke..aku yang putuskan”ucap Dina yang menunjuk Indah. “Indah, Kau harus berkenalan dengan anak baru disekolah ini, baik tamu undangan dari sekolah sebelah, intinya kau harus berkenalan dengan percaya diri”


“Nah ini baru benar..gas Indah”ucap Noor yang menikmati cemilannya.


“Bener banget, gass sudah ayo”kompor dinyalakan oleh Sastria. Hal ini langsung ditambahkan bara oleh Evita,Amelya dan Fifa.


Indah yang mendengarnya hanya bisa menghela nafas. Ia tahu temannya ini semua adalah teman laknat.


“Baiklah”ucap Intari yang bangun dari duduknya. Ia menatap kekanan kiri dengan melangkah kesamping untuk keluar dari kursinya.


Ia menatap lagi hingga tak menyadari bahwa ada batasan untuk turun dari tangga kecil yang memang khusus dibuat.


Hingga...


Bruk!!!


Ugh!!


Intari terjatuh kebelakang, ia merasakan tubuhnya tidak sakit. Melainkan merasa dilindungi.


Dengan cepat Indah membuka mata dan melihat siapa yang menolongnya.


Pria dengan hoodie menutupi kepalanya. Menatap dirinya dengan pandangan datar. Namun bagi Indah, ia merasa dipandang dengan kehangatan didalamnya.


“Ah..Maaf”Amelya ingin menolong tapi ia juga terjungkal kedepan dan untungnya seseorang menahan tangannya.


Hingga Indah dan Amelya sama-sama merasakan keanehan didiri mereka melihat pria yang menolong mereka.


-


“Eh, yang menyelamatkan kalian dulu itu, Suno Rin dan Chan Ye kan?”tanya Evita.


Ucapannya didengar oleh Para Suami yang telah selesai bermain Raket.

__ADS_1


“Siapa?”tanya Yoongi yang melihat Istrinya terkejut dengan kedatanganya. Bahkan bukan hanya Yoongi, Echan juga melihat hal yang sama.


“Oh...teman kalian dulu, ingat Suno Rin dan Chan Ye”ucap Evita. ia tak ingin ada kesalahanpahaman yang membuat perkelahian.


“Lalu?”tanya Za yang mengerti situasi. Yoongi dan Echan menatap kearah Kakak Ipar mereka. Intari dan Amelya juga menatap hal yang sama.


“Dulu kami bermain Truth or Dare..lalu bertemu Suno Rin dan Chan Ye yang menolong Indah dan Amelya, jika mereka tak menolong Indah dan Amelya. Keduanya akan terluka saat itu..”


“Jadi Aku hanya memastikan saja apa ada yang tahu dimana mereka?”tanya Evita. hal ini membuat Za mengerutkan alisnya.


“Kenapa kau mencarinya?”tanya Za.


“Ah..aku hanya penasaran, masa depan mereka seperti apa Za..lagian kenapa sih, orang mereka aja udah lama tak berjumpa. Pasti lupa dengan kita kan”ucap Evita yang membuat 3 suami itu hanya bisa menghela nafas.


Sedangkan Intari dan Amelya masih was-was. Karena mereka tahu saat ini Yoongi dan Echan cemburu.


“Za..gendong..aku ingin istirahat..oh ya Intari dan Amelya setelah makan malam, kita ada rapat sebentar”ucap Evita yang merentangkan tangan minta digendong.


Za mengendong Evita. “Rapat apa lagi Evita, jangan beranggapan kau sudah sehat, tahu itu”ucap Za menegur Evita.


“Iya..iya, santai aja. Aku tahu kok Suamiku”nada manis berbisik ditelinga Za. Hal ini membuat Za memerah, ia langsung melesat pergi meninggalkan dua pasangan yang saling menatap untuk minta penjelasan.


-


“Evita sialan”benak Intari dan Amelya yang menghela nafas. Mereka melihat mood suami mereka berubah.


“Kalau cemburu bilang, kalau marah bilang.lagian saat itu Kita belum saling mengenal”ucap Intari yang membuat Yoongi menatap dirinya.


