
Disebuah wilayah yang sangat luas, sudah bersiap lebih dari ribuan orang dengan senjata mereka.
Wilayah yang digunakan sangat luas, tentu saja mereka berada ditebing perbatasan antara kota A dan kota Q.
Orang-orang yang berbaris itu dengan siap mengerahkan senjata mereka. mereka hanya tinggal menunggu perintah untuk mengerakkan senjata yang ada ditangan.
Evita menatap dengan pandangan datar, melihat begitu banyaknya orang-orang dibawah kendali Tuan Mavin Vintorian. Tidak menduga bahwa hari ini akan menjadi akhir dari dendam didalam dirinya.
“Evita, mereka bukan hanya Mavin Vintorian, tetapi ada 4 orang lain yang sepertinya menginginkan kematianmu”terang Intari. Melihat bahwa orang-orang Mavin Vintorian, mampu menyudutkan mereka.
Intari dan Amelya tahu bahwa Evita sebagian besar dilindungi oleh Keluarga Mavin ini.hanya mereka tidak tahu seberapa kuatnya Mavin Vintorian melindungi Evita.
Sekarang tidak ada lagi kata melindungi, melainkan kata menang dan kalah. Entah dendam siapa yang terbalaskan.
“Sepertinya, ini memang berhubungan dengan Mafia, selama ini aku tidak terlalu tahu, hanya aku penasaran..siapakah orang yang selalu mengirim uang kepadaku?”tanya Evita.
Intari dan Amelya diam memikirkan apa yang diucapkan oleh Sahabat mereka. mengingat kebelakang, tepat saat Evita sudah kehilangan Orang Tua angkat, ada orang misterius yang memberinya uang setiap bulan. Memang uang itu tidak diberikan secara langsung, selalu ditransfer kedalam rekeningnya.
Dan uang yang dimasukkan kedalam rekening Evita, tidak main-main dalam jumlahnya. Setelah dikirim kedalam rekening, Evita akan mendapat pesan bahwa itu adalah uang dari orang tua angkatnya.
Mengingat hal tersebut, mereka menjadi yakin. Evita adalah Queen mafia yang disebut-sebut oleh mereka.
“Sebastian, tidak perlu menunggu pergerakan musuh, langsung saja menyerang. Karena bagaimana pun kita disini bukan memamerkan seberapa banyak orang-orang kita, tapi kedatangan kita disini karena ingin menghabisi mereka”ucap Evita yang membuat semua bersiap dengan posisi masing-masing.
Evita akan turun tangan, ia tahu bahwa ia sedang melindungi seseorang. Tetapi untuk menuntaskan hati yang sudah tersakiti itu, ia harus membunuh Mavin Vintorian dengan tangannya sendiri.
Sebastian langsung bergegas untuk memerintahkan orang-orang yang ada dibawah kendalinya. Dalam beberapa detik, bunyi senjata diadu terdengar dengan begitu kuatnya.
Intari dan Amelya berdiri disamping Evita. mereka sudah mengatakan akan melindungi Evita apa pun yang terjadi. Dengan berada disamping Evita, Intari dan Amelya membagi tugas tanpa perlu diskusi. Intari menjaga didepan, lalu Amelya menjaga dibelakang.
Sebastian dan Raja menjaga di samping kanan dan Kiri Evita. mereka bersiap dengan berbagai senjata yang ada ditangan mereka.
Suara peluru lolos dengan begitu baiknya, malam yang seharusnya sunyi, kini dihiasi oleh suara indah dari senjata yang digunakan.
Waktu dengan cepat berjalan, mereka melihat sebagian besar orang-orang mereka sudah tumbang, Intari dan Amelya mulai banyak bergerak, mereka harus membantu orang-orang mereka dari kejauhan.
Melihat orang-orangnya sudah mulai berkurang, Evita mengambil pistol ditangannya. Ia menerka-nerka, apakah ia mampu bertahan saat ini, melihat dirinya sendiri.
Bayangan orang tuanya, dari kebahagiaan dan kematian, semua terukir indah dikepala Evita. ia bisa membayangkan kedua orang tuanya sedang memegang pundaknya.
“Intari, Amelya.. bisakah kalian mengantarkanku kepada Tuan Mavin Vintorian”ucap Evita.
