MANTIV

MANTIV
● Mantiv(154)


__ADS_3

Beberapa hari kemudian..


Semua telah berubah, Za,Yoongi dan Echan kembali kepada kerjaan mereka. Intari dan Amelya juga sedikit bekerja untuk perusahaaan mereka sendiri. dan tentu saja Evita melakukan hal yang sama.


Hanya mereka saat ini tidak saling bertemu,apa lagi berbicara bersama. Karena Intari dan Amelya di ajak tinggal bersama suami mereka. dan akan berkunjung dikediaman keluarga besar Zhan. Begitupun dengan Evita dan Za yang juga akan tinggal dimansion Za.


Karena keputusan inilah, Seluruh keluarga Zhan menolak keras. “Tidak bisa, Keponakkanku..jika begitu bagaimana kalian nanti, Kami akan menjaga kalian”ucap Bibi keempat. Ia tidak lain adalah Ibunya Yoongi yang menahan Intari. “Menantuku dengar, jika kamu tinggal dimansion Yoongi, bagaimana kami akan menjenguk kalian, bagaimana nanti kalau”


“Ibu, tidak akan terjadi apa-apa”ucap Intari menenangkan Ibu Mertuanya. Beda dengan Amelya yang harus memeluk sang Ibu mertua yang sudah menangis.


Drama pagi ini sangat-sangat mengesankan. Membuat semua orang menjadi bingung harus berbuat apa.


“Hentikan itu menantu..Biar aku yang memutuskannya”ucap Kakek pertama yang akhirnya mengambil keputusan.


Kakek pertama menatap seluruh cucu-cucu yang mengemaskan. Dan mereka juga akan menghadirkan cicit-cicit yang lebih mengemaskan lagi.


“Dengar, Untuk Yoongi dan Echan. Kalian boleh mengajak Istri kalian tinggal di mansion kalian sendiri, jika mendekati bulan kelahiran, bawa mereka kemansion ini. Bagaimana pun keselamatan lebih penting”


Ucapan Kakek pertama membuat semua mengangguk setuju. Mereka kembali mendengarkan ucapan Kakek Pertama.


“Lalu untukmu Evita yang sangat-sangat aktif ini, Kakek tidak bisa mengijinkanmu tinggal dimansion Za, apa lagi Za berangkat kerja hingga larut malam. Akan bahaya jika dirimu sendirian disana”


Semua mengangguk lagi menyetujui ucapan Kakek Pertama. Berbeda dengan Evita yang diam memikirkan sesuatu.


“Ada apa Evita, apa ada usulan yang ingin kamu berikan?”tanya Kakek Pertama yang tahu apa yang dipikirkan oleh Evita.


Evita dengan cepat mengangguk, “Benar Kakek, aku ingin mengusulkan sesuatu Kakek, usia kandunganku memang mendekati lahiran. Tapi apakah boleh aku menginap disana satu malam saja”


Semua menatap Evita yang menawar akan keputusan dari Kakek Pertama. Mereka sebenarnya penasaran kenapa Evita mengambil keputusan itu.


“Evita, ada alasan yang bisa membuatku mengijinkanmu?”tanya Kakek Pertama.


Evita dengan senyum indah membuat semua terhipnotis melihatnya. “Karena ini keinginan Bayiku”jawab Evita dengan santai.


Tidak ada yang bisa lagi menolak apa yang diucapkan oleh Evita, apa lagi senyuman yang jarang tampil itu.


Dan pada akhirnya semua pun disetujui, meski Evita yang akan kembali kekediaman Utama.


Intari, Amelya dan Evita saling berpelukkan. Karena mulai sekarang mereka akan hidup saling berpisah. Meski begitu mereka tetaplah keluarga.


“Kapan-kapan aku akan berkunjung kekediamanmu Intari dan Amelya”ucap Evita melepas pelukan sahabatnya.


Intari dan Amelya mengangguk. mereka pun saling melontarkan kata perpisahan singkat. Lalu meninggalkan kediaman Utama.


Evita ikut menyusul bersama Za kemansion yang memang sudah seharusnya mereka tinggali. Meski mansion Evita ada diseluruh kota. Ia lebih bahagia jika tinggal dimansion Za. Karena mansion Za dibuat sesuai dengan keinginan Evita sendiri. kelam yang penuh akan kebahagiaan.


