
Dua hari kemudian...
Semua kembali seperti semula, sibuk mengerjakan ini dan itu. meski sesibuk itu, Intari dan Amelya masih memperhatikan Evita. Evita tidak banyak bicara, sering diam dengan pikian kalutnya. Namun Evita masih bisa berbicara dan bergaul dengan mereka.
Intari menghela nafas mengingat pagi tadi saat sarapan. Suasana memang kembali seperti semula, namun Evita yang banyak diam itu membuat suasana suram menghampiri mereka. bahkan Zhan Za Chen tidak bisa mengembalikan Evita di mood bahagianya.
“Yeah, tidak ada yang bisa memahami semua itu dengan satu malam saja, Evita pasti mengontrol diri agar kandungannya juga tidak kenapa-napa”
Intari menatap kearah coffee yang telah dipesan olehnya, saat ini ia menikmati makan siang disalah satu restorant miliknya. disaat ini juga ia mengecek data-data restorant yang dibangunnya.
Rasa malas sangat menghantui Intari, Raja tidak mungkin akan mengejarkan semuanya. Apa lagi sebagian besar perusahaan Intari, harus dirinyalah yang memeriksa segalanya.
Intari menghela nafas, ia menyeduh kembali coffee yang menjadi kesukaannya.
Kring!!!
“Nyonya,Ini ada beberapa file yang pelu ditanda tangani”ucap Raja datang bersamaan dengan berkas ditanganya.
Intari baru saja selesai dengan berkas restorant. Melihat Raja membawa berkas yang lain wajahnya bertambah datar.
“Ini Nyonya, ada berkas-berkas yang perlu anda baca juga, kerja sama dengan beberapa perusahaan sangat berkembang pesat. Hanya saja..”
“Ah Raja, bisakah kamu tidak datang bersamaan dengan berkas itu, mataku sakit melihat berkas seperti ini”
Intari mengambil berkas yang dibawa oleh Raja, menatap malas dengan apa yang tertulis disana. Rasanya ingin sekali Intari membuang berkas ini, namun jika ia membuangnya itu sama saja ia membuang hasil jerih payahnya.
“Aku akan menandatangani semuanya..oh ya apa ada kabar dari Sebastian. Aku mendengar bahwa Sebastian sangat sibuk hingga ia tidak bisa beristirahat sama sekali”
Intari mengingat jelas, saat ia tidak sengaja bangun pagi, ia melihat Sebastian sudah berangkat kerja mengantikan Bossnya.
“Raja kurang tahu Nyonya, karena Raja juga mengurus semua keperluan Nyonya”ucap Raja menjawab pernyataan Intari.
Mendengar jawaban Raja, Intari terdiam. Ia tahu bahwa ini salahnya juga karena tidak bekerja dengan baik.
“Ah Ya..baiklah aku akan mengerjakan semua ini dalam waktu singkat”ucap Intari yang mulai mengerjakan berkas untuknya.
Tiba disore hari, waktu yang sangat cepat berlalu. Separuh dari berkas yang dibawa oleh Raja sudah ditangani oleh Intari.
“Oke, ini bawalah kembali..dan beberapa Berkas ini akan ku bawa pulang, dan harus ku teliti lagi..terimakasih Raja”Intari mengangkat berkas yang akan dibawa pulang olehnya. Ia pun melangkah meninggalkan restorant miliknya.
Bruk!!!
“Maafkan Aku”Intari menatap sekilas kearah orang yang ditabrak olehnya. Karena terlalu asik berbicara dengan Raja dan bersemangat untuk menyelesaikan tugasnya. Ia berakhir menabrak orang yang menjadi pelangan di dalam restorantnya.
“Indah!”
Intari mengangkat kepalanya untuk melihat siapa orang yang memanggil dirinya dengan nama aslinya. Sangat jarang orang tahu nama aslinya. Meski pun tahu biasanya mereka akan memanggilnya dengan sebutan ‘Intari’ nama pemberian dari Evita kepadanya.
Dan sekarang ada lagi orang yang memanggil dirinya dengan nama yang sangat jarang didengar olehnya. Kecuali dari Yoongi. Suaminya itu akan selalu memanggilnya dengan nama ‘Indah’ atau akan berubah menjadi ‘Kim Haneul Nim”. Tetapi Intari merasa panggilan dari Suaminya itu merupakan ciri khas yang luar biasa.
Intari berdiri dengan sedikit mengerutkan alisnya, melihat pria didepannya. Pria yang memberikan senyum ramah kepadanya dengan kaca mata yang dikenakan.
“Apa anda Indah Lestari?”