Mendengar ucapannya, semua terteguh, mereka bisa melihat bahwa menuju ketempat Mavin Vintorian, memiliki usaha yang besar, karena mereka masih dilindungi oleh orang-orang mereka. ditambah ada 4 orang asing yang tidak mereka kenali. Bisa saja sebelum tiba disana, mereka sudah membunuh Evita.
“Evita, aku tidak tahu apa yang kau pikirkan, tapi saat ini apakah kau yakin dengan keputusanmu itu?”tanya Amelya.
Evita mengangguk, “Tenang saja, Maya Anita Zahra akan tiba”ucap Evita menyakinkan.
Intari dan Amelya saling memandang, mereka pun mengangguk bersama-sama dan mulai bergerak membuka jalan kepada Evita.
Dor!!!
Dor!!!
Dor!!!
Intari dan Amelya tidak main-main dalam membidik, mereka langsung mengenai sasaran dengan begitu baiknya. Evita bahkan tidak perlu mengeluarkan senjatanya. Ia dengan tenang melangkah mendekati Mavin Vintorian yang menikmati waktu santainya.
Clang, Dor!!!
Peluru terakhir lolos mengenai sasarannya. Semua mata menatap kearah Evita. dengan senyum ramah, Mavin Vintorian menyambut Evita bersamaan uluran tangannya.
“Kemarilah Baby”ucap Mavin Vintorian.
Intari dan Amelya menjadi penghadang tangan terulur itu. mereka berdua harus hati-hati, karena disini bukan menjadi wilayah mereka, melainkan wilayah musuh.
Evita menatap kearah uluran tangan yang diberikan. Dulu saat pertama kali bertemu dengan Tuan Mavin ini, ia akan menyambut dengan begitu cepat, sekarang jangankan menyambut, ia tidak ada niat untuk menangapi apa yang diberikan kepadanya.
__ADS_1
Uluran tangan itu pun kembali, Mavin Vintorian tersenyum sambil mengeluarkan sebatang rokok untuk dihisap olehnya.
“Aku mendengar bahwa dirimu sedang hamil, anak dari Tuan Zhan Za Chen, Putra dari Tuan Besar Zhan Omorfos. Sungguh luar biasa, ku pikir kau akan mengandung anak dari putraku, Mavin Vintorin”
Evita dengan tenang mengusap perut yang membuncit itu, ia menjawab sambil menodongkan senjatanya. “Seharusnya dirimu tahu, apa yang akan terjadi...bukankah kau yang merencanakan ini. Bukan kah dirimu yang sudah mengenalku lebih dahulu Tuan Mavin Vintorian”
Mavin Vintorian menghembuskan asap rokok kearah samping, ia menatap kembali kearah Evita. “Kau benar, aku sudah memprediksinya.....karena sejak kita bertemu di kapal pesiar itu, aku sudah menemukan jawaban yang selama ini ku cari”
Kerutan muncul diantara alis Evita, ia menatap dengan begitu serius. “Jawaban?...apa yang kau temukan dari diriku. Saat itu kita saja tidak saling mengenal”
“Kita memang baru pertama kali bertemu, tetapi bagiku kita sudah pernah bertemu....sepetinya ingatanmu masih belum sepenuhnya kembali, apa kau mengingat pertemuan besar yang kau ikuti bersama Ayah angkat dan Ayah kandungmu”
Evita diam memikirkan apa yang diucapkan oleh Mavin Vintorian. Ia memutar ingatannya.
“Sepertinya dirimu memang belum bisa mengingat semuanya, baiklah..akan ku buka ingatanmu yang dulu, aku akan mengatakan beberapa hal, semoga kau mengingatnya”Mavin Vintorian melanjutkan ucapannya setelah melihat Evita terdiam.
“Saat itu, kau tidak lama diangkat menjadi Putri keluarga besar Kim, sebuah gendung putih menjadi tempat untukmu bermain disekelilingnya...”
Evita membelakkan mata ketika mendengar ucapan dari Mavin Vintorian. Bayangan masa lalu mulai bermunculan. Ia menulikan pendengarnya, karena dibelakang tubuhnya masih beradu peluru untuk melumpuhkan orang-orang yang akan terus bergerak.
Disebuah gedung tinggi berwarna putih. Seseorang berlari mengejar adik-adiknya. Wajah berkulit sawo mentah itu dipandang sebelah mata oleh orang-orang.
Ia terus berlari hingga menabrak seorang wanita yang memiliki paras begitu cantik.
“Astaga, apa kamu tidak apa-apa?”suara lembut bertanya kepada gadis yang berusia belasan tahun.