Didalam mobil, Za fokus menyetir dan memperhatikan jalanan. sedangkan Evita menikmati susu yang diberikan kepadanya. Evita juga mendapatkan stok susu karena keinginannya yang kadang bersamaan. Seperti ia ingin susu vanila dan nanti ia akan meminta susu coklat dengan tiba-tiba. Jadi karena itulah stock dikediaman utama harus diperhatikan.


“Sayang, sebenarnya apa yang membuatmu ingin tinggal dimansion?”tanya Za yang masih fokus menyetir.


Evita yang telah menghabiskan susunya menatap sang suami. “Menurutmu Za?”tanya Evita kembali.


Za menatap kearah Evita sesaat, dan setelahnya kembali fokus menyetir. “Apa ada sesuatu yang ingin dirimu lakukan. Jika ia, jangan lakukan hal yang berlebihan”


Evita mengangguk, ia memang sudah memikirkan resiko apa yang akan dikerjakan olehnya. “Tenang saja, ini akan berlangsung sebentar saja”


Tidak berapa lama, mereka berdua tiba di mansion Za. Seperti biasa, kepala pelayan akan datang menghampiri Za. Evita yang datang hanya akan dianggap angin lalu oleh Kepala Pelayan ini.


Tanpa disadari Evita, ia tersenyum melihat tingkah dari Kepala Pelayan.

__ADS_1


Tiba diruang tamu, Evita duduk dengan tenang sambil menatap kearah Pelayan yang memang diminta untuk berkumpul olehnya.


Pelayan 1 hingga pelayan 10 yang sudah tidak bisa lagi bekerja seperti ini. Memang tidak tega Evita mengambil keputusan ini, namun ia juga tidak bisa memaksa seseorang untuk bertahan, sudah ada saatnya dimana mereka behenti bekerja dan menikmati masa tua.


Contohnya adalah Para Bibi Kantin yang bekerja kepada Evita. kini Evita melepaskan mereka karena memang sudah saatnya mereka untuk berhenti. Usia mereka tidak memungkinkan untuk mengerjakan segalanya. Evita pun harus mencari kembali pelayan yang bisa dipercayai olehnya.


“Nyonya Evita, apa ada sesuatu yang ada inginkan?”tanya Pelayan 2 yang memang sudah akrab kepada Evita. Evita dengan cepat mengubah ekspresinya. “Aku hanya ingin mengatakan beberapa hal, jadi tunggulah hingga seluruh pelayan ada disini”ucap Evita dengan senyum ramahnya.


Dan seperti apa yang diucapkannya seluruh pelayan pun berkumpul. Hingga ada 15 pelayan yang bersama kepala Pelayan berdiri didepan Evita.


Za datang membawakan buah-buahan sebagai cemilan siang Evita. cemilan ini untuk menganti asupan nasi yang akan membuat Evita bertambah gemuk, jika mengonsumsinya secara berlebihan. Memang diakui porsi makan Evita lebih banyak dari Za.


“Terimakasih Za”ucap Evita yang mengambil cemilan buahnya. Lalu perlahan ia menyantap semua cemilan itu dengan menatap para pelayan yang sudah berkumpul.


“Jadi, apa yang akan kamu lakukan kepada seluruh Pelayan ini Evita?”tanya Za kepada Evita.


Evita menatap seluruh Pelayan yang ada. dengan santai ia memainkan garpu ditangannya, “Pelayan 1 hingga Pelayan 10, mohon maaf, dengan terpaksa aku harus menghentikan kalian bekerja disini”


Semua terteguh mendengar ucapan Evita. Kepala Pelayan dengan cepat memberikan tanggapannya. “Maaf Nyonya, apa hak anda dalam memberhentikan kami?”tanya Kepala Pelayan seakan-akan lupa bahwa Evita bukanlah Nyonya mereka.


Dengan tenang Evita menatapnya, ia menahan Za yang menatap tajam kearah Kepala Pelayan. Semua yang melihat hal ini menjadi bisu, bahkan hati mereka pun tidak berbicara apa-apa.


“Aku punya Hak, karena aku adalah istri Za. Za apa aku tidak berhak menghentikan mereka bekerja disini?”tanya Evita menatap Za yang masih menatap tak suka kepada kepala Pelayan.


“Evita, kamu istriku. Apa yang terbaik untuku pasti akan kamu putuskan dengan sangat teliti. Jadi tidak ada alasanku untuk melarangmu”


Kepala Pelayan bungkam mendengar ucapan Tuan Muda mereka. lebih tempat orang yang mereka cintai.