Pertanyaan itu berhasil membuat Intari mengingat seseorang. Seseorang yang sangat lama tidak diingat olehnya. Lebih tepatnya orang yang tidak ada niat sekali pun untuk bertemu kembali.
Ia tidak lain adalah Chan Ye. Pria yang dulu merupakan seorang pengusaha di sebuah restorant. Lalu pria itu juga yang berani terang-terangan mendekatinya disaat Yoongi sudah menjadi kekasihnya.
“Jika dirimu tidak menjawabnya, aku yakin Kamu adalah Indah Lestari”ucap Chan Ye dengan cepat menarik tangan Intari.
Hal ini berhasil membuat para bodyguard yang ditugaskan menjaga Intari langsung mengepung mereka. semua pelangan yang ada dibuat kaget melihat apa yang terjadi.
“Ada apa ini?”tanya Chan Ye melihat para pria berjas menghalangi langkahnya.
“Nyonya Intari, apa kami perlu menghabisinya sekarang?”tanya salah seorang bodyguard.
Intari tercenga melihat apa yang terjadi. Karena terlihat jelas bahwa bodyguard yang ada merupakan orang-orang milik Evita. ia tidak menduga ternyata Evita menjaga dirinya sampai seperti ini.
__ADS_1
“Nyonya Intari?”Chan Ye menatap kearah Intari yang masih digenggam oleh dirinya.
Intari yang mendapatkan tatapan itu tersenyum miris. “Hm..maaf sebelumnya Kak Chan ye, bisakah anda melepaskan tanganku terlebih dahulu”
Tangan Intari pun dilepaskan dari genggaman Chan Ye. Intari menatap kearah Pria yang ia sendiri bingung untuk berbicara apa. Namun saat ini orang-orang tengah memperhatikannya.
“Kak Chan Ye, jika memang ada keperluan denganku, kita bisa berbicara disuatu tempat...karena sekarang aku tidak bisa berbicara bebas denganmu”ucap Intari.
Tampak dimata Intari, melihat Chan Ye yang memahami situasi. Intari tidak ingin berlama-lama, ia tidak ingin menjadi artis dadakan dilayar televisi.
“Ini kartu pengenalku, hubungi aku jika memang ada sesuatu. Permisi”ucap Intari melangkah meninggalkan restorantnya. Ia berdiri dengan begitu elegan meninggalkan pria yang pernah menjadi bossnya.
“Aku tidak menduga akan bertemu denganmu disini”benak Chan Ye menatap kepergian Intari.
-
Intari tiba di mansion gagak, ia bergegas pergi kearah ruangan kamar Evita. dengan begitu terburu-buru, ia mengetuk pintu kamar Evita.
Krek!!
“Ada apa Intari?”Evita menatap kearah Intari yang datang kepadanya dengan wajah penuh akan keingin tahuan.
“Evita, Apa maksudmu menjagaku dengan puluhan bodyguard?”Intari bertanya dengan begitu cepat.
Mendengar pertanyaan Intari, Evita memutuskan untuk keluar dari kamarnya. Ia melangkah pelan menuju keruang tamu dimana makan sorenya sudah dihidangkan.
Evita tidak terlihat suntuk dengan apa yang terjadi 2 hari yang lalu, bahkan nafsu makan Evita bertambah banyak dari sebelum hingga membuat Evita tampak gemuk.
“Kenapa?...Apa dirimu baru menyadarinya Intari?”Tanya Evita saat tiba diruang tamu. Seorang pelayan melesatkan kursi khusus untuk Evita. karena kandungannya itulah Evita sangat diperhatikan.
Intari untuk sesaat terdiam ,ia menatap kearah Pelayan yang meletakkan kursi tambahan untuk kaki Evita.
“Dirimu seperti seorang putri ya Evita, kamu dilayani dengan begitu baik”Intari tidak pernah mengatakan hal seperti ini, namun entah kenapa ia tidak tahan untuk tidak mengucapkannya.
“Yeah, ini kasih sayang seorang suami kepadaku, kalian juga akan merasakannya..dan jika Orang tua kita masih ada. bukan hanya merasakan seperti seorang putri bangsawan, dirimu juga merasakan seperti ratu yang penuh akan rasa kasih sayang”
“Sudah jangan seperti itu, tidak ada salahnya dengan ucapanmu. Memang benar aku dilayai bak ratu yang sangat terhormat hingga orang-orang tidak bisa bertemu denganku..”ucap Evita dengan nada ketusnya.
“Ah..”Intari ingin mengatakan hal lain, namun ia tidak berani berbicara, dan memilih diam dibelakang Evita.
