
Za menatap kearah wanita yang tidur didadanya. Wajah yang lelah dengan keringat yang masih belum kering. Za mengusap wajah yang baru terlelap dalam lautan mimpi karena perbuatannya.
Ia tak menduga dengan apa yang terjadi, dipikirannya bayangan Evita yang begitu puas akan permainannya sulit menghilang diotaknya. Ia menarik nafas lalu menghembuskannya.
“Ku harap setelah ini yang ada didalam bayanganmu adalah diriku...”guman Za yang melanjutkan kembali tidurnya. Meski sadar sudah saatnya bangun karena jam sudah menunjukan pukul 5 pagi.
-
Intari bangun lebih dahulu, Ia melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelahnya ia memutuskan untuk membuat sarapan.
“Hm....la..la..la”Guman Intari sambil mengeluarkan beberapa bahan makanan yang ingin dimasak olehnya. Meski dirinya sendiri belum terlalu pandai dalam memasak.
“Pagi!!”ucap Liyana yang membuat Intari langsung menatap kearahnya. “Oh pagi Liyana...Vino?”tanya Intari yang menduga-duga pria kecil itu akan bangun dijam 5 pagi ini.
“Dia masih tertidur...Vino tak suka bangun jam 5 pagi”ucap Liyana yang mengambil air putih untuk menyegarkan tengorokkannya.
“Oh...apa dia meniru sifat ayahnya?”tanya Intari tanpa menyadari bahwa yang ditanya tersedak air putih.
“Hahah....mungkin”jawab Liyana dengan cangung. Tak lama Amelya datang dengan wajah yang sudah segar. “Pagi”ucapnya.
“Pagi”balas yang lainnya. Semua melakukan kegiatan mereka masing-masing sambil berbincang.
“Eh...sejak kapan kalian jadi rajin memasak gini?”tanya Liyana sambil mengupas wortel yang ada.
Amelya yang tengah membersihkan Ayam menjawab “semenjak kami menikah”yeah tak ada salahnya, karena mereka memang mulai melakukan semuanya saat sudah mendapat status sebagai seorang istri.
“Ooh..jadi gitu, tapi hanya kalian?”tanya Liyana lagi. ia bermaksud untuk memasukkan Evita dalam perbincangan mereka.
“Tidak juga, Evita juga kadang membantu, meski hanya menyiapkan piring saja”jawab Intari yang menyalakan kompor listrik yang ada.
Mereka bertiga melakukan kegiatan seperti sudah tinggal bertahun-tahun dirumah sederhana milik Evita. padahal ini pertama kalinya mereka berada dirumah yang entah keberapa.
Berjalannya waktu, semua telah dihidangkan dengan aroma yang sangat enak. Intari dan Amelya merasa puas dengan hasil masakkan mereka. Liyana yang melihatnya tersenyum dengan sembunyi-sembunyi.
“Ibu”ucap Seorang pria kecil yang melangkah keluar dari kamarnya. Ia mengusap matanya sambil berjalan mencari sang induk yang berdiri tak jauh dari tempat Pria kecil itu melangkah.
“Ibu?”ucap Pria kecil itu yang tak lain adalah Vino. Ia melangkah tanpa tahu dimana keberadaan Ibunya.
Intari dan Amelya yang melihatnya melangkah kearah mereka berdua langsung terkekeh.
“Ibu”ucap Vino yang makin melangkah kearah Intari. Ia bahkan merentangkan tangannya untuk meminta digendong.
“Sial gemesnya”benak Intari yang mengendong Vino. Vino tak menyadari saat tubuhnya di angkat. Tapi saat ia merasakan gendongan yang didapatnya. Vino langsung menatap tajam kearah Intari.
Hal ini membuat Intari dan Amelya langsung kaget. Masalahnya tatapan itu mirip seseorang yang mereka kenali.
“Sini”ucap Liyana yang mengambil alih gendongan Intari. Intari tersadar saat Vino sudah pindah posisi darinya.
“Ibu....pagi”ucap Vino dengan wajah yang masih mengantuk. Amelya yang sudah kembali sadar mendekat dan mengusap kepala Vino.
“Liyana...uruslah Vino...sudah saatnya Vino untuk mandi”ucap Amelya yang mendapat anggukan oleh Liyana.
“Kau benar..baiklah, Aku akan mengurusnya”Liyana melangkah pergi meninggalkan dua orang yang terhanyut dalam pikiranya.
“Amelya....jangan bilang kan Ayah anak itu orang yang selama ini kita benci”ucap Intari yang berdiri didekat Amelya.Amelya langsung mengeleng karena ia juga bingung menjawab apa.