Evita kembali tersenyum, ia menatap Pelayan 1 hingga pelayan 10 yang tampak sedih, karena mereka dipecat seperti ini.


Evita tahu apa yang mereka pikirkan, dengan cepat ia merubah suasana yang penuh akan kesedihan itu.


Pelayan 1 hingga pelayan 10 menatap Evita dengan wajah bingung. Mereka seakan-akan belum memahami apa yang Evita ucapkan.


Evita dengan lembut menjelaskan, “Bibi, kematian tidak ada yang tahu, aku ingin kalian menghabiskan masa kalian bersama keluarga. Meski aku tidak tahu diluar sana apakah pelayan masih bekerja hingga usia 60 tahun mereka. bagiku itu sudah berlebihan. Bibi aku hanya ingin kalian bahagia dengan menikmati kebersamaan keluarga”


Penjelasan ulang Evita membuat pelayan 1 hingga 10 mengangguk. mereka paham dengan apa yang dijelaskan oleh Evita.


“Kalau begitu, ini”Evita memberikan sepuluh amplop yang sudah ia persiapkan sendiri. hal ini membuat Za menatap kaget kearahnya.


Dengan tenang lagi, Evita menjelaskan “Ini adalah hadiah dariku. Za akan membayar sisa kerja kalian. Namun ini adalah pemberianku kepada kalian. Tenang saja ini uang dari diriku sendiri. memang tidak seberapa tapi Aku yakin ini bisa membantu kalian”ucap Evita yang menyuruh masing-masing Pelayan mengambil bagiannya.


Mereka masing-masing gemetar hebat memegang uang yang berkali lipat dari gaji mereka sendiri. dengan rasa terimakasih semua menyampaikan kepada Evita.


Evita mengangguk mendengar ucapan terimakasih dari Pelayan yang ada. “baiklah. Kalian boleh bubar, lakukan pekerjaan kalian jika masih ingin, dan jika memang ingin kembali pulang, tidak ada larangan untuk kalian”ucap Evita.


Pelayan 1 mengeleng, “Tidak Nyonya, Kami akan membuatkan manisan dulu untuk anda.Apa Anda Mau?”tanya Pelayan 1.


Evita dengan cepat mengangguk, pelayan 1 hingga 10 bergegas kedapur untuk memasakkan sesuatu kepada Evita.


Tinggal Pelayan 11 hingga 15 yang tersisa bersama Kepala Pelayan. Evita menatap dengan bergantian.


“Baik, untuk Pelayan 11 hingga 15, aku ingin bertanya. Apa kalian membenciku?”tanya Evita.


Pelayan 11 hingga 15 terteguh mendengarnya. Mereka masing-masing saling bertatap untuk menghindari pertanyaan Evita.


“Jawab saja sejujurnya. Itu yang terbaik”ucap Evita lagi. yang membuat Pelayan 13 datang kepadanya.


“Benar, Aku membenci Anda Nyonya”dengan lantang ia mengatakan apa yang ada dihatinya.

__ADS_1


Evita mengangguk, “Aku akan menyimpulkan kalian semua membenciku. Oke, maka sama seperti ucapanku sebelumnya. Kalian akan ku berhentikan berkerja disini”ucap Evita.


Tanpa diduga seluruh pelayan 11 hingga 15 langsung menyetujui tanpa merasa ragu.


Evita tahu memang sudah saatnya mereka menjauh dari hidupnya. Ia tidak ingin hidup dalam dendam seseorang. Karena menurutnya itu akan sangat merepotkan.


“Baiklah, karena kalian setuju, maka untuk pembayaran kalian. Akan dibayar seperti gaji umumnya yang akan ku lipat gandakan”jelas Evita. mereka hanya mengangguk dan undur diri pergi dari depannya.


Evita menatap kearah Za untuk menyiapkan uang yang akan diberikan kepada Pelayan 11 hingga 15. Karena memang Za lah yang harus membayar mereka. bagaimana pun Evita tidak membawa uang lebih, ia hanya menyiapkan uang khusus kepada Pelayan yang menjaganya disini dan menghormatinya.


Za melangkah pergi untuk mengambil uang yang akan diberikan kepada Evita.


Diruang tamu itu, kini tersisa Evita dan Kepala Pelayan. Evita meletakkan garpunya. Ia dengan tenang berdiri dan menatap Kepala Pelayan.


