
“EVITA!!!!!”
Intari dan Ameya menangkap Evita yang hampir terjatuh. Evita yang berada di dekapan dua sahabatnya,merasakan jantung yang berhenti berdetak.
Dua bodyguard bersiaga, bahkan bodyguard yang lain datang menjaga semua yang ada. sebuah senapan dibawa oleh bodyguard yang lain.
Melihat senapan yang dibawa, Evita bangun dari terjatuhnya. Intari dan Amelya panik dengan tindakkan Evita yang bangun dan merampas senapan bawaan Bodyguard.
“Nyonya!”
Semua menjadi bingung dengan yang terjadi, ingin melarang, Evita sudah menempatkan posisinya.
“Biarkan dirinya”ucap Intari dengan wajah penuh kekesalan. Amelya menatap Pelayan 2 yang lagi-lagi panik melihat tindakkan Evita.
“Bibi, tolong panggilkan dokter, dan satu lagi jangan sampai Za tahu akan hal ini”ucap Amelya. Pelayan 2 yang panik langsung mengangguk dan bergegas pergi.
Amelya yang melihat kepergiannya berharap semua akan baik-baik saja. Ia kembali menatap Evita yang begitu serius dalam membidik.
Evita menatap dengan begitu tajam, jari-jarinya sudah ditepatkan pada pelatuk senapan. Dalam hitungan detik peluru melesat cepat mengenai sasarannya.
Semua terdiam melihat apa yang terjadi, kebisingan menjadi sunyi setelah Evita menembakkan anak timah.
“Kalian periksa, mereka tidak akan pergi terlalu jauh”perintah Evita. beberapa bodyguard langsung bergegas menuruti apa yang diminta.
Intari dan Amelya membantu Evita. mereka melangkah kembali kedalam mansion. Terlihat semua pelayan mendekat tak terkecuali dengan Kepala Pelayan.
“Astaga Nyonya, apa yang terjadi kepadamu....?”tanya Kepala pelayan dengan penuh kepanikkan.
Intari dan Amelya hanya memandang sekilas, berbeda dengan Evita yang tidak memperdulikan ucapan dari Kepala Pelayan.
“Karena mendengar perkataan Pelayan 2, aku harus menghubungi Tuan Za untuk kembali dari kantor...anda pasti..”Ucapan Kepala Pelayan terhenti melihat Intari dan Amelya menatap tajam.
“Ehem, Tuan mengatakan jika terjadi sesuatu kenapa Nyonya, kami harus melaporkan secepat mungkin”lanjut Kepala Pelayan.
Intari dan Amelya tidak lagi bisa berharap banyak dengan Kepala Pelayan. Mereka merasa Kepala Pelayan ini benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi.
Kepala Pelayan yang melihat semua panik, diam-diam merasa begitu bahagia. ia pasti sudah melakukan hal yang akan membuatnya mendapatkan keuntungan.
Evita bangun dengan cepat, semua terkejut melihat Evita melangkah dengan tangan yang melindungi lukanya.
“Aku tidak memperdulikan dendammu kepadaku, tapi ingatlah satu hal..aku bisa menghabisimu”ucap Evita menatap Kepala Pelayan dengan tangan yang ditunjukkan didepan Kepala Pelayan.
Evita berdiri didepan Kepala Pelayan yang diam tidak bergeming. Semua yang melihatnya tahu bahwa tidak ada rasa takut dari kepala pelayan yang sudah diperingatkan oleh Evita sendiri.
BRAK!!!
“EVITA!!!!”
Intari dan Amelya menatap kearah suara langkah kaki yang begitu cepat. Mereka merasakan aura kemarahan yang masuk dengan begitu kuat.
Evita terdiam menatap kearah senyum tipis yang ditunjukkan oleh Kepala Pelayan. Matanya melihat dengan tenang meski tampak ia kelelahan.