“Aku tak tahu...hanya orang yang kita benci tak mungkin kan itu dirinya?”ucap Amelya yang menatap kearah tempat dimana perginya Liyana.
-
Yelina menyusun segala yang ada. saat ini keputusannya telah bulat. Ia harus secepat mungkin menghabisi Evita sebelum yang lainnya.
Berkerja sama dengan seorang wanita maniak gila ekperimen berhasil menemukannya dengan Evita. gadis yang menghancurkan club kecil miliknya.
__ADS_1
Bagaimana bisa Yelina membenci Evita. semua berawal dari sebuah tempat minuman yang diberi nama bar kecil. Bar tersebut harus ditutup oleh polisi karena ketahuan melakukan penjualan wanita.
Yelina lah yang menjadi boss dibalik itu semua. Alasan kenapa membenci Evita tak hanya itu, beberapa tahun yang lalu, Ia harus kehilangan bar kecilnya juga karena seorang wanita yang menyerang manager barnya. Hingga pihak yang banyak uang langsung menutup bar miliknya.
Yelina yang berasal dari keluarga berlatar belakang kehancuran itu berhasil bertahan hidup. diusianya ke 15 tahun harus berhadapan dengan buruknya dunia. Ia diperkosa saat usianya tepat 15 tahun. Dan hal tersebut berhasil membuat orang tuanya bunuh diri karena tahu tak bisa menjaga anaknya.
Yang membuat Yelina bertahan hidup karena pertolongan seseorang. Ia seorang gadis yang berusia lebih muda darinya. Wajahnya tak secantik bahkan tak memilik paras yang baik. Hanya sifat baiknya lah yang membuat Yelina berniat untuk bisa melanjutkan hidupnya meski dengan berjudi.
Yeah judi salah satu tempat pelampiasannya. Hidup sebatang kara tanpa orang tua. Dan mengalami banyak penderitaan hingga ia tak mempercayai apa yang ditakdirkan untuknya.
Yelina yang saat ini tengah menikmati mandi didalam kolam kecil, memandang dengan wajah datar kearah air yang putih karena mendapat campuran dari bahan-bahan herbal lainnya.
Matanya yang tak memiliki cahaya memandang dengan pandangan datarnya. Mengingat masa lalu dan perjalanan hidup ia berpikir kenapa bisa hidup sampai sekarang.
“kau..tak apa-apa?”tanya seorang gadis yang terlihat lebih muda darinya.
Yelina tak menghiraukannya. Ia melanjutkan langkahnya dengan membiarkan hujan membasahi dirinya. Meninggalkan gadis yang menatap kepergiannya.
Lama berjalan membuat Yelina kesal. Ia langsung menghempaskan payung yang susah payah dibawa oleh gadis kecil dibelakangnya.
“Apa yang kau lakukan hah?”tanya Yelina menatap tajam kearah seorang gadis yang mengambil kembali payung miliknya.
“Pakailah”ucap Gadis itu yang menyodorkan payung kearah Yelina. Yelina menghempaskannya, terlalu bodoh dirinya dikasihani oleh seorang anak kecil yang usianya saja lebih tua dirinya.
Gadis itu kembali mengambil payung yang dihempaskan oleh Yelina. Ia kembali menyodorkan payung yang menghalau hujan.
“Jauhkan itu dariku”ucap Yelina menatap kearah lain. lama ia menunggu yang didapatinya adalah hal yang sama “Ku bilang JAUHKAN INI DARIKU”teriak Yelina yang ingin menepis payung tersebut. Tapi saat ingin menepis tangannya ditahan oleh seorang pria yang berdiri dibelakang gadis didepannya.
“Kau jangan pernah menolak apa yang diberikan kepadamu, kadang sesuatu yang kau hempaskan itu adalah kebaikan untukmu..mungkin kau saat ini dilanda banyak masalah, namun tetaplah bertahan dan teruslah yakin,semua akan diganti dengan hal yang baik”ucap Gadis tersebut yang melangkah pergi bersama seorang pria dengan tubuh yang lebih kekar.
“Cih...aku diceramahi oleh seorang anak kecil”guman Yelina. Ia menatap kearah payung yang ditinggalkan begitu saja. Berdiam sebentar ia mengambil payung tersebut dengan air mata yang mengurai karena ia merasa diperhatikan oleh seseorang.
“Ketika nanti Aku bisa bertemu lagi dengannya, Aku mungkin bisa berterimakasih kepadanya”ucap Yelina yang melangkah keluar dari kolam kecil miliknya.
