
“Kita pulang?”ucap Mavin Vintorin menatap kearah Liyana yang mengendong Vino.
Sudah jam 11 malam, dan Vino menghabiskan waktu untuk bermain ditaman bersama Ayah dan Ibunya. Hal ini menjadi momen yang akan dikenang dalam memori anak berusia 5 tahun itu.
Karena puas bermain, Vino terlelap tidur didalam dekapan Ibunya. Dan saat ini Liyana berjalan bersama Mavin Vintorin menuju keparkiran mobil.
Liyana tak menjawab ucapan Vintorin, ia hanya mengangguk sebagai ganti jawaban dari pertanyana Vintorin. Keduanya masuk kedalam mobil.
“Kau pasti lelah juga mengendong dirinya dari tadi, biar aku yang memangku dirinya..”ucap Mavin Vintorin menatap Vino yang tidur dipangkuan Liyana.
“Ehm, jika kau tak ingin, tidak apa. Aku akan menjalan kan..”Mavin Vintorin menatap kaget melihat wajah Liyana yang ada didekatnya. Untuk sesaat pikiran liar menghantuinya.
“Berjalanlah”ucapan Liyana menyadarikan Mavin Vintorin. Ia terteguh sesaat karena melihat Liyana yang sudah memasang sabuk pengaman.
Mavin Vintorin menatap kearah pangkuannya. Dimana ada Vino yang tidur dengan memeluk erat tubuhnya.
“Ada apa denganmu?”tanya Liyana kembali menyadarikan Mavin Vintorin.
“Ah maaf, untuk sesaat pikiranku berhenti berjalan”jawab Vintorin dengan ngelantur.
Mavin Vintorin tak berbohong. Karena saat Liyana meletakkan Vino dipangkuannya. Saat itu lah, wajah keduanya saling berdekatan dengan hanya berjalan beberapa centimeter saja. Hal itu berhasil membuat mavin Vintorin ingin mencium Liyana.
Hal yang benar-benar menghentikan jalan pikirnya. Mavin Vintorin mengembalikan kesadarannya, dan langsung menjalankan mobil mewah untuk mengantar Liyana dan Vino.
Apa tak berpikir untuk menculik Liyana dan Vino?, dirinya seorang mafia bukan. Namun ia belajar satu lah dari Evita. wanita akan makin membenci seseorang jika ia melakukan sesuatu yang kelewatan batas.
Dulu Mavin Vintorin berniat menculik Evita, namun niat itu urun karena Evita mengalami trauma akibat dirinya diculik. Maka dari situlah Mavin Vintorin belajar bahwa dirinya tak boleh bertindak yang akan membuat Liyana serta Vino menjauh darinya.
Perjalanan pulang diisi oleh keheningan. Karena Vintorin maupun Liyana tak saling berbicara. Hanya suara dengkuran kecil milik Vino yang menjadi backsound didalam keheningan itu.
Cittt!!!!
“Ini”Mavin Vintorin memberikan Vino kepada Liyana. Ia menatap wajah tidur putranya yang begitu mengemas.
“Bagaimana wajahnya ketika masih bayi”benak Mavin Vintorin menatap dengan rasa sesak didada.
“Terimakasih Tuan Mavin”ucap Liyana yang membenarkan gendonganya. Ia sudah ditunggu oleh supir lain yang akan mengantarnya langsung kegedung detetif.
“Yah sama-sama, dan terimakasih juga karena sudah mengijinkan ku bertemu denganya”Mavin Vintorin menatap Liyana yang mengangguk. lalu masuk kedalam mobil dan pergi meninggalkan dirinya.
Rasa sesak didada tak bisa dipungkiri. Vintorin merasa bahwa ini ujian untuknya. Baik cinta maupun kasih sayang. Karena dibesarkan tanpa rasa keibuan. Ia hanya mengetahui rasa kasih sayang Ayahnya. Maka wajar ia begitu sulit menghadapi wanita.
Jika dulu ia mengikuti Ayahnya, mungkin sudah banyak wanita yang ditiduri olehnya. Dan untungnya semua tak terjadi. Meski ia harus telah meniduri wanita yang merupakan Ibu dari Anaknya.
Mavin Vintorin masuk kedalam mobil, ia akan kembali ke tempatnya. Dan menunggu apakah dirinya bisa bertemu Evita. karena kali ini ia juga berniat untuk membantu Evita membunuh Ayahnya sendiri.
-
Keindahan pagi dihiasi dengan suasana yang begitu luar biasa. Itulah yang terjadi diruang makan para keluarga.