“Evita!!..Kau!”Za dengan pakaian yang tak teratur melangkah mendekati Evita.
Tanpa perlu menatap Evita, Za sudah memeluk dirinya begitu erat dengan rasa takut yang mendalam.
Yoongi datang dengan nafas yang terhenga-henga. Melihat sang Suami Tiba, Intari mendekat dengan memberikan usapan kecil di pungung Yoongi.
“Dimana Echan?”tanya Intari. Yoongi langsung menjawab, “Ia bersama dokter”
Intari dan Yoongi melangkah mendekat kearah sofa. Amelya juga mendekat kearah tersebut. Mereka memberikan ruang untuk Evita dan Za yang memiliki sesuatu untuk dikatakan.
“Aku tidak tahu apa keinginanmu”ucap Za memulai pembicaraan. Mata Evita masih memandang kearah Kepala Pelayan yang melangkah untuk menjauh.
Kepala Pelayan tidaklah takut dengan pandangan Evita, ia bahkan masih menyungingkan senyumannya karena merasa puas dengan apa yang terjadi. “Akan bertahan berapa lama dia disini”benak Kepala Pelayan dengan bangga.
Evita menghela nafas sesaat, lalu melepaskan pelukkan Za. “Aku tidak apa-apa”Ucap Evita menatap Za yang ada didepannya. Wajah Za begitu rumit dipahami oleh Evita sendiri. ia merasa sedikit terancam.
“Tidak apa-apa?”alis Za terangkat, ia mencengkram bahu Evita dengan begitu kuat. Wajah Evita langsung berubah menjadi pucat bersamaan dengan rasa sakit yang ada.
Intari dan Amelya yang melihatnya langsung mendekat, begitu juga dengan Yoongi yang mendapati Kakak Pertama mereka lepas kendali.
“APA YANG TIDAK APA-APA EVITA!!!”Teriak Za didepan Evita. tangan mencengkram lepas di bahunya. Za menutup wajahnya dengan emosi yang makin memuncak.
“Kau!..Kau tak pernah mengerti diriku...Evita,Aku takut..takut kau tahu itu...”Za berbicara dengan menunjukkan perasaannya. Semua berhenti mendekat.
Evita yang merasa sakit dibahunya bingung menunjukkan reaksi seperti apa. Ia hanya bisa memandang Za yang perlahan meringkuh dikakinya.
__ADS_1
“Aku tidak tahu...aku tidak tahan lagi Evita!”wajah yang tak pernah nampak, kini terlihat didepan mata Evita. Wajah putus asa seseorang tampak begitu menyedihkan.
“Aku mencintaimu, aku mencintaimu, aku mencintaimu. Apa perkataan itu harus ku ucapkan. Apa setiap tindakkan ku harus ku perlihatkan. Evita!....aku hanya ingin kau tidak menderita lagi, aku takut kehilanganmu...aku ingin mengekangmu didalam kamar hingga kau tidak pergi meninggalkanku...tetapi aku tidak bisa melakukannya”
Intari dan Amelya menatap kearah Evita yang menunjukkan tatapan kosong. Mereka merasakan mata perih yang begitu mendalam.
Hidup sulit dipahami. Selama kita masih bernafas, semua akan tetap berjalan seperti biasanya. Yang berarti akan ada masa depan atau masa lalu yang dihadapi oleh mereka sendiri.
Evita memiliki kenangan yang sulit untuk dihilangkan, serta Za yang merasa trauma dengan kepergian Evita. keduanya sama-sama merasakan kesedihan yang mendalam.
Yoongi mandang Za dengan perasaan yang sama. jika diposisi Za saat itu, melihat kekasihmu didepan mata. Tetapi kau tak mengenalinya. Yoongi tidak akan mungkin bisa bernafas di sini sekarang.