“Hm..aku baik-baik saja, terimakasih Kakak cantik”ucapan Gadis yang kini berdiri dengan benar.
“Sama-sama...siapa namamu wahai gadis muda”ucapan lembut bertanya lagi kepada Gadis yang ada didepannya.
“Evita, namaku Evita”jawab Evita dengan senyum manis berlesung kecil dipipi kanannya.
“Namaku Raiya, panggil saja Yaiya”ucap Wanita yang memiliki suara lembut yang begitu indahnya.
Evita mengangguk, “Baik Kak Yaiya..hm kakak disini sedang melakukan apa?”tanya Evita.
Keduanya berdiri ditengah-tengah taman halaman gedung besar. Evita melupakan adiknya yang kini asik bermain ditaman.
Evita menunjukkan lagi lesung pipi yang kecil itu. ia pun menjawab, “ aku sedang menghadiri pertemuan besar”
“Pertemuan?....diusia mudamu ini, apakah dirimu seorang pengusaha muda, Evita?”tanya Yaiya yang membuat Evita terkekeh.
Dengan gelengan kepala Evita menjawab, “Bukan aku yang sedang melakukan pertemuan, tapi Papah dan Ayahku”
Yaiya yang mendengarnya langsung memandang Evita dengan wajah penasaran, “Kau!..punya dua ayah?”
Pertanyaan yang diberikan oleh Yaiya membuat Evita tersenyum bersamaan dengan kekehan dari mulutnya. “Iya, aku punya dua Ayah”
Yaiya tampak penasaran dengan cerita Evita, hingga ia menarik Evita dan duduk dikursi taman.
“Benarkah?..bisakah dirimu menceritakan kepadaku, bagaimana kau bisa memiliki dua Ayah?”Yaiya bertanya dengan wajah yang begitu penasaran.
Evita merasa bahwa ini momen yang begitu lucu, bagaimana bisa wanita yang umurnya saja sudah berpaut jauh darinya, memiliki wajah lucu karena penasaran dengan kisah dirinya ini.
Evita dengan senang hati menjawab, “Tentu saja aku bisa menceritakannya”
Yaiya, wanita itu langsung memposisikan dirinya untuk bisa fokus mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh Evita.
“Beberapa bulan lalu, Papahku mengajak diriku bertemu dengan sepasang suami istri. Mereka mengatakan kepadaku. Bahwa aku, akan diangkat menjadi putri mereka....sebenarnya sempat ada niat untuk menolak”
Evita menatap kearah langit-langit yang begitu indah dipandang olehnya. “Aku menolak karena merasa tidak pantas saja, orang tua yang mengadopsi seorang anak pasti karena sesuatu, bisa jadi ingin mempermudah keturunan atau apa pun itu....tetapi ternyata pikiran ku itu salah, mereka tidak mengangkatku menjadi anak mereka hanya karena hal seperti itu, mereka mengatakan bahwa mereka bisa saja mengadopsi anak panti, jadi untuk apa mengadopsi diriku”
Yaiya mendengarkan Evita bercerita dengan wajah seriusnya. Tidak ada niat untuk menghentikan Evita bercerita.
“Karena mendengar jawaban seperti itu, Aku memutuskan untuk menerimanya. Sebenarnya aku sempat bertanya kenapa tidak memilih adik-adikku, mereka laki-laki. Tetapi jawaban mereka sangat membuatku kagum”
“Apa yang dijawab oleh mereka?”tanya Yaiya dengan wajah yang sangat-sangat penasaran.
__ADS_1
“Mereka mengatakan, bahwa diriku memiliki fisik lelaki, dengan sikap yang begitu bijaksana. Lalu memiliki mata yang tajam dengan pandangan yang seperti Papahku, sangat intes”
Yaiya yang mendengarnya mengangguk, Evita kembali melanjutkan. “Jadi begitulah yang terjadi, sekarang aku memiliki dua orang tua”
“Apakah tidak sulit memiliki dua orang tua?”tanya Yaiya kembali.
Evita dengan tenang menjawab. “Menurutku sih ada sulit dan nyamannya, nyamannya ya double kasih sayang, lalu sulitnya. Karena pengaruh keluarga....”
“Margamu?”Yaiya bertanya dengan begitu hati-hati.
Evita tahu bahwa kehati-hatian orang didepannya ini, pasti karena merasa aneh dengan dirinya.