“Apa yang kamu pikirkan?”tanya Evita. ia sudah tahu kepala Pelayannya ini sedang memikirkan akhir dari pekerjaannya.


Namun akan sangat menarik bagi Evita jika Ia bertanya hal yang sudah diketahuinya.


“Apa dirimu bangga dengan mendapatkan Tuan Muda disampingmu?”tanya Kepala pelayan dengan nada kesalnya.


Evita tersenyum, ia mengusap pelan perutnya yang membuat Kepala pelayan makin mencacinya.


“Diriku yakin, anda pasti hamil diluar nikah”caci kepala pelayan.


Evita tertawa renyah, Ia menatap kepala pelayan dengan pandangan yang berbeda. Pandangan itu membuat Kepala Pelayan berkeringat dingin.


“Dengar Kepala Pelayan, pertemuan ku dengan Za jauh sebelum dirimu bekerja disini. Lebih tepatnya saat Aku masih SMK. Sedangkan kamu bekerja setelah Za lulus SMK. Bisa dibilang Aku yang paling unggul disini”ucap Evita dengan nada tenang namun menusuk.


Evita melanjutkan, “lalu untuk masalah hamil diluar nikah atau tidak. Dimana dirimu tahu bahwa aku hamil diluar nikah?, ku akui aku memang sudah bermain panas dengan Za, lalu aku hamil tepat sebulan Za menikahiku. Jadi apakah kamu masih bisa mengapai Za mu itu?”tanya Evita.


Kepala Pelayan yang sudah emosi bergegas memberikan serangannya. Sebuah jarum yang diselipkan dalam sela-sela jari, melesat kewajah Evita.


Sayang seribu kali sayang, Evita yang sudah ahli dalam penyerangan tiba-tiba ini, dengan cepat menangkap tangan kepala Pelayan, dan menapik tangan itu hingga tubuh Kepala Pelayan terhempas.


Ugh!!!


“Evita!”Za datang dengan cepat, uang yang ada ditanganya langsung ditaruh pada atas Meja. Ia dengan cepat melindungi Evita.


Evita menahan Za agar tidak panik. Seluruh Pelayan yang ada langsung kaget melihat apa yang dikerjakan oleh Kepala Pelayan.


“Dengar Kepala Pelayan, aku akan memecatmu!. Dan aku akan menghentikan dirimu untuk bekerja di kota ini. Karena bagaimana pun Aku ingin kamu merasakan bagaimana rasanya dikerjai oleh seseorang”


Za menatap Evita, ia merasa Evita masih ingin membalaskan dendamnya. Namun ia tidak akan menghentikan Evita. karena bagaimana pun Ia juga kesal kepada Kepala Pelayan. Ia menyesal pernah menerima Kepala Pelayan bekerja disini.


“KAU!, BERANINYA KAU MENGATAKAN HAL ITU!”


Evita dengan tenang memanggil pengawal dan mengusir kepala Pelayan dengan uang sisa ia bekerja. Evita tidak ingin ada jejaknya dalam Mansion ini.


Setelah kepergian kepala Pelayan. Pelayan 11 hingga 15 berdiri dengan wajah yang masik Syock dengan apa yang terjadi. Tidak habis pikir oleh mereka. bagaimana seorang wanita hamil masih bisa menyerang orang yang punya kekuatan tak jauh darinya. Namun apa yang mereka pikirkan tidak lagi berguna, karena bukti ada didepan mata.


“Baiklah. Ini uang kalian”ucap Evita. Pelayan 11 pun datang dan mengambil sisa dari uang kerjanya. “Terima kasih Nyonya, setelah ini saya akan langsung pergi”ucap Pelayan 11.


Evita mengangguk, tidak ada salahnya mereka ingin pergi. karena bagaimana pun Ia telah menghentikan mereka.


Dengan perlahan Seluruh pelayan pun dibayar oleh Evita, dan mereka juga pamit pergi dari Mansion untuk selamanya. Namun ada seorang pelayan yang tidak mengangkat kaki, ia seakan-akan ragu dengan tindakkannya.


“Ada apa denganmu?”tanya Evita. Ia berdiri mendekati Pelayan ke 15 yang kini meringkuh dikakinya.


“Nyonya, jangan hentikan saya bekerja disini. Saya masih memperlukan biaya untuk kuliah Saya!”

__ADS_1


__ADS_2