“Evita, hidangkan sarapan Kakek”ucap Kakek pertama yang menarik perhatian Evita. Evita kali ini sudah bisa ikut sarapan bersama, dan tentu saja Infus masih harus dipakai olehnya.
“Baik Kakek”ucap Evita yang mendekat kearah Kakek Pertama. Namun belum tiba ditempat duduk sang Kakek, Za sudah menarik dirinya hingga duduk dipangkuan Za.
“Eh?, apa yang kau lakukan Za?”Evita menatap suaminya dengan pandangan yang penuh pertanyaan. Sedangkan Suami sibuk menikmati sarapan.
“Za, apa yang kau lakukan kepada istrimu itu?”tanya kakek kedua yang diam-diam metertawakan Evita yang ingin lepas dari dekapan Za.
“Hei, Cucuku ini sangat cemburuan, ia bahkan tak mengijinkan Istrinya menghidangkan sarapan untukku, yasudah menantu Indah dan Amelya, kalian yang menghidangkan untukku”ucap Kakek pertama yang membuat Intari lalu Amelya mengangguk bergegas mendekat kepadanya.
Sarapan pagi yang indah itu memenuhi kediaman Zhan, hinga membuat Bibi Kedua menjadi gerah melihatnya. Ia memutuskan pergi tanpa diketahui orang lain selain suaminya.
-
“Bagaimana caraku menyinggirkan dirinya, aku merasa bahwa dirinya akan menyinggirkan diriku cepat atau lambat, namun yang pasti ia akan menyinggirkanku”benak Bibi kedua.
Ia begitu gelisah jika berdiam diri didekat keluarga yang diam-diam membenci dirinya. Semenjak kematian orang tua Zhan Za Chen. Dalam keluarga Zhan, bibi kedua masih dianggap orang asing.
__ADS_1
“Apa yang harus ku lakukan, tunggu..ia sedang hamil kan?”benak Bibi Kedua.
Matanya menatap kearah lantai yang begitu mengkilap, ia melangkah dengan perlahan, lalu menatap kearah yang lain. dengan senyum kecil yang terukir. Bibi Kedua melangkah dengan rencana yang ada didalam pikirannya.
-
Diruang tengah, duduklah Evita,Intari dan Amelya. Bersama Ibu Yoongi,Ibu Echan dan Ibu Putra. Mereka sibuk menyuapi para menantu yang baru saja dibawa oleh anak-anak mereka. apa lagi menantu yang sudah lama menjabat sebagai bagian keluarga Zhan.
“Bagaimana enak Evita?”tanya Ibu Putra kepada Evita yang menyantap kue manis buatannya. Evita mengangguk tak bisa menjawab karena mulutnya sudah penuh dengan makanan manis.
“Ugh!, Ibu ini terlalu banyak”ucap Intari yang berbicara dengan mulut penuh. Ia tak menduga ibu mertuanya ini benar-benar menyumpal kue didalam mulutnya.
“Ah....kunyah dengan benar, maafkan Ibu ya”ucap Ibu Yoongi yang memberikan Intari segelas air putih. Intari langsung menerima gelas tersebut dan meminumnya.
Berbeda dengan kedua sahabatnya, Amelya dengan tenang menyuap kue manis dari hidangan Ibu Mertuanya. Amelya menatap kearah dua sahabatnya yang sedang kewalahan meladeni ibu mertua mereka.
Ingin rasanya tertawa, namun niatnya urun ketika melihat Evita yang tertawa bebas tanpa hambatan.
“Aku tidak tahu bagaimana caramu menahan diri sampai sekarang Evita, kau kehilangan orang tua angkat, kehilangan orang tua kandung. Lalu kau juga harus mengetahui bahwa suamimu juga kehilangan orang tuanya..”
“jika aku diposisimu, aku mungkin tak pernah menunjukkan wajah penuh kebahagiaan itu, sungguh aku tak akan bisa melakukannya”benak Amelya yang menyantap kembali kue manis buatan Ibu Mertua.
“Uhuk!,Tante Titi jangan menyumpal semuanya, mulutku tak akan muat”ucap Evita dengan menatap kearah Ibunya Putra.
Semua langsung tertawa mendengarnya, Intari pun harus tersedak akibat ucapan Evita.
“Ayo~, apa kau kenyang Evita?”tanya Ibu Putra yang mencolek pipi Evita yang masih diisi oleh kue-kue manis.
“Aku belum kenyang, tapi bisakah Tante tidak menyuapiku dengan cara berlebihan, ini membuatku tersedak Tante”Evita menatap kearah para Tante-tante yang merupakan Ibu mertua bagi sahabat dan Sepupunya.