“Margaku, Alex...bersamaan dengan marga Kim”jawab Evita. terlihat wajah Yaiya menjadi suram, tampak panik dengan getaran ditangannya.
Evita menatap bingung dengan apa yang dilihat, ia ingin menenangkan wanita yang ada didepannya. Namun wanita itu sudah bergegas bangun dengan ucapan cepat keluar dari mulutnya.
“Maafkan aku, sepertinya aku harus kembali, sampai nanti Evita..”ucapnya dengan langkah pergi yang begitu cepat.
Evita ingin menyusul kepergian Yaiya, namun sayang ia langsung dihentikan oleh dua bodyguard yang datang menghampirinya.
“Nona muda, Tuan besar mencari anda”ucap salah seorang bodyguard yang langsung dianggukkan oleh Evita.
Evita melangkah menuju kearah pintu masuk gedung, terlihat banyak wartawan yang menanti kedatangan dari Ayah angkat Evita.
Evita tidak penasaran dengan pekerjaan atau apa status dari Ayah angkatnya. Ia hanya tidak terlalu suka dengan banyaknya wartawan ini.
“Dimana Ayah dan Papah?”tanya Evita. kedatangannya kali ini bersama dengan Ayah angkat dan Papah kandungnya. Entah pertemuan apakah yang dijalani oleh mereka.
“Mereka ada didalam Nona Muda, masuklah”ucap salah seorang bodyguard yang menentukan jalan. Evita mengangguk dan mengikutinya.
Perlu waktu untuk tiba di tempat orang tuanya. Evita menatap kearah pintu besar yang didalamnya ia ketahui, bahwa ada Ayah dan Papahnya.
“Masuklah”seorang penjaga pintu membukakan pintu kepada Evita. Evita melangkah masuk kedalam dan melihat bahwa ada sebuah meja bundar dengan tiga kursi. Semua kursi sudah diduduki.
Melihat kedatangannya menjadi pusat perhatian tiga orang itu, Evita menundukan kepalanya agar ia tidak merasa malu.
“Kemarilah Putriku”
Evita mengenali suara orang yang memanggilnya, ia bergegas mendekat kearah Papahnya.
Duduk dipangkuan sang Ayah kandung, Evita melihat senyum dua pria dewasa didepannya.
“Inikan Putri angkatmu Tuan besar Kim?”tanya seorang pria asing dengan mata yang terus menatap kearah Evita.
Evita menatap juga kearahnya, lagian ia merasa tertarik dengan tatapan tajam orang tersebut.
“Iya, ia adalah putri angkatku, dan ia yang akan mewarisi kekuasaanku”jawab Ayah Angkat Evita, ia bernama Kim Hyun.
“Mewarisi?...siapa namanya hingga kau ingin memberikan warisanmu kepadanya?”tanya orang asing itu kembali.
Ayah Angkat Evita menjawab, “Namanya Evita, dan nama dari ku adalah Kim Hyun Jae”
Pria asing itu mengangguk, “Tuanku punya Seorang putra, jika mereka berjodoh, ku harap mereka bisa dipertemukan dalam kebahagiaan”
“Kau ingin menjodohkan mereka?”tanya Papah Evita, ia bernama Muchen.
Pria asing itu mengeleng, “Aku tidak berhak menjodohkannya, karena Ayahnyalah yang berhak menjodohkan dirinya”
Pria asing itu mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah Evita. Evita diusia belasan tahun merasakan kehangatan dari usapan lembut dipipinya.
“Apakah ia siap menerima semuanya nanti Tuan Kim dan Tuan Muchen, anda tahu...kedatanganku disini atas sebuah surat peninggalan darinya, yang mengatakan bahwa ini harus dipercepat, karena putranya sudah siap mewarisi segala tahta yang dimiliki”
“Tentu, Putriku akan siap menerimanya, benarkan Evita”ucap Papah Evita yang langsung dianggukan oleh Evita sendiri.
Saat itu Evita masing mengingat jelas, bahwa didalam tubuhnya tertanam sebuah CD card yang sudah berapa tahun ditubuhnya. Yang pasti CD card itu sangat rahasia hingga ia harus menyimpan segalanya.
Tanpa disadari oleh Evita, ia melangkah mundur dengan tangan yang memeluk kedua bahunya. Wajah paniknya tampak jelas hingga keseimbangannya tidak terkontrol dengan baik.
__ADS_1
Bruk!!!
“Hati-hati sayang!”