Tubuh kecil layaknya wanita, memiliki tato dibagian lengan kirinya. Rambut yang panjang setengah pungung kini disinggirkan dengan handuk yang membantu untuk mengeringkannya.
Yelina mengambil wine yang menjadi miliknya lalu melangkah keruangan yang lain. didalam ruangan itu terdapat sebuah payung yang sudah kusam tergantung disana. Dibungkus dengan kertas agar masih tetap bagus meski sudah tak bisa dikenakan lagi.
“sudah 13 tahun ya”ucap Yelina yang kembali menatap kearah foto besar yang memperlihatkan seorang wanita. Yeah wanita itu tak lain adalah orang yang ingin dibunuh olehnya, Evita!.
-
Mavin Vintorin baru saja mendarat. Dalam sekejap perjalanan ia melakukan dua kali penerbangan hanya untuk bisa datang bertemu Evita meski tak bertemu dan sekarang ia melakukan penerbangan untuk bisa bertemu dengan para pemimpin Mafia.
Langkah Mavin Vintorin menuju kemansion miliknya. ia mendapatkan penghormatan dari anah buah yang ada. dan seketaris pribadi miliknya. jangan bertanya apakah tak ada wanita yang berada didekat Mavin. Tentu saja tak ada, karena Mavin tak menyukai hal tersebut semenjak seorang pelayan berani membuatnya hampir melakukan tindakkan seperti Ayahnya.
Dinegara Amerika yang menjadi pertemuan kali ini berada tempat disalah satu kota terpencil yang memang menjadi wilayah seluruh Mafia.
Mavin melangkah untuk bersiap. Ia akan melakukan perjalanan yang lumayan dan akan sangat menegangkan.
“Siapkan senjata yang bisa langsung digunakan jika mendadak nanti”ucap Mavin yang langsung dianggukan oleh seketarisnya.
Kali ini Mavin tak ingin melewatkan pertemuan antara mafia ini. Semua yang terjadi ini merupakan hal yang langka.
-
Evita membuka matanya, tubuhnya serasa remuk, ia menatap kearah ruangan yang terlihat lebih bercahaya. Itu karena hari sudah sangat siang.
“Pagi sayang”ucap seseorang yang mencium Evita diatas kepalanya. Ia langsung bergegas bangun ketika menyadari suara tersebut. Tapi saat ingin mengangkat tubuhnya, Evita langsung rubuh karena tak tahan.
“Agh....”Evita menyentuh pingangnya yang begitu sakit. Ia mengingat apa yang dilakukannya kemarin hingga merasa remuk seperti ini. Tapi mengingatnya seketika membuatnya merah padam. Ia menyadari bahwa sekarang tak ada sehelai kain yang dipakai olehnya.
“Kenapa?...pingangmu sakit?”tanya Za yang menyentuh Evita. sentuhan yang Za berikan tak lagi membuat Evita takut. Ia hanya tambah malu mengingat kejadian tadi malam. Sungguh liar.
__ADS_1
“Ingin mandi?”tanya Za lagi, Evita masih tak menjawab, ia makin membenamkan wajahnya karena tak tahan bahkan tambah malu.
Za yang melihat tingkah istrinya seperti itu makin membuatnya merasa ingin mengoda. “Apa tadi malam masih kurang?”tanya Za yang berhasil membuat Evita langsung bangun meski masih menopang tubuhnya didada Za.
“Apa yang masih kurang?...tubuhku sakit semua...ini salahmu, sial berapa kali kau melakukan itu denganku hah?”Ucap Evita yang menatap kearah Za. Za yang ditatap memberikan senyumannya yang berhasil membuat Evita tambah memerah.
“Sial...Apa yang kau senyumkan...Za...sial!!!!”Pekik Evita yang memandang kearah lain dengan mengambil selimut untuk menutup tubuhnya. Tentu saja Evita tahu Za tersenyum karena melihat dirinya tanpa busana sama sekali.
“Ku pikir masih kurang...masalahnya semalam Aku sudah melakukannya beberapa kali, dan kau masih bisa bertahan,mungkin jika kantuk tak menyerangmu, Kau akan terus memintanya”ucap Za yang memilih untuk duduk dengan menarik Evita kedalam pelukannya.
Za membelai wajah Evita yang menatap kearah lain. lalu Za membimbing Evita untuk menatap kearahnya. “Bodoh Ha!!!...”Ucap Evita yang menatap kearah Za, jarak wajah mereka hanya beberapa inci.