“Oh ya, Inul tidak kesini?”tanya Evita yang bisa makan dengan tenang setelah meladeni para Tante-Tante suaminya.
“Ia pasti dirumah Ibunya, lagian jarang sekali dirinya berkumpul bersama keluarga Alex. Itulah kenapa ia tak disini sekarang”jawab Ibu Putra dengan ikut menyantap makanan manis.
“Oh ya,Indah dan Amelya. Aku mendengar bahwa kalian merupakan seorang pengusaha, baik dibidang kemampuan bahkan dibidang bisnis. Apa kalian tidak kekantor?”Ibu Yoongi bertanya sambil menatap kearah orang yang dituju.
Intari dan Amelya tersenyum mendengarnya. Mereka berdua ingin menjawab pertanyaan dari Ibu Yoongi. Namun Evita membuka suara lebih dahulu.
“Mereka Ceo nya Tante, mereka bisa menganti diri mereka dengan seseorang. jadi tak masalah tentang rapatnya, untuk dokumen mereka mengerjakannya dirumah”jawab Evita dengan tenangnya.
“Oh, apa bisa begitu?”Ibu Echan menatap serius kearah Evita yang masih makan dengan tenang.
“Tentu saja bisa Tante, karena kita memperkerjakan orang dan mengajinya. Aku juga melakukan hal yang sama. jadi itu bisa mengurangi pekerjaan kita yang begitu padat”jelas Evita sambil mengunyah makanannya.
Ia melupakan Sahabatnya yang ingin menjawab pertanyaan dari Ibu suami mereka.Intari dan Amelya menatap Evita dengan wajah kesal mereka.
“Kalau begitu bukan kah para karyawan yang berkerja bersama kalian, tak akan mengetahui siapa bos sebenarnya?”tanya Ibu Putra.
Evita diam sesaat, hal ini membuat Intari mengambil alih pembicaraan.
“Yeah memang tak bisa dipungkiri jika para karyawan tak mengetahui boss mereka. tapi kami melakukan jejak singkat tentang kami. Seperti ruang boss atas nama kami. Lalu seketaris yang selalu datang atau orang yang mengantikan kami. Akan selalu mengingatkan bahwa boss mereka adalah Kami”jawab Intari dengan merasa bahagia setelah mengambil alih pembicaraan.
Evita tampak tak peduli. Ia memilih melanjutkan makanannya. Dari pada ikut berbincang.
“Apa kalian pernah bertemu dengan penganti kalian itu?”tanya Ibu Yoongi yang mulai tampak serius.
Amelya mengambil alih, “Yeah, kami memilih mereka secara langsung. Jadi mereka tak mungkin melupakan kami. Apa lagi kami kadang melakukan rapat langsung dengan mereka. jadi tak perlu khawatir”ucap Amelya mengakhiri.
Para Tante itu mengangguk-angguk dengan apa yang diucapkan oleh Amelya.
“Kau ingin kemana Evita?”tanya Intari yang menatap kearah Evita.
Evita bangun dari duduknya. “Aku ingin beristirahat, kalian lanjutkan ceritanya. Dan maaf Tante tak bisa berbicara banyak”ucap Evita. ia memang sudah mulai bosan. Apa lagi suaminya mulai kembali sibuk dengan urusan kantor.
“Yasudah, istirahatlah. Jangan lupa vitaminmu diminum dan satu lagi, jangan tidur dilantai, kebiasaan aneh mu itu terlalu unik”ucap Ibu Putra yang hanya dianggukkan oleh Evita.
Yeah memang benar, belakangan ini Evita sering tidur siang, dengan tidur dilantai. Ia terlalu malas naik kekasur besar yang empuk itu. karena tingkahnya itu, para anggota keluarga menjadi khawatir kepadanya. Ubin yang dingin itu menjadi alas untuknya tidur, dan semua itu hampir diganti menjadi karpet lembut untuknya. Karena kebiasaannya yang tidur dilantai.
__ADS_1
Evita berlalu pergi meninggalkan para menantu dan mertua yang menikmati waktu santai.
“Apa dia selalu begitu, ia sering diam setelah berbicara panjang lebar”ucap Ibu Putra menatap pungung Evita.
“Tenang saja Tante, memang seperti itulah Evita. ia jarang bersama saja. Biasanya ia akan sendirian, disetiap waktunya”ucap Intari menghilangkan pikiran negatif dari para Tante dan ibu mertuanya.