Za memetakkan air matanya. Seumur hidup ia menangis karena hal-hal yang menyakitkan. Ia tidak ingin menangis tapi air mata yang dipendam terurai begitu manis dipipinya. Ia tidak mengangkat kepalanya, hanya mengangkat tubuhnya dan menghadap kearah Evita.
Semua pelayan beserta Kepala Pelayan bingung melihat hal yang ada didepan mata. Bodyguard yang sudah bersama Za pun kaget dengan perubahan Tuan mereka. Pria dingin yang tak pernah menunjukkan ekspresi menyedihkan seperti ini.
“Pergilah..”ucapan Za keluar dengan nada yang tenang.
Evita membelakkan matanya, suara Za bagaikan tetesan air yang jatuh kedalam genangannya. Suara tenang itu bergema didalam hatinya.
“Kau ingin membunuh Mavin Vintorian bukan?..pergilah, sepertinya disini Kau hanya akan terkekang..aku tidak bisa menahanmu Evita...kau tidak akan mendengar apa yang ku katakan atau yang ku pinta..tak apa, aku yakin setelah itu kau akan kembali kepadaku”
Evita melangkah mendekati Za. Ia mengenggam kemeja Za dengan erat. “Za..apa maksudmu itu..kau..kau..Kau”terurai air mata Evita.
Perasaan aneh muncul dibenak Evita, ia merasa tempat satu-satunya hilang begitu saja. Seperti ia dibuang dan dijatuhkan kedasar jurang yang begitu dalam. ia merasa kehilangan sangat kehilangan.
Za memeluk Evita dengan erat, menyampaikan rasa kasih sayang, cinta dan ketulusannya. “Dengarkan aku Evita!, aku melepaskanmu bukan berarti kau lepas dariku. Aku hanya membebaskanmu mengambil tindakkanmu. Hingga tujuanmu selesai. setelah itu Akan ku pastikan kau kembali dalam hidupku”
“TIDAK!!!”
Evita berteriak, ia mengenggam kerah kemeja Za dengan begitu kuat. Ia menatap mata Za yang memerah setelah menangis.
“Za..kau sama saja menyuruhku pergi, pergi menjauh darimu. Za apa maksudmu”
“AKU SUDAH MENGATAKANNYA EVITA!, AKU MUNGKIN AKAN MENYAKITIMU, AKU AKAN SEMAKIN MENYAKITIMU”
Evita menatap linglung dengan apa yang dikatakan, ia melepaskan cengkramannya.
“Aku ingin menyendiri Evita, jika kau tidak ingin pergi..aku yang akan pergi..tenang saja aku akan kembali dengan begitu..”
PLAK!!!
“Oke!!!.Pergilah..Pergilah...Pergilah, lakukan apa keinginanmu, Aku tidak akan mempermasalahkannya”ucap Evita dengan emosi yang sudah dipuncaknya. Semua terdiam bingung akan keadaan.
“Dokter tiba”ucap Echan dengan wajah kagetnya. Semua yang ada didalam ruangan tidak lagi begitu aman. Dokter pun mengeluarkan keringat dengan apa yang dilihatnya.
“Nyonya!”Sebastian datang setelah urusannya selesai. ia juga terkejut dengan apa yang terjadi. Baru saja selesai dengan tugasnya dan berharap mendapatkan pemandangan yang baik, tetapi nyatanya tidak seperti yang diharapkan.
“Baiklah, Za...tenangkanlah dirimu..setelahnya tentukan keputusannya seperti apa”ucap Evita yang memeluk Za, lalu mencium bibir yang selalu memberinya kecupan dipagi hari bahkan dimalam hari.
Setelah ciuman singkat, Evita melepaskan pelukkannya. Ia melangkah mendekati Sebastian yang kebingungan.
“Sebastian, kita pergi”ucap Evita. Sebastian mengikuti langkah Nyonyanya.
Kepergian Evita membuat semua orang terdiam, tidak ada yang menganggu bahkan menyentuh Za yang melangkah menaiki tangga.