“Asal Kau tahu...gara-gara dirimu, Aku tak bisa melupakan apa yang kau perbuat”ucap Evita yang makin lekat menatap Mata Za.
“Oh begitu kah..baguslah, jadi bayangan yang lalu telah terganti dengan bayanganku”ucap Za yang membuat mata Evita teduh kembali. Bahkan kilat cahaya yang tak ada kini sedikit terlihat oleh Za.
Cup
“Selamat pagi Evita Sayang”ucap Za yang mencium bibir Evita. lalu kembali memeluk Evita untuk mendapatkan hangatnya tubuh Evita.
Evita terdiam mendengar ucapan itu. ia tak habis pikir. Bagaimana bisa seorang pria yang baik bahkan bertahun-tahun hanya mencintai dirinya ini bertahan dan menunggu bahkan rela mencari cara untuk membuatnya melupakan apa yang terjadi padanya.
Evita membalas pelukkan itu, ia bahkan mencium kepala Za yang masih betah dipelukannya.
“Ini sudah jam berapa??”tanya Evita. sebagai seorang istri, ia pasti harus membuat sarapankan?.tapi ia sendiri tak tahu ini sudah jam berapa.
“Jam 9 pagi”ucap Za yang masih betah dipelukkan Evita. Evita langsung menatap Za dengan pandangan yang penuh keterkejutan.
“Sial Za...ini sudah pagi..bangun”Pekik Evita yang melepaskan pelukan Za. Namun..
“Agh!!!”Evita menyentuh pingangnya yang terasa sakit tentu saja area terlarangnya juga.
Greb
“Apa yang kau lakukan Za?”tanya Evita yang digendong ala bridal-style oleh Za. “Tentu saja mandi”ucap Za yang melangkah kekamar mandi. Evita yang mendengarnya langsung menatap horor.
“Sial Aku bisa mandi sendiri!!!”teriak Evita meski sia-sia karena tak didengarkan oleh Za.
-
Intari dan Amelya menghabiskan waktu mereka dengan bermain bersama Vino yang asik membangun sebuah menara dari lego.
“Lihat Tante Indah....Menara ini akan ku buat untuk Ibuku”ucap Vino dengan bangga.
“Oh bagus....menara yang sangat tinggi..siapa saja yang ada disana?”tanya Intari yang melihat sebuah menara dengan bentuk yang memang tak biasa.
“Aku...dan Ibu pastinya...tentu saja Kalian bisa berkunjung tapi hanya berkunjung”ucap Pria kecil itu yang membuat Amelya terkekeh mendengarnya.
“Pelit sekali ya”ucap Amelya dengan mengusap kepala Vino.
Liyana datang dengan wajah yang segar. Ia baru saja selesai mandi. Tentu saja Yoongi dan Echan juga sudah. Mereka berdua tengah menikmati teh hangat yang dibuat oleh Istri mereka.
“Pagi Yoongi..Echan”sapa Liyana yang dijawab dengan balasan yang sama.
“Loh..simanusia kebo itu belum bangun?”tanya Liyana memperhatikan bahwa hanya dua pasangan yang ada. satunya lagi masih dipertanyakan.
“Biasa...Evita memang suka tidur sampai kesiangan”jawab Intari yang memang tahu bahwa Evita sering tidur kebablasan. Amelya yang mendengarnya mengangguk.
Yoongi dan Echan saling memandang satu dengan yang lain. “Apa mungkin Kak Za telah melakukan itu?”ucapan dari wajah Echan yang membuat Yoongi mengeleng. Tentu saja jawabanya engak tahu.
“Berhenti berbicara tentang orang lain..apa lagi orang tersebut adalah orang terdekat kalian”ucap Evita yang datang dengan pakaian hoodienya. Intari yang melihat hal tersebut merasa aneh.
“Kenapa Kau mengunakan hoodie?”tanya Intari. Evita yang mendapatkan jawaban itu hanya mendengus dan berlalu begitu saja.
__ADS_1
“Kenapa lama sekali bangun hah?...kami semua lapar menunggumu”ucap Liyana yang ditemui oleh Evita.
Evita yang mendengarnya langsung menjawab “Maaf, biasa kebawa mimpi jadi engak bisa bangun”ucap Evita asal yang penting dijawab. Padahal aslinya mah engak. Ditambah memakai hoodie karena menutup apa yang membekas dilehernya. Itu pun jika dilihat lebih teliti pasti akan ketahuan. Evita hanya bisa berdoa semoga Sahabatnya tidak tahu.