“Aku akan menjawab pertanyaanmu, kenapa aku memberikan pelindungan kepada kalian..itu semua karena diriku memiliki janji kepada orang tua kalian. Aku berjanji akan menjaga kalian selalu hingga akhir hidupku. Dan janji itu tidak akan pernah ku lupakan. Maka dari itu kalian akan selalu dilindungi. Hanya..”
“Aku tidak menyuruh para bodyguard menjaga dimanapun. Mereka akan menjaga ditempat-tempat yang jarang kalian kunjungi dan sering kalian kunjungi. Hanya mereka tidak seperti bodyguard umumnya. Mereka menyamar menjadi penduduk biasa dan hidup seperti biasanya. Layaknya kehidupan normal.jadi tidak perlu khawatir, mereka tidak akan menganggu kalian lebih dari apa yang ku tugaskan”ucap Evita.
Intari mengangguk, ia menatap pungung kecil Evita yang begitu teguh ditempat duduknya. Pungung itulah yang menjaga mereka juga.
“Hm, Apa Amelya juga mendapatkan perlindungan ini?”tanya Intari.
“Ya, Kalian berdua mendapatkan perlakuan yang sama”jawab Evita dengan tenang.
-
Bruk!!!
“Tunggu, Hentikan”Amelya menghentikan bodyguard yang melindunginya. Ia mengerutkan alis melihat apa yang ada didepannya.
“Bagaimana bisa Bodyguard Evita disini?”benak Amelya. Ia menolong seorang pria yang telah membantunya.
Yeah beberapa saat yang lalu. Amelya berencana untuk berbelanja bulanan bersama para pelayan. Ia sudah menyelesaikan tugas kantornya. Jadi ia menghabiskan sisa waktunya untuk berbelanja sekalian meringankan otaknya dengan kejadian dua hari yang lalu.
Saat asik berbelanja, ia tidak menduga seseorang merampas tas yang dibawa olehnya. Amelya tidak mengejar pencuri itu, karena isi tas yang dibawanya hanya card yang bisa diblokir olehnya nanti.
Namun seorang pria baik hati menolongnya dan menangkap pencuri yang telah kabur , dan lagi Amelya dikagetkan dengan bodyguard Evita yang muncul tiba-tiba, dan menghajar Pencuri yang menganggunya.
Begitulah kejadian yang dialami oleh Amelya, sekarang polisi mulai mengatasi masalah yang ada. ingin rasanya pulang dari tempat ini karena Amelya malu. Malu karena banyak bodyguard Evita yang menjaganya.
“Aku bisa gila melihat bodyguard Evita ini”benak Amelya. Ia mengambil tasnya dan ingin melangkah pergi, karena sisanya akan di tangani oleh Bodyguard Evita sendiri.
__ADS_1
“Hm, Maaf..Apa anda Amelya”
Amelya mengangguk dan menatap kearah orang yang berbicara kepadanya. Matanya langsung menyusut kala melihat orang yang sudah bertahun-tahun tidak ditemui olehnya.
“Suno Rin?”Wajah Amelya masih menghadirkan tanda tanya. Dengan wajah seperti itu, ia berhasil membuat pria itu menyentuh wajahnya.
“Hm, Aku Suno Rin. Amelya ternyata kamu makin tambah cantik ya”ucap Suno Rin dengan senyum cerahnya.
Amelya menatap tidak percaya, pria yang dulu takut dengan osis bagian keamanan, kini tampak tampan dan bahkan memiliki wajah bahagia yang sangat menyilaukan dimata Amelya.
“Saingan Echan”benak Amelya tanpa sadar.
“Ehm. Maaf Tuan, tolong jauhkan tangan Anda”ucap salah seorang bodyguard yang menjauhkan tangan Suno Rin dari wajah Amelya.
Amelya baru menyadarinya, ia pun menjauhkan diri dari Suno Rin. Mantan kakak kelasnya dulu saat ia sekolah di SMK.
“Amelya, apa kamu punya waktu luang malam ini, aku ingin berbicara denganmu”Suno Rin tampak tidak perduli dengan para bodyguard yang ada. ia menatap Amelya dengan wajah yang sangat bahagia.
“Hm..baiklah, jika memang ada sesuatu yang penting, kita bisa bertemu. Malam ini aku bisa datang”Amelya merasa tidak masalah untuk bertemu dengan mantan kakak kelas ini. Lagian ia tidak akan pergi sendiri nanti. Ia akan mengajak Echan untuk pergi bersama dengannya.
“Baiklah..mari bertemu disalah satu cafe, ini cafenya”Suno Rin memberikan selembar brosur cafe yang sedang ramai dikunjungi oleh orang-orang.