Intari dan Amelya tidak bisa berbuat banyak. Karena masalah kali ini berhubungan dengan rumah tangga Evita sendiri. yang bisa mereka lakukan adalah menyemangati Evita.
“Aku akan menyusul Evita”ucap Intari. Yoongi yang mendengarnya mengangguk.
“Aku juga ikut Intari”ucap Amelya yang melangkah bersama Intari.
Echan menghela nafas dan menjelaskan situasi kepada Dokter, ia menyuruh sopir yang ada untuk mengantar kembali dokter yang sudah dijemput olehnya.
-
Evita masih menangis dengan wajah yang ditutupi. Perasaan emosionalnya begitu sangat mendalam. Ia merasa semua begitu hampa setelah menjauh dari Za.
Sebastian yang membawa mobil menatap bingung kearah spion tengah.
“Apa yang terjadi, kenapa Tuan Za malah membuat Nyonya bersedih?”pikiran didalam benaknya benar-benar menghantuinya. Ia merasa bahwa amarah didadanya memuncak. Kepercayaannya kepada Tuan Za sangat besar, ia bahkan merelakan cintanya. Ia melakukan itu semua karena ia tahu bahwa Tuan Za akan membahagiakan Evita selalu. Tetapi sekarang, rasa kepercayaan itu menghilang.
“Hiks!...Hiks!!!...Za, Za sangat menjagaku, sangat mencintaiku, sangat menyayangiku..tetapi, tetapi....Huaaaa!!!”bawaan Hamil membuat emosinya benar-benar pecah. Sebastian yang menyetir harus menepi untuk memenangkan Nyonya-nya.
“Nyonya, apa aku harus mengantarmu kembali?”tanya Sebastian. Ingin rasanya memeluk Evita seperti dulu, tapi sekarang Evita bukan lagi orang yang mudah untuk didekati. apa lagi Evita berstatus istri dari seorang keluarga Terkenal. Akan berbahaya jika orang-orang tahu, dan kesalahpahaman bisa terjadi. Akhirnya Sebastian hanya bisa memberikan tisu untuk menenangkan Nyonya-nya.
“Se-Sebastian, Za tidak mengusirku, tetapi..kenapa, kenapa aku huaaaa”
__ADS_1
Lagi-lagi Evita menjatuhkan air matanya. Sebastian merasa begitu kesal dan marah terhadap Tuan Za karena membuat orang yang dicintainya menangis.
Saat Evita menangis-menangis, maka Zhan Za Chen menghadapi emosi yang meluap-luap. Belum pernah dirinya semarah dan sepayah ini.
Brak!!!
Bruk!!!
Brak!!!
Bruk!!!
Crashhhh
Cermin yang terpajang didekat pintu harus hancur berkeping-keping. Hancurnya memberikan keindahan dikamar Za. Cahaya lampu yang tidak terlalu terang menyinari serpihan cermin.
Tangan terkepal erat dengan darah yang mengalir disetiap buku-buku tangan. alisnya menukik dengan begitu tajam, wajah yang tenang itu berubah menjadi hal yang berbeda dari biasanya.
AGH!!!!
Teriakkan mengema didalam kamar kedap suara. Kaki menekuk hingga berakhir dengan berlutut bersama air mata yang mengalir membasahi pipi, dan pipi itu mulai memerah karena suasana sudah berubah.
Apa yang telah ku lakukan?
Apa yang telah ku ucapkan?
Apa yang telah ku marahkan?
Pertanyaan didalam kepala mengisi dengan cepat setelah ketenangan menghilang. Za menatap kosong kearah pintu kamarnya. Berharap seseorang mengetuk pintu dan mengatakan maaf kepadanya.
Namun harapan tetap harapan,tidak ada yang datang. Tidak ada yang mencari dan tidak ada yang kemari. Semua sudah terjadi apa lagi yang diharapkan olehnya.