“Kenapa, memang benar..lagian mungkin kalau Aku suka Chan Ye, kau pasti tak ada didepanku..melainkan dirinya”ucap Intari yang membuat Yoongi mengenggam tangannya.


“Kau milikku, bukan miliknya”ucap Yoongi dengan penuh penekanan.


“Oh.maka dari itu janganlah cemburu..karena aku memang sudah jadi milikmu”


Berbeda dengan Intari, Amelya menatap Echan yang menunduk. Amelya mengenggam tangan Echan yang langsung digenggam kembali oleh Echan.


“Dengar Echan, aku memang suka Suno Rin, tapi itu dulu..yeah namanya juga suka..sekarangkan aku sudah jadi milikmu..jadi apa lagi yang kau pikirkan..jangan cemburu..ya”ucap Amelya.


Echan yang mendengarnya menghela nafas. Ia mengangguk untuk membuat suasana berubah.


-


“Tuan Rin...ini hotel untuk anda”ucap seorang wanita. Style kantoran melekat ditubuhnya. Ia membawa tablet untuk selalu siaga disetiap saat.


Kepala mengangguk menjawab apa yang diucapkan oleh wanita tadi. Seorang yang dipanggil Tuan masuk kedalam kamar hotel miliknya. ia meletakkan jas yang dikenakan lalu melongarkan dasi yang dipakai.


“Huh~..lelahnya untuk mengejar mimpi”suara berat dikeluarkan. Namun untuk orang yang mendengarnya tak mungkin menganggap itu ucapan berat melainkan suara merdu yang keluar, bagaikan nada musik yang menyambut.


“Besok..yeah kapan aku bisa cuti?”gumannya yang merebahkan tubuh dikasur besar miliknya.


Jika ia kelelahan beda dengan pria yang saat ini sibuk dengan berkas ditangannya. Ia menandatangani apa yang memang sudah seharusnya dan membaca dengan teliti apa yang harus diperhatikan olehnya.


Kedua tangan yang sibuk itu berhenti setelah semua berkas telah diselesaikan. Dan seketika itu juga rasa lelah menghantui dirinya.


“Tuan Chan, semua berkas sudah siap. Malam ini pesawat anda akan berangkat”ucap seorang pria yang merupakan asisten pribadinya.


Orang yang bernama Chan mengangguk, ia mengambil jas yang tergantung dikursi empuknya. Lalu memakai jas tersebut dipundaknya dan melangkah keluar bersama dengan asisten pribadinya.


“Semua berkas sudah ku selesaikan, jadi selama aku melakukan syuting, jangan sampai ada kesalahan”ucap Pria yang bernama Chan tadi. Ia masuk kedalam mobil yang dibukakan khusus kepadanya.


-


“Aku dengar bahwa aku akan melakukan syuting dengan dua idol sekaligus aktor?”tanya Derka jamesta yang saat ini tengah menyelesaikan acara penutupan dari film yang dibintanginya.


Ravel mengangguk, “Benar..kalian akan memerangkan film dengan pemeran utama sekaligus”


“Oh, apa judul filmnya?”tanya Derka yang memakai mantelnya. Ravel menjawab “Tiga pria tampan milik tiga wanita bar-bar”


“Oh..judul yang menarik, baiklah”Derka melangkah masuk kedalam mobilnya. Ia akan kembali kekota Q dan niatnya kali ini bertemu dengan Evita. Moa kesayangannya.


Meski sudah tahu tak ada harapan lagi, ia tetap mencintai Evita lebih dari apapun. Dan jika suatu saat nanti ada wanita yang mencintainya atau ia yang jatuh cinta pada wanita selain Evita. ia akan menempatkan wanita tersebut dihati yang berbeda.


Agar wanita itu tidak merasa menjadi penganti seseorang. Dan tak ada niat bagi Derka untuk mengubah posisi Moanya. Karena bagaimana pun Moanya akan menjadi wanita pertama yang dicintainya.


Huh cinta itu merepotkan. Sudah tahu ada yang memiliki, sudah tahu ia tak bisa digapai. Tapi masih ada harapan kecil yang membuatnya tetap mencintai. Bodoamat dengan ejekkan, selama ia bahagia, ia tak akan menangapi itu semua.

__ADS_1


__ADS_2