Amelya mengangguk dan mengambil brosur yang diberikan. “Baiklah..aku akan menemuimu dijam 7 malam. Kalau begitu sampai jumpa”Amelya melangkah pergi meninggalkan Suno Rin yang bahagia setelah berjumpa dengannya.
-
Derka jamesta berdiri di sebuah mansion yang sebenarnya baru pertama kali dikunjungi olehnya. Melihat banyak sekali bodyguard yang berjaga. Ia merasa harus hati-hati berada didalam mansion itu.
“Apa anda Tuan Derka Jamesta, Nyonya Evita menyuruh anda untuk masuk. Ia sudah menunggu diri anda”ucap seorang pelayan yang datang menghampirinnya.
Derka berniat mengunjungi Evita, sudah sangat lama ia tidak melihat orang yang dicintainya itu. yeah ia harus bisa melupakan oleh yang sangat dicintainya ini.
Tiba diruang tamu, terlihat seorang wanita tengah duduk sambil menikmati salad buah.
“Nyonya Evita, Ini Tuan Derka”ucap Pelayan sambil membungkuk. Evita langsung menatap kearah Derka yang tercenga melihat kondisinya.
“Hai Dydy”Sapa Evita dengan berdiri menyambut kedatangan pria yang dianggap olehnya sebagai adik kandung sendiri. meski ia tahu pria yang berusia lebih muda darinya ini merupakan pria yang telah jatuh cinta kepadanya.
Dydy atau Derka jamesta. Ia masih tercenga melihat Evita dengan perut yang tidak bisa dibutakan oleh penglihatannya. Karena sudah dipastikan Evita bukanlah miliknya. melainkan milik orang lain.
“Dydy, ada apa?”tanya Evita dengan menyentuh pundak Derka.
Derka langsung tersadar dan mengenggam tangan Evita dengan sangat lembut.
“Ah...Maafkan Aku, Kakak Moa..aku hanya tidak menduga akan disambut seperti ini”mata Derka menatap kearah perut buncit Evita. wajahnya penuh akan pertanyaan. Kapan ia hamil?,kapan ia melakukan hubungan yang begitu serius?,dan kapan ia menikah?. Otak Derka penuh akan pertanyaan yang perlu jawaban.
Evita menatap kearah perutnya, tangan yang digenggam oleh Derka, dituntun untuk menyentuh perut bundar milik Evita.
“Ini anakku Derka,..mereka akan menjadi keponakkanmu”ucap Evita dengan wajah bahagia.
“Me-mereka?”Derka menatap dengan wajah panik. Panik mendapati tingkah Evita, dan panik merasakan gerakkan kecil yang menyentuh telapak tangannya.
Derka dengan hati-hati menarik tangannya untuk menjauh. Evita yang mendapati hal itu hanya tersenyum dan kembali duduk disofa dengan menikmati salad buahnya.
“Aku sudah menikah Derka, tentu saja bukan dengan Mavin Vintorin, tetapi dengan Zhan Za Chen. Pernikahan kami tidak dirayakan karena saat itu sangat mendadak. Tetapi inilah hasilnya. Aku mengandung anak dari Zhan Za Chen..dan aku bahagia”Evita berbicara sambil menyantap salad buahnya.
Ia menatap kearah Derka yang diam tidak bergerak sama sekali. Ada rasa tidak enak dihati Evita. namun ia tidak boleh goyah, karena bagaimanapun orang yang dicintainya adalah Za.
“Aku tahu, kamu juga mencintaiku”ucap Evita dengan cepat, Derka terkejut mendengar apa yang dikatakan olehnya.
“Ba-bagaimana Kak Moa tahu..hal itu”nada terakhir Derka sangat begitu pelan. Bahkan wajahnya pun menunduk dengan perlahan.
“Yeah, Aku mudah menyadarinya meski kadar kepekaanku kadang sangat rendah. Namun yang pasti, Derka. Aku bahagia sudah mengenalmu, kamu adalah orang baik yang mau menolongku. Lalu kamu juga adalah orang yang sangat ku sayangi seperti adik-adikku. Aku tahu bahwa aku tidak bisa membalas cintamu kepadaku. Namun rasa sayangku akan ku berikan karena kamu sudah ku anggap seperti adikku. Jadi apa kamu mau menjadi adik angkatku Derka?”
“Hm, akan ada seseorang yang kamu cintai, dan bahkan kamu akan bisa hidup bahagia bersama dengannya..ak”
“Kak, bisakah aku memelukmu?”tanya Dekra dengan wajah yang penuh harapan. Evita menatapnya dengan tersenyum dan merentangkan tangan untuk menyambut Derka yang kini memeluknya.
__ADS_1