Hubungan yang seharusnya indah, seharusnya menjadi musim semi dalam hidup ternyata hanya menghadirkan musim panas bersamaan dengan musim dingin. Setelah musim dingin maka musim panas akan mengisi harinya. Dan musim yang lain entah kapan menghampiri hidup indah Za.
Kehilangan orang yang dicintai, tidak pernah merasakan kasih sayang langsung seorang ibu dan perhatian dari Ayah. Hidup dalam aturan keluarga hingga bingung dengan segala keputusan. Setelah merasa hidup tenang meski semua yang dijalani harus dipilih oleh Bibi Kedua. Kehidupan memberinya semua hal baru..
‘Cinta’ yang menjadikan kisah seseorang, menghubungkan dua insan dalam kata cinta. Dan cinta itulah yang berhasil mengubah hidupnya. Mengubah segala yang ada hingga ia merasa hidup lebih lama didunia dan membahagiakan orang yang dicintai.
Tetapi nyatanya semua yang ada dicinta itu penuh akan perjuangan dan pengorbanannya.
Helaan nafas Za berhembus, mengingat masa lalu, mengejar Evita. lalu mencoba memahami sikap Evita yang seperti anak manja. Dirinya tahu Evita hanya menguatkan diri dengan apa yang ada didalam hidup.
Wanita itu hancur lebur. Hidupnya penuh akan tantangan. Diperk*sa, dijadikan buruan oleh musuh, kehilangan orang tua angkat, kehilangan orang tua kandung. Za merasa bahwa ia harus menjadi benteng kuat yang menutupi semua masalalu buruk dari Evita.
Nyatanya, ia masih belum bisa melakukannya. Ia masih belum bisa menghilangkan masa lalu Evita. Za tidak berbohong dengan keinginanya untuk mengurung Evita. didalam hatinya, ia sudah merencanakan bagaimana caranya Evita tidak keluar dari kediamannya.
Tetapi sayang, rasa cinta dan sayangnya terlalu kuat hingga ia tak sanggup melakukan hal itu. dan sekarang penyesalan didalam dirinya muncul.
Kaki yang lemas itu pun bangun dengan perlahan, air mata Za masih mengalir dengan deras, ia meraih kenop pintu dan membukanya.
“Tuan Muda Za”
Za terhenti diambang pintu, melihat dua pria berjas yang berdiri didepan kamarnya.
“Tuan Muda Za..mari ikut dengan kami”
-
Hosh!!!hosh!!!
“Apa kita masih dikejar?”
“Aku pun tidak tahu...Sial, Wanita itu mengerikan, bagaimana ia bisa mengenai sasaran tanpa persiapan?”
Syuuttttt!!
Agh!!!Agh!!
Dua bodyguard datang menangkap pembunuh yang telah melukai Evita. para bodyguard itupun langsung mengamankan tangkapan mereka.
“Apa kita membawa kembali ini semua?”tanya Salah seorang bodyguard yang mendudukkan diri karena kelelahan.
“Ya, kita harus membawanya ke Tuan Besar”jawab yang lain.
“Aku tidak menduga, bagaimana bisa Nyonya melakukan itu..maksudku, ia tidak memiliki persiapan dalam menembak. Bahkan ia sudah menetapkan sasarannya dengan cepat dalam sekali pandangan..aku tidak bisa mempercayainya”
“Tidak percaya tapi sudah terjadi, apa perlu bukti lagi?...aku mendengar dari para pelayan yang mengatakan bahwa Nyonya kita adalah orang yang berani menampar Bibi Kedua dari kediaman utama..apa kita perlu bukti tentang Nyonya kita?”
__ADS_1
Bodyguard yang bertanya langsung mengeleng, mereka berdua sama-sama merasa tidak pantas memandang Nyonya mereka sebagai wanita rendahan. Keduanya bergegas kembali untuk melaporkan hasil yang menjadi tugas mereka.