“Baiklah kalau begitu”ucap Ibu Putra.
Mereka kembali berbincang dengan menghabiskan cemilan manis yang dibuat oleh para menantu keluarga Zhan.
-
Evita menghela nafas dengan pelan. Perutnya mulai membuncit. Ada rasa geli didadanya. Tak pernah terpikirkan bahwa ia harus hamil diusia yang bukan lagi muda. Hanya aneh saja merasakan semuanya.
Bayangkan dulu, dirinya suka berbalapan, suka menodongkan pistol dikepala orang. Sekarang, ia sedang mengandung dan harus membatasi kegiatannya.
“Sial, apa yang ku pikirkan”benak Evita kala pikiran mulai bermunculan. Ia melangkah menuju kearah tangga. Karena kamarnya bersama Za berada dilantai dua.
Saat berjalan menuju kearah tangga, matanya yang tajam melihat sesuatu. Kilat cahaya memantul dengan begitu lemah. Namun mata Evita yang sudah diasah dalam keadaan genting, begitu paham akan situasi.
“Seseorang menebar minyak? Tidak..bukan ditebar melainkan sengaja ditumpahkan. Apa seseorang ingin mengerjaiku?”benak Evita. matanya menatap kearah tangga. Terlihat sekali beberapa anak tangga berisikan minyak yang siap menjatuhkannya.
“Sebenarnya aku tak ingin memikirkan masa lalu, namun menarik”senyum tersiat dengan indah saat Evita membenak.
Dirinya ingat bahwa banyak yang harus diurus dan dihadapi. Mulai dari pelayan yang tak suka kepadanya. Kepala pelayan dan terakhir orang yang mengasuh Suaminya.
Ia tahu persis. Saat ini ia sedang menarik seorang pemenang, pemenang yang sudah mengendalikan situasi. Dan sayangnya, Ia datang dengan menghancurkan segalanya. Jadi wajar mereka memberinya sesuatu sebagai bentuk pengusiran.
“Baik, rumah ini memiliki beberapa cctv. Dan aku yakin akan sulit menuduh dalangnya. Jadi bagaimana kalau kita ikuti permainannya...baiklah”benak Evita.
Ia melangkah dengan tenang,tanpa memperdulikan dirinya. Dengan sandal santai yang digunakan Evita menaiki anak tangga.
Hingga..
Slet!!!
Sandal cantik itu tergelincir dengan cepat, Evita mengenggam erat pagar tangga. Dan ia senyum ketika melihat genggamannya ikut tergelincir.
-
Agh!!!!!!
Semua bergegas mendekati sumber suara. Masing-masing menunjukkan reaksi terkejut mereka. hingga semua bergegas mendekat.
“Evita!, apa yang terjadi kenapa?”Intari memangku kepala Evita, sedangkan Amelya memeriksa keadaan Evita.
“Apa yang terjadi, Pelayan!!!.kenapa Minyak bisa berceceran disini?”tanya Kakek Pertama yang ikut panik.
Semua begitu panik apa lagi melihat Evita yang tak membuka mata. Hingga Bibi Kedua tiba dengan wajah tenangnya.
“Apa yang terjadi?..ada drama lagi?”tanya Bibi Kedua. Semua menatap kesal kearahnya. Bibi Kedua hanya mendengus melihat tatapan itu.
“Evita, sadarlah”ucap Intari dengan wajah yang begitu khawatir.
“Evita!!!”Intari makin menguncang wajah Evita. yang membuat sang empunya menatap datar kepadanya.
Semua langsung terkejut melihat Evita yang kembali duduk dengan santai.
“Sial, ku pikir aku akan keguguran tadi”ucap Evita yang memegang perutnya.
Intari dan Amelya serta yang lain saling diam tak mengerti apa yang diucapkan oleh Evita. bahkan mereka masih berdiam diri melihat Evita bangun dengan tenang.
“Pelayan, bersihkan semua ini..lalu jangan lupa untuk pastikan minyak tak berceceran lagi”ucap Evita yang melangkah dengan santai. Ia menatap kearah Bibi Kedua yang berwajah kesal.
“Hehehe,,aku tidak keguguran”ucap Evita girang yang membuat semua orang tercenga. Evita berlalu meninggalkan semua yang ada. ia menaiki tangga dan memilih untuk tidur siang dengan tenang.
“Heh...wajahnya sangat kesal, kau pikir aku tidak tahu kau bersembunyi dibalik tiang rumah, dasar Tante maniak kekayaan”benak Evita menutup pintu kamar.
